Pendekar Kerajaan Tayli ~ Jilid 22

“Ilmu silat Loji dengan sendirinya bukan nomor satu di dunia ini,” demikian tutur Pau-sam. “Tapi kalau dia tak sanggup melawan orang dan ingin melarikan diri, kuyakin di jagat ini juga tiada seorang pun mampu menahannya. Apalagi mereka suami-istri gabung bersama, tiada seorang pun yang mereka takuti. Tapi demi keselamatan Buyung-hiante, ia pikir mendatangkan bala bantuan lebih banyak akan lebih baik.”

“Apa yang dikatakan tujuh golongan dan aliran keempat provinsi itu entah terdiri dari orang-orang macam apa?” tanya Giok-yan. Terhadap ilmu silat dari berbagai aliran tiada satu pun yang tak dikenalnya. Maka asal ia tahu dari golongan atau aliran mana, untuk menghadapinya menjadi sangat mudah.

Setelah membaca pula surat itu, Pau-sam menjawab, “Dalam surat Jiko ini tidak diterangkan siapa-siapa ketujuh aliran dan golongan itu. Agaknya dia sendiri tidak tahu, biasanya Jiko sangat cermat setiap tindak tanduknya, kalau tahu tentu dia jelaskan di sini.”

Habis ini, mendadak ia berpaling kepada Toan Ki dan berkata kepadanya, “Hai, orang she Toan, sekarang silakan kau pergi saja! Kami hendak berunding urusan pribadi, tidak perlu kau ikut serta. Kami pergi bertanding dengan orang juga tidak perlu kehadiranmu untuk memberi sorakan.”

Dari tadi Toan Ki memang sedang merasa sangat tawar karena dirinya hanya mendengarkan percakapan mereka tentang Buyung-kongcu hendak bertanding dengan orang. Kini secara terang-terangan Pau-samsiansing menuding pintu pula baginya, keruan ia tambah tersinggung. Meski rasanya sangat berat meninggalkan Giok-yan, namun dia toh tidak dapat tinggal di situ tanpa kenal malu.

Maka dengan keraskan hati segera ia berkata, “Baiklah, Ong-kohnio, nona-nona A Cu dan A Pik, sekarang juga kumohon diri saja, sampai berjumpa pula.”

“Tengah malam buta engkau hendak pergi ke mana?” tanya Giok-yan. “Apalagi jalanan air di sini engkau juga tidak paham, lebih baik engkau tinggal semalam di sini, esok pagi engkau boleh berangkat.”

Ucapan Giok-yan seperti menahan tamunya agar jangan pergi dulu, tapi Toan Ki dapat menyelami perasaan gadis itu jelas sudah melayang kepada diri Buyung-kongcu. Mau tak mau Toan Ki jadi dongkol dan merasa terhina.

Jelek-jelek dia adalah calon putra mahkota kerajaan Tayli, sejak kecil ia pun biasa disanjung puji, walaupun sejak berkelana di Kangouw telah banyak mengalami penderitaan dan bahaya, tapi belum pernah dipandang rendah sebagai sekarang ini. Maka katanya segera, “Berangkat sekarang atau besok sama saja, biarlah aku mohon diri.”

“Jika begitu, akan kusuruh orang mengantar engkau keluar dari danau ini,” kata A Cu.

Melihat A Cu juga tidak menahannya, Toan Ki tambah kurang senang. Ia semakin iri kepada Buyung-kongcu yang dipuja berlebih-lebihan itu. Maka jawabnya, “Tidak perlu antar, cukup pinjamkan sebuah perahu, biar aku mendayung sendiri ke mana saja tibanya nanti.”

“Engkau kurang paham jalanan air di danau luas itu, mungkin engkau akan kesasar,” ujar A Pik.

Namun dengan marah-marah Toan Ki lantas menyahut, “Kalian sudah memperoleh kabar Buyung-kongcu, maka lekas berunding untuk pergi membantunya. Aku tiada punya perjanjian apa-apa dengan jago silat segala, pula bukan Piaute kalian, tidak perlu kalian pikirkan.”

Habis berkata, dengan langkah lebar ia lantas bertindak keluar.

A Cu dan A Pik terpaksa mengantar tamunya keluar. Kata A Pik, “Toan-kongcu, kelak kalau bertemu dengan Kongcu kami, boleh jadi kalian akan menjadi sahabat baik.”

“Ah, mana aku berani mengharapkan,” sahut Toan Ki dingin.

Mendengar nada perkataan pemuda itu agak marah, A Pik menjadi heran, ia tanya, “Toan-kongcu, sebab apakah engkau kurang senang? Apakah pelayanan kami ada yang kurang sempurna?”

“Ya, sifat Pau-samko kami memang begitulah, jika Toan-kongcu merasa tersinggung, harap dimaafkan,” A Cu ikut berkata.

Toan Ki tidak bicara lagi, cepat ia menuju ke tepi danau dan melompat ke dalam perahu, ia angkat pengayuhnya terus didayung sekuatnya ke tengah danau. Ia merasa dadanya sesak, apa sebabnya, ia sendiri tidak dapat menerangkan. Yang terpikir olehnya adalah selekasnya pergi, kalau tinggal lebih lama di situ, boleh jadi air matanya akan meleleh keluar.

Sudah banyak Toan Ki menderita. Ia pernah dianiaya orang Bu-liang-kiam dan Sin-long-pang, pernah disiksa Lam-hay-gok-sin, pernah dikurung oleh Yan-king Taycu dan pernah diculik Ciumoti dari Hunlam hingga sampai di daerah Koh-soh. Duka derita kesemua itu belum pernah dirasakannya sehebat sekarang ini.

Padahal di dalam Thing-hiang-cing-sik itu tiada seorang pun yang menyinggungnya. Pau-samsiansing walaupun kasar padanya, tapi tidak keterlaluan seperti dia memperlakukan Cu Po-kun dan Yau Pek-tong. Giok-yan juga sudah buka suara minta ia tinggal lagi semalam, A Cu dan A Pik juga mengantarnya keluar dengan ramah tamah. Akan tetapi perasaan Toan Ki justru sangat gundah dan kesal tak terkatakan.

Angin malam meniup sepoi-sepoi di tengah danau dengan harum bunga teratai yang semerbak, Toan Ki mendayung terus dengan perasaan yang tetap kesal. Sungguh ia tidak tahu apa yang ia kesalkan dan kepada siapa ia mesti kuras rasa kesalnya itu.

Dahulu ketika ia dianiaya dan disiksa oleh Lam-hay-gok-sin, Yan-king Taycu dan lain-lain derita waktu itu sangat hebat, tetapi semuanya itu ia hadapi dengan lapang dada.

Tapi sekarang benar-benar luar biasa. Lamat-lamat hati kecilnya merasa kesalnya ini disebabkan ia jatuh cinta kepada Ong Giok-yan, sebaliknya dalam hati si nona ternyata tiada tempat bagi Toan Ki, bahkan dayang-dayang seperti Cu dan A Pik juga pandang sebelah mata padanya.

Padahal sejak kecil Toan Ki sudah disanjung sebagai permata hati oleh ayah-bunda, bahkan raja dan ratu negeri Tayli juga sangat sayang padanya. Malahan musuh sekalipun seperti Lam-hay-gok-sin melihat dia juga lantas kepincut dan ingin mengambilnya sebagai murid. Lebih-lebih gadis jelita seperti Ciong Ling dan Bok Wan-jing, siapa yang tidak jatuh hati padanya?

Tapi hari ini benar-benar untuk pertama kalinya ia dihadapkan pada sikap dingin, meski orang lain cukup menghormat padanya, tapi hormat itu adalah hormat tanpa perhatian.

Terasa olehnya bahwa dalam pandangan orang, kedudukan Buyung-kongcu jauh lebih penting daripadanya. Selama beberapa hari ini, Buyung-kongcu itu seakan-akan menjadi pusat perhatian setiap orang. Siapa saja asal menyebut Buyung-kongcu seketika menimbulkan perhatian setiap orang. Giok-yan, A Cu, A Pik, Ong-hujin, Pau-samsiansing dan orang yang disebut Ting-toaya, Kongya-jiya, Hong-suya segala, semuanya seperti dilahirkan melulu untuk menjunjung Buyung-kongcu.

Selama hidup Toan Ki tidak pernah merasa iri dan cemburu, kini seorang diri berada dalam perahu di tengah danau seluas ini, samar-samar ia seperti melihat bayangan Buyung-kongcu sedang tertawa ejek padanya, “Toan Ki, wahai Toan Ki. Bukankah engkau ini mirip si cebol merindukan rembulan? Haha, apa engkau tidak merasa malu?”

Karena kesal hatinya, caranya mendayung menjadi sekuat-kuatnya. Sampai lebih satu jam lamanya, bukannya ia merasa lelah, sebaliknya tenaga dalamnya semakin berkobar dan penuh semangat. Dan karena berkobarnya semangat itu, rasa kesalnya perlahan lenyap juga.

Setelah mendayung pula satu-dua jam lamanya, fajar sudah mulai menyingsing, ufuk timur mulai terang. Ia lihat di sisi utara di balik awan yang tebal itu menjulang tinggi sebuah gunung. Ia coba menaksir kedudukannya waktu itu berada di mana, ia taksir Thing-hiang-cing-sik dan Khim-im-siau-tiok itu berada di arah timur, maka asal perahu itu didayungnya ke utara, dengan sendirinya takkan balik kembali ke tempat semula.

Tapi aneh, setiap ia mendayung sekali, hatinya bertambah berat rasanya, tanpa terasa terkenang olehnya akan diri Giok-yan yang semakin jauh ditinggalkan itu.

Sekitar tengah hari, Toan Ki telah mendayung perahunya sampai di kaki gunung itu. Ia coba mendarat dan tanya penduduk setempat. Kiranya gunung itu bernama Ma-jik-san atau gunung tapak kuda, jaraknya dengan kota Bu-sik sudah tak seberapa jauh lagi.

Ketika di Tayli pernah juga Toan Ki membaca nama Bu-sik itu adalah sebuah kota yang terkenal. Ia pikir toh tiada pekerjaan apa-apa, biarlah pergi ke kota itu saja.

Segera ia kembali ke atas perahu dan mendayung pula ke utara, tiada sejam kemudian, tibalah dia di tepi kota Bu-sik.

Ia tinggalkan perahunya dan masuk ke kota. Ia lihat orang ramai berlalu-lalang di dalam kota, dibandingkan kota Tayli, masing-masing memang mempunyai suasana sendiri-sendiri.

Ia berjalan terus sambil menikmati pemandangan kota. Tiba-tiba ia mengendus bau sedapnya masakan. Sudah setengah harian ia tidak makan, ditambah mendayung perahu selama beberapa jam, ia menjadi sangat lapar. Maka ia kegirangan demi mengendus bau makanan lezat itu.

Cepat ia menuju ke arah bau sedap itu. Setelah membelok sebuah jalan, ia lihat sebuah restoran besar, papan mereknya tertulis tiga huruf “Siong-ho-loa” yang sangat besar. Bau sedap masakan itu ternyata tersiar dari restoran ini. Malahan sesudah dekat, terdengarlah suara sibuk pelayan restoran itu sedang melayani tetamunya, hal ini menandakan restoran itu pasti sangat tersohor di kota ini.

Segera Toan Ki masuk dan naik ke atas loteng restoran, pelayan memapaknya dengan sangat hormat serta menyilakannya memilih tempat duduk.

Toan Ki minta disediakan sepoci arak, empat macam makanan. Sambil bersandar di langkan loteng restoran, ia makan minum sendiri. Mendadak hatinya terasa kesepian dan masygul. Tanpa merasa ia menghela napas panjang.

Karena itu, tiba-tiba seorang laki-laki yang duduk di depannya menoleh, sinar matanya yang tajam mengilat itu mengerling dua kali pada Toan Ki.

Waktu Toan Ki balas pandang orang, ia lihat perawakan orang itu sangat gagah, usianya kurang lebih 33-34 tahun, berbaju besar beraut muka lebar. Walaupun wajahnya tidak bisa dikatakan cakap, tapi gagah dan berwibawa.

Diam-diam Toan Ki menanggapi, “Sungguh seorang yang hebat! Pastilah seorang kesatria pilihan, baik di Kanglam maupun di Tayli pasti sukar mendapatkan kesatria semacam ini.”

Ia lihat di atas meja laki-laki itu tertaruh senampan daging masak, semangkuk kuah dan sepoci arak, kecuali itu tiada masakan lain, suatu tanda cara makan minum orang itu pun sangat sederhana.

Setelah memandang sekejap-dua-kejap kepada Toan Ki, tampaknya laki-laki itu merasa agak heran, tapi ia pun tidak urus lebih jauh dan berpaling pula ke sana untuk makan minum sendiri.

Toan Ki sedang merasa kesepian, maka bermaksud mencari sahabat. Segera ia panggil pelayan, katanya sambil menunjuk bayangan belakang laki-laki itu, “Sebentar rekening tuan ini sekalian dihitung ke dalam rekeningku.”

Rupanya laki-laki gagah itu mendengar ucapan Toan Ki, ia menoleh dan tersenyum serta mengangguk perlahan, tapi tidak berkata apa-apa. Maksud Toan Ki hendak berkenalan untuk menghilangkan kesepian menjadi belum ada kesempatan.

Setelah minum beberapa cawan lagi, Toan Ki mendengar tangga loteng berdetak, dari bawah naik pula dua orang. Seorang yang berjalan di depan sebelah kakinya pincang, maka ia membawa tongkat, tapi jalannya tetap sangat cepat. Orang kedua adalah seorang kakek yang bermuka muram durja seperti kebanyakan utang.

Pakaian kedua orang itu pun berwarna kelabu. Mereka mendekati meja laki-laki tadi dan memberi hormat dengan membungkuk. Laki-laki muda itu cuma manggut-manggut saja tanpa berdiri atau membalas hormat.

Maka berkatalah si pincang dengan hormat, “Lapor Toako, pihak lawan menentukan tengah malam nanti bertemu di gardu pemandangan di atas Hui-san.”

“Malam ini?” kata laki-laki muda itu sambil mengangguk. “Apakah tidak terlalu mendesak waktunya?”

“Sebenarnya kita tetapkan pertemuan dengan mereka tiga hari lagi,” tutur si kakek. “Tapi pihak lawan rupanya mengetahui jumlah kita tidak seberapa orang, mereka sengaja berolok-olok, katanya kalau kita tidak berani menepati janji, malam nanti tidak usah datang ke sana.”

“Baiklah,” sahut laki-laki muda itu. “Sekarang juga sampaikan kepada kawan-kawan agar sebelum tengah malam nanti beramai-ramai kita berkumpul di Hui-san. Kita harus tiba di sana lebih dulu untuk menunggu kedatangan pihak lawan.”

Kedua orang itu mengiakan dan turun lagi ke bawah loteng.

Percakapan ketiga orang itu sebenarnya dilakukan dengan perlahan, tamu lain di atas loteng itu tiada yang dengar. Tapi Lwekang Toan Ki sekarang sudah sangat tinggi, matanya jeli dan telinganya tajam, meski dia tidak sengaja mendengarkan percakapan mereka, namun dengan sendirinya apa yang dibicarakan orang-orang itu terdengar olehnya.

Seperti tidak sengaja tiba-tiba laki-laki itu berpaling ke arah Toan Ki. Melihat pemuda itu sedang termangu-mangu, terang lagi memerhatikan percakapannya mendadak sinar mata laki-laki itu memancar tajam hingga Toan Ki terkejut, tanpa terasa cawan yang dipegang tangan kirinya terjatuh dan terbanting hancur.

“Ada urusan apakah saudara ini menjadi gugup?” kata laki-laki itu sambil tersenyum. “Apa sekiranya sudi pindah ke meja sini, marilah kita minum bersama?”

“Bagus, bagus sekali!” sambut Toan Ki dengan gembira. Segera ia minta pelayan memindahkan mangkuk-piringnya ke meja orang itu kemudian ia tanya nama orang.

“Sudah tahu, mengapa saudara pura-pura tanya?” demikian jawab laki-laki itu dengan tertawa. “Kita tidak perlu saling tanya, minumlah beberapa mangkuk, bukankah suatu pertemuan yang menggembirakan? Bila nanti kawan atau lawan sudah menjadi terang tentu takkan gembira seperti ini.”

Toan Ki rada heran oleh jawaban itu. Dengan tersenyum ia berkata pula, “Rasanya Hengtay (saudara terhormat) telah salah mengenali orang dan menyangka aku sebagai musuh. Tapi kata-kata ‘tidak perlu saling tanya’ menang sangat cocok dengan seleraku. Marilah minum, silakan!”

Segera ia menuang secawan penuh dan sekali tenggak dihabiskan.

“Saudara ini ternyata suka bicara secara blakblakan dan tidak mirip seorang Susing (kaum pelajar) yang tengik tingkah lakunya,” ujar laki-laki itu dengan tersenyum. “Rupanya boleh juga kekuatan minum saudara, cuma cawanmu itu terlalu kecil!”

Segera ia berteriak, “Hai, pelayan, ambilkan dua mangkuk besar dan bawakan 10 kati Ko-liang-ciu.”

Mendengar laki-laki itu pesan 10 kati arak Ko-liang-ciu yang terkenal keras, keruan Toan Ki dan si pelayan kaget semua.

“Tuan besar,” dengan tertawa si pelayan coba tanya, “sepuluh kati Ko-liang-ciu apakah dapat habis?”

“Kongcuya ini sudah menyatakan akan menanggung pembayaranku, kenapa kau menghemat baginya?” kata laki-laki itu sambil tunjuk Toan Ki. “Ayo, lekas ambilkan, kalau 10 kati kurang, sebentar ambilkan lagi 20 kati.”

Pelayan itu tidak berani banyak omong lagi, dengan tertawa segera ia lari pergi menyediakan pesanan itu. Tidak antara lama, dua mangkuk besar dan satu guci arak sudah tertaruh di atas meja.

“Tuanglah sepenuhnya kedua mangkuk itu,” perintah laki-laki itu.

Pelayan menurut membuka guci, ia isi penuh kedua mangkuk itu dengan arak Ko-liang itu hingga hampir luber.

Seketika hidung Toan Ki terserengguk oleh bau arak yang keras itu hingga rasanya memabukkan. Waktu tinggal di rumah sendiri, paling-paling ia cuma terkadang minum secawan dua cawan bilamana suka dan belum pernah menyaksikan orang minum arak dengan memakai mangkuk sebesar itu, apalagi isinya adalah Ko-liang-ciu yang keras. Keruan ia berkerut kening.

“Ayolah kita masing-masing minum sepuluh mangkuk, habis itu, anggaplah kita sudah bersahabat, sudikah engkau?” tanya laki-laki itu tertawa.

Melihat waktu bicara sorot mata orang mengandung rasa memandang rendah dan menyindir, jika dalam keadaan biasa, tentu Toan Ki menolaknya dan menyatakan terima kasih, tapi semalam ia habis dihina dan kenyang diperlakukan dengan kasar di Thing-hiang-cing-sik, kini melihat sikap orang ini besar kemungkinan adalah sekomplotan dengan Buyung-kongcu, kalau bukan Ting-toaya, Kongya-jiya, tentulah Hong-siya. Katanya mereka sudah berjanji akan bertempur melawan jago-jago tujuh aliran besar dari berbagai provinsi. Hm, Buyung-kongcu itu kutu macam apa? Aku justru tidak sudi dihina oleh begundalnya, paling-paling mati mabuk, kenapa aku mesti takut.

Karena pikiran itu, segera Toan Ki membusungkan dada dan menyahut, “Marilah, sudah tentu kuterima ajakan Hengtay, cuma sebentar bila aku mabuk, tentu akan bikin susah pada Hengtay.”

Habis berkata, tanpa pikir ia terus angkat mangkuk di depannya dan sekali tenggak habislah isi mangkuk itu mengalir ke dalam perutnya.

Sebabnya dia nekat menghabiskan arak semangkuk penuh itu adalah karena rasa tidak mau kalah, biarpun Ong Giok-yan tidak di situ, tapi Toan Ki anggap seperti sedang diperlihatkan kepada nona itu sebagai tanda tidak mau kalah daripada Buyung Hok. Jangankan cuma semangkuk arak, sekalipun yang harus diminum itu racun juga tanpa ragu akan diminumnya.

Melihat cara minum Toan Ki sangat cepat, hal ini rada di luar dugaan laki-laki itu, ia terbahak-bahak dan berkata, “Sungguh menyenangkan cara minum saudara ini!”

Segera ia pun angkat mangkuknya dan menenggak habis isinya. Menyusul ia menuang dua mangkuk penuh pula.

“Ehm, arak bagus, arak bagus!” seru Toan Ki dengan tertawa. Dan kembali mangkuk diangkatnya dan ditenggaknya hingga kering.

Laki-laki itu menirukan juga menghabiskan isi mangkuknya, lalu menuang lagi dua mangkuk.

Semangkuk penuh itu isinya satu kati arak. Kini dalam perut Toan Ki sudah terisi dua kati arak keras, keruan perutnya terasa panas bagai dibakar, kepalanya juga mulai pusing, tapi masih teringat olehnya, “Hm, Buyung Hok itu kutu macam apa? Masakah aku kalah daripada begundalnya?”

Karena itu, untuk ketiga kalinya mangkuk diangkat pula dan diminum habis.

Melihat muka pemuda itu dalam sekejap saja sudah merah membara, diam-diam laki-laki itu merasa geli, ia yakin setelah menghabiskan tiga mangkuk arak itu, sebentar lagi pasti Toan Ki akan menggeletak mabuk.

Setelah minum mangkuk kedua tadi memang rasa Toan Ki sudah mual dan ingin tumpah, kini ditambahi pula isi mangkuk ketiga itu, keruan isi perutnya seketika bagai diaduk-aduk dan berjungkir balik.

Namun ia tutup mulut rapat-rapat supaya air arak itu tidak tersembur keluar. Sekonyong-konyong perutnya terasa bergetar, arus hawa murni menerjang ke atas hingga keadaan badan rasanya seperti dahulu waktu hawa murni dalam tubuh tak dapat dipusatkan, segera ia menurut ajaran sang paman tempo hari untuk menarik hawa murni ke “Tay-cui-hiat” di pusatnya.

Tak terduga, karena arak yang diminumnya terlalu banyak, arak itu ikut terbawa hawa murni itu hingga tidak dapat terhimpun di Tay-cui-hiat, sebaliknya terus merembes ke Thian-cong-hiat di bagian bahu, terpaksa Toan Ki membiarkannya, dan arak itu terus menyusur ke Kok-cin-hiat di lengan kiri, dari situ akhirnya sampai di Siau-tik-hiat di jari kecil kiri, maka tercurah keluarlah arak itu bagai mata air.

Jalan yang dilalui hawa murni yang dikerahkannya sekarang tiada ubahnya seperti “Siau-tik-kiam”, yaitu satu di antara “Lak-meh-sin-kiam” dari keluarga Toan mereka yang hebat itu. Sebenarnya Siau-tik-kiam itu adalah semacam hawa pedang yang tanpa wujud, tapi kini dari jari kecilnya itu ternyata menetes keluar air arak dengan perlahan.

Tantang air arak menetes keluar dari jari kecilnya, semula Toan Ki sendiri tidak tahu, menyusul “Koan-ciong-hiat” di jari manis kiri pun merembes keluar air arak. Maka sebentar saja pikiran Toan Ki sudah jernih kembali.

Karena tangan kiri Toan Ki itu dilambaikan ke bawah, maka apa yang terjadi itu tidak diketahui oleh laki-laki itu.

Ketika dilihatnya muka Toan Ki yang tadinya merah, sinar matanya buram sebagaimana biasanya orang mabuk, tapi hanya sekejap saja kembali mukanya bercahaya dan segar penuh semangat, keruan orang itu terheran-heran, katanya dengan tertawa, “Tampaknya Hengtay ini lemah gemulai, tapi kekuatan minum arak ternyata sangat hebat.”

Habis berkata, kembali ia menuang penuh dua mangkuk.

“Kekuatan minumku ini tergantung dari keadaan,” ujar Toan Ki dengan tertawa. “Kata orang, ‘ketemu sobat sejati, seribu cawan arak pun sedikit’. Menurut perkiraanku, isi mangkuk ini paling-paling sama banyaknya dengan isi 20 cawan. Maka untuk mencukupi seribu cawan, sedikitnya harus 50 mangkuk besar ini terisi penuh. Cuma Siaute mungkin tidak sanggup menghabiskan 50 mangkuk ini.”

Sembari berkata, segera tangan kanan mengangkat pula mangkuknya dan kembali diminum habis.

Karena tangan kirinya terjulur ke bawah dan bersandar di langkan jendela, maka air arak yang merembes keluar dari jari kecil dan manis tangan kiri itu lantas mengalir ke bawah melalui dinding yang bergandengan dengan langkan jendela itu.

Tentu saja tiada seorang pun yang tahu akan kejadian itu dan tiada sedikit pun tanda yang mencurigakan. Maka tidak antara lama empat mangkuk arak yang diminumnya itu merembes keluar semua melalui jari tangannya itu.

Orang itu sebenarnya yakin dirinya pasti paling kuat minum arak di seluruh jagat ini, tapi kini melihat seorang pelajar kurus lemah seperti Toan Ki ternyata sekaligus mampu menghabiskan empat mangkuk arak keras tanpa sinting sedikit pun, keruan ia terheran-heran. Katanya kemudian, “Bagus, bagus! Memang seribu cawan terlalu sedikit minum bersama sobat sejati. Marilah kuminum dulu.”

Segera ia menuang dua mangkuk penuh dan berturut-turut dihabiskannya. Lalu ia menuangkan dua mangkuk pula untuk Toan Ki. Sekarang Toan Ki sengaja pamerkan kekuatannya minum arak dengan acuh tak acuh serta bersenda gurau, ia tenggak pula kedua mangkuk arak itu seperti orang sedang minum teh saja.

Tentu saja perlombaan minum arak mereka ini menggemparkan tamu-tamu lain, bahkan tukang api, tukang masak dan kuasa restoran sama datang merubung untuk menyaksikan cara minum mereka.

“Pelayan,” tiba-tiba laki-laki itu berseru, “lekas ambilkan pula 20 kati arak!”

Pelayan melelet lidah, tapi ia tidak berani banyak omong terus berlari ke belakang untuk mengeluarkan pula satu guci arak yang dua kali lebih besar daripada tadi.

Begitulah satu mangkuk sama satu mangkuk Toan Ki bergiliran minum dengan laki-laki itu, tampaknya kekuatan kedua orang setanding, maka tiada setengah jam, masing-masing orang sudah menghabiskan lebih 30 mangkuk.

Dengan sendirinya Toan Ki tahu dirinya main sulap dengan jari, arak yang diminumnya itu cuma menyalur ke dalam tubuh untuk kemudian mengalir keluar lagi dengan cepat, maka kekuatan minumnya boleh dikatakan tanpa takaran, biarpun seratus atau dua ratus mangkuk juga bukan apa-apa baginya.

Sebaliknya laki-laki itu benar-benar minum dengan kepandaian yang sejati. Tampaknya sudah lebih 30 mangkuk arak ditenggaknya, tapi mukanya masih tetap tenang-tenang saja tanpa ada tanda mabuk sedikit pun, mau tak mau Toan Ki sangat kagum juga.

Dan karena melihat laki-laki itu sangat gagah perkasa, perasaan permusuhan Toan Ki semula karena menganggap orang adalah begundal Buyung-kongcu, kini berbalik timbul rasa suka bersahabat dengan laki-laki itu. Diam-diam Toan Ki pikir, “Jika minum secara begini dipaksakan terus, sudah tentu aku takkan kalah, tapi bagi orang ini tentu kesehatannya akan terganggu.”

Karena itu, setelah persis minum sampai 40 mangkuk, segera Toan Ki buka suara, “Kita masing-masing sudah minum 40 mangkuk bukan, saudara?”

“Hitungan Hengtay ternyata tepat,” ujar laki-laki itu dengan tertawa.

“Rupanya kita benar-benar telah ketemukan tandingan yang setimpal dan sama-sama kuat,” kata Toan Ki dengan tertawa. “Untuk bisa menentukan kalah atau menang, mungkin tidaklah mudah. Tapi kalau kita minum terus tanpa batas seperti wah, isi kantongku yang bakal jebol, pasti tidak cukup untuk membayar.”

Habis berkata, terus saja ia merogoh saku dan mengeluarkan sebuah dompet sulaman indah dan dilemparkan ke atas meja. “Tek”, memang benar isi dompetnya itu agak kempis.

Sebagai seorang pangeran, dengan sendirinya Toan Ki tidak perlu banyak membekal uang, sebab kalau perlu tentu ada pengawalnya yang akan membayarkan kepentingannya. Apalagi datangnya ke Kanglam ini karena diculik oleh Ciumoti, dengan sendirinya berangkatnya itu tiada membawa sangu apa-apa.

Dompet kain sulaman yang dikeluarkannya ini sangat indah, sekali pandang saja orang akan tahu adalah benda yang bernilai, tapi isinya memang kempis, hal ini pun sekali pandang saja orang akan tahu.

Maka tertawalah laki-laki itu, katanya tiba-tiba kepada salah seorang tamu restoran yang gemuk, “Thio-toaya, rekening kami ini haraplah suka kau bereskannya.”

Tetamu gemuk itu adalah seorang saudagar setengah umur, ia menjawab dengan tertawa, “Sudah tentu, sudah tentu! Jika Kiau-toako sudi memberi muka, pasti Siaute akan menjadi tuan rumah sekadarnya.”

Habis berkata, ia terus mengeluarkan serenceng uang perak dan diserahkan kepada pelayan.

“Terima kasih!” kata laki-laki itu sambil memberi hormat. Lalu Toan Ki digandengnya keluar sambil berkata, “Sobat baik, marilah kita pergi!”

Sungguh girang Toan Ki tak terkatakan. Selama tinggal di negeri Tayli ia adalah putra pangeran yang diagungkan, jarang bisa bergaul dengan kawan-kawan baik sejati. Tapi hari ini tanpa susah-susah, bukan dengan ilmu sastra atau ilmu silat, tapi hanya dengan cara yang aneh, yaitu berlomba minum arak, dan dapatlah mengikat persahabatan dengan seorang laki-laki segagah ini, sungguh kejadian ini dirasakannya sebagai sesuatu yang paling aneh selama hidupnya.

Sambil menggandeng tangan Toan Ki, laki-laki itu lantas mengajaknya turun ke bawah loteng dan meninggalkan restoran itu. Jalan laki-laki itu makin lama makin cepat, hanya sebentar saja mereka sudah sampai di luar kota.

Langkah laki-laki itu bertambah cepat lagi mengikuti jalan raya. Toan Ki himpun tenaga dan selalu berjalan berendeng dengan laki-laki itu, meski dia tidak mahir ilmu silat, tapi tenaga dalamnya sangat kuat, kalau cuma berjalan cepat seperti itu, sama sekali takkan membuatnya lelah atau tersengal-sengal.

Melihat Toan Ki mengikuti jalannya dengan sama cepatnya, laki-laki itu tersenyum, katanya, “Sobat baik, marilah kita berlomba lari!”

Toan Ki menjadi ragu, ia sendiri tidak pernah belajar ilmu silat atau Ginkang segala, cara bagaimana sanggup berlomba dengan orang. Celakanya, sehabis laki-laki itu berkata tadi, tanpa tunggu jawaban Toan Ki terus saja orang tarik tangan anak muda itu dan dilarikan secepat terbang ke depan.

Karena tidak siap sebelumnya, sesudah ikut lari beberapa langkah, hampir saja ia jatuh tersandung, syukur ia dapat menggeser kaki kiri ke samping, dengan demikian barulah ia dapat berdiri tegak lagi. Ternyata langkahnya yang tidak sengaja ini tepat adalah salah satu ilmu langkah dari “Leng-po-wi-poh” yang pernah diyakinkannya itu.

Dan karena langkah yang tak sengaja tapi tepat itu, tanpa terasa ia terus dapat mendahului malah hingga beberapa tindak di muka.

Toan Ki merasa senang, maka langkah kedua segera pakai “Leng-po-wi-poh” pula. Cuma waktu menjalankan ilmu langkah ini harus mencurahkan perhatian sepenuhnya dan tidak boleh berpikir lain.

Tadi ia bergandengan tangan dengan laki-laki itu sambil menahan tenaga dalamnya menurut ajaran sang paman hingga Cu-hap-sin-kang dalam tubuh tidak sampai menyedot hawa murni laki-laki itu. Tapi kini sekali ia menggunakan langkah “Leng-po-wi-poh”, seketika tubuh laki-laki itu tergetar, kesempatan itu segera digunakan Toan Ki untuk melepaskan tangannya.

Maka kedua orang itu sekarang berlari berjajar, begitu cepat mereka berlari hingga pohon-pohon di tepi jalan seakan-akan melayang lewat di samping mereka.

Waktu Toan Ki mempelajari “Leng-po-wi-poh” itu sama sekali tak terpikir olehnya bahwa kepandaian itu akan dipakai untuk berlomba lari dengan orang. Tapi kini sekali dia mainkan ilmu langkah itu, sebagai anak panah yang sudah terpentang di busurnya, mau tak mau harus dilepaskannya. Cuma pikiran untuk menangkan laki-laki itu juga tak ada pada benaknya, ia cuma berlari menurutkan ilmu langkah yang sudah masak diyakinkannya itu, ditambah Lwekangnya sangat tinggi, tentu saja larinya melebihi juara marathon. Apakah laki-laki itu sudah mendahului atau masih ketinggalan di belakang tak sempat dipikirnya lagi.

Dan lari laki-laki itu ternyata makin lama yakin cepat. Hanya sekejap saja Toan Ki sudah ketinggalan jauh di belakang. Tapi asal ayal sedikit, segera Toan Ki dapat menyusulnya lagi. Ia coba melirik pemuda itu, ternyata tindakan Toan Ki tampak berlenggang seenaknya saja, jadi seperti orang lagi berjalan jalan biasa, sedikit pun tiada tanda dipaksakan.

Keruan laki-laki itu sangat heran dan diam-diam bertambah kagum. Segera ia tancap gas hingga Toan Ki tertinggal lagi di belakang.

Begitulah beberapa kali dicoba dan laki-laki itu pun tahu tenaga dalam Toan Ki ternyata sangat kuat, untuk menangkan anak muda itu dalam jarak dekat memang gampang, tapi kalau berlari jauh, pasti dirinya akan menyerah kalah.

Mendadak ia terbahak-bahak, lalu berhenti dan berduduk di atas batu di bawah pohon yang rindang, serunya, “Buyung-kongcu, hari ini Kiau Hong benar-benar menyerah padamu, Koh-soh Buyung memang bukan omong kosong belaka!”

Cepat Toan Ki berhenti juga, dan ketika dipanggil sebagai “Buyung-kongcu”, keruan ia terheran-heran. Segera jawabnya, “Siaute she Toan bernama Ki, berasal dari negeri Tayli, agaknya Hengtay salah mengenali orang!”

Seketika wajah laki-laki itu menampilkan rasa heran dan sangsi, katanya dengan tak lancar, “Apa? Kau … kau … bukan Buyung Hok, Buyung-kongcu?”

“Sejak Siaute datang di Kanglam sini, setiap hari selalu mendengar orang menyebut nama Buyung-kongcu, sungguh Siaute kagum tak terhingga kepada nama itu, cuma sayang sampai saat ini tidak sempat berkenalan dengan dia,” demikian sahut Toan Ki.

Diam-diam ia pun heran, laki-laki itu salah sangka dirinya sebagai Buyung Hok, sikapnya itu tampak bukan pura-pura saja. Jika demikian, dengan sendirinya ia bukan begundal Buyung Hok itu?

Berpikir demikian, makin besar rasa sukanya kepada laki-laki itu, maka tanyanya, “Hengtay barusan menyebut namanya sendiri, apakah benar she Kiau bernama Hong?”

“Benar, Cayhe Kiau Hong adanya,” sahut laki-laki itu dengan tetap heran.

Toan Ki lantas duduk juga di atas batu itu, katanya, “Siaute baru saja datang ke Kanglam sini lantas dapat bersahabat dengan kesatria gagah seperti Kiau-heng, sungguh sangat beruntung.”

“O, jadi engkau anak murid keluarga Toan dari Tayli, pantas, pantas!” kata Kiau Hong sesudah berpikir sejenak. “Toan-heng ada urusan apa datang ke daerah selatan sini?”

“Sungguh memalukan kalau diceritakan, kedatanganku ke sini sebenarnya ditawan orang,” tutur Toan Ki.

Lalu ia ceritakan pengalamannya cara bagaimana Ciumoti menawannya dan menggondolnya ke sini serta bertemu dengan kedua dayang Buyung Hok, semua itu ia tuturkan secara ringkas. Namun begitu sedikit pun tidak mengurangi apa yang telah terjadi sebenarnya, sama sekali ia tidak malu-malu untuk menceritakan tentang dirinya dihina dan disiksa orang.

Habis mendengar, Kiau Hong terheran-heran dan senang pula, katanya, “Toan-heng, engkau sungguh seorang yang berhati jujur dan suka terus terang, biarpun baru kenal, namun kita sudah bergaul sebagai kawan lama. Jika engkau sudi, maukah kita mengangkat saudara?”

Ternyata umur Kiau Hong lebih tua 12 tahun daripada Toan Ki, dengan sendirinya Toan Ki harus memanggilnya sebagai Toako dan Kiau Hong memanggilnya Hiante. Begitulah mereka mengadakan upacara singkat dan sederhana untuk mengangkat saudara.

“Ketika di atas restoran itu, Siaute dengar bahwa Toako telah berjanji untuk bertemu dengan musuh pada malam ini,” demikian kata Toan Ki kemudian. “Meski Siaute tidak mahir ilmu silat tapi juga ingin melihat ramai-ramai ke sana. Dapatkah Toako mengizinkan Siaute ikut?”

Kiau Hong coba tanya lagi dan benar-benar mengetahui Toan Ki memang tidak bisa ilmu silat, keruan ia tambah heran, katanya, “Dengan tenaga dalam Hiante yang hebat ini untuk belajar silat tingkat tinggi sudah tentu seperti orang merogoh saku mengambil barang sendiri, sedikit pun tidak sukar. Kalau Hiante ingin menyaksikan pertempuran malam ini, apa alangannya? Sebentar bolehlah ikut ke sana. Cuma musuh terlalu ganas dan keji, Hiante sekali-kali jangan unjukkan diri.”

“Sudah tentu Siaute menurut segala pesan Toako,” kata Toan Ki dengan girang.

“Dan sekarang waktunya masih cukup, marilah kita kembali ke kota untuk minum arak pula, setelah itu barulah kita berangkat ke Hui-san untuk menemui musuh,” ajak Kiau Hong.

Mendengar sang Toako ingin minum arak lagi Toan Ki kaget. Masakan baru habis minum 40 mangkuk besar dan sekarang sudah ingin minum lagi? Maka sahutnya segera, “Toako, cara Siaute berlomba minum denganmu tadi sebenarnya cuma tipuan belaka, harap Toako jangan marah.”

Segera ia acungkan jari kecil kiri ke depan, “crit”, arus hawa terus muncrat keluar dari Siau-tik-hiat hingga debu di tanah bertebaran oleh semburan hawa itu.

Keruan Kiau Hong terkejut, katanya dengan tergegap, “Hiante, apakah … apakah ini ilmu sakti ‘Lak-meh-sin-kiam’?”

“Benar,” sahut Toan Ki, “belum lama Siaute mempelajarinya, masih sangat hijau.”

Untuk sejenak Kiau Hong termangu-mangu, katanya kemudian dengan gegetun, “Pernah kudengar cerita guruku almarhum bahwa keluarga Toan di Tayli memiliki semacam ilmu ‘Lak-meh-sin-kiam’ yang dapat membunuh orang dengan hawa pedang tanpa wujud, cuma ilmu sakti itu sudah lama lenyap, maka di zaman ini tiada seorang yang dapat memainkannya. Tak terduga Hiante ternyata mahir ilmu sakti itu, sungguh aku tidak pernah menyangka sebelumnya.”

“Ah, Toako terlalu memuji,” sahut Toan dengan menyesal. “Padahal ilmu ini kecuali dipakai main licik tatkala berlomba minum arak dengan Toako, toh tiada berguna pula. Buktinya aku ditawan Ciumoti, sedikit pun aku tidak mampu melawannya. Tentang Lak-meh-sin-kiam ini sebenarnya terlalu dibesar-besarkan oleh orang luar. Toako, arak kurang baik bagi kesehatan badan, minum sedikit saja, kita jangan minum lagi.”

Kiau Hong terbahak-bahak, katanya, “Nasihat Hiante memang benar. Cuma Engkohmu ini sehat sebagai kerbau, sejak kecil sudah suka minum arak, semakin banyak minum semakin bersemangat. Malam ini aku akan menghadapi musuh, maka perlu minum lebih banyak agar dapat melayani mereka dengan baik.”

Begitulah sambil bicara mereka kembali ke kota Bu-sik, kini mereka tidak balapan lari lagi, tapi jalan berendeng dengan perlahan.

Sifat Toan Ki memang suka bersahabat, maka hatinya sangat gembira dapat mengikat saudara dengan Kiau Hong. Tapi ia pun tidak pernah lupa pada Buyung Hok dan Ong Giok-yan. Karena itu kemudian ia lantas tanya Kiau Hong, “Toako, semula engkau salah sangka Siaute sebagai Buyung-kongcu, jangan-jangan muka Buyung-kongcu itu rada mirip mukaku?”

“Aku pun tidak pernah kenal dia, hanya namanya yang tersohor sudah lama kudengar, kedatanganku ke sini ini justru disebabkan dia,” sahut Kiau Hong. “Kabarnya Buyung Hok itu baru berusia 25-26 tahun, cakap dan gagah, sebenarnya masih lebih tua daripada Hiante. Tapi tidak terduga bahwa di selatan sini kecuali Buyung Hok masih terdapat pula seorang muda dan cakap dengan ilmu silat yang tinggi seperti diri Hiante, makanya aku salah mengenalimu. Sungguh aku merasa malu.”

Mendengar Buyung Hok itu “ilmu silatnya tinggi dan mukanya cakap”, mau tak mau Toan Ki merasa iri. Tanyanya pula, “Dan jauh-jauh Toako datang ke sini untuk mencari dia, maksudnya hendak berkawan atau menjadi lawannya?”

Kiau Hong menghela napas, mukanya menjadi muram, sahutnya, “Sebenarnya aku sangat berharap dapat mengikat persahabatan dengan seorang tokoh muda seperti dia. Tapi mungkin sukar terkabul cita-citaku ini.”

“Sebab apa?” tanya Toan Ki.

“Sebab seorang kawanku yang paling karib, dua bulan yang lalu telah tewas di atas Hui-san di Bu-sik sini, semua orang mengatakan hal itu adalah perbuatan Buyung Hok,” tutur Kiau Hong.

“Ai, Ih-pi-ci-to, hoan-si-pi-sin (gunakan cara orang itu untuk dilakukan atas dia sendiri)!” tiba-tiba Toan Ki bergumam.

“Benar,” kata Kiau Hong. “Justru kawanku itu menjagoi dunia Kangouw dengan ‘Soh-au-kim-na-jiu’ (ilmu menangkap dengan mencekik leher), tapi dari mayatnya ternyata tulang lehernya remuk, tidak salah lagi dia dibinasakan oleh Soh-au-kim-na-jiu andalannya itu.”

Bicara sampai di sini, suara Kiau Hong menjadi parau, tenggorokan seakan-akan tersumbat, wajah sangat sedih. Setelah merandek sejenak, kemudian ia meneruskan, “Tapi kejadian di Kangouw memang aneh-aneh dan di luar dugaan orang, tidak boleh melulu percaya kepada berita sepihak lantas sembarangan menuduh kesalahan orang. Sebab itulah maka kudatang sendiri ke sini untuk menyelidiki duduk perkara yang sebenarnya.”

“Dan bagaimanakah duduk perkara yang sebenarnya?” tanya Toan Ki.

Kiau Hong menggeleng kepala, sahutnya, “Masih sulit untuk dikatakan sekarang. Kawanku itu sudah lama tersohor namanya, tindak tanduknya sangat prihatin, rasanya tanpa sebab tidak mungkin cekcok dengan Buyung-kongcu. Dan mengapa dia sampai ditewaskan orang, sungguh hal ini agak membingungkan.”

Toan Ki mengangguk-angguk, pikirnya, “Meski lahirnya Toako kelihatan kasar, tapi batinnya sebenarnya sangat cermat, dibanding Ho-siansing, Suma Lim dan lain-lain yang tanpa mencari tahu lebih dulu lantas menuduh Buyung-kongcu sebagai pembunuh. Nyata cara bertindak Toako ini lebih hati-hati dan lebih bijaksana.”

Maka ia lantas tanya lagi, “Dan musuh yang berjanji akan bertemu dengan Toako itu orang macam apa lagi?”

“Itulah ….” baru sekian katanya, tiba-tiba terlihat dua orang berdandan mirip pengemis berlari datang dari depan sana dengan cepat. Rupanya kedua orang itu berlari dengan sekuat Ginkang mereka, maka hanya sekejap saja sudah sampai di depan Kiau Hong.

Kira-kira beberapa meter di depan Kiau Hong, kedua orang itu berhenti serta menyingkir ke tepi jalan, lalu membungkuk memberi hormat sambil menutur, “Lapor Kiau-pangcu, ada empat orang musuh telah menerjang ke dalam ‘Tay-gi-hun-tho’ (cabang pimpinan bagian Gi), kepandaian mereka sangat hebat, Cio-thocu sampai kewalahan, maka hamba diperintahkan minta bala bantuan kepada ‘Tay-jin-hun-tho’ (cabang pimpinan Jin).”

Mendengar dua orang itu menyebut Kiau Hong sebagai “Pangcu”, sikap mereka pun sangat hormat, diam-diam Toan Ki membatin sang Toako pasti ketua dari sesuatu Pang-hwe (perkumpulan atau organisasi) dunia Kangouw.

Sementara itu dilihatnya Kiau Hong telah mengangguk, lalu bertanya, “Macam apakah musuh itu?”

“Terdiri dari tiga wanita dan seorang laki-laki,” sahut salah seorang pengemis itu. “Laki-laki itu tinggi kurus dan setengah umur, tapi sangat kasar dan kurang ajar.”

“Hm, Cio-thocu juga terlalu, masakan melawan seorang saja kewalahan?” jengek Kiau Hong.

“Lapor Pangcu,” demikian orang itu menutur pula. “Ketiga wanita itu pun sangat lihai.”

“O, ya? Baiklah, coba kulihat ke sana,” kata Kiau Hong dengan tertawa.

Kedua laki-laki itu mengiakan dengan girang, lalu membungkuk menyilakan sang Pangcu berjalan dulu.

“Dan kalian tetap pergi kepada Tay-jin-hun-tho dan minta Sin-thocu mengirim bala bantuan,” ujar Kiau Hong pula.

Segera laki-laki yang lebih tua berkata, “Semula Cio-thocu tidak tahu Pangcu berada di sini, maka hamba disuruh minta bantuan kepada Sin-thocu. Tapi kini Pangcu sendiri sudi turun tangan, hanya beberapa musuh tak berarti itu sudah tentu dengan mudah dapat dibekuk.”

“Segala apa harus bertindak lebih hati-hati,” kata Kiau Hong dengan menarik muka.

Maka kedua laki-laki itu tidak berani bicara lagi, mereka mengiakan dan memberi hormat pula, lalu berlari pergi ke arah yang dituju tadi.

“Hiante, apakah engkau akan ikut ke sana bersamaku?” tanya Kiau Hong.

“Tentu saja,” sahut Toan Ki tanpa pikir.

Kiau Hong lantas membawa Toan Ki berangkat, setelah berjalan beberapa li, mereka membelok ke kiri menyusur gili-gili sawah ladang yang berliku-liku, tidak lama Toan Ki sudah tak dapat mengenali jalan yang dilaluinya itu.

Kira-kira beberapa li pula, baru saja mereka melintasi sebuah hutan, maka terdengarlah suara seorang yang lucu sedang berkata, “Buyung-hiante kami telah pergi ke Lokyang untuk mencari Pangcu kalian, mengapa orang-orang Kay-pang kalian berbalik datang ke Bu-sik sini? Bukankah ini sengaja menghindari untuk bertemu? Jika kalian takut, itulah urusan kalian sendiri, tapi Buyung-hiante kami bukankah akan buang tenaga percuma pergi ke sana? Huh, benar-benar tidak tahu aturan!”

Mendengar suara orang itu, seketika hati Toan Ki berdebar. Kiranya itulah suara Pau-samsiansing yang suka berkata “bukan-bukan” itu. Diam-diam ia pikir apakah nona Ong juga datang bersama dia?

Lalu terdengar suara seorang dengan logat utara menjawab, “Apakah Buyung-kongcu sudah lebih dulu mengadakan perjanjian dengan Kiau-pangcu kami?”

“Berjanji atau tidak sama saja,” sahut Pau-samsiansing, “kalau Buyung-kongcu sudah pergi ke Lokyang, betapa pun Pangcu kalian tidak boleh pergi ke lain tempat hingga Buyung-hiante datang percuma. Sungguh tak tahu aturan, tidak tahu aturan!”

“Jika begitu, apakah Buyung-kongcu telah mengirim berita kepada Kay-pang kami tentang kunjungannya?” tanya orang itu.

“Dari mana kutahu? Aku toh bukan Buyung-kongcu, pertanyaanmu benar-benar terlalu, sungguh tidak tahu aturan!” demikian sahut Pau-samsiansing.

Sungguh mendongkol Kiau Hong oleh kata-kata Pau-samsiansing yang suka menang sendiri itu. Dengan langkah lebar segera ia menuju tempat suara itu. Maka tertampaklah di situ telah berdiri dua orang berhadapan.

Akan tetapi bagi Toan Ki yang lantas terlihat olehnya adalah si gadis jelita yang berdiri di belakang Pau-samsiansing itu. Dan sekali sinar matanya kontak dengan sorot mata si nona, maka tak terpisahkan lagi pandangannya.

Gadis jelita itu memang benar Giok-yan adanya. Ia bersuara heran perlahan ketika melihat munculnya Toan Ki. “Engkau juga datang ke sini?” sapanya perlahan.

“Ya, dan engkau pun berada di sini?” sahut Toan Ki. Terus saja ia pandang si nona dengan termangu-mangu seperti orang linglung.

Dengan wajah merah lekas Giok-yan berpaling ke arah lain, pikirnya, “Mengapa orang ini sedemikian kurang ajar, memandang orang tanpa berkedip?”

Namun demikian, ia tahu Toan Ki sangat kesengsem pada kecantikannya, hal ini dengan sendirinya menyenangkan hatinya, maka ia pun tidak menjadi marah oleh kelakuan pemuda itu.

Melihat gadis secantik Giok-yan, mau tak mau Kiau Hong juga tergetar hatinya. Tapi segera ia pun memerhatikan ketiga orang yang lain.

Ia lihat kedua gadis yang lain, yaitu A Cu dan A Pik, yang satu lincah centil dan yang lain ramah halus. Tapi kedua gadis itu tidak menjadikan pikiran Kiau Hong, yang mendongkolkan dia adalah sikap Pau-samsiansing yang mentang-mentang, seorang tokoh seperti Cio Ci-tong, Thocu Kay-pang, ternyata sama sekali dipandang sebelah mata olehnya.

Begitulah Cio Ci-tong menjadi girang ketika melihat sang Pangcu datang, segera ia menyambut maju dan memberi hormat diikut oleh anggota-anggota Kay-pang yang berada di belakangnya.

“Hamba sekalian memberi sembah bakti kepada Pangcu!” seru Cio Ci-tong.

Ternyata sama sekali Pau-samsiansing tidak ambil pusing atas kedatangan Kiau Hong, seperti tidak terjadi apa-apa kemudian ia pun bertanya, “Ehm, apakah saudara ini Kiau-pangcu dari Kay-pang? Awak bernama Pau Put-tong, tentu pernah kau dengar namaku.”

“O, kiranya Pau-samsiansing, memang nyata tingkah lakumu benar-benar Pau-put-tong (tanggung tidak sama dengan orang lain),” sahut Kiau Hong. “Sudah lama kukagum kepada namamu yang besar, kini dapat berjumpa, sungguh sangat beruntung.”

“Ah, nama besar apa?” ujar Pau-samsiansing alias Pau Put-tong. Kalau nama busuk sih memang sudah terkenal di Kangouw. Setiap orang juga tahu aku Pau Put-tong paling suka cari gara-gara dan banyak berbuat kejahatan. Hehehe, Kiau-pangcu, secara sembarangan kau datang ke Kanglam sini, inilah terang kesalahanmu.”

Kay-pang adalah suatu organisasi terbesar pada zaman itu, kedudukan Pangcu sangat diagungkan siapa pun juga terutama anggota Kay-pang memandang Pangcu mereka seakan-akan malaikat dewata yang terpuji. Kini melihat Pau Put-tong bersikap kasar terhadap sang Pangcu, bahkan mengucapkan kata-kata mencela, keruan anggota Kay-pang yang berada di situ menjadi gusar. Beberapa orang yang berdiri di belakang Cio Ci-tong lantas gosok-gosok kepalan dan ingin memberi hajaran kepada Pau Put-tong.

Namun Kiau Hong ternyata tenang-tenang saja, sahutnya dengan tawar, “Mengapa aku dituduh bersalah, coba Pau-samsiansing memberi penjelasan.”

“Ya, terang engkau salah,” seru Pau Put-tong. “Buyung-hiante kami tahu engkau Kiau-pangcu adalah seorang tokoh, tahu pula dalam Kay-pang tidak banyak jago-jago lain, makanya dia ke Lokyang dengan maksud berkenalan dengan engkau, tapi mengapa kalian berlaku senang-senang dan datang ke Kanglam malah? Hehe, sungguh tidak tahu aturan!”

Kiau Hong hanya tersenyum, sahutnya, “Buyung-kongcu sudi berkunjung ke tempat kami di Lokyang, bila sebelumnya kudapat kabar, memang seharusnya kunanti kedatangan tamu agungnya. Tentang keayalanku menyambut dia, biarlah di sini aku minta dimaafkan.”

Sambil berkata, ia terus memberi hormat dengan Kiongchiu (kedua kepalan dirangkap di depan dada).

Diam-diam Toan Ki memuji kebesaran jiwa Toako itu, pikirnya, “Kata-kata Toako ini benar-benar sangat bijaksana, memang sesuai dengan wibawa seorang Pangcu. Sebaliknya kalau dia marah kepada Pau-samsiansing, hal ini malah akan merosotkan kedudukannya yang diagungkan itu.”

Tak terduga Pau Put-tong itu terima mentah-mentah penghormatan Kiau Hong tanpa sungkan-sungkan, ia manggut-manggut dan berkata, “Ehm, orang salah seharusnya minta maaf. Kata peribahasa, orang yang tidak tahu, tidak berdosa. Tapi apakah perlu dihukum atau didenda, hak ini bukanlah kami yang menentukan.”

Begitulah sedang Pau Put-tong mencerocos dengan senang, tiba-tiba terdengar di balik hutan sana riuh ramai dengan suara orang terbahak-bahak hingga menggema angkasa, lalu suara seorang berkata, “Haha, sudah sering kudengar bahwa Pau Put-tong di daerah Kanglam suka kentut, nyatanya memang bukan omong kosong belaka!”

“Ya, ya, orang bilang kentut yang berbunyi itu tidak bau, yang bau itu tentu kentut tak berbunyi,” demikian kontan Pau-samsiansing menjawab, “Tapi kentut Kay-pang-su-lo (empat tertua Kay-pang) ini sudah berbunyi keras lagi berbau busuk, nyata memang tidak omong kosong belaka!”

“Jika Pau-samsiansing sudah kenal nama Kay-pang-su-lo, mengapa masih jual lagak di sini?” seru suara di balik pohon itu.

Lenyap suaranya, sekonyong-konyong dari empat penjuru semak pohon masing-masing muncul seorang tua, ada yang rambut dan jenggotnya sudah ubanan, ada yang bermuka merah bergigi rajin, semuanya masih gagah dan kuat.

Begitu muncul, keempat kakek ini lantas menduduki empat penjuru hingga Pau-samsiansing dan Giok-yan bertiga terkurung di tengah.

Kakek-kakek itu bersenjata pula, ada yang berwajah kereng, ada yang tertawa-tawa dengan sikap yang berbeda-beda.

Pau Put-tong sendiri cukup tahu Kay-pang adalah suatu perkumpulan terkemuka di kalangan Kangouw, jago Kay-pang tak terhitung banyaknya, lebih-lebih Kay-pang-su-lo sangat terkenal dalam Bu-lim, setiap kakek itu memiliki ilmu silat yang lihai. Tapi dasar watak Pau Put-tong memang angkuh dan tidak mau kalah, sejak kecil sifatnya tidak gentar kepada siapa pun juga.

Kini melihat Kay-pang-su-lo muncul sekaligus serta menduduki tempat mengepung, mau tak mau ia mengeluh juga, “Wah, celaka, hari ini nama baik Pau-samsiansing, mungkin akan runtuh habis-habisan.”

Namun lahirnya sedikit pun ia tidak memberi tanda khawatir, segera ia pun berseru, “Kalian berempat orang tua ini ada urusan apa dengan aku? Akan mengerubut maju sekaligus untuk berkelahi dengan Pau-samsiansing? Silakan jika begitu, memang selama hidup Pau-samsiansing paling suka berkelahi!”

“Siapakah orang di jagat ini paling gemar berkelahi? Apakah Pau-samsiansing?” tiba-tiba suara seorang bergema di udara. “Salah, salah! Bukan dia melainkan Hong Po-ok, Hong-siya!”

Waktu Toan Ki mendongak, tertampak di atas pucuk dahan pohon sana berdiri satu orang. Dahan melambai-lambai hingga orang itu pun turut bergoyang naik turun dengan gaya indah. Perawakan orang itu kecil, usianya antara 30 tahun lebih, pipinya cekung, berkumis mirip ekor tikus, alisnya panjang melambai ke bawah, mukanya itu lebih mirip setan daripada manusia.

Tapi lantas terdengar A Pik berseru dengan girang, “He, Hong-siko, apakah engkau sudah mendapat kabar baik Kongcu?”

Kiranya laki-laki jelek ini adalah Hong Po-ok berjuluk “It-tin-hong” atau angin lesus. Ia merupakan salah seorang pembantu kepercayaan Buyung Hok.

Maka terdengar Hong Po-ok berteriak, “Bagus, bagus! Hari ini dapat menemukan lawan yang baik. Tentang urusan Kongcu, biarlah tunggu sebentar, kita bicarakan nanti, A Pik!”

Habis berkata, ia terjun ke bawah dengan berjumpalitan, ketika hampir mendekat tanah, mendadak ia menubruk ke arah si kakek gemuk yang berdiri di sisi utara sana.

Kakek yang bertubuh potongan gajah dungkul itu bersenjatakan sebatang tongkat baja. Mendadak tongkatnya menyodok ke depan mengincar dada Hong Po-ok.

Bulat tengah tongkat itu kira-kira sebesar telur. Panjangnya dua meter, jadi lebih tinggi daripada tubuh kakek itu sendiri. Biarpun badannya gemuk pendek, tapi kepandaiannya sangat hebat, begitu tongkatnya bergerak, seketika menyambar serangkum angin yang keras.

Tapi Hong Po-ok benar-benar pemberani, bukannya menghindar atau mundur, sebaliknya ia memapak maju malah dan hendak merebut tongkat lawan. Tapi mendadak kakek itu menyendal tongkatnya hingga menjengkit ke atas untuk menyodok muka Hong Po-ok.

“Bagus?” seru Po-ok sambil mendak ke bawah, menyusul tangannya lantas terulur hendak mencengkeram iga si kakek.

Sesudah tongkatnya didorong maju, untuk menarik kembali senjatanya buat menangkis sudah tidak keburu lagi, sedangkan musuh tampak menerjang maju, terpaksa kakek itu angkat sebelah kakinya untuk mendahului menendang perut Hong Po-ok.

Namun Po-ok sempat berkelit ke samping, berbareng si kakek di sebelah timur yang bermuka merah bercahaya itu lantas diterjang, belum tiba di depan musuh, tahu-tahu sinar putih berkelebat, tangannya sudah memegang sebatang golok dan lantas digunakan untuk menebas.

Senjata yang dipegang kakek bermuka merah itu pun sebatang golok yang berkepala setan atau Kui-thau-to, punggung golok itu tebal dan mata golok tipis, batang golok itu sangat panjang. Melihat Hong Po-ok menebas dengan goloknya, cepat kakek itu tegakkan Kui-thau-to untuk menangkis sambil menyampuk sekeras-kerasnya untuk mengadu senjata dengan lawan.

“Senjatamu lihai, aku tidak ingin mengadu golok denganmu!” seru Hong Po-ok mendadak. Segera ia tarik kembali goloknya dan putar ke arah lain untuk membacok si kakek berjenggot putih yang berdiri di sebelah selatan.

Senjata kakek berjenggot putih adalah sebatang gada bersegi banyak (astakona), di atas gada penuh bergigi tajam melengkung seperti kait. Senjata aneh ini dapat digunakan merampas senjata lawan.

Melihat Hong Po-ok menyerang ke arahnya dengan cepat, sedangkan serangan si kakek bermuka merah masih belum ditarik kembali, maka kakek berjenggot ini tidak ingin bergebrak, sebab dia ikut menyerang, itu berarti Hong Po-ok digencet dari muka dan belakang, hal mana akan merosotkan pamor Kay-pang-su-lo yang tidak pernah main keroyok. Maka ia lantas melompat menyingkir dan mengalah sejurus kepada lawan.

Tak tersangka orang she Hong itu paling suka berkelahi, semakin ramai semakin memenuhi seleranya. Sedang mengenai kalah atau menang tidak menjadi soal baginya, bahkan peraturan-peraturan umum di waktu berkelahi juga tidak ditaati olehnya. Maka begitu si kakek berjenggot menyingkir, sebaliknya Hong Po-ok lantas merangsang maju, kesempatan itu digunakan untuk membacok empat kali secara bertubi-tubi, setiap serangannya cepat dan berbahaya.

Sungguh sama sekali tak terduga oleh siapa pun bahwa tindakan si kakek yang sengaja mengalah itu lantas disalahgunakan oleh Hong Po-ok, keruan si kakek sangat mendongkol dan terpaksa menangkis sambil mundur empat tindak baru dapat berdiri dengan kuat pula, kini ia sudah membelakangi sebatang pohon, untuk mundur lagi terang tidak mungkin. Tapi sedikit ia himpun tenaga murni, mendadak gadanya menyabet ke depan. Serangan ini adalah salah satu serangan mematikan dari kepandaiannya, hanya dikeluarkan bila dalam kepepet.

“Coba lagi yang lain!” tiba-tiba Hong Po-ok berseru, dan serangan si kakek ternyata tak ditangkisnya, tapi terus melompat mundur sambil putar goloknya, tahu-tahu si kakek keempat dari Kay-pang-su-lo itu yang diserang.

Keruan si kakek berjenggot yang baru sempat balas menyerang sekali, tapi musuh sudah lantas menyingkir pergi, sungguh gusarnya tak terkatakan.

Kedua tangan kakek keempat itu ternyata sangat panjang, sedikitnya lebih panjang belasan senti daripada orang biasa. Tangan kirinya membawa semacam senjata yang lemas, begitu melihat Hong Po-ok menyerang tiba, cepat tangan kirinya bergerak, senjata yang dipegangnya itu dikebas hingga terpentang.

Dan baru sekarang semua orang dapat melihat jelas, kiranya senjatanya itu adalah sebuah karung beras biasa. Karena dipentang dan kemasukan angin, mulut karung itu lantas terbuka terus mengurung ke atas kepala Hong Po-ok.

Kaget dan girang Hong Po-ok, serunya, “Bagus, bagus! Biar aku berkelahi dengan kau!”

Kiranya selama hidup Hong Po-ok ini paling suka berkelahi, apabila lawan mempunyai senjata yang berbentuk aneh, atau ilmu silat luar biasa, maka ia pasti sangat senang untuk menjajalnya.

Sifat ini mirip orang yang gemar makan enak misalnya, kalau mendengar koki dari rumah makan mana pandai menyajikan sesuatu masakan yang aneh dan lezat, maka pasti akan dicobanya.

Kini dilihatnya lawan bersenjatakan sebuah karung, bahkan mendengar pun belum pernah. Di samping senang diam-diam ia pun waspada, sebab belum diketahuinya cara bagaimana nanti harus mematahkan serangan senjata lawan yang aneh itu.

Sebagai percobaan, dengan hati-hati ia gunakan ujung golok untuk menikam karung lawan apakah benda itu dapat dilubangi atau tidak.

Tak terduga si kakek tangan panjang itu cepat pindahkan karung ke tangan kanan, sedang tangan kiri mendadak menjotos ke depan.

Namun Hong Po-ok sempat dongak kepala ke belakang, menyusul cepat ia putar golok untuk mengutik selangkangan kakek itu. Tapi di luar dugaannya, kakek itu ternyata sudah berhasil meyakinkan “Thong-pi-kun” (ilmu pukulan memulurkan tangan), pukulannya tampaknya sudah sepenuhnya dilontarkan, namun justru di luar dugaan orang kepalannya mendadak dapat mulur lebih panjang belasan senti.

Untung selama hidup Hong Po-ok paling gemar berkelahi, pertempuran besar atau kecil entah sudah berapa ratus kali dialaminya. Dalam hal pengalaman serta taktik boleh dikata tiada bandingannya. Maka pada saat tiada jalan lain untuk menghindari jotosan kakek itu, mendadak mulutnya mengap hendak menggigit kepalan lawan yang mengancam itu.

Dengan jotosan itu, si kakek tangan panjang yakin paling sedikit pasti akan bikin rontok beberapa buas gigi orang, siapa duga ketika kepalan sudah dekat serangannya, sekonyong-konyong lawan membuka mulut, dengan giginya yang putih gilap itu hendak menggigit. Dalam kagetnya cepat si kakek menarik kembali tangannya, namun toh terlambat sedetik, ia menjerit sekali, jarinya kena digigit sekali oleh Hong Po-ok.

Keruan di antara penonton ada yang gusar dan geli oleh kejadian itu, mereka sama memaki dan tertawa.

Sebaliknya dengan sungguh-sungguh Pau Put-tong lantas berseru, “Bagus Hong-site, tipu seranganmu ‘Lu-Tong-pin-kah-kau’ ini benar-benar sudah terlatih sampai puncaknya sempurna, tidak percumalah engkau berlatih giat selama berpuluh tahun ini, sudah beratus, bahkan beribu anjing belang hitam, putih, dan warna lain yang telah kau gigit mampus dan baru dapat mencapai kesempurnaan seperti hari ini.”

Padahal caranya Hong Po-ok menggigit orang adalah perbuatan yang terpaksa dan licik, seorang yang sedikit tahu harga diri tentu tidak berkelahi dengan cara begini. Tapi selamanya Hong Po-ok memang tidak pantang memakai cara apa pun, yang penting baginya cuma berkelahi.

Justru Pau Put-tong sengaja membual samping, caranya menggigit yang tidak masuk dalam kamus silat itu sengaja dikatakan sebagai suatu, tipu silat mahalihai dengan nama “Lu-Tong-pin-kah-kau” atau Lu Tong-pin menggigit anjing.

Lu Tong-pin adalah dewa terkenal dalam cerita Pat-sian (delapan dewa), menurut pemeo yang lazim, yang ada cuma “Kau-kah Lu Tong-pin”, artinya maksud baik orang disangka jelek. Tapi kini hal itu oleh Pau Put-tong sengaja dibalik hingga menjadi Lu Tong-pin menggigit anjing.

Begitulah saking gelinya Toan Ki lantas tanya juga kepada Ong Giok-yan, “Nona Ong, segala macam ilmu silat di dunia ini, semuanya kau pelajari dengan baik. Tapi cara menggigit orang ini termasuk kungfu aliran atau golongan mana?”

Giok-yan tersenyum, sahutnya, “Ilmu ini adalah kepandaian khas Hong-siko, aku sendiri tidak tahu.”

“Haha, kau tidak tahu?” seru Pau Put-tong dengan tertawa. “Ah, terlalu dangkal pengetahuanmu, masakah tipu ‘Lu Tong-pin-kah-kau’ juga tidak tahu, tipu ini meliputi 8 kali 9 menjadi 72 jurus perubahan, semacam ilmu silat yang mahatinggi.”

Melihat Giok-yan bergembira hati, Toan Ki menjadi lupa daratan dan mestinya akan ikut berkelakar dengan Pau Put-tong, tapi mendadak teringat olehnya bahwa si kakek tangan panjang yang digigit itu adalah bawahan Kiau Hong, mana boleh dirinya ikut mencemoohkannya? Maka lekas ia urungkan maksudnya.

Sementara itu pertarungan di tengah kalangan masih berlangsung dengan seru, tampak si kakek tangan panjang sedang putar karung dengan kencang hingga berwujud suatu lingkaran bayangan dan Hong Po-ok seakan-akan terkurung di tengah-tengah karung itu. Tapi ia dapat melayani lawan dengan sama kuatnya, sedikit pun tidak kelihatan kewalahan. Ia sudah merasakan ilmu Thong-pi-kun yang lihai si kakek, yang masih belum diketahui adalah sampai di mana kehebatan karung lawan itu. Sedangkan tipu “Lu Tong-pin-kah-kau” tadi cuma digunakan secara kebetulan saja, terang tidak mungkin dapat diulangi lagi.

Melihat Hong Po-ok ternyata sanggup menempur si kakek tangan panjang yang terhitung salah satu tokoh terkemuka dari Kay-pang-su-lo, diam-diam Kiau Hong merasa heran, karena itu penilaiannya kepada Buyung-kongcu menjadi lebih tinggi lagi setingkat.

Ketiga kakek Kay-pang yang lain sudah mundur ke tempat masing-masing untuk menyaksikan pertempuran kawannya itu, tapi biarpun si kakek tangan panjang bakal menang atau kalah, terang mereka tidak mungkin maju membantu, mereka harus menjaga nama baik mereka, tidak nanti mereka main keroyok hingga diolok-olok orang.

Di sebelah sana A Pik menjadi khawatir melihat sampai sekian lama Hong Po-ok, masih belum dapat mengalahkan lawannya, tanyanya kepada Giok-yan, “Siocia, permainan karung si kakek itu berasal dari golongan manakah?”

Giok-yan berkerut kening, sahutnya, “Ilmu silat begini tidak pernah kubaca dalam buku. Tipu pukulannya adalah Thong-pi-kun, sedangkan permainan karung itu mendekati 13 jurus ilmu permainan ruyung dari Hok-gu-san dan juga mirip gaya permainan 81 jurus Sam-ciat-kun (toya tiga ruas) dari keluarga Ui di Oupak.”

Kata-kata Giok-yan itu sebenarnya tidak keras, tapi bagi pendengaran si kakek tangan panjang bagaikan halilintar yang memekak telinga. Kiranya ia sendiri memang anak murid keluarga Ui di Oupak, ilmu Sam-ciat-kun adalah ilmu warisan leluhur, tapi kemudian ia berbuat dosa dan melarikan diri, ia ganti nama dan tukar she serta tidak pernah menggunakan Sam-ciat-kun lagi, hingga orang lain tidak kenal asal usulnya. Tapi kini dalam pertarungan sengit itu, tanpa merasa sedikit banyak ia terpaksa mengeluarkan kepandaian aslinya hingga dapat diketahui oleh Giok-yan. Keruan ia terkejut dari mana dara jelita itu dapat mengorek asal usulnya.

Sudah tentu ia tidak tahu bahwa pengetahuan Giok-yan sangat luas, segala ilmu silat dari aliran mana pun tiada satu pun yang tak diketahuinya. Sebaliknya si kakek lantas menyangka rahasianya yang sudah berpuluh tahun ini tertutup telah terbongkar oleh gadis itu. Dan karena sedikit lengah itu, ia menjadi tercecer oleh serangan Hong Po-ok hingga rada kerepotan.

Berturut-turut ia mundur tiga langkah, cepat ia melangkah ke samping pula, sementara itu dilihatnya lawan sedang membacok lagi, segera ia ayun sebelah kaki untuk menendang pergelangan tangan Hong Po-ok yang memegang senjata itu.

Sudah tentu Hong Po-ok tidak gampang diserang, mendadak goloknya menyerang, berbalik kaki si kakek hendak ditebasnya malah. Tapi menyusul sebelah kaki si kakek juga lantas melayang secara berantai hingga tubuh terapung di udara.

Biarpun sudah tua, tapi gerak-geriknya tidak di bawah orang muda, mau tak mau Hong Po-ok memuji juga akan ketangkasan lawan itu.

Mendadak ia pukul dengkul orang tua itu. Dalam keadaan tubuh terapung di udara, untuk menggeser terang tidak mudah, asal dengkul kakek itu kena terketuk, andaikan tidak remuk juga paling sedikit tulang kakinya akan patah.

Melihat pukulannya sudah dekat dengan dengkul lawan dan si kakek masih belum tampak siap untuk menghindar, Hong Po-ok menjadi girang.

Tak tersangka mendadak angin menyambar, tahu-tahu karung orang sudah terpentang, mulut karung yang lebar itu mengerudung ke atas kepalanya. Dalam keadaan demikian, meski ia berhasil mematahkan tulang kaki si kakek, tapi kepala sendiri pasti juga akan dikerudung ke dalam karung orang, andaikan dapat segera meloloskan diri tentu juga akan ditertawai orang.

Karena itu, pukulannya mendadak berganti arah untuk menyampuk karung lawan. Tapi sedikit karung si kakek menggeser, mulut karung yang ternganga itu pun berputar dan tepat mengerudung kepalan Hong Po-ok.

Perbandingan mulut karung dengan kepalan dengan sendirinya sangat besar. Meski gampang saja kepalan kena dikurung, tentu mudah pula terlolos. Maka sekali Hong Po-ok menarik tangannya, dengan gampang saja sudah lolos dari mulut karung lawan.

Siapa tahu, “cekit”, mendadak punggung tangan kesakitan seperti tertusuk jarum. Waktu ia periksa, ia menjadi kaget. Ternyata punggung tangan terantup seekor kalajengking kecil.

Kalajengking itu jauh lebih kecil daripada kala biasa, tapi badannya berwarna-warni, macamnya sangat mengerikan. Hong Po-ok tahu bisa celaka, sekuatnya ia kiprat-kipratkan tangannya, tapi kalajengking itu ternyata menyengat dengan sangat kencang dan susah terlepas. Namun ia cukup cekatan, ia tepuk kalajengking itu dengan batang goloknya hingga binatang itu seketika gampang terbinasa.

Sebagai orang yang berpengalaman, Hong Po-ok tahu kalajengking yang dilepaskan dari karung tokoh Kay-pang itu pasti bukan sembarangan, kalau anak murid Kay-pang biasa saja sangat lihai menggunakan binatang berbisa apalagi seorang kakek daripada Kay-pang-su-lo ini?

Dengan wajah berubah cepat ia melompat ke luar kalangan pertempuran, ia keluarkan sebutir pil penawar racun dan ditelannya segera.

Tiang-pi-soh atau si kakek lengan panjang juga tidak mengudak pula, ia simpan kembali karungnya sambil mengamat-amati Ong Giok-yan, ia heran dari mana dara jelita ini mengetahui asal usulku?

Dalam pada itu Pau Put-tong lantas tanya keadaan kawannya itu, “Kenapa, Site?”

Po-ok kebas-kebas tangannya beberapa kali dan merasa tiada sesuatu yang aneh, tapi ia tetap sangsi, kalajengking itu mustahil tidak ada sesuatu guna dengan disembunyikan di dalam karung? Maka ia menjawab, “Tidak apa-apa, tapi ….”

Belum lanjut ucapannya, mendadak tubuh roboh tersungkur.

Lekas Pau Put-tong melompat maju untuk membangunkannya sambil tanya berulang-ulang, “Kenapa? Kenapa?”

Namun Hong Po-ok tidak sanggup bicara lagi, mukanya tampak berkerut-kerut dan senyumnya sangat dipaksakan.

Keruan kaget Pau Put-tong tak terkatakan, lekas ia tutuk beberapa Hiat-to tangan, lengan, dan bahu sang kawan untuk menahan menjalarnya racun.

Di luar dugaan bekerja racun kalajengking berwarna itu ternyata sangat cepat, walaupun tidak sampai ‘Kian-hiat-hong-au’ atau masuk ke darah lantas putus napasnya, tapi jahatnya juga tidak kepalang, jauh lebih lihai daripada racun ular yang paling berbisa.

Pikiran Hong Po-ok masih cukup jernih, tapi antero tubuh sudah kaku rasanya, mulut terbuka ingin bicara, tapi yang terdengar cuma suara serak yang tak jelas.

Melihat kawannya begitu hebat keracunan, Pau Put-tong menjadi khawatir sukar menolong jiwanya lagi, dalam dukanya ia menjadi murka, sekali menggerung, terus saja ia terjang si kakek tangan panjang.

Namun si kakek pendek gemuk dan bersenjata tongkat baja tadi lantas mengadangnya sambil berseru, “Apa kau juga ingin berkelahi, marilah biar aku si pendek ini berkenalan dengan kesatria Koh-soh!”

Begitu tongkatnya terangkat, segera ia sodok ke arah Pau Put-tong.

Tongkatnya sangat antap bobotnya, tapi bagi si kakek pendek gemuk senjata itu dapat dimainkan dengan enteng dan cepat sekali. Biarpun Pau Put-tong dalam keadaan murka, namun menghadapi lawan setangguh itu terpaksa ia tidak berani ayal. Ia pikir asal dapat menawan salah satu jago musuh sebagai sandera untuk memaksa pihak lawan menyerahkan obat penawar racun, tentu jiwa Hong-site dapat diselamatkan. Maka segera ia gunakan “Kim-na-jiu”, ia mencari lubang kelemahan musuh untuk menangkapnya.

Dalam pada itu A Pik dan A Cu sedang mengerumuni Hong Po-ok dengan air mata berlinang sambil memanggil-manggil tanpa berdaya. Ong Giok-yan memang sangat pandai dan luas pengetahuannya dalam ilmu silat dan kesusastraan, tapi mengenai penggunaan racun serta cara penyembuhannya, ia sama sekali tidak paham. Karena itu ia jadi menyesal dahulu waktu membaca kitab ilmu silat dan pertabiban, dalam kitab itu tidak sedikit dibicarakan tentang penyembuhan racun, tapi karena menganggap tiada gunanya mempelajari hal-hal itu, maka sama sekali ia tidak pernah mempelajarinya. Coba dahulu sedikit-banyak menghafalkan, tentu sekarang takkan mati kutu seperti ini dan menyaksikan tewasnya Hong-siko tanpa berdaya.

Di lain pihak, ketika melihat pertarungan Pau Put-tong melawan si pendek semakin lama semakin sengit, untuk waktu singkat terang sukar menentukan kalah atau menang, maka berkatalah Kiau Hong kepada si kakek tangan panjang, “Tan-tianglo, harap keluarkan obat penawarnya, sembuhkanlah racun Hong-siya itu!”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: