Pendekar Kerajaan Tayli ~ Jilid 24

“Kiranya jembatan itu adalah sebuah tok-bok-kip (jembatan balok kayu tunggal) yaitu hanya selonjor balok yang menghubungkan ujung sini dengan seberang sana. Di sebelah sini berdiri seorang laki-laki berbaju hitam dan sebelah sana berdiri seorang desa sambil memikul satu pikulan rabuk kotoran.

“Rupanya kedua orang itu bertengkar karena berebut hak jalan lebih dulu. Si orang desa menyatakan dia membawa pikulan yang berat, tidak mungkin mundur, maka laki-laki berbaju hitam itu disuruh memberi jalan dulu.

“Tapi laki-laki baju hitam itu menjawab, ‘Sejak tadi kita saling ngotot sampai sekarang, biarpun ngotot lagi sampai besok juga aku takkan mengalah.’

“Si orang desa berkata, ‘Jika kau tahan bau busuk kotoran pikulanku ini, boleh coba kau ngotot terus.’ – ‘Pundakmu dibebani pikulan seantap itu, jika engkau tidak lelah, boleh coba, kita lihat saja siapa lebih tahan lama,’ demikian sahut si laki-laki baju hitam.

“Sudah tentu aku merasa geli menyaksikan peristiwa itu, pikirku watak laki-laki baju hitam ini benar-benar sangat aneh, asal dia mundur dulu dan memberi jalan kepada orang desa itu, kan segala urusan menjadi beres, tapi ia justru ngotot berebut jalan dengan orang desa yang memikul kotoran untuk rabuk sawah itu, apanya yang menarik sih? Dan dari ucapan mereka itu, nyata mereka sudah saling ngotot lebih satu jam lamanya.

“Tertarik oleh kejadian lucu itu, aku menjadi ingin tahu bagaimana akhirnya pertengkaran mereka itu, apakah akhirnya laki-laki baju hitam itu yang menyerah atau si orang desa yang mengaku kalah?

“Tapi aku tidak sudi mencium bau busuk kotoran yang dipikul orang desa itu, maka aku bersembunyi di tempat agak jauh, kudengar kedua orang itu masih terus bertengkar tak mau kalah. Orang desa itu benar-benar sangat kuat, kalau capek ia pindahkan pikulannya dari pundak kiri ke pundak kanan dan sebaliknya secara bergiliran, namun selangkah pun ia pantang mundur.”

Mendengar sampai di sini, Toan Ki coba memandang Giok-yan, A Cu, dan A Pik bertiga. Ternyata ketiga nona itu sedang mendengarkan dengan penuh perhatian dan merasa sangat tertarik.

Diam-diam Toan Ki membatin, “Toako ini benar-benar rada aneh tabiatnya, menghadapi suasana yang tegang di tengah pengkhianatan anggota Kay-pang, ternyata dia masih bisa iseng menceritakan hal-hal yang tiada sangkut pautnya dengan kepentingannya itu. Ceritanya bagi nona Ong bertiga sudah tentu menarik, tapi Kiau-toako yang gagah kesatria seperti ini mengapa juga masih kekanak-kanakan sifatnya?”

Akan tetapi tidak cuma Giok-yan bertiga saja yang tertarik oleh cerita Kiau Hong itu, sebab semua anggota Kay-pang yang hadir di situ tampaknya juga sedang mendengarkan dengan penuh perhatian, sama sekali tidak merasa cerita Kiau Hong itu sebagai dongengan kosong.

Maka Kiau Hong telah melanjutkan, “Setelah mengikuti kejadian itu sebentar, lambat laun aku terkejut, kulihat laki-laki baju hitam yang berdiri di atas jembatan balok itu tetap menegak bagai gunung antengnya, terang ia seorang yang memiliki ilmu silat yang sangat tinggi. Sebaliknya orang desa itu hanya seorang biasa saja, sedikit pun tidak paham ilmu silat.

“Makin melihat makin heran aku, kupikir ilmu silat laki-laki baju hitam ini begini hebat, asal dia gunakan sebuah jarinya saja sudah cukup untuk dorong orang desa berikut pikulannya terguling ke dalam sungai, akan tetapi ia justru tidak mau menggunakan ilmu silatnya.

“Pada umumnya jago silat setinggi itu seharusnya seorang yang sabar dan peramah, umpama tidak mau mengalah cukup sekali melompat saja sudah dapat lewat ke seberang sana dengan melintasi kepala orang desa itu, hal ini dengan mudah dapat dilakukannya, tapi mengapa dia justru cari gara-gara dengan orang desa itu? Sungguh aneh dan menggelikan!

“Dalam pada itu kudengar laki-laki baju hitam itu lagi berseru, ‘Ayo, kau mau mengalah atau tidak, kalau tidak, terpaksa aku memaki!’

“Tapi orang desa itu tetap ngotot, sahutnya, ‘Mau maki boleh maki. Kau bisa memaki, memangnya aku tidak bisa?’ – Bahkan ia terus memaki lebih dulu. Maka laki-laki baju hitam itu pun balas memaki kalang kabut. Ramai sekali mereka saling caci maki, dari yang halus sampai yang paling kotor, yang lucu dan yang aneh-aneh, semuanya mereka keluarkan.

“Kira-kira satu jam pula perang mulut itu berlangsung, sementara itu si orang desa tampak agak payah, tenaga habis dan keringat mengucur. Sebaliknya laki-laki baju hitam itu sangat kuat tenaga dalamnya, ia tetap bertahan dengan penuh semangat. Kulihat badan si orang desa mulai bergoyang-goyang, tampaknya tidak lama lagi tentu ia akan kecebur ke dalam sungai.

“Tak tersangka, mendadak orang desa itu mencelupkan sebelah tangannya ke dalam tong kotoran yang dia pikul itu, ia meraup satu comot kotoran terus dilemparkan ke arah laki-laki baju hitam. Sudah tentu laki-laki baju hitam sama sekali tidak menduga akan perbuatan lawan itu, ia berseru kaget, kontan mukanya dan mulutnya penuh terciprat air kotoran.

“Diam-diam aku mengeluh orang desa itu pasti bakal celaka, ia mencari mati sendiri dan tak bisa menyalahkan laki-laki baju hitam itu. Benar juga laki-laki itu menjadi murka, sekali angkat tangannya, terus saja menabok ubun-ubun kepala orang desa itu.”

Mendengar sampai di sini, rupanya saking tertarik oleh cerita Kiau Hong itu hingga mulut Giok-yan yang kecil mungil itu tampak agak melongo. Sedangkan A Cu dan A Pik tampak saling pandang dengan tersenyum.

Kiau Hong sedang melanjutkan, “Kejadian itu datangnya terlalu mendadak, hendak kutolong orang desa itu pun tidak keburu lagi. Tak terduga ketika tangan laki-laki itu sudah dekat batok kepala orang desa itu, tiba-tiba ia hentikan serangannya hingga tangan tertahan di udara. Ia tertawa dan bertanya, ‘Lauhia (saudara), engkau bertanding ketekunan denganku, sebenarnya siapakah yang menang, ha?’

“Tapi orang desa itu ternyata sangat bandel, sudah terang ia kalah, namun tetap tidak mau mengaku, sahutnya, ‘Aku memikul barang berat, sudah tentu kau lebih tahan. Coba kau bawa pikulan dan aku berdiri dengan bebas, marilah kita boleh coba-coba lagi siapa yang menang dan siapa yang akan kalah?’ – ‘Benar juga ucapanmu,’ sahut laki-laki itu. Terus saja dengan tangan kiri ia angkat pikulan dari pundak si orang desa, ia tidak taruh pikulan itu di pundak sendiri, tapi terus diangkat tinggi ke atas dengan tangan lurus tegak.

“Meski orang desa itu tidak paham ilmu silat namun tenaganya sebenarnya sangat besar. Demi tampak laki-laki itu mampu angkat pikulannya yang berat itu dengan sebelah tangan tanpa bergoyang sedikit pun, mau tak mau orang desa itu ternganga kaget. ‘Nah, biar aku angkat pikulanmu ini cara begini dan takkan berganti tangan, marilah kita coba bertanding lagi, siapa yang kalah nanti harus minum habis kotoran satu pikul ini!’ demikian kata laki-laki itu dengan tertawa.

“Keruan orang desa itu tidak berani bertengkar lagi demi menyaksikan betapa hebat tenaga sakti laki-laki itu, buru-buru ia hendak mundur ke belakang. Tapi saking gugupnya ia terpeleset hingga tercemplung ke dalam sungai. Syukur laki-laki baju hitam sempat ulur sebelah tangannya untuk menjambret leher baju orang desa itu.

“Dan sambil sebelah tangan mengangkat pikulan kotoran dan tangan lain menjinjing orang desa itu, laki-laki itu terbahak-bahak dan berseru, ‘Hahaha! Sungguh puas!’ – Habis itu sekali lompat ia sudah sampai di seberang sungai dengan enteng. Ia taruh orang desa dan pikulannya ke tanah, lalu tinggal pergi dan menghilang di dalam hutan dengan ginkang yang tinggi.

“Nah, saudara-saudara, laki-laki baju hitam itu telah dicaci maki oleh orang desa itu, bahkan telah disiram air kotoran, kalau ia mau membunuhnya boleh dikatakan semudah menggecek seekor semut. Seumpama dia tidak ingin sembarangan membunuh orang, paling tidak ia dapat memberi sekali gebukan atau tendangan kepada orang desa itu pun pantas rasanya. Akan tetapi ia justru tidak mau main kekerasan, tidak mau mentang-mentang lebih pandai, sifat laki-laki itu benar-benar luar biasa, sungguh sukar dicari bandingannya di kalangan Bu-lim.

“Saudara-saudara, kejadian itu telah kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri, jarak tempat kusembunyi waktu itu agak jauh, rasanya tidak mungkin aku diketahui olehnya hingga dia sengaja berbuat apa yang terjadi itu untuk mengelabui pikiranku. Coba katakanlah, saudara-saudara, orang begitu terhitung kawan pilihan tidak? Termasuk seorang laki-laki sejati bukan?”

Song-tianglo, Ge-tianglo dan Go-tianglo serentak menjawab, “Benar, dia seorang kawan pilihan, seorang laki-laki sejati!”

“Tapi sayang Pangcu tidak tahu siapa namanya,” Tan-tianglo juga berkata, “kalau tahu, tentu kita pun ingin tahu bahwa di daerah Kanglam sini ternyata ada seorang tokoh sehebat itu.”

“Kawan itu tadi malahan sudah saling gebrak dengan Tan-tianglo sendiri,” sahut Kiau Hong perlahan. “Bahkan tangannya kena diantup oleh kalajengking Tan-tianglo.”

“Hah, dia It-tin-hong Hong Po-ok?” seru Tan-tianglo terperanjat.

“Benar!” sahut Kiau Hong sambil mengangguk.

Dan baru sekarang Toan Ki paham sebabnya Kiau Hong mendongeng, tujuannya adalah ingin melukiskan secara nyata watak Hong Po-ok yang sejati, bahwa manusia itu tidak boleh dinilai dari lahirnya, bahwa wajah bagus belum tentu juga berhati baik.

Biarpun muka Hong Po-ok itu jelek, lebih mirip setan daripada manusia, suka cari gara-gara dan berkelahi pula, tapi jiwanya ternyata sangat luhur dan bajik.

Dari itu juga Toan Ki paham mengapa Giok-yan, A Cu dan A Pik begitu tertarik oleh cerita itu, sudah tentu disebabkan mereka tahu siapa yang dimaksudkan karena kenal watak Hong Po-ok yang suka bertengkar dengan orang tanpa sebab, tapi juga tidak nanti sembarangan membikin susah orang.

Dalam pada itu terdengar Kiau Hong sedang berkata pula, “Nah, Tan-tianglo, kita selalu anggap Kay-pang kita adalah suatu pang-hwe terbesar di dunia Kangouw, engkau sendiri adalah tokoh utama Kay-pang kita, kedudukan dan nama baikmu sudah tentu tak dapat disejajarkan dengan seorang keroco daerah Kanglam seperti Hong Po-ok itu. Tapi Hong Po-ok sesudah dihina toh masih bisa menjaga harga diri dari tidak mau sembarangan membikin susah orang lain, masakah tokoh-tokoh Kay-pang kita mesti kalah daripada dia?”

Muka Tan-tianglo menjadi merah, sahutnya, “Ajaran Pangcu memang tepat. Engkau suruh aku memberikan obat penawar padanya, kiranya adalah demi kehormatanku. Untuk itu Tan Put-peng tidak tahu maksud baik Pangcu, sebaliknya malah merasa tidak senang. Sungguh aku ini goblok seperti kerbau.”

“Nama baik Kay-pang kita dan kehormatan Tan-tianglo adalah soal kedua, yang paling utama adalah orang persilatan seperti kita ini dilarang keras membunuh sesamanya yang tak berdosa,” ujar Kiau Hong. “Biarpun Tan-tianglo umpamanya bukan tokoh Kay-pang kita dan bukan jago tersohor di Bu-lim, juga tidak boleh sembarangan mencelakai orang.”

“Ya, Tan Put-peng sekarang insaf telah berbuat salah,” sahut Tan-tianglo sambil menunduk.

Melihat uraiannya itu dapat menundukkan Tan Put-peng yang terhitung paling angkuh di antara Su-tay-tianglo itu, tentu saja Kiau Hong sangat senang, perlahan katanya pula, “Kongya Kian sangat kesatria, Hong Po-ok dapat membedakan di antara salah dan benar, sedangkan Pau Put-tong itu suka terus terang dan bebas, sekalipun ketiga nona ini pun sangat ramah dan bajik. Mereka ini kalau bukan bawahan Buyung-kongcu tentu adalah sanak keluarganya. Kata peribahasa, ‘Binatang itu hidup berkumpul menurut jenis masing-masing, manusia hidup terpisah menurut kelompok sendiri-sendiri’. Cobalah para saudara mengheningkan cipta dan pikirlah secara tenang, sedangkan orang-orang yang bergaul setiap hari dengan Buyung-kongcu itu adalah orang-orang yang telah kita kenal ini, lantas dia sendiri apa mungkin seorang durjana yang mahajahat, seorang pengecut yang rendah dan kotor?”

Tokoh-tokoh dalam Kay-pang itu adalah kesatria yang mengutamakan setia kawan dan cinta sahabat, setelah mendengarkan cerita Kiau Hong, semuanya merasa pendapat sang pangcu yang membela kehormatan Buyung Hok itu cukup beralasan, maka terdengarlah banyak suara yang menyatakan persetujuan mereka.

Sebaliknya Coan Koan-jing lantas berkata, “Pangcu, jadi menurut pendapatmu, pembunuh Be-hupangcu sudah pasti bukan Buyung Hok?”

“Aku tidak berani memastikan Buyung Hok adalah pembunuh Be-hupangcu, tetapi juga tidak berani mengatakan dia pasti bukan pembunuhnya,” sahut Kiau Hong. “Urusan menuntut balas ini kita tidak boleh bertindak gegabah, tapi harus mengusutnya secara teliti, bila cuma berdasarkan kepada dugaan saja hingga salah membunuh orang baik, sebaliknya pembunuh yang sebenarnya hidup bebas, tentu dia akan menertawai Kay-pang kita terlalu goblok. Dan kalau demikian, bukankah sangat memalukan?”

Sejak tadi Thoan-kong Tianglo Hang Po-hoa berdiri diam saja, kini ia mengelus-elus jenggotnya yang jarang-jarang itu sambil berkata, “Ehm, ucapan ini memang beralasan, sangat beralasan. Aku jadi teringat pada pengalamanku dahulu, pernah aku salah membunuh seorang yang tak berdosa, hal mana senantiasa mengganjal dalam hatiku sampai sekarang.”

“Pangcu,” tiba-tiba Go-tianglo berseru, “sebabnya kami mengkhianati engkau adalah disebabkan mudah percaya ocehan orang, katanya engkau tidak sepaham dengan Be-hupangcu dan diam-diam bersekongkol dengan begundalnya Buyung Hok untuk membinasakan dia, ditambah lagi urusan kecil lain-lain sehingga kami percaya begitu saja. Tapi kini setelah dipikir, memang kami yang terlalu gegabah dan sembrono. Maka Cit-hoat Tianglo silakan keluarkan hoat-to (golok hukuman) dan membiarkan kami membereskan diri sendiri menurut undang-undang organisasi kita.”

Dengan air muka membeku Cit-hoat Tianglo Pek Si-kia berkata, “Cit-hoat-tecu, keluarkan hoat-to!”

Segera sembilan anak buahnya mengiakan berbareng. Lalu dari kantong masing-masing dikeluarkannya sebuah bungkusan kain kuning yang sudah tua. Sembilan bungkusan itu ditaruhnya menjadi satu, kemudian mereka berseru serentak, “Hoat-to sudah siap, sudah diperiksa dengan betul!”

Segera mereka membuka bungkusan masing-masing itu.

Seketika Toan Ki merasa silau oleh sembilan bilah belati yang gemilapan dan tertaruh sejajar di depan situ. Belati-belati itu sama panjangnya, mata pisau mengeluarkan sinar gilap bersemu kebiru-biruan, sekali pandang saja pasti orang akan tahu bahwa belati-belati itu adalah senjata yang sangat tajam.

Sambil menghela napas, berkatalah Pek Si-kia, “Song, Ge, Tan dan Go berempat tianglo telah kena dihasut orang dan berusaha hendak memberontak kepada pimpinan dan membahayakan kekuatan Kay-pang kita. Dosa mereka harus dihukum mati. Tay-ti-hun-tho Thocu Coan Koan-jing, menyebarkan cerita bohong dan sengaja menghasut untuk berkhianat, dosanya juga harus dihukum mati. Tentang anak murid yang ikut serta dalam komplotan durhaka ini, semuanya akan mendapat hukuman setimpal, untuk itu kelak akan diusut dan diputuskan tersendiri-sendiri.”

Pada waktu Pek-tianglo mengumumkan keputusan hukumnya, semua orang diam saja. Hal ini dapat dimengerti karena komplotan itu bertujuan menggulingkan sang pangcu dan dosa itu pantas dihukum mati, mata tiada seorang pun berani menyatakan keberatannya atas keputusan hukuman itu. Bagi yang ikut serta dalam komplotan itu, juga sebelumnya sudah tahu akan akibat tersebut.

Begitulah Go Tiang-hong segera mendahului maju ke hadapan Kiau Hong, ia membungkuk memberi hormat, katanya, “Pangcu, Go Tiang-hong bersalah padamu dan siap membereskan diri sendiri, mohon engkau suka memaafkan kekurangajaranku.”

Habis itu, ia berjalan ke depan barisan hoat-to tadi dan berseru, “Go Tiang-hong siap membunuh diri, silakan Cit-hoat-tecu membuka tali ringkusanku.”

Salah seorang Cit-hoat-tecu mengiakan sambil bertindak maju hendak membuka tali pengikat Go-tianglo itu, mendadak Kiau Hong berseru, “Nanti dulu!”

“Pangcu,” kata Go-tianglo dengan suara lemah dan muka pucat, “dosaku teramat besar dan engkau melarangku bunuh diri sendiri?”

Kiranya di dalam undang-undang Kay-pang ada satu pasal yang menentukan bahwasanya bila pelanggar hukum organisasi itu membunuh diri, sesudah mati dosanya berarti sudah tercuci bersih dan kehormatannya tetap tak ternoda. Segala dosanya juga disiarkan keluar, kalau ada orang Kangouw membicarakan dosanya, orang Kay-pang akan bertindak untuk membelanya malah. Hal ini sesuai dengan jiwa orang Bu-lim yang sangat mengutamakan nama baik, sesudah mati juga nama baiknya tidak boleh dihina orang. Sebab itulah maka Go-tianglo merasa gugup ketika melihat Kiau Hong melarang dia membunuh diri untuk menebus dosanya.

Dan ternyata Kiau Hong tidak menjawabnya melainkan terus mendekati deretan belati tadi dan berkata, “Lima belas tahun yang lalu ketika mendadak pasukan berkuda bangsa Cidan menyerbu Gan-bun-koan, kabar itu diketahui Song-tianglo, selama tiga hari empat malam beliau tidak makan dan tidur terus menempuh perjalanan pulang ke tanah air untuk memberitahukan berita genting itu, di tengah jalan ia ganti sembilan ekor kuda yang mati saking lelah, saking capeknya beliau sampai muntah darah. Namun begitu, berita yang beliau bawa itu telah memberi kesempatan kepada tentara Song kita untuk bersiap-siap menghadapi musuh sehingga pasukan Cidan akhirnya terpaksa mengundurkan diri. Jasa mahabesar bagi nusa dan bangsa itu meski tidak banyak diketahui orang Kangouw, tapi setiap anggota Kay-pang kita cukup mengetahuinya. Nah, Cit-hoat Tianglo, atas jasa Song-tianglo itu, mohon kebijaksanaanmu agar mengizinkan beliau menebus dosanya dengan jasa yang pernah dia persembahkan itu.”

“Pangcu memintakan ampun bagi Song-tianglo dengan alasan yang cukup kuat,” ujar Pek Si-kia. “Tetapi undang-undang Kay-pang kita menyatakan, dosa pengkhianatan betapa pun tidak dapat diampuni, sekalipun pernah berjasa besar juga tak dapat menebus kesalahannya itu. Ketetapan ini diadakan demi untuk menjaga agar tiada anggota yang menganggap dirinya berjasa, lalu membahayakan organisasi kita yang sudah bersejarah ratusan tahun ini. Sebab itu, permintaan Pangcu tadi tidak dapat diterima oleh tata tertib organisasi, terpaksa kita tidak dapat merusak undang-undang warisan pangcu kita yang terdahulu.”

“Ucapan Cit-hoat Tianglo memang benar,” ujar Song-tianglo sambil bangkit dan tersenyum getir. “Sebagai tertua dalam pang kita, siapa orangnya yang tidak banyak berjasa? Bila setiap orang minta ganti jasa, lantas bagaimana jadinya, bukankah setiap orang boleh berbuat sewenang-wenang untuk kemudian minta dibebaskan karena pernah berjasa? Dari itu, harap Pangcu suka kasihan pada diriku, izinkanlah kubunuh diri.”

Habis berkata, mendadak terdengar suara “prak-prak” dua kali, tali kulit yang mengikat tangan dan kaki tahu-tahu putus semua.

Keruan para pengemis terperanjat melihat sekali bergerak saja Song-tianglo dapat memutuskan tali kulit yang sangat ulet itu, maka dapat dibayangkan betapa lihai tenaga dalamnya, dan begitu membebaskan diri, terus saja Song-tianglo hendak ulur tangan mengambil sebilah belati guna membunuh diri.

Tak terduga baru tubuh membungkuk sedikit tahu-tahu satu arus tenaga yang halus tapi kuat menolak ke arahnya hingga ia dirintangi berjongkok. Meski tangannya sudah terulur, tapi tak dapat memegang belati yang tinggal belasan senti jauhnya itu. Nyata Kiau Hong yang telah bertindak mencegahnya.

Wajah Song-tianglo berubah pucat seketika, serunya, “Pangcu, jadi engkau juga … juga ….”

Tiba-tiba Kiau Hong sambar sebilah belati di antara deretan hoat-to itu.

“Ya, memangnya salahku karena timbul niatku hendak membunuhmu, maka sudah sepantasnya sekarang engkau melaksanakan hukuman atas dosaku itu,” demikian kata Song-tianglo dengan menghela napas.

Segera sinar belati berkelebat, “crat”, bukannya Song-tianglo yang menerima hukuman mati, sebaliknya Kiau Hong tikam bahu kiri sendiri dengan belati itu.

Keruan para pengemis menjerit kaget, serentak mereka berbangkit. Begitu pula Toan Ki ikut terkejut, “Toako, kenapa?” serunya.

Bahkan Giok-yan yang merupakan orang di luar garis juga ikut terperanjat oleh peristiwa di luar dugaan itu, tanpa terasa ia pun berseru, “Kiau-pangcu, jangan ….”

Namun Kiau Hong lantas bicara, “Pek-tianglo, undang-undang kita juga ada satu pasal yang menyatakan, ‘Setiap dosa anggota tidak boleh sembarangan diampuni, kalau Pangcu hendak mengampuni, dia sendiri harus mengalirkan darah dulu untuk mencuci bersih dosa si anggota’. Ada tidak pasal demikian?”

“Ya, memang ada satu pasal demikian dalam undang-undang kita,” sahut Pek Si-kia dengan wajah tetap kaku tanpa perasaan. “Tapi Pangcu perlu juga menimbang dahulu apakah ada harganya untuk mengalirkan darah buat mencuci dosa orang?”

“Asal tidak melanggar undang-undang warisan leluhur sudah cukup,” ujar Kiau Hong. Lalu ia berpaling dan berkata kepada Ge-tianglo, “Ge-tianglo dahulu telah mengajar ilmu silat padaku, meski tiada hubungan perguruan, tapi sesungguhnya seperti guru. Hal ini boleh dikatakan urusan pribadiku. Lebih dari itu, mengingat dahulu waktu Ong-pangcu ditawan lima jago terkemuka negeri Cidan, beliau telah dikurung di dalam gua Hek-hong-tong, beliau dipaksa agar menyerah kepada Cidan, tapi berkat Ge-tianglo yang telah rela menyaru sebagai Ong-pangcu untuk menghadapi segala bahaya hingga Ong-pangcu sendiri dapat lolos dengan selamat. Jasanya bagi Kay-pang kita dan demi nusa dan bangsa yang mahabesar itu, betapa pun harus kubebaskan kesalahannya sekarang ini.”

Sembari berkata, kembali ia sambar hoat-to kedua, ia potong dulu tali pengikat Ge-tianglo itu, menyusul belati itu menikam, lagi-lagi belati itu menancap di bahu sendiri.

Dengan tenang sinar mata Kiau Hong beralih ke arah Tan-tianglo. Tan-tianglo itu biasanya berjiwa sempit, dahulu telah berbuat sesuatu yang berdosa terhadap keluarga sendiri, maka ia ganti nama dan masuk ke Kay-pang, untuk mana ia paling sirik bila ada yang coba mengorek-ngorek boroknya itu, maka selama ini ia tiada hubungan rapat dengan Kiau Hong. Kini melihat sinar mata Kiau Hong memandang kepadanya, segera ia mendahului berseru, “Kiau-pangcu, aku tiada hubungan baik apa-apa denganmu, biasanya lebih banyak selisih paham dengan engkau, maka aku pun tidak berani terima budi pertolonganmu!”

Sekonyong-konyong kedua tangannya yang terikat di belakang itu terangkat ke atas terus membalik itu depan dengan tetap terikat tali kulit. Ternyata “Thong-pi-kun-kang” yang diyakinkan Tan-tianglo sudah mencapai tingkatan yang tiada taranya, kedua lengannya dapat mulur-mengkeret dengan bebas. Maka begitu tangan menjulur pula, sebilah hoat-to sudah disambarnya.

Namun Kiau Hong sempat bergerak, dengan “Kim-liong-kang” (ilmu menangkap naga) yang lihai dan cepat, dengan mudah saja belati itu dirampasnya. Katanya dengan suara nyaring, “Tan-tianglo, aku Kiau Hong adalah seorang laki-laki kasar, tidak suka pada orang yang sok hati-hati tindak tanduknya, juga tidak menyukai orang yang tidak minum arak dan tidak mau tertawa, tetapi hal ini adalah watak pembawaan setiap orang, tak dapat disebut baik atau busuk. Watakku sendiri tidak cocok denganmu, biasanya jarang bicara dengan baik. Aku pun tidak suka pada perilaku Be-hupangcu, bila berhadapan, sedapat mungkin aku ingin menghindar pergi, aku lebih suka pergi minum arak dan makan daging anjing bersama anak murid rendahan yang berkantong satu atau dua.

“Watakku ini telah dikenal semua orang, untuk mengubah watak sendiri terang tidak mungkin. Tapi jika sebab itu engkau mengira aku dendam dan ingin melenyapkan engkau dan Be-hupangcu, sungguh salah besar pikiran kalian ini. Tentang kalian tidak minum arak dan tidak makan barang berjiwa itu adalah kebaikan kalian, aku Kiau Hong mengaku tidak dapat menyamai kalian.”

Berkata sampai di sini, tiba-tiba belati ketiga pun ditikamkan ke bahu sendiri, lalu sambungnya, “Jasamu membunuh Yalu Puru, itu panglima besar negeri Cidan, mungkin tak diketahui orang luar, tapi masakah aku tidak tahu?”

Seketika ramailah suara heran para pengemis tercampur suara memuji dan kagum.

Kiranya tahun yang lalu waktu negeri Cidan menyerbu ke wilayah Tiongkok secara besar-besaran, mendadak beberapa panglimanya yang terkemuka telah binasa, karena alamat itu dirasakan tidak baik, akhirnya pasukan Cidan itu ditarik mundur hingga kerajaan Song terhindar dari bencana. Dan di antara panglima yang mati mendadak itu terdapat Yalu Puru yang terkemuka. Kejadian itu kecuali beberapa tokoh tertentu dalam Kay-pang, orang lain tiada yang tahu bahwa jasa itu adalah hasil karya Tan-tianglo.

Kini dirinya dipuji Kiau Hong di depan orang banyak, betapa pun siriknya Tan-tianglo kepada sang pangcu, mau tak mau ia menjadi terhibur.

Hendaklah diketahui bahwa selama ini Kay-pang menjalankan kewajiban sebagai anak negeri dan membantu kerajaan Song melawan kaum penjajah dari luar, cuma cara pergerakan mereka dilakukan dengan diam-diam atau di bawah tanah, baik perjuangan mereka berhasil atau gagal, selama ini tidak pernah siarkan, sebab itulah jarang orang tahu perjuangan Kay-pang yang patriotik itu.

Tan-tianglo aslinya bernama Tan Put-peng, biasanya sangat angkuh, terutama karena usianya lebih tua dan sejarahnya dalam Kay-pang lebih lama daripada Kiau Hong, maka sikapnya pada sang pangcu itu tidak terlalu hormat. Hal itu cukup diketahui oleh anggota Kay-pang yang lain. Tapi kini ternyata Kiau Hong tidak pikirkan perselisihan pribadi, sebaliknya rela mengalirkan darah sendiri untuk menebus dosa Tan-tianglo, mau tak mau kawanan pengemis menjadi terharu.

Kemudian Kiau Hong mendekati Go Tiang-hong, katanya, “Go-tianglo, seorang diri dahulu engkau berjaga di Eng-jiu-kiap (selat elang) dan sekuat tenaga melawan serbuan musuh dari kerajaan Se-he hingga usaha musuh hendak membunuh Nyo-keh-ciang sukar terlaksana, untuk jasamu itu Nyo-goanswe telah menghadiahkan sebuah kim-pay (medali) tanda jasa padamu. Asal engkau keluarkan medali itu sudah lebih dari cukup untuk menebus dosamu sekarang ini. Nah, silakan tunjukkan medali itu agar semua orang dapat melihatnya!”

Mendadak air muka Go-tianglo berubah merah, sikapnya agak kikuk, sahutnya dengan tak lancar, “E … eh … tentang ini … ini ….”

“Kita sama-sama saudara sendiri, bila Go-tianglo ada kesulitan apa-apa, silakan berkata terus terang saja,” ujar Kiau Hong.

“Tentang … tentang medali emas itu, sebenarnya … sebenarnya sudah … sudah hilang,” sahut Go-tianglo gelagapan.

Kiau Hong menjadi heran. “Mengapa hilang?” tanyanya.

“Hi … hilang sendiri,” sahut Go-tianglo. Tapi sesudah merandek sejenak, mendadak ia berseru, “Sebenarnya tidak hilang, tapi sudah kujual. Pada suatu hari, mendadak aku ketagihan arak, tapi kantongku kempis, terpaksa kujual medali emas itu kepada sebuah toko emas.”

“Hahaha! Go-tianglo suka berterus terang, sungguh jujur. Memang hal ini agak kurang enak terhadap Nyo-goanswe yang memberikan tanda jasa padamu itu,” ujar Kiau Hong dengan terbahak-bahak. Habis itu mendadak ia sambar sebilah hoat-to lagi, ia potong dulu tali pengikat Go-tianglo, lalu belati itu ditikamkan pula ke bahu kiri sendiri.

Go-tianglo adalah seorang laki-laki yang jujur dan suka terus terang, segera katanya, “Pangcu, jiwa Go Tiang-hong sejak kini sudah kupasrahkan padamu.”

Perlahan Kiau Hong tepuk bahunya sambil berkata dengan tertawa, “Pengemis seperti kita kalau ingin makan atau minum arak, minta saja sedekah orang, tidak perlu mesti menjual medali emas segala.”

“Minta makan sih gampang, minta arak itulah susah,” sahut Go-tianglo dengan tertawa. “Sebab semua orang tentu akan bilang, ‘Pengemis busuk, sudah dapat makan masih minta arak? Hm, terlalu! Tidak kasih, tidak kasih’!”

Mendengar banyolan itu, menggelegarlah tawa para pengemis. Sebab minta-minta arak pada orang dan ditolak atau didamprat, pengalaman ini memang sering dijumpai para pengemis.

Dalam pada itu mereka merasa lega pula demi menyaksikan sang pangcu suka mengampuni dosa keempat tianglo itu. Kini perhatian mereka tinggal terpusat ke arah Coan Koan-jing yang merupakan biang keladi komplotan ini, tentu Kiau Hong tidak mudah mengampuninya begitu saja.

Tertampak Kiau Hong mendekati Coan Koan-jing dan berkata, “Dan sekarang apa yang dapat kau katakan lagi, Coan-thocu?”

“Pangcu,” sahut Koan-jing, “sebabnya aku berkomplotan hendak menggulingkan engkau adalah demi untuk kepentingan nusa dan bangsa kerajaan Song kita serta demi perkembangan Kay-pang kita yang sudah bersejarah ratusan tahun ini. Cuma sayang, orang yang menceritakan asal usul dirimu itu sampai detik terakhir, menjadi pengecut dan tidak berani muncul. Maka bolehlah engkau membunuh aku saja.”

Kiau Hong pikir sejenak oleh jawaban itu, tanyanya kemudian, “Adakah sesuatu yang mencurigakan mengenal asal usulku? Coba katakan saja.”

“Betapa pun aku berputar lidah pada saat ini juga takkan dipercaya, maka lebih baik engkau membunuh aku saja,” sahut Koan-jing sambil menggeleng.

Kiau Hong menjadi tambah curiga, katanya dengan suara keras, “Seorang laki-laki sejati, apa yang ingin dikatakan harus dikatakan dengan blakblakan, kenapa main plintat-plintut begitu? Coan Koan-jing, bila kau benar seorang laki-laki yang tak gentar mati, kenapa kau pantang bicara terus terang?”

“Memang benar, mati saja tak gentar, masakah masih ada hal-hal lain di dunia ini yang lebih menakutkan daripada mati?” sahut Koan-jing dengan tertawa dingin. “Nah, orang she Kiau, silakan cepat bereskan nyawaku saja agar aku tidak perlu hidup di dunia ini dan menyaksikan Kay-pang yang jaya ini jatuh ke dalam cengkeraman bangsa Oh (asing) dan menyaksikan tanah air sendiri yang indah permai ini diinjak-injak bangsa lain.”

“Kenapa Kay-pang akan jatuh ke dalam cengkeraman bangsa asing? Coba katakan terus terang,” tanya Kiau Hong.

“Biarpun kukatakan sekarang juga para saudara takkan percaya,” sahut Koan-jing. “Mungkin malah aku akan dituduh sebagai pengecut yang takut mati dan sengaja putar lidah untuk memfitnah orang. Memangnya aku sudah bertekad menyabung jiwa, buat apa mesti menerima kutukan pula sesudah mati?”

“Pangcu,” seru Pek-tianglo tiba-tiba dengan tak sabar, “orang ini banyak tipu muslihatnya, dengan obrolannya itu dia berharap engkau akan mengampuni jiwanya. Cit-hoat-tecu, siapkan hoat-to untuk menjalankan hukuman!”

Segera salah seorang Cit-hoat-tecu mengiakan sambil melangkah maju dan menjemput sebilah belati serta mendekati Coan Koan-jing.

Dengan mata tak berkedip Kiau Hong memandang Coan Koan-jing, ia lihat sikap thocu itu penuh rasa penasaran, sedikit pun tidak unjuk rasa jeri atau takut, pula tiada tanda kepalsuan yang licik sebagai umumnya seorang yang berdosa.

Kiau Hong tambah bersangsi, katanya kepada Cit-hoat-tecu yang siap menjalankan tugas itu, “Berikan hoat-to kepadaku!”

Dengan sangat hormat segera Cit-hoat-tecu itu serahkan belati yang dipegangnya itu kepada sang pangcu.

“Coan-thocu,” kata Kiau Hong sesudah memegang belati itu, “kau menyinggung tentang asal usulku, pula hal ini besar sangkut pautnya dengan mati dan hidup Kay-pang kita. Bagaimana duduknya perkara yang sebenarnya juga kau tidak berani mengaku.”

Berkata sampai di sini, ia simpan hoat-to itu ke dalam sarungnya dan dimasukkan ke dalam baju sendiri, lalu katanya pula, “Kau menghasut dan berkomplot hendak memberontak, dosamu seharusnya dihukum mati, tapi pelaksanaan hukum itu sementara ini ditunda, biar setelah duduk perkara sudah dibikin terang, aku sendiri kelak yang akan membunuhmu. Aku Kiau Hong bukan manusia yang sok pura-pura, kalau sudah bertekad hendak membunuhmu, rasanya kau pun tidak mungkin dapat lolos dari tanganku. Nah, pergilah sekarang, tinggalkan kantong pada punggungmu itu sejak kini Kay-pang tiada terdaftar anggota seperti dirimu ini.”

Apa yang dimaksudkan “tanggalkan kantong pada punggungmu” itu berarti memecatnya dari keanggotaan Kay-pang. Setiap anggota Kay-pang, kecuali anggota yang baru masuk atau anggota tanpa tugas, paling tidak tentu menyandang sebuah kantong, dan yang terbanyak sampai sembilan buah kantong. Tinggi rendahnya kedudukan anggota juga berdasarkan banyak atau sedikit kantong yang dimiliki mereka.

Begitulah maka ketika diperintahkan menanggalkan kantong yang digendongnya, mendadak sinar mata Coan Koan-jing memancarkan nafsu membunuh, sekali sambar sebilah hoat-to lantas dipegangnya, ujung belati itu lantas diarahkan ke dada sendiri.

Perlu diketahui bahwa setiap orang Kangouw paling mengutamakan keharuman nama dan kehormatan diri. Kini Coan Koan-jing dipecat begitu saja dari Kay-pang, hal ini dipandangnya sebagai sesuatu hinaan dan noda yang tidak mungkin dapat dicuci bersih, jauh lebih menyakitkan daripada ia dihukum mati seketika. Makanya ia menjadi nekat.

Tapi Kiau Hong ternyata bersikap dingin saja dan menyaksikan apakah benar-benar Coan Koan-jing berani menikam dirinya sendiri.

Tangan Coan Koan-jing yang memegang belati itu ternyata sangat teguh, sedikit pun tidak gemetar. Sambil mengancam dada sendiri ia berpaling memandang Kiau Hong hingga terjadilah saling pandang di antara kedua orang itu. Seketika suasana di tengah hutan itu menjadi sunyi senyap.

“Kiau Hong,” seru Koan-jing mendadak, “santai benar sikapmu ini, apakah engkau sendiri benar-benar tidak tahu?”

“Tahu apa?” tanya Kiau Hong.

Bibir Koan-jing tampak bergerak sekali, tapi akhirnya urung bicara, sebaliknya perlahan ia taruh kembali belatinya ke tempat semula, lalu perlahan pula menanggalkan kedelapan buah kantong yang tergendong di punggungnya itu, satu per satu ditaruhnya di tanah dengan sikap sangat menghormat.

Toan Ki mengerti Coan Koan-jing itu pasti seorang yang sangat culas dan lihai, tapi demi melihat derita batinnya ketika menanggalkan kantong-kantong itu, mau tak mau ia pun merasa terharu.

Ketika Coan Koan-jing sudah menanggalkan lima buah kantongnya, tiba-tiba terdengar derapan kuda yang dilarikan dengan cepat di luar hutan menyusul terdengar pula suara suitan. Segera ada beberapa orang Kay-pang menjawab suara suitan itu, lalu suara derapan kuda itu makan lama makin mendekat dengan sangat cepat.

“Ada kejadian genting apakah seperti ini?” demikian Go-tianglo bergumam sendiri.

Dan belum lagi kuda tunggangan itu datang, sekonyong-konyong dari arah timur sana juga ada suara derapan seekor kuda sedang menuju ke arah sini. Cuma jaraknya masih jauh, suaranya agak samar-samar, maka arah yang dituju belum dapat diketahui dengan tepat.

Hanya sekejap saja kuda pertama dari arah utara itu sudah masuk ke dalam hutan situ. Lalu tampak seorang melompat turun terus berlari ke tempat orang banyak. Orang itu berpakaian longgar dan sangat perlente, tapi segera ia menanggalkan baju yang mewah itu hingga tertampaklah baju dalamnya yang compang-camping penuh tambalan di sana-sini, yaitu pakaian untuk mengelabui pandangan orang luar supaya pembawa berita itu tidak menemui alangan di tengah jalan.

Begitulah dengan sangat hormat kurir itu mendekati Thocu Tay-sin-hun-tho dan menyerahkan sebuah bungkusan kecil sambil melapor, “Ada urusan militer yang penting ….”

Hanya kata-kata ini saja sempat diucapkannya, sebab napasnya lantas tersengal-sengal dengan hebat. Sedangkan kuda tunggangannya itu mendadak meringkik sekali terus roboh ke tanah dan binasa karena kehabisan tenaga.

Setelah terhuyung-huyung, mendadak kurir itu pun muntah darah dan terguling ke tanah. Nyata bahwa saking lelah karena menempuh perjalanan jauh tanpa beristirahat, maka kuda beserta penunggangnya sama-sama kehabisan tenaga.

Thocu bagian Tay-sin-hun-tho itu mengenali kurir itu adalah anak buahnya yang dikirim ke negeri Cidan untuk menjadi mata-mata di sana, pangkatnya tergolong Go-te-tecu atau anak murid kantong lima, suatu tingkatan yang tidak rendah.

Negeri Cidan pada zaman itu adalah musuh utama kerajaan Song, kerap kali tanpa sebab mengerahkan pasukannya mengacau di daerah perbatasan dan menyusahkan rakyat setempat. Sebagai suatu organisasi yang patriotik, anggota Kay-pang banyak tersebar di antara kedua negeri dan diam-diam mengumpulkan berita yang berfaedah bagi ibu negeri.

Kini melihat Go-te-tecu itu pulang membawa berita penting tanpa pikirkan mati-hidup sendiri, terang kabar berita yang dibawa kembali itu pasti mahapenting dan genting pula. Maka Tay-sin-thocu juga tidak berani membuka berita laporan itu, bungkusan kecil itu dipersembahkan kepada Kiau Hong sambil berkata, “Ada berita militer dari negeri Cidan, Pangcu!”

Waktu Kiau Hong membuka bungkusan itu, ternyata isinya adalah sebutir cek-wan atau bola lilin. Sesudah cek-wan itu dipencet pecah, Kiau Hong mengeluarkan segulung kertas. Dan selagi ia hendak membuka kertas itu untuk membaca isinya, tiba-tiba terdengar derapan kuda dari jurusan timur tadi telah mendekat dengan cepat luar biasa.

Baru saja kepala kuda menongol di balik hutan sana, penunggangnya sudah tidak sabar lagi terus melayang turun dari binatang tunggangannya sambil membentak, “Kiau Hong, tentang situasi militer negeri Cidan itu engkau tak boleh membacanya.”

Semua orang terkesiap oleh ucapan orang yang berani merintangi sang pangcu itu. Waktu dipandang ternyata orang itu berjenggot putih, pakaiannya juga compang-camping penuh tambalan. Itulah seorang pengemis yang sudah berusia lanjut.

Melihat pengemis tua itu, seketika Thoan-kong dan Cit-hoat Tianglo berbangkit untuk menyambut, “Kiranya Ci-tianglo, entah ada urusan apakah hingga Ci-tianglo memerlukan berkunjung ke sini?”

Kawanan pengemis itu menjadi gempar demi mendengar pendatang itu adalah Ci-tianglo mereka.

Kiranya Ci-tianglo itu sangat tinggi tingkatannya dalam angkatan tokoh-tokoh Kay-pang, usianya kini sudah 87 tahun, bahkan mendiang Ong-pangcu, yaitu pangcu sebelum Kiau Hong, juga menyebutnya sebagai Supek (paman guru). Di antara tokoh-tokoh Kay-pang sekarang boleh dikatakan tiada seorang pun lebih tua atau lebih tinggi angkatannya daripada Ci-tianglo.

Sudah lama Ci-tianglo mengundurkan diri dari dunia ramai, tiap tahun Kiau Hong dan para tianglo seperti biasanya tentu pergi memberi selamat padanya, tapi paling-paling juga cuma bicara sedikit tentang urusan rumah tangga biasa. Siapa duga sekarang mendadak tokoh tua ini bisa muncul, bahkan lantas mencegah Kiau Hong membaca laporan tentang gerakan militer musuh itu. Sudah tentu semua orang terkejut dan terheran-heran.

Maka ketika mendengar seruan Ci-tianglo tadi, cepat Kiau Hong meremas kembali gulungan kertas itu, lalu memberi hormat kepada tokoh tua itu. Kemudian ia angsurkan gulungan kertas itu ke hadapan Ci-tianglo.

Sebagai pangcu, biarpun menurut urutan angkatan Kiau Hong jauh lebih muda daripada Ci-tianglo, tapi segala urusan organisasi yang penting, walaupun sang pangcu angkatan yang lebih dulu dihidupkan kembali juga harus tunduk kepada pangcu yang baru.

Siapa duga datang-datang Ci-tianglo lantas melarang Kiau Hong membaca laporan tentang gerakan militer musuh itu dan sedikit pun Kiau Hong tidak membangkang. Keruan hal ini membuat semua orang heran, bahkan Ci-tianglo sendiri pun melengak.

Rupanya sudah tahu urusannya sangat penting maka sambil minta maaf Ci-tianglo lantas ambil gulungan kertas itu dari tangan Kiau Hong dan digenggam di tangan kiri, lalu serunya dengan lantang, “Be-hujin (nyonya Be), janda saudara Be Tay-goan, sebentar lagi akan tiba untuk membeberkan sesuatu kepada para hadirin di sini. Untuk mana haraplah kalian suka menunggunya sebentar lagi.”

Maka pandangan para pengemis sama terpusat ke arah Kiau Hong untuk mendengarkan bagaimana reaksinya.

“Jika urusan ini sangat besar sangkut pautnya, tiada alangannya kita menunggu di sini,” ujar Kiau Hong.

“Ya, urusan ini sangat penting,” kata Ci-tianglo pula. Dan hanya sekian saja ucapannya, lalu ia melangkah maju untuk memberi hormat kepada Kiau Hong selaku seorang bawahan kepada sang pangcu, kemudian ia ambil tempat duduk di samping.

Diam-diam Toan Ki heran menyaksikan itu. Kesempatan digunakannya untuk bicara dengan Ong Giok-yan, ia membisiki gadis itu, “Nona Ong, urusan di dalam Kay-pang benar-benar sangat banyak. Apakah kita perlu menyingkir dari sini ataukah tinggal di sini untuk melihat ramai-ramai?”

Giok-yan berkerut kening, sahutnya, “Kita adalah orang luar, sebenarnya tidak pantas ikut mencampuri urusan dalam orang lain. Cuma … cuma urusan yang akan mereka bicarakan itu ada sangkut pautnya dengan Piaukoku, maka aku ingin mendengarkannya.”

“Memang benar,” kata Toan Ki, “katanya Be-hupangcu itu dibunuh oleh Piaukomu hingga tertinggal seorang janda yang sebatang kara, tentu dia sangat kesepian dan harus dikasihani.”

“Tidak, tidak!” sahut Giok-yan cepat. “Be-hupangcu pasti bukan dibunuh oleh Piauko, hal ini kan juga sudah dikatakan oleh Kiau-pangcu sendiri?”

Bicara sampai di sini, mendadak terdengar derapan kuda pula, datanglah dua penunggang kuda.

Semua orang mengira di antara penunggang kuda itu pasti terdapat istri Be Tay-goan. Siapa tahu kedua penunggang itu terdiri dari seorang kakek dan seorang lagi nenek. Yang kakek pendek kecil sebaliknya si nenek tinggi besar hingga tampaknya lucu benar.

Melihat kedua orang itu, cepat Kiau Hong berbangkit menyambut kedatangan mereka sambil berseru, “Kiranya kedua Locianpwe Tam-kong dan Tam-poh dari Ciong-siau-tong di Hoa-san telah tiba, maafkan Kiau Hong tidak mengadakan penyambutan dengan baik.”

Perbuatan Kiau Hong itu segera diturut oleh para tianglo dari Kay-pang.

Melihat gelagat itu, Toan Ki tahu kedua orang tua yang dipanggil Tam-kong dan Tam-poh (si kakek Tam dan si nenek Tam) itu tentu tokoh-tokoh Bu-lim terkemuka.

Maka terdengar Tam-poh atau si nenek Tam sedang berkata, “Kiau-pangcu, apa-apaan permainan di atas pundakmu ini?”

Berbareng tangannya lantas terjulur, sekaligus keempat hoat-to yang menancap di bahu Kiau Hong itu dicabutnya semua, gerak tangannya cepat luar biasa.

Ternyata tindakan Tam-poh itu tidak menyendiri, tapi segera disusul oleh Tam-kong yang merogoh keluar sebuah botol porselen kecil, sumbat botol dibuka, dituangnya sedikit obat bubuk dan dibubuhkan di atas bahu Kiau Hong.

Begitu obat luka itu dibubuhkan, darah yang mancur bagai mata air itu lantas mampat seketika.

Betapa cepat cara Tam-poh mencabut belati yang menancap di pundak Kiau Hong itu sudah jarang dilihat orang, tapi apa pun juga suatu gerakan ilmu silat, sebaliknya cara Tam-kong mengambil botol, membuka sumbat botol, menuang obat, membubuhkan obat dan membikin darah mampat, beberapa tindakan ini sangat lincah dan cepat luar biasa, namun setiap perbuatannya itu dengan jelas dapat diikuti setiap orang bagaikan menyaksikan permainan sulap saja. Bahkan khasiat obat luka membikin mampat darah juga sangat mujarab, boleh dikatakan “cespleng”.

Kiau Hong sendiri cukup kenal dua sejoli Tam-kong dan Tam-poh adalah tokoh angkatan tua dalam Bu-lim, kini datang-datang terus mencabut belati dan mengobati lukanya, meski tindakan mereka itu agak gegabah, namun mau tak mau ia sangat berterima kasih. Dan tengah dia mengaturkan terima kasihnya itu, rasa sakit di pundaknya sudah mulai mereda dan akhirnya lenyap.

“Kiau-pangcu, siapakah yang bernyali sebesar itu hingga berani melukaimu dengan belati?” tanya Tam-poh kemudian.

“Aku sendirilah yang menikam diriku sendiri,” sahut Kiau Hong tertawa.

“Kenapa menikam diri sendiri? Apa barangkali kau sudah bosan hidup?” tanya Tam-poh dengan heran.

Kiau Hong pikir tidak mungkin menceritakan urusan pengkhianatan dalam Kay-pang kepada orang luar hingga memalukan para tianglo dan merosotkan nama baik Kay-pang. Maka sahutnya, “Aku hanya main-main saja, kulit daging pundakku cukup tebal dan kuat, toh tidak sampai melukai otot dan tulang.”

Diam-diam Song, Ge, Tan dan Go-tianglo bersyukur dan merasa malu diri pula terhadap kebaikan Kiau Hong yang menutupi perbuatan mereka yang durhaka hendak menggulingkan sang pangcu itu.

Tapi si nenek Tam lantas terbahak-bahak dan berkata, “Hahaha, jangan berdusta! Tahulah aku, dasar engkau memang pintar dan mengetahui Tam-kong dan Tam-poh baru saja memperoleh peng-jan (ulat sutra es) dan pek-giok-siam-sia (katak kemala putih) serta telah meraciknya menjadi semacam obat luka yang sangat mujarab, makanya kau ingin mencobanya bukan?”

Kiau Hong tidak membenarkan juga tidak menyangkal, ia hanya tersenyum saja, ia pikir nenek ini sungguh bodoh-bodoh polos, masakah di dunia ini ada orang iseng begitu dengan menikam badan sendiri untuk mencoba khasiat obat luka buatanmu itu?

Maka terdengar Tam-poh tanya pula, “Dan di manakah nyonya Be? Jauh-jauh ia mengundang kehadiran kami ke sini, mengapa dia sendiri belum datang?”

Sedang Kiau Hong terkesiap oleh pertanyaan itu, tiba-tiba terdengar suara derapan kaki binatang yang berdetak-detak, seekor keledai tampak menerobos masuk ke tengah hutan situ, di atas keledai ada seorang penunggang dengan punggung menghadap kepala keledai dan mukanya menghadap ekor, jadi menunggang keledai dengan mungkur.

Melihat penunggang keledai itu, Tam-poh menjadi gusar, bentaknya, “Tio-ci-sun, di hadapan Tam-kek-popo kau berani kurang ajar? Apa minta kuhajar bokongmu?”

Berbareng sebelah tangan terus menghantam pantat penunggang keledai itu.

Waktu semua orang memerhatikan si penunggang keledai, ternyata orang itu mendekam di atas binatang tunggangannya hingga tubuh mengkeret bagai anak berumur 7-8 tahun. Tapi begitu hendak digaplok Tam-poh, cepat ia memberosot turun dari keledainya dan berdiri tegak, tahu-tahu badannya berubah tinggi dan besar.

Semua orang agak terperanjat, sebaliknya Tam-kong tampak kurang senang, katanya, “Li-heng, apa engkau akan main gila lagi di sini? Setiap melihatmu tentu hatiku mendongkol!”

Corak penunggang keledai itu pun agak aneh, dikatakan sudah tua, toh belum tua, dibilang masih muda, toh juga tidak muda. Usianya mungkin di antara 30 hingga 60 tahun, wajahnya jelek tidak, bagus pun tidak. Ia tidak gubris pada ucapan Tam-kong tadi, tapi lantas berkata kepada Tam-poh, “Siau Koan, bagaimana selama ini? Baik-baik dan senang bukan?”

Perawakan Tam-poh itu tinggi besar, rambutnya sudah berubah semua dan mukanya penuh keriput, tapi namanya dipanggil “Siau Koan” atau si Koan cilik yang mengingatkan orang kepada gadis cilik. Sudah tentu kedengarannya sangat janggal dan menggelikan orang. Namun setiap nenek tentu pernah muda, Siau Koan itu jelas adalah nama kecil Tam-poh masa gadisnya.

Tengah Toan Ki pikirkan hal itu, kembali terdengar derapan kuda pula, ada beberapa penunggang kuda datang lagi.

Dalam pada itu Kiau Hong sendiri sedang mengamat-amati si penunggang keledai yang dipanggil sebagai “Tio-ci-sun” (semuanya terdiri dari she), ia tidak dapat menerka tokoh macam apakah orang aneh ini. Tapi mengingat dia kenal Tam-kong dan Tam-poh, pula “Sok-kut-kang” atau ilmu menyurutkan tulang yang diunjukkan ketika menunggang keledai tadi sudah sedemikian lihainya maka dapat dipastikan adalah seorang tokoh yang lain daripada yang lain. Anehnya, kalau orang tergolong jago kelas tinggi, mengapa dirinya tidak kenal dan tidak pernah mendengar namanya yang aneh, bukankah sangat mengherankan?

Sementara itu beberapa penunggang kuda itu sudah sampai di tengah hutan, di bagian depan adalah lima orang muda, semuanya bermata besar dan beralis tebal, air muka mereka satu sama lain sangat mirip, usia yang paling kira-kira lebih 30 tahun dan yang paling muda lebih 20 tahun. Terang kelima orang itu adalah saudara sekandung.

“Aha, kiranya Thay-san-ngo-hiong yang datang! Bagus, bagus! Angin apakah yang meniup kalian ke sini?” demikian Go-tianglo, Go Tiang-hong, lantas berseru.

Orang ketiga Thay-san-ngo-hiong (lima kesatria dari Thay-san) itu bernama Tan Siok-san, ia adalah sobat kental Go-tianglo, segera ia mendahului menjawab, “Selamat bertemu Go-siko, baik-baikkah engkau? Ayah juga ikut datang kemari!”

“Apa benar? Ayahmu ….?” Go-tianglo menegas dengan air muka berubah. Ia telah berbuat salah melanggar tata tertib organisasi, sebagai orang berdosa, ia menjadi jeri mendadak tahu kedatangan ayah Thay-san-ngo-hiong, yaitu “Tiat-bin-poan-koan” Tan Cing, si Hakim Bermuka Besi, artinya orang yang berani bertindak tegas dan tidak kenal ampun serta tidak pandang bulu.

Selama hidup Tiat-bin-poan-koan Tan Cing paling benci pada kejahatan, bila tahu ada terjadi sesuatu ketidakadilan di kalangan Kangouw, pasti dia akan ikut campur tangan. Ilmu silatnya memang sangat tinggi, kecuali kelima putranya banyak pula murid dan cucu murid yang jumlahnya lebih ratusan orang. Nama “Thay-san Tan-keh” atau keluarga Tan dari Thay-san cukup disegani setiap orang Bu-lim.

Dalam pada itu di belakang Thay-san-ngo-hiong itu tampak menyusul seorang penunggang kuda yang lain, kelima jago muda Thay-san itu lantas memapak ke belakang untuk menahan kendali kuda dan menyilakan turun penunggangnya, yaitu seorang kakek yang berbaju satin panjang.

Begitu turun segera kakek itu memberi kiongchiu kepada Kiau Hong dan berkata, “Kiau-pangcu, tanpa diundang Tan Cing berkunjung ke sini, tentu banyak mengganggu engkau.”

Kiau Hong sudah lama kenal nama Tan Cing, baru sekarang ia dapat bertemu, ia lihat orang tua itu berwajah merah bercahaya, boleh dikatakan “rambut tua muka muda”, sikapnya ramah tamah pula, berbeda seperti cerita orang Kangouw bahwa Tan Cing berwatak keras tanpa kenal ampun.

Maka cepat ia membalas hormat orang dan berkata, “Maafkan Cayhe tidak tahu kedatangan Tan-locianpwe hingga tidak diadakan penyambutan sebagaimana mestinya.”

“Bagus, bagus!” mendadak si orang tua yang menunggang keledai dengan mungkur itu berteriak dengan suara yang dibuat-buat. “Tiat-bin-poan-koan datang lantas diadakan penyambutan sebagaimana mestinya. Sebaliknya ketika aku ‘Thi-bi-koh-poan-koan’ datang mengapa engkau tidak mengadakan penyambutan semestinya?”

Mendengar kata “Thi-bi-koh-poan-koan” atau si Hakim Pantat Besi, seketika semua orang bergelak tertawa. Meski Giok-yan, A Cu dan A Pik bertiga merasa kurang sopan kalau ikut tertawa, tidak urung mereka pun merasa geli.

Thay-san-ngo-hiong mengerti bahwa kata-kata orang itu sengaja hendak menghina ayah mereka, keruan mereka menjadi gusar. Cuma disiplin keluarga Tan sangat keras, sebelum sang ayah membuka suara, betapa pun mereka tidak berani sembarangan mendahului bertindak.

Tan Cing itu ternyata seorang yang sangat sabar dan dapat menahan perasaannya, pula ia pun belum mengetahui bagaimana asal usul orang aneh itu, maka ia berlagak pilon saja, pura-pura tidak mendengar. Katanya pula, “Sekarang silakan Be-hujin kemari untuk bicara.”

Maka dari balik hutan sana lantas muncul sebuah joli kecil dengan digotong dua laki-laki kekar dan datang dengan cepat sekali. Sampai di tengah hutan situ, joli itu ditaruh dan kerai disingkap, perlahan keluarlah seorang nyonya muda berpakaian putih mulus tanda orang berkabung.

Dengan kepala menunduk nyonya muda itu memberi hormat kepada Kiau Hong dan berkata, “Janda keluarga Be menyampaikan sembah bakti kepada Pangcu.”

Biasanya Kiau Hong juga jarang berhadapan dengan Be Tay-goan, apalagi dengan nyonya Be yang tidak pernah keluar rumah, dengan sendirinya ia tidak kenal. Segera ia membalas hormat dan menjawab, “Soso (atau enso, istri kakak) tidak perlu banyak adat!”

“Sungguh malang suamiku telah meninggal, atas bantuan para paman yang telah sudi menguruskan layon suamiku itu, sungguh aku merasa sangat berterima kasih,” demikian kata Be-hujin pula.

Suara janda itu kedengaran sangat lembut dan merdu, agaknya masih sangat muda usianya. Cuma sejak mula matanya selalu menatap ke tanah, maka wajahnya tidak kelihatan jelas.

Dari lagak lagu nyonya muda itu, Kiau Hong tahu tentu Be-hujin telah menemukan sesuatu tanda bukti kematian suaminya, maka sekarang datang sendiri menghadap sang pangcu. Tapi urusan dalam sepenting itu tidak dilaporkan dulu kepada pangcu, sebaliknya Tiat-bin-poan-koan yang diminta tampil ke muka, hal ini sesungguhnya agak ganjil.

Ketika Kiau Hong berpaling ke arah Cit-hoat-tianglo Pek Si-kia, ia lihat jago tua itu pun sedang memandang padanya, sinar mata kedua orang sama mengunjuk rasa heran dan curiga.

Lebih dulu Kiau Hong menyambut tamu, habis itu baru bicara urusan dalam, maka katanya kepada Tan Cing, “Tan-locianpwe dan suami-istri Tam-si dari Ciong-siau-tong di Hoa-san apakah sudah saling kenal?”

“Sudah lama kudengar nama suami-istri Tam-si yang tersohor, hari ini dapat berjumpa, sungguh beruntung,” ujar Tan Cing sambil kiongchiu.

“Dan tentang Cianpwe yang ini, masih diharapkan Tam-loyacu suka memperkenalkannya kepada kami,” ujar Kiau Hong.

Tapi belum lagi Tam-kong atau si kakek Tam menjawab, cepat si penunggang keledai sudah mendahului buka suara, “Aku she Siang, bernama Wai, berjuluk ‘Thi-bi-koh-poan-koan’.”

Mendengar ucapan si penunggang keledai ini, betapa sabarnya Tan Cing juga naik darah akhirnya. Kurang ajar benar, demikian pikirnya. Masakah aku she Tan (tunggal, ganjil), kau lantas mengaku she Siang (sepasang, genap). Aku bernama Cing (benar, lurus), kau lantas bernama Wai (menceng, bengkok). Bukankah ini sengaja hendak mengolok-olok diriku?

Dan selagi dia hendak mengambil tindakan tiba-tiba Tam-poh, si nenek Tam membuka suara, “Tan-loyacu, engkau jangan gubris ocehan Tio-ci-sun ini, dia orang gila, jangan kau anggap sungguh-sungguh.”

“Maafkan kalau di sini tiada tempat duduk, diharap para hadirin sudilah duduk di tanah,” kata Kiau Hong kemudian. Dan sesudah melihat semua orang telah mengambil tempat duduk sendiri-sendiri, lalu ia menyambung, “Dalam sehari saja telah dapat berjumpa dengan tokoh-tokoh locianpwe sebanyak ini, sungguh bahagia dan beruntung kami ini. Tapi entah ada keperluan apakah kunjungan para Cianpwe ke sini?”

“Kiau-pangcu,” kata Tan Cing. “Kay-pang kalian adalah suatu organisasi terbesar di dunia Kangouw, selama ratusan tahun ini namanya tersohor di seluruh pelosok, setiap kawan Bu-lim asal mendengar nama ‘Kay-pang’ tentu menaruh hormat dengan sungguh-sungguh, aku orang she Tan biasanya juga sangat mengindahkannya.”

“Terima kasih,” kata Kiau Hong.

Tiba-tiba Tio-ci-sun menimbrung, “Kiau-pangcu, Kay-pang kalian adalah suatu organisasi terbesar di kalangan Kangouw, selama ratusan tahun ini namanya tersohor di seluruh pelosok dunia, setiap kawan Bu-lim asal mendengar nama Kay-pang tentu menaruh hormat dengan sungguh-sungguh, aku orang she Siang biasanya juga sangat mengindahkannya.”

Ucapannya itu sama persis seperti apa yang dikatakan Tan Cing, hanya she Tan diganti dengan she Siang.

Kiau Hong tahu kaum cianpwe dalam Bu-lim itu banyak yang mempunyai watak aneh dan sifat istimewa, orang yang dipanggil sebagai Tio-ci-sun ini selalu menentang Tan Cing, entah apa maksud tujuannya. Tapi sebagai tuan rumah, ia pikir tidak enak mengeloni salah satu pihak, maka ia pun mengucapkan terima kasih kepada penunggang keledai yang aneh itu.

Sebaliknya Tan Cing hanya tersenyum saja, katanya kepada putranya yang tertua, “Pek-san, lanjutannya boleh kau katakan saja kepada Kiau-pangcu. Jika orang lain ingin menirukan putraku, biarkan dia menirukan saja.”

Diam-diam semua orang tertawa dan menganggap Tiat-bin-poan-koan yang tampaknya jujur polos itu ternyata juga licik. Sebab kalau Tio-ci-sun nanti menirukan cara bicara Tan Pek-san, itu berarti ikut mengaku menjadi putranya Tan Cing.

Tak terduga Tio-ci-sun lantas berkata, “Pek-san, lanjutannya boleh kau katakan saja kepada Kiau-pangcu. Jadi orang lain ingin menirukan putraku, biarkan dia menirukan saja.”

Dengan demikian, berbalik Tio-ci-sun yang menang angin sebab Tan Pek-san juga diakui menjadi putranya.

Tan Siau-san, putra Tan Cing yang kelima dan paling kecil, berwatak paling berangasan, kontan ia memaki, “Bajingan, benar-benar-sudah bosan hidup barangkali!”

Tio-ci-sun lantas bergumam juga, “Bajingan putra semacam ini, punya empat orang juga sudah terlalu banyak, yang kelima sebenarnya tidak perlu dilahirkan. Hehe, pula entah keturunan sendiri atau bukan?”

Sudah diolok olok, putranya dimaki pula seakan-akan anak haram, betapa pun sabarnya Tan Cing juga ada batasnya. Segera katanya kepada Tio-ci-sun, “Kita adalah tamu Kay-pang, kalau sampai cekcok di sini tentu akan mempersulit tuan rumahnya. Biarlah kalau urusan di sini sudah selesai pasti akan kuminta belajar kenal kepandaianmu. Nah, Pek-san, bicaralah terus!”

Namun Tio-ci-sun tetap menirukannya, “Kita adalah tamu Kay-pang, kalau sampai cekcok di sini, tentu akan mempersulit tuan rumah. Biarlah kalau urusan di sini sudah selesai, nanti akan kuminta belajar kepandaianmu. Nah, Pek-san, Locu (bapak) suruh kau bicara, bolehlah bicara terus!”

Sungguh gemas Tan Pek-san tak terkatakan, kalau bisa ia ingin bacok orang hingga hancur lebur baru puas rasanya. Maka dengan menahan gusar katanya kepada Kiau Hong, “Kiau-pangcu, urusan dalam kalian, kami ayah dan anak sebenarnya tidak berani ikut campur. Tapi ayahku bilang, seorang laki-laki sejati harus mencintai sesamanya dengan kebajikan ….”

Berkata sampai di sini ia sengaja melirik ke arah Tio-ci-sun untuk melihat apakah orang itu akan menirukan lagi atau tidak. Kalau meniru, tentu orang akan mengatakan, “Tapi ayahku bilang”, dan itu berarti akan memanggil Tan Cing sebagai ayah.

Tak tersangka, benar-benar Tio-ci-sun menirukan ucapan itu, katanya, “Kiau-pangcu, urusan dalam kalian, kami ayah dan anak sebenarnya tidak berani ikut campur. Tapi anakku bilang seorang laki-laki sejati harus mencintai sesamanya dengan kebajikan.”

Jadi Tio-ci-sun sengaja mengubah kata “ayah” menjadi “anak” dan itu berarti suatu kerugian pula bagi Tan Cing.

Keruan semua orang berkerut kening, mereka menganggap kelakuan Tio-ci-sun itu sungguh terlalu, mungkin segera akan terjadi banjir darah di situ.

Maka terdengar Tan Cing berkata, “Senantiasa saudara menentang diriku, padahal kita selamanya tidak paling kenal, entah di manakah aku berbuat salah padamu, silakan saudara memberi penjelasan. Bila memang benar Cayhe bersalah, sekarang juga aku akan minta maaf padamu.”

Diam-diam semua orang memuji sikap kesatria Tan Cing yang tidak malu sebagai seorang pendekar besar tersohor itu.

“Kau tidak berbuat salah padaku, tapi bersalah kepada Siau Koan, hal ini lebih jahat sepuluh kali daripada bersalah padaku, tahu?” demikian Tio-ci-sun menjawab.

“Siau Koan? Siapa itu Siau Koan? Bilakah aku berbuat salah padanya?” tanya Tan Cing heran.

“Dia inilah Siau Koan,” sahut Tio-ci-sun sambil menunjuk si nenek Tam. “Siau Koan adalah nama gadisnya, di dunia ini kecuali aku, siapa pun tidak boleh memanggil namanya itu.”

Mendongkol dan geli pula Tan Cing, katanya, “O, kiranya nama gadis Tam-popoh, Cayhe tidak tahu hingga telanjur menyebutnya, harap maaf.”

“Yang tidak tahu tidak salah, untuk pelanggaranmu yang pertama ini biar kuampuni, tapi lain kali jangan mengulangi lagi, ya!” kata Tio-ci-sun dengan lagak sebagai seorang bapak memberi petuah kepada si bocah.

Lalu Tan Cing berkata lagi, “Meski sudah lama Cayhe kenal nama suami-istri Tam-si yang tersohor dari Hoa-san, tapi sayang selama ini tidak sempat berjumpa. Aku sendiri merasa tidak pernah mengolok-olok nama baik mereka di depan siapa pun, entah mengapa aku dituduh bersalah kepada Tam-popoh?”

“Tadi aku sedang tanya Siau Koan dan dia belum lagi menjawab, tiba-tiba kelima putramu menyerobot datang hingga mengacaukan pembicaraan kami, malahan sampai sekarang ia masih belum sempat menjawab pertanyaanku tadi,” demikian sahut Tio-ci-sun. “Nah, Tan tua, boleh coba kau cari tahu, orang macam apakah Siau Koan? Dan aku si ‘Tio-ci-sun-li-go-tan-ong’ orang macam apa pula? Masakah pada waktu kami sedang bicara boleh sembarangan dikacau begitu saja?”

Diam-diam Tan Cing geli mendengar ucapan yang “angin-anginan” itu, tapi lantas katanya pula, “Masih ada sesuatu yang aku tidak mengerti, tolong suka memberi penjelasan.”

“Soal apa? Jika aku senang, tiada alangan juga akan kuberi petunjuk padamu,” sahut Tio-ci-sun dengan lagak mahaguru.

“Terima kasih,” ujar Tan Cing. “Tadi Anda bilang nama kecil Tam-popoh hanya boleh dipanggil olehmu seorang saja, bukan?”

“Ya, sudah tentu!” seru Tio-ci-sun. “Kalau kau tidak percaya, boleh coba memanggilnya sekali lagi, lihatlah kalau aku si ‘Tio-ci-sun-li-go-tan-ong-the-sim-nyo’ tidak memberi hajaran padamu.”

“Sudah tentu aku tidak berani memanggilnya lagi,” sahut Tan Cing. “Tapi masakah Tam-kong juga tidak berani memanggilnya?”

Jawaban ini rupanya mengenai lubuk hati Tio-ci-sun hingga seketika ia bungkam dengan muka merah padam. Sejenak kemudian mendadak orang aneh itu menangis tergerung-gerung dengan suara yang sedih memilukan.

Kelakuannya ini benar-benar di luar dugaan siapa pun, sungguh tiada yang menyangka bahwa seorang yang tidak takut tingginya langit dan jeri pada tebalnya bumi, sampai Tiat-bin-poan-koan juga berani ditantangnya, tapi hanya dengan satu kalimat pertanyaan itu sudah membuatnya menangis begitu rupa.

Melihat seterunya menangis sedih, Tan Cing menjadi tidak enak malah, api kemarahannya yang semula berkobar itu seketika sirap, sebaliknya ia malah menghiburnya, “Tio-heng, maafkan aku ….”

“Aku … aku tidak she Tio,” sahut Tio-ci-sun dengan terguguk.

Keruan Tan Cing tambah heran, “Habis, saudara she apa?”

“Aku tidak she Tio, tidak she Ci, juga tidak she Sun, aku tidak punya she, tidak perlu tanya,” sahut Tio-ci-sun.

Mendengar suara tangis Tio-ci-sun itu begitu sedih, semua jago yang hadir menduga pasti ada sesuatu yang pernah melukai hatinya. Dan bagaimana urusannya kalau dia sendiri tidak omong orang lain dengan sendirinya tidak enak untuk bertanya.

Dalam pada itu Tio-ci-sun masih tetap menangis sedih dengan tersenggak-sengguk tiada hentinya.

“Kembali penyakitmu kumat lagi, di depan orang banyak, menangis seperti anak kecil, engkau punya kulit muka atau tidak?” demikian Tam-popoh atau si nenek Tam menyemprotnya.

“Habis engkau … engkau rela meninggalkan aku dan menikah dengan tua … tua bangka seperti Tam-kong ini, sudah tentu hatiku sedih dan pilu,” demikian sahut dengan sesenggukan. “Hati sudah remuk, jantungku sudah hancur, ususku sudah putus, tinggal kulit muka yang tipis ini, apa gunanya?”

Semua orang tersenyum geli oleh kata-kata lucu itu. Kiranya begitulah duduk perkara yang sebenarnya.

Rupanya Tio-ci-sun dan Tam-popoh itu pernah terjalin kisah asmara, tapi entah mengapa Tam-poh menikah dengan Tam-kong. Dan karena sedihnya sampai Tio-ci-sun membuang nama aslinya dan kelakuannya menjadi gila-gilaan seperti orang sinting. Padahal suami-istri Tam-si itu usianya lebih dari 60 tahun, entah mengapa cinta Tio-ci-sun itu bisa sedemikian mendalamnya, selama berpuluh tahun masih belum berkurang dendam asmaranya.

Si nenek Tam sendiri mukanya sudah penuh keriput dan kasap seperti kulit ayam, rambutnya ubanan semua, siapa pun tidak mengira bahwa nenek yang berperawakan tinggi besar potongan “kuda teji” itu pada masa mudanya mempunyai kecantikan yang menggiurkan orang hingga sampai tua Tio-ci-sun masih tetap mencintainya.

Begitulah maka tampak sikap Tam-poh agak kikuk dan malu-malu kucing seperti anak perawan, sahutnya kemudian, “Suko, buat apa engkau mengungkat kejadian masa lampau? Hari ini Kay-pang ada urusan penting yang perlu dibicarakan, lekas mendengarkan dan jangan mengacau pula.”

Ucapan yang lembut dan bernada nasihat itu besar pengaruh bagi Tio-ci-sun, sebab dia lantas berkata, “Baiklah, tapi tersenyumlah dahulu kepadaku baru aku akan menurut perkataanmu.”

Belum lagi Tam-poh tersenyum atau orang-orang lain sudah mendahului tertawa menggelegar, namun nenek Tam itu seperti tidak ambil pusing, benar juga ia berpaling dan tersenyum “manis” sekali kepada Tio-ci-sun.

Sukma Tio-ci-sun seperti terbang ke awang-awang oleh senyuman itu hingga seketika ia termangu-mangu.

Sudah tentu semua itu disaksikan pula oleh Tam-kong yang duduk di sebelah dengan rasa gusar, tapi toh tidak dapat berbuat apa-apa.

Kejadian itu mendadak memengaruhi pikiran Toan Ki juga, pikirnya, “Cinta ketiga orang ini benar-benar sangat mendalam hingga orang yang berada di sini sampai tak dipusingkan oleh mereka. Dan apakah perasaanku kepada nona Ong kelak juga akan berakhir seperti ini? Ah, tidak, tidak! Sebab Tam-poh juga kelihatan rada mencintai sukonya, sebaliknya yang selalu dikenang nona Ong adalah Buyung-kongcu, dibandingkan Tio-ci-sun terang aku bukan apa-apa lagi.”

Dalam pada itu demi mendengar suka-duka Tio-ci-sun dan suami-istri Tam-si masa lampau, diam-diam Kiau Hong menimbang-nimbang, “Tio-ci-sun itu sebenarnya tidak she Tio, tapi suheng Tam-poh. Aku sering mendengar bahwa Tam-kong dan Tam-poh dari Ciong-siau-tong di Hoa-san terkenal di Bu-lim oleh karena ilmu silat aliran Hoa-san-pay mereka yang hebat. Tapi dari percakapan mereka tadi, agaknya mereka bertiga bukan sesama perguruan. Lalu, sebenarnya Tam-kong yang benar orang Hoa-san-pay ataukah Tam-poh yang berasal dari Hoa-san-pay?”

Tengah Kiau Hong merasa ragu, tiba-tiba terdengar Tio-ci-sun berkata pula, “Sudah lama Locu tidak datang ke daerah Kanglam sini, maka tidak tahu bahwa di Koh-soh telah muncul seorang Buyung Hok yang katanya suka ‘Ih-pi-ci-to, hoan-si-pi-sin’ dengan perbuatannya yang sewenang-wenang. Locu justru ingin bertemu dengan dia untuk melihat cara bagaimana dia mampu memperlakukan aku si ‘Tio-ci-sun-li-cin-go-the-ong’ ini?”

Baru habis ucapannya sekonyong-konyong terdengar suara orang menangis dengan sedih sekali, suara tangisan yang meraung-raung itu sama persis seperti tangisan Tio-ci-sun tadi.

Keruan semua orang melengak.

Bahkan terdengar suara tangisan itu sedang sesambatan pula, “O, Sumoayku, di manakah Locu pernah bersalah padamu? Mengapa engkau meninggalkan daku dan menikah dengan si tua bangka she Tam yang celaka itu? Siang dan malam Locu selalu merindukan dikau. Teringat masa hidup Suhu kita, beliau pandang kita seperti anak kandung sendiri, tapi engkau tidak kawin denganku, apakah engkau tidak ingat kebaikan Suhu?”

Suara dan ucapan itu persis sekali seperti Tio-ci-sun, kalau semua orang tidak menyaksikan orang aneh itu termangu-mangu dan melongo dengan penuh keheranan, tentu semua orang akan percaya suara itu diucapkan dari mulut Tio-ci-sun sendiri. Tapi ketika semua orang memandang ke arah datangnya suara itu, ternyata suara itu timbul dari seorang gadis jelita berbaju jambon yang berdiri mungkur.

Kiranya gadis itu adalah A Cu.

Toan Ki, Giok-yan, dan A Pik cukup kenal kepandaian cara A Cu menirukan tingkah laku dan suara orang, dengan sendirinya mereka tidak heran. Sebaliknya orang lain menjadi terheran-heran dan geli pula, mereka menduga pasti Tio-ci-sun akan marah karena suaranya ditirukan orang.

Tak tersangka bahwa tangisan dan keluhan A Cu tadi justru tepat mengenai lubuk hati Tio-ci-sun, maka bukannya marah sebaliknya matanya tampak merah basah, mulutnya mewek-mewek, air matanya meleleh, akhirnya menangislah dia berpadu dengan suara tangisan A Cu.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: