Pendekar Kerajaan Tayli ~ Jilid 19

Toan Ki melongo kesima menyaksikan tindak-tanduk Ong-hujin yang aneh dan tidak masuk akal itu. Yang terpikir dalam benaknya waktu itu hanya “masakah ada peraturan begitu” atas keputusan si nyonya. Saking penasarannya tanpa terasa ia berseru, “Masakah ada peraturan begitu?!”

“Hm, mengapa tidak ada?” jengek Ong-hujin. “Di dunia ini terlalu banyak peraturan begini?”

Sungguh kecewa dan cemas Toan Ki oleh tindakan Ong-hujin itu. Tempo hari, waktu ia lihat patung dewi cantik dalam gua di tepi sungai wilayah Tayli itu, begitu kagum dan begitu kesengsemnya kepada patung cantik itu. Dan kini, wajah wanita yang berada di hadapannya ini sungguh mirip benar dengan patung dewi itu, namun tindak tanduknya ternyata lebih mirip setan iblis yang tak kenal ampun.

Untuk sejenak Toan Ki hanya menunduk dengan termangu-mangu saja. Kemudian dilihatnya empat dayang Ong-hujin itu masuk lagi ke dalam kapalnya untuk membawa keluar empat pot besar bunga yang indah. Melihat itu, seketika semangat Toan Ki berbangkit.

Kiranya keempat pot bunga itu semuanya adalah bunga kamelia dan terdiri dari jenis-jenis yang terpilih.

Dalam hal kembang kamelia, di seluruh dunia ini tiada yang bisa melawan kamelia keluaran Tayli, lebih-lebih yang tertanam di Tin-lam-onghu. Karena itu sejak kecil Toan Ki sudah biasa dengan bunga kamelia di sekitarnya itu, pada waktu iseng ia pun sering mendengarkan percakapan belasan tukang kebun membicarakan jenis-jenis bunga kamelia, sebab itulah tanpa belajar ia pun sangat paham pengetahuan bunga itu.

Tadi ia sudah jauh menyusuri kebun Man-to-san-ceng itu dan melihat tiada satu jenis bunga Mantolo yang tumbuh di situ ada harganya untuk dinikmati. Maka kesannya kepada perkampungan yang ternama “Man-to-san-ceng” ini rada kecewa, sebab dianggapnya nama tidak sesuai dengan kenyataannya.

Terdengar Ong-hujin sedang pesan kepada dayang-dayang yang membawakan pot bunga tadi, “Siau Teh, keempat pot kamelia ‘Moa-gwe’ (bulan purnama) itu tidak mudah mendapatkannya, maka kalian harus merawatnya baik-baik.”

Dayang yang dipanggil Siau Teh itu mengiakan.

Toan Ki tertawa geli oleh ucapan Ong-hujin yang dianggapnya masih hijau itu.

Namun Ong-hujin tidak gubris padanya, kembali ia pesan si dayang, “Angin danau terlalu keras, bunga itu pun sudah tersimpan beberapa hari di dalam kapal dan tidak pernah terjemur sinar matahari, maka lekas kalian menaruhnya di tempat terbuka, dijemur sebentar dan tambahi sedikit rabuk.”

Kembali Siau Teh mengiakan.

Mendengar itu, Toan Ki bertambah geli hingga saking tak tahan ia terbahak-bahak, “Hahahaha!”

Karena heran oleh suara tertawa si pemuda yang agak aneh itu, dengan mendongkol Ong-hujin menegur, “Apa yang kau tertawakan?”

“Aku tertawa karena engkau tidak paham tentang bunga kamelia, tapi justru senang tanam bunga ini,” sahut Toan Ki. “Bunga sebagus itu jatuh dalam tanganmu, itu sama dengan membakar sangkar untuk memasak burung kenari, sungguh runyam.”

Ong-hujin menjadi gusar, dampratnya, “Hm, aku tidak paham kamelia, apakah kau yang pintar?”

Tapi segera terpikir olehnya bukankah baru saja pemuda ini mengaku she Toan dan berasal dari Tayli, jika begitu bukan mustahil pemuda ini memang paham bunga kamelia.

Walaupun begitu pikirnya, namun di mulut ia tidak mau kalah, “Tempat ini bernama Man-to-san-ceng (perkampungan bunga Mantolo atau kembang kamelia), di mana-mana tumbuh bunga Mantolo dengan subur dan indah permai, bukan?”

“Ya, barang kasar sudah tentu dapat ditanam secara kasar dan hidup kasar pula, ” sahut Toan Ki dengan tersenyum. “Tetapi bila keempat pot kamelia putih ini dapat kau tanam hingga hidup subur, biarlah aku tidak she Toan lagi.”

“Wah, celaka!” demikian pikir A Cu dari A Pik, bahaya sudah di depan mata, pemuda ini malah berani mengolok-olok Ong-hujin tidak pandai tanam bunga, barangkali pemuda ini ingin mati lebih cepat?

Kiranya sifat Ong-hujin itu sangat suka kepada bunga kamelia, untuk mana ia tidak sayang membuang biaya besar untuk mengumpulkan jenis-jenis yang baik. Akan tetapi bila jenis pilihan itu sudah ditanam di Man-to-san-ceng, selalu bunga itu mati layu, paling lama juga cuma tahan setengah atau satu tahun saja. Karena itulah Ong-hujin sangat kesal oleh kegagalannya menanam bunga itu.

Kini demi mendengar ucapan Toan Ki, bukannya dia marah sebaliknya menjadi girang malah. Segera ia melangkah maju dan bertanya, “Menurut pendapatmu keempat pot kameliaku ini terdapat kesalahan apa? Cara bagaimana untuk bisa menanamnya dengan baik?”

“Jika maksudmu hendak minta petunjuk padaku, kan ada tata caranya orang minta petunjuk,” demikian sahut Toan Ki. “Tapi kalau engkau ingin pakai kekerasan untuk memaksa aku mengaku itulah jangan kau harap dan bila perlu boleh kau tebas dulu kedua kakiku.”

Ong-hujin menjadi gusar, serunya, “Untuk menebas kakimu apa susahnya? Siau Si, tebas kaki kirinya dahulu.”

Pelayan yang dipanggil Siau Si itu mengiakan dan segera melangkah maju dengan pedang terhunus.

“Jangan, Hujin!” cepat A Pik mencegah. “Sifat orang ini sangat kepala batu. Bila engkau melukainya, biarpun mati ia takkan bicara lagi.”

Memangnya maksud Ong-hujin juga cuma menggertak saja. Maka ia lantas memberi tanda agar Siau Si urungkan maksudnya.

“Haha, paling baik kalau kau potong kedua kakiku untuk ditanam di samping keempat pot bunga, tentu akan merupakan rabuk paling subur dan kelak kamelia putih itu pasti akan mekar dengan indah. Wah, tentu akan sangat cantik dan baguuus sekali!” demikian Toan Ki sengaja berolok-olok.

“Tidak perlu membual,” sahut Ong-hujin dengan mendongkol. “Di mana letak kebaikan dari kejelekan keempat jenis bunga kameliaku ini, coba katakan lebih dulu. Bila uraianmu beralasan dan dapat kuterima, mungkin akan kuterima dirimu dengan hormat.”

“Ong-hujin,” segera Toan Ki berkata, “engkau bilang keempat jenis kamelia ini bernama ‘Moa-gwe’, sebenarnya engkau salah besar. Satu di antaranya justru bernama ‘Ang-ceng-soh-kwe’ (berdandan sederhana dengan pupur merah) dan satu jenis lagi bernama ‘Coa-boa-bi-jin-bin’ (mencakar muka orang cantik).”

“Coa-boa-bi-jin-bin? Kenapa begitu aneh namanya? Jenis yang manakah?” tanya Ong-hujin dengan heran.

“Haha, jika ingin minta petunjuk padaku, engkau harus pakai aturan sebagaimana mestinya,” sahut Toan Ki dengan tertawa.

Ong-hujin menjadi kewalahan. Tapi demi mendengar di antara bunga yang dikumpulkannya itu satu di antaranya terdapat nama yang aneh menarik, ia menjadi sangat girang. Dengan tersenyum katanya pula, “Baiklah! Nah, Siau Si, perintahkan kepada koki, suruh menyiapkan perjamuan di ‘Hun-kin-lau’ untuk menghormati Toan-siansing ini.”

Siau Si mengiakan terus bertindak pergi.

Untuk sejenak A Cu dan A Pik hanya saling pandang dengan melongo. Sungguh mimpi pun tak terpikirkan bahwa Toan Ki bisa lolos dari kematian, bahkan Ong-hujin malah akan menjamunya sebagai tamu terhormat.

Dalam pada itu Ong-hujin telah memberi perintah pula kepada pelayan yang menjinjing ketiga buah kepala manusia itu agar ditanam di tepi kamelia merah di depan rumah “Ang-he-lau”. Segera pelayan itu mengiakan dan pergi.

Habis itu barulah Ong-hujin berkata kepada Toan Ki, “Marilah silakan ke kediamanku, Toan-kongcu!”

“Untuk itu tentu akan mengganggu ketenteraman Hujin, harap dimaafkan,” sahut Toan Ki.

“Atas kunjungan Toan-kongcu yang serbapandai, sungguh suatu kehormatan bagi Man-to-san-ceng kami,” kata Ong-hujin pula.

Begitulah di antara nyonya rumah dan tamunya saling mengucapkan kata-kata merendah sambil berjalan ke sana.

Suasananya sama sekali sudah berubah, kalau tadi A Cu dan A Pik kebat-kebit mengkhawatirkan keselamatan Toan Ki, adalah sekarang mereka menjadi lega dan ikut dari belakang. Tapi mereka kenal watak Ong-hujin yang susah diraba, sekarang sikapnya ramah tamah, sebentar lagi bisa berubah menjadi gusar dan kasar. Maka mereka tetap berkhawatir bagi Toan Ki entah bagaimana jadinya nanti.

Sesudah menyusuri tanaman bunga yang lebat, akhirnya Ong-hujin membawa Toan Ki sampai di depan sebuah gedung bertingkat yang kecil mungil. Pada papan di bawah emper rumah itu Toan Ki melihat tertulis tiga huruf “Hun-kin-lau”. Di sekitar rumah itu pun penuh tertanam bunga kamelia. Tapi bunga sebanyak itu kalau dibandingkan kamelia yang terpelihara di Tayli boleh dikatakan tidak berarti, paling-saling juga cuma kelas tiga atau empat saja. Dibandingkan gedung indah itu sungguh tidak serasi.

Sebaliknya Ong-hujin merasa sangat bangga, katanya, “Toan-kongcu, kamelia di negerimu Tayli sangat banyak, tapi kalau dibandingkan dengan tanamanku ini mungkin masih jauh ketinggalan.”

Toan Ki mengangguk, sahutnya, “Kamelia seperti ini memang tiada seorang pun yang mau tanam di Tayli kami.”

“O, ya?” Ong-hujin semakin bangga dan berseri-seri.

“Ya,” Toan Ki menegas. “Seorang petani yang paling bodoh sekalipun di Tayli kami juga tahu bila menanam bibit bunga yang jelek seperti ini akan merosotkan harga diri.”

“Apa katamu?” seru Ong-hujin cepat dengan muka berubah. “Jadi kau maksudkan Teh-hoa yang kutanam ini semuanya bernilai rendah? Ah, engkau ini ke … keterlaluan.”

“Jika engkau tidak percaya, terserahlah!” sahut Toan Ki. Ia tuding setangkai Teh-hoa atau kamelia pancawarna di depan rumah itu dan berkata pula, “Ini, seperti jenis ini tentu kau pandang sangat berharga bukan? Ya, pagar kemala yang mengelilingi bunga itulah yang benar-benar barang berharga dan sangat indah.”

Ia hanya mengagumi kebagusan pagar kemala yang mengelilingi bunga dan tidak memuji bunganya, hal ini sama seperti memuji keindahan baju seorang wanita, tapi tidak memuji akan kecantikan orangnya.

Keruan Ong-hujin rada mendongkol, padahal kamelia pancawarna itu justru dipandangnya sebagai jenis yang jarang terdapat masakah sekarang dicela oleh pemuda itu.

Tapi Toan Ki lantas berkata pula, “Numpang tanya Hujin, bunga ini di daerah Kanglam sini disebut dengan nama apa?”

“Kami tidak tahu apa namanya yang asli, maka kami menyebutnya Ngo-sik-teh-hoa (kamelia pancawarna),” sahut Ong-hujin.

“Tapi di Tayli kami terkenal dengan nama yang hebat, yaitu ‘Loh-te-siucay’ (sastrawan yang masuk kotak),” kata Toan Ki.

“Huh, begitu jelek namanya, tentu sengaja kau bikin-bikin sendiri,” ujar Ong-hujin. “Bunga itu indah dan megah, masa mirip seorang Loh-te-siucay?”

“Silakan Hujin coba hitung, warna bunga itu seluruhnya ada berapa?” tanya Toan Ki.

“Sudah lama kuhitung, paling sedikit juga ada belasan warna,” sahut Ong-hujin.

“Tepatnya ada 17 warna,” tukas Toan Ki. “Di Tayli kami ada sejenis yang disebut ‘Cap-pek-haksu’ (delapan belas sarjana). Itulah jenis yang tiada bandingannya di dunia ini. Satu pohon dapat mekar 18 tangkai bunga dan setiap tangkai warnanya berbeda, kalau merah ya merah mulus, bila ungu ya ungu seluruhnya, sama sekali tidak bercampur warna lain. Bahkan ke-18 tangkai bunga itu bentuknya berbeda-beda pula dan masing-masing mempunyai keindahan sendiri-sendiri, pada waktu mekar serentak mekar, kalau layu, seluruhnya layu. Apakah Hujin pernah melihat jenis bunga begitu.”

Dengan terkesima Ong-hujin mendengarkan cerita Toan Ki itu, sungguh ia sangat tertarik. Maka sahutnya dengan menggeleng kepala, “Apa betul di dunia ini ada Teh-hoa sebagus itu? Dengar saja baru sekarang, apalagi melihatnya!”

“Jenis lain yang kualitasnya di bawah Cap-pek-haksu itu juga masih ada seperti ‘Pat-sian-kue-hay’ (delapan dewa menyeberang laut), jenis ini adalah delapan tangkai bunga dengan warna yang berlainan tumbuh pada satu pohon. ‘Cit-sian-li’ (tujuh bidadari) jumlahnya tujuh tangkai, ‘Hong-tim-sam-hiap’ (tiga pendekar pengembara) ada tiga tangkai, dan ‘Ji Kiau’ (dua wanita ayu zaman Sam Kok) terdiri dari dua tangkai berwarna merah dan putih. Warna kamelia itu harus mulus dan murni, bila umpama di antara warna merah terdapat warna putih, maka itu adalah jenis yang berkualitas rendah.”

Ong-hujin mengangguk dengan kesengsem, sungguh selama hidupnya belum pernah didengarnya bahwa di antara bunga kamelia terdapat jenis sebanyak dan sebagus ini.

Maka Toan Ki meneruskan, “Umpama kita bicara tentang ‘Hong-tim-sam-hiap’, jenis ini lebih istimewa lagi, ada yang ciamik (tulen) dan ada yang kemik (gadungan). Kalau barang ciamik, di antara ketiga tangkai itu yang paling besar harus warna ungu, kemudian warna putih dan yang paling kecil warna merah. Bila umpama bunga merah lebih besar daripada bunga ungu dan bunga putih, maka itu adalah jenis yang rendah, nilainya menjadi jauh berkurang.”

Ong-hujin benar-benar terpesona oleh cerita Toan Ki itu, katanya dengan gegetun, “Jenis yang rendahan saja aku tidak pernah melihat, apalagi jenis yang ciamik.”

Sampai di sini, Ong-hujin sudah percaya benar-benar dan kagum kepada kepandaian Toan Ki yang paham tentang Teh-hoa atau bunga kamelia itu. Terus saja ia mengajak pemuda itu ke atas loteng, dan tidak lama perjamuan pun dimulai dengan macam-macam masakan yang enak dan mahal. Sedang A Cu dan A Pik ada kawan pelayan yang mengawani makan-minum di ruangan lain.

Sekarang Ong-hujin sudah sangat menghormat kepada Toan Ki, ia duduk mengiringi makan-minum di depan pemuda itu. Sesudah tiga cawan arak dihabiskan, lalu Ong-hujin menanya pula, “Tadi aku telah mendengarkan uraian Kongcu yang panjang lebar tentang jenis-jenis Teh-hoa, aku menjadi seperti orang bodoh yang mendadak menjadi pintar. Tapi dari tukang bunga di kota Sohciu yang kubeli keempat pot kamelia itu, katanya bunga-bunga itu bernama ‘Moa-gwe’, sebaliknya Kongcu mengatakan satu di antaranya bernama ‘Ang-ceng-soh-kwe’ dan yang lain bernama ‘Coa-boa-bi-jin-bin’, entah cara bagaimana membeda-bedakan jenis bunga itu, dapatlah Kongcu memberi penjelasan?”

“Mudah sekali membedakannya,” sahut Toan Ki. “Di atas daun bunga putih yang terdapat bintik-bintik merah, itulah yang bernama ‘Ang-ceng-soh-kwe’ dan daun bunga putih di atasnya terdapat garis-garis merah yang kecil, itu yang bernama ‘Coa-boa-bi-jin-bin’. Sebaliknya kalau garis-garis merahnya terlalu banyak dan kasar, namanya menjadi ‘Bi-jin-coa-boa-bin’ (muka si cantik babak-bonyok). Sebabnya, coba pikirkan, seorang wanita cantik seharusnya lemah lembut dan sopan santun, jika kebetulan mukanya tercakar luka sedikit, itulah tiada menjadi soal. Tetapi kalau mukanya selalu bonyok main cakar-cakaran dengan orang, terang wanita cantik itu suka berkelahi, lantas kecantikan apa yang dapat dikagumi?”

Sebenarnya Ong-hujin mendengarkan uraian itu dengan penuh perhatian, tapi mendadak ia lantas menarik muka dan membentak, “Kurang ajar! Kau berani menyindir aku?”

Toan Ki terkejut, sahutnya gugup, “Mana Cayhe berani, entah di manakah Cayhe menyinggung perasaan Hujin?”

“Sebenarnya kau disuruh siapa ke sini untuk sengaja omong yang tak keruan untuk menghina diriku?” damprat Ong-hujin. “Siapa bilang wanita akan tidak cantik bila belajar ilmu silat? Kalau lemah lembut apanya yang baik?”

Toan Ki tertegun sejenak, sahutnya kemudian, “Tapi apa yang kukatakan tadi cuma berdasarkan kejadian umum, di antara wanita yang mahir ilmu silat memang juga banyak yang cantik dan sopan santun.”

Tak terduga ucapan ini bagi pendengaran Ong-hujin tetap menyinggung perasaannya, tanyanya segera dengan gusar, “Jadi kau maksudkan aku tidak sopan-santun ya?”

“Sopan atau tidak Hujin sendiri tentu lebih tahu, mana kuberani sembarangan menarik kesimpulan,” sahut Toan Ki tegas, akhirnya ia menjadi marah juga hingga tidak sungkan-sungkan lagi. “Tapi seperti memaksa orang membunuh istri untuk menikah lagi, tindakan demikian betapa pun tidak mungkin dilakukan oleh orang yang beradab.”

Ong-hujin tidak berkata lagi, ia tepuk tangan perlahan, segera tiga pelayan berlari ke atas loteng dan berdiri di situ menunggu perintah.

“Gusur orang ini ke bawah, suruh dia pikul air dan menyiram bunga,” pesan Ong-hujin.

Ketiga pelayan itu serentak mengiakan.

“Toan Ki,” kata Ong-hujin pula. “Kau she Toan dan orang berasal dari Tayli pula, seharusnya sejak tadi mesti kubunuh. Tetapi bila kau benar-benar paham sifat kehidupan Teh-hoa, biarlah sementara ini jiwamu kuampuni dan hanya kuhukum kerja paksa menanam dan merawat Teh-hoa yang tumbuh di kebunku ini, lebih-lebih terhadap keempat kamelia putih yang baru kubeli ini, harus kau rawatnya dengan baik-baik. Ingin kukatakan padamu, bila satu di antara keempat pot kamelia putih itu mati, sebagai hukumannya sebelah tanganmu akan kutebas, kalau mati dua kamelia, dua tanganmu ditebas semua, empat mati seluruhnya, empat anggota badanmu juga putus semua.”

“Dan kalau keempat pohon bunga itu hidup semua?” tanya Toan Ki dengan tertawa.

“Kalau keempat pohon itu hidup semua, kau harus menanam dan merawat bunga yang lain, terutama jenis pilihan seperti Cap-pek-haksu, Pat-sian-kue-hay, Cit-nian-li, Ji Kau dan lain-lain, setiap jenisnya harus kau tanamkan beberapa pohon. Kalau tidak dapat kau laksanakan, kedua matamu akan kukorek.”

“Lebih baik sekarang juga kau bunuh aku saja,” sahut Toan Ki. “Aku tidak sudi terima hukuman sehari dipotong tangannya, lain hari ditebas kakinya, bahkan kedua mata akan dikorek pula!”

“Dasar kau sudah bosan hidup ya? Di hadapanku berani sembarang mengoceh?” damprat Ong-hujin. “Gusur pergi!”

Ketiga pelayan tadi mengiakan terus melangkah maju, yang dua memegangi lengan Toan Ki dan yang lain mendorongnya dari belakang serta diseret ke bawah loteng. Ketiga pelayan itu mahir ilmu silat, Toan Ki menjadi tak bisa berkutik, ia cuma dapat mengeluh saja di dalam hati.

Sesudah menyeret Toan Ki ke suatu tempat di dalam taman, segera salah seorang pelayan itu mengambilkan cangkul dan pelayan lain menyodorkan sebuah ember kepadanya sambil berkata, “Turutlah perintah Hujin dan tanamlah bunga dengan baik-baik, dengan demikian jiwamu mungkin masih ada harapan buat hidup terus. Engkau tergolong orang yang beruntung juga, padahal tiada seorang laki-laki yang dapat hidup keluar dari sini bila menginjak tanah Man-to-san-ceng ini.”

“Selain menanam dan merawat tanaman, jangan sekali-kali engkau berkeliaran di dalam taman ini,” kata pelayan yang lain. “Bila engkau berani sembarangan mendatangi tempat terlarang, itu berarti engkau mencari mampus sendiri dan tiada seorang pun yang dapat menolongmu.”

Begitulah pelayan-pelayan itu memberi pesan dengan wanti-wanti kepada Toan Ki, habis itu barulah mereka tinggal pergi. Untuk sejenak Toan Ki hanya berdiri menjublek di situ dengan serbarunyam.

Di negeri Tayli kedudukan Toan Ki hanya di bawah paman-baginda Po-ting-te dan ayahnya, Tin-lam-ong. Kelak kalau sang ayah menggantikan sang paman dan naik takhta, itu berarti dengan sendirinya ia menjadi putra mahkota. Siapa tahu sampai di daerah Kanglam ia mesti mengalami nasib begini jelek, mula-mula ia hendak dibunuh orang, anggota badannya akan dipotong dan matanya akan dikorek, bahkan sekarang dipaksa untuk menjadi tukang kebun.

Syukurlah watak pembawaan Toan Ki memang ramah tamah terhadap kaum bawakan, sering pula ia bergaul dengan tukang kebun dan ikut menanam bunga dan mencangkul segala. Kecuali itu sifatnya juga periang dan dapat berpikir panjang, tidak peduli mengalami kegagalan apa pun, paling-paling ia cuma lesu setengah hari saja untuk kemudian lantas gembira pula.

Kini ia pun coba menghibur diri sendiri, “Ketika di dalam gua tempo hari aku sudah menyembah beratus kali kepada patung dewi itu sebagai guru. Sekarang Ong-hujin ini wajahnya serupa dengan Enci Dewi itu, hanya usianya lebih lanjut sedikit, biarlah aku tetap menganggapnya sebagai Suhuku. Dan kalau Suhu ada perintah, sudah sepantasnya anak murid mesti melaksanakannya. Apalagi tanam bunga memang juga pekerjaan iseng kaum pelajar, jauh lebih baik daripada mesti main silat dan beradu senjata. Lebih-lebih kalau dibandingkan daripada ditawan Ciumoti dan akan dibakar hidup-hidup di depan kuburan Buyung-siansing, kan lebih enak menjadi tukang kebun bunga. Cuma sayang jenis bunga yang terdapat di sini jenisnya terlalu jelek hingga rasanya tidak sesuai kalau mesti dirawat oleh seorang putra pangeran kerajaan Tayli.”

Begitulah, dengan bernyanyi-nyanyi kecil sambil memanggul pacul dan menjinjing ember, kemudian Toan Ki berjalan ke depan sembari berpikir, “Ong-hujin suruh aku menanam keempat pot kamelia yang baru dibelinya itu. Ehm, betapa pun keempat jenis ini terhitung lumayan juga, aku harus mencari suatu tempat yang baik untuk menanamnya agar bunga dan tempatnya cocok satu sama lain.”

Sambil berjalan ia terus mengawasi sekitarnya. Mendadak ia terbahak-bahak geli melihat pemandangan di situ, pikirnya, “Dalam hal menanam Teh-hoa sebenarnya Ong-hujin sama sekali tidak paham, tapi ia justru sangat suka menanam Teh-hoa di sini dan menyebut kediamannya ini sebagai Man-to-san-ceng apa segala. Nyata ia tidak tahu bahwa Teh-hoa suka tempat yang lembap dan takut cahaya matahari. Kalau ditanam di tempat terbuka, meski tidak mati oleh sinar matahari, tentu juga sulit mekar bunganya, ditambah lagi diberi rabuk sebanyak-banyaknya, biarpun bunga dari jenis paling bagus juga akan mati. Sayang, sungguh sayang!”

Segera ia pilih tempat yang rindang dan menuju ke sana. Sesudah melintasi sebuah gunung-gunungan kecil, ia dengar gemerciknya air sungai kecil. Di sisi kiri penuh pohon bambu yang rindang, sekitarnya sunyi senyap.

Tempat itu lembap dan tidak tercapai oleh sinar matahari, maka Ong-hujin menyangka tidak cocok untuk ditanami Teh-hoa. Namun kini Toan Ki menjadi girang, katanya sendiri, “Inilah dia tempat yang cocok sekali!”

Cepat ia berlari kembali ke tempat tadi dan mengusung keempat pot bunga menjadi dua kali ke bawah pohon bambu yang rindang itu. Ia hancurkan pot bunga itu, lalu pohon bunga bersama tanah yang masih melengket di akar pohon ditanamnya ke liang yang telah digalinya.

Meski Toan Ki tidak pernah bekerja menanam bunga, tapi pada waktu kecilnya sering menyaksikan pekerjaan tukang kebun, muka sekarang ia pun menirukan caranya hingga cukup memenuhi syarat sebagai tukang kebun. Tiada setengah jam lamanya, keempat pot kamelia putih itu sudah selesai ditanamnya.

Lalu ia berdiri menjauh dan menikmatinya dari kanan dan kiri, dari sudut sana dan sudut sini. Sesudah merasa puas barulah ia tepuk-tepuk tangan yang kotor dan pergi mencuci tangan ke tepi sungai.

Selesai cuci tangan, ia kembali ke depan bunga yang ditanamnya itu untuk menikmati pula hasil karyanya itu.

Tengah Toan Ki merasa senang menyaksikan buah tangannya yang berhasil itu. Tiba-tiba terdengar suara tindakan orang, ada dua wanita sedang berjalan mendatangi. Terdengar satu di antaranya lagi berkata, “Di sini keadaan sangat sunyi, tak mungkin didatangi orang lain lagi ….”

Mendengar suara itu, seketika hati Toan Ki berdebar-debar. Kiranya itulah suara si nona berbaju putih yang cuma dilihat bayangan belakangnya siang tadi.

Segera Toan Ki menahan napas, sedikit pun tidak berani bersuara. Pikirnya, “Dia telah menyatakan tidak mau menemui laki-laki yang tiada sangkut paut dengan dia, dan aku Toan Ki dengan sendirinya adalah laki-laki yang tiada sangkut paut apa-apa dengan dia. Tapi aku ingin mendengar beberapa patah katanya, asal dapat kudengar suaranya yang merdu bagai musik malaikat dewata itu, rasaku sudah seperti mendapat rezeki besar. Maka jangan sekali-kali aku dilihat olehnya.”

Dalam pada itu terdengar nona itu sedang berkata pula, “Siau Si, kabar apa yang kau dengar tantang dia?”

Kecut rasa hati Toan Ki. Ia tahu si “dia” yang dimaksudkan nona itu tentulah Buyung-kongcu yang nama lengkapnya menurut Ong-hujin adalah Buyung Hok. Suara si gadis tadi penuh nada rindu dan penuh perhatian. Diam-diam Toan Ki berpikir, “Bila nona ini sedemikian menaruh perhatian dan rindu padaku, biarpun aku Toan Ki harus mati seketika juga rela rasanya.”

Pikiran Toan Ki itu memang sungguh-sungguh, sedikit pun tidak bergurau. Padahal selama ini wajah si nona baju putih itu belum dilihatnya, entah cantik entak jelek, namanya juga tidak diketahui, tentang tabiatnya bajik atau jahat, sifatnya halus atau kasar, sama sekali ia tidak tahu. Namun sejak mendengar beberapa patah tata ucapan si nona baju putih di tepi danau, aneh juga ia menjadi jatuh cinta padanya dan merasa mati pun rela untuknya.

Sebab apa bisa begitu dan mengapa timbul perasaan demikian, ia sendiri pun tidak dapat memberi penjelasan. Dan oleh karena itulah, ketika didengarnya sedemikian perhatian si nona kepada Buyung-kongcu, tak tertahan lagi timbul rasa cemburu dan penyesalannya.

Sementara itu terdengar Siau Si lagi tergegap-gegap seperti tidak berani menjawab terus terang. Maka si nona baju putih berkata pula, “Ayolah, katakanlah padaku! Pasti takkan kulupakan kebaikanmu.”

“Hamba takut … takut didamprat Hujin,” sahut Siau Si akhirnya.

“Budak tolol,” omel si nona, “asalkan tidak kukatakan kepada Hujin bahwa kau yang memberitahukan padaku, kan beres? Bila kau tidak mau bicara, sebentar akan kutanya Siau Teh dan kelak kalau ditanya Hujin, tentu akan kubilang kaulah yang memberitahukan padaku.”

“Siocia, jangan bikin susah padaku,” seru Siau Si gugup.

“Habis bagaimana?” ujar si nona. “Siapa yang menjadi orang kepercayaanku, tentu akan kubela, dan siapa yang tidak menurut keinginanku apa salahnya kubikin susah dia?”

Siau Si berpikir sejenak, lalu berkata, “Baiklah, akan kuceritakan padamu, tapi jangan sekali-kali Siocia mengatakan aku yang membocorkan rahasia ini.”

“Sudahlah, Siau Si, jangan bertele-tele, lekas katakan, tanggung takkan terjadi apa-apa atas dirimu,” ujar si nona baju putih.

Siau Si menghela napas dulu, kemudian katanya, “Kabarnya Piausiauya pergi ke Siau-lim-si.”

“Siau-lim-si? Kenapa A Cu dan A Pik bilang dia pergi ke Lokyang tempat Kay-pang?” si nona menegas.

Diam-diam Toan Ki heran mengapa Buyung-kongcu disebut “Piausiauya” atau tuan muda misan. Pikirnya, “Jadi Buyung-kongcu itu Piauko (kakak misan) si nona. Dengan sendirinya mereka adalah kawan main sejak kecil, pantas maka … maka ….”

Dalam pada itu terdengar Siau Si sedang berkata pula, “Kepergian Hujin kali ini, di tengah perjalanan telah bertemu dengan Hong-siya dari Yan-cu-oh yang katanya sedang menuju ke Siau-lim-si untuk memberi bantuan kepada Piausiauya.”

“Untuk apa mereka pergi ke Siau-lim-si?” tanya si nona.

“Menurut Hong-siya, katanya Piausiauya telah mengirim berita padanya bahwa kali ini banyak orang Kangouw dan jago dari berbagai golongan sedang menghadiri apa yang disebut Enghiong-tay-hwe di Siau-lim-si untuk merundingkan cara bagaimana melawan Buyung-si dari Koh-soh. Karena buru-buru, Piausiauya lantas berangkat lebih dulu seorang diri. Kabarnya Yan-cu-oh sudah kirim orang memberi bantuan.”

“Jika Hujin sudah mendapat kabar itu, mengapa ia malah pulang dan tidak pergi membantu kesukaran Piausiauya?” tanya si nona.

“Tentang ini hamba … hamba tidak tahu,” sahut Siau Si. “Mungkin disebabkan Hujin tidak suka kepada Piausiauya.”

“Hm, suka atau tidak suka betapa pun adalah orang sendiri,” kata si nona dengan kurang senang. “Kalau Buyung-si dari Koh-soh terjungkal di luaran, apakah keluarga Ong kita tidak ikut malu?”

“Ya, Siocia,” sahut Siau Si.

“Ya apa?” bentak si gadis dengan gusar.

Siau Si kaget, sahutnya gelagapan, “Hamba … maksudkan kita tentu akan ikut merasa malu.”

Lalu gadis itu berjalan mondar-mandir di bawah pohon bambu itu seperti sedang memikirkan sesuatu akal. Tiba-tiba ia lihat pohon kamelia putih yang ditanam Toan Ki dan pot bunga yang baru saja dipecahkan itu. Ia bersuara heran, segera ia tanya kepada Siau Si, “Siapakah yang tanam Teh-hoa di sini?”

Tanpa ayal lagi Toan Ki menyelinap keluar dari tempat sembunyinya, ia memberi hormat dan berkata, “Cayhe diperintahkan oleh Hujin agar menanam Teh-hoa di sini, bila hal ini mengganggu Siocia, harap dimaafkan.”

Meski ia membungkuk memberi hormat, tapi matanya tetap menatap ke depan, sebab khawatir si nona akan berkata “tidak sudi bertemu dengan laki-laki asing”, lalu putar tubuh dan tinggal pergi hingga kesempatan untuk melihat muka si jelita tersia-sia lagi.

Tak terduga, begitu sinar matanya bertemu dengan sinar mata si nona, seketika telinganya serasa mendengung dan mata seakan-akan gelap, kakinya menjadi lemas pula dan tanpa merasa bertekuk lutut di hadapan si jelita, bahkan kalau ia tidak bertahan sekuatnya, hampir saja ia menyembah, namun begitu toh tercetus juga kata-kata dari mulutnya, “O, Enci Dewi, betapa … betapa aku merindukan dikau selama ini!”

Ternyata si nona baju putih yang berada di depan mata ini sungguh mirip benar dengan patung dewi yang telah dilihatnya dalam gua di daerah Tayli itu. Ong-hujin yang telah dilihatnya itu juga mirip patung cantik itu, cuma usianya yang berbeda. Tapi si jelita baju putih ini, selain dandanannya agak berbeda sedikit, namun baik raut muka, mata, hidung, bibir, telinga, kulit badan, perawakan, kaki dan tangan, semuanya mirip, semuanya persis hingga seperti patung dewi itu hidup kembali.

Sungguh Toan Ki merata dirinya seakan-akan dalam mimpi. Entah sudah beratus kali atau beribu kali ia merindukan patung dewi itu, kini dengan mata kepala sendiri yang dilihatnya bukan lagi patung melainkan duplikatnya dalam keadaan hidup, sungguh ia tidak tahu dirinya sebenarnya berada di mana, di alam baka atau di surga?

Ketika mendengar suara seruan Toan Ki tadi, ditambah lagi kelakuan aneh pemuda itu, si gadis berseru kaget juga dan mengira sedang berhadapan dengan seorang sinting, cepat ia melangkah mundur dan menegur, “Engkau … engkau ….”

Namun Toan Ki lantas menyela sambil berbangkit, “Tempo hari Toan Ki sudah diberi kesempatan menyembah di hadapan patung Enci Dewi, hal itu kuanggap sebagai suatu karunia yang mahabahagia, tak terduga hari ini dengan mata kepala sendiri dapat kulihat wajah asli Enci Dewi, nyata di dunia ini memang benar-benar terdapat bidadari dan bukan omong kosong belaka!”

“Apa … apa yang dia maksudkan, Siau Si? Sia … siapa dia?” tanya si jelita kepada Siau Si.

“Dia adalah si pelajar tolol yang dibawa kemari oleh A Cu dan A Pik itu,” sahut Siau Si. “Katanya ia pandai menanam berbagai macam Teh-hoa. Hujin menjadi percaya kepada obrolannya dan suruh dia tanam bunga di sini.”

“Hai, si tolol, jadi percakapan kami tadi telah kau dengar semua, ya?” tanya si gadis kepada Toan Ki.

“Cayhe bernama Toan Ki, orang berasal dari negeri Tayli dan bukan si tolol,” sahut Toan Ki dengan tertawa. “Percakapan Enci Dewi dan Enci Siau Si tadi memang telah kudengar dengan tidak sengaja. Tapi Enci Dewi jangan khawatir, Cayhe pasti takkan membocorkannya barang sepatah pun dan tanggung Enci Siau Si takkan didamprat oleh Hujin.”

Tiba-tiba si gadis menarik muka, ia menyemprot, “Siapa sudi mengaku Enci segala denganmu? Kau tidak mau disebut sebagai pelajar tolol, bilakah pernah kau lihat diriku?”

“Habis, kalau tidak kupanggil engkau Enci Dewi, lalu memanggil apa?” sahut Toan Ki.

“Aku she Ong, cukup kau sebut Ong-kohnio saja,” ujar si gadis.

“Ong-kohnio! Ah, tidak bisa!” kata Toan Ki sambil menggeleng kepala ketolol-tololan. “Nona she Ong di dunia ini entah betapa banyak jumlahnya, barangkali ada berjuta-juta, sedangkan Enci Dewi secantik bidadari, mana boleh hanya kupanggil sebagai Ong-kohnio saja? Akan tetapi panggilan apakah yang paling tepat? Wah, sukar juga! Umpama kupanggil engkau Ong-siancu (si dewi she Ong), rasanya terlalu umum dan kurang agung. Misalnya kusebut engkau Man-to-kongcu (putri bunga kamelia), rasanya juga kurang cocok, banyak terdapat putri raja di dunia ini, tapi siapakah yang dapat menandingi engkau?”

Melihat pemuda itu berkomat-kamit tak keruan bicaranya, semakin dipandang semakin ketolol-tololan, yang diucapkan itu melulu pujian-pujian atas kecantikannya, betapa pun si jelita menjadi geli-geli girang. Katanya kemudian dengan tersenyum, “Rupanya nasibmu masih baik juga, maka ibuku tidak potong kedua kakimu.”

“Wajah ibumu serupa cantiknya dengan Enci Dewi, hanya tabiatnya yang luar biasa aneh, sedikit-sedikit suka membunuh orang, rasanya menjadi kurang sesuai dengan bangunnya yang mirip dewi kahyangan ….”

Mendadak si gadis berkerut kening, katanya dengan kurang senang, “Lekas pergi menanam bunga saja dari jangan mengoceh tak keruan di sini, kami masih akan bicara urusan penting lagi.”

Nyata nadanya menganggap Toan Ki seperti tukang kebun benar-benar.

Namun Toan Ki tidak ambil pusing, yang dia harap hanya dapatlah bicara lebih lama sedikit dengan si jelita dan memandangnya sekejap lagi. Pikirnya, “Untuk bisa memancing dia bicara denganku secara suka rela terpaksa harus kuajak bicara padanya mengenai diri Buyung-kongcu, kecuali itu, segala apa tentu takkan menarik perhatiannya lagi.”

Maka segera Toan Ki berkata, “Para kesatria dari segala pelosok saat ini sedang berkumpul di Siau-lim-si untuk berunding cara bagaimana menghadapi Buyung-si dari Koh-soh, tokoh-tokoh dan jago-jago berbagai golongan dan aliran yang hadir di sana sungguh tidak sedikit jumlahnya, sebaliknya Buyung-kongcu hanya seorang diri, kalau secara gegabah ia menempuh bahaya ke sana, rasanya tidaklah menguntungkan dia.”

Benar juga badan si gadis tergetar karena ucapan Toan Ki itu. Tapi Toan Ki pura-pura tidak tahu dan tidak berani memandang wajah si gadis. Hanya dalam hati diam-diam ia mengomel, “Perhatiannya kepada bocah Buyung Hok itu benar-benar lain daripada yang lain. Kalau aku memandang wajahnya, mungkin aku sendiri akan menangis saking irinya.”

Ia lihat baju sutra si gadis yang panjang itu tiada hentinya bergemetar, suatu tanda betapa hebat guncangan perasaannya. Lalu terdengar suara si gadis yang merdu melebihi seruling itu lagi bertanya, “Tentang keadaan di Siau-lim-si itu apakah engkau tahu? Le … lekas katakan padaku.”

Mendengar permohonan si gadis yang lemah lembut itu, karena tidak tega hampir-hampir Toan Ki menceritakan apa yang diketahuinya. Tapi segera terpikir olehnya, “Ah, jangan kuceritakan sekarang. Kalau selesai kukatakan, sebentar aku tentu akan didesak pergi menanam bunga pula, dan untuk mengajaknya bicara lagi kelak pasti tidak mudah, maka sekarang aku harus putar lidah sebisanya, cerita pendek kubikin panjang, urusan kecil sengaja kubesarkan, setiap hari aku hanya bicara sedikit, sedapat mungkin akan kutarik sepanjang-panjangnya, agar setiap hari ia mesti mencari dan mengajak bicara padaku, kalau mencariku dan tidak bertemu, biar dia kelabakan serupa orang gatal tapi tak bisa menggaruk.”

Setelah ambil keputusan demikian, ia berdehem perlahan lalu berkata, “Sebenarnya aku sendiri tidak paham ilmu silat, sejurus pun tidak bisa, biarpun jurus-jurus sederhana seperti ‘Kim-khe-tok-lip’ (ayam emas berdiri dengan kaki tunggal) atau Hek-hou-thau-sim (harimau kumbang mencuri hati) segala, sama sekali aku tidak paham. Tapi di rumahku ada seorang sobat baikku bernama Cu Tan-sin berjuluk ‘Pit-hi-sing’ (si Sastrawan Ahli Tulis). Jangan kau kira dia cuma seorang pelajar yang ketolol-tololan dan lemah seperti aku, tapi ilmu silatnya, wah, lihai sekali! Satu kali aku pernah menyaksikan dia melipat kipasnya dan tepat menutuk sekali pada bahu seorang lawannya, kontan lawannya roboh meringkuk bagai cacing dan tidak berkutik pula.”

“O, itu adalah ilmu Tiam-hiat ‘Cing-liang-sian-hoat’ jurus ke-38 yang disebut ‘Tau-kut-sian’ (tutukan kipas penembus tulang), tangkai kipas dipegang terbalik dan menutuk dengan miring,” demikian kata si gadis. “Rupanya Cu-siansing itu adalah orang Kun-lun-pay, mungkin anak murid Sam-in-koan. Ilmu silat golongan ini mengutamakan memakai senjata pit (pensil) dan lebih lihai daripada memakai senjata kipas.”

Bila uraian si gadis ini didengar oleh Cu Tan-sin sendiri atau didengar oleh Po-ting-te atau Toan Cing-sun, tentu mereka akan terkejut mengapa gadis yang masih muda belia ini begini luas pengetahuannya akan berbagai ilmu silat cabang lain. Bahkan hanya mendengar cerita Toan Ki sekadarnya saja ia dapat mengatakan dengan tepat tentang asal usul aliran ilmu silat Cu Tan-sin. Bila Toan Ki paham ilmu silat dan menyiarkan kepandaian si gadis itu, maka pastilah orang Kangouw akan gempar oleh peristiwa luar biasa ini.

Namun kini cara uraian si nona jelita itu hanya sepintas lalu saja seakan-akan membicarakan sesuatu yang umum. Sebaliknya Toan Ki juga mendengarkan uraian si gadis dengan tawar saja.

“Kemudian bagaimana?” demikian tanya si gadis pula.

“Kemudian? Wah, ceritanya terlalu panjang, marilah silakan Siocia duduk di sana, nanti akan kuceritakan lebih jelas,” demikian Toan Ki sengaja mengulur waktu dan menunjuk satu bangku batu di bawah pohon bambu sana.

Namun gadis itu menjadi kurang senang, sahutnya, “Kenapa kau suka bertele-tele dan tidak ceritakan saja cepat-cepat? Aku tiada waktu untuk mendengarkan ocehanmu.”

“Jika hari ini Siocia tiada waktu, besok datang lagi juga boleh, dan kalau besok tiada tempo luang masih dapat mencari aku lagi, asal saja Hujin tidak memotong lidahku, tentu aku dapat bercerita, apa yang Siocia ingin dengar tentu akan kuceritakan sejelas-jelasnya.”

Si gadis mengentak kaki sekali dan tidak gubris lagi pada Toan Ki, ia terus berpaling dan tanya Siau Si, “Lalu Hujin berkata apa lagi?”

“Semula Hujin akan pergi mencari Kongya-hujin untuk diajak main catur,” tutur Siau Si. “Tapi demi mendengar Buyung-kongcu pergi ke Siau-lim-si, di tengah jalan beliau lantas suruh putar haluan kapal untuk pulang.”

“Sebab apa?” tanya si gadis, tapi sebelum Siau Si menjawab ia sudah bergumam sendiri, “Ya, tahulah aku, tentu ibu khawatir dimintai bantuan oleh Kongya-hujin, maka ia pikir lebih baik pura-pura tidak tahu saja.”

“Siocia,” kata Siau Si, “mungkin Hujin mencari aku, hamba ingin mohon diri saja.”

Si gadis mengangguk, dan sesudah Siau Si pergi, perlahan ia mendekati bangku batu yang ditunjuk Toan Ki tadi dan duduk, namun Toan Ki tak disuruhnya duduk, dengan sendirinya pemuda itu pun tak berani sembarangan duduk di samping si jelita.

Melihat si nona duduk menyanding bunga kamelia putih yang jaraknya tidak jauh, bunganya indah dan gadisnya cantik, sungguh perpaduan yang sangat serasi. Tanpa terasa Toan Ki berkata dengan gegetun, “Dahulu Li Tay-pek suku membandingkan kecantikan Nyo Kui-hui dengan bunga botan (peony), tapi bila dia beruntung dapat melihat Siocia sekarang, tentu dia akan tahu betapa indahnya bunga, namun benda mati mana dapat menandingi si cantik yang hidup.”

“Terus-menerus kau memuji kecantikanku, padahal aku sendiri tidak tahu apakah diriku betul-betul cantik atau tidak?” kata si nona.

Toan Ki menjadi heran, katanya, “Sungguh aneh, nona tidak tahu akan kecantikan sendiri? Apa barangkali engkau sudah terlalu banyak mendengar pujian serupa, maka sudah bosan rasanya?”

Si gadis menggeleng kepala perlahan, sinar matanya mengunjuk rasa penuh kekosongan hati, sahutnya, “Selama ini tiada seorang pun yang berkata padaku apakah aku ini cantik atau tidak. Di tengah Man-to-san-ceng sini, kecuali ibuku, selebihnya adalah pelayan dan kaum hamba lainnya. Mereka cuma tahu aku adalah Siocia, siapa peduli apakah aku cantik atau tidak?”

“Lalu bagaimana dengan pendapat orang luar?” tanya Toan Ki.

“Orang luar apa maksudmu?” si gadis menegas.

“Umpamanya engkau keluar dan orang lain tentu akan melihat kecantikanmu sebagai bidadari, masakah mereka pun tidak berkata apa-apa?”

“Selamanya aku tidak pernah keluar, untuk apa aku keluar? Bahkan ibu juga melarang aku ke Lang-goan-kok, bila menumpang kapal, daun jendela kapal pun ditutup rapat.”

“Lang-goan-kok? Jadi benar ada suatu tempat yang bernama demikian? Apa sangat banyak kitab yang tersimpan di sana?”

“Tidak terlalu banyak, cuma kira-kira tiga-empat kamar banyaknya.”

“Apakah dia juga … juga tidak pernah mengatakan kecantikanmu?” tanya Toan Ki tiba-tiba.

Mendengar Toan Ki menyinggung Buyung-kongcu, gadis itu menunduk dengan sedih, tiba-tiba dua titik air mata menggelinding jatuh dari kelopak mata si nona.

Toan Ki tercengang sejenak, ia tidak berani tanya lagi, tapi juga tidak tahu cara bagaimana harus menghiburnya.

Selang agak lama barulah si gadis buka suara perlahan, “Dia justru selalu … selalu sibuk, setiap hari, setiap tahun selalu sibuk saja tiada waktu senggang sejenak pun. Bila dia berada bersama denganku, kalau bukan bicara tentang ilmu silat tentu berunding urusan rumah tangga. Aku … aku justru benci pada ilmu silat.”

“Cocok!” seru Toan Ki mendadak. “Aku juga benci pada ilmu silat! Ayah dan pamanku selalu menyuruhku belajar silat, tetapi aku tidak mau aku lebih suka minggat dari rumah.”

“Tapi agar aku bisa sering berjumpa dengan dia, biarpun dalam hati tidak suka, aku tetap tekun mempelajarinya, bila di antaranya dia kurang paham aku pasti memberi petunjuk padanya. Dia suka pada cerita kuno tantang bunuh-membunuh di antara raja satu dan raja yang lain, terpaksa aku pun mesti membaca untuk menceritakan kembali padanya.”

“Aneh, mengapa engkau yang menceritakan padanya? Apa dia sendiri tidak dapat membaca?” tanya Toan Ki.

Gadis itu melototi Toan Ki sekejap, katanya, “Memangnya kau sangka dia buta huruf?”

“O, tidak, tidak!” sahut Toan Ki cepat. “Biarlah kukatakan saja dia orang paling baik di dunia ini, nah, puas?”

Si gadis tersenyum, katanya pula, “Ia adalah aku punya Piauko (kakak misan), di tempat kami ini, kecuali Kuku dan Kubo (paman dan bibi, saudara ibu) serta Piauko, selamanya tiada orang lain yang datang kemari. Tapi sejak ibuku berselisih paham dengan Kuku, ibu pun melarang Piauko datang ke sini. Maka aku pun tidak tahu apakah dia terhitung orang yang paling baik di dunia ini atau bukan. Maklum, orang jahat atau orang baik di dunia ini tiada seorang pun yang pernah kulihat.”

Berkata sampai di sini, si gadis menjadi sedih, dan mata merah basah.

“Ehm, jadi ibumu adalah adik Kukumu dan ia … ia adalah putra Kukumu,” demikian Toan Ki mengulangi.

“Huh, kau benar-tenar ketolol-tololan,” omel si nona dengan tertawa. “Memangnya Kuku adalah kakak ibuku dan dia putra Kuku, dengan sendirinya dia adalah Piaukoku.”

Toan Ki merasa senang melihat si gadis dapat dipancing tertawa, katanya, “Ah, tahulah aku sekarang. Tentu karena Piaukomu sangat sibuk, tiada waktu buat membaca, maka engkau yang mewakilinya membaca.”

“Boleh juga dikatakan begitu,” sahut si gadis dengan tertawa. “Tetapi masih ada satu sebab lain. Ingin katanya padamu, jago aliran manakah yang mengadakan Enghiong-tay-hwe apa segala di Siau-lim-si?”

Toan Ki tidak menjawab, sebab dia sedang kesengsem pada bulu mata si gadis yang panjang hitam dengan setitik air mata laksana embun di pagi hari itu.

Melihat pemuda itu tidak menyahut, si gadis menjawil perlahan punggung tangan Toan Ki dan menegur, “Hai, kenapa engkau?”

Tubuh Toan Ki seakan-akan terkena aliran listrik, ia melonjak kaget dan berseru, “Oo ….”

Karena tidak terduga-duga, si gadis ikut kaget juga oleh kelakuan Toan Ki yang lucu itu. “Ada apa?” tanyanya segera.

Dengan muka merah Toan Ki menjawab, “Jarimu menyentuh tanganku, Hiat-toku jadi seperti tertutuk olehmu.”

Mata si gadis terbelalak lebar, ia tidak tahu pemuda itu sedang bergurau, maka katanya dengan sungguh-sungguh, “Di punggung tangan tiada terdapat Hiat-to, yang ada cuma di telapak tangan, di sini ….”

Sambil berkata ia angkat tangan sendiri untuk memberi contoh.

Melihat jari-jemari tangan si gadis yang putih halus dan lentik itu, seketika Toan Ki terlongong-longong. Akhirnya dengan tergegap-gegap ia tanya, “No … nona, siapa … siapakah namamu?”

“Kelakuanmu benar-benar aneh,” omel si gadis dengan tersenyum. “Tapi baiklah, tiada alangannya kukatakan padamu.”

Lalu ia menggores-gores dengan jari di atas punggung tangan sendiri untuk menulis tiga huruf “Ong Giok-yan.”

Toan Ki rada tercengang oleh nama orang, pikirnya, “Gadis secantik ini mengapa pakai nama yang begini umum? Pantasnya ia pakai nama yang romantis dan puitis.”

Tapi sesudah dipikir pula. Toan Ki ketok-ketok jidat sendiri dan berseru, “Ya, bagus, bagus sekali namamu ini! Memangnya engkau mirip burung Yan (layang-layang) yang suci murni dan terbang bebas di angkasa!”

“Nama setiap orang memang suka cari yang enak didengar dan bermakna baik pula, banyak juga penjahat dan pengkhianat yang bernama bagus, sebaliknya perbuatannya tidak dapat dipuji. Engkau sendiri bernama Toan Ki, apa engkau punya Bengki (nama baik) benar baik? Haha, mungkin sedikit ….”

“Sedikit dogol bukan?” sambung Toan Ki. Maka tertawalah keduanya dengan terbahak-bahak.

Sebenarnya wajah Ong Giok-yan senantiasa kelihatan murung, tapi kini ia benar-benar merasa senang dengan muka berseri-seri.

Diam-diam Toan Ki gegetun, “Coba bila selama hidupku dapat membuatmu selalu tertawa, rasanya hidupku ini takkan sia-sia lagi.”

Tak terduga kegembiraan Ong Giok-yan itu hanya terjadi dalam waktu singkat saja, kembali sorot matanya tampak sayu menanggung sesuatu pikiran. Katanya dengan perlahan, “Dia … dia selalu bersikap sungguh-sungguh dan tidak pernah mengobrol iseng padaku. Ai, Yan-kok, selalu Yan-kok, apa benar begitu pentingnya bagimu?”

Sebagai seorang yang banyak membaca kitab-kitab kuno, demi mendengar kata-kata “Yan-kok” itu, seketika beberapa istilah yang didengarnya akhir-akhir ini sekaligus teringat kembali oleh Toan Ki dan dirangkainya menjadi satu Buyung-si Yan-cu-oh, Som-hap-ceng, Yan-kok ….

Tanpa terasa lantas tercetus kata-kata dari mulutnya, “He, jadi Buyung-kongcu ini keturunan Buyung-si dari suku Sianbi pada zaman Ngo-oh-loan-hoa ? Jadi dia orang asing dan bukan bangsa Tionghoa?”

“Ya, dia memang anak cucu keturunan Buyung-si dari Yan-kok (negeri Yan) pada zaman Ngo-oh. Tapi sudah beratus tahun lamanya, mengapa dia masih belum melupakan peristiwa leluhurnya? Dia tidak suka menjadi orang Tionghoa dan lebih suka menjadi orang Oh (asing), bahkan tulisan Tionghoa tak mau dipelajarinya dan kitab Tionghoa tak mau dibacanya. Pernah satu kali aku minta dia menulis bahasa Tionghoa dan dia lantas marah-marah.”

Berbicara tentang Buyung-kongcu, rupanya Ong Giok-yan menjadi begitu kesengsem, ia memandang jauh ke sana, lalu tuturnya pula dengan penuh pada rindu, “Ia lebih tua sepuluh tahun daripadaku, selamanya ia pandang aku sebagai adiknya yang masih kecil, ia sangka aku cuma tahu membaca dan belajar silat, hal-hal lain tidak paham. Padahal kalau bukan untuk dia, aku benar-benar tidak sudi belajar hal begituan, aku lebih suka piara ayam, tulis-menulis atau petik Khim.”

“Masakah ia sama … sama sekali tidak tahu engkau sangat baik padanya?” tanya Toan Ki dengan suara tak lampias.

“Sudah tentu ia tahu, makanya ia sangat baik padaku,” sahut Giok-yan. “Tapi kebaikannya padaku hanya … hanya kebaikan seperti saudara sekandung dan tidak lebih dari itu. Selamanya ia tidak pernah katakan padaku bagaimana perasaannya dan selamanya tidak pernah pula menanyakan bagaimana isi hatiku.”

Berkata sampai di sini, pipi si nona menjadi bersemu merah hingga makin menambah kecantikannya yang menggiurkan.

Sebenarnya Toan Ki ingin berkelakar dan tanya apa isi hati si gadis, tapi khawatir disemprot, maka urung, hanya katanya dengan tersenyum, “Engkau kan dapat menolak bicara tentang ilmu silat dan membaca baginya. Pula engkau kan dapat mengutarakan perasaanmu dengan berpantun dan bersyair?”

Ia maksudkan si gadis mestinya dapat memancing perasaan cinta Buyung-kongcu dengan pantun dan syair percintaan. Tapi setelah diucapkan, ia menjadi menyesal telah telanjur omong. Pikirnya, “Wah, kenapa aku begini goblok dan mengajar demikian padanya?”

Sebaliknya Giok-yan menjadi malu mendengar ajaran Toan Ki itu, cepat sahutnya, “Mana … mana boleh begitu? Aku adalah anak gadis yang pegang aturan, bagaimana bila aku dipandang hina oleh Piauko karena kelakuanku itu?”

“Ya, ya, benar! Aku yang salah omong!” seru Toan Ki. Diam-diam ia memaki diri sendiri mengapa mengajarkan seorang gadis suci murni untuk berbuat menyeleweng?

Selamanya Giok-yan tidak pernah mengutarakan isi hatinya kepada siapa pun. Tapi aneh, setelah bertemu dengan Toan Ki yang bersifat bebas lepas, entah mengapa ia menjadi menaruh kepercayaan penuh dan menceritakan segala isi hatinya yang penuh manisnya madu itu.

Bahwa diam-diam ia cinta dan merindukan sang Piauko, sudah tentu A Cu, A Pik, Siau Si, Siau Teh dan dayang-dayang lain sama tahu, cuma saja mereka tidak berani membicarakannya.

Setelah Giok-yan mengutarakan isi hatinya, rasa masygulnya menjadi agak hilang, katanya kemudian, “Sudah sekian banyak aku mengobrol padamu, tapi belum lagi kita bicara tentang persoalan pokok, katakanlah, jago dari mana saja yang berkumpul di Siau-lim-si dan mengapa mereka hendak melabrak Piauko?”

“Ketua Siau-lim-si bergelar Hian-cu Taysu, beliau mempunyai seorang Sute yang bergelar Hian-pi Taysu,” tutur Toan Ki. “Hian-pi Taysu itu mahir ilmu Kim-kong-cu (gada baja raksasa). Tapi entah mengapa Hian-pi Taysu itu telah dibunuh orang dan cara musuh membinasakannya itu justru menggunakan ilmu ‘Kim-kong-cu’ andalan Hian-pi Taysu itu. Menurut kesimpulan mereka, cara membunuh orang demikian itu adalah ciri perbuatan Buyung-si dari Koh-soh yang disebut ‘Ih-pi-ci-to, hoan-si-pi-sin’ (gunakan caranya untuk dipakai atas dirinya). Sebab itulah Siau-lim-pay bertekad hendak membalas dendam kepada Buyung-si. Cuma ilmu silat Buyung-si teramat lihai, mereka khawatir sukar melawannya, maka mengundang kawan-kawan lain untuk berunding cara bagaimana menghadapi musuh.”

“Masuk di akal juga ceritamu ini,” kata Giok-yan. “Lalu siaga lagi kecuali tokoh-tokoh Siau-lim-pay?”

“Masih ada seorang yang bernama Kwa Pek-hwe dari Ko-san-pay, katanya juga tewas di bawah ilmu ruyung andalannya sendiri yang disebut ‘Leng-coa-siam-keng’ (ular sakti melibat leher), maka Sute dan muridnya juga ingin menuntut balas pada Buyung-si. Kecuali itu, masih … masih banyak lagi yang aku tidak kenal.”

Sudah tentu ia tidak berani bilang bahwa Toan-si mereka dari Tayli juga ikut campur dalam urusan itu.

“Aku kenal tabiat Piauko, bila ia tahu ada orang begitu banyak akan memusuhinya, tanpa menunggu orang datang padanya, lebih dulu ia akan pergi ke sana,” tutur Giok-yan. “Cuma, belum tentu ia dapat memahami ilmu silat aliran sebanyak itu. Apalagi mereka berjumlah banyak, bila mengerubutnya serentak, tentu akan sukar dilawan.”

Bicara sampai di sini, tiba-tiba terdengar suara orang berlari datang, kiranya Siau Si dan Yu Chau. Dengan khawatir Yu Chau berseru, “Wah, celaka Siocia! Hujin telah memerintahkan agar A Cu dan A Pik ….”

Berkata sampai di sini mulut Yu Chau serasa tersumbat dan tidak sanggup meneruskan lagi.

Maka cepat Siau Si menyambung, “Mereka hendak dipotong kaki dan tangannya sebagai hukuman atas kesalahan mereka berani datang ke Man-to-san-ceng ini. Siocia, bag … bagaimana baiknya ini?”

“Wah, jika begitu, engkau harus lekas mencari akal untuk menolong mereka, nona Ong!” seru Toan Ki khawatir.

Giok-yan juga sangat khawatir, katanya, “A Cu dan A Pik adalah pelayan pribadi Piauko, kalau mereka dibikin cacat, bagaimana aku harus bicara dengan Piauko. Mereka berada di mana, Yu Chau?”

Mendengar Siocia mereka ada maksud menolong A Cu dan A Pik, segera Yu Chau menyahut, “Hujin memerintahkan menggusur mereka ke ‘Hoa-pui-pang’ (kamar rabuk bunga). Telah kumohon kepada nenek galak di sana agar menunda hukumannya setengah jam lagi, bila sekarang juga Siocia pergi minta ampun kepada Hujin mungkin masih keburu.”

Walaupun Giok-yan tidak yakin usahanya akan berhasil, tapi tiada jalan lain, terpaksa ia mengangguk, segera ia bertindak pergi bersama Yu Chau dan Siau Si. Tinggal Toan Ki yang berdiri kesima di tempatnya sambil memandangi bayangan si gadis yang menghilang di balik semak-semak bunga sana.

Ketika Giok-yan sampai di kamar sang ibu, ia lihat ibunya lagi duduk bersila, di depannya dupa mengepul di dalam Hiolo, terang ibunda bersemadi, betapa pun besarnya urusan juga tidak dapat mengganggunya. Maka cepat ia berdatang sembah, “Mak, ada sedikit urusan ingin kubicarakan.”

Perlahan Ong-hujin membuka mata, dengan wajah kereng ia tanya, “Urusan apa? Kalau ada sangkut pautnya dengan keluarga Buyung, aku tidak ingin mendengarkan.”

“Mak, A Cu dan A Pik tidak sengaja datang ke sini, maka sukalah engkau mengampuni mereka,” pinta si nona.

“Dari mana kau tahu mereka tidak sengaja?” tanya Ong-hujin. “Hm, tentu kau khawatir Piaukomu takkan gubris padamu lagi bila kupotong kaki-tangan mereka bukan?”

Dengan mengembeng air mata Giok-yan menjawab, “Piauko terhitung keponakanmu sendiri, mengapa ibu membencinya sedemikian rupa? Andaikan Kuku berbuat salah padamu, tidak perlu Piauko juga dibenci.”

Dengan berani Giok-yan mengucapkan kata-kata itu, segera ia berdebar-debar karena dirinya berani membantah sana ibu.

Sinar mata Ong-hujin menyorot sekilas muka putrinya itu, untuk sejenak ia tidak bicara dan mata lantas terpejam pula. Dengan menahan napas Giok-yan berdiri terpaku di situ, ia tidak tahu apa yang sedang dipikirkan ibundanya.

Selang agak lama barulah Ong-hujin membuka mata pula dan berkata, “Kau tahu Kuku berbuat salah padaku? Di mana letak kesalahannya? Coba katakan!”

Mendengar pertanyaan yang bernada tajam dan dingin itu, seketika Giok-yan menjadi bungkam dan takut.

“Cobalah katakan. Usiamu sekarang juga sudah dewasa, boleh tidak menurut kataku lagi,” demikian ucap Ong-hujin.

Tak tertahan lagi air mata Giok-yan berlinang-linang, sahutnya dengan penasaran dan takut pula, “Mak, engkau sedemikian benci kepada Kuku, dengan sendirinya lantaran Kuku berdosa padamu. Akan tetapi apa kesalahannya, selama ini ibu tidak pernah bicara padaku.”

“Pernah dengar dari orang lain tidak?” tanya Ong-hujin dengan suara bengis.

“Tidak,” sahut Giok-yan sambil menggeleng, “Selamanya ibu melarangku keluar Man-to-san-ceng ini, orang luar juga dilarang masuk kemari, dari siapa dapat kudengarnya?”

Ong-hujin menghela napas lega, nada suaranya sekarang juga lebih halus, katanya, “Semuanya itu adalah demi kebaikanmu. Orang jahat di dunia ini terlalu banyak, dibunuh juga tidak habis-habis. Usiamu masih muda, seorang gadis lebih baik jangan bertemu dengan orang jahat.”

Ia merandek sejenak, tiba-tiba teringat sesuatu olehnya, segera ia menyambung, “Seperti si tukang kebun she Toan itu, ia pandai omong dan pintar putar lidah, pasti bukan orang baik-baik. Maka kalau dia berani omong sepatah saja padamu, seketika kau bunuhnya, jangan membiarkan dia omong kedua kalinya.”

Giok-yan terdiam, ia pikir, “Jangankan cuma sepatah-dua kata, mungkin seratus patah dua ratus kata pun sudah lebih.”

Melihat putrinya diam saja, Ong-hujin menegur, “Kenapa? Apa kau tidak tega? Gadis berhati lemah seperti kau ini, selama hidup entah betapa banyak akan diperdayai orang.”

Lalu ia tepuk tangan dua kali dan Siau Si segera masuk, Ong-hujin berkata padanya, “Sampaikan perintahku bahwa siapa pun dilarang bicara dengan orang she Toan itu. Siapa yang melanggar keduanya akan dipotong.”

Siau Si mengiakan dengan wajah kaku tanpa perasaan seakan-akan apa yang dikatakan Ong-hujin adalah sesuatu hal yang sudah biasa serupa orang memotong babi atau menyembelih ayam saja, lalu mengundurkan diri.

“Nah, pergilah kau!” kata Ong-hujin kemudian sambil memberi tanda kepada Giok-yan.

Si gadis mengiakan, tapi sampai dia ambang pintu, ia berhenti dan menoleh, katanya, “Mak, engkau mengampuni A Cu dan A Pik saja dan peringatkan mereka agar lain kali jangan lagi datang kemari.”

“Apa yang sudah kukatakan kapan pernah ketarik kembali? Percumalah meski kau banyak bicara pula,” sahut Ong-hujin.

Tiba-tiba Giok-yan menggigit-gigit gigi dan berkata dengan perlahan, “Kutahu sebab ibu benci pada Kuku dan mengapa pula benci pada Piauko.”

Habis berkata, ia terus putar tubuh dan bertindak keluar.

“Kembali!” bentak Ong-hujin mendadak.

Giok-yan tidak berani membangkang, dengan kepala menunduk ia masuk kembali ke dalam kamar.

Sambil memandangi tubuh putrinya yang agak gemetar itu, Ong-hujin bertanya, “Apa yang kau ketahui, Yan-ji? Coba katakan saja terus terang, tidak perlu membohongi aku.”

“Kutahu … kutahu ibu menyesalkan Kuku tidak becus, dan gemas pada Piauko yang kurang berlatih silat sehingga tidak dapat mengembangkan keturunan Buyung yang tiada tandingannya di dunia ini,” demikian sahut Giok-yan sambil menggigit bibir.

Ong-hujin menjengek sekali, katanya, “Hm, anak kecil tahu apa? Ibumu sudah lama tidak she Buyung lagi, tahu? Peduli apa keluarga Buyung dapat menjagoi dunia atau tidak, aku tidak pusing lagi.”

“Kutahu ibu menyesal bukan lelaki sehingga tidak dapat membangun kembali keluarga Buyung, maka ibu menyalahkan Kuku dan Piauko tidak tekun belajar silat dan cuma bercita-cita membangun kembali kerajaan Yan.”

“Siapa yang berkata demikian padamu?” tanya Ong-hujin dengan kereng.

“Tanpa orang mengatakan juga anak dapat menerka,” sahut Giok-yan.

“Hm, tentu Piaukomu yang bilang begitu padamu, bukan?”

Giok-yan tidak dusta kepada sang ibu, tapi juga tidak mengaku. Ia hanya bungkam saja.

Maka Ong-hujin berkata pula, “Usia Piaukomu lebih tua 10 tahun daripadamu, tapi tidak belajar yang baik, setiap hari hanya gentayangan kian kemari entah apa yang dikerjakan hingga ilmu silatnya jauh di bawahmu. Sungguh bikin malu nama baik Buyung-si saja. Selama ratusan tahun ini betapa tenar nama kebesaran ‘Koh-soh Buyung-si’, akan tetapi bagaimana dengan ilmu silat Piaukomu itu? Apa dia sesuai menyebut dirinya keturunan Buyung-si?”

Dengan wajah sebentar merah sebentar pucat Giok-yan mendengarkan ucapan sang ibu yang ada benarnya juga itu. Seketika ia tidak dapat menjawab.

Lalu Ong-hujin meneruskan, “Sekarang katanya dia telah pergi ke Siau-lim-si, tentu budak-budak ceriwis itu buru-buru datang memberitahukan padamu. Hm, dia berani pergi ke Siau-lim-si, mustahil takkan dibuat buah tertawaan orang di sana? Bahkan aku akan berterima kasih, karena dengan begitu orang tentu tidak percaya seorang keroco begitu adalah anak cucu Buyung-si dari Koh-soh. Lebih baik lagi jika jiwanya melayang sekalian hingga asal-usulnya sukar diusut.”

“Mak,” kata Giok-yan tiba-tiba sambil melangkah maju, “harap engkau pergi menolongnya. Betapa pun Piauko adalah satu-satunya keturunan keluarga Buyung. Bila terjadi apa-apa atas dirinya maka musnahlah selanjutnya keturunan Buyung-si dari Koh-soh.”

“Hm, musnah? Mereka tidak pikirkan diriku, buat apa mesti kupikirkan mereka? Sudahlah, pergi sana, pergi!”

“Mak, Piauko kan ….”

Namun Ong-hujin lantas membentaknya dengan bengis, “Makin lama kau semakin berani, ya?”

Dengan cemas dan mengembeng air mata terpaksa Giok-yan bertindak keluar dengan kepala menunduk. Hatinya bingung dan tak berdaya. Sampai di serambi sana, tiba-tiba didengarnya teguran seorang dengan suara tertahan, “Bagaimana hasilnya, nona?”

Waktu Giok-yan mendongak, kiranya Toan Ki. Cepat ia menyahut, “Engkau jang … jangan bicara lagi denganku.”

Kiranya sesudah ditinggal pergi Giok-yan tadi, Toan Ki menjadi seperti kehilangan sesuatu. Dengan linglung kemudian ia mengikutinya dan menunggu dari jauh. Begitu melihat si gadis keluar dari kamar Ong-hujin segera ia memapaknya dan tanya.

Melihat wajah Giok-yan mengunjuk sedih dan putus asa, ia tahu permintaannya tentu ditolak Ong-hujin. Maka katanya segera, “Seumpama ibumu tidak mau mengabulkan permintaan nona, kita kan harus mencari akal lain.”

“Kalau ibu sudah menolak permohonanku, akal apa yang dapat kau gunakan?” sahut si nona. “Piauko lagi terancam bahaya, tapi dia … dia tega membiarkannya.”

Dan saking sedihnya, air mata hampir-hampir menetes.

“O, kiranya Buyung-kongcu sedang terancam bahaya ….” tiba-tiba Toan Ki teringat sesuatu, cepat ia menyambung pula, “He, ilmu silatmu kan lebih tinggi daripada Piaukomu, kenapa engkau sendiri tidak pergi menolongnya?”

Kedua mata si nona terbelalak lebar, heran seakan-akan tiada sesuatu ucapan lain di dunia ini yang lebih aneh daripada ucapan Toan Ki itu. Selang agak lama barulah ia berkata, “Cara bagaimana aku … aku bisa pergi? Tidak mungkin ibu mengizinkan.”

“Sudah tentu ibumu takkan mengizinkan, namun engkau sendiri dapat pergi secara diam-diam?” ujar Toan Ki dengan tersenyum. “Aku sendiri sudah pernah minggat dari rumah, kemudian waktu kupulang, ayah dan ibu juga cuma mengomel saja padaku.”

Mendengar uraian itu, seketika Giok-yan seakan-akan orang bodoh yang mendadak menjadi pintar. Katanya dalam hati, “Benar, mengapa aku tidak pergi secara diam-diam untuk menolong Piauko, andaikan nanti ibu mendampratku kan nasi sudah menjadi bubur, Piauko sudah dapat kuselamatkan. Orang ini bilang pernah minggat dari rumahnya, mengapa aku sendiri tidak pernah berpikir hal ini?”

Melihat si gadis ragu-ragu, segera Toan Ki menghasut lebih lanjut, “Orang hidup seperti engkau sebenarnya harus merasa bosan. Apakah engkau akan tinggal di Man-to-san-ceng ini sampai hari tua dan tidak ingin pergi melihat dunia luar yang indah permai itu?”

“Apanya yang indah?” sahut Giok-yan sambil menggeleng. “Yang kupikir hanya untuk membantu Piauko saja karena dia sedang menghadapi bahaya. Namun aku sendiri belum pernah melangkah keluar rumah, di mana letak Siau-lim-si juga aku tidak tahu.”

Tanpa diminta lagi segera Toan Ki mencalonkan diri sebagai “sukarelawan”, katanya cepat, “Akan kubawa engkau ke sana, segala apa dalam perjalanan biarlah aku yang mengurus bagimu.”

Namun Giok-yan masih ragu-ragu. Maka Toan Ki bertanya pula, “Dan bagaimana dengan A Cu dan A Pik?”

“Ibu juga tidak mau mengampuni mereka,” sahut si nona.

“Sekali berbuat, jangan tanggung-tanggung lagi. Bila A Cu dan A Pik dikutungi kaki tangannya tentu Piaukomu akan menyalahkan dirimu. Marilah kita pergi menolong mereka sekalian dan kita berempat lantas minggat bersama!”

Giok-yan melelet lidah, katanya khawatir, “Perbuatan durhaka seperti ini tentu takkan diampuni ibuku. Nyalimu ini benar-benar setinggi langit.”

Toan Ki tahu si gadis susah dibujuk kecuali memperalat Piauko yang dicintainya itu. Maka ia sengaja berkata, “Jika demikian, marilah kita berdua saja segera berangkat, biarlah A Cu dan A Pik dibikin cacat oleh ibumu. Kelak bila engkau ditanya Piaukomu, jawablah engkau tidak tahu dan aku pun tidak akan membocorkan rahasia ini.”

“Mana boleh jadi,” sahut Giok-yan. “Dengan demikian, berarti aku mendustai Piauko, bukan?”

Tapi sesudah berpikir sejenak, akhirnya ia mengambil keputusan, katanya tiba-tiba, “Marilah ikut padaku!”

Melihat si nona berjalan ke arah barat secepat terbang, buru-buru Toan Ki ikut berlari menyusulnya.

Tidak lama Giok-yan sampai di depan sebuah rumah batu. Dari luar gadis itu berseru, “Peng-mama (ibu Peng), marilah keluar, ingin kubicara padamu.”

Mata terdengarlah suara orang tertawa terkekeh, lalu suara seorang berkata dengan serak, “Nona baik, apakah engkau sengaja datang kemari untuk melihat Peng-mama membuat rabuk bunga?”

Tadi waktu Toan Ki mendengar laporan Siau Si dan Yu Chau bahwa A Cu dan A Pik telah digusur ke Hoa-pui-pang atau kamar rabuk bunga, tatkala itu ia tidak perhatikan tentang istilah itu. Tapi kini demi mendengar kata-kata “rabuk bunga” dan diucapkan orang dengan suara seram itu, mendadak ia terperanjat dan berpikir, “Hoa-pui-pang apa maksudnya? Apakah rabuk tanaman bunga? Haya, memang benarlah begitu! Ong-hujin sangat kejam, suka membunuh orang untuk dijadikan rabuk bunga kamelia. Wah, untung kedatangan kami tepat waktunya, kalau tidak, tentu kaki dan tangan kedua dayang itu sudah dipotong untuk dijadikan rabuk.”

Dalam pada itu Giok-yan sedang berkata lagi, “Peng-mama, engkau dipanggil ibu, hendaklah lekas ke sana.”

“Peng-mama sedang repot,” sahut suara tadi dari dalam rumah. “Ada urusan penting apakah hingga Hujin menyuruh Siocia memanggilku ke sini?”

“Kata ibu ….” Giok-yan tidak meneruskan, tapi lantas melangkah masuk ke dalam rumah batu itu. Segera terlihat olehnya A Cu dan A Pik terikat kencang pada dua pilar besi, mulut mereka tersumbat, hanya air mata saja berlinang-linang, tapi tak dapat bersuara.

Lega hati Toan Ki sesudah melongok ke dalam rumah dan melihat keadaan A Cu dan A Pik masih baik-baik tanpa kurang sesuatu apa. Tapi jantungnya kembali berdebar-debar pula ketika dilihatnya di dalam rumah situ terdapat seorang nenek bungkuk, rambut putih bagaikan perak, tangan menghunus sebilah pisau jagal, di sampingnya terdapat baskom air mendidih.

“Peng-mama,” demikian Giok-yan berkata pula, “ibu ingin tanya mereka tentang suatu hal penting, maka engkau disuruh melepaskan mereka.”

Ketika nenek itu menoleh, sekilas Toan Ki dapat melihat kedua siungnya yang kuning dan lancip hingga mirip hantu yang menakutkan, tanpa merasa ia bergidik.

Ia dengar nenek itu berkata, “Baiklah, sesudah ditanya, kirim kembali lagi ke sini untuk dipotong kaki dan tangan mereka.”

Lalu nenek itu pun bergumam pula, “Peng-mama selamanya tidak suka melihat anak dara cantik, maka kedua budak ini harus ditebas tangan-kakinya, supaya lebih menarik kalau dipandang.”

Toan Ki menjadi gusar, ia pikir nenek ini tentu sangat jahat, entah sudah betapa banyak orang yang dibunuh olehnya. Sayang dirinya tidak bertenaga, kalau tidak, ingin sekali ia memberi persen beberapa kali tamparan pada nenek jahat itu.

“Siapa itu yang berada di luar?” tanya Peng-mama mendadak. Nyata biarpun usianya sudah lanjut, namun pendengarannya masih sangat tajam. Suara napas Toan Ki yang memburu karena menahan rasa gusar itu segera dapat didengarnya. Ketika ia melongok keluar dan melihat pemuda itu seketika timbul rasa curiganya, tanyanya, “Siapa kau?”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: