Pendekar Kerajaan Tayli ~ Jilid 21

“Bunuhlah murid durhaka ini untuk membalaskan sakit hati ayah!” teriak Suma Lim mendadak sambil menerjang ke depan, palunya lantas mengetuk kepala Cu Po-kun.

Tapi sekali mengegos dapatlah Po-kun menghindar, menyusul ia pun balas menghantam dengan gurdinya.

“Murid murtad, kau masih punya muka untuk menggunakan ilmu silat Jing-sia-pay?” bentak si kakek she Kiang. Berbareng gurdinya menikam leher Po-kun, sedang palu yang kecil itu beruntun mengetuk tiga kali.

Karena dikeroyok tiga, Cu Po-kun menjadi kerepotan, dalam sekejap saja ia sudah menghadapi ancaman-ancaman maut. Suma Lim terlalu bernafsu hendak membalas sakit hati ayahnya, maka tipu serangannya agak kasar, untuk mana Cu Po-kun masih dapat melawannya. Tapi kedua kakek she Kiang dan Beng itu adalah tokoh tertua Jing-sia-pay, serangan mereka penuh dengan tipu keji andalan Jing-sia-pay, setiap serangan mereka selalu mengincar tempat berbahaya di badan Cu Po-kun.

Untungnya setiap serangan ketiga orang itu sudah hafal bagi Cu Po-kun, ia dapat menduga bagaimana serangan-serangan berikutnya, dengan demikian barulah ia sanggup satu lawan tiga untuk sementara.

Setelah belasan jurus pula, tiba-tiba hatinya merasa pedih, pikirnya, “Sesungguhnya Suma-suhu sangat baik padaku, buktinya tiada suatu pun jurus serangan Suma-suheng dan kedua Susiok itu yang tak diketahui olehku, jadi apa yang diajarkan padaku sudah meliputi semua ilmu silat Jing-sia-pay yang ada, hal ini nyata tertampak dari jurus serangan Suma-suheng bertiga sekarang, dalam keadaan demikian pasti mereka mengerahkan segenap kepandaian untuk menyerang aku, tapi setiap tipu sekarang mereka jelas sudah kukenal. Hal ini pun menandakan ilmu silat Jing-sia-pay juga memang cuma sekian saja.”

Dan oleh karena rasa terima kasihnya kepada budi sang guru, segera ia berteriak-teriak lagi, “Suma-suhu sama sekali bukan aku yang mencelakainya ….”

Sedikit lengah itulah telah memberi kesempatan kepada Suma Lim untuk menubruk maju. Senjata andalan Jing-sia-pay sangat kecil dan pendek, dan di sinilah letak kelihaiannya dalam pertarungan jarak dekat.

Sekali Suma Lim telah mendesak maju, bila lawannya adalah dari golongan lain, itu berarti ia sudah menang angin lebih dulu. Tapi kini lawannya adalah Cu Po-kun yang ilmu silatnya serupa dengan dirinya, maka keuntungan bertarung dari jarak dekat ini berarti sama diperoleh kedua pihak.

Di bawah cahaya lilin, sesaat itu pandangan semua orang menjadi silau. Tertampak Suma Lim dan Cu Po-kun berdua sama cepatnya, tangan mereka sama bergerak cepat, hanya dalam sekejap saja mereka sudah saling gebrak 7-8 jurus. Tapi karena kedua orang sama paham serangan masing-masing, maka setiap serangan lawan selalu dapat ditangkis atau dihindar dengan tepat.

Dengan pertarungan Suma Lim dan Cu Po-kun dari jarak dekat ini, seketika kelihatanlah di mana letak kebagusan ilmu silat Jing-sia-pay. Keduanya didikan dari satu guru yang sama, maka kepandaian masing-masing adalah serupa. Suma Lim menang muda dan tenaga kuat, sebaliknya Cu Po-kun lebih berpengalaman dan lebih ulet. Maka dalam pertarungan sengit ini semua orang cuma mendengar suara gemerantang dan gemerencing yang ramai, tapi cara bagaimana mereka saling serang tidak terlihat jelas lagi.

Melihat Suma Lim belum dapat menundukkan lawannya, kedua kakek she Kiang dan Beng itu mendadak bersuit berbareng, keduanya terus jatuhkan diri ke lantai dan mendadak menggelinding ke depan untuk menyerang bagian bawah Cu Po-kun.

Pada umumnya orang yang biasa menggunakan senjata pendek, kecuali kaum wanita, tentu mahir pula kepandaian “Kun-te-tong” atau main bergelinding di tanah, dengan cara demikian, terkadang musuh akan menjadi kelabakan.

Sebenarnya Po-kun juga paham ilmu “Lui-kong-tio-ke-bong” atau beledek menyambar dari bawah tanah itu. Tapi celakanya kedua tangannya harus dipakai melayani Suma Lim, dengan sendirinya ia tidak sanggup menghadapi serangan kedua kakek, terpaksa ia hanya bisa menghindar sambil berloncatan kian kemari.

Mendadak si kakek Kiang mengetuk dengan palunya dari kiri ke kanan, sebaliknya gurdi si kakek Beng menikam dari kiri. Terpaksa Po-kun hanya dapat menyerang salah seorang, ia ayun sebelah kakinya untuk menendang iga kakek Beng.

Kesempatan itu disia-siakan si kakek Kiang, ia menubruk lebih dekat, palu terus mengetuk. Pada saat yang sama itulah palu Suma Lim juga menghantam jidat Cu Po-kun.

Dalam keadaan berbahaya itu, Po-kun terpaksa menangkis serangan yang paling berbahaya, ia angkat palu sendiri untuk menangkis serangan Suma Lim, “trang”, kedua palu saling bentur hingga lelatu api meletik. Sebaliknya paha kiri Po-kun kena diketuk mentah-mentah oleh si kakek Kiang.

Jangan kira palu sekecil itu tiada berarti, tenaga hantamannya ternyata sangat lihai, saking sakitnya sampai Cu Po-kun meringis, seketika ia tidak tahu apakah tulang kaki patah atau tidak, tapi seluruh tenaganya ia pusatkan pada kaki lain yang masih kuat.

Sekali berhasil serangannya, si kakek Kiang mendapat hati, kembali palunya menghantam untuk kedua kalinya. Terpaksa Po-kun menangkis dengan palunya, “trang”, kedua palu saling beradu lagi. Mendadak terdengar Po-kun menjerit kesakitan, kiranya kaki kiri itu sekarang kena ditikam oleh gurdi si kakek Beng.

Dalam keadaan repot itu sebenarnya Po-kun masih dapat menghindarkan tikaman gurdi si kakek Beng, tapi ia pikir kalau serangan itu dielakkan, tentu akan memberi kesempatan kepada kedua kakek Beng dan Kiang untuk membentuk jaring serangan Lui-kong-hong yang lebih hebat dan tentu dirinya bisa celaka. Toh kaki kiri sudah kena ketuk dan tidak diketahui patah atau tidak, maka biarlah tertikam lagi juga tidak menjadi soal.

Dan karena tikaman yang cukup dalam itu, seketika darah muncrat ketika ia loncat untuk menempur ketiga lawannya itu, darah ikut berciprat ke mana-mana hingga dinding di sekitarnya yang putih bersih itu penuh noda darah.

Melihat A Cu bersungut, Giok-yan tahu kawannya itu kurang senang terhadap pertarungan orang-orang itu hingga rumahnya yang indah bersih itu ikut menjadi kotor. Maka berkatalah Giok-yan dengan tersenyum, “Hai, jangan kalian berkelahi lagi, ada urusan apa boleh bicara secara baik-baik, mengapa mesti main hantam cara begini?”

Cu Po-kun ada maksud menuruti keinginan Giok-yan itu, tapi di bawah keroyokan tiga orang, mana dia dapat berhenti begitu saja?

Sebaliknya Suma Lim bertiga sudah bertekad akan mematikan Cu Po-kun untuk membalas sakit hati ayahnya, tentu saja mereka tidak mau gubris seruan si nona.

Melihat anjurannya tidak dipedulikan orang, terutama pihak Suma Lim bertiga, maka Giok-yan berkata pula, “Semuanya gara-gara ucapanku tentang ‘Thian-ong-po-sim-ciam’ hingga rahasia Cu-siangkong terbongkar. Tapi itu adalah salahku, maka kalian, hai, Suma-siangkong, lekas kalian berhenti!”

“Sakit hati ayah masa tidak boleh kubalas? Kenapa engkau ikut cerewet!” bentak Suma Lim gusar.

“Kalian mau berhenti atau tidak? Jika tidak, awas, akan kubantu dia, lho!” kata Giok-yan.

Terkesiap juga Suma Lim oleh ancaman gadis itu. Pikirnya, “Pandangan nona cantik sangat tajam dan jitu, bila ilmu silatnya juga sama lihainya, sekali dia membantu lawan, tentu susah untuk menuntut balas.”

Tapi segera terpikir pula olehnya, “Jago-jago pilihan Jing-sia-pay kami sudah dikerahkan ke sini, paling-paling kami mengerubut maju sekaligus, masakah terhadap seorang nona lemah-lembut seperti ini juga mesti takut?”

Karena itu, ia tidak gubris lagi kepada Giok-yan, sebaliknya serangannya semakin gencar.

“Cu-siangkong,” kata Giok-yan tiba-tiba kepada Po-kun, “gunakan jurus ‘Li Cun-hau-pak-hou-se’ (gaya Li Cun-hau menghajar harimau), kemudian pakai jurus ‘Thio Ko-lau-to-ki-lo’ (Thio Ko-lau menunggang keledai dengan mungkur)!”

Cu Po-kun tercengang oleh petunjuk si gadis. Ia tahu jurus pertama yang dikatakan itu adalah ilmu silat Jing-sia-pay, sebaliknya jurus kedua adalah Kungfu golongan Hong-lay-pay, kedua jurus dari aliran yang tidak sama itu mana dapat dicampurbaurkan?

Namun demikian, dalam keadaan kepepet, tiada waktu baginya untuk berpikir lebih jauh, segera ia mainkan jurus ‘Li Cun-hau-pak-hou-se’. Maka terdengarlah suara gemerantang dua kali, tepat sekali berturut palunya dapat membentur palu Suma Lim dan si kakek Kiang yang lagi dihantamkan ke arahnya. Menyusul tubuhnya berputar dan menyurut mundur tiga tindak dengan terincang-incut dan tepat dapat menghindarkan serangan si kakek Beng.

Padahal serangan berantai si kakek Beng memakai palu dan gurdi sekaligus, sebenarnya sangat ganas dan sukar dihindarkan lawan. Bahkan Yau Pek-tong dan jago-jago Cin-keh-ce yang menonton di samping pun kebat-kebit berkhawatir bagi Cu Po-kun.

Siapa duga setelah Po-kun membentur pergi palu-palunya Suma Lim dan si kakek Kiang, lalu sekali berputar dengan gaya “Thio Ko-lau menunggang keledai terbalik”, beruntun-runtun ia sudah lolos dari ancaman si kakek Beng yang lihai itu. Saking terpesona dan kagumnya sampai jago-jago Cin-keh-ce ikut bersorak-sorai oleh ketangkasan Cu Po-kun itu.

Memangnya wajah orang-orang Jing-sia-pay selalu kaku membesi, kini mereka tambah merengut lagi.

Sebaliknya Toan Ki lantas ikut bersorak-sorak juga, “Bagus, bagus! Apa yang dikatakan Ong-siocia lakukanlah menurut perintahnya, tanggung takkan merugikan engkau.”

Waktu Cu Po-kun menghindari serangan berantai lawan dengan gaya “Thio Ko-lau menunggang keledai terbalik” tadi, sebenarnya saat itu ia sendiri merasa bingung, yang terpikir olehnya cuma pasrah nasib belaka, baik mati maupun hidup masa bodoh.

Sungguh tak tersangka olehnya bahwa ilmu silat dari Jing-sia-pay dan Hong-lay-pay yang berlawanan itu satu-sama lain dapat digunakan bersama. Keruan yang paling terperanjat adalah dia sendiri daripada orang-orang Cin-keh-ce dan Jing-sia-pay.

Dalam pada itu terdengar Giok-yan telah berkata pula, “Sekarang gunakanlah jurus ‘Han Siang-cu-swat-yong-lam-koan’ (Han Siang-cu memeluk Lam Koan di bawah salju), lalu mainkan jurus ‘Kok-keng-thong-yu-se’ (sikut ditekuk menjulur perlahan).”

Cu Po-kun tahu jurus-jurus itu kebalikan daripada jurus duluan tadi, sekarang jurus ilmu silat Hong-lay-pay dimainkan lebih dulu, menyusul barulah Kungfu Jing-sia-pay. Tanpa pikir segera ia menurut, ia siapkan palu dan gurdinya di depan dada. Dan pada saat itulah gurdi si kakek Beng dan Suma Lim telah menikam berbareng ke arahnya.

Gerakan ketiga orang sebenarnya dilakukan pada saat yang sama, tapi bagi penonton menjadi seperti Cu Po-kun berjaga rapat pada saat sebelumnya, sebaliknya Suma Lim dan si kakek Beng kelihatan menjadi bodoh benar, sudah tahu lawan telah menjaga diri dengan rapat toh mereka masih tetap menyerang. Maka terdengarlah suara gemerencing yang nyaring, kedua gurdi mereka membentur palu Cu Po-kun hingga terpental ke samping.

Tanpa pikir Po-kun terus mendak tubuh, gurdinya ikut menikam miring dari samping. Saat itu si kakek Kiang kebetulan sedang hendak menyerang bagian belakang Cu Po-kun, sama sekali tak terpikir olehnya bahwa gurdi lawan bisa muncul dari arah yang tak terduga itu.

Karena itulah si kakek Kiang menjadi seperti orang hendak membunuh diri saja, dengan cepat tubuhnya disodorkan ke ujung gurdi lawan, tahu juga dia keadaan yang runyam tapi untuk menghindar sudah telat.

“Cret”, tanpa ampun lagi pinggangnya tertusuk gurdi hingga darah bercucuran bagai mata air.

Kakek Kiang terhuyung hingga akhirnya roboh terkulai. Cepat dua orang Jing-sia-pay memburu maju untuk memayangnya ke pinggir.

“Keparat Cu Po-kun, dengan tanganmu sendiri kau lukai Kiang-susiok, apa sekarang kau masih berani menyangkal?” bentak Suma Lim dengan gusar.

“Bukan salahnya, akulah yang suruh dia melukai Kiang-siansing itu,” sela Giok-yan tiba-tiba. “Sudahlah, lekas kalian berhenti saja!

“Jika kau mampu, suruhlah dia membunuh diriku!” teriak Suma Lim murka.

“Apa susahnya untuk itu?” ujar Giok-yan dengan tersenyum. “Cu-siangkong, boleh gunakan jurus ‘Tiat-koay-li-gwat-he-ke-tong-ting’ (Tiat-koay-li menyeberang danau Tong-ting di bawah sinar bulan purnama), kemudian gunakan jurus ‘Tiat-koay-li-giok-tong-lun-to’ (Tiat-koay-li berkhotbah di gua Giok)!”

Cu Po-kun mengiakan saja petunjuk Giok-yan itu, tapi diam-diam ia berpikir, “Di dalam ilmu silat Hong-lay-pay kami yang ada cuma ‘Lu Sun-yang-gwat-he-ko-tong-ting’ dan ‘Han-ciong-li-giok-tong-lun-to’, mengapa Lu Sun-yang dan Han-ciong-li disebut sebagai Tiat-koay-li oleh si nona ini? Ah, tentu karena pengetahuannya akan ilmu silat Hong-lay-pay kami terbatas, maka salah ucap!”

Akan tetapi Suma Lim dan si kakek Beng tidak memberi kesempatan padanya bertanya atau minta penjelasan pada si gadis, terpaksa Po-kun mainkan menurut gaya yang dipahaminya, segera ia mainkan jurus “Lu Sun-yang menyeberang danau Tong-ting di bawah sinar bulan purnama”, jadi bukan lagi Tiat-koay-li seperti yang dikatakan Giok-yan itu.

Lu Sun-yang atau Lu Tong-ping, Han Ciong-li dan serta Han Siang-cu seperti apa yang disebut Giok-yan itu adalah nama dewa di antara Pat-sian atau Delapan Dewa.

Tiat-koay-li adalah dewa pincang yang bertongkat, sebaliknya Lu Sun-yang itu gagah bergas. Maka jurus menyeberang danau itu seharusnya dilakukan Lu Sun-yang dengan langkah lebar, gayanya indah dan cepat bagai terbang.

Tapi karena kaki kiri Cu Po-kun terluka dua kali, ketika hendak melangkah lebar, tanpa terasa menjadi berincang-incut, dengan sendirinya bukan lagi gaya Lu Sun-yang yang gagah, tapi mirip benar dengan gaya jalan Tiat-koay-li yang pincang itu.

Dan dengan berjalan pincang itu ada manfaatnya juga bagi si pincang, sebab serangan Suma Lim dan si kakek Beng buktinya meleset semua.

Menyusul Po-kun mainkan jurus “Han Ciong-li-giok-tong-lun-to”. Han Ciong-li adalah dewa yang selalu membawa kipas dan berbadan kekar kuat. Tapi karena kakinya pincang kembali Po-kun berincang-incut miring ke kiri, sedangkan palu di tangan kanan mengebas dengan gaya seperti sedang mengipas.

Kebetulan sekali saat itu kepala si kakek Beng sedang menyelonong ke arahnya, keruan kepala kakak itu menjadi seperti sengaja disodorkan. Tanpa ampun lagi “prak”, mulutnya tepat kena terketok oleh palu, kontan saja belasan giginya rontok, saking kesakitan sampai si kakek Beng berteriak-teriak dan melonjak-lonjak, ia buang senjatanya dan duduk di lantai sambil memegangi mulutnya yang kini menjadi ompong itu.

Keruan Suma Lim ketakutan, seketika ia menjadi bingung apa mesti bertempur terus atau berhenti saja untuk mencari jalan lain menuntut balas di kemudian hari.

Hendaklah diketahui bahwa kedua jurus yang diajarkan Giok-yan kepada Cu Po-kun tadi sungguh teramat bagus dan tepat. Sebelumnya si gadis sudah menaksir, setelah si kakek Beng menyerang tiga kali tidak kena tentu akan menubruk ke samping Cu Po-kun, sebaliknya pada saat itu palu Po-kun harus mengebas keluar hingga tepat akan mengetuk mulut kakek itu. Sungguh cara menaksir Giok-yan itu boleh dikatakan dapat mengetahui apa yang bakal terjadi, seakan-akan cara bagaimana ketiga orang itu akan saling serang sudah dapat diketahui olehnya, betapa tepat dan jitu cara menaksirnya itu sungguh sukar dibayangkan orang lain.

Biarpun Suma Lim sangat bernafsu ingin menuntut balas sakit hati sang ayah, tapi ia bukan orang bodoh, pikirnya, “Untuk bisa membunuh jahanam Cu Po-kun ini, si nona harus dicegah agar jangan memberi petunjuk padanya.”

Dan sedang Suma Lim hendak mencari akal untuk menghadapi Giok-yan, tiba-tiba terdengar si gadis berkata pula, “Cu-siangkong, engkau adalah orang Hong-lay-pay yang menyelundup ke dalam Jing-sia-pay dengan maksud tujuan jahat, inilah kesalahanmu yang tidak pantas. Tapi gurumu Suma Wi besar kemungkinan bukan dibunuh olehnya, namun engkau telah mencolong ilmu lain, betapa pun kau tetap berdosa, maka lekas kau minta ampun kepada Ciangbun-suhengmu!”

Po-kun pikir apa yang dikatakan si nona memang benar juga, apalagi dirinya telah menerima budi pertolongannya jiwa diselamatkan dari beberapa jurus serangan yang mematikan tadi, apa yang dianjurkan gadis itu tidaklah enak untuk dibantah. Maka dengus sungguh-sungguh ia pun memberi hormat kepada Suma Lim sambil berkata, “Ciangbun-suheng, harap maafkan ….”

“Kau masih ada muka untuk memanggil Ciangbun-suheng padaku?” bentak Suma Lim gusar sambil mengelak ke samping.

Sekonyong-konyong Giok-yan berseru kepada Po-kun, “Lekas! ‘Go-yu-tang-hay’!”

Cu Po-kun terkesiap, tapi seketika ia pun menurut, cepat ia mengapungkan diri ke atas setinggi dua meter lebih, maka terdengarlah suara mendesis riuh, belasan batang jarum Jing-hong-ciam menyambar lewat di bawah tapak kakinya. Selisih waktunya cuma sekejap saja, sedetik Po-kun terlambat, pasti badannya sudah menjadi sarang jarum musuh.

Untung pada saat yang tepat Giok-yan berseru padanya agar menggunakan gerakan “Go-yu-tang-hay” atau Berpiknik ke Lautan Timur. Coba bila gadis itu cuma memperingatkan, awas Am-gi, mungkin Po-kun akan celingukan mengawasi gerak-gerik musuh, tak tersangka kalau Jing-hong-ciam itu justru dihamburkan oleh Suma Lim dari dalam lengan baju yang tidak tertampak dari luar, maka pasti akan celakalah Cu Po-kun.

Kiranya ilmu Am-gi atau senjata gelap Suma Lim yang disebut “Siau-lay-kian-gun” atau Dunia Tergenggam di Dalam Lengan Baju, kepandaian ini benar-benar semacam Kungfu khas Jing-sia-pay yang cuma diturunkan kepada putra sendiri dan tidak kepada murid. Hal ini memang sudah menjadi peraturan turun-temurun keluarga Suma, jangankan Cu Po-kun tidak memperoleh pelajaran ilmu Am-gi itu, sekalipun si kakek Kiang dan Beng pun tidak.

Cara menghamburkan Jing-hong-ciam itu juga sangat luar biasa, yaitu dengan diam-diam menarik jepretan dalam lengan baju. Sungguh di luar dugaan Suma Lim bahwa pada saat terakhir itu Giok-yan sempat berseru kepada Cu Po-kun untuk menghindarkan pembokongan itu dengan gerakan yang dapat menyelamatkan diri, yaitu dengan gerakan tipu “Go-yu-tang-hay” dari Hong-lay-pay.

Serangan yang sudah dipastikan akan mengenai sasarannya ternyata gagal pula, keruan Suma Lim semakin ketakutan dan seperti ketemu hantu, ia berteriak-teriak, “Kau … kau bukan manusia, tapi … setan, hantu!”

Dalam pada itu karena belasan giginya rontok kena digampar oleh palu Cu Po-kun tadi, si kakek Beng sedang terbatuk-batuk, sebab ada dua-tiga biji gigi rontok itu tertelan ke dalam perut, dan karena keselak, hampir saja ia mati sesak napas.

Usia si kakek Beng sudah lanjut, tapi matanya masih tajam, rambutnya hitam gilap, giginya juga masih rajin, semua ini biasanya merupakan kebanggaannya di antara kaum sebaya. Siapa duga giginya sekarang rontok sedemikian rupa.

Di zaman dahulu dengan sendirinya tiada tukang gigi segala, apalagi dokter gigi. Maka bila kehilangan sebuah gigi, itu berarti berkuranglah satu giginya yang tak dapat ditambal lagi. Apalagi sekarang si kakek Beng benar-benar telah ompong seluruhnya, keruan ia sangat menyesal dan murka pula, terus saja ia berteriak-teriak, “Kita pegang dulu anak dara ini, pegang dulu anak dara ini!”

Tapi disiplin Jing-sia-pay sangat keras, biarpun si kakek Beng sangat tinggi kedudukannya, tanpa perintah Ciangbunjin sendiri, tiada seorang pun jago Jing-sia-pay berani sembarangan bergerak. Maka sinar mata semua anak murid Jing-sia-pay lantas terarah pada Suma Lim, asal sang ketua memberi perintah, serentak mereka akan mengerubuti si nona.

Maka berkatalah Suma Lim dengan dingin, “Nona Ong, ilmu silat golongan kami mengapa engkau sedemikian hafal?”

“Aku dapat membacanya dari buku,” sahut Giok-yan. “Ilmu silat Jing-sia-pay mengutamakan serangan secara mendadak dan memakai tipu muslihat, tapi perubahannya tidak terlalu ruwet, dengan sendirinya mudah diingat.”

“Buku apa yang telah nona baca?” tanya Suma Lim.

“Ah, juga bukan buku yang luar biasa,” sahut Giok-yan. “Buku yang mencatat ilmu silat Jing-sia-pay itu ada dua jilid, yang satu adalah ‘Jing-ji-cap-pek-tah’ (18 serangan dari huruf Jing), dan jilid yang lain adalah ‘Sia-si-san-cap-lak-boh’ (36 jenis gempuran dari huruf Sia). Engkau adalah ketua Jing-sia-pay, dengan sendirinya pernah membacanya juga.”

Diam-diam Suma Lim jengah sendiri. Ia menjadi teringat kepada cerita mendiang ayahnya dahulu bahwa di antara ilmu silat Jing-sia-pay itu memang ada yang disebut 18 serangan dan 36 gempuran. Cuma sayang lama-kelamaan ilmu-ilmu itu sebagian tak diwariskan hingga tidak lengkap jadinya, maka untuk mengalahkan Hong-lay-pay menjadi agak sulit. Tapi kalau dapat menemukan kembali ilmu silat leluhur itu dalam keadaan lengkap, jangankan cuma Hong-lay-pay saja, sekalian untuk merajai dunia persilatan rasanya juga tidak sulit.

Teringat cerita itu, kini mendengar pula Giok-yan pernah membaca kitab pusaka mereka itu, tentu saja Suma Lim sangat tertarik, segera ia tanya lebih jauh, “Apakah nona dapat meminjamkan buku itu kepadaku untuk membandingkannya dengan ilmu silat yang kami pelajari sekarang, agar kutahu di mana letak perbedaannya?”

Belum lagi Giok-yan menjawab, tiba-tiba Yau Pek-tong terbahak-bahak dan menyela, “Awas, nona, jangan engkau tertipu oleh Jing-sia-pay ini. Ilmu silat mereka sangat rendah dan jelek, paling-paling cuma beberapa jurus permainan cakar ayam, tapi dia bermaksud memancing kitab pusakamu, maka jangan sekali-kali kau pinjamkan padanya.”

Karena isi hatinya tepat kena dikorek, Suma Lim menjadi marah hingga mukanya merah padam, bentaknya gusar, “Aku lagi bicara sendiri dengan nona ini, apa sangkut pautnya dengan Cin-keh-ce kalian?”

“Tidak ada sangkut pautnya? Haha, justru sangat besar sangkut pautnya!” sahut Yau Pek-tong dengan terbahak-bahak. “Nona Ong ini dapat mengingat sekian banyak Kungfu yang hebat dan aneh-aneh, dengan sendirinya siapa mendapatkan dia, siapa pula akan merajai dunia persilatan ini. Aku orang she Yau selamanya kalau menemukan harta benda atau gadis jelita tentu akan menaruh perhatian sepenuhnya, apalagi terhadap nona Ong yang merupakan bawang mestika yang sukar dicari ini, mana dapat kutinggal diam tanpa turun tangan? Makanya, haha, jika saudara Suma ingin pinjam buku, silakan minta izin dulu padaku. Dan, hahahaha, cobalah terka, apakah aku mengizinkan atau tidak?”

Perkataan Yau Pek-tong itu sangat kasar dan sombong, tapi mendadak hati Suma Lim dan kedua Susioknya tergetar juga, pikir mereka, “Gadis ini meski masih muda belia, tapi dalam hal ilmu silat ternyata mempunyai pengetahuan sedalam ini. Tampaknya dia lemah gemulai, siapa pun takkan percaya dia dapat menangkan kami. Tapi sudah jelas terbukti dia sangat luas pengetahuannya dalam berbagai aliran ilmu silat, bila kami dapat mengundangnya ke tempat Jing-sia-pay kami, bukan mustahil akan memperoleh ajaran lengkap 18 serangan dan 36 gempuran Jing-sia-pay asli, bahkan mungkin akan bertambah lagi ilmu silat dari aliran lain. Namun Cin-keh-ce juga sudah timbul niat jahatnya, tampaknya hari ini pasti akan terjadi pertarungan besar-besaran.”

Dalam pada itu terdengar Yau Pek-tong berkata pula, “Nona, kedatangan kami sebenarnya ingin mencari setori kepada keluarga Buyung, melihat gelagatnya, agaknya nona adalah anggota keluarga Buyung, bukan?”

Mendengar dirinya disangka anggota keluarga Buyung, Giok-yan merasa senang dan malu-malu juga, dengan muka bersemu merah ia mengomel perlahan, “Aku bukan orang she Buyung, tapi Buyung-kongcu adalah aku punya Piauko. Ada keperluan apakah engkau mencari dia? Apakah dia berbuat kesalahan apa-apa padamu?”

“Haha, kiranya nona ini Piaumoay Buyung-kongcu, itulah lebih bagus lagi,” seru Yau Pek-tong dengan terbahak-bahak. “Leluhur Koh-soh Buyung telah utang satu juta tahil emas dan sepuluh juta tahil perak kepada keluarga Yau kami, sampai sekarang sudah ratusan tahun lamanya, tapi utang itu belum pernah dibayar atau dicicil, belum lagi ditambah dengan rentenya.”

“Mana bisa jadi begitu?” ujar Giok-yan dengan tercengang. “Keluarga Kuku terkenal kaya raya, mana mungkin utang kepada keluargamu?”

“Utang atau tidak masakah orang semuda nona bisa tahu?” sahut Pek-tong. “Yang pasti kedatanganku ini ingin menagih utang kepada Buyung Bok, tapi utang itu belum lagi dibayar dan Buyung Bok ternyata sudah mati. Bapaknya mati, terpaksa menagih kepada anaknya. Siapa tahu si bocah Buyung Hok itu selalu menghindari setiap penagih utang dan selalu mengumpat. Dengan sendirinya aku tidak berdaya, ya, terpaksa aku mesti mencari sandera yang berharga sebagai jaminan utang itu.”

“Piaukoku orangnya sangat baik, tangannya selalu terbuka, kalau benar-benar keluarganya ada utang padamu, tentu sudah lama dibayarnya. Seumpama dia tidak utang, tapi engkau kekurangan uang dan ingin minta bantuan padanya, tentu ia pun takkan mengecewakan harapanmu. Mana mungkin dia takut menemuimu dan main sembunyi?” demikian kata Giok-yan.

Pek-tong pura-pura berkerut kening, katanya pula, “Baiknya begini saja. Urusan ini sukar juga dijelaskan padamu. Marilah sekarang juga silakan nona ikut kami ke utara untuk tinggal barang setahun-dua tahun di Cin-keh-ce kami. Di sana kami jamin takkan mengganggu seujung rambut nona. Apalagi biniku terkenal sebagai macan betina, dalam hal perempuan, aku orang she Yau sangat prihatin, tidak berani main gila, maka nona tak perlu khawatir. Dan engkau juga tidak perlu berkemas-kemas, sekarang juga kita lantas berangkat. Nanti bila Piaukomu sudah cukup menyediakan uang dan membereskan utang lama itu, dengan sendirinya aku akan mengantar nona pulang ke Koh-soh sini untuk menikah dengan Piaukomu. Bahkan Cin-keh-ce pasti akan menyumbang sebagaimana mestinya, dan aku si orang she Yau akan ikut datang ke sini untuk minum arak nikahmu!”

Habis berkata, kembali Yau Pek-tong terbahak-bahak.

Sebenarnya ucapan Pek-tong itu sangat kasar, tapi bagi pendengaran Giok-yan, terutama bagian terakhir itu, ternyata dirasakan sangat senang dan kena di hatinya.

Maklum, sejak kecil Giok-yan sudah kesengsem pada sang Piauko, beberapa tahun paling akhir ini, setelah menginjak remaja dewasa, ia menjadi lebih rindu dan jatuh cinta kepada kakak misan itu. Namun entah Buyung Hok, memang tidak tahu atau pura-pura tidak tahu, ia tetap sibuk pada urusannya sendiri dan tiada waktu memikirkan soal cinta, terhadap sang Piaumoay tetap dianggapnya sebagai adik cilik saja, kecuali bicara tentang ilmu silat dan ilmu sastra, selamanya tidak pernah menyinggung sesuatu tentang hubungan antara muda dan mudi.

Akhir-akhir ini karena terjadi ketegangan di antara hubungan keluarga, Ong-hujin, yaitu ibu Giok-yan, melarang Buyung Hok datang ke Man-to-san-ceng. Sebab itulah Giok-yan menjadi sedih, apalagi ia adalah gadis pingitan yang selamanya tidak pernah keluar rumah, belum pernah dengar orang bicara secara blakblakan padanya tentang urusan perjodohannya dengan sang Piauko.

Kini apa yang dikatakan Yau Pek-tong itu meski maksudnya cuma untuk berolok-olok saja, siapa tahu justru kena di lubuk hati si gadis dan menimbulkan rasa senangnya sebagai seorang yang tahu perasaannya, sebab itulah di kemudian hari beberapa kali mestinya jiwa Yau Pek-tong akan melayang, tapi akhirnya menjadi selamat, yaitu berkat kata-katanya sekarang yang menimbulkan rasa senang Giok-yan itu.

Begitulah karena senang, maka Giok-yan berkata pula, “Ai, engkau ini suka omong yang tidak-tidak. Guna apa kuikut ke Cin-keh-ce? Bila betul Kuku utang padamu, hal ini mungkin sudah terlalu lama dan dia tidak tahu, maka melalaikan kewajibannya. Namun sesudah kedua pihak mengajukan bukti-bukti yang sah, Piauko pasti sanggup membayar padamu.”

Sebenarnya maksud Yau Pek-tong cuma untuk membohongi si gadis saja, yaitu hendak menculiknya ke Cin-keh-ce untuk dipancing ilmu silat yang diketahui Giok-yan, tentang utang satu juta tahil emas dan sebagainya dengan sendirinya cuma bualan belaka.

Tapi Giok-yan masih hijau, terlalu kekanak-kanakan dan percaya penuh kepada bualannya. Maka cepat Yau Pek-tong menambahi lagi, “Namun akan lebih baik engkau ikut kami ke Cin-keh-ce saja. Di sana tempatnya sangat enak, pemandangan indah permai, pada waktu senggang kami sering berburu, kami ada piara elang dan macan tutul, tanggung takkan bosan biarpun bermain setahun dua tahun di sana. Dan bila Piaukomu mendapat kabar, tentu dia akan menyusul ke sana, seandainya dia tidak lantas membayar utangnya juga kami akan menyerahkan dirimu padanya untuk dibawa pulang ke Koh-soh sini. Nah, kau mau tidak?”

Propaganda ini benar-benar sangat menarik hati Giok-yan hingga air mukanya tampak berseri-seri. Cuma ia tidak lantas menjawab.

Sebagai orang berpengalaman, segera Suma Lim dapat melihat sikap Giok-yan yang cenderung percaya pada obrolan Yau Pek-tong itu. Ia pikir kalau si gadis sampai terima baik ajakan orang dan baru dirintangi, hal itu berarti sudah ketinggalan satu tindak. Maka belum Giok-yan membuka suara, segera ia menyela, “Cin-keh-ce yang terletak di Huiciu itu adalah suatu tempat yang tandus dan dingin, sebaliknya Ong-kohnio adalah seorang nona jelita selemah ini, mana tahan derita kedinginan di sana? Berbeda dengan Sengtoh kami yang terkenal sebagai kota yang ramai dan megah, bukan saja hasil satin dan sutranya merajai sutra keluaran tempat lain, bahkan pemandangan di sana juga tidak kalah daripada daerah Kanglam sini. Seorang nona cantik sebagai Ong-kohnio kalau dapat pesiar ke Sengtoh serta membeli sedikit kain sutra yang tersohor itu untuk baju, pasti kecantikan nona akan bertambah dan tak ada bandingannya. Buyung-kongcu adalah pemuda yang serbapandai, tentu ia pun akan senang kepada gadis yang cantik ayu.”

“Kentut! Kentut busuk! Masakah di daerah Sohciu sini kekurangan satin dan sutra, kenapa mata anjingmu tidak dipentang lebar, lihatlah apakah ketiga gadis di depan matamu ini memakai kain sutra atau tidak?” demikian maki Yau Pek-tong karena merasa usahanya disabot.

Namun kontan juga Suma Lim menjengek, “Ya, memang sangat busuk, teramat busuk!”

“Apa yang busuk? Kau maksudkan aku?” teriak Yau Pek-tong dengan gusar.

“Mana aku berani mengatakan dirimu!” sahut Suma Lim. “Tapi kubilang kentut anjing barusan memang sangat busuk!”

“Sret”, terus saja Pek-tong lolos goloknya sambil membentak, “Suma Lim, kalau Cin-keh-ce melawan Jing-sia-pay kalian bobotnya mungkin satu kati 16 tahil alias sama kuat. Tapi kalau Cin-keh-ce bergabung dengan Hong-lay-pay, kau bilang Jing-sia-pay kalian bakal dihancurkan atau tidak?”

Air muka Suma Lim berubah seketika, pikirnya, “Benar juga ancamannya. Sejak ayahku wafat kekuatan Jing-sia-pay sudah jauh berkurang. Ditambah lagi jahanam Cu Po-kun telah mencolong ilmu silat golongan sendiri, kalau dia bergabung dengan Cin-keh-ce untuk mengeroyok kami, hal ini memang perlu dipikirkan. Kata peribahasa, ‘Turun tangan lebih dulu akan menang, turun tangan kemudian akan celaka’. Urusan hari ini rasanya harus kudahului menyerang mereka sebelum mereka siap.”

Berpikir demikian, segera katanya dengan tawar, “Habis apa abamu sekarang?”

Melihat kedua tangannya dimasukkan ke dalam lengan baju, Pek-tong tahu setiap saat Suma Lim bisa menyerang dengan senjata gelapnya yang berbisa keji.

Tindak tanduk Yau Pek-tong itu ternyata berbeda daripada jago silat umumnya. Orangnya kasar, tapi waktu menghadapi musuh ia justru bisa berlaku cermat.

Maka ia lantas pusatkan perhatian dengan penuh waspada, jawabnya kemudian, “Aku hendak mengundang nona Ong pesiar beberapa lama ke Cin-keh-ce dan kelak biar dipapak oleh Buyung-kongcu, tapi sengaja kau rintangi maksud baikku bukan?”

“Kubilang tempat kalian itu banyak kekurangannya dan tentu akan bikin susah nona Ong, maka lebih baik kuundang nona Ong pesiar ke Sengtoh,” sahut Suma Lim ngotot.

“Baik, jika begitu, marilah kita tentukan menang atau kalah di atas senjata,” tantang Yau Pek-tong. “Siapa yang menang, dia yang akan menjadi tuan rumah bagi nona Ong.”

“Akur,” seru Suma Lim. “Memangnya bagi yang kalah juga tidak mungkin mengundang nona Ong ke akhirat.”

Dengan ucapan itu tegas Suma Lim menyatakan pertarungan ini bakal dilakukan dengan mati-matian bukan lagi pertandingan biasa.

Pek-tong terbahak-bahak, sahutnya, “Hidup orang she Yau selalu berdiri di ujung senjata. Suma-ciangbun hendak menggertak aku dengan kematian, ha, tidak nanti orang she Yau jeri!”

“Dan cara bagaimana kita akan bertanding? Siapa yang menjadi wasit? Memakai senjata atau bertangan kosong?” tanya Suma Lim.

“Sudah tentu pakai senjata, siapa sabar bertanding dengan tangan kosong ….” belum habis ucapannya, sekonyong-konyong terdengar suara mendesis-desis tiga kali.

Padahal pada waktu bicara pandangan Yau Pek-tong tidak pernah meninggalkan gerak-gerik Suma Lim yang sangat lihai, terkadang orang yang diserangnya belum lagi merasakan dan tahu-tahu sudah binasa. Tapi sama sekali tak terpikir olehnya bahwa ketika kedua pihak sedang bicara, mendadak lawan terus melakukan pembokongan.

Waktu itu tampaknya pandangan Suma Lim sedang diarahkan ke samping seakan-akan di sana sidang terjadi sesuatu, padahal maksudnya cuma untuk memancing perhatian Yau Pek-tong. Dan ketika Pek-tong sadar telah diserang musuh, namun jarak Am-gi dengan dadanya sudah tinggal setengah meter jauhnya. Seketika ia cemas dan yakin sekali ini jiwanya pasti melayang.

Tapi pada detik yang berbahaya itulah, sekonyong-konyong ada sepotong benda aneh warna hitam-putih menyelip di depan dadanya hingga beberapa batang jarum berbisa musuh itu terbentur jatuh ke lantai.

Jarum-jarum itu sebenarnya sangat cepat menyambarnya, sebagai seorang jagoan Yau Pek-tong sendiri juga merasa tidak mungkin berkelit lagi. Tapi datangnya benda penangkis itu beberapa kali lebih cepat daripada sambaran jarum hingga tepat sekali jarum itu terbentur jatuh, sedangkan macam apa benda aneh itu, putih atau hitam, baik Yau Pek-tong maupun Suma Lim sama-sama tidak lihat jelas.

Sebaliknya Giok-yan menjadi girang, terus saja ia bersorak, “Hai, apakah Pau-sioksiok yang datang itu?”

Maka terdengarlah suara seorang yang sangat aneh menjawab, “Bukan, bukan! Bukan Pau-sioksiok yang datang!”

“Masakah engkau bukan Pau-sioksiok?” kata Giok-yan dengan tertawa. “Engkau belum muncul, tapi istilahmu ‘bukan, bukan’ sudah terdengar lebih dulu.”

“Bukan, bukan! Aku bukan Pau-sioksiokmu!” seru suara itu pula.

“Bukan, bukan! Habis engkau siapa?” tukas Giok-yan dengan menirukan lagu orang.

“Buyung-hiante panggil aku sebagai Samko, tapi kau panggil aku Sioksiok. Bukan, bukan! Engkau salah panggil,” demikian suara aneh itu.

Paham akan maksud ucapan orang, Giok-yan menjadi girang hingga muka pun merah, segera katanya pula, “Habis aku harus panggil … panggil apa padamu?”

“Haha, soal itu boleh kau pikir sendiri!” kata suara itu. “Engkau boleh panggil apa saja, kalau tepat, aku akan menjadi kawanmu, kalau salah panggil, selamanya aku akan mengacau padamu, supaya kau tidak jadi istri Buyung-hiante!”

“Cis, ayolah lekas keluar!” semprot Giok-yan.

Suara itu tidak menjawab lagi. Selang sejenak tetap tiada sesuatu suara apa-apa, maka Giok-yan berseru pula, “Hai, keluarlah dan bantulah aku mengenyahkan orang-orang yang tak keruan macamnya ini!”

Tapi keadaan tetap sunyi senyap, terang orang she Pau itu sudah pergi jauh. Giok-yan tampak agak kecewa, katanya, “Dia memang suka begini, selalu bikin orang tak dapat meraba jejaknya.”

“Memang begitulah tabiat Pau-samsiansing,” ujar A Cu dengan tertawa. “Waktu nona menyuruhnya keluar tadi sebenarnya ia sudah akan muncul, tapi demi mendengar ucapanmu, ia justru sengaja jual mahal padamu. Dan saat ini mungkin dia sudah berada di tempat jauh, hari ini terang takkan muncul lagi.”

Sebenarnya Giok-yan sangat ingin bertemu dengan Pau-samsiansing untuk diajak berunding cara bagaimana harus pergi membantu Buyung-kongcu di Siau-lim-si. Tapi orang she Pau ini ternyata segera menghilang begitu saja, hal ini membuat Giok-yan merasa kurang senang.

Di lain pihak diam-diam Suma Lim dan Yau Pek-tong merasa senang. Tadi waktu Pau-samsiansing bersuara, mereka berdua celingukan kian kemari hendak mencari di mana tempat sembunyi orang she Pau itu. Akan tetapi suara itu sangat aneh, tiba-tiba kedengaran sangat dekat, tahu-tahu lantas menjauh, disangka berada di sebelah timur, ternyata sudah berpindah ke barat. Maka mereka tetap tak dapat menemukan orang she Pau itu berada di mana.

Dari perkataan orang aneh itu, ia sebut saudara kepada Buyung Hok dan sangat baik pula hubungannya dengan Giok-yan, bila tokoh seperti itu ikut muncul, tentu mereka sukar melawannya. Kini orang aneh itu telah pergi jauh, sudah tentu mereka sangat senang dan bersyukur.

Jiwa Yau Pek-tong sendiri sembilan bagian tadi sudah masuk liang kubur, tapi berkat pertolongan orang she Pau itu, jiwanya dapat ditarik kembali mentah-mentah Dengan sendirinya timbul rasa terima kasih kepada tokoh aneh itu. Sebenarnya ia tiada permusuhan apa-apa dengan Jing-sia-pay, tapi karena tadi diserang dan jiwanya hampir melayang, kini ia benar-benar dendam dan Suma Lim itu ingin dibunuhnya.

Maka sekali golok diangkat, segera ia membentak, “Keparat yang tidak kenal malu, main membokong dengan senjata gelap, apa kau sangka kakekmu she Yau ini mudah diserang begitu saja?”

Habis berkata, segera golok membacok kepala Suma Lim.

Cepat Suma Lim berkelit, ia mainkan ilmu silat Jing-sia-pay dengan senjata palu dan gurdi untuk melawan golok tunggal Yau Pek-tong. Suma Lim memang lincah dan gesit, sebaliknya Yau Pek-tong unggul dalam hal tenaga, serangan golok juga sangat ganas.

Anak murid Jing-sia-pay belum pernah bertanding melawan orang Cin-keh-ce. Kini kedua pemimpin masing-masing saling gebrak sendiri untuk pertama kalinya, menang atau kalah salah satu pihak pasti akan terbinasa, dan yang lebih penting lagi adalah menyangkut nama baik masing-masing pihak, maka Yau Pek-tong dan Suma Lim tidak berani ayal sedikit pun, keduanya bertempur dengan sepenuh tenaga.

Kira-kira 70-an jurus, tiba-tiba Giok-yan berkata kepada A Cu, “Lihatlah, “Ngo-hou-hoan-bun-to dari Cin-keh-ce ternyata jauh lebih buruk daripada sangkaanku, tadinya kusangka kurang lima jurus, tapi kini tampaknya lebih dari itu. Buktinya jurus seperti ‘Hu-cu-toh-ho’ (mengutamakan kehormatan dan setia kawan) entah sebab apa tak dimainkan oleh Yau Pek-tong?”

Sudah tentu A Cu tidak paham ilmu silat seluas itu seperti Giok-yan, maka ia cuma mengiakan saja. Sebaliknya Yau Pek-tong yang sedang bertempur itu demi mendengar ucapan Giok-yan, kembali ia terkejut. Pikirnya, “Mengapa pandangan nona cilik ini sedemikian tajamnya? Selama berpuluh tahun terakhir ini ke-64 jurus Ngo-hou-toan-bun-to kami memang hilang sebagian dan paling akhir tinggal sisa 59 jurus saja, hal ini memang tepat sebagaimana dikatakan olehnya tadi. Tapi sejak ayahku menjabat ketua, karena bakatnya kurang dan kecerdasannya puntul, maka dua jurus ‘Hu-cu-toh-ho’ dan ‘Tiong-ciat-siu-gi’ tak berhasil dipelajarinya, sebab itulah kedua jurus itu pun lenyap dari ajaran perguruan selanjutnya termasuk diriku. Tapi aku telah mengubah kedua jurus itu sekadar untuk menambal kekosongan ilmu silat Cin-keh-ce. Siapa duga tetap diketahui juga oleh nona muda ini.”

Dan karena rahasianya terbongkar, Yau Pek-tong menjadi malu diri dan buru-buru ingin merobohkan Suma Lim sekadar mempertahankan gengsinya sebagai pemimpin.

Akan tetapi dalam pertandingan silat sedikit pun tidak boleh gopoh. Sebenarnya kalau Pek-tong bertanding dengan tenang dan sabar, semakin lama kemenangan pasti akan diperoleh dia. Tapi karena ingin buru-buru menjatuhkan lawan, seketika pemusatan perhatiannya menjadi terganggu. Beruntun Pek-tong melancarkan serangan berbahaya, tapi selalu dapat dihindar oleh Suma Lim.

Mendadak Pek-tong menggertak sekali, golok terus membabat dari samping. Ketika Suma Lim melompat ke kiri untuk menghindar, cepat Pek-tong ayun sebelah kaki untuk menendang.

Dalam keadaan tubuh masih terapung di udara Suma Lim sukar menghindar, tapi ia cukup cekatan dan dapat ganti gerakan dengan cepat. Mendadak ia gunakan gurdi untuk menikam kaki orang. Dengan demikian bila tendangan Pek-tong itu diteruskan berarti kaki akan patah sendiri.

Benar juga Pek-tong tidak berani meneruskan tendangannya. Tapi tendangannya itu ternyata tendangan Wan-yang-lian-goan-tui atau tendangan secara berantai, yaitu susul-menyusul kedua kakinya menendang bergiliran. Begitu kaki kanan ditarik kembali, segera kaki kiri melayang ke lambung lawan.

Namun palu kecil Suma Lim saat itu juga sedang menyampuk ke samping, “plok”, dengan tepat batang hidung Yau Pek-tong kena ketuk lebih dulu, keruan hidungnya lantas bocor dan keluar kecapnya. Dan pada saat yang sama itulah pinggang Suma Lim juga kena tendangan Yau Pek-tong.

Cuma karena muka Pek-tong lebih dulu kena palu, dalam kaget dan sakitnya tendangannya menjadi tak bertenaga lagi, biarpun kena tertendang, Suma Lim tidak terluka apa-apa, hanya tulang iganya kesakitan.

Dan justru selisih dua detik dari serangan masing-masing itulah, kalah-menang kedua pihak menjadi jelas kelihatan. Dengan mengerang murka Yau Pek-tong bermaksud menerjang maju untuk mengadu jiwa, namun kepala serasa akan pecah, kaki pun menjadi ampang, jalannya menjadi sempoyongan dan hampir-hampir roboh.

Kemenangan Suma Lim barusan sebenarnya diperoleh dengan agak kebetulan. Ia tahu bila jiwa lawan dibiarkan hidup, kelak pasti akan merupakan bibit bencana baginya, maka timbul niat jahatnya untuk membunuh lawan. Segera ia lontarkan tipu pancingan, ia ayun palu ke depan, ketika Yau Pek-tong angkat golok hendak menangkis, sekonyong-konyong gurdi lantas menjuju ke hulu hati pemimpin Cin-keh-ce itu.

Melihat Cecu mereka terancam maut, wakil Cecu dari Cin-keh-ce cepat bersuit sekali, mendadak golok ditimpukkan, begitu pula kawan-kawannya segera menirukannya hingga dalam sekejap saja belasan golok menyambar berbareng ke atas badan Suma Lim.

Kiranya dalam ilmu silat Cin-keh-ce itu terdapat sejurus menimpuk golok sebagai senjata gelap yang lihai. Tiap-tiap golok bobotnya 8 sampai 10 kati, bila ditimpukkan, daya serangnya menjadi sangat hebat, apalagi sekaligus belasan golok menghambur bersama, keruan Suma Ling kerepotan baik untuk menangkis maupun hendak menghindar.

Tampaknya dengan segera Suma Lim akan menjadi perkedel dihujani golok terbang itu, sekonyong-konyong sesosok bayangan orang berkelebat, dua tangan orang yang panjang kurus mirip cakar ayam menyambar ke sini dan meraup ke sana secepat kilat, sekaligus belasan golok terbang tadi kena ditangkap oleh tangan itu. Lalu terdengarlah suara gelak tawa orang, tahu-tahu di atas kursi tengah ruangan itu sudah bertambah dengan seorang aneh. Menyusul lantas terdengar pula suara gemerantang riuh, belasan golok yang ditangkap orang itu dibuang ke lantai di samping kakinya.

Dengan kaget semua orang saling pandang dengan melongo. Ternyata orang itu adalah seorang laki-laki tinggi kurus, mukanya tirus, memakai jubah panjang warna kelabu, sikapnya menantang dan tidak mau kalah.

Tadi semua orang sudah menyaksikan betapa tangkasnya orang itu menangkap golok terbang, kepandaian itu boleh dikatakan sudah mencapai tingkatan yang susah diukur, semua orang menjadi kagum dan jeri, tiada seorang pun berani bersuara.

Hanya Toan Ki saja yang tidak kenal tingginya langit dan tebalnya bumi, dengan tertawa ia berkata, “Wah, gerakan Hengtay (saudara terhormat) barusan ini sungguh sangat cepat, tentu ilmu silatmu juga sangat tinggi. Siapakah nama Anda yang terhormat, bolehkah kutahu?”

Belum lagi laki-laki jangkung itu menjawab, tiba-tiba Giok-yan tampil ke depan, katanya dengan tertawa, “Pau-samko, kukira engkau tidak datang lagi, aku menjadi khawatir. Siapa tahu akhirnya kau muncul juga, legalah hatiku sekarang.”

“O, kiranya Pau-samsiansing,” sela Toan Ki.

Pau-samsiansing melotot sekali kepada Toan Ki, katanya dengan mendongkol, “Siapakah bocah ini? Berani ceriwis padaku?”

“Cayhe she Toan bernama Ki, sesama hidup tidak pernah belajar ilmu silat apa-apa, tapi sudah sekian lama berkecimpung di Kangouw dan sampai sekarang ternyata tidak mati, rupanya nasibku memang lagi mujur!” demikian sahut Toan Ki dengan tertawa.

Mata Pau-samsiansing mendelik lagi, seketika ia tidak tahu tindakan apa yang harus dilakukan terhadap pemuda itu.

Tiba-tiba Suma Lim maju ke depan dan memberi hormat, katanya, “Suma Lim dari Jing-sia-pay barusan mendapat pertolonganmu, budi mahabesar itu selamanya takkan kulupakan. Numpang tanya siapakah nama Pau-samsiansing yang terhormat, supaya kelak Cayhe dapat selalu mengingatnya.”

Sekonyong-konyong mata Pau-samsiansing mendelik kepada Suma Lim, tahu-tahu sebelah kakinya melayang ke atas, “blang”, kontan Suma Ling ditendangnya hingga terjungkal. Lalu bentaknya, “Hm, hanya macammu saja berani tanya namaku? Aku toh tidak sengaja hendak menolong jiwamu, soalnya karena tempat ini rumah adik A Cu yang indah, kalau jiwamu melayang dan badanmu tercacah menjadi bakso di sini, bukankah akan bikin kotor tempat adik A Cu ini? Nah, lekas enyah, lekas pergi!”

Ketika kaki orang menendang, sebenarnya Suma Lim segera bermaksud menghindar, tapi tetap tidak keburu hingga ia tertendang terjungkal. Keruan ia sangat malu dan serbasusah.

Jika menuruti peraturan Kangouw, ada dua jalan yang dapat ia pilih. Pertama, segera melabrak orang untuk menentukan mati atau hidup. Kedua, mengadakan perjanjian waktu untuk kemudian mengadakan perhitungan terakhir.

Dengan sendirinya Suma Lim tidak rela menerima hinaan demikian di hadapan orang banyak tanpa unjuk jiwa kesatrianya. Maka dengan berani ia lantas berkata, “Pau-samsiansing, barusan jiwaku hampir melayang di bawah keroyokan golok musuh, untung telah ditolong olehmu. Suma Lim selamanya dapat membedakan budi dan dendam dengan jelas, kalau terima budi tentu kubalas, kalau dihina pasti kubayar kembali.”

Padahal ia cukup tahu biarpun belajar sampai tua juga tidak mampu menandingi Pau-samsiansing yang lihai ini. Terpaksa ia gunakan kata-kata yang samar-samar itu untuk menutupi rasa malunya.

Sebaliknya Pau-samsiansing ternyata tidak mendengarkan ocehannya, ia asyik bicara sendiri dengan Giok-yan, “Nah, jika kau panggil aku Pau-samko, inilah tepat. Seterusnya kau harus panggil Samko padaku.”

“Untuk panggil Samko padamu juga boleh, tapi engkau harus memenuhi suatu syaratku?” kata Giok-yan dengan tertawa.

“Eeh, pakai syarat segala? Nah, coba katakan syarat apa?” tanya Pau-samsiansing dengan mimik wajah yang lucu.

“Begini,” kata Giok-yan. “Engkau boleh main gila dengan siapa pun, tapi janganlah menggoda Piauko.”

“Sama sekali aku tidak boleh menggoda dia? Hah, tak usah ya!?” kata Pau-samsiansing. “Tapi bagimu, baiklah, boleh kukurangi perbuatanku.”

“Terima kasih, Samko,” bata Giok-yan dengan tersenyum manis.

Melihat senyuman si gadis yang menggiurkan itu, hati Toan Ki benar-benar terpukul, kepala terasa pening dan timbul pula rasa irinya. Pikirnya, “Pau-samsiansing ini cuma berjanji akan mengurangi main gilanya kepada Buyung-kongcu, lantas dia begitu senang padanya. Wahai, Buyung Hok! Alangkah bahagia hidupmu ini dapat memperoleh cinta kasih sedalam ini dari gadis secantik ini?”

Sungguh dongkol Suma Lim tak terkatakan karena ucapannya tadi sama sekali tak digubris oleh Pau-samsiansing. Sekali ia memberi tanda, segera ia membawa anak buahnya hendak meninggalkan tempat ini.

“Nanti dulu, dengarlah pesanku!” tiba-tiba Pau-samsiansing berseru.

“Ada apa?” sahut Suma Lim sambil putar balik.

“Kabarnya kedatanganmu ke Koh-soh sini ingin menuntut balas bagi kematian ayahmu?” tanya Pau-samsiansing. “Jika demikian, engkau telah salah alamat. Ayahmu, Suma Wi, bukan dibunuh oleh Buyung-kongcu.”

“Siapa yang bilang? Dari mana Pau-samsiansing mendapat tahu?” tanya Suma Lim.

Pau-samsiansing menjadi gusar, bentaknya, “Sekali aku bilang bukan Buyung-kongcu yang membunuhnya, dengan sendirinya bukan dia. Seumpama benar dia yang bunuh, kalau aku sudah bilang bukan, ya tetap bukan. Masa ucapanku tidak masuk hitungan?”

Sungguh mendongkol dan penasaran sekali Suma Lim oleh ucapan orang yang mau menang sendiri itu. Tapi dengan sabar ia menjawab, “Sakit hati kematian ayah sedalam lautan, meski ilmu kepandaian Suma Lim terlalu rendah juga ingin menuntut balas biarpun akhirnya akan hancur lebur. Maka siapakah sebenarnya pembunuh ayahku, mohon sudilah memberi tahu.”

“Hahaha, ayahmu kan bukan anakku, dia dibunuh oleh siapa, peduli apa denganku?” sahut Pau-samsiansing dengan tergelak. “Kan sudah kukatakan Buyung-kongcu bukan pembunuh ayahmu, barangkali kau masih tidak percaya, ya? Baiklah, anggaplah aku pembunuhnya, jika kau ingin menuntut balas, boleh terjang padaku saja.”

“Sakit hati pembunuhan ayah mana boleh dibuat permainan?” sahut Suma Lim dengan wajah merah padam. “Pau-samsiansing, kutahu diriku bukan tandinganmu, engkau boleh membunuh aku, tapi kalau dihina secara demikian, betapa pun aku tidak terima.”

“Aku justru ingin menghinamu, dan aku justru tidak mau membunuhmu, nah, apa yang dapat kau lakukan padaku?” ucap Pau-samsiansing dengan tertawa.

Keruan dada Suma Lim hampir-hampir meledak saking gusarnya. Tapi suruh dia menerjang maju untuk mengadu jiwa, ia pun tidak berani. Karena itu ia menjadi terpaku di tempatnya dengan serbasalah.

Maka Pau-samsiansing berkata pula, “Hanya sedikit kepandaian Suma Wi yang tak berarti itu masakah perlu Buyung-hiante kami yang turun tangan sendiri? Ilmu silat Buyung-kongcu sepuluh kali lebih tinggi daripadaku, coba kau pikir, apakah Suma Wi sesuai untuk dibunuh olehnya?”

Belum lagi Suma Lim menjawab, tiba-tiba Cu Po-kun lolos senjatanya dan berseru, “Pau-samsiansing, Suma Wi Losiansing adalah guruku yang berbudi, aku melarang engkau menghina nama baiknya sesudah beliau meninggal.”

“Haha, engkau ini mata-mata yang menyelundup ke Jing-sia-pay, peduli apa denganmu?” ujar Pau-samsiansing dengan tertawa.

“Suma-suhu teramat baik padaku, aku Cu Po-kun merasa malu tak dapat membalas budi kebaikannya, kini meski mati demi membela nama baiknya, sedikitnya dapatlah kutebus dosa karena aku telah menipunya. Pau-samsiansing, harap kau minta maaf dan mengaku salah kepada Suma-siansing.”

Pau-samsiansing cuma tertawa-tawa saja, sahutnya, “Selama hidup Pau-samsiansing tidak pernah mengaku salah dan juga tidak nanti minta maaf pada orang, biarpun tahu berbuat salah juga akan tetap berbuat sampai akhirnya. Pada masa hidupnya Suma Wi juga tidak punya nama harum, sesudah mati namanya terlebih celaka lagi. Orang macam begitu memangnya sudah lama harus dibunuh. Maka kematiannya itu adalah pantas, lebih daripada pantas!!”

“Silakan Pau-samsiansing keluarkan senjata!” seru Cu Po-kun.

“Hahahaha!” Pau-samsiansing terbahak-bahak. “Anak murid Suma Wi pintarnya memang cuma main membokong dengan senjata gelap, selain itu, segala apa tidak becus lagi.”

“Awas serangan!” seru Cu Po-kun segera. Palu dan gurdi terus menyerang sekaligus.

Sama sekali Pau-samsiansing tidak berbangkit, lengan baju kiri mendadak mengebas hingga serangkum angin keras menyambar ke arah musuh.

Seketika Po-kun merasakan napas sesak, cepat ia mendoyong ke samping. Tak tersangka kaki kiri Pau-samsiansing lantas menjegalnya hingga Po-kun terpelanting, menyusul kaki Pau-samsiansing yang lain terus mendepak hingga tepat kena bokong Cu Po-kun, kontan saja tubuhnya yang gede itu mencelat keluar ruangan.

Tapi begitu jatuh segera Po-kun berbangkit dan berlari balik, kembali palu dan gurdi menyerang lagi dada Pau-samsiansing.

Tak terduga mendadak Pau-samsiansing ulur kedua tangan hingga tangan Po-kun terpegang, sekenanya ia lemparkan hingga tubuh Po-kun melambung ke atas, “bluk”, tubuh Po-kun membentur belandar dan jatuh kembali ke lantai. Terang jatuhnya Cu Po-kun itu sangat keras dan tentu kesakitan, tapi Po-kun benar-benar sangat bandel, untuk ketiga kalinya kembali ia menerjang lagi ke arah Pau-samsiansing.

Mau tak mau Pau-samsiansing berkerut kening oleh kenekatan orang. Katanya, “Kau ini benar-benar tidak tahu diri? Apa kau sangka tak mampu membunuhmu?”

“Jika berani, lekaslah bunuh aku!” tantang Po-kun malah.

Tanpa ampun lagi Pau-samsiansing pegang kedua tangan Cu Po-kun. Mendadak ia tolak tangannya ke depan, “krak-krek”, kontan lengan Cu Po-kun dipatahkan, bahkan gurdinya lantas menikam bahu kanan dan palu mengetuk pundak kiri sendiri. Seketika darah bercucuran dari bahu yang terluka itu dan tulang pundak remuk oleh ketukan palu, keadaan demikian tepat sekali seperti orang yang dilukai dengan tipu “Co-yu-hong-goan” (mendapat hadiah dari kanan-kiri alias ketuplek rezeki), yaitu salah satu jurus lihai Kungfu Jing-sia-pay.

Luka Cu Po-kun sudah sangat parah, walaupun ada maksudnya hendak mengadu jiwa lagi tapi keinginan ada, tenaga kurang, apa daya?

Orang-orang Jing-sia-pay hanya saling pandang belaka dan bingung apa mesti maju untuk menolong Cu Po-kun atau tidak. Terang gamblang tipu serangan “Co-yu-hong-goan” itu adalah Kungfu Jing-sia-pay, entah dari mana Pau-samsiansing juga dapat mempelajarinya?

Maka berkatalah Giok-yan kepada Cu Po-kun, “Nah, bagaimana Cu-ya? Kataku tadi bahwa tidak cukup dan percuma, sekarang kau mau percaya tidak?”

Cu Po-kun menggila napas panjang, jawabnya, “Taksiran nona memang sangat jitu, aku benar-benar sangat kagum.”

Lalu ia berpaling, kepada Suma Lim dan berkata, “Ciangbun-suheng, beruntung ilmu silat kedua aliran kita satu sama lain saling mengatasi dan sama kuatnya, Siaute telah belajar kepandaian Jing-sia-pay, tapi belum mampu menggunakannya untuk menangkis serangan Kungfu Jing-sia-pay, sudah dibuktikan oleh serangan Pau-samsiansing barusan. Ai, percumalah guruku memeras otak, akhirnya toh tidak berhasil apa-apa.”

Suma Lim dapat menerima apa yang dikatakan Cu Po-kun itu memang benar, meski Po-kun sudah mahir ilmu silat Jing-sia-pay, tapi tetap terluka oleh tipu serangan Jing-sia-pay sendiri. Hal ini menandakan betapa tinggi Cu Po-kun mempelajari silat Jing-sia-pay toh belum mampu mencapai tingkatan yang sempurna, dan dengan sendirinya tidak mungkin ia mengajarkan pula kepada Hong-lay-pay untuk membunuh ayahnya. Berpikir demikian hati Suma Lim menjadi banyak terhibur.

A Cu yang sejak tadi diam saja kini tiba-tiba menyela, “Suma-toaya, Cu-toaya, kalian sudah menyaksikan sendiri barusan Pau-samsiansing menggunakan ilmu silat Jing-sia-pay, hal ini membuktikan orang yang mahir ilmu silat Jing-sia-pay tidak melulu Kongcu kami saja. Maka sebenarnya siapa gerangan pembunuh Suma-losiansing, lebih baik kalian pulang saja untuk menyelidiki lebih jauh.”

Tampaknya Suma Lim masih hendak berkata apa-apa, namun Pau-samsiansing menjadi gusar, bentaknya, “Tempat ini adalah rumah tinggal adik A Cu, pemilik rumah sudah minta kalian pergi, apa kalian masih tidak tahu diri?”

“Baiklah kami mohon diri, sampai berjumpa pula kelak,” kata Cu Po-kun segera. Ia tak dapat memberi hormat karena kedua lengan terluka, maka ia hanya mengangguk saja lalu bertindak pergi.

Suma Lim juga tahu gelagat takkan menguntungkan jika tinggal lebih lama di situ, maka beramai-ramai ia pun mohon diri bersama anak buahnya.

Melihat ilmu silat Pau-samsiansing begitu tinggi, tindak tanduknya juga sangat aneh, Yau Pek-tong menjadi ingin belajar kenal dengan tokoh Kangouw yang sakti ini, ditambah lagi ia masih mengincar kepandaian Giok-yan yang meliputi segala macam ilmu silat yang tak terhitung banyaknya itu. Maka sesudah orang-orang Jing-sia-pay pergi, segera ia melangkah maju dan ingin bicara dengan Pau-samsiansing.

Di luar dugaan mendadak Pau-samsiansing mendahului buka suara, “Yau Pek-tong, aku melarang kau bicara sepatah kata pun, lekas menggelinding pergi dari sini!”

Keruan Yau Pek-tong melengak, saking malunya wajahnya berubah merah padam, tanpa terasa tangannya lantas meraba golok.

“Yau Pek-tong,” jengek Pau-samsiansing, “hanya sedikit kepandaianmu yang tak berarti ini jangan kau coba-coba main gila di depanku. Sekali kusuruh menggelinding pergi, kau harus segera menggelinding pergi, tidak ada hak bicara apa-apa bagimu, tahu?!”

Melihat pemimpin mereka dihina Pau-samsiansing, anak buah Cin-keh-ce menjadi gusar juga dan bermaksud main kerubut sekuatnya, tapi senjata mereka tadi sudah dirampas Pau-samsiansing ketika menghujani Suma Lim dengan golok terbang, maka mereka cuma gusar dalam hati, tapi tiada seorang pun berani sembarangan menerjang maju dengan bertangan kosong.

Tiba-tiba Pau-samsiansing terbahak-bahak sambil kaki kanan menendang dan mendepak serabutan, tahu-tahu belasan batang golok yang berserakan di samping kakinya itu mencelat ke arah orang-orang Cin-keh-ce. Cuma sambaran golok yang ditendang itu sangat lamban dan dengan persis dapat ditangkap pemiliknya masing-masing, hal itu menandakan Pau-samsiansing tidak bermaksud melukai mereka.

Keruan orang-orang Cin-keh-ce tercengang oleh tindakan Pau-samsiansing itu, mereka sadar bila tokoh itu mau melukai mereka, rasanya tidak mungkin golok dapat mereka pegang cara begitu gampang? Sebab itulah mereka hanya berdiri dengan bingung.

“Yau Pek-tong,” kata Pau-samsiansing kemudian, “kukatakan lekas gelinding pergi, kau mau gelinding pergi tidak?”

“Pau-samsiansing ada budi pertolongan jiwa padaku, dengan sendirinya apa yang kau perintahkan pasti kuturut. Baiklah kumohon diri,” sahut Pek-tong dengan tertawa ewa sambil membungkuk memberi hormat. Lalu serunya kepada begundalnya, “Mari pergi semua!”

“Aku suruh kau menggelinding pergi dan bukan menyuruhmu berjalan keluar!” kata Pau-samsiansing.

Pek-tong melengak bingung, tanyanya, “Cayhe tidak paham apa maksud Pau-samsiansing?”

“Kukatakan menggelinding pergi,” ucap Pau-samsiansing. “Gelinding ya gelinding, masakah gelinding tidak tahu? Nah, kau mau menggelinding pergi tidak?”

Keruan Yau Pek-tong semakin tidak mengerti, ia pikir orang ini barangkali gila, lebih baik jangan digubris. Maka tanpa bicara ia terus putar tubuh dan bertindak pergi dengan langkah lebar.

“Bukan, bukan,” seru Pau-samsiansing tiba-tiba. “Kukatakan gelinding, dan caramu itu adalah berjalan dan bukan menggelinding. Jika kau tidak paham, inilah caranya!”

Habis berkata, mendadak ia melesat maju, sekali cengkeram, tahu-tahu kuduk Yau Pek-tong kena dipegangnya.

Segera Pek-tong menyikut ke belakang, tapi sedikit Pau-samsiansing angkat tangannya, tubuh Pek-tong lantas terkatung-katung hingga sikutannya mengenai tempat kosong. Menyusul Pau-samsiansing lantas jambret pula bebokong Pek-tong sambil membentak, “Di rumah adik A Cu mana boleh kau masuk-keluar sesukanya. Hm, menggelindinglah ke rumah kakek moyangmu!”

Selesai ucapannya ini, sekali ia ayun tangannya, tubuh Yan Pek-tong segede kerbau itu terus dilemparkan keluar ruangan hingga terguling-guling seperti bola menggelinding.

Melihat pimpinan mereka dibuang keluar begitu saja, beramai-ramai begundal Cin-keh-ce itu terus memburu keluar untuk membangunkan Pek-tong, kemudian bersama lantas melarikan diri dengan sipat kuping.

Kini menjadi giliran Toan Ki yang dipelototi oleh Pau-samsiansing, tapi karena tak diketahuinya asal usul pemuda itu, ia lantas tanya Giok-yan, “Siaumoay, apakah suruh dia juga enyah atau biarkan dia tinggal?”

“Aku bersama A Cu dan A Pik tadi telah ditawan oleh Peng-mama, tapi berkat pertolongan Toan-kongcu ini, dapatlah kami diselamatkan. Pula, ia menyatakan tahu seluk-beluk di Siau-lim-si, maka kita dapat menanyakan keterangan kepadanya,” demikian sahut Giok-yan.

“Jika begitu, jadi engkau ingin dia tinggal di sini?” Pau-samsiansing menegas.

“Benar,” jawab si gadis.

“Apakah engkau tidak khawatir saudaraku Buyung itu akan minum cuka?” tanya Pau-samsiansing dengan tertawa.

Giok-yan terbelalak bingung, balasnya menanya, “Minum cuka apa?”

“Orang ini pintar putar lidah dan pandai bertingkah, jangan-jangan engkau akan tertipu olehnya,” kata Pau-samsiansing sambil menuding Toan Ki.

“Aku tertipu oleh apanya?” tanya Giok-yan heran. “Apa mungkin dia sengaja mengarang hal-hal tidak benar tentang keadaan Siau-lim-si? Ah, rasanya dia juga takkan berani sembrono.”

Mendengar ucapan gadis itu yang masih kekanak-kanakan dan sangat polos, sedikit pun belum kenal seluk-beluk hubungan muda-mudi, Pau-samsiansing menjadi tidak enak untuk bicara lagi. Segera ia tertawa dingin sambil bertanya kepada Toan Ki, “Bagaimana keadaan saudaraku?”

Keruan Toan Ki menjadi dongkol, sahutnya dengan ketus, “Memangnya kau sedang menanya pesakitanmu? Dan kalau aku tidak mau omong, lantas kau akan menyiksa aku, bukan?”

Di dunia ini orang yang berani mengadu mulut dengan Pau-samsiansing boleh dikata dapat dihitung dengan jari. Mula-mula Pau-samsiansing tercengang juga, tapi segera ia terbahak-bahak malah, katanya, “Hahaha, bocah berani, bocah berani!”

Mendadak ia melangkah maju, sekali cengkeram, ia pencet lengan kiri Toan Ki, dan sedikit ia tambahi tenaga, seketika Toan Ki meringis kesakitan.

“Hai, hai! Apa-apaan ini?” seru Toan Ki.

“Aku sedang tanya pesakitanku dan menggunakan siksaan, tahu?” sahut Pau-samsiansing.

Toan Ki sengaja tersenyum dan anggap lengan yang dipencet orang itu bukan lengan sendiri lagi, sahutnya kemudian, “Boleh kau siksa aku, tapi aku takkan gubris padamu lagi.”

Waktu Pau-samsiansing remas lebih keras, sakit Toan Ki meresap sampai ke tulang sumsum, bahkan, tulang lengan sampai berkeriutan seakan-akan hampir patah. Namun pemuda itu benar-benar sangat kepala batu, ia tetap diam saja.

“Pau-samko,” cepat A Pik berseru, “Toan-kongcu ini berwatak sangat angkuh, tapi dia adalah tuan penolong kami. Jangan engkau bikin susah padanya.”

“Bagus, bagus. Wataknya angkuh, itulah cocok dengan seleraku yang suka dengan ‘bukan, bukan’!” ujar Pau-samsiansing sambil perlahan-lahan melepaskan cekalannya.

“Ya, bicara tentang selera, kita benar-benar sudah merasa lapar,” kata A Cu dengan tertawa dan segera ia memanggil si koki, “Hai, Lau Koh! Lau Koh!”

Setelah digembor lagi beberapa kali, baru kelihatan koki gendut itu melongok dari pintu samping sana. Melihat kawanan perusuh sudah tiada lagi, dengan gembira ia lantas mendekati sang majikan.

“Pergilah kau sikat gigi tiga kali dulu, lalu cuci muka tujuh kali serta cuci tanganmu dua belas kali, habis itu barulah membuatkan daharan untuk kami,” demikian perintah A Cu. “Tapi awas, kalau terdapat sedikit kotor saja pasti kau akan dihajar mampus oleh Pau-samya.”

“Tanggung bersih, tanggung bersih!” seru Lau Koh berulang-ulang sambil tersenyum.

Maka kaum hamba di dalam Thing-hiang-cing-sik itu lantas muncul lagi untuk memperbarui jamuan. A Cu menyilakan Pau-samsiansing berduduk di tempat utama, Toan Ki di tempat kedua dan Giok-yan ketiga. Ia sendiri bersama A Pik mengiringi di tempat tuan rumah.

Karena buru-buru ingin mengetahui keadaan Buyung-kongcu, segera Giok-yan menanya, “Samko, dia … dia ….”

“Dia katanya sudah pergi ke Siau-lim-si,” tutur Pau-samsiansing segera, “mendengar berita itu, malam-malam Hong-sute lantas berangkat pergi membantunya. Tapi aku merasa urusan ini agak meragukan, lebih baik harus dirundingkan dulu dengan para kawan.”

“Samko, keadaan sudah mendesak, seorang diri Piauko telah masuk ke Siau-lim-si yang terkenal sangat banyak jago-jago pilihan, maka kita harus lekas-lekas pergi membantunya, mengapa mesti ragu-ragu dan pakai berunding dulu segala?” ujar Giok-yan tak sabar.

“Bukan, bukan!” demikian Pau-samsiansing dengan istilahnya yang khas. “Siaumoay, engkau masih terlalu muda dan tidak kenal betapa palsunya hati manusia. Kepergian Buyung-hiante ke Siau-lim-si sekali ini agak berbeda daripada tindak tanduk biasanya. Karena itu aku telah pergi mencari Ting-toako untuk berunding, tapi rumahnya kosong, lalu aku pergi ke Jik-sia-cheng, tapi Kongya-jiko suami istri juga tidak di rumah. Coba pikir, bukankah ini agak ganjil?”

“Ting-toasiok … O, Ting-toako dan Kongya-jiko mereka sudah biasa pergi keluar rumah, hal ini toh tidak perlu diherankan?” ujar Giok-yan.

“Bukan, bulan,!” kata Pau-samsiansing sambil menggeleng. “Menurut para Koankeh di sana, katanya Toako dan Jiko suami-istri waktu meninggalkan rumah tampaknya sangat tergesa-gesa dan tidak meninggalkan sesuatu untukku. Bukankah hal ini sangat aneh dan luar biasa?”

Sudah tentu Toan Ki sama sekali tidak dapat mengikuti percakapan mereka tentang Ting-toako dan Kongya-jiko apa segala, ia taksir orang-orang itu adalah kaum kerabat mereka dan merupakan begundal Buyung-kongcu.

Tidak lama, dua pelayan laki-laki mengantarkan masakan yang masih panas. Kata A Cu dengan tertawa, “Samko, hari ini Siaumoay tak dapat memasak sendiri bagimu, lain kali tentu akan kuganti kekurangan ini ….”

Baru sekian bicaranya, tiba-tiba terdengar suara nyaring kelinting-kelinting dua kali di udara.

“Itu dia, Jiko telah kirim berita kemari,” seru Pau-samsiansing bersama A Cu dan A Pik berbareng.

Serentak mereka lari keluar rumah dan melihat seekor burung merpati putih sedang mengitar di udara, mendadak merpati itu menukik ke bawah dan hinggap di pundak A Cu.

Segera A Pik melepaskan sebuah ikatan di kaki merpati itu, sesudah dibuka bungkusan kecil itu adalah secarik kertas. Cepat Pau-samsiansing menyambut untuk dilihatnya. Kemudian ia lantas berseru, “Aha, jika begitu, kita harus lekas berangkat!”

Beramai-ramai mereka lantas berlari masuk dan berkata kepada Giok-yan, “Engkau mau ikut pergi atau tidak?”

“Pergi ke mana dan tentang urusan apa?” tanya si gadis.

“Jiko mengirim surat, katanya Buyung-hiante sudah mengadakan perjanjian dengan tujuh golongan dan aliran dari provinsi-provinsi Holam, Hopak, Soatang, dan Soasay, untuk bertanding di kota Celam pada tanggal 24 bulan tiga. Hari ini adalah tanggal 12, jadi masih ada waktu 12 hari, engkau mau ikut ke Celam atau tidak?”

“Sudah tentu ikut,” sahut Giok-yan cepat dengan girang. “Dia dalam surat mengatakan apa lagi?”

“Ehm, dalam surat A Cu disuruh berusaha mencari Ting-toako, Hong-sute dan diriku agar beramai-ramai pergi ke sana.” Sahut Pau-samsiansing. “Tampaknya pihak musuh sangat kuat dan susah ditempur.”

“Samko,” sela A Cu tiba-tiba, “Jiko dan Jiso biasanya sangat angkuh, betapa pun tangguhnya musuh juga tidak pernah mengirim surat untuk minta bala bantuan. Tapi sekali ini telah minta kita keluar semua, mungkin pihak lawan benar-benar sangat lihai.”

“Tabiat Loji memang seperti apa yang kau katakan,” sahut Pau-samsiansing dengan tertawa, “tapi kupikir sebabnya dia minta bala bantuan agaknya bukan untuk kepentingannya, tapi demi kepentingan Buyung-hiante.”

Mendengar Buyung-kongcu disinggung, Giok-yan menjadi ketarik dan cepat menanya, “Sebab apa demi untuk dia?”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: