Pendekar Kerajaan Tayli ~ Jilid 23

Keruan Tiang-pi-soh atau si kakek lengan panjang yang dipanggil sebagai Tan-tianglo itu melengak, sahutnya, “Pangcu, orang ini terlalu kurang ajar, ilmu silatnya juga tidak rendah, kalau dibiarkan hidup, kelak tentu akan membahayakan.”

“Benar juga katamu,” ujar Kiau Hong sambil mengangguk. “Tapi kita belum lagi ketemu lawan utama dan belum-belum sudah melukai bawahannya, hal ini akan merosotkan pamor kita sendiri. Maka menurut pendapatku, lebih baik kita jaga nama dan wibawa kita lebih dulu.”

Namun dengan marah-marah Tiang-pi-soh menjawab, “Sudah terang Be-hupangcu terbinasa di tangan bocah she Buyung itu, untuk menuntut balas masakah perlu jaga nama dan peduli tentang perbawa segala?”

Wajah Kiau Hong mengunjuk kurang senang, katanya, “Sudahlah, berikan obatmu dahulu, urusan dapat kita bicarakan belakang.”

Walaupun dalam hati seribu kali tidak rela, tapi perintah sang pangcu juga tidak berani membangkangnya, terpaksa Tan-tianglo mengeluarkan sebuah botol kecil dan melangkah maju, katanya kepada A Cu dan A Pik, “Ini, Pangcu kami mengutamakan budi luhur dan suruh memberikan obat penawar, lekas ambil ini!”

Dengan girang segera A Pik berlari maju, lebih dulu ia memberi hormat kepada Kiau Hong, lalu menghormat pula kepada Tan-tianglo, katanya, “Terima kasih Kiau-pangcu dan terima kasih Tianglo.”

Dan setelah menerima botol kecil yang diangsurkan itu, kemudian ia tanya, “Tolong tanya Tianglo, obat ini cara bagaimana menggunakannya?”

“Isap dulu racun pada lukanya, kemudian bubuhkan obatnya,” sahut si kakek. Dan setelah merandek, ia menambahkan pula, “Bila racun belum bersih terisap, percumalah obat yang dibubuhkan itu, bahkan akan tambah parah. Hal ini penting diketahui.”

A Pik mengiakan pesan itu, lalu ia mendekati Hong Po-ok, ia angkat tangan yang terantup kalajengking itu, ia menunduk kepala lantas hendak mengisap racun pada luka itu.

“Nanti dulu!” mendadak si kakek tangan panjang berteriak.

A Pik jadi kaget. “Ada apa?” tanyanya tercengang.

“Wanita dilarang mengisapnya!” seru si kakek.

“Sebab apa?” tanya A Pik dengan muka merah.

“Racun, kalajengking itu tergolong racun im-tok, sedangkan wanita adalah jenis im, sudah im ditambah im lagi, racun itu akan tambah jahat malah,” demikian kata si kakek.

A Pik, A Cu, dan Giok-yan menjadi ragu, mereka merasa keterangan kakek itu agak janggal, tapi juga bukan mustahil memang demikian halnya. Dan kalau benar, hingga racunnya tambah jahat, bukankah jiwa Hong-siko akan lebih konyol? Sedangkan pihak sendiri hanya tinggal Pau Put-tong yang merupakan satu-satunya lelaki yang saat itu lagi bertempur mati-matian dengan si kakek pendek, untuk memanggilnya kembali terang sukar dilaksanakan dalam waktu singkat itu.

Tapi selain Pau Put-tong, terang tiada kawan lelaki yang lain. Terpaksa A Cu berteriak, “Pau-samko, berhentilah sementara, kembalilah menolong Siko lebih dulu!”

Namun ilmu silat Pau Put-tong itu sama kuatnya dengan kakek pendek, sekali mereka sudah bergebrak, untuk lolos mundur terang sukar terlaksana dalam beberapa jurus saja. Dalam pertarungan ilmu silat kelas tinggi, sedikit lengah saja pasti akan mengakibatkan jiwa melayang, maka sangat sulit untuk mengundurkan diri dengan sesukanya.

Dengan sendirinya Pau Put-tong khawatir ketika mendengar seruan A Cu, ia tahu keadaan Hong Po-ok pasti bertambah buruk. Maka mendadak ia menyerang beberapa kali dengan tujuan melepaskan diri dari rangsakan si kakek pendek.

Tapi sebagai salah satu tokoh di antara Kay-pang-su-lo, dengan sendirinya si kakek pendek tak dapat dipersamakan jago-jago sebangsa Suma Lim, Cu Po-kun, Yau Pek-tong, dan lain-lain yang sekali gebrak mudah terjungkal di bawah tangan atau kaki Pau Put-tong. Walaupun dengan serangan kilat secara bertubi-tubi itu Pau Put-tong dapat merebut kedudukan di atas angin, tapi untuk menang satu jurus saja masih bergantung atas keuletan lawan, dan si kakek pendek itu justru teramat ulet. Maka betapa pun ia menyerang dari sini-sana, tetap tidak dapat melepaskan diri.

Dalam pada itu Kiau Hong senantiasa mengikuti wajah Giok-yan bertiga yang penuh rasa khawatir itu. Bila mengingat racun kalajengking piaraan Tan-tianglo itu jahat luar biasa, pula tidak diketahui apakah ucapan si kakek bahwa wanita tidak boleh mengisap racun kalajengking itu benar atau cuma gertakan.

Walaupun anak murid Kay-pang jumlahnya tidak sedikit, namun pekerjaan mengisap racun adalah suatu risiko yang mungkin membikin celaka si pengisap sendiri, maka tidak mungkin ia memerintahkan salah satu anggota Kay-pang untuk mengisapkan racun Hong Po-ok. Apalagi bawahan diperintahkan mengisap racun untuk menolong jiwa musuh, perintah demikian terang tidak mungkin dikeluarkannya.

Tapi dasar jiwa Kiau Hong memang kesatria dan berbudi luhur, tanpa ragu ia lantas berseru, “Aku orang laki-laki, biar aku yang mengisap racun Hong-siya.”

Habis berkata, segera ia melangkah ke arah Hong Po-ok.

Waktu melihat wajah Giok-yan muram sedih, sejak mula sebenarnya sudah timbul niat Toan Ki hendak mengisap racun bagi Hong Po-ok. Cuma ia pikir Kiau Hong adalah kakak angkat sendiri, kalau dirinya membantu pihak musuh, hal ini akan merugikan hubungan persaudaraan.

Meski kemudian ia saksikan Kiau Hong memerintahkan Tan-tianglo memberikan obat penawar kepada lawan, tapi Toan Ki masih sangsikan ketulusan hati sang kakak-angkat.

Baru sekarang sesudah melihat Kiau Hong benar-benar mendekati Hong Po-ok untuk mengisap racun pada tangannya, yakinlah dia akan kebesaran jiwa kakak-angkat itu. Maka dengan cepat ia berseru, “Toako, biarkan Siaute saja yang melakukannya!”

Dan sekali melangkah, dengan sendirinya ia keluarkan ilmu langkah “Leng-po-wi-poh” yang cepat, tahu-tahu ia sudah menyerobot di depan Kiau Hong. Terus saja ia angkat tangan Hong Po-ok dan segera hendak dikecupnya.

Tatkala itu seluruh telapak tangan Hong Po-ok sudah bengkak menghitam, kedua mata melotot, rupanya kelopak matanya ikut menjadi kaku juga sehingga sukar berkedip. Ketika Toan Ki memegang tangannya, otomatis daya sakti Cu-hap-sin-kang lantas bekerja. Belum lagi mulut Toan Ki mengecup tempat luka itu, sekonyong-konyong dari lubang luka merembes keluar air hitam.

Toan Ki tertegun, ia pikir biarkan air hitam itu habis merembes keluar baru akan diisapnya. Ia tidak tahu bahwa Cu-hap, yaitu katak merah yang telah dimakannya dahulu itu adalah binatang antisegala jenis racun. Maka begitu anggota badan kedua orang saling sentuh, asal Toan Ki tidak mengerahkan tenaga dalamnya, maka tenaga murni Hong Po-ok juga takkan tersedot, sebaliknya karena dia keracunan sangat parah, sekali kebentur khasiat Cu-hap-sin-kang, terus saja darah berbisa di dalam tubuhnya terdesak keluar.

Begitulah selagi semua orang terheran-heran dan sangsi, mendadak badan Hong Po-ok bergerak sekali, lalu terdengar ia membuka suara, “Terima kasih!”

Keruan Giok-yan bertiga sangat girang. A Cu lantas berseru, “He, Siko, engkau sudah dapat bicara!”

Maka tertampaklah darah hitam yang merembes keluar dari luka Hong Po-ok itu mulai berubah menjadi warna ungu, kemudian memerah.

Dan sesudah warna darah kembali seperti biasa, tangan Po-ok yang bengkak itu lantas kempis dan dapat bergerak lagi seperti semula. Segera ia memberi hormat kepada Toan Ki sambil berkata, “Banyak terima kasih atas pertolongan Kongcuya.”

“Ah, soal kecil, buat apa dipikirkan?” sahut Toan Ki merendah.

“Jiwaku dalam pandangan Kongcuya mungkin soal kecil, tapi bagiku sendiri adalah urusan besar,” kata Hong Po-ok dengan tertawa. Lalu ia ambil botol obat dari tangan A Pik terus dilemparkan kembali kepada Tan-tianglo, katanya, “Ini, ambil kembali obatmu!”

Kemudian ia memberi hormat kepada Kiau Hong dan berkata, “Kiau-pangcu benar berbudi luhur, Hong Po-ok sangat kagum. Pangcu tidak malu sebagai pemimpin suatu organisasi terbesar di Bu-lim ini.”

“Terima kasih atas pujian Hong-siya,” sahut Kiau Hong sambil membalas hormat.

Sesudah menyatakan terima kasihnya kepada kedua orang penolongnya, Hong Po-ok lantas jemput kembali goloknya, ia tuding Tan-tianglo sambil berkata, “Hari ini aku dikalahkanmu, Hong Po-ok mengaku kalah, lain kali bila ketemu lagi kita akan coba-coba pula, urusan hari ini kita sudahi saja.”

“Jangan khawatir, setiap saat aku siap,” sahut Tan-tianglo tertawa.

Mendadak Po-ok berpaling kepada si kakek yang bersenjatakan gada astakona, serunya, “Biarlah sekarang kubelajar kenal dengan kepandaianmu!”

Keruan A Cu dan A Pik terkejut, seru mereka, “Jangan Siko, kesehatanmu belum pulih!”

Namun Hong Po-ok tidak ambil pusing, serunya, “Mumpung dapat berkelahi, kenapa sia-siakan kesempatan bagus!”

Menyusul golok terus berputar dan menerjang ke arah si kakek bergada.

Melihat beberapa saat sebelumnya keadaan Hong Po-ok sudah sangat payah, siapa tahu hanya sekejap saja orang aneh itu pulih gagah perkasa pula. Orang sedemikian sungguh jarang terlihat.

Kakek bersenjata gada itu sudah ubanan alis dan jenggotnya, usianya terhitung paling tua di antara Kay-pang-su-lo, sudah berpuluh tahun namanya terkenal, segala macam tokoh Kangouw juga pernah dihadapinya. Tapi orang yang nekat seperti Hong Po-ok benar-benar jarang terlihat. Karena itu, mau tak mau ia terkesiap juga.

Sebenarnya permainan gada si kakek sangat hebat perubahannya, di samping digunakan menyerang bermanfaat pula untuk merampas senjata lawan. Tapi kini karena rada jeri, permainan gadanya menjadi agak kacau hingga ia cuma mampu menangkis saja oleh berondongan serangan Hong Po-ok.

Dalam pada itu Kiau Hong menjadi kurang senang juga, pikirnya, “Sobat she Hong ini agak keterlaluan juga. Dengan baik-baik Toan-hiante telah menolong jiwamu, mengapa secara sembrono mengajak berkelahi lagi?”

Dalam pada itu sambil menjinjing karung Tan-tianglo sedang memandangi Ong Giok-yan, lalu pandang Toan Ki pula sembari diam-diam berpikir, “Kedua muda-mudi ini entah dari mana asal-usulnya, tampaknya kedatangan mereka sangat tidak menguntungkan diriku.”

Kiranya Tan-tianglo ini aslinya she Ui, yaitu berasal dari keluarga Ui yang terkenal di Oupak, ia sengaja menyamar sebagai orang she Tan, rahasia ini tiada seorang pun mengetahui di jagat ini. Maka terhadap ucapan Giok-yan yang menyatakan ilmu silatnya seperti berasal dari keluarga Ui, mau tak mau timbul rasa curiganya.

Sementara itu pertarungan Pau Put-tong dan Hong Po-ok melawan kedua kakek Kay-pang itu semakin sengit, tampaknya Put-tong dan Po-ok sedikit di atas angin, tapi untuk mengalahkan lawan mereka terang sukar terjadi dalam waktu singkat.

Selagi semua orang asyik mengikuti pertarungan hebat itu, telinga Toan Ki yang tajam itu tiba-tiba mendengar dari arah timur ada suara tindakan orang yang ramai sedang mendatang ke arah sini dengan cepat. Menyusul dari jurusan utara juga datang satu rombongan lain, bahkan dari suaranya kedengaran berjumlah lebih banyak.

“Toako, ada orang banyak sedang mendatang,” demikian Toan Ki membisiki Kiau Hong.

Kiau Hong sendiri pun sudah mendengar, ia mengangguk. Ia menduga orang-orang yang datang itu besar kemungkinan adalah lawan dan bukan kawan. Boleh jadi pengikut Buyung Hok yang sengaja dipasang di sekitar situ untuk mengepung. Maka diam-diam Kiau Hong rada menyesal telah diakali musuh.

“Kiranya orang-orang she Pau dan Hong ini sengaja menggoda kita agar tanpa sadar kita masuk kepungan mereka,” demikian pikirnya.

Namun Kiau Hong tetap bersikap tenang, selagi ia hendak memberi isyarat kepada bawahannya agar sebagian mengundurkan diri ke jurusan selatan dan barat yang tidak dijaga musuh, tiba-tiba terdengar dari kedua jurusan itu juga ada suara ramai orang berjalan. Nyata setiap penjuru sudah penuh dengan musuh.

Perlahan Kiau Hong memberi perintah kepada bawahannya, “Cio-thocu, kekuatan musuh di sebelah selatan paling lemah, sebentar bila kuberi tanda, segera pimpin para saudara mengundurkan diri ke jurusan sana.”

Dan baru saja Cio-thocu mengiakan, tiba-tiba dari jurusan timur hutan itu sudah muncul 30-an orang, semuanya berbaju compang-camping, rambut kusut, ada yang membawa senjata, ada yang cuma membawa tongkat dan mangkuk butut, jelas semuanya anggota Kay-pang. Menyusul dari arah utara juga muncul berpuluh orang Kay-pang, sikap mereka sangat pongah, melihat Kiau Hong juga tidak memberi hormat, sebaliknya seakan-akan bersikap bermusuhan.

Ketika mendadak tampak munculnya anggota Kay-pang sebanyak itu, diam-diam Pau Put-tong dan Hong Po-ok menjadi khawatir juga. Pikir mereka, “Wah, celaka, cara bagaimana agar dapat menyelamatkan nona Ong bertiga?”

Namun di antara orang yang terkesiap rasanya yang paling terkejut adalah Kiau Hong. Sebab memang dia kenal pengemis-pengemis yang muncul itu adalah anggota Kay-pang kelas menengah, ada yang menggendong lima buah kantong dan ada yang membawa tujuh buah kantong. Biasanya anggota-anggota ini sangat menghormat padanya, asal melihat sang pangcu, dari jauh mereka pasti akan berlari mendekat untuk memberi hormat. Tapi mengapa hari ini sikap mereka begini aneh, sudah tidak memberi hormat, bahkan menyapa pun tidak.

Tengah Kiau Hong sangsi, sementara itu dari jurusan selatan dan barat juga muncul berpuluh anggota Kay-pang yang lain. Rombongan anggota Kay-pang itu datangnya ternyata susul-menyusul, di belakang rombongan pertama masih muncul pula rombongan yang lain sehingga sebentar saja tanah lapang di tengah hutan itu sudah penuh berjubel dengan kaum pengemis.

Kiau Hong coba menghitung sekadarnya dan ternyata di antara anggota Kay-pang di kota Bu-sik itu sudah lebih sembilan bagian yang hadir, hanya ketiga thocu dari kepala bagian Tay-jin, Tay-sin dan Tay-yong yang tidak kelihatan, di samping itu beberapa anggota pengurus pusat seperti Thoan-kong Tianglo, Cit-hoat Tianglo juga tidak muncul.

Semakin dipikir Kiau Hong semakin khawatir hingga diam-diam ia berkeringat dingin. Selamanya Kiau Hong tidak pernah khawatir seperti sekarang ini biarpun menghadapi musuh yang paling lihai sekalipun. Sebab mendadak timbul suatu pikiran dalam benaknya, “Wah, akan terjadi pemberontakan, apakah para anggota akan mengkhianati aku?”

Selaku pangcu, subur atau runtuhnya Kay-pang dianggap Kiau Hong jauh lebih penting daripada nama baik dan kedudukan atau mati-hidup sendiri. Kini beratus anggota Kay-pang ini sudah mengelilingi dirinya dengan tidak bicara apa pun juga, terang di dalam organisasi telah terjadi sesuatu yang hebat.

Namun di tengah kalangan Pau Put-tong dan Hong Po-ok masih saling gebrak dengan kedua kakek dengan sengit dan tak terhentikan, di depan orang luar, Kiau Hong menjadi tidak enak untuk menegur.

Dalam pada itu tiba-tiba Tan-tianglo berseru, “Pasang Pak-kau-tin!”

Sekonyong-konyong di antara anggota Kay-pang dari berbagai penjuru itu masing-masing memburu keluar belasan orang dengan senjata terhunus, maka Pau Put-tong dan Hong Po-ok jadi terkepung di tengah bersama kedua kakek lawannya itu.

Melihat jumlah musuh sekaligus maju sebegitu banyak, apalagi orang-orang Kay-pang sudah terlatih semua, Pau Put-tong tahu bila musuh mengepung rapat, pasti dirinya bersama Hong Po-ok akan dicincang menjadi bakso.

Ketika ia melirik pihak lawan, ternyata kawanan pengemis itu dalam sekejap saja sudah memasang suatu barisan yang sangat rapat, andaikan harus menerjang keluar kepungan bersama Po-ok, sendiri mungkin bisa selamat, tapi Po-ok habis keracunan dan tenaga masih lemah, tentu takkan terhindar dari terluka parah, begitu pula kalau hendak menolong Giok-yan bertiga, pasti sangat sulit.

Kalau mau, jalan satu-satunya supaya selamat adalah menyerah alias mengaku kalah. Toh kalah karena dikeroyok, hal ini takkan merugikan nama baiknya. Tapi tabiat Pau Put-tong justru sangat kepala batu, cocok seperti namanya, dia memang “Put-tong” atau berbeda daripada orang lain. Sesuatu urusan yang orang lain anggap lumrah, baginya justru dianggap sebaliknya. Begitu pula Hong Po-ok paling gemar berkelahi, asal diberi kesempatan berkelahi, tidak peduli kalah atau menang, bakal mati atau hidup, benar atau salah, baginya semua itu urusan belakang, berkelahi paling perlu.

Sebab itulah biarpun kedudukan di tengah itu sudah jelas pihak mana yang akan menang, namun Pau Put-tong dan Hong Po-ok masih terus berteriak-teriak sambil menyerang terlebih bersemangat sedikit pun pantang menyerah.

“Pau-samko, Hong-siko, terimalah sudah,” demikian tiba-tiba Giok-yan berseru. “Pak-kau-tin dari Kay-pang ini meski aku pun tahu cara memecahkannya, namun kepandaian kita terlalu cetek, kita takkan dapat berbuat apa-apa. Di dunia ini hanya Lak-meh-sin-kiam dan Hang-liong-sip-pat-ciang saja dapat bobol barisan itu. Maka kalian berdua lebih baik berhenti saja.”

Mendengar Giok-yan bilang Lak-meh-sin-kiam yang dipelajarinya itu dapat memecahkan Pak-kau-tin, Toan Ki tercengang, diam-diam ia pun ragu bagaimana harus bertindak nanti, apakah mesti membela nona Ong bila anak buah Kiau-toako akan menangkapnya?

Sesudah berpikir pula, ia lantas ambil keputusan, “Jika Pau Put-tong yang berkelahi dengan orang-orang Kay-pang, maka aku takkan ikut campur, tapi bila Ong-kohnio diganggu mereka terpaksa aku harus melindunginya.”

Dalam pada itu Hong Po-ok telah menjawab seruan Giok-yan tadi, “Biarlah aku berkelahi sebentar lagi, bila benar-benar tak tahan barulah aku berhenti.”

Dan karena sedikit ayal itu, “cret”, pundaknya keserempet sekali oleh gada si kakek yang berkait itu hingga kulit pecah dan darah bercucuran.

“Keparat, hebat juga seranganmu ini,” Hong Po-ok memaki. Berbareng goloknya menyerang tiga kali secara nekat.

Si kakek berjenggot itu menjadi jeri oleh kekalapan Po-ok, ia pikir toh tiada permusuhan apa-apa, kenapa mesti bertempur mati-matian begini? Karena itulah ia hanya menjaga diri dengan rapat dan tiada balas menyerang pula.

Tiba-tiba Tan-tianglo berseru dengan nada tembang, “Ooi, para saudara sebelah selatan ingin minta nasi, haya-auuuuh ….”

Yang ditembangkan itu adalah lagu minta-minta kaum pengemis, tapi sebenarnya adalah tanda perintah kepada anak-buahnya untuk menyerang.

Maka tertampaklah berpuluh anggota Kay-pang yang berdiri di sebelah selatan serentak mengangkat senjata mereka, asal tarikan suara Tan-tianglo itu berhenti, segera mereka akan menyerbu maju.

Sudah tentu Kiau Hong tahu betapa lihainya Pak-kau-tin (barisan penghajar anjing) Kay-pang sendiri. Bila barisan itu sudah dikerahkan, serentak anggota Kay-pang keempat penjuru itu secara bergiliran akan menyerbu maju tanpa berhenti sampai musuh dibinasakan atau dirobohkan.

Padahal sebelum bertemu dengan Buyung Hok dan sebelum duduk perkara yang sebenarnya dibikin terang, ia tidak ingin mengikat permusuhan dulu dengan orang. Maka cepat ia memberi tanda sambil membentak, “Nanti dulu!”

Berbareng ia terus melompat-maju dan tahu-tahu sudah berada di samping Hong Po-ok, dengan tangan kiri ia cakar muka orang itu.

Keruan Po-ok terkejut, cepat ia mengegos ke samping, tapi mendadak tangan Kiau Hong terus menurun ke bawah dan tepat kena tangkap pergelangan tangannya, segera golok Hong Po-ok itu dirampasnya.

“Bagus Kiau-pangcu dengan seranganmu ‘Jio-cu-sam-sik’ (tiga gaya merebut mutiara) dari Liong-jiau-cu (cakar naga) itu,” seru Giok-yan tiba-tiba. Segera ia pun memperingatkan Pau Put-tong, “Awas Pau-samko, ia hendak menyikut dadamu dengan sikut kiri dan tangan kanan akan memotong igamu menyusul tangan kiri akan mencengkeram pula ‘Gi-koh-hiat’ pundakmu, serangan itu adalah satu di antara tiga gaya cakar naga yang disebut ‘Ti-yan-yu-uh’ (mendadak turun hujan)!”

Tapi gerakan Kiau Hong ternyata cepat luar biasa, baru saja Giok-yan memperingatkan Pau Put-tong bahwa dadanya akan disikut, tahu-tahu serangan Kiau Hong memang benar seperti apa yang dikatakan itu dan hampir berbareng pada saat itu pun menyikut hingga Pau Put-tong tidak sempat berjaga-jaga sebelumnya.

Begitu pula tentang iganya akan dipotong serta Gi-koh-hiatnya akan dicengkeram, tahu-tahu Pau Put-tong merasakan tubuhnya menjadi lemas lumpuh tak dapat berkutik.

“Sungguh serangan bagus,” seru Pau Put-tong dengan penasaran. “Wah, Siaumoay, peringatanmu terlalu tepat waktunya hingga tiada gunanya. Kalau engkau bilang sedetik lebih dulu, kan aku dapat berjaga-jaga sebelumnya.”

“Ya, maaflah,” sahut Giok-yan dengan menyesal. “Karena ilmu silatnya terlalu lihai, maka sebelumnya sama sekali aku tak dapat mengetahui serangan apa yang akan dilontarkannya.”

“Maaf apa segala?” seru Pau Put-tong. “Pendek kata perkelahian hari ini terang kita terjungkal semua, pamor Yan-cu-oh benar-benar runtuh!”

Waktu ia berpaling ia lihat keadaan Hong Po-ok lebih runyam lagi, kawan itu tampak terpaku di tempatnya seperti patung. Rupanya waktu Kiau Hong merampas goloknya sekalian telah tutuk pula hiat-tonya. Kalau tidak, mana mau dia berhenti dengan begitu saja?

Melihat sang pangcu sudah dapat mengalahkan kedua lawan, maka Tan-tianglo mengurungkan tembangnya yang belum selesai tadi.

Diam-diam Kay-pang-su-lo sangat kagum demi menyaksikan betapa saktinya sang pangcu, hanya sekali gebrak saja dua lawan tangguh telah ditaklukkan.

Kemudian Kiau Hong melepaskan tangannya yang mencengkeram Gi-koh-hiat di pundak Pau Put-tong itu. Menyusul tangannya membalik ke belakang untuk menepuk perlahan di punggung Po-ok dan membuka hiat-to yang ditutuknya itu, lalu katanya, “Silakan kalian pergi saja!”

Dalam keadaan demikian, betapa pun bandelnya Pau Put-tong juga, terpaksa menyerah, ia tahu ilmu silat sendiri selisih terlalu jauh dengan Kiau Hong. Maka tanpa bicara lagi ia lantas mengeluyur ke samping Giok-yan.

Sebaliknya Hong Po-ok lantas berkata, “Kiau-pangcu, ilmu silatku memang tak dapat menandingimu, tapi seranganmu barusan membikin aku penasaran, sebab engkau menyerang pada waktu aku sama sekali tidak berjaga-jaga.”

“Memang benar aku menyerang secara mendadak,” sahut Kiau Hong. “Tapi kita boleh coba-coba beberapa jurus pula, biar kusambut serangan golokmu.”

Habis berkata, mendadak ia mencengkeram ke depan, suatu arus tenaga menggetar golok Hong Po-ok yang dibuang ke tanah oleh Kiau Hong tadi bahkan golok itu lantas mencelat ke atas seakan-akan melompat sendiri ke tangan Kiau Hong. Dan sekali Kiau Hong menyampuk perlahan, tangkai golok itu terus membalik ke depan seperti diangsurkan kembali kepada Hong Po-ok.

Hong Po-ok tercengang, katanya dengan tergegap, “Apakah ini … Kim-liong-kang (ilmu menangkap naga)? Di dunia ini ternyata benar ada orang mahir ilmu sakti ini?”

“Aku cuma belajar sedikit dasarnya saja, lebih jauh masih harus minta petunjuk pihak yang mahir,” Kiau Hong tertawa sambil memandang ke arah Giok-yan. Ia ingin mengetahui bagaimana penilaian si nona yang mahir segala macam ilmu silat itu atas ilmu saktinya yang tiada bandingan itu.

Tak tersangka Giok-yan tampak lagi termangu-mangu seperti sedang memikirkan sesuatu, maka apa yang dikatakan Kiau Hong itu seakan-akan tak didengarnya.

Mau tak mau Hong Po-ok harus menyerah, katanya, “Ya, sudahlah, ilmu silatku memang bukan tandinganmu, selisih kita terlalu jauh, kalau berkelahi juga kurang menarik. Nah, sampai berjumpa, Kiau-pangcu!”

Meski lahiriah Hong Po-ok ini jelek, wajahnya tidak sedap dipandang, tapi jiwanya cukup kesatria, biarpun kalah berkelahi, sama sekali ia tidak patah semangat. Kalah atau menang dianggapnya soal lumrah. Baginya sudah senang asal dapat berkelahi.

Segera ia memberi salam perpisahan kepada Kiau Hong, lalu katanya kepada Pau Put-tong, “Samko, kabarnya Kongcuya pergi ke Siau-lim-si, di sana sangat banyak orang, kita tentu dapat berkelahi lagi. Biarlah sekarang juga aku berangkat ke sana dan kalian boleh menyusul belakangan!”

Begitulah sifat Hong Po-ok itu, ia tidak pernah sia-siakan setiap kesempatan berkelahi. Maka tanpa menunggu jawaban Pau Put-tong, terus saja ia mendahului berlari pergi.

“Ya, marilah pergi! Lebih baik pergi, daripada cari mati! Kalah berkelahi, apa lagi yang dinanti?” demikian sambil bersenandung Pau Put-tong ikut meninggalkan tempat itu secara kesatria.

Tinggal Giok-yan bertiga yang masih di situ, maka tanyanya kepada A Cu dan A Pik, “Samko dan Siko sudah pergi, lantas kita mesti ke mana?”

“Para pengemis ini rupanya akan berunding urusan penting, kita lebih baik kembali ke Bu-sik saja,” demikian sahut A Cu perlahan. Lalu katanya kepada Kiau Hong, “Kiau-pangcu, kami juga ingin mohon diri saja!”

“Silakan!” sahut Kiau Hong sambil mengangguk.

Dan selagi Giok-yan bertiga hendak berlalu, tiba-tiba dari rombongan Kay-pang di sebelah timur sana tampil ke muka seorang pengemis setengah umur berwajah bersih dan berseru, “Kiau-pangcu, sakit hati kematian Be-hupangcu yang mengenaskan itu belum lagi dibalas, mengapa sembarangan melepaskan musuh begini saja?”

Kedengarannya ia bicara dengan hormat, tapi sikapnya dan nadanya menantang, sedikit pun tidak mirip sebagai seorang bawahan.

“Kedatangan kita ke sini memang tujuannya ingin membalas sakit hati Be-jiko,” sahut Kiau Hong. “Tapi setelah kuselidiki selama beberapa hari ini, aku merasa pembunuh Be-jiko itu belum pasti Buyung-kongcu.”

Pengemis setengah umur itu bernama Coan Koan-jing, orang memberi julukan “Sip-hong-siucay” padanya, artinya si Pelajar Serbatahu. Orangnya memang pintar dan banyak akal, ilmu silatnya juga tinggi, ia adalah salah satu thocu berkantong delapan, kedudukannya hanya di bawah para tianglo (tertua) kantong sembilan.

Coan Koan-jing adalah kepala bagian Tay-ti-hun-tho, kedudukannya sangat terhormat. Tapi betapa tinggi kedudukannya juga takkan lebih agung daripada sang pangcu. Dalam hal huru-hara dalam Kay-pang ini meski sebelumnya orang-orang telah banyak mendengar keterangannya, tapi di bawah sinar mata Kiau Hong yang kereng itu tanpa terasa semuanya menjadi jeri dan menunduk. Sebaliknya atas keberanian Coan Koan-jing dengan tegurannya kepada sang pangcu, diam-diam mereka pun berkhawatir.

Maka si Siucay Serbatahu Coan Koan-jing berkata pula, “Dengan dasar apa hingga Pangcu mengatakan bukan perbuatan Buyung-kongcu?”

Sebenarnya Giok-yan sudah akan melangkah pergi, tapi demi didengarnya Be-hupangcu, wakil pemimpin Kay-pang itu, katanya ditewaskan orang dan Buyung-kongcu yang dituduh sebagai pembunuhnya, sebaliknya Kiau Hong berpendapat pembunuhnya mungkin orang lain, maka Giok-yan bertiga menjadi urung berangkat pergi, mereka terus tinggal dan diam di situ untuk mendengarkan perdebatan tadi.

Maka terdengar Kiau Hong sedang berkata, “Aku sendiri pun cuma menduga saja, dengan sendirinya tiada dasar bukti apa-apa.”

“Jika begitu, bagaimana dasar dugaan Pangcu, silakan memberi penjelasan, supaya para kawan dapat ikut mengetahuinya,” ujar Coan Koan-jing.

“Waktu aku berada di Lokyang, ketika mendengar Be-jiko dibinasakan orang dengan ilmu ‘Soh-au-kim-na-jiu’ yang andalannya itu, aku lantas teringat kepada orang she Buyung yang terkenal dengan istilah ‘Ih-pi-ci-to hoan-si-pi-sin’ itu. Kupikir ilmu kepandaian Be-jiko itu tiada tandingannya di jagat ini, kecuali orang dari keluarga Buyung memang tiada seorang pun yang mampu membunuhnya dengan ilmu andalan Be-jiko sendiri.”

“Benar!” tukas Coan Koan-jing.

“Tetapi sesudah aku berada di Kanglam sini, makin lama makin kurasakan dugaan kita semula jadi tidak benar, bukan mustahil di balik kejadian ini terdapat pula hal-hal lain yang berliku-liku.”

“Hal apa yang berliku-liku? Para kawan siap mendengarkan, silakan Pangcu memberi penjelasan,” kata Koan-jing.

Melihat sikap para anggota berbeda daripada biasanya, Kiau Hong menduga di dalam organisasi pasti sudah terjadi apa-apa yang ia sendiri belum mengetahui. Maka ia coba tanya, “Thoan-kong dan Cit-hoat Tianglo kenapa tidak kelihatan, di manakah mereka itu?”

“Hari ini Siokhe (bawahan) belum bertemu dengan kedua Tianglo itu,” sahut Koan-jing.

“Dan para thocu dari Tay-jin, Tay-sin dan Tay-yong berada di mana pula?” tanya Kiau Hong pula.

“Thio Coan-siang,” tiba-tiba Koan-jing berpaling dan tanya kepada seorang anggota berkantong tujuh, “mengapa Thocu kalian tidak hadir ke sini?”

“En … entahlah, aku ti … tidak tahu,” demikian orang yang dipanggil Thio Coan-siang itu menjawab dengan gelagapan.

Biasanya Kiau Hong cukup kenal Coan Koan-jing. Thocu Tay-ti-hun-tho ini cerdik lagi licin, tindak tanduknya sukar diraba, sebenarnya terhitung salah seorang bawahan yang boleh diandalkan. Tapi dalam keadaan tegang begini berbalik merupakan seorang musuh yang lihai. Maka demi melihat Thio Coan-siang menjawab gelagapan dengan air muka yang penuh penyesalan serta tidak berani memandang ke arahnya, segera Kiau Hong membentaknya, “Thio Coan-siang, apa barangkali kau membunuh Thocumu sendiri, ya?”

Coan-siang menjadi ketakutan dan cepat menjawab, “O, tidak, ti … tidak! Pui-thocu masih baik-baik di sana dan belum … belum mati. Ini bukan … bukan urusanku, aku tidak … tidak ikut berbuat.”

“Jika begitu perbuatan siapa?” bentak Kiau Hong dengan bengis.

Walaupun bentakannya tidak terlalu keras, tapi berwibawa. Sebagai seorang pangcu yang gagah perkasa dan bijaksana pula, maka biasanya para anggota sangat hormat dan jeri kepadanya.

Karena mendadak ditegur secara bengis, tanpa terasa Thio Coan-siang menjadi ketakutan hingga gemetar, ia tidak berani bicara lagi, hanya sinar matanya melirik sekejap ke arah Coan Koan-jing.

Kiau Hong dapat mengambil tindakan cepat, ia tahu kerusuhan telah terjadi, Thoan-kong, Cit-hoat dan para tianglo lain berada dalam keadaan bahaya, sang waktu tidak boleh dilewatkan percuma, tindakan tegas harus segera dilakukan, maka mendadak ia menghela napas panjang, ia berputar menghadap Su-tay-tianglo (empat tertua) dan berkata, “Harap para Tianglo suka memberi tahu, sebenarnya apa yang telah terjadi dalam organisasi kita?”

Tapi keempat kakek itu hanya saling pandang belaka dan tiada seorang pun berani membuka suara.

Maka tahulah Kiau Hong bahwa keempat tianglo itu pun pasti tersangkut dalam urusan ini, dengan tersenyum katanya pula, “Setiap anggota kita, dimulai dari diriku, semuanya mengutamakan setia kawan ….”

Berkata sampai di sini, sekonyong-konyong ia melompat mundur dua tindak, setiap tindaknya sejauh lebih dua meter. Bagi orang lain, biarpun berlompatan ke depan juga tidak secepat dan sejauh itu.

Dengan lompatan mundur itu, maka sekarang jarak Kiau Hong dengan Coan Koan-jing sudah tinggal tiada satu meter jauhnya. Tanpa putar tubuh lagi terus saja tangan kirinya menangkap ke belakang dan tangan kanan bergerak mencengkeram dari jauh, gerakan ini tepat mengenai “Tiong-ting-hiat” dan “Kiu-bwe-hiat” di dada sasarannya.

Ilmu silat Coan Koan-jing sebenarnya tergolong kelas satu di antara jago-jago Kay-pang, hanya selisih sedikit saja daripada Kay-pang-su-lo. Tapi cukup sejurus saja, sampai berkelit pun tidak sempat dan tahu-tahu sudah kena dipegang oleh sang pangcu.

Ketika Kiau Hong kerahkan tenaga dalam hingga menyalur ke tubuh Coan Koan-jing melalui kedua hiat-to yang tercengkeram, dari urat nadi itu tenaga dalam menyalur ke Tiong-wi-hiat dan Yang-tay-hiat di dengkul Koan-jing. Seketika Coan Koan-jing merasa dengkul menjadi lemas dan tanpa terasa terus berlutut.

Melihat Coan Koan-jing tekuk lutut, keruan anggota Kay-pang yang lain sama terkejut dan khawatir tanpa berdaya.

Kiranya Kiau Hong darat melihat gelagat, ia tahu terjadinya kerusuhan biang keladinya tak-lain-tak-bukan adalah Coan Koan-jing. Kalau orang ini tidak segera dibekuk tentu akan membawa bencana yang tak terduga. Terutama bila di antara anggota Kay-pang terjadi pertempuran sendiri, pasti akan sangat melemahkan kekuatan organisasi yang sudah terpupuk selama seratus tahun ini.

Apalagi di antara anggota Kay-pang yang hadir ini, kecuali beberapa puluh orang dari Tay-gi-hun-tho, selebihnya boleh dibilang sudah dipengaruhi oleh hasutan Coan Koan-jing. Lebih-lebih kalau Kay-pang-su-lo juga berdiri di pihak lawan, pasti dirinya sukar melawan mereka.

Sebab itu, maka ia pura-pura bertanya-jawab dengan Kay-pang-su-lo, dan pada waktu Coan Koan-jing tidak menyangka, mendadak ia melompat mundur dan dapat membekuknya.

Beberapa kali lompatan dan sergapan Kiau Hong itu tampaknya sepele saja, tapi sebenarnya sudah memakan seluruh intisari kepandaiannya.

Bila cengkeramannya ke belakang tadi sedikit meleset, walaupun Coan Koan-jing dapat dibekuknya juga, tapi tenaga dalamnya akan sukar menyalur ke tubuh orang untuk menyerang hiat-to di dengkul kaki dan membuatnya berlutut, maka akibatnya tentu kawan-kawan sekomplotannya akan menerjang maju untuk menolongnya hingga suatu pertarungan sengit pasti sukar terhindarkan.

Tapi sekarang Coan Koan-jing telah dipaksa berlutut, bagi kawan-kawannya tentu akan menyangka Coan Koan-jing telah mendahului menyerah dan mengaku salah. Dengan sendirinya para begundalnya tiada yang berani berkutik lagi.

Begitulah kemudian Kiau Hong baru berputar tubuh dan menepuk perlahan pundak Coan Koan-jing sambil berkata, “Tidak perlu berlutut. Jika kau sudah sadar akan kesalahanmu, tentang dosamu yang masih harus diperiksa ini biarlah nanti dibicarakan lebih jauh.”

Sambil berkata, perlahan sikutnya bekerja pula hingga hiat-to bisu di tubuh Coan Koan-jing kena ditutuknya.

Hendaklah diketahui bahwa Coan Koan-jing adalah seorang yang pandai bicara dan pintar berdebat. Bila dia diberi kesempatan membuka suara bukan mustahil anggota Kay-pang yang lain akan mudah terpengaruh oleh provokasinya. Maka terpaksa Kiau Hong bertindak secara licik, yaitu membekuk Coan Koan-jing lebih dulu, dengan dibekuknya biang keladi mereka, terpaksa komplotan yang siap memberontak itu tak berani berkutik.

Dan sesudah dapat membekuk Coan Koan-jing serta membuatnya berlutut dengan menunduk kemudian Kiau Hong berseru pula kepada Thio Coan-siang, “Hendaknya tunjukkan tempatnya, bawalah Tay-gi-thocu pergi mengundang Thoan-kong dan Cit-hoat Tianglo ke sini. Kau harus tunduk pada perintah dengan baik, supaya dapat mengurangi dosamu. Kawan-kawan yang lain harap duduk menunggu di sini, dilarang sembarangan bergerak.”

Dengan takut-takut girang, berulang Thio Coan-siang mengiakan perintah sang pangcu.

Cio Ci-tong, itu Thocu dari Tay-gi-hun-tho, tidak ikut serta dalam komplotan pemberontakan, maka ia menjadi sangat gusar demi mendengar Coan Koan-jing dan begundalnya merencanakan pengkhianatan itu. Saking gusarnya seketika ia tidak sanggup ikut bersuara. Baru sesudah mendengar perintah Kiau Hong agar menyertai Thio Coan-siang pergi mengundang Thoan-kong dan Cit-hoat Tianglo, dapatlah ia tenangkan pikirannya yang bergolak tadi. Katanya segera kepada anak buahnya yang berjumlah 20-an orang itu, “Sungguh celaka bahwa dalam perkumpulan kita terjadi kerusuhan, maka tibalah saatnya bagi kita harus curahkan sepenuh tenaga kita untuk membalas budi kebaikan Pangcu. Kita harus taat kepada perintah Pangcu, jangan lengah!”

Sebabnya ia memberi perintah begitu adalah khawatir bahwa Su-tay-tianglo juga ikut melawan pangcu, seorang diri tentu sang pangcu sulit melawan orang banyak. Meski orang Tay-gi-hun-tho terlalu sedikit dibanding pihak yang memberontak, tapi paling tidak sudah lebih baik daripada tiada pengikut sama sekali.

Di luar dugaan Kiau Hong berkata, “Tidak, Cio-thocu, bawalah bersama anak buah bagianmu itu, menolong para tianglo lebih penting, jangan terlambat.”

Cio Ci-tong tidak berani membantah, terpaksa mengia. Katanya pula, “Harap Pangcu bertindak secara hati-hati, selekasnya kami pasti akan kembali.”

“Para saudara yang hadir di sini adalah kawan-kawan sehidup-semati yang tidak perlu disangsikan lagi, biarpun untuk sementara mungkin mereka salah pikir, namun mereka pasti akan dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Engkau tidak usah khawatir, pergilah!” sahut Kiau Hong dengan tersenyum.

Meskipun Kiau Hong bicara dengan sikap tenang dan sewajarnya, tapi dalam batin sebenarnya sangat terguncang. Ia saksikan keberangkatan Cio Ci-tong bersama anak buahnya. Di tengah rimba kini selain Toan Ki, Ong Giok-yan, A Cu dan A Pik berempat, selebihnya kira-kira dua ratusan orang semuanya tersangkut di dalam kerusuhan ini, asal ada di antaranya memberi hasutan dan memberi perintah, tentu akan terjadi serbuan serentak dan susah dilayani. Kiau Hong coba memandang sekitarnya, ia lihat macam-macam sikap para pengemis itu, ada yang kikuk, ada yang berlagak tenang, dan ada yang khawatir, tapi ada juga yang petantang-petenteng.

Dua ratusan orang di situ semuanya terdiam, tiada seorang pun yang berani membuka suara. Tapi sekali ada yang bicara, pasti kerusuhan akan terjadi. Pikir Kiau Hong, “Dalam keadaan demikian, paling baik kalau suasana tetap dalam keadaan tenang. Kalau dapat pokok persoalan dikesampingkan dulu, baru sebentar Thoan-kong Tianglo dan lain-lain sudah datang, urusan tentu akan menjadi mudah diselesaikan.”

Sekilas terlihat olehnya Toan Ki berdiri di sampingnya, maka katanya segera, “Para saudara, hari ini aku sangat gembira karena baru saja dapat berkenalan dengan seorang sobat baru. Karena kami berdua cocok satu-sama-lain, maka aku sudah mengangkat saudara dengan adik Toan Ki ini. Nah, Toan-hiante, marilah kuperkenalkan kepada tokoh-tokoh utama di dalam Kay-pang kami.”

Lalu ia gandeng tangan Toan Ki dan mendekati kakek beruban dan bersenjatakan gada bergigi kait itu, katanya, “Beliau adalah Song-tianglo, usianya sudah lanjut dan namanya dihormati. Beliau adalah tetua yang dipuja di dalam perkumpulan kami. Senjatanya yang istimewa ini dahulu pernah malang melintang di Kangouw, tatkala itu Toan-hiante sendiri mungkin belum lahir.”

“Ah, kiranya Song-tianglo, sudah lama kukagum, sungguh beruntung hari ini bisa bertemu,” demikian Toan Ki memberi hormat.

Terpaksa dan dengan kaku Song-tianglo membalas hormat juga.

Kemudian Kiau Hong memperkenalkan si kakek pendek gemuk dan bersenjata tongkat baja itu kepada Toan Ki. Katanya, “Dia Ge-tianglo, ahli gwakang terkemuka dalam perkumpulan kita. Belasan tahun dulu kakak angkatmu ini sering belajar ilmu silat padanya. Terhadap diriku Ge-tianglo boleh dikata ya guru ya kawan, hubungan kami tak dapat diartikecilkan.”

“Ya, tadi aku sudah menyaksikan Ge-tianglo menempur kedua orang, ilmu silatnya memang benar luar biasa, sungguh sangat mengagumkan,” ujar Toan Ki.

Watak Ge-tianglo itu sangat jujur dan tulus, mendengar Kiau Hong toh tidak pernah melupakan hubungan baik di masa lampau, terutama mengungkap bahwa dirinya pernah memberi petunjuk ilmu silat, mau tak mau Ge-tianglo merasa lega dan malu hati pula, ia yakin Kiau Hong pasti takkan mengusut terlalu keras tentang ikut sertanya dalam komplotan kerusuhan ini, sebaliknya dirinya secara sembrono telah kena dihasut oleh Coan Koan-jing, hal ini benar-benar sangat tercela.

Dan sesudah Kiau Hong memperkenalkan Tan-tianglo yang bersenjatakan karung goni itu kepada Toan Ki, selagi hendak mengenalkan Go-tianglo yang bermuka merah dan bersenjatakan kui-thau-to itu, tiba-tiba didengarnya suara tindakan orang yang ramai dari arah timur laut sana. Menyusul terdengar suara berisik orang banyak yang berkata, “Bagaimana keadaan Pangcu. Di mana pengkhianatnya?” – “Kita telah tertipu dan sebal karena dikurung mereka.”

Begitulah suara berisik itu. Kiau Hong menjadi girang. Tapi ia tidak ingin mengurangi penghormatannya kepada Go-tianglo hingga menimbulkan dendam, maka ia tetap memperkenalkan juga kedudukan dan nama baik Go-tianglo kepada Toan Ki.

Ketika ia berpaling, ia lihat Thoan-kong Tianglo, Cit-hoat Tianglo, para thocu dari Tay-jin-hun-tho dan lain-lain sudah datang semua. Dalam hati mereka sebenarnya banyak yang hendak mereka katakan, tapi di hadapan sang pangcu mereka pun tidak berani sembarangan membuka suara.

Perlu diketahui bahwa Kay-pang adalah suatu organisasi terbesar di dalam Bu-lim dengan tata tertib organisasi yang sangat ketat. Pada umumnya anggota-anggota Kay-pang sangat patuh pada disiplin.

Begitulah maka Kiau Hong lantas berkata sesudah hadirnya para tianglo dan thocu itu, “Silakan para saudara suka duduk, aku ingin bicara.”

Beramai-ramai semua orang mengia, lalu mengambil tempat duduk masing-masing menurut urutan-urutan tingkat, tugas dan usia, ada yang menghadap ke kanan, ada yang ke kiri, ke depan, atau ke belakang. Tapi semuanya duduk dengan anteng.

Dalam pandangan Toan Ki, cara duduk pengemis-pengemis itu rada kacau dan tak keruan, tapi sebenarnya mereka sangat teratur, sedikit pun tidak bingung.

Melihat para anak buah menaati perintahnya dengan baik, diam-diam Kiau Hong sudah merasa lega lebih dulu.

Lalu dengan tersenyum Kiau Hong mulai bicara, “Berkat penghargaan kawan-kawan Kangouw, maka Kay-pang kita selama ratusan tahun ini dapat disebut sebagai pang-hwe terbesar di dalam Bu-lim. Dan karena sudah disebut sebagai yang ‘terbesar’, karena anggota kita terlalu banyak, pendapat tiap-tiap orang tidak selalu sama, hal ini pun dengan sendirinya susah dihindarkan. Tapi asal diberi pengertian, ada persoalan, marilah bermusyawarah, maka selamanya kita akan tetap bersatu dalam persaudaraan yang saling sayang-menyayangi. Terhadap setiap perbedaan paham dan perselisihan pendapat, kita pun tidak perlu pandang sebagai sesuatu yang luar biasa.”

Pada waktu bicara, wajah Kiau Hong tetap tenang-tenang dan ramah tamah, maka setelah mendengar uraiannya, suasana yang tadinya agak tegang itu mulai mereda.

“Numpang tanya kepada Song, Ge, Go, dan Tan-tianglo, kalian telah mengurung kami dalam perahu di tengah Thay-oh, apakah artinya itu?” demikian tiba-tiba seorang pengemis tua bermuka kuning dan duduk di sisi Kiau Hong menegur sambil berbangkit.

Kiranya dia ini Cit-hoat Tianglo, tertua yang memegang tata tertib organisasi, she Pek bernama Si-kia. Orangnya jujur dan keras, tidak pandang bulu kepada siapa pun juga. Sekalipun tidak berdosa, anggota Kay-pang juga jeri padanya. Sebabnya disiplin Kay-pang begitu baik, jasa Pek Si-kia boleh dikatakan sangat besar.

Di antara Su-tay-tianglo, usia Song-tianglo paling tua, sebab itulah ia merupakan simbol dari empat serangkai itu. Maka wajahnya menjadi merah oleh teguran Pek Si-kia, ia berdehem sekali, lalu menjawab, “Tentang itu … itu, kita … kita adalah saudara sehidup-semati, dengan sendirinya tiada maksud jahat, maka … maka harap mengingat diriku ini, hendaklah … Pek-cit-hoat suka memaafkan.”

Mendengar itu, semua anggota merasa Song-tianglo ini benar-benar sudah pikun. Masakah urusan membangkang kepada pangcu dapat dianggap sepele dan cukup dengan minta maaf begitu saja lalu urusan menjadi selesai?

Maka Pek Si-kia berkata pula, “Song-tianglo bilang tiada maksud jahat, kenyataannya tidaklah demikian. Aku dan Pui-thocu telah dikurung bersama di dalam sebuah perahu, perahu ini berlabuh di tengah telaga Thay-oh dan di atas perahu itu penuh tertumpuk kayu dan bahan bakar lain, katanya kalau kami berani melarikan diri, perahu itu segera akan dibakar. Nah, Song-tianglo, cara demikian itu apakah bukan maksud jahat?”

“Hal ini me … memang benar agak … agak keterlaluan,” sahut Song-tianglo dengan tergegap-gegap. “Kita adalah saudara sendiri, mana boleh berlaku sekasar itu? Kelak bila saling bertemu, bukankah akan merasa tidak enak?”

Kata-katanya yang terakhir itu jelas ditujukan kepada Tan-tianglo.

“Dan kau,” mendadak Pek Si-kia menuding salah seorang pengemis di sebelah sana. “Kau telah menipu kami ke atas perahu itu, katanya Pangcu mengundang kami. Kau memalsukan perintah Pangcu, apa hukumanmu?”

Laki-laki itu menjadi ketakutan hingga bergemetaran, sahutnya dengan terputus-putus, “Kedudukan Tecu sangat … sangat rendah, mana Tecu berani melakukan perbuatan durhaka? Soalnya karena … karena ….”

Berkata sampai di sini, sinar matanya beralih ke arah Coan Koan-jing seakan-akan hendak bilang Coan-thocu yang memerintahkan agar menipu kalian ke atas perahu itu.

Pek Si-kia lantas menegas, “Apakah Coan-thocu yang memberi perintah begitu padamu?”

Laki-laki itu hanya menunduk saja tanpa berkata, tidak mengiakan juga tidak membantah.

“Kau diperintahkan Coan-thocu agar memalsukan titah Pangcu untuk menipu kami ke atas perahu itu, tatkala itu kau tahu tidak bahwa titah itu palsu?” tanya Pek Si-kia pula.

Seketika wajah laki-laki itu pucat pasi dan tidak berani bersuara.

“Hm, Li Sam-jun,” jenguk Pek Si-kia, “biasanya kau adalah seorang laki-laki, berani berbuat berani bertanggung jawab. Kini kenapa menjadi pengecut dan tidak berani mengaku salah?”

Mendadak Li Sam-jun membusungkan dada dan melangkah maju, serunya dengan lantang, “Ucapan Pek-tianglo memang tepat. Aku Li Sam-jun telah berbuat salah, apakah akan dibunuh atau digantung terserah keputusanmu, kalau orang she Li ini berkerut kening sedikit saja bukan laki-laki sejati. Tatkala kusampaikan perintah palsu Pangcu kepadamu, waktu itu aku sendiri tahu kalau itu perintah palsu.”

“Sebenarnya Pangcu kurang baik padamu atau aku yang bersalah padamu?” tanya Pek Si-kia.

“Tidak semua,” sahut Li Sam-jun. “Terhadap Siokhe (hamba), Pangcu selalu sangat berbudi, begitu pula Pek-tianglo sangat adil dan jujur, siapa pun tiada yang mengomel.”

“Habis, disebabkan apa? Urusan apa yang menyebabkan kau berkhianat?” bentak Pek-tianglo dengan bengis.

Li Sam-jun pandang sekejap pada Coan Koan-jing yang berlutut itu, lalu memandang pula ke arah Kiau Hong, kemudian katanya dengan suara keras, “Siokhe telah melanggar pang-kui (tata tertib organisasi), ganjaran yang setimpal adalah mati, tapi tentang sebab musababnya, Siokhe tidak berani menerangkan.”

Habis berkata sekali tangannya bergerak, sinar putih berkelebat, “bles”, tahu-tahu sebilah belati telah menancap hulu hatinya.

Tikaman sendiri itu sangat cepat, pula tepat mengenai jantung, ujung belati sampai menembus ke punggung, keruan Li Sam-jun terjungkal seketika dan binasa.

Dalam kagetnya para pengemis yang lain sama menjerit, tapi semuanya tetap duduk di tempat masing-masing, tiada seorang pun berani bergerak.

Dengan wajah yang kereng Pek Si-kia berkata pula, “Kau tahu perintah Pangcu itu palsu, tapi tidak melapor pada Pangcu, bahkan menipu aku, hukumanmu memang seharusnya mati.”

Lalu ia berpaling pada Thoan-kong Tianglo dan berkata, “Hang-heng, siapa pula orang yang menipumu ke atas perahu?”

Belum lagi Hang-tianglo menjawab, sekonyong-konyong seorang melompat pergi dari rombongan sana dan berlari sekencang-kencangnya. Orang ini menyandang lima kantong, terang dia adalah Go-te-tecu. Melihat larinya itu, jelas dia inilah orang yang menyampaikan perintah palsu untuk menipu Hang-tianglo ke atas perahu itu.

Thoan-kong dan Cit-hoat Tianglo saling pandang dengan menghela napas gegetun, keduanya tidak bicara lagi.

Dalam pada itu tiba-tiba sesosok bayangan orang melesat dengan cepat sekali dan tahu-tahu sudah mengadang di depan Go-te-tecu yang hendak melarikan diri itu.

Pengadang itu ternyata bermuka merah dan bergolok kui-thau-to, ialah Go-tianglo di antara Kay-pang-su-lo itu.

Terdengar kakek itu membentak dengan bengis, “Lau Tiok-ceng, mengapa kau hendak melarikan diri?”

Melihat dirinya diadang Go-tianglo, saking ketakutan Go-te-tecu yang dipanggil sebagai Lau Tiok-ceng itu sampai lemas kakinya, sahutnya dengan tak lancar, “Aku … aku ….”

Begitulah hampir sepuluh kali ia mengucapkan “aku” dan tidak sanggup meneruskan lagi.

“Sebagai anggota Kay-pang, kita harus taat kepada tata tertib yang kita warisi dari leluhur. Seorang laki-laki sejati berani berbuat berani bertanggung jawab. Kalau salah berani mengaku salah kalau benar, apa lagi yang mesti ditakutkan?”

Demikian seru Go-tianglo. Lalu ia berpaling ke arah Kiau Hong dan meneruskan, “Pangcu, kami memang berkomplotan hendak menggulingkan kedudukanmu sebagai pangcu. Dalam komplotan ini, Ge, Tan, Song dan Go keempat tianglo semuanya tersangkut. Kami khawatir Thoan-kong dan Cit-hoat Tianglo tidak setuju dengan rencana kami, maka berdaya mengurungnya. Hal ini demi untuk perkembangan Kay-pang kita di hari depan terpaksa mesti berani mengambil risiko. Tapi pergerakan kami rupanya kurang mujur hingga dapat dibongkar oleh kalian. Nah, terserahlah bagaimana kalian akan mengambil keputusan. Aku Go Tiang-hong sudah lebih 30 tahun menjadi anggota Kay-pang, siapa pun tahu aku bukan manusia yang takut mati.”

Habis berkata, golok kui-thau-to mendadak dilemparkannya jauh-jauh, lalu kedua tangannya bersedekap di depan dada, sikapnya angkuh dan pantang takut.

Dengan terus terang Go-tianglo mengatakan komplotan hendak menggulingkan sang pangcu, keruan seketika gegerlah anggota Kay-pang yang lain. Sudah tentu rencana itu diketahui siapa pun yang ikut dalam komplotan itu, tapi justru untuk mengaku terus terang itulah tiada yang berani. Kini Go Tiang-hong orang pertama yang berani mengaku terus terang, mau tak mau semua orang harus mengagumi kejujuran dan keberaniannya.

“Song, Ge, Tan dan Go berempat tianglo berkomplot hendak menggulingkan Pangcu, perbuatan ini melanggar pasal satu undang-undang organisasi kita,” demikian Pek Si-kia, tertua pelaksana hukum, menyatakan keputusannya, “Cit-hoat-tecu (murid pelaksana hukum), ringkuslah keempat tianglo!”

Segera anak buahnya yang menerima perintah itu mengeluarkan tali kulit kerbau, lebih dulu Go Tiang-hong diringkus, tertua itu hanya tersenyum saja dan membiarkan dirinya diikat tanpa melawan sedikit pun. Menyusul Song-tianglo dan Go-tianglo juga meletakkan senjata dan menyerah untuk diringkus.

Hanya wajah Tan-tianglo yang kelihatan penasaran, ia mengomel sendiri, “Pengecut, pengecut semua! Kalau tadi kita serbu serentak, belum tentu kita dikalahkan, tapi justru setiap orang jeri kepada Kiau Hong.”

Apa yang dikatakan memang benar, ketika Coan Koan-jing ditundukkan, bila anggota yang ikut berkomplot itu serentak menyerbu maju, betapa pun Kiau Hong pasti susah melawannya. Malahan kemudian dengan datangnya Thoan-kong Tianglo, Cit-hoat Tianglo dan para thocu dari Tay-jin, Tay-gi, Tay-sin dan Tay-yong, tetap jumlah pengikut komplotan jauh lebih banyak.

Akan tetapi di hadapan Kiau Hong yang gagah perkasa dan berwibawa itu, ternyata tiada seorang pun berani mendahului turun tangan sehingga kesempatan baik berlalu dengan sia-sia, akhirnya satu per satu kena diringkus malah.

Sekarang biarpun Tan-tianglo bertekad bertempur mati-matian, namun ia sudah terpencil seorang diri. Maka dengan menghela napas ia lempar karung goninya dan membiarkan kaki dan tangannya diikat dengan tali oleh anak buah Cit-hoat Tianglo.

“Lau Tiok-ceng,” seru Cit-hoat Tianglo kemudian, “cara tindak tandukmu seperti ini apakah kau masih ada harganya untuk menjadi anggota Kay-pang? Kau akan membereskan diri sendiri atau perlu bantuan orang lain?”

“Aku … aku ….” sahut Lau Tiok-ceng dengan tergegap dan tak dapat melanjutkan lagi, ia melolos golok dan bermaksud menggorok leher sendiri, tapi tangannya terlalu gemetar hingga tidak kuat mengangkat goloknya.

“Huh, tak becus seperti ini juga mengaku sebagai anggota Kay-pang,” jengek salah seorang anak buah Cit-hoat-tecu tadi. Segera ia bantu memegang tangan Lau Tiok-ceng yang bersenjata itu, lalu menggorok sekuatnya untuk memutuskan lehernya.

“Te … terima kasih ….” kata Lau Tiok-ceng dengan terputus-putus, lalu melayanglah jiwanya.

Kiranya menurut peraturan Kay-pang, setiap anggota yang berdosa dan harus dihukum mati, kalau pelaksanaan itu dilakukan dengan tangan sendiri, maka dia masih tetap dianggap sebagai saudara dalam Kay-pang dan dengan matinya itu berarti dosanya sudah tercuci bersih. Tapi kalau dilakukan oleh Cit-hoat-tecu, itu berarti dosanya tidak pernah diampuni selamanya.

Tadi Cit-hoat-tecu itu melihat Lau Tiok-ceng bermaksud membunuh diri, tapi tenaga kurang, maka telah membantu melaksanakan keinginannya itu.

Begitulah Toan Ki, Ong Giok-yan, A Cu dan A Pik berempat tanpa sengaja telah menyaksikan kerusuhan di dalam Kay-pang, diam-diam mereka merasa menyesal telah ikut-ikut mendengar dan melihat urusan dalam orang lain yang mestinya tidak boleh diketahui orang luar.

Tapi kalau mereka pergi begitu saja, tentu akan menimbulkan curiga orang-orang Kay-pang. Terpaksa mereka tetap duduk tenang di tempatnya dengan lagak seakan-akan tidak ambil pusing apa yang terjadi itu. Namun bukan mustahil dengan binasanya Lau Tiok-ceng dan Li Sam-jun serta diringkusnya Su-tay-tianglo yang tadinya tampak gagah perkasa itu, mungkin banyak kejadian mengerikan masih akan berlangsung pula.

Maka mereka berempat cuma saling pandang saja, mereka merasa serbasalah menghadapi keadaan begitu. Toan Ki sendiri adalah saudara angkat Kiau Hong, sedangkan waktu Hong Po-ok keracunan, Kiau Hong telah memintakan obat baginya. Hal ini membuat Ong Giok-yan, A Cu dan A Pik merasa sangat berterima kasih padanya. Kini melihat Kiau Hong dapat memulihkan kerusuhan di dalam Kay-pang dan berhasil meringkus biang keladi komplotan pengkhianat, sudah tentu mereka ikut bersyukur bagi Kiau Hong.

Dalam pada itu Kiau Hong sendiri lagi duduk dengan termangu-mangu di samping sana, meski anggota yang berkhianat satu per satu telah dapat diringkus, tapi sedikit pun ia tidak merasa senang sebagai pihak yang menang.

Terkenang olehnya waktu dia menerima jabatan pangcu dari Ong-pangcu almarhum yang berbudi itu, selama delapan tahun memegang pimpinan, sudah banyak peristiwa ke luar maupun ke dalam yang telah diselesaikan dengan baik, sedikit pun tidak pernah memikirkan kepentingan diri pribadi hingga Kay-pang selama di bawah pimpinannya bertambah jaya dan makin disegani oleh sesama kawan Kangouw.

Berdasarkan itu, dirinya boleh dikatakan banyak jasanya dan tidak merasa pernah berbuat sesuatu kesalahan, mengapa sekarang mendadak ada komplotan seluas ini hendak menggulingkan dirinya? Kalau melulu Coan Koan-jing yang bernafsu besar hendak menghancurkan Kay-pang, mengapa Su-tay-tianglo yang dapat dipercaya itu juga ikut dalam komplotan ini? Apa barangkali tanpa sengaja dan tanpa sadar dirinya telah berbuat sesuatu kesalahan yang menimbulkan kemarahan para kawan?

Sementara itu terdengar Pek Si-kia mulai berkata lagi dengan lantang, “Para saudara, Kiau-pangcu diangkat sebagai pengganti Ong-pangcu almarhum, selama ini beliau menjalankan tugas dengan baik hingga Kay-pang kita mendapat kemajuan yang tidak sedikit, waktu ditunjuk sebagai pengganti pangcu, dahulu Ong-pangcu telah banyak mengujinya lebih dulu dengan soal-soal sulit. Di antaranya ada tiga syarat berat serta mengharuskan dia melaksanakan tujuh macam pahala besar bagi Kay-pang habis itu barulah mewariskan Pak-kau-pang (pentung penggebuk anjing) padanya.

“Dahulu waktu diadakan Thay-san-tay-hwe (pertemuan besar di Thay-san), seorang diri Kiau-pangcu telah menjatuhkan delapan lawan tangguh, banyak kawan-kawan yang hadir di sini ikut menyaksikan kejadian itu. Selama delapan tahun ini Kiau-pangcu selalu bertindak adil dan berbudi, nama baik Kay-pang kita pun semakin membubung tinggi, untuk mana seharusnya kita berterima kasih dan mencintainya dengan sepenuh jiwa raga kita, tapi kini ternyata ada orang yang hendak berkhianat. Nah, Coan Koan-jing, boleh coba kau bicara sendiri di hadapan para kawan!”

Karena Coan Koan-jing ditutuk bisu oleh Kiau Hong, maka apa yang dikatakan Pek-tianglo itu dapat didengar dengan jelas, susahnya ia sendiri tak dapat membuka suara untuk menjawabnya.

Maka Kiau Hong mendekatinya dan menepuk perlahan punggung Coan Koan-jing untuk membuka hiat-to yang ditutuknya itu, katanya, “Coan-thocu, aku Kiau Hong pernah berbuat sesuatu dosa apa kepada para saudara, silakan bicara terus terang di sini, tidak perlu takut dan tidak perlu pantang bicara.”

Karena hiat-to telah lancar kembali, segera Coan Koan-jing melompat bangun dan berseru, “Dosamu kepada para saudara belum kau lakukan sekarang, tapi tidak lama lagi tentu akan kau jalankan.”

“Ngaco-belo!” bentak Cit-hoat Tianglo Pek Si-kia. “Pribadi Kiau-pangcu cukup kesatria dan berjiwa besar, sebelum ini tiada sesuatu kejahatan yang dilakukannya, untuk selanjutnya juga takkan diperbuatnya.”

“Pek-tianglo,” sela Kiau Hong, “harap sabarlah, biarkan Coan-thocu bertutur sejelasnya dari awal sampai akhir duduk perkara. Jika Song-tianglo dan Ge-tianglo berempat juga menyalahkan diriku, mungkin aku pernah berbuat sesuatu kesalahan.”

“Aku memberontak padamu adalah salahku,” seru Ge-tianglo mendadak, “maka tidak perlu kau singgung lagi. Sebentar sesudah urusan selesai aku sendiri akan penggal kepalaku ini untukmu.”

Walaupun ucapan Ge-tianglo itu kedengarannya rada lucu namun perasaan setiap orang sedang dirundung kepedihan karena adanya perpecahan di dalam organisasi, maka tiada seorang pun yang merasa geli.

Terdengar Pek-tianglo membenarkan ucapan Kiau Hong tadi, sahutnya, “Baiklah. Nah, uraikanlah, Coan Koan-jing.”

Melihat komplotannya telah gagal, sekutunya seperti Song-tianglo berempat telah diringkus, terang usahanya akan sia-sia belaka. Namun ia masih ingin menempuh jalan terakhir, maka serunya dengan lantang, “Kematian Be-hupangcu dibunuh orang, kuyakin atas suruhan Kiau Hong!”

Keruan Kiau Hong terguncang hebat oleh tuduhan itu. “Apa katamu?” serunya.

Saking kejutnya sampai suaranya agak parau.

“Sebab apa engkau diam-diam benci kepada Be-hupangcu dan ingin mengenyahkannya, kalau tidak melenyapkan beliau dirasakan olehmu serupa duri dalam daging, kedudukan pangcu menjadi tidak teguh bagimu,” demikian kata Coan Koan-jing.

Kiau Hong menggeleng perlahan, katanya, “Tidak. Hubunganku dengan Be-hupangcu meski tidak begitu rapat, dalam tutur kata juga tidak cocok, tapi selamanya aku tidak pernah punya maksud mencelakai dia. Tuhan sebagai saksi, bila aku Kiau Hong ada niat mencelakai Be-hupangcu, biarlah aku hancur lebur dicencang dan selamanya aku akan dikutuk setiap kesatria di jagat ini.”

Melihat sikap Kiau Hong yang sungguh-sungguh dan penuh semangat kesatria itu, maka tiada seorang pun yang berprasangka lagi padanya.

Tapi Coan Koan-jing lantas berkata lagi, “Jika begitu, tujuan kita datang ke Koh-soh sini untuk menuntut balas kepada Buyung-kongcu, mengapa berulang-ulang engkau bersekongkol dengan musuh?”

Ia tuding Giok-yan bertiga, lalu melanjutkan, “Ketiga orang ini adalah anak keluarga Buyung Hok dan engkau malah membelanya.”

Ia tuding Toan Ki pula dan berkata, “Dan orang ini adalah kawan Buyung Hok, engkau justru mengangkat saudara dengan dia ….”

“Bukan, bukan!” demikian seru Toan Ki menirukan lagu Pau Put-tong sambil goyang-goyang kedua tangannya. “Aku bukan kawan Buyung Hok, sedangkan macam apa Buyung Hok itu, apakah dia bundar atau gepeng, sama sekali aku tidak tahu.”

“Pau Put-tong, itu orang yang suka ‘bukan-bukan’ adalah Cengcu Pek-in-ceng merupakan bawahan Buyung Hok, ‘It-tin-hong’ Hong Po-ok juga pengikut Buyung Hok yang mengepalai Jik-sia-ceng,” demikian Coan Koan-jing berkata pula. “Kalau mereka tidak tertolong olehmu, sudah sejak tadi yang satu mati keracunan dan yang lain binasa tercencang. Kejadian tadi telah disaksikan orang banyak, dalam hal ini apakah engkau mampu menyangkal?”

“Sudah ratusan tahun sejarah Kay-pang kita dan selama itu selalu mendapat dukungan dan dihormati sesama orang Kangouw, sebabnya bukan karena menang pengaruh atau menang pintar, tapi karena kita senantiasa berbuat kebajikan, suka membela kaum lemah dan menegakkan keadilan,” kata Kiau Hong dengan perlahan. “Coan-thocu, engkau menuduh aku membela ketiga nona itu, memang benar aku telah membela mereka, hal itu disebabkan aku ingin menjaga nama baik Kay-pang yang sudah bersejarah ratusan tahun ini agar tidak sampai ditertawai kawan Kangouw bahwa para Tianglo Kay-pang mengeroyok tiga orang nona lemah. Coba pikirkan, Song, Ge. Tan dan Go berempat tianglo adalah kaum locianpwe yang disegani, masakah nama baik mereka tidak harus dijaga? Mungkin engkau memang tidak, tapi orang lain tak dapat membiarkan nama baik mereka tercemar.”

Mendengar jawaban Kiau Hong ini, semua orang merasa cukup beralasan juga. Bila beramai-ramai mereka mempersulit ketiga nona seperti Giok-yan dan hal ini tersiar, memang nama baik Kay-pang pasti akan tercemar.

“Nah, Coan Koan-jing, apa yang dapat kau katakan lagi?” tanya Pek-tianglo kemudian. Lalu ia berpaling kepada Kiau Hong dan berkata pula, “Pangcu, manusia yang tidak kenal adat begini, buat apa banyak bicara dengan dia, biarlah jatuhkan hukuman yang setimpal menurut peraturan saja.”

“Sabar dulu,” ujar Kiau Hong. “Menurut dugaanku, sebabnya Coan-thocu dapat memengaruhi orang sebanyak ini untuk melawan diriku, tentu dia mempunyai alasan yang teguh. Seorang laki-laki sejati, segala tindakan harus dilakukan secara blakblakan, kalau salah biar salah, aku Kiau Hong selamanya tidak pernah menyembunyikan sesuatu perbuatan yang tak boleh diketahui orang lain, andaikan ada kesalahanku, biarlah para saudara suka katakan terus terang.”

“Pangcu,” tiba-tiba Go-tianglo menyela dengan menghela napas, “mungkin engkau adalah seorang durjana besar yang pintar berlagak, boleh jadi engkau adalah seorang kesatria sejati pula. Tapi aku Go Tiang-hong sudah terang tidak dapat membeda-bedakannya. Maka lebih baik lekas kau bunuh diriku saja.”

Kiau Hong menjadi heran dan curiga, tanyanya cepat, “Go-tianglo, mengapa engkau bilang aku mungkin seorang durjana? Hal apakah yang menyebabkan engkau men … mencurigai aku?”

Namun Go Tiang-hong menggeleng kepala, sahutnya, “Kalau diceritakan, urusan ini akan sangat luas sangkutannya, sebenarnya kami ingin membunuhmu agar selesailah urusannya.”

Keruan Kiau Hong tambah bingung oleh ucapan kakek itu. “Mengapa? Ada apa?”

Demikian ia bergumam sendiri. Lalu ia mendongak dan berseru, “Apakah karena aku telah menolong dua pembantu Buyung Hok, lantas kalian mendakwa aku bersekongkol dengan dia? Soalnya memang begitu atau tidak, saat ini masih sukar diputuskan. Tapi menurut perasaanku, aku tetap yakin tewasnya Be-hupangcu bukan dibunuh oleh Buyung Hok.”

“Dari mana kau tahu?” tanya Coan Koan-jing.

Pertanyaan ini tadi sudah pernah diajukannya, tapi karena terseling banyak kejadian lain, maka belum terjawab, dan baru sekarang pertanyaannya dapat diulang lagi.

“Sebab kupikir Buyung Hok adalah seorang kesatria, seorang laki-laki sejati, tidak nanti dia turun tangan membunuh Be-jiko,” sahut Kiau Hong kemudian.

Mendengar Kiau Hong memuji Buyung Hok, hati Giok-yan merasa senang, diam-diam ia pun pikir Kiau-pangcu ini benar-benar seorang yang baik. Sebaliknya Toan Ki berpikir lain, dengan kening bekernyit ia anggap pujian sang toako ini mungkin tidak benar, belum tentu Buyung Hok itu seorang kesatria apa segala?

Maka terdengarlah Coan Koan-jing berkata pula, “Selama dua bulan ini, jago-jago Kangouw yang terbunuh berjumlah tidak sedikit, dan setiap orang itu selalu terbinasa di bawah kungfu andalannya sendiri. Hal ini kalau bukan perbuatan Buyung-si dari Koh-soh, lantas perbuatan siapa?”

Tiba-tiba Kiau Hong berjalan mondar-mandir perlahan di tengah kalangan sambil bicara dengan suara tenang, “Saudara-saudara sekalian, kemarin malam ketika aku sedang minum arak di rumah makan Bong-kan-lau di tepi sungai Tiangkang di kota Kang-im, aku bertemu dengan seorang sastrawan setengah umur yang ternyata mampu minum sepuluh mangkuk arak sekaligus tanpa mabuk sedikit pun. Sungguh kuat cara minumnya dan benar-benar seorang lelaki sejati.”

Diam-diam Toan Ki tersenyum geli, katanya di dalam hati, “Kiranya kemarin malam Toako sudah berlomba minum arak dengan orang. Dan karena orang itu sangat kuat minum, cara minumnya sederhana, lantas dia merasa senang serta memuji orang sebagai lelaki sejati, padahal semua orang tidak dapat disamaratakan.”

Dalam pada itu Kiau Hong sedang menyambung ceritanya, “Maka telah kuajak minum tiga mangkuk dengan dia, ketika berbicara tentang tokoh-tokoh di daerah Kanglam, dia menyombongkan diri bahwa tenaga pukulannya nomor satu di daerah Kanglam. Maka lantas kuajak dia bertanding tiga kali pukulan.

“Pukulan pertama dan kedua dapat dia tangkis dengan sama kuatnya, tapi pukulan ketiga telah membuat mangkuk yang dipegang tangan kirinya pecah tergetar dan remukan beling mangkuk melukai mukanya hingga berdarah.

“Tapi dengan tenang seperti tidak terjadi apa-apa ia berkata, ‘Sayang, sayang semangkuk arak yang bagus ini!’

“Aku merasa senang padanya, maka pukulan keempat tidak kulakukan lagi. Kataku, ‘Tenaga pukulan saudara memang sangat hebat, sebutan ‘Kanglam-te-it’ (nomor satu di Kanglam) memang sesuai.’

“Ia menjawab, ‘Kanglam-te-it, tapi Thian-he-te-cap (nomor sepuluh di dunia).’

“Ujarku, ‘Hengtay tidak perlu rendah diri, walaupun bukan nomor satu, tapi nomor lima atau nomor enam di dunia ini pasti jadi.’

“Tiba-tiba ia berkata, ‘Kiranya Pangcu dari Kay-pang yang tiba, Hang-liong-sip-pat-ciang memang bukan omong kosong, marilah ingin kuhormati engkau satu mangkuk lagi.’

“Segera kami minum pula masing-masing tiga mangkuk. Ketika hendak berpisah telah kutanya namanya, ia mengatakan she Kongya, namanya cuma satu, Kian, artinya kering, kalau minum pasti kering isi cawannya. Nama aliasnya ialah ‘Lan-cui’ (susah mabuk). Ia mengaku sebagai pengikut Buyung-kongcu dan menjabat sebagai Cengcu Hian-siang-ceng, aku telah diundang ke tempat tinggalnya untuk minum lagi. Nah, coba katakan, saudara-saudara, pribadi laki-laki seperti itu bagaimana menurut pendapat kalian? Pantas diajak bersahabat tidak?”

Watak Go-tianglo paling jujur dan suka terus terang, maka segera ia acung jempolnya dan berseru, “Kongya Kian itu benar-benar seorang laki-laki sejati dan sobat baik. Pangcu, kapan-kapan harap engkau suka memperkenalkannya kepadaku.”

Ia lupa bahwa dirinya adalah orang hukuman yang diringkus dan sebentar lagi mungkin akan mendaftarkan diri kepada raja akhirat. Tapi demi mendengar cerita tentang seorang kesatria, seorang laki-laki sejati, tanpa terasa ia mengutarakan perasaan kagumnya serta ingin berkenalan.

Kiau Hong tersenyum, diam-diam ia merasa gegetun seorang yang polos sebagai Go-tianglo itu ternyata ikut tersangkut di dalam komplotan pengkhianatan ini. Entah bagaimana nasibnya nanti di bawah keputusan Pek-tianglo yang keras dan tidak pandang bulu itu?

“Kemudian bagaimana, Pangcu?” tiba-tiba Song-tianglo ikut tanya.

“Setelah berpisah dengan Kongya Kian, aku terus menuju ke Bu-sik sini,” tutur Kiau Hong pula. “Menjelang petang, tiba-tiba kudengar suara pertengkaran dua orang yang berdiri di atas sebuah jembatan kecil. Tatkala itu hari sudah mulai gelap, tapi kedua orang itu masih bertengkar di situ, aku heran dan coba mendekatinya.”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: