Pendekar Kerajaan Tayli ~ Jilid 18

Maka sekilas pandang saja Ciumoti sudah dapat melihat rahasia A Cu itu, katanya dengan tertawa, “Haha, masakah di dunia ini ada seorang nenek berumur cuma belasan tahun? Memangnya kau sangka Hwesio dapat kau bohongi terus?”

Berbareng telapak tangannya membalik dan menghantam, “krek”, tongkat A Cu itu kontan tergetar patah menjadi tiga potong. Menyusul serangan Ciumoti dilontarkan pula ke arah A Pik.

Dalam gugup dan khawatirnya, cepat A Pik sambar meja di sampingnya untuk menangkis serangan orang. “Prak-prak” dua kali, meja yang terbuat dari kayu gaharu seketika pecah berantakan, tinggal dua kaki meja yang masih terpegang di tangan A Pik.

Melihat A Pik terdesak mepet dinding, untuk mundur lagi sudah buntu, hendak lari pun susah, sementara itu serangan Ciumoti telah dilancarkan pula, Toan Ki tak bisa tinggal diam lagi, yang ia pikir hanya lekas menolong si gadis, tak terpikir olehnya bahwa diri sendiri sama sekali bukan tandingan Ciumoti.

Maka cepat jari tengah kanan terus menuding ke depan, tenaga dalamnya lantas terpancar keluar melalui “Tiong-ciong-hiat” di ujung jari dengan membawa suara mencicit, itulah Tiong-ciong-kiam-hoat dari Lak-meh-sin-kiam yang lihai.

Sebenarnya Ciumoti tidak bermaksud membunuh A Pik, tujuannya cuma hendak memancing Toan Ki ikut turun tangan. Bila dia benar-benar membunuh, mana A Pik mampu menghindari “Hwe-yam-to” yang tanpa wujud dan lihai luar biasa itu?

Melihat Toan Ki tertipu olehnya dan turun tangan, segera Ciumoti membalik tangan dan ganti menyerang A Cu. Begitu hebat tenaganya, di mana angin tebasannya tiba, tertampaklah A Cu terhuyung-huyung, baju bagian pundak terobek juga, gadis itu menjerit kaget.

Cepat Toan Ki menolong pula, jari kecil tangan kiri terus menusuk ke depan dengan “Siau-tik-kiam” untuk menangkis “Hwe-yam-to” musuh.

Dengan demikian, A Cu dan A Pik terhindar dari bahaya, akan tetapi sebaliknya Toan Ki yang harus melayani serangan Hwe-yam-to-hoat Ciumoti dengan Lak-meh-sin-kiam.

Pertama Ciumoti sengaja hendak pamer kepandaiannya, kedua ingin orang lain menyaksikan bahwa Toan Ki benar-benar mahir “Lak-meh-sin-kiam” yang dikatakan tadi. Maka ia sengaja mengeluarkan Lwekangnya untuk saling bentrok dengan tenaga dalam Toan Ki hingga menerbitkan suara mencicit.

Dengan menghimpun tenaga dalam dari berbagai tokoh kelas wahid yang pernah disedotnya dengan Cu-hap-sin-kang, sebenarnya tenaga Toan Ki sekarang sudah lebih kuat daripada Ciumoti. Celakanya dia sama sekali tidak mengerti ilmu silat, Kiam-hoat yang dipahaminya di Thian-liong-si itu juga cuma dihafalkannya begitu saja, sedikit pun tak bisa digunakannya secara hidup. Maka dengan mudah saja Ciumoti dalam mempermainkannya dan berulang-ulang memancing tusukan jarinya itu hingga daun pintu dan jendela berlubang oleh tenaga dalam Toan Ki yang hebat, berbareng ia pun mengoceh, “Wah, sungguh hebat Lak-meh-sin-kiam ini, pantas mendiang Buyung-siansing memujinya setinggi langit.”

Cui Pek-khe juga ternganga heran, pikirnya, “Kukira Toan-kongcu ini sama sekali tidak mengerti ilmu silat, siapa tahu kepandaiannya sehebat ini. Toan-si dari Tayli benar-benar tidak bernama kosong. Untunglah ketika meneduh di Tin-lam-onghu dahulu aku tidak pernah berbuat sesuatu yang jahat, kalau tidak, masakah aku dapat keluar dari istana itu dengan hidup?”

Makin dipikir ia jadi merinding sampai jidat penuh keringat dingin.

Setelah menempur Toan Ki sebentar, kalau mau, sebenarnya setiap jurus dan setiap waktu Ciumoti dapat mematikan pemuda itu, tapi seperti kucing permainkan tikus saja, ia sengaja menggoda Toan Ki agar mengeluarkan jurus-jurus Lak-meh-sin-kiam.

Tapi sesudah lama, lambat laun hilanglah rasa memandang rendah Ciumoti, ia merasa Kiam-hoat yang dimainkan pemuda itu sesungguhnya lain daripada yang lain, cuma entah mengapa, di mana letak kelihaiannya sama sekali tak dapat digunakan oleh Toan Ki.

Jadi seperti seorang anak kecil, meski dibekali harta berjuta-juta toh tidak tahu cara bagaimana menggunakannya.

Setelah bergebrak beberapa jurus lagi, tiba-tiba pikiran Ciumoti tergerak, “Bila kelak timbul ilhamnya dan mendadak ia sadar serta memahami kunci kemukjizatan ilmu silatnya ini, ditambah lagi tenaga dalamnya dan Kiam-hoat yang bagus ini pastilah akan merupakan lawan tangguh paling lihai bagiku!”

Toan Ki sendiri juga sudah sadar mati-hidupnya sekarang bergantung di bawah tangan Ciumoti, cepat ia berseru, “A Cu dan A Pik berdua Cici, lekas kalian melarikan diri, kalau terlambat mungkin tidak keburu lagi.”

“Mengapa engkau menolong kami, Toan-kongcu?” hanya A Cu.

“Hwesio ini mengira ilmu silatnya mahatinggi dan suka malang melintang menghina orang lain. Cuma sayang aku tidak paham ilmu silat, susah untuk melawannya, maka lekas kalian melarikan diri!”

“Tapi sudah terlambat!” seru Ciumoti tiba-tiba dengan tertawa. Ia melangkah maju setindak, jari tangan kiri terus terjulur hendak menutuk Toan Ki.

Toan Ki menjerit kaget dan bermaksud menghindar, namun sudah terlambat. Tiga Hiat-to penting pada tubuhnya sekaligus tertutuk, seketika kaki terasa lemas terus roboh ke lantai. Akan tetapi ia masih berteriak-teriak, “A Cu, A Pik, lekas kalian lari, lekas!”

“Hm, jiwamu sendiri tak terjamin masih ada pikiran untuk mengurus orang lain?” jengek Ciumoti sambil kembali ke tempat duduknya. Lalu katanya kepada A Cu, “Nona ini pun tidak perlu lagi main sandiwara segala. Sebenarnya siapa yang berkuasa di rumah ini, lekas katakan? Toan-kongcu ini telah hafal Lak-meh-sin-kiam-boh dengan lengkap, cuma ia tidak paham ilmu silat, maka tak dapat menggunakannya. Besok juga anak kubakar dia di hadapan makam Buyung-siansing, bila Buyung-siansing mengetahui di alam baka, tentu beliau akan dapat memahami pula bahwa sobat lamanya ini telah menemui janji dengan baik.”

A Cu tahu di pondok Khiam-im-cing-sik ini tiada seorang pun yang mampu menandingi si Hwesio. Tapi segera ia mendapat akal, katanya dengan tertawa, “Baiklah, Toahwesio. Sekarang kami sudah percaya, kami akan membawa engkau ke makam Loya, tapi perjalanan ke sana memerlukan satu hari penuh, hari ini sudah tidak keburu lagi, esok pagi-pagi biarlah kami berdua mengantar sendiri Toahwesio dan Toan-kongcu berziarah ke makam Loya. Kini kalian berempat silakan mengaso, sebentar harap makan malam seadanya.”

Habis berkata, ia gandeng tangan A Pik terus masuk ke ruangan belakang.

Memandangi bayangan kedua gadis jelita itu, Toan Ki cuma dapat tersenyum getir saja.

Selang satu jam kemudian, seorang budak laki-laki keluar memberi tahu, “Nona A Pik mengundang tuan-tuan menghadiri perjamuan sederhana di ‘Thing-uh-ki’!”

Ciumoti menyatakan terima kasih, segera ia pegang tangan Toan Ki dan mengikuti hamba itu ke belakang disusul oleh Cui Pek-khe dan Ko Gan-ci.

Setelah menyusuri sebuah jalan kecil yang berliku-liku dengan batu kecil berserakan, akhirnya sampailah di tepi sebuah danau. Di bawah pohon Liu tampak tertambat sebuah perahu kecil.

“Itu di sana!” kata hamba tadi sambil menuding ke arah sebuah rumah kecil yang dikelilingi air danau.

Sesudah dekat, kiranya “Thing-uh-ki” (vila mendengarkan hujan) yang dimaksudkan dibangun dengan dahan pohon Siong yang tak terkupas kulitnya, mungil dan indah seperti buatan alam.

Setelah mendarat, Toan Ki melihat A Pik sudah berdiri di depan rumah menanti kedatangan tetamunya. Kini gadis ini memakai baju hijau pupus, berbedak tipis dengan yanci yang kemerah-merahan. Di sampingnya berdiri pula seorang gadis cilik lain berusia sebaya dengan A Pik, berbaju merah dadu, dengan sikap yang lincah dan nakal sedang memandang Toan Ki dengan tersenyum simpul. Kalau raut muka A Pik berbentuk bulat telur, adalah gadis jelita ini berbentuk bundar bagai bulan purnama, bola matanya hitam dengan kerlingannya yang tajam hingga menjadikan kecantikannya mempunyai daya tarik tersendiri.

Begitu Toan Ki menghampiri, segera tercium olehnya bau harum yang halus. Tanpa pikir lagi ia menegur dengan tertawa, “Enci A Cu, sungguh tidak nyana gadis cilik yang cantik seperti engkau ini ternyata juga pandai memainkan peranan sebagai nenek-nenek!”

Gadis jelita di samping A Pik itu memang benar A Cu adanya. Ia melirik Toan Ki sekejap, lalu menyahut dengan tersenyum, “Engkau telah menjura tiga kali padaku, sekarang engkau menyesal bukan?”

“Tidak, tidak!” sahut Toan Ki sambil menggeleng kepala. “Aku justru merasa perbuatanku itu cukup berharga. Cuma terkaanku saja yang agak meleset.”

“Terkaan apa yang meleset?” tanya A Cu.

“Sejak mula sudah kuduga bahwa Enci sendiri pasti serupa Enci A Pik, sama-sama gadis cantik yang jarang terdapat di dunia ini,” ujar Toan Ki. “Cuma dalam anggapanku, kuyakin Enci pasti tidak banyak berbeda daripada Enci A Pik, siapa tahu sesudah bertemu muka, ternyata … ternyata ….”

“Ternyata jauh kalah dibandingkan A Pik, begitu bukan?” sela A Cu cepat.

Segera A Pik menceletuk juga, “Ternyata berpuluh kali lebih cantik daripadaku hingga engkau terpesona, bukan?”

“Bukan, bukan! Salah semua!” sahut Toan Ki. “Kupikir Tuhan ini memang mahaadil, sudah menciptakan gadis cantik serupa Enci A Pik, juga menciptakan gadis cantik yang lain seperti Enci A Cu. Raut muka keduanya sama sekali berbeda, tapi sama-sama bagus dan sama-sama menariknya, hatiku ingin mengucapkan berbagai pujian padamu, tapi mulutku justru sukar mengucapkan kata-kata yang tepat.”

“Cis!” semprot A Cu dengan tertawa. “Engkau ludah mencerocos panjang lebar, tapi bilang sukar mengucapkan sepatah kata?”

Kalau A Cu bicara dengan lincah dan mengomel, sebaliknya A Pik lantas berkata dengan lemah lembut, “Atas kunjungan tuan-tuan ke tempat kami yang sunyi ini, tiada sesuatu yang dapat kami persembahkan, hanya tersedia sedikit arak tawar dan sekadar makanan yang terdapat di daerah Kanglam sini.”

Lalu ia persilakan tetamunya mengambil tempat duduk masing-masing, ia bersama A Cu mengiringinya semeja.

Melihat cangkir, mangkuk dan alat perkakas yang disediakan itu terdiri dari benda halus semua, diam-diam Toan Ki memuji. Ketika kemudian pelayan laki-laki menyuguhkan makanan pengantar, menyusul lantas masakan panas seperti “Leng-pek-he-jin” (udang goreng sawi putih), “Ho-yap-tang-sun-theng” (rebung muda masak daun teratai kuah), “Eng-tho-hwe-tui” (buah Tho masak ham), “Bwe-hoa-keh-ting” (bunga Bwe masak ayam), dan macam-macam lagi, setiap masakannya sangat istimewa dan lain daripada yang lain, di tengah udang, ikan, daging dan lain-lain dicampur dengan buah-buahan dan bunga-bungaan, warnanya indah dan masanya lezat, dengan sendirinya membawa semacam bau harum dan cita rasa yang sedap.

Keruan yang tidak habis-habis memberi pujian adalah Toan Ki, katanya sambil tidak lupa melangsir makanan di hadapannya ke dalam mulut, “Ada tempat seindah ini barulah ada manusia sepandai ini. Ada orang sepandai ini barulah dapat menyuguhkan makanan seenak ini.”

“Eh, coba terka, makanan ini masakanku atau masakan A Pik?” tanya A Cu dengan tertawa.

“Eng-tho-hwe-tui dan Bwe-hoa-keh-ting itu kuyakin Enci yang memasaknya,” sahut Toan Ki tanpa pikir. “Dan Ho-yap-tang-sun-theng, Leng-pek-he-jin dan lainnya tentulah buatan Enci A Pik.”

“Ehm, engkau memang pintar,” seru A Cu dengan tertawa. “Hai, A Pik, cara bagaimana kita harus memberi hadiah kepada kepandaiannya ini?”

Dengan tersenyum A Pik menyahut, “Toan-kongcu ingin apa, sudah tentu kita akan menurut saja, masakah pakai memberi hadiah apa segala, kaum hamba seperti kita masa ada harganya untuk bicara demikian?”

“Aduh, dasar mulutmu ini memang pandai memikat hati orang, pantas setiap orang memuji kebaikanmu dan mengatakan aku jahat,” kata A Cu.

“Yang satu lemah lembut, yang lain lincah gembira, keduanya sama-sama baik,” ujar Toan Ki dengan tertawa. “Enci A Pik, di dalam perahu siang tadi engkau telah memetik sebuah lagu dengan senjata ruyung milik Ko-toaya, suara tetabuhan itu sampai saat ini seakan-akan masih mengiang di telingaku. Bila nona tidak keberatan, kumohon sudilah engkau memperdengarkan beberapa lagu pula dengan alat tetabuhan yang sungguh-sungguh, untuk mana andaikan besok aku harus menjadi abu dibakar oleh Toahwesio ini, rasanya pun takkan kecewa hidupku ini.”

“Jika Kongcu sudi mendengarkan, sudah tentu akan kumainkan sekadar menghibur tuan tamu,” sahut A Pik terus berbangkit menuju ke ruangan belakang. Waktu keluar pula ia membawa sebuah Khim atau kecapi.

Toan Ki heran melihat Khim itu jauh lebih kecil daripada Khim umumnya, bahkan senarnya juga tidak tujuh, tapi sembilan senar dengan warna yang berbeda-beda.

A Pik mengambil tempat duduk di suatu bangku kecil, ia taruh kecapi itu di atas pangkuannya, lalu katanya kepada Ciumoti, “Harap Toasuhu memberi petunjuk nanti!”

“Ah, jangan sungkan,” sahut Ciumoti. Dalam hati ia merasa curiga, “Mengapa dia menyatakan hendak minta petunjuk padaku?”

Dalam pada itu kedua tangan A Pik yang putih bersih bagai salju itu telah mulai beraksi, kelima jari kiri menekan perlahan di atas senar, sekali jari tangan kanan memetik, terdengarlah suara “creng” yang nyaring merdu.

Meski Toan Ki sama sekali tidak paham ilmu silat, tapi dalam hal “Su-wah-khim-ki” atau seni tulis, seni lukis, seni musik (Khim) dan seni catur, semuanya ia mahir. Maka begitu mendengar suara pembukaan yang dipetik A Pik itu, segera ia tahu bahwa kesembilan senar Khim itu terbuat dari bahan yang berbeda-beda. Ada senar baja, ada pula senar tembaga, dan ada pula senar benang biasa. Yang keras teramat keras, yang lemas sangat lemas.

Hanya beberapa kali A Pik memetik perlahan suara kecapi itu sudah mulai mengalun dengan lambat dan makin lama makin ulem hingga keempat pendengarnya itu merasa kelopak matanya menjadi berat, rasanya menjadi kantuk dan ingin tidur.

Cui Pek-khe adalah tokoh yang luas pengalamannya dan cerdik, ia kenal betapa liciknya orang Kangouw. Maka begitu memasuki perkampungan keluarga Buyung, setiap saat ia selalu waspada. Waktu matanya merasa sepat dan layap-layap akan pulas mendadak ia tersadar, “Celaka! Rupanya budak setan ini sedang merancang sesuatu muslihat untuk menggasak kami.”

Segera ia berseru, “Awas, Ko-hiantit, banyak orang Kangouw berjiwa keji dan banyak tipu muslihatnya yang serbaaneh, engkau harus hati-hati dan waspada.”

Ko Gan-ci mengangguk dan menyahut dengan samar-samar, “Benar! Sampai bertemu esok pagi!”

Habis berkata, ia terus menguap.

Kuapan Ko Gan-ci ini ternyata membawa daya menular, seketika Cui Pek-khe dan Toan Ki ikut menguap dengan pikiran mulai melayap-layap, yang terdengar hanya suara Khim yang ulem merdu, sekelilingnya terasa sunyi senyap, setiap orang merasakan tubuh penat dan ingin tidur, kalau bisa terus hendak selonjor dan terpulas segera.

Pada saat itulah, sekonyong-konyong terdengar “cring” sekali, dada Toan Ki serasa diketok dan “Thian-ti-hiat” di samping ketiak seketika lancar kembali dari tutukan Ciumoti tadi.

Sungguh girang, dan kejut Toan Ki tak terkatakan, ia menyangka tutukan Ciumoti tadi kurang keras hingga Hiat-to yang tertutuk itu tidak buntu seluruhnya, maka setelah lewat sekian lama jalan darahnya lantas lancar kembali dengan sendirinya.

Tak terduga suara kecapi A Pik kembali dipetik sekali pula, “cring”, lagi-lagi “Pek-hou-hiat” di punggung Toan Ki terasa lancar pula dengan sendirinya.

Ketika Toan Ki coba mengerahkan tenaga dalamnya, ia merasa separuh tubuh bagian atas sudah dapat bergerak dengan bebas, jalan darah pun lancar tanpa suatu rintangan.

Baru sekarang ia tahu suara kecapi A Pik itu dapat mengadakan kontak dengan hawa murni dalam tubuh orang dan mampu melancarkan jalan darah.

Selang sebentar, Hiat-to bagian kaki yang tertutuk juga terbuka semua mengikuti bunyi kecapi.

Dengan termangu-mangu Toan Ki memandangi A Pik, hati merasa terima kasih tak terhingga. Ia lihat A Pik masih terus memetik kecapi dengan penuh perhatian, di sampingnya terdengar suara orang mendengkur dengan keras, Cui Pek-khe dan Ko Gan-ci sudah tertidur nyenyak. Sebaliknya Ciumoti masih tetap duduk dengan tenang, tampak jelas sedang mengerahkan Lwekang untuk melawan suara kecapi si A Pik.

Tidak lama kemudian, Toan Ki lihat jidat A Pik mulai berkeringat, di atas kepala kabut tipis mulai menguap. Sebaliknya Ciumoti tetap tenang dengan mengulum senyum dan berseri-seri.

Diam-diam Toan Ki jadi khawatir, “Bila suara kecapi si A Pik tak dapat mengatasi kekuatan si Hwesio hingga malah dilukai olehnya, lantas bagaimana baiknya nanti?”

Pada saat yang genting itulah tiba-tiba terdengar A Cu menyanyi dengan suara yang merdu, lagunya, “Angin mendesir dingin di sungai Ih, sekali pergi sang pahlawan tak kembali lagi!”

Suara kecapi sangat kalem dan halus, sebaliknya suara nyanyian gagah penuh semangat, keduanya berbeda irama, Toan Ki menjadi heran.

Tapi berulang A Cu masih terus membolak-balik menyanyikan lagu “angin mendesir …” hingga tiga-empat kali, Toan Ki lihat tangkai bunga yang tersunting di atas sanggul A Pik tiada hentinya bergemetar, bibir si gadis yang tadinya merah kini pun mulai pucat.

Hati Toan Ki tergerak, mendadak ia sadar, “Ah, tahulah aku. Sebabnya A Cu menyanyikan dua kalimat lagunya itu, maksudnya minta aku menirukan perbuatan Keng Ko, membunuh raja Cin di zaman Ciongkok. Ya, tenaga dalam A Pik terang bukan tandingan si Hwesio, kalau bertambah lebih lama lagi mungkin akan terluka dalam parah.”

Diam-diam Toan Ki mulai menghafalkan kembali Lak-meh-sin-kiam, ia coba menjalankan tenaga dalam dan terasa lancar tanpa sesuatu rintangan.

Cuma sejak kecil ia mendapat ajaran falsafah Kongcu dan Buddha yang menyuruh setiap manusia harus berlaku bajik dan welas asih kepada sesamanya, karena itu ia menjadi ragu untuk menyerang, ia pikir seorang laki-laki harus bertindak secara terang-terangan, kalau menyerang orang secara mendadak dan di luar penjagaan, rasanya terlalu kotor dan rendah.

Tengah Toan Ki ragu itulah, sekonyong-konyong “creng” sekali, seutas senar kecapi si A Pik putus, tubuh gadis itu pun tergeliat sedikit, suara nyanyian A Cu pun terhenti mendadak, sepasang sumpit yang terpegang di tangannya segera siap hendak ditusukkan ke arah Ciumoti.

Menyusul terdengar pula suara “cring”, kembali seutas senar kecapi putus. Berbareng Cui Pek-khe dan Ko Gan-ci berseru kaget, keduanya sama-sama terjaga bangun.

Toan Ki tahu keadaan sangat mendesak, diam-diam ia bergumam, “Demi menolong orang, terpaksa aku harus berlaku pengecut sebentar.”

Segera ia angkat tangan kanan, dengan telunjuk dan jari tengah mengacung ke arah Ciumoti, “cus-cus”, seketika dua arus kekuatan yang tak kelihatan menusuk dengan cepat.

Itulah jurus serangan “Siang-yang-kiam” dan “Tiong-ciong-kiam” yang lihai.

Bila Ciumoti lagi bertanding berhadapan dengan Toan Ki, betapa pun cepatnya serangan itu pasti dapat dipatahkan olehnya. Tapi kini Ciumoti menyangka Hiat-to pemuda yang telah ditutuknya, untuk sementara ini pemuda itu terang tidak dapat berbuat apa-apa, maka antero perhatiannya dicurahkan untuk menempur suara kecapi si A Pik.

Tatkala itu Ciumoti sudah mulai di atas angin dan A Pik terdesak, ia sudah berusaha mengacaukan suara kecapi untuk membingungkan pemusatan pikiran A Pik, kemudian suara kecapi segera akan diperalat olehnya untuk melukai A Cu sekalian.

Sama sekali tak terduga olehnya bahwa Toan Ki mendadak menyerang dengan Lak-meh-sin-kiam. Dalam kagetnya Ciumoti bersuit panjang sembari meloncat ke atas, “brak”, sekaligus lima senar kecapi si A Pik sama putus. Menyusul tertampaklah darah mengucur di badan Ciumoti. Bu-heng-sin-kiam atau pedang sakti tak berwujud yang dilontarkan Toan Ki ternyata berhasil menusuk bahu kanannya.

Cepat sekali A Pik tarik A Cu dan tangan lain menggandeng Toan Ki, sekali kaki mengentak, ketiga orang lantas melayang keluar melalui jendela pondok di atas air itu dan tepat turun ke dalam perahu yang tertambat di tepi gili-gili. Segera A Cu menyuruh Toan Ki mendekam di dalam perahu, ia sendiri sambar pengayuh terus didayung cepat ke tengah danau.

Maka terdengarlah suara “blang-blung” yang keras, perahu kecil itu terombang-ambing bagai didampar ombak raksasa di tengah samudra, air danau muncrat ke dalam perahu hingga Toan Ki basah kuyup.

Waktu ia mendongak, ia lihat Ciumoti berdiri di tepi gili-gili sedang melemparkan meja batu, bangku batu dan sebagainya, untung A Cu cukup cekatan dan dapat mendayung dengan cepat, pula Ciumoti telah terkena pedang tanpa wujud Toan Ki tadi hingga lukanya cukup parah, tenaganya banyak berkurang, maka timpukannya tiada satu pun yang tepat mengenai perahu itu.

Namun begitu A Cu terkejut juga oleh ketangkasan si Hwesio. Diam-diam ia bersyukur dapat lolos dari bahaya. Sekuatnya ia mendayung lebih jauh hingga dapat diduga Ciumoti tidak dapat menyusul mereka lagi.

“Toan-kongcu,” kata A Pik kemudian, “terima kasih atas pertolonganmu tadi, kalau tidak, saat ini aku tentu sudah binasa di tangan Hwesio itu.”

“Akulah yang harus berterima kasih padamu,” sahut Toan Ki. “Hwesio itu berani berkata berani berbuat, bukan mustahil aku benar-benar akan dibakar hidup-hidup olehnya.”

“Sudahlah, tidak perlu lagi terima kasih sini dan terima kasih sana, apakah kita dapat lolos dari kekejaman padri itu masih belum dapat dipastikan,” ujar A Cu.

Pada saat itu juga Toan Ki mendengar suara tersiahnya air, ada perahu sedang didayung ke arah sini, segera katanya, “Benar juga, Hwesio itu sedang mengejar kemari!”

Karena pertarungan Lwekang tadi, keadaan A Pik sudah sangat lelah, seketika tenaganya belum dapat dipulihkan, ia bersandar di dinding perahu katanya, “A Cu Cici, marilah kita menyingkir sementara ke tempat Liok-toaya saja.”

“Ya, terpaksa begitulah,” sahut A Cu dengan mendongkol. “Sungguh sialan, tentu kita akan ditertawai Liok-toaya lagi bahwa ilmu silat kita tak berguna, baru ketemu musuh lantas lari berlindung ke rumahnya. Hidup kita selanjutnya pasti akan selalu dibuat buah tertawaan olehnya.”

Toan Ki sendiri sejak tenaga dalamnya bertambah kuat, daya pendengarannya menjadi sangat tajam pula. Ia dapat mendengar perahu yang sedang mengejar mereka itu makin mendekat. Cepat saja ia pun sambar pengayuh lain dan bantu mendayung, bertambah tenaga seorang, daya luncur perahu mereka menjadi seperti anak panah terlepas dari busurnya, jarak dengan perahu pengejar itu pun makin lama makin jauh.

“Kepandaian Hwesio itu sungguh luar biasa, kalau kedua Cici yang masih muda belia dikalahkan olehnya, kenapa mesti dibuat pikiran, apa yang memalukan?” ujar Toan Ki kemudian.

Tiba-tiba dari jauh sana terdengar suara seruan orang, “Wahai, A Cu dan A Pik! Kembalilah kalian!”

Terang itulah suara Ciumoti, ucapannya itu terdengar lemah lembut dan bersahabat hingga menimbulkan daya tarik yang sukar ditahan, rasanya ingin menurut saja apa yang dikatakan itu.

A Cu tertegun juga, pikirnya, “Dia menyerukan kita kembali ke sana dan menyatakan takkan membikin susah kita.”

Sembari berkata ia menghentikan dayungnya dengan pikiran tergerak dan bermaksud memenuhi permintaan Ciumoti itu.

Bahkan A Pik lantas ikut menyokong, “Jika begitu, marilah kita putar kembali ke sana!”

Syukur tenaga dalam Toan Ki sangat kuat dan tidak mudah terpengaruh oleh seruan Ciumoti yang membawa daya tarik itu, cepat ia berkata, “Jangan kalian percaya, ia sengaja hendak menipu kalian!”

Namun suara Ciumoti yang halus dan enak didengar itu kembali berkumandang pula, “Kedua nona cilik A Cu dan A Pik, Kongcu kalian telah pulang dan sedang mencari kalian, lekaslah dayung kembali, lekas kembali!”

“Baiklah!” kata A Cu tiba-tiba terus angkat pengayuh untuk membelokkan arah perahu.

Toan Ki menjadi khawatir. Diam-diam ia pikir, “Jika benar Buyung-kongcu sudah pulang, tentu ia sendiri akan panggil A Cu dan A Pik, kenapa mesti si Hwesio yang memanggilnya? Jelas suaranya itu adalah semacam ilmu penggoda sukma orang yang sangat lihai.”

Cepat Toan Ki menyobek dua potong ujung bajunya untuk menyumbat telinganya A Cu, lalu menyumbat pula telinga A Pik.

Setelah tenangkan diri sejenak, A Cu berseru kaget, “Wah, hampir saja kita terjebak!”

“Ya, Hwesio itu dapat menggunakan Liap-hun-tay-hoat (ilmu sakti pencabut sukma, sebangsa hipnotis), hampir kita masuk perangkapnya,” tukas A Pik.

Segera A Cu mendayung lagi sekuatnya, katanya, “Toan-kongcu, lekas mendayung, cepat!”

Kedua orang terus mendayung dengan gotong royong hingga dalam sekejap suara Ciumoti tidak terdengar pula. Toan Ki lalu memberi tanda agar sumbat telinga kedua nona itu dibuka.

Sambil menepuk dada A Cu berkata sembari menarik napas lega, “Selamatlah sekarang. Tapi lantas bagaimana selanjutnya?”

“Enci A Cu,” kata A Pik, “jika kita berlindung ke tempat Liok-toaya di Siau-thian-jun, bila nanti si Hwesio juga menyusul ke sana, tentu ia akan bergebrak dengan Liok-toaya dengan sengit.”

“Benar, dan bila terjadi begitu, tentu runyam,” sahut A Cu. “Meski ilmu silat Liok-toaya cukup tinggi, tapi tampaknya bukan tandingan si Hwesio yang aneh dan licin itu. Biar begini saja, kita terus main kucing-kucingan di danau yang luas ini, kita putar kian kemari menghindari pengejarannya. Kalau lapar, kita bisa petik lengkak dan ubi teratai untuk tangsel perut, meski harus bertahan sampai 10 hari atau setengah bulan juga kita sanggup.”

“Baiklah, terserah kepada keinginanmu,” ujar A Pik dengan tersenyum. “Cuma entah bagaimana dengan pendapat Toan-kongcu?”

“Haha, justru itulah melebihi harapanku,” sahut Toan Ki sambil bertepuk tangan kegirangan. “Pemandangan danau ini indah permai, ditambah ada kawan dua nona cantik, jangankan cuma setengah bulan, sekalipun selamanya juga aku setuju hidup demikian, biarpun malaikat dewata juga tidak sebahagia ini!”

A Pik tersenyum geli oleh banyolan pemuda itu, katanya pula, “Dari sini menuju ke arah tenggara banyak sekali terdapat anak sungai dan teluk, kecuali nelayan setempat, jarang yang hafal perjalanan di sekitar sini. Bila kita sudah dapat memasuki ‘Pek-kiok-oh’ (danau beratus muara) itu, betapa pun lihai si Hwesio takkan dapat menemukan kita lagi.”

Dengan girang terus saja Toan Ki mendayung lebih giat, tidak lama sampailah mereka di tengah danau yang banyak terdapat muara sungai. Bila ketemu simpang jalan begitu, terkadang A Cu dan A Pik perlu berunding lebih dulu barulah dapat menentukan arah mana yang harus ditempuh.

Dengan begitu perahu mereka telah meluncur hingga satu-dua jam lamanya. Tiba-tiba bidang Toan Ki mengendus semacam bau harum bunga yang aneh, waktu tercium mula-mula kepalanya meraba pening, tapi lantas terasa sangat enak dan segar pula.

“Kedua Cici, bunga apakah yang harum itu? Kenapa aku tidak pernah mencium bau harum begini di negeri Tayli kami?” tanya Toan Ki.

Tiba-tiba A Pik membisikinya, “Jangan kau tanya, kita harus lekas meninggalkan tempat ini.”

Toan Ki heran oleh suara si nona yang rada gugup dan khawatir itu. Dalam pada itu didengarnya A Cu juga sedang berkata dengan lirih, “Akulah yang tersesat. Tadi kau bilang lebih tepat membelok ke kiri, tapi aku berkeras menyatakan ke kanan, dan nyatanya aku salah jalan. A Pik, jika kau yakin arahmu yang tepat, mengapa engkau menuruti arahku?”

“Waktu itu aku sendiri pun ragu, kupikir jangan-jangan arahmu yang benar,” sahut A Pik dengan gegetun.

Kiri semangat A Pik sudah pulih kembali, ia ambil pengayuh dari tangan A Cu dan menggantikannya mendayung.

Mendengar percakapan kedua nona itu, Toan Ki menduga di balik bau harum bunga yang aneh itu tentu terdapat sesuatu yang membahayakan. Sebenarnya ia ingin tanya, namun A Cu telah menggoyang tangan untuk mencegahnya supaya jangan bersuara.

Dalam kegelapan Toan Ki tak jelas melihat air muka kedua nona itu. Tapi dapat diduga keadaan pasti gawat melebihi bahaya waktu terancam pengejaran Ciumoti tadi.

Tiba-tiba A Cu mendekatkan mulutnya ke telinganya Toan Ki dan membisikinya, “Toan-kongcu, aku dan A Pik akan bicara dengan suara keras, tapi engkau jangan ikut campur sepatah kata pun, paling baik engkau berbaring saja di dalam perahu.”

Toan Ki bingung karena tidak paham apa maksud nona itu. Namun ia mengangguk dan menurut, ia menyerahkan pengayuh kepada A Cu dan merebahkan diri di geladak perahu. Ia lihat bintang berkelip-kelip di tengah cakrawala, hati merasakan semacam keheranan yang tak terkatakan.

“Adik A Pik,” demikian terdengar A Cu sedang berkata, “jalan di sini susah dibeda-bedakan, kita harus hati-hati, jangan sampai kesasar.”

“Ya,” sahut A Pik, “Hwesio yang mengejar kita itu tentu tidak bermaksud baik. Sebaliknya kalau kita sampai tersesat jalan, orang akan menyalahkan kita sengaja datang ke sini dan tentu akan banyak membawa kesukaran bagi Kongcu.”

Suara percakapan A Pik dan A Cu itu dilakukan dengan keras seakan-akan sengaja diperdengarkan kepada seseorang.

Tapi ketika Toan Ki melirik jauh ke depan, yang terlihat cuma daun lengkak melulu yang menghijau terapung rapat di permukaan air. Kecuali suara gesekan antara badan perahu dengan daun tetumbuhan itu, keadaan sunyi senyap tiada sesuatu pun yang mencurigakan, bau harum bunga yang bukan mawar bukan melati, semacam bau harum yang susah dilukiskan dan sukar diterka.

Tiba-tiba A Pik bernyanyi perlahan, suara nyanyiannya terasa mengandung rasa takut. Nyata ia menyanyi hanya untuk menghilangkan perasaan takutnya.

“Apakah Hwesio itu mengejar kemari?” demikian Toan Ki bertanya.

“Ssstt!” cepat A Cu mendekap mulut pemuda itu agar jangan bersuara. Ia celingukan kian kemari, setelah sekitarnya sunyi senyap barulah dia membisiki telinga Toan Ki, “Jangan bersuara. Kita telah kesasar ke tempat yang berbahaya, tuan rumah di sini jauh lebih lihai daripada Hwesio tadi!”

“Sungguh celaka tiga belas,” demikian pikir Toan Ki, “belum terhindar dari bahaya yang satu, bahaya yang lain mengancam pula.”

Tapi segera terpikir pula olehnya, “Ah, kedua nona adik ini belum kenal betapa lihainya Ciumoti, di dunia ini masakah ada jago lain yang lebih lihai daripada Hwesio itu? Apalagi di sini adalah tempat bercokolnya orang she Buyung, mana dia boleh membiarkan seorang tokoh lain hidup berdampingan dengan dirinya?”

Habis nyanyi A Pik tidak bicara pula, ia menengadah, memandang bintang-bintang di langit. Ia sedang berusaha membedakan arah berdasarkan kedudukan bintang yang bertaburan di cakrawala itu sambil mendayung bersama A Cu.

Toan Ki memandang sekitarnya, keadaan hening sepi, di tengah danau seluas itu melulu perahu mereka saja yang menyiah air hingga menerbitkan suara gemeresik perlahan. Ia merasa heran mengapa kedua gadis itu begitu ketakutan menghadapi suasana yang cuma sepi ini?

Setelah perahu meluncur lagi agak jauh dan tiba pula di suatu muara sungai, A Cu dan A Pik bertukar pikiran ke mana perahu mereka harus menuju.

Padahal dalam pandangan Toan Ki, ia merasa jalanan air di sini sama saja tanpa sesuatu perbedaan, ia menjadi heran berdasarkan tanda apa hingga kedua nona itu mengadakan perdebatan?

Sesudah mendayung lagi sekian lamanya, Toan Ki mendengar napas kedua gadis itu tersengal-sengal. Segera ia mengambil pengayuh dari tangan A Cu dan menggantikannya mendayung.

Tidak hina kemudian, tiba-tiba A Pik berseru kaget, “Hai, kita … kita kembali lagi ke tempat tadi.”

Benar juga, segera Toan Ki mengendus bau harum bunga yang aneh tadi. Ia menjadi lemas dan kecewa, tampaknya mereka cuma berputar-putar saja di tengah danau itu, percuma mereka mendayung dengan susah payah selama setengah malam di situ.

Sementara itu sudah dekat fajar, ufuk timur mulai remang-remang. Wajah A Pik tampak sedih. Tiba-tiba ia membuang pengayuh ke atas perahu dan menangis terguguk sambil menutupi mukanya.

A Cu merangkul A Pik dan menghiburnya, “Kita toh tidak sengaja datang kemari. Sebentar bila bertemu dengan Ong-hujin, kita katakan saja terus terang, jangan khawatir.”

Walaupun menghibur kawannya, sebenarnya perasaan sendiri juga kacau dan khawatir.

Pada saat itulah tiba-tiba di angkasa terdengar suara burung mencicit, dari arah barat sana terbang datang seekor burung putih mirip bangau. Burung itu terbang mengitari perahu beberapa kali, kemudian terbang ke arah barat pula dengan perlahan.

A Cu mengangkat pengayuh dengan menghela napas, katanya, “Sudah diketahui, terpaksa mesti ke sana, marilah kita ke sana!”

Segera ia mendayung perahunya mengikuti arah burung tadi.

“Kiranya burung itu adalah penunjuk jalan yang diutus majikannya,” ujar Toan Ki dengan tertawa.

“Toan-kongcu,” kata A Pik tiba-tiba, “engkau adalah orang luar dan tidak tahu peraturan di tempat ini. Sebentar bila sampai di ‘Man-to-san-ceng’, tak peduli apa yang terjadi, hendaklah engkau menurut perintah saja, biarpun dihina juga engkau jangan membangkang.”

“Sebab apa?” tanya Toan Ki. “Apakah tuan rumahnya sangat kasar dan sewenang-wenang? Kita hanya sesat jalan, kalau perlu kita segera pergi dari sini, dosa apakah kalau cuma kesasar saja?”

Tiba-tiba mata A Pik memberambang, katanya, “Toan-kongcu, di dalam persoalan ini banyak hal-hal yang sukar kujelaskan. Mereka berani berlaku kasar tentu mereka mempunyai alasannya sendiri. Pendek kata, semua gara-gara Hwesio jahat itu hingga kita diuber-uber dan kesasar kemari. Kalau tidak, masakah kita bisa masuk ke sini?”

Rupanya sifat A Cu lebih periang, dengan tertawa ia berkata. “Orang baik tentu diberkahi dengan rezeki besar. Kalau kita berdua datang kemari, tentu bakal celaka, tapi Toan-kongcu adalah seorang agung, seorang yang membawa berkah, siapa tahu kita akan ikut diberkahi dengan keselamatan.”

“Aku justru khawatir bagi Toan-kongcu, soal kita berdua malah tak kupikirkan,” ujar A Pik. “Ong-hujin telah menyatakan bila ada lagi orang laki-laki menginjak Man-to-san-ceng, maka kedua kaki orang itu akan ditebasnya dan kedua matanya akan dikorek. Enci A Cu, sifat Ong-hujin sudah kau kenal, sekali dia sudah omong, pasti dilaksanakannya. Kini kita membawa Toan-kongcu ke sini, bukankah kita yang membikin susah padanya ….”

Berkata sampai di sini, tak tertahan lagi air matanya bercucuran.

“A Pik,” kata A Cu, “siapa tahu mendadak timbul rasa welas asih orang, bisa jadi Toan-kongcu pandai omong dan pintar berdebat hingga dapat mematahkan perasaan baja orang, lalu kita bertiga dilepas pergi.”

“Sebenarnya tokoh macam apakah Ong-hujin itu?” tanya Toan Ki.

A Pik memandang A Cu sekejap, hendak menjawab tapi urung. Sebaliknya A Cu lantas memberi tanda beberapa kali dengan tangannya, lalu celingukan, kemudian baru berkata, “Tentang diri Ong-hujin? Wah, betapa tinggi ilmu silatnya boleh dikata sudah mencapai tingkatan yang sukar diukur, di dunia persilatan sekarang tiada seorang pun yang dapat menandinginya. Kongcu kami biasanya tidak mau tunduk kepada siapa pun, hanya Ong-hujin saja yang paling dikagumi olehnya.”

Meski begitu mulutnya berkata, tapi mimik wajahnya mengunjuk tanda-tanda yang aneh, mulut merat-merot dan mata terpicing sambil mengangkat bahu pula. Pendek kata tanda-tanda yang menyatakan apa yang dikatakan itu sama sekali tidak dapat dipercaya melainkan buatan belaka sekadar menyenangkan hati orang.

Keruan Toan Ki heran, pikirnya, “Masakah bicara di tengah perahu yang sekelilingnya cuma air belaka juga khawatir didengar orang? Apakah Ong-hujin itu begitu sakti sehingga memiliki telinga yang mampu mendengar dari jauh?”

Ia lihat burung putih tadi telah terbang kembali dan mengitar pula di atas perahu mereka seperti tidak sabar menunggu lagi, setelah berputar lagi dua kali, kembali burung itu mendahului terbang ke depan. Setelah perahu didayung lagi mengikuti arah burung putih itu, kini jalanan air itu penuh dengan teluk dan muara sungai yang berliku-liku.

Akhirnya perahu mereka tiba di depan sebaris pagar bambu. Pagar bambu itu jarang-jarang anyamannya sebagaimana umumnya dipakai kaum nelayan untuk mengurung ikan.

Sesudah dekat dengan pagar bambu itu, tampaknya perahu mereka teralang dan tak dapat meluncur maju lagi.

Tak terduga begitu haluan perahu membentur pagar bambu itu, seketika pagarnya ambruk ke bawah air hingga perahu dapat meluncur terus.

Kiranya pagar bambu itu dipasang dengan pesawat rahasia yang bisa dibukatutupkan.

Setelah melintasi beberapa rintangan pagar bambu lagi, akhirnya tertampaklah di depan sana pohon Liu melambai-lambai di tepi pantai, dari jauh kelihatan pula di tepi pantai penuh tumbuh bunga kamelia yang kemerah-merahan bercerminkan air danau.

Melihat itu, tak tertahan lagi Toan Ki berseru heran dengan perlahan.

“Ada apa?” tanya A Cu.

“Itu adalah San-teh-hoa (bunga kamelia) di negeri Tayli kami, mengapa di tengah danau ini tumbuh juga jenis bunga ini?” sahut Toan Ki sambil menunjuk pohon kembang itu.

“Oya? Tapi mungkin San-teh-hoa di Tayli tidak dapat menandingi San-teh-hoa di tempat kami ini,” kata A Cu. “Tempat ini bernama Man-to-san-ceng, bunga mantolo di sini terhitung nomor satu di dunia, betapa pun bunga keluaran Tayli kalian juga takkan mampu menandinginya.”

Kiranya nama lain dari San-teh-hoa atau bunga kamelia adalah kembang mantolo, yaitu berasal dari kata Mandala dalam bahasa Sanskerta. Dan kembang mantolo yang paling terkenal adalah keluaran provinsi Hunlam, orang menyebutnya sebagai “Tin-teh” atau bunga kamelia dari Hunlam.

Oleh karena itulah Toan Ki tidak dapat menerima pendapat A Cu tadi, bahwa kamelia Tayli tak dapat menandingi bunga yang tumbuh di Man-to-san-ceng atau perkampungan bunga mantolo ini. Pikirnya, “Pemandangan alam di daerah Kanglam memang harus diakui indah permai dan sukar ditandingi Tayli. Tapi bicara tentang bunga kamelia yang merupakan bunga pusaka negeri kami kuyakin tiada tempat lain yang dapat melebihinya.”

Sebenarnya ia bermaksud menyanggah ucapan A Cu tadi, tapi dilihatnya gadis itu sedang memicingkan mata dan memerotkan mulut pula sebagai tanda jangan banyak bicara, maka Toan Ki urung buka suara. Ia pikir Man-to-san-ceng itu sudah di depan mata, lebih baik jangan sembarangan bicara.

Dalam pada itu A Cu telah mendayung perahunya menuju ke semak bunga kamelia itu. Sampai di tepi pantai, Toan Ki melihat sepanjang mata memandang di situ hanya bunga kamelia belaka yang berwarna merah dan putih, sebuah rumah pun tidak tertampak.

Ia dibesarkan di negeri Tayli yang terkenal sebagai negeri kembang kamelia, maka ia tidak heran oleh bunga San-teh yang berserakan itu. Bahkan ia merasa bunga kamelia sebanyak itu tiada satu pun terdiri dari jenis yang berharga.

Setelah merapatkan perahunya ke gili-gili, segera A Cu berseru dengan suara nyaring dan penuh hormat, “Hamba A Cu dan A Pik dari keluarga Buyung dalam menghindari kejaran musuh secara tidak sengaja telah tersesat ke sini, sungguh dosa kami pantas dihukum mati, mohon kemurahan hati Ong-hujin sudilah mengingat ketidaksengajaan kami dan memberi ampun, untuk mana hamba berdua akan sangat berterima kasih.”

Akan tetapi biar A Cu sudah gembar-gembor sendiri, di balik semak-semak pohon sana tetap tiada suara sahutan orang.

Nona itu berseru lagi, “Dan orang yang datang bersama kami ini adalah Toan-kongcu yang tak kami kenal sebelumnya, ia adalah tamu asing dan juga tidak kenal-mengenal dengan Kongcu kami, tiada sangkut paut apa-apa dengan kesasaran kami ini.”

Segera A Pik ikut berkata juga, “Kedatangan orang she Toan ini ke tempat kami sebenarnya tidak punya maksud baik melainkan hendak membikin onar pada Kongcu kami. Tak terduga secara kebetulan ia ikut kesasar kemari.”

Toan Ki menjadi heran, pikirnya, “Kenapa mereka menegaskan aku adalah musuh Buyung-kongcu, apa barangkali tuan rumah di sini sangat benci kepada Buyung-kongcu, asal aku mengaku sebagai musuh orang she Buyung itu lantas aku takkan dipersulit di sini?”

Tidak beberapa lama, tiba-tiba di tengah hutan kembang kamelia itu terdengar suara tindakan orang, kemudian muncul seorang pelayan kecil berbaju hijau, tangan membawa segebung karangan bunga, usianya lebih tua satu-dua tahun daripada A Cu dan A Pik. Sampai di tepi pantai, dengan tertawa dayang itu berkata dengan tersenyum, “A Cu, A Pik, kalian benar-benar bernyali besar sekali dan berani ngelayap ke sini. Karena itu Hujin memerintahkan muka kalian masing-masing harus disilang dengan pisau agar wajah kalian yang cantik ayu terusak!”

Namun A Cu jadi lega malah demi tampak sikap dayang yang bicara itu. Sahutnya dengan tertawa, “Enci Yu Cau, Hujin tidak berada di rumah bukan?”

“Hm, Hujin justru mengatakan bahwa kalian berani membawa laki-laki asing ke sini, maka kedua kaki orang itu harus segera dipotong,” demikian sahut si dayang yang dipanggil dengan nama Yu Cau itu. Tapi belum selesai ia omong sudah lantas menutup mulut dengan tangan dan tertawa cekikikan.

“Enci Yu Cau,” A Pik ikut bicara sambil tepuk dada, “jangan engkau menakut-nakuti orang. Sebenarnya sungguh-sungguh atau tidak ucapanmu itu?”

“A Pik,” ujar A Cu dengan tertawa, “jangan gampang digertak olehnya. Kalau Hujin ada di rumah masakah budak ini berani main gila seperti ini? Adik Yu Cau, katakanlah, ke manakah Hujin pergi?”

“Huh, berapakah umurmu sekarang, berani kau panggil aku sebagai adik?” sahut Yu Cau dengan tertawa. “Kau memang siluman cilik cerdik, dengan tepat dapat kau terka Hujin tidak berada di rumah.”

Ia merandek sejenak, tiba-tiba ia menghela napas, lalu meneruskan, “A Cu dan A Pik, syukurlah kalian dapat berkunjung kemari pula, sungguh aku ingin menahan kalian agar dapat tinggal barang beberapa hari di sini, cuma ….”

“Ya, sudah tentu kami pun suka tinggal sementara denganmu di sini,” sahut A Pik. “Enci Yu Cau, sebaiknya engkau dapat datang ke tempat kami saja. Untuk mana kami siap tiga-hari-tiga malam tidak tidur selalu menemanimu.”

Tengah bicara, tiba-tiba dari semak-semak bunga sana terdengar suara keresekan, kemudian muncul pula seorang dayang cilik dengan tertawa, dayang ini pun berseru girang, “Hai, A Cu dan A Pik, nona kami mengundang kalian ke tempatnya sana.”

“He, kiranya adik Hong Le,” sahut A Cu dengan tertawa. “Terima kasih atas kebaikan nona kalian. Sampaikanlah bahwa Kongcu kami sedang bepergian, kedatangan kami ke sini sungguh-sungguh karena sesat jalan. Harap dimaafkan.”

“Bagus,” kata Hong Le setengah mengomel, “nona kami mengundang kalian, tapi kalian menolak. Baiklah, dan kalian juga jangan mengharapkan Pek-ih-sucia (penunjuk jalan berbaju putih, maksudnya burung putih tadi) akan membawa kalian keluar dari sini.”

A Cu saling pandang sekejap dengan A Pik, sikap mereka tampak serbasalah. Kemudian A Pik membuka suara, “Enci Hong Le, engkau sendiri tentu tahu, mana kami berani menolak undangan nonamu? Akan tetapi bila nanti kebetulan Hujin pulang, lantas … bagaimana ….”

“Hujin sedang pergi ke tempat yang jauh, kemarin beliau berangkat, tidak mungkin pulang dengan cepat,” sahut Hong Le atau si burung kenari kuning. “Ayolah ikut ke sana, masakan kalian tidak tahu isi hati nona kami?”

“Baiklah, marilah A Pik, terpaksa kita menempuh bahaya lagi,” ujar A Cu.

Kedua gadis itu lantas melangkah ke gili-gili. Kata A Pik kepada Toan Ki, “Toan Ki, Toan-kongcu, harap menunggu sebentar di sini, kami pergi menemui tuan rumahnya, segera kami kembali.”

Toan Ki mengiakan dan menyaksikan kepergian keempat gadis cilik yang lincah dan riang gembira itu.

Sesudah sekian lama duduk di dalam perahu, Toan Ki menjadi iseng, pikirnya, “Biarlah aku mendarat untuk melihat bunga mantolo yang ditanam di sini, ingin kulihat apakah ada jenis-jenis yang bagus atau tidak?”

Terus saja ia melangkah ke pantai dan menikmati pemandangan di sepanjang jalan. Ia lihat di antara tetumbuhan bunga selebat itu, kecuali bunga kamelia, sama sekali tiada jenis bunga lain lagi. Akan tetapi bunga kamelia itu juga terdiri dari jenis-jenis yang umum tiada sesuatu yang bernilai tinggi, satu-satunya keistimewaannya adalah dalam hal jumlah. Memang jumlahnya sangat banyak.

Tengah Toan Ki memandang kian kemari, tiba-tiba hidungnya mengendus bau harum pula. Harum bunga itu sebentar keras sebentar halus hingga sukar diraba dari mana datangnya, bau harum itu serupa bau harum aneh yang diciumnya selama di dalam perahu itu.

Diam-diam Toan Ki heran, pikirnya, “Di sini tidak tampak ada jenis bunga lain lagi kecuali kamelia, apakah mungkin di antara kamelia sebanyak ini terdapat sejenis yang dapat mengeluarkan bau harum yang aneh ini?”

Tertarik oleh rasa ingin tahu, terus saja Toan Ki mengusut lebih jauh mengikuti arah datangnya bau harum itu. Setelah berpuluh meter jauhnya, ia lihat jenis-jenis kamelia yang mekar bertambah banyak, terkadang juga ada satu-dua jenis yang bernilai lumayan.

Tidak lama pula, sedang Toan Ki asyik memerhatikan bunga kamelia yang luar biasa jumlahnya itu, mendadak bau harum yang aneh itu lenyap sama sekali.

Meski Toan Ki sudah menyusuri ke sana dan ke sini bau harum itu tetap tak terendus lagi. Ia pikir, “Sudahlah, aku harus lekas kembali ke sana, sebentar kalau A Cu dan A Pik kembali dan melihat aku tiada berada di sana, tentu mereka akan khawatir.”

Segera ia putar tubuh hendak kembali ke arah datangnya tadi. Akan tetapi celaka, ia mengeluh. Kiranya sudah sekian jauh ia menyusur kian kemari di antara hutan bunga itu, ia lupa memberi tanda pada jalan yang dilaluinya itu. Kini hendak balik ke tempat perahunya berlabuh terang menjadi sulit.

Ia coba membedakan arah menurut keyakinannya sendiri, pikirnya asal dapat mencapai tepi danau, urusan tentu akan menjadi mudah.

Tak tersangka makin jauh ia berjalan, makin tak keruan jurusan yang dipilihnya itu. Mendadak didengarnya ada suara orang bicara di sisi kiri hutan bunga sana, segera dapat dikenali itulah suara A Cu. Pikir Toan Ki dengan girang, “Biarlah kutunggu sebentar di sini, bila mereka selesai bicara, tentu dapat aku ikut kembali ke tempat tadi bersama mereka.”

Ia dengar A Cu sedang berkata, “Kesehatan Kongcu sangat baik, nafsu makannya juga bertambah. Selama dua bulan ini beliau tekun mempelajari ‘Pak-kau-pang-hoat’ (ilmu pentung penggebuk anjing) dari Kay-pang, mungkin sedang menyiapkan diri untuk mengukur kepandaian dengan tokoh Kay-pang.”

Toan Ki menjadi ragu mendengar percakapan itu, pikirnya, “A Cu sedang membicarakan urusan Kongcu mereka, tidaklah pantas kalau diam-diam aku mendengarkan di sini. Aku harus menyingkir yang jauh. Tapi juga tidak boleh terlalu jauh, sebab sebentar bila mereka selesai bicara dan berangkat, jangan-jangan aku malah tidak tahu.”

Dan pada saat itulah, tiba-tiba Toan Ki mendengar suara seorang perempuan menghela napas dengan perlahan. Begitu mendengar suara helaan napas itu, seketika tubuh Toan Ki terguncang, hati berdebar dan muka berubah merah. Pikirnya, “Suara orang menghela napas itu sungguh enak sekali didengar, mengapa di dunia ini terdapat suara semerdu itu?”

Sementara itu didengarnya suara yang halus dan merdu tadi sedang tanya pula, “Kepergiannya sekali ini menuju ke manakah?”

Ketika mendengar suara helaan napas tadi perasaan Toan Ki sudah terguncang, kini demi mendengar pula ucapannya, darah seluruh tubuh terasa bergolak, tapi hati timbul semacam rasa getir dan kecut, rasa kagum dan iri yang tak terkatakan. Pikirnya, “Yang ditanyakannya terang adalah Buyung-kongcu. Ternyata sedemikian besar perhatiannya kepada Buyung-kongcu hingga selalu dirindukan olehnya. Wahai, Buyung-kongcu, betapa bahagianya hidupmu ini!”

Terdengar A Cu sedang menyahut, “Waktu Kongcu hendak berangkat, beliau menyatakan hendak pergi ke Lokyang untuk menjumpai jago-jago Kay-pang. Malahan Lu-toako dan Pau-siansing juga ikut pergi, harap nona jangan khawatir.”

“Pada waktu Kongcu kalian berlatih Pak-kau-pang-hoat, apakah ada sesuatu kesukaran atau rintangan?” tanya suara wanita itu.

“Tidak,” sahut A Pik. “Kongcu dapat memainkan Pak-kau-pang-hoat dengan sangat lancar dan cepat sekali ….”

“Hai, salah besar!” tiba-tiba wanita itu berseru, “apa betul dia memainkannya dengan sangat cepat?”

“Ya, kenapa dikatakan salah malah?” tanya A Pik heran.

“Sudah tentu salah,” kata perempuan itu. “Pak-kau-pang-hoat itu mengutamakan keuletan, makin lambat makin baik, bila perlu dapat dipercepat dan segera diperlambat lagi. Tapi kalau terus-menerus dimainkan dengan cepat, tentu sukar mengerahkan kelihaian ilmu pentung itu. Ai, apakah … apakah kalian dapat menyampaikan sedikit pesan kepada Kongcu?”

“Tapi sekarang Kongcu berada di mana, kami sama sekali tidak tahu, bukan mustahil saat ini beliau sudah selesai pula bertemu dengan tokoh-tokoh Kay-pang,” demikian sahut A Cu. “Nona, apakah terlalu cepat memainkan Pak-kau-pang-hoat benar-benar tidak boleh?”

“Sudah tentu tidak boleh, masakah perlu kujelaskan lagi!” sahut si nona. “Mengapa … mengapa waktu akan berangkat dia tidak … tidak datang menemui atau dulu?”

Sembari berkata ia pun mengentak kaki dengan rasa khawatir dan cemas.

Toan Ki menjadi heran, pikirnya, “Biasanya nama Koh-soh Buyung sangat dihormati dan disegani, tapi dari ucapan nona ini, agaknya ilmu silat Buyung-kongcu itu seakan-akan memerlukan petunjuknya. Apa mungkin seorang nona muda belia seperti ini mempunyai kepandaian setinggi langit?”

Ia dengar si nona sedang berjalan mondar-mandir, suatu tanda betapa gelisah perasaannya waktu itu. Tiba-tiba terdengar nona itu berkata lagi dengan perlahan, “Tempo hari kuminta dia mempelajari ilmu gerak langkah itu, tapi dia justru tidak mau belajar, coba kalau dia sudah paham ‘Leng-po-wi-poh’ itu ….”

Mendadak mendengar kalimat “Leng-po-wi-poh” atau langkah indah si dewi cantik, seketika Toan Ki kaget dan tanpa terasa berseru sekali, cepat ia dekap mulut sendiri, namun sudah terlambat.

“Siapa itu?” segera terdengar nona itu menegur.

Tahu tak bisa menyembunyikan diri, terpaksa Toan Ki berdehem lebih dulu, lalu menjawab, “Cayhe bernama Toan Ki, karena terpesona oleh keindahan bunga kamelia sekitar sini hingga tanpa sengaja kesasar kemari, mohon diberi maaf.”

“A Cu, apakah dia itu Siangkong yang datang bersama kalian itu?” tanya nona itu kepada A Cu dengan perlahan.

“Benar Kohnio (nona),” sahut A Cu cepat. “Orang ini adalah Sutaycu (pelajar tolol), jangan nona mengurusnya. Biarlah sekarang juga kami mohon diri saja.”

“Nanti dulu,” kata si nona, “tunggu kutulis sepucuk surat untuk menerangkan tanda-tanda rahasia Pak-kau-pang-hoat itu dan harap kalian segera berusaha untuk disampaikan kepada Kongcu kalian.”

“Hal ini … Hujin pernah menyatakan ….” sahut A Cu dengan ragu.

“Menyatakan apa? Jadi kalian cuma menurut kata-kata Hujin dan tidak mau menurut perintahku?” ucap nona itu dengan nada marah.

Cepat A Cu menjawab, “Mana kami berani membangkang perintah nona. Asal saja tidak diketahui Hujin, sudah tentu kami akan menurut. Apalagi kalau ada faedahnya bagi Kongcu kami.”

“Baiklah, mari kalian ikut aku ke kamar,” kata nona itu.

Terpaksa A Cu mengiakan.

Dalam pada itu Toan Ki tambah kesengsem sejak mendengar suara helaan napas yang penuh daya tarik itu. Kini mendengar si nona akan pergi, ia pikir sekali si nona sudah pergi, mungkin selamanya takkan dapat melihatnya lagi, hal itu bukankah akan dibuat penyesalan selama hidup? Meski nanti akan dikatai orang karena kelakuannya yang sembrono, paling-paling juga cuma didamprat saja, betapa pun aku harus melihat muka aslinya.

Karena pikiran itu, segera Toan Ki berseru sambil melangkah keluar, “Enci A Pik, harap tinggal di sini untuk menemani aku, ya?”

Mendengar Toan Ki berjalan keluar, nona itu berseru kejut dan cepat membalik ke sana. Waktu Toan Ki menerobos keluar dari semak-semak, yang terlihat olehnya cuma seorang wanita berbaju putih mulus dan berdiri mungkur, perawakannya ramping, rambut panjang terurai sampai di punggung dan hanya diikat oleh seutas benang sutra warna perak. Cukup melihat bayangan belakang si gadis saja Toan Ki yakin gadis itu pasti sangat cantik laksana dewi kahyangan dan anggun. Segera ia memberi hormat dari jauh sambil berkata, “Terimalah hormatku nona!”

“A Cu,” tiba-tiba gadis itu mengentak kaki, “gara-garamu membawa semua orang ke sini. Aku tidak ingin bertemu dengan laki-laki luar yang tiada sesuatu hubungan.”

Habis berkata, terus saja ia berjalan cepat ke depan, hanya sekejap saja bayangan gadis itu sudah menghilang di balik semak-semak bunga sana.

Dengan tersenyum A Pik menoleh dan berkata kepada Toan Ki, “Toan-kongcu, tabiat nona ini sangat angkuh, kini kebetulan malah, marilah kita pergi dari sini.”

“Ya, berkat pertolongan Toan-kongcu yang melepaskan kami dari kesukaran,” A Cu ikut berkata dengan tertawa. “Kalau Toan-kongcu tidak muncul, tentu Ong-kohnio akan suruh kami antar surat segala dan jiwa kami ini menjadi berbahaya akibatnya.”

Semula sebenarnya Toan Ki merasa khawatir akan diomeli A Cu dan A Pik karena secara sembrono telah berani unjuk diri hingga membikin nona Ong kurang senang. Tak tersangka kedua dayang cilik itu malah memberi pujian padanya, keruan Toan Ki menjadi bingung malah.

Segera mereka bertiga kembali ke perahu mereka. A Cu angkat pengayuh hendak mulai mendayung lagi. Tapi belum sampai perahu meluncur, tiba-tiba A Pik berkata, “Enci A Cu, tanpa diberi petunjuk jalan oleh Pek-ih-sucia, betapa pun kita sukar keluar dari sini. Terpaksa kita harus menunggu dulu surat Ong-kohnio. Kita cuma terdesak oleh keadaan dan bukan sengaja datang ke sini, andaikan diketahui Ong-hujin juga tak dapat menyalahkan kita.”

“Ya, semuanya gara-gara si Hwesio busuk itu ….” demikian sahut A Cu dengan menyesal.

Belum selesai ucapannya, tiba-tiba dari jauh terdengar suara suitan nyaring panjang bagai naga meringkik.

Demi mendengar suara suitan aneh itu, seketika wajah A Cu dan A Pik berubah pucat. Begitu pula Toan Ki terkejut. Pikirnya, “He, suara suitan ini sudah kukenal dengan baik. Wah, celaka, itulah dia muridku Lam-hay-gok-sin yang datang. Tetapi, ah, salah, bukan dia, bukan dia!”

Sebagaimana diketahui, ketika mula-mula Toan Ki bertemu dengan Lam-hay-gok-sin ia pernah dengar suara ringkikan naga seperti tadi. Tapi kemudian waktu Lam-hay-gok-sin berada di depannya, kembali suara suitan nyaring itu terdengar pula, karena itu, Lam-hay-gok-sin lantas buru-buru menyusul ke arah datangnya suara itu. Maka dapat dipastikan suara suitan itu bukan suara Lam-hay-gok-sin, tapi suara seorang lain lagi.

Biasanya sifat A Cu sangat lincah dan periang, kini demi mendengar suara suitan itu, seketika badan gemetar ketakutan.

“Toan-kongcu,” kata A Pik dengan bisik-bisik, “Ong-hujin telah pulang, terpaksa kita terserah pada nasib masing-masing. Tapi sebaiknya engkau berlaku kasar kepada kami, lebih kasar dan lebih kurang sopan kepada kami akan lebih baik bagimu.”

Akan tetapi Toan Ki tidak mungkin disuruh berlaku kasar terhadap kedua dara cilik itu. Sejak dia meninggalkan rumah, sudah banyak pengalaman dan bahaya yang dihadapinya. Ia pikir bila aku ditakdirkan harus mati, biarlah kuterima nasib saja, masakah aku diharuskan berbuat tidak sopan kepada dua nona cilik?

Karena itu, segera ia menjawab, “Lebih baik mati secara sopan daripada hidup dengan kurang ajar. Enci A Cu, engkau menyebut aku sebagai Sutaycu, dan memang begitulah sifat ketolol-tololan seorang Sutaycu seperti diriku ini.”

A Cu hanya melototinya sambil menghela napas gegetun.

Pada saat itulah dari jauh tertampak sebuah perahu meluncur tiba secepat terbang, hanya sekejap saja sudah mendekat. Tampak jelas perahu itu sangat besar dengan ujung berbentuk kepala naga dan mulutnya terpentang lebar dengan rupa sangat menakutkan.

Sesudah kapal itu lebih dekat lagi, mendadak Toan Ki menjerit kaget. Ia lihat di ujung tanduk kepala naga kapal itu tergantung tiga buah kepala manusia yang darahnya masih berketes-ketes, nyata kepala manusia itu baru saja dipenggal.

“Rupanya di tengah jalan Ong-hujin memergoki musuh dan lantas dibunuhnya, makanya pulang lebih cepat daripada rencananya. Ai, dasar nasib kita lagi jelek,” demikian ujar A Cu perlahan.

Sementara itu kapal berkepala naga itu sudah merapat dengan gili-gili. A Cu dan A Pik bangkit berdiri dengan kepala menunduk, sikapnya sangat menghormat. Berulang-ulang A Pik memberi tanda kepada Toan Ki dengan maksud menyuruh pemuda itu pun ikut berdiri.

Namun Toan Ki menggeleng kepala, katanya dengan tertawa, “Biarlah tuan rumahnya muncul dulu, tentu aku akan bangkit menghormatinya. Seorang laki-laki masakah mesti merendahkan derajat sendiri?”

Tiba-tiba suara seorang wanita berkata dari dalam kapal itu, “Lelaki dari manakah berani sembarangan masuk ke Man-to-san-ceng ini? Apakah tidak pernah dengar bahwa setiap laki-laki yang berani masuk ke sini pasti akan ditebas kedua kakinya?”

Suara wanita itu sangat kereng, nyaring dan merdu, pula enak didengar.

Segera Toan Ki menjawab, “Cayhe bernama Toan Ki, Cayhe tersesat kemari tanpa sengaja, harap suka dimaafkan!”

Wanita itu cuma mendengus sekali dan tidak menggubrisnya.

Sesudah kapal itu berlabuh, dari dalam anjungan kapal muncul dua dayang muda berbaju hijau, yang seorang lantas melompat menyambar ketiga kepala manusia yang tergantung di tanduk naga itu, dengan enteng ia turun kembali ke geladak kapal sambil menjinjing ketiga buah kepala manusia itu. Gerakannya cepat dan gayanya indah.

Melihat kedua dayang itu menghunus pedang, diam-diam Toan Ki membatin, “Kaum hambanya saja begini lihai, apalagi majikannya? Biarlah, toh kepalaku cuma sebuah saja, kalau mau boleh mereka penggal sekalian.”

Dalam pada itu terdengar wanita di dalam kapal itu berkata pula, “Hm, A Cu dan A Pik ini memang kepala batu dan berani sembarangan datang kemari lagi, dasar majikanmu si bocah Buyung Hok itu juga tidak pernah berbuat baik, selalu main gila dan berbuat hal-hal yang jahat.”

“Lapor Hujin,” sahut A Pik tiba-tiba, “hamba tidak sengaja datang kemari, tapi kesasar waktu diuber musuh dan tanpa sengaja masuk ke sini lagi. Kongcu kami sedang bepergian, maka tiada sangkut-pautnya dengan beliau.”

Karena urusan sudah kadung begini, dara yang tampaknya lemah lembut itu menjadi berani mendebat dengan tegas.

Kemudian dari dalam kapal itu muncul berpasang-pasang gadis berbaju hijau yang lain, semuanya berdandan dayang dan menghunus pedang. Seluruhnya yang keluar itu ada delapan pasang, ditambah dengan kedua dayang yang pertama tadi, jumlah seluruhnya menjadi 18 orang. Mereka berbaris menjadi dua baris dengan sikap kereng, habis itu, barulah dari dalam kapal keluar seorang wanita berpakaian istana.

Begitu melihat wajah wanita itu, terus saja Toan Ki berseru kaget, seketika ia melongo dan merasa seperti di dalam mimpi.

Kiranya wanita itu berpakaian sutra putih mulus, dandanannya ternyata mirip benar dengan patung dewi yang telah dilihatnya dalam gua di Tayli itu. Bedanya cuma wanita ini sudah setengah umur, sebaliknya patung dewi itu adalah seorang gadis jelita berusia belasan tahun.

Dalam kejutnya Toan Ki coba mengamat-amati wanita cantik itu pula. Ia melihat wajahnya benar-benar seperti patung dewi di dalam gua itu, kecuali perbedaan dalam umur, wajahnya juga sudah mulai berkerut, tapi makin dipandang makin mirip seakan-akan saudara kembar dengan patung cantik di dalam gua itu.

A Cu dan A Pik menjadi khawatir melihat Toan Ki memandangi Ong-hujin itu dengan mata tanpa berkedip, kelakuannya itu benar-benar sangat kurang ajar, tiada ubahnya seperti seorang pemuda yang mata keranjang. Berulang-ulang mereka memberi isyarat agar Toan Ki jangan menatap begitu rupa kepada Ong-hujin itu tapi sepasang mata Toan Ki itu seakan-akan sudah tak berkuasa dan terpaku pada wajah Ong-hujin.

Segera Ong-hujin itu menjadi gusar juga, katanya kepada kaum hambanya, “Orang ini sangat kurang ajar, sebentar sesudah potong kedua kakinya, harus korek pula kedua matanya dan iris lidahnya.”

Salah seorang dayangnya yang berbadan lencir dan berkulit badan hitam manis lantas mengiakan.

Diam-diam Toan Ki gelisah juga, pikirnya, “Kalau aku dibunuh, paling-paling juga mati akhirnya. Tapi kalau kedua kakiku dipotong lebih dulu, mataku dikorek, dan lidahku diiris hingga mati tidak hidup celaka, wah, rasa derita ini tentu sangat berat.”

Baru sekarang timbul rasa takutnya. Ia coba berpaling memandang A Cu dan A Pik, ia lihat wajah kedua dara itu pun pucat pasi seperti mayat dan berdiri terpaku bagai patung.

Setelah Ong-hujin mendarat, menyusul dari dalam kapalnya berjalan keluar pula dua dayang berbaju hijau yang lain, tangan mereka memegang seutas tali sutra dan menyeret keluar dua orang laki-laki.

Toan Ki melihat salah seorang laki-laki yang terikat tali dan diseret keluar itu bermuka putih bersih dan cakap seperti putra keluarga hartawan. Seorang lagi segera dapat dikenalinya sebagai Cin Goan-cun yang bergelar “Nau-kang-ong” atau si Raja Pengamuk Sungai itu.

Waktu mengeroyok Bok Wan-jing dahulu, lagak Cin Goan-cun luar biasa garangnya. Tapi kini kedua tangannya terikat oleh tali sutra, kepala menunduk dengan lesu seperti orang sudah pasrah nasib.

Toan Ki menjadi heran, orang ini selamanya tinggal di Hunlam, mengapa sekarang kena ditangkap ke sini oleh Ong-hujin.

Sementara itu terdengar Ong-hujin sedang bertanya kepada Cin Goan-cun, “Sudah terang kau orang Tayli, mengapa tidak mengaku?”

“Aku memang orang Hunlam, tapi kampung halamanku tidak berada di bawah kekuasaan negeri Tayli,” sahut Cin Goan-cun.

“Hm, berapa jauh jarak tempat tinggalmu dengan Tayli?” tanya Ong-hujin pula.

“Lebih dari empat ratus li jauhnya,” sahut Cin Goan-cun.

“Belum ada lima ratus li, engkau termasuk pula orang Tayli,” kata Ong-hujin. “Harus dipendam hidup-hidup di bawah bunga mantolo sebagai rabuk.”

“Aku salah apa?” teriak Cin Goan-cun penasaran. “Silakan memberi penjelasan, kalau tidak mati pun aku tidak rela.”

“Hm,” jengek Ong-hujin, “aku tidak peduli kau salah apa! Asal orang Tayli atau orang she Toan, sekali kebentur di tanganku, tentu ikan kupendam hidup-hidup. Meski kau bukan orang Tayli, tapi orang tetangga Tayli, bukankah sama juga?”

Sungguh gemas Toan Ki tak terkatakan, pikirnya, “Aha, kiranya akulah yang kau maksudkan, mengapa mesti main sandiwara segala? Biarlah aku mengaku lebih dulu dan tidak perlu kau tanya padaku.”

Karena itu, segera ia berteriak keras-keras, “Ini dia orangnya, aku inilah orang Tayli tulen dan she Toan pula. Kalau engkau mau kubur aku hidup-hidup, silakan kerjakan!”

“Dari tadi kau sudah mengaku, katanya Toan Ki namamu,” demikian jengek Ong-hujin. “Hm, orang she Toan dari Tayli tidak boleh mati secara begitu mudah.”

Habis berkata ia memberi tanda dan si dayang tadi lantas menyeret pergi Cin Goan-cun yang tak berdaya itu, entah karena Hiat-to tertutuk atau karena terluka dalam yang parah, yang terang sama sekali Cin Goan-cun tidak dapat membangkang sedikit pun. Ia cuma dapat berteriak-teriak saja, “Di dunia ini masakah ada peraturan begini? Orang Tayli ada berjuta-juta jumlahnya, apakah engkau dapat membunuhnya hingga habis?”

Akan tetapi ia lantas diseret ke tengah hutan bunga itu, makin lama makin jauh dan semakin perlahan suaranya hingga akhirnya tak terdengar lagi.

Kemudian Ong-hujin berpaling ke arah tawanannya yang lain yang bermuka putih bersih itu, lalu tanyanya, “Dan apa yang hendak kau katakan?”

Mendadak orang itu tekuk lutut di hadapan si nyonya dan berulang-ulang memberi sembah, katanya, “Ayahku adalah pembesar pemerintah pusat, beliau hanya mempunyai seorang putra seperti diriku ini, maka mohon Hujin memberi ampun. Untuk mana, apa saja permintaan Hujin pasti akan dipenuhi ayahku.”

“Hm, ayahmu adalah pembesar negeri, apa kau sangka aku tidak tahu?” jengek Ong-hujin dengan dingin. “Untuk mengampuni jiwamu tidaklah sukar, asal sesudah pulang segera istrimu di rumah itu kau bunuh dan esoknya lantas menikah dengan nona Biau yang berhubungan gelap denganmu di luar nikah itu, tapi harus dengan upacara resmi dan lengkap memakai emas kawin. Nah, dapat tidak kau laksanakan syarat ini?”

Pemuda bangsawan itu serbasusah, sahutnya dengan gemetar, “Su … suruh aku membunuh istri-kawin sendiri, wah, aku … aku tidak tega. Menikah secara resmi dengan nona Biau, orang tuaku tentu … tentu melarang pula. Bukan aku … aku ….”

“Seret pergi dan kubur dia hidup-hidup,” bentak Ong-hujin segera. Dayang yang menuntun tali pengikat pemuda itu mengiakan sekali, lalu menyeretnya pergi.

Dengan ketakutan cepat pemuda itu berseru dengan gemetar, “Ba … baiklah, aku terima syaratmu!”

“Nah, Siau Jui, giring dia kembali ke kota Sohciu dan saksikan sendiri dia membunuh istrinya, kemudian dia harus menikah dengan nona Biau, habis itu barulah kau boleh pulang,” pesan Ong-hujin kepada dayang yang menuntun pemuda itu.

Siau Jui mengiakan lagi dan menarik pemuda bangsawan itu melangkah ke dalam perahu yang tadi ditumpangi Toan Ki itu.

“Harap Hujin menaruh belas kasihan,” demikian pemuda bangsawan itu memohon pula. “Istriku kan tiada sakit hati apa-apa denganmu dan engkau pun tidak kenal nona Biau, buat apa engkau mesti membantunya dan memaksa aku membunuh istriku sendiri dan menikah lagi padanya? Biasa … biasanya aku pun tidak kenal engkau, apalagi juga tidak pernah berbuat salah apa-apa kepadamu.”

“Aku tidak peduli kenal atau tidak,” sahut Ong-hujin dengan gusar. “Jika kau sudah punya istri, mengapa mesti menggoda anak gadis orang lagi? Dan sekali kau berani main gila dengan gadis lain, kau harus kawin dengan dia, sekali hal ini kuketahui pasti akan kuselesaikan seperti ini, apa lagi perbuatanmu ini bukanlah yang pertama kalinya, apa yang perlu kau sesalkan? Siau Jui, coba katakan, perbuatan ke berapakah kejahatannya ini?”

“Hamba telah menyelidiki kota Busik, Kahia dan tempat lain, semuanya tujuh kali terjadi perbuatannya yang tidak senonoh, belum lagi Siau Lan dan Siau Si yang mengusut ke kota lain,” sahut dayang itu.

Mendengar memang begitu ketetapan hukuman yang biasa dijalankan Ong-hujin, pemuda itu cuma dapat mengeluh saja dan tidak berani membantah pula. Segera Siau Jui mendayung perahunya dan membawanya pergi.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: