Pendekar Kerajaan Tayli ~ Jilid 25

Tan Cing menggeleng-geleng kepala menyaksikan itu, katanya dengan suara lantang, “Meski aku she Tan (tunggal), tapi istriku satu dan gundikku empat, anak-cucuku penuh serumah. Sebaliknya saudara Siang Wai ini, she Siang (genap, banyak) justru hidup sebatang kara tanpa teman hidup. Peristiwa ini seharusnya engkau sesalkan di masa dahulu, kalau sekarang baru dibicarakan, rasanya juga sudah terlambat. Nah, Siang-heng, kita diundang kemari oleh Be-hujin apakah tujuannya ialah untuk merundingkan urusan perjodohanmu?”

“Bukan,” sahut Tio-ci-sun sambil menggeleng.

“Jika begitu, seharusnya kita membicarakan dahulu urusan Kay-pang lebih penting,” ujar Tan Cing.

“Apa katamu?” tiba-tiba Tio-ci-sun menjadi gusar. “Urusan Kay-pang lebih penting, apakah urusanku dengan Siau Koan kurang penting?”

Mendengar sampai di sini, Tam-kong tidak tahan lagi, segera ia berkata, “A Hui, jika kau tidak lantas suruh dia hentikan penyakit gilanya, terpaksa aku akan turun tangan.”

Mendengar sebutan “A Hui”, semua orang lantas berpikir, “Kiranya Tam-poh mempunyai nama kecil yang lain. Dan nama ‘Siau Koan’ itu memang benar adalah monopoli si Tio-ci-sun sendiri.”

Maka terdengar Tam-poh telah menjawab dengan membanting kaki, “Dia toh tidak gila, tapi engkau yang mengakibatkan dia begini, dan kau masih belum puas, ya?”

“Aneh, mengapa aku … aku yang mengakibatkan dia begitu?” tanya Tam-kong dengan heran.

“Habis, aku menikah dengan tua bangka yang celaka seperti kau, dengan sendirinya Suhengku kurang senang ….”

“Waktu kita menikah toh aku tidak celaka dan tidak tua pula,” ujar Tam-kong.

“Huh, tidak malu, memangnya kau ganteng dan bagus?” cemooh Tam-poh.

Ci-tianglo dan Tan Cing hanya saling pandang dengan geleng-geleng kepala saja. Mereka pikir ketiga tua bangka ini benar-benar tidak tahu diri, masakah dengan kedudukan mereka bertiga yang disegani dan dihormati orang Bu-lim sebagai kaum cianpwe, tapi terang-terangan bercekcok urusan asmara masa lampau di depan orang banyak, sungguh menggelikan.

Maka Ci-tianglo lantas berdehem sekali, lalu katanya, “Atas kunjungan suami-istri Tam-si dan saudara ini, kami segenap anggota Kay-pang merasa mendapat kehormatan yang besar. Sekarang silakan Be-hujin suka bicara perkara pokok dari awal sampai akhir.”

Be-hujin itu sejak tadi hanya berdiri dengan kepala menunduk sambil mungkur, demi mendengar ucapan Ci-tianglo itu, perlahan ia putar tubuh ke depan, lalu katanya dengan suara perlahan, “Sungguh malang suamiku tewas, Siaulicu (aku perempuan yang bodoh) hanya dapat menyesalkan nasib sendiri, tapi yang paling menyedihkan adalah suamiku tidak meninggalkan seorang anak pun untuk menyambung abu keluarga Be ….”

Berkata sampai di sini, suaranya agak tersendat hingga mengharukan bagi para pendengarnya. Sama-sama menangis, tangis Tio-ci-sun membuat orang merasa geli, tangis A Cu membikin orang heran, sebaliknya tangis Be-hujin membuat orang pilu.

Maka terdengar nyonya janda itu sedang meneruskan, “Sesudah Siaulicu mengebumikan layon suami, ketika berbenah barang-barang tinggalannya, tanpa sengaja di tempat simpanan kitab pelajaran silat dapat kutemukan suatu sampul surat wasiat yang tertutup rapat, di atas sampul tertulis: ‘Jika aku meninggal sampai hari tua secara wajar maka surat ini harus segera dibakar, siapa yang berani membuka surat ini berani merusak ragaku ini dan membuat aku tidak tenteram di alam baka. Tapi kalau aku mati secara tidak wajar surat ini harap diserahkan kepada para tianglo untuk dibuka bersama, soalnya sangat penting, jangan keliru!'”

Berkata sampai di sini, suasana dalam hutan itu menjadi sunyi senyap, semua orang ingin mendengarkan bagaimana lanjutan ceritanya.

Setelah merandek sejenak, lalu Be-hujin menanggalkan sebuah ransel kecil yang dibawa dan mengeluarkan sebuah kantong surat dari kain minyak, dari dalam kantong surat itu kemudian dilolos keluar sebuah sampul, lalu katanya, “Inilah surat wasiat suamiku itu. Sesudah kutemukan surat ini dan melihat pesan suamiku itu sangat penting, kutahu urusannya pasti bukan urusan biasa, maka segera hendak kutemui Pangcu untuk mempersembahkan surat wasiat ini. Tapi untung Pangcu telah datang ke Kanglam sini bersama para Tianglo hendak membalaskan sakit hati suamiku, dan syukurlah karena itu juga aku belum dapat berjumpa dengan Pangcu.”

Ucapan Be-hujin itu kedengaran agak janggal, masakah tidak berhasil bertemu dengan sang pangcu dianggapnya “untung” dan “syukur”? Tanpa terasa sinar mata semua orang sama beralih ke arah Kiau Hong.

Dari macam-macam kejadian malam ini, memang Kiau Hong sudah mempunyai firasat bahwa pasti ada sesuatu muslihat yang mahabesar sedang diarahkan kepadanya, walaupun soal komplotan Coan Koan-jing yang hendak menggulingkan dirinya sebagai pangcu itu sudah diamankan, namun kasus ini terang masih belum lagi tamat.

Kini mendengar uraian Be-hujin itu, perasaannya yang tertekan tadi menjadi ringan malah dan sikapnya tetap tenang, pikirnya, “Muslihat apa yang telah kalian atur, silakan keluarkan saja. Seorang laki-laki sejati harus berani menghadapi sesuatu yang menjadi kewajibannya. Selama hidupku tidak pernah berbuat kesalahan apa-apa, biar bagaimana kalian hendak menjebak dan memfitnah diriku, kenapa aku mesti takut?”

Maka terdengar Be-hujin menyambung ceritanya lagi, “Karena itulah kutahu surat ini menyangkut urusan penting organisasi kita, sedangkan Pangcu dan Tianglo tidak berada di Lokyang, kukhawatir membuang waktu sia-sia, maka kupergi dulu ke Theciu untuk menghadap Ci-tianglo dan minta beliau mengambil keputusan menurut surat wasiat itu. Tentang kejadian selanjutnya biarlah Ci-tianglo yang akan memberitahukan kalian.”

Ci-tianglo batuk beberapa kali, lalu katanya, “Urusan ini sesungguhnya banyak suka-dukanya, aku merasa serbasulit untuk bicara.”

Tiba-tiba ia ambil surat wasiat itu dari tangan Be-hujin, lalu sambungnya, “Sejak kakek-moyangnya hingga, ayah Be Tay-goan, beberapa keturunan mereka semuanya adalah orang Kay-pang sendiri, kedudukan mereka kalau bukan tianglo yang berkantong sembilan tentulah Pat-te-tecu (anak murid berkantong delapan). Sejak kecil hingga besar aku pun kenal Tay-goan. Gaya tulisannya kukenal. Maka tidak perlu diragukan lagi tulisan di atas sampul surat wasiat ini memang benar adalah tulisan tangan Tay-goan sendiri.

“Ketika surat ini diserahkan padaku oleh Be-hujin, segel di atas sampul surat ini masih tertutup rapat dan baik. Karena khawatir membikin runyam urusan penting, maka tanpa menunggu para tianglo yang lain aku lantas membukanya. Waktu kubuka surat ini, Tiat-bin-poan-koan Tan-heng kebetulan juga berada di situ, untuk mana dia dapat menjadi saksi.”

“Memang benar, tatkala itu kebetulan aku bertamu di tempat kediaman Ci-tianglo dan dengan mataku sendiri kulihat dia membuka dan membaca surat wasiat itu,” tukas Tan Cing.

Segera Ci-tianglo melolos keluar sehelai surat dari sampul, katanya pula, “Waktu mula-mula aku membaca gaya tulisan dalam surat ini ternyata bukan tulisan tangan Tay-goan, aku rada heran. Kulihat pembukaan surat itu tertulis: ‘Kiam-yan saudaraku’. Aku menjadi heran. Sebab kalian tentu tahu, ‘Kiam-yan’ adalah nama alias mendiang Ong-pangcu kita, bila bukan orang yang bersahabat kental dengan dia, tidak mungkin menyebut nama aliasnya itu.

“Padahal sudah lama Ong-pangcu wafat, mengapa ada orang menulis surat kepadanya? Maka aku tidak lantas membaca isi surat, tapi membaca nama si penulis surat. Dan begitu lihat, aku bertambah heran hingga bersuara, ‘He, kiranya dia!’ – Dan karena tertarik, Tan-heng yang berada di sampingku lantas ikut melongok surat yang kupegang itu dan serta-merta ia pun bersuara heran, ‘Eh, kiranya dia!’

“Perbuatanmu itu terang salah, Tan-loji,” tiba-tiba Tio-ci-sun menyela. “Surat itu adalah surat rahasia Kay-pang mereka. Engkau bukan anggota Kay-pang yang berkantong satu atau dua, bahkan menjadi pengemis juga tidak pernah, mengapa berani mengintip surat orang yang penting itu?”

Jangan mengira orang aneh itu suka “angin-anginan”, ucapannya ternyata sangat tepat. Keruan muka Tan Cing rada merah, sahutnya, “Aku cuma melongok nama pengirim surat itu, kan tidak membaca isinya.”

“Apa bedanya melongok sedikit dan membaca banyak?” sahut Tio-ci-sun. “Engkau mencuri seribu tahil emas disebut maling, mencuri satu peser juga maling namanya. Bedanya cuma jumlah uang banyak atau sedikit, maling besar atau maling kecil, tapi kan sama-sama maling namanya? Maling besar adalah maling, maling kecil juga maling. Mengintip surat orang lain berarti bukan seorang kuncu (gentleman), dan kalau bukan kuncu tentu adalah siaujin (orang kecil, tak bermoral), kalau siaujin, itu berarti rendah kotor. Kalau orang rendah begitu, sepantasnya dibunuh!”

Sungguh gusar Tan Pek-san berlima tak terkatakan, serentak mereka hendak melabrak orang gila itu. Tapi cepat Tan Cing memberi tanda agar putra-putranya itu jangan sembarangan bertindak, biarlah orang itu ngaco-belo sesukanya, nanti saja sekaligus diadakan perhitungan dengan dia.

Diam-diam ia pun heran dan bingung, “Begitu bertemu dengan aku, orang ini lantas terus-menerus mencari perkara padaku, jangan-jangan dia mempunyai dendam apa-apa padaku? Orang Kangouw yang berani memandang enteng kepada keluarga Tan boleh dikatakan dapat dihitung dengan jari. Tapi siapakah sebenarnya orang ini, mengapa aku tidak mengenalnya?”

Di lain pihak karena semua orang lagi tertarik ingin tahu siapakah sebenarnya nama pengirim surat yang dimaksudkan Ci-tianglo itu, maka mereka menjadi marah terhadap ocehan Tio-ci-sun yang mengacau itu. Serentak mereka melotot kepada orang tua itu.

“Kalian melotot apa? Apa yang dikatakan Sukoku memang sedikit pun tidak salah,” tiba-tiba Tam-poh membuka suara.

Mendengar dirinya dibela bekas kekasih itu, Tio-ci-sun menjadi kegirangan, katanya, “Nah, kalian sudah dengar sendiri, bahkan Siau Koan juga membenarkan perkataanku, masakah aku bisa salah? Apa yang dikatakan atau dilakukan Siau Koan selamanya pasti benar.”

“Benar, apa yang dikatakan atau dilakukan Siau Koan selamanya tak bisa salah. Dia menikah dengan Tam-kong dan tidak kawin denganmu, hal itu pun sekali-kali tidak salah,” demikian tiba-tiba disela suara seorang yang bernada persis seperti Tio-ci-sun.

Orang yang bicara ini bukan lain A Cu adanya. Dia gemas terhadap ucapan Tio-ci-sun yang menghina Buyung-kongcu tadi, maka tiada hentinya ia mencari perkara padanya.

Tio-ci-sun menjadi bungkam dan menyeringai mati kutu demi mendengar ucapan A Cu itu. Sebab cara debat A Cu itu telah menggunakan dialektika yang tepat, yaitu sesuai dengan kesukaan Buyung-si dengan istilahnya yang terkenal ‘Ih-pi-ci-to, hoan-si-pi-sin’ atau menggunakan cara orang untuk diperlakukan kembali terhadap orang itu.

Begitulah maka ada orang yang sangat berterima kasih kepada A Cu, mereka adalah Tam-kong dan Tan Cing. Tapi pada saat itu juga mendadak sesosok bayangan berkelebat, tahu-tahu Tam-poh sudah melesat ke depan A Cu, “plak”, kontan nenek itu tampar pipi kanan si gadis sambil membentak, “Aku salah menikah atau tidak, peduli apa dengan omongan budak busuk macam kau ini?”

Tamparan Tam-poh itu benar-benar cepat luar biasa, A Cu hendak berkelit juga tidak sempat lagi, orang lain lebih-lebih tidak keburu untuk menolongnya. Maka lenyap suara tamparan menyusul pipi A Cu yang putih mulus itu lantas timbul lima jalur merah biru bekas jari.

Maka terbahak-bahaklah Tio-ci-sun, serunya, “Tepat benar hajaran itu, biar budak kurang ajar itu tahu rasa!”

Seketika A Cu memberambang hendak menangis, tapi belum lagi menangis, tiba-tiba Tam-kong mengeluarkan sebuah kotak porselen kecil, ia buka tutup kotak itu dan mencolek sedikit salep dengan ujung jarinya, lalu ia usap-usap beberapa kali di pipi A Cu hingga tempat yang tertampar itu dibubuhi selapis salep tipis.

Belum sempat A Cu berpikir apa yang terjadi, tahu-tahu pipi yang tadinya terasa panas pedas kini berubah menjadi dingin segar, berbareng tangan kiri telah memegang sesuatu benda. Waktu A Cu memeriksanya, ia lihat benda itu adalah sebuah kotak kecil yang putih, ia tahu hadiah dari Tam-kong itu berisi obat luka yang sangat manjur, maka ia tidak jadi menangis, sebaliknya malah tertawa.

Ci-tianglo tidak pusing cara bagaimana kedua kakek dan nenek itu akan bertengkar sendiri, tapi ia lantas bicara pula dengan suaranya yang agak serak, “Saudara-saudara sekalian, siapakah penulis surat ini sebenarnya saat ini belum waktunya untuk kukatakan. Aku orang she Ci sudah lebih 70 tahun berada dalam Kay-pang, sisa hidup di dunia ini juga takkan lama lagi, selama 30 tahun paling akhir ini aku telah mengasingkan diri dan tidak ikut berkecimpung di dunia Kangouw hingga tidak pernah lagi bercekcok dan bermusuhan dengan orang. Aku sendiri tidak punya anak-cucu, bahkan murid juga tidak punya, aku merasa tiada sedikit pun mempunyai kepentingan pribadi dalam urusan ini. Maka bila aku ingin bicara sedikit, entah apakah saudara-saudara dapat memercayai diriku?”

“Perkataan Ci-tianglo, siapa yang takkan percaya?” sahut para pengemis dengan serentak.

“Bagaimana dengan pendapat Pangcu?” tanya Ci-tianglo kepada Kiau Hong.

“Selamanya aku sangat menghormat dan menghargai Ci-tianglo, hal ini Cianpwe sendiri cukup tahu,” sahut Kiau Hong.

Maka tanpa ragu Ci-tianglo meneruskan ceritanya, “Sesudah kubaca isi surat, aku benar-benar dihadapkan pada sesuatu yang mahasulit dan penasaran pula. Tapi kukhawatir ada sesuatu yang tidak benar, maka surat ini segera kuserahkan pada Tan-heng untuk dibaca. Sebab hubungan Tan-heng dengan penulis surat ini sangat baik dan pasti kenal gaya tulisannya dan cukup tahu pula bagaimana asal usul penulis surat ini. Oleh karena urusan ini mahapenting dan sangat luas sangkut pautnya, maka aku ingin Tan-heng membuktikan surat ini tulen atau palsu.”

Tiba-tiba Tan Cing melotot sekali ke arah Tio-ci-sun. Sudah tentu maksudnya mengejek, “Apa abamu sekarang?”

Siapa duga Tio-ci-sun lantas berkata, “Ci-tianglo yang minta kau baca, dengan sendirinya boleh kau baca. Tapi waktu pertama kali kau kan mengintip, itu tidak sah. Misalnya seorang dahulu pernah menjadi maling, kemudian menjadi kaya raya dan tidak jadi maling lagi, namun biarpun dia seorang hartawan toh tidak dapat mencuci bersih riwayat hidupnya yang berasal dari maling.”

Ci-tianglo tidak urus ucapan Tio-ci-sun itu, katanya kepada Tan Cing, “Tan-heng, silakan katakan kepada para hadirin, apakah surat ini tulen atau palsu?”

“Cayhe adalah sobat rapat si penulis surat ini, di rumahku juga banyak tersimpan surat berasal dari penulis ini,” demikian tutur Tan Cing. “Maka segera aku dan Ci-tianglo serta Be-hujin kembali ke tempat tinggalku untuk dicocokkan dengan surat simpananku. Dan nyata gaya tulisannya sama, bahkan sampul suratnya juga serupa, terang surat ini tulen.”

“Sebagai seorang tua, setiap tindakan selalu kulakukan dengan cermat, apalagi urusan ini menyangkut mati-hidup pang kita dan menyangkut nama baik seorang enghiong-hokiat (kesatria dan pahlawan), mana boleh aku bertindak secara serampangan,” tutur Ci-tianglo.

Mendengar sampai di sini, sinar mata semua orang tanpa terasa beralih ke arah Kiau Hong, mereka tahu “enghiong-hokiat” yang dimaksudkan itu tentulah Kiau Hong. Tapi demi sinar mata mereka kebentrok dengan sorot mata Kiau Hong, segera mereka menunduk lagi.

“Aku tahu suami-istri Tam-si dari Hoa-san mempunyai hubungan baik juga dengan penulis surat ini, maka sengaja kudatangi mereka untuk minta nasihat. Untuk mana Tam-poh telah bercerita kepadaku seluk-beluk yang berliku-liku dalam urusan ini. Tapi, ai, sesungguhnya aku tidak tega bicara terus terang, sungguh kasihan, sayang, menyedihkan dan mengharukan!”

Sampai di sini barulah semua orang tahu bahwa kedatangan Tan Cing dan suami-istri Tam-si adalah karena undangan Ci-tianglo yang minta mereka menjadi saksi.

Lalu Ci-tianglo bertutur lagi, “Tatkala itu Tam-poh bilang padaku bahwa ada seorang suheng yang pernah ikut melihat dan mengalami sendiri kejadian itu, kalau suhengnya itu diminta menceritakan duduknya perkara pastilah akan terang persoalannya. Dan suhengnya itu bukan lain adalah Tio-ci-sun Siansing ini. Sifat Siansing ini rada berbeda daripada orang biasa, tidak mudah untuk mengundangnya kemari. Tapi berkat bantuan Tam-poh, cukup sehelai surat saja dan Siansing ini sudah sudi berkunjung kemari ….”

“He, jadi engkau yang mengundang dia ke sini?” teriak Tam-kong mendadak kepada Tam-poh dengan gusar. “Mengapa sebelumnya tidak kau beri tahukan padaku? Jadi di luar tahuku kau berbuat sembunyi-sembunyi?”

“Berbuat sembunyi-sembunyi apa?” sahut Tam-poh tidak mau kalah. “Aku menulis surat dan minta Ci-tianglo menyuruh orang mengirimkannya, hal ini dilakukan dengan terang-terangan, mengapa dikatakan sembunyi-sembunyi? Dasar memang kau suka minum cuka, maka tidak kuberi tahukan padamu, sebab kutahu kau pasti akan rewel, buktinya sekarang!”

“Berbuat sesuatu di luar tahu sang suami, tidak menjaga susila sebagai seorang wanita, itulah tidak pantas!” seru Tam-kong.

“Plak”, kontan Tam-poh menempeleng pipi sang suami.

Sudah jelas ilmu silat Tam-kong jauh lebih tinggi daripada Tam-poh, tapi ketika dipukul sang istri, ia tidak menangkis dan juga tidak berkelit, tanpa bergerak ia biarkan dirinya digampar sekali. Menyusul ia lantas mengeluarkan sebuah kotak kecil lagi, ia colek sedikit salep dan dipoles di pipi sendiri hingga merah biru bekas tamparan itu hilang seketika. Yang satu memukul dengan cepat yang lainnya cepat mengobati. Dengan demikian rasa gusar kedua orang pun lenyap semua.

Semua orang merasa geli oleh kejadian itu. Sebaliknya mendadak Tio-ci-sun menghela napas panjang, dengan suara sedih memilukan ia berkata, “Kiranya demikian, kiranya demikian! Ai, tahu begini, menyesal aku sekarang. Kalau cuma dipukul beberapa kali seperti ini apa susahnya?”

Nada suaranya ternyata penuh rasa penyesalan.

“Setiap kali bila kupukulmu, selalu kau membalas, selamanya tidak mau mengalah sedikit pun,” demikian kata Tam-poh dengan suara lembut.

Tio-ci-sun termangu-mangu seperti patung, terkenang olehnya masa lampau. Sang sumoay itu lincah dan genit, sedikit-sedikit suka ngambek dan memukul orang, setiap kali tanpa sebab dirinya dipukul, karena penasaran, maka terjadilah pertengkaran, dan sebab itulah perjodohan yang sebenarnya amat bahagia itu akhirnya gagal.

Kini menyaksikan sendiri Tam-kong manda dipukul begitu tanpa membalas, barulah sekarang ia sadar kesalahannya sendiri. Ia menyesal sifatnya yang tidak mau mengalah itu. Pantas selama berpuluh tahun ini ia tidak menemukan jawabannya mengapa sang sumoay bisa jatuh cinta kepada orang lain, kiranya rahasianya cuma satu, yaitu, “manda dipukul”.

Maka terdengar Ci-tianglo sedang berkata, “Tio-ci-sun Siansing, harap suka bicara di depan orang banyak, kejadian yang tertulis dalam surat wasiat ini benar atau tidak?”

Tapi Tio-ci-sun sedang melayang-layang pikirannya dan bergumam sendiri, “Ai, aku benar-benar tolol, mengapa waktu itu tidak dapat berpikir? Kusangka belajar silat gunanya untuk menghajar musuh, untuk memukul orang jahat, mengapa dipakai menghantam badan sang kekasih? Siapa tahu memukul itu artinya cinta, memaki itu artinya suka. Ai, ai, jika begitu, apa artinya cuma menerima beberapa kali tempelengan?”

Semua orang merasa geli dan merasa cinta buta orang aneh itu pantas dikasihani pula. Orang lain sedang menghadapi urusan mahapenting dalam Kay-pang, sebaliknya ia sendiri bicara yang tidak-tidak. Lalu, kebenaran ceritanya apa dapat dipercaya?

Karena tidak mendapat jawaban sebagaimana mestinya, kembali Ci-tianglo tanya lagi, “Tio-ci-sun Siansing, kami mengundangmu ke sini hanya ingin minta engkau suka menceritakan bagaimana isi surat itu.”

“O, ya, benar!” seru Tio-ci-sun. “Ehm, tentang isi surat itu, meski ringkas saja tulisannya, tapi cukup mengesankan …. Empat puluh tahun yang lalu kita tinggal dalam serumah dan makan semeja, suasana itu seakan-akan baru saja terjadi, bila terkenang sekarang, tentu kakak pun sudah ubanan, wajah dan senyum pasti tidak lagi seperti sediakala.”

Buset! Ci-tianglo tanya bagaimana isi surat wasiat Be Tay-goan itu, sebaliknya ia menguraikan isi surat cinta yang diterimanya dari Tam-poh.

Karena kewalahan, akhirnya Ci-tianglo berkata kepada Tam-poh, “Tam-hujin, harap engkau yang minta dia bicara saja.”

Tak terduga Tam-poh sendiri juga lagi termangu-mangu ketika mendengar bekas kekasih itu sedemikian memerhatikan sepucuk suratnya, bahkan isi surat dihafalkan di luar kepala, suatu tanda surat itu entah berapa kali telah dibacanya. Dan demi mendengar permintaan Ci-tianglo itu, maka berkatalah dia, “Suko, harap tuturkan bagaimana kejadian dahulu itu.”

“Kejadian dahulu itu sampai sekarang masih kuingat dengan baik,” sahut Tio-ci-sun. “Rambutmu terkepang menjadi dua kucir, ujung kucir berhiaskan dua pita kupu merah. Waktu Suhu mengajarkan jurus ‘Thau-liong-coan-hong’ itu ….”

Mendengar istilah “Thau-liong-coan-hong” atau mencuri naga dan menukar burung hong, Giok-yan seperti sadar akan sesuatu, ia mengangguk perlahan.

Sedangkan Tam-poh lantas berkata, “Suko, jangan lagi bicara urusan kita masa lampau, tapi Ci-tianglo sedang tanya padamu tentang banjir darah dalam pertempuran di Loan-ciok-kok di luar Gan-bun-koan dahulu, di mana engkau sendiri ikut menyaksikan, maka ceritakanlah kepada hadirin dari apa yang kau lihat itu.”

“Tentang … tentang pertempuran di … di Loan-ciok-kok (lembah batu padas) … di Gan-bun-koan ….” sahut Tio-ci-sun dengan suara gemetar dan air muka berubah hebat, sekali putar tubuh, sekonyong-konyong ia melarikan diri ke arah selatan yang lowong itu dengan cepat luar biasa.

Melihat orang aneh itu dalam sekejap saja akan lenyap di balik hutan sana, untuk mengejar terang tidak keburu lagi, maka semua orang cuma dapat berteriak-teriak untuk mencegahnya. Namun Tio-ci-sun tidak peduli lagi, ia berlari terlebih cepat.

“Rambut kakak kini tentu sudah ubanan, wajah dan senyummu pastilah tidak lagi seperti sediakala,” demikian mendadak suara seorang berseru dengan lantang.

Sekonyong-konyong Tio-ci-sun berhenti lari, ia menoleh dan menegur, “Siapa itu yang bicara?”

“Habis, bila bukan karena itu, mengapa engkau merasa malu menghadapi Tam-kong dan mesti melarikan diri?” sahut suara itu.

Waktu semua orang memandang ke arah suara itu, kiranya yang bicara adalah Coan Koan-jing.

“Siapa yang merasa malu? Paling-paling dia cuma pandai ‘manda dipukul’, apanya yang mampu mengalahkan aku?” Tio-ci-sun.

“Manda dipukul tanpa membalas, itu adalah ilmu nomor satu di dunia ini, masakah gampang dipelajari?” tiba-tiba suara seorang tua menyela dari balik hutan sana.

Ketika semua orang berpaling, tertampaklah dari balik pohon sana muncul seorang hwesio berjubah warna kelabu, bermuka lebar dan bertelinga besar, wajahnya sangat kereng.

“Hah, kiranya Ti-kong Taysu dari Thian-tay-san telah tiba, sudah lebih 30 tahun tidak bertemu, Taysu ternyata masih sehat dan kuat,” segera Ci-tianglo menyapa.

Nama Ti-kong Hwesio tidak terkenal dalam Bu-lim, maka tokoh-tokoh angkatan muda dari Kay-pang tiada yang kenal asal usulnya. Tapi Kiau Hong, Coan Koan-jing dan para tianglo seketika bangkit untuk menyambut kedatangan padri itu.

Mereka kenal padri itu pernah mengembara ke luar lautan untuk mencari obat-obatan yang tepat untuk menyembuhkan penyakit malaria yang berjangkit di sekitar provinsi Kwitang dan Hokkian pada beberapa tahun yang lalu, sebab itulah Ti-kong sendiri sampai jatuh sakit payah dua kali hingga ilmu silatnya pun punah. Namun jasanya bagi kesejahteraan rakyat tidak sedikit artinya. Maka semua orang pun berturut-turut maju untuk memberi hormat padanya.

Segera Ti-kong berkata kepada Tio-ci-sun dengan tertawa, “Ilmu silat lebih rendah dari lawan dan manda dihantam tanpa membalas, hal ini saja sukar dicari. Bila ilmu silat lebih tinggi, dan diserang tetap tidak membalas, hal ini lebih-lebih jarang terdapat orangnya.”

Tio-ci-sun termangu-mangu menunduk, ia seperti sadar akan sesuatu.

Maka Ti-kong berkata pula, “Kebetulan kulewat di sini, tidak nyana para pahlawan sedang berkumpul di sini hingga terganggu, harap dimaafkan, biarlah kumohon diri saja.”

“Ti-kong Taysu adalah padri saleh yang telah banyak menolong sesamanya, siapa pun tentu menaruh hormat,” kata Ci-tianglo. “Hari ini Kay-pang kami sedang menghadapi suatu persoalan mahasulit, kebetulan Taysu berkunjung kemari, sungguh beruntung Kay-pang kami, sebab kalau sengaja mengundang, belum tentu Taysu sudi datang. Maka mumpung datang, betapa pun harap Taysu suka mengaso sebentar.”

“Eh, ya, pertempuran di Loan-ciok-kok itu Ti-kong Hwesio juga ikut ambil bagian. Nah, suruh dia saja yang bercerita,” tiba-tiba Tio-ci-sun berseru.

Mendengar tentang “pertempuran di Loan-ciok-kok”, sekilas Ti-kong menampilkan rasa heran, seperti takut-takut dan merasa ngeri pula, tapi akhirnya wajahnya kembali kepada perasaan yang welas asih, katanya dengan gegetun, “Terlalu banyak bunuh-membunuh! Terlalu kejam! Urusan itu kalau diceritakan sungguh sangat memalukan. Peristiwa Loan-ciok-kok itu adalah kejadian 30 tahun yang lalu, mengapa para Sicu hari ini kembali mengungkatnya?”

“Lantaran saat ini-Kay-pang kami sedang menghadapi pergolakan yang menyangkut isi sepucuk surat ini,” kata Ci-tianglo sambil mengangsurkan surat wasiat tadi.

Setelah membaca dan mengulangi lagi isi surat itu, Ti-kong geleng kepala dan berkata, “Permusuhan lebih baik diselesaikan daripada ditambah, urusan yang sudah lalu buat apa diungkat lagi? Menurut pendapatku, surat ini dibakar saja dan urusan pun selesai!”

“Tapi Be-hupangcu kami telah ditewaskan orang secara mengenaskan, kalau tidak diusut, kematian Be-hupangcu menjadi penasaran dan pang kami pun menghadapi bahaya keretakan,” ujar Ci-tianglo.

“Benar juga, benar juga!” kata Ti-kong mengangguk.

Tatkala itu bulan sabit tampak menghiasi cakrawala dengan sinarnya yang remang-remang menimpa pucuk pohon hutan itu. Ti-kong memandang sekejap ke arah Tio-ci-sun, lalu berkata pula, “Baiklah, aku telah berbuat salah, untuk mana juga tidak perlu ditutupi, biarlah kuceritakan terus terang saja.”

Kita berjuang demi nusa dan bangsa, tidak dapat dikatakan berbuat salah,” ujar Tio-ci-sun.

“Salah tetap salah, buat apa mesti pakai alasan,” ujar Ti-kong sambil menggoyang kepala. “Tiga puluh tahun yang lampau, tiba-tiba para pahlawan Tionggoan mendapat berita, katanya lebih 200 jago Cidan akan menyerbu ke Siau-lim-si untuk merampok kitab-kitab suci yang sudah tersimpan beratus tahun dalam biara itu.”

Semua orang merasa heran dan menganggap ambisi jago Cidan itu benar-benar kelewat batas. Sebab harus diketahui bahwa ilmu silat Siau-lim-si adalah inti ilmu silat seluruh Tiongkok, kalau pelajaran silat Siau-lim-si sampai dirampas bangsa Cidan dan disebarkan dalam pasukan tentara mereka, tentu pasukan Song takkan mampu melawan mereka lagi di medan perang.

“Sudah tentu urusan itu sangat penting, bila usaha Cidan itu berhasil, tentu kerajaan Song kita akan menghadapi bahaya kehancuran dan anak cucu kita pasti akan musnah pula,” demikian Ti-kong melanjutkan. “Oleh karena urusan sudah mendesak, kami tidak sempat berunding lebih jauh, ketika mendengar jago-jago Cidan itu akan lewat Gan-bun-koan, di samping kami mengirim orang menyampaikan kabar itu kepada Siau-lim-si, kami lantas berangkat beramai-ramai ke Gan-bun-koan untuk mencegat kedatangan musuh dengan maksud akan menghancurkannya lebih dulu ….”

Waktu itu kerajaan Song sering mendapat gangguan dari Cidan, dalam pertempuran pasukan Song selalu mengalami kekalahan, harta benda dan jiwa rakyat jelata banyak yang ikut menjadi korban keganasan musuh. Kini mendengar para pahlawan itu akan melabrak musuh, tanpa terasa semua orang ikut bersemangat meski kejadian itu sudah lama lampau.

“Kiau-pangcu,” tiba-tiba Ti-kong tanya Kiau Hong dengan sinar mata tajam, “bila engkau menerima berita begitu, bagaimana kiranya tindakanmu?”

“Ti-kong Taysu,” sahut Kiau Hong dengan darah mendidih, “biarpun aku orang she Kiau tidak punya kepandaian apa-apa hingga sekarang aku dicurigai para saudara anggota, tapi sekalipun aku tidak becus, paling tidak juga seorang lelaki yang punya keberanian dan berjiwa patriot, terhadap kewajiban yang menjadi bagian setiap bangsa tidak nanti aku tinggal diam. Bangsa dan negara kita sudah banyak diganggu musuh, dendam itu siapa yang tidak ingin membalas? Jika kudengar berita itu, sudah pasti juga aku akan pimpin anggota pang kami dan serentak berangkat ke sana.”

Semua orang ikut terbangkit semangatnya demi mendengar ucapan Kiau Hong yang gagah berani itu.

Ti-kong mengangguk-angguk, katanya, “Jika begitu, jadi keberangkatan kami ke Gan-bun-koan untuk menggempur musuh itu menurut pendapat Kiau-pangcu adalah tepat bukan?”

Diam-diam Kiau Hong mendongkol karena pertanyaan itu, masakah jawabannya tadi kurang tegas hingga perlu ditanya pula? Tapi ia bersikap tenang saja dan berkata, “Kiau Hong justru sangat kagum terhadap tindakan para cianpwe yang patriotik itu, sayang aku tidak dilahirkan lebih tua 30 tahun hingga dapat ikut serta dalam rombongan para cianpwe itu untuk menghajar musuh.”

Ti-kong memandang lekat-lekat kepada pangcu itu dengan air muka keheran-heranan, lalu katanya pula dengan perlahan, “Sesudah kami terima pemberitahuan itu, di samping kami mengirim kabar kepada Siau-lim-si, beramai-ramai kami lantas berangkat ke Gan-bun-koan dengan membagi diri dalam beberapa kelompok. Kebetulan saudara ini ….”

Ia tuding Tio-ci-sun dan menyambung, “Dia bersama dalam suatu rombongan kami. Rombongan kami ini seluruhnya berjumlah 21 orang, betapa tinggi ilmu silat Toako Pemimpin tidak perlu dikatakan lagi, kecuali itu masih terdapat Ong-pangcu dari Kay-pang, Koan-in Totiang dari Hoa-san, Ong Hiang-lim, dari Ban-seng-to serta tokoh-tokoh pilihan lain yang terkenal di Bu-lim pada zaman itu. Tatkala mana aku belum lagi menjadi padri, sebenarnya tidak sesuai menggabungkan diri di antara para tokoh terkemuka itu. Cuma terdorong oleh semangat cinta negeri, dalam hal menghadapi musuh tidak mau ketinggalan di belakang orang lain, makanya aku berjuang sepenuh tenaga. Umpama saudara ini, ilmu silatnya waktu itu bahkan jauh di atasku.”

“Memang benar,” kata Tio-ci-sun tanpa ditanya, “ilmu silatmu waktu itu selisih jauh sekali denganku, paling sedikit sekian selisihnya.”

Sambil berkata ia terus pentang kedua tangannya untuk memberi suatu ukuran jarak, tapi ketika merasa jarak itu kurang jauh, ia pentang tangannya lebih lebar lagi hingga hampir dua meter jauhnya.

Namun Ti-kong tidak urus lagi padanya, ia melanjutkan, “Setelah kami melintasi Gan-bun-koan (gerbang tembok besar ujung barat), waktu itu sudah dekat magrib, sepanjang jalan kami selalu siap siaga dengan hati berdebar-debar. Setelah belasan li jauhnya, hari pun mulai remang-remang. Tiba-tiba dari arah barat-laut sana terdengar derap lari kuda, dari suara itu terang ada belasan jumlahnya. Segera Toako Pemimpin memberi tanda agar berhenti.

“Rasa hati semua orang waktu itu bergirang tercampur tegang. Girangnya karena berita yang diterima itu ternyata benar, untung kami dapat tiba tepat pada waktunya. Tapi semua orang pun sadar jago-jago Cidan yang datang ini pasti bukan sembarangan jago, kalau tidak, masakah mereka berani menantang Siau-lim-si yang merupakan tulang punggung dunia persilatan di Tiongkok itu, maka dapat dipastikan jago-jago Cidan ini pasti jago pilihan semua. Dalam pertempuran biasanya kerajaan Song kita selalu mengalami kekalahan melawan Cidan, dan pertarungan kami ini apakah dapat menang, sungguh sulit untuk diramalkan.

“Ketika Toako pimpinan memberi tanda pula, segera kami menyembunyikan diri di balik batu-batu karang di tepi jalan. Sisi kiri lembah pegunungan itu adalah sebuah jurang curam yang banyak terdapat batu karang dan dalamnya jurang sukar dijajaki. Sementara itu derap kuda tadi sudah makin dekat, menyusul terdengar suara nyanyi beberapa orang, lagunya bersemangat, tapi entah apa artinya.

“Aku pegang golokku dengan erat, saking tegangnya sampai aku mandi keringat. Kebetulan Toako Pemimpin juga mendekam di sampingku, ia khawatir aku tidak tahan sabar, maka perlahan menepuk pundakku sambil tersenyum, lalu memberi tanda pula dengan gaya menghantam, maksudnya membunuh musuh sebentar lagi. Aku menjawabnya dengan tersenyum mantap.

“Ketika musuh mulai dekat di tempat sembunyi kami, waktu aku mengintip, kulihat jago-jago Cidan itu semuanya memakai baju kulit, ada yang membawa tombak, ada yang bergolok dan ada yang membawa busur dengan panahnya, bahkan ada yang membawa elang pemburu di pundaknya. Mereka datang dengan tetap bernyanyi-nyanyi, sedikit pun tidak peduli apakah di depan bakal diadang musuh atau tidak. Hanya sebentar saja, kulihat berapa orang Cidan yang berada paling depan itu semuanya berwajah bengis dan penuh berewok. Melihat jarak musuh semakin mendekat, hatiku pun tambah berdebar dan tegang ….”

Walaupun apa yang diceritakan Ti-kong itu adalah kejadian pada 30 tahun yang silam, namun semua orang mengikuti cerita itu dengan berdebar-debar.

“Kiau-pangcu,” kata Ti-kong kepada Kiau Hong, “berhasil atau gagalnya usaha kami waktu itu menyangkut nasib negara Song kita dengan berjuta-juta rakyatnya yang tertindas, tapi kami justru tidak yakin akan dapat menang. Keuntungan kami satu-satunya waktu itu adalah kami siap menyerang, sebaliknya musuh tidak tahu. Dalam keadaan begitu, bagaimana kami harus bertindak menurut pendapat Kiau-pangcu?”

“Siasat militer tidak kenal ampun, bila perlu harus memperdayakan musuh,” sahut Kiau Hong. “Apalagi dalam pertempuran di antara kedua negara seperti itu, kita tidak kenal lagi peraturan Bu-lim atau etiket Kangouw. Pula ketika bangsa penjajah membunuhi bangsa kita, apakah mereka pernah kenal kasihan? Maka menurut pendapatku kita harus menyerangnya dengan am-gi (senjata gelap), dan am-gi itu harus berbisa pula.”

“Tepat,” seru Ti-kong sambil menggaplok paha sendiri. “Pendapat Kiau-pangcu persis seperti apa yang kami pikirkan waktu itu. Maka ketika Toako Pemimpin melihat musuh sudah dekat, sekali bersuit, segera ia memerintahkan serangan umum dengan hamburan am-gi dari macam-macam jenis, ada piau baja, ada panah, ada pisau terbang, ada peluru besi dan macam-macam lagi, semuanya berbisa. Maka terdengarlah suara jeritan di sana-sini, musuh menjadi kacau-balau dan tunggang-langgang jatuh dari kuda mereka.”

Mendengar sampai di sini, seketika banyak di antara pendengar itu bersorak-sorai.

“Dalam pada itu aku telah dapat menghitung dengan jelas bahwa penunggang kuda musuh itu berjumlah 18 orang, 11 orang di antaranya telah roboh oleh serangan am-gi kami, sisanya tinggal tujuh orang saja. Segera kami mengerubut maju, di bawah hujan macam-macam senjata, hanya sebentar saja ketujuh orang itu pun dapat kami bunuh semua, satu pun tiada yang lolos.”

Sampai di sini, kembali orang-orang Kay-pang ada yang bersorak lagi. Tapi Kiau Hong dan Toan Ki justru berpikir, “Tadi kau bilang jago-jago Cidan itu adalah jago pilihan, tapi mengapa begitu tak becus, hanya sebentar saja sudah terbunuh semua?”

Maka terdengar Ti-kong berkata pula dengan menghela napas, “Sekaligus kami dapat membunuh ke-18 jago Cidan itu, meski bergirang, tapi juga curiga dan merasa jago-jago Cidan itu mengapa begitu tak berguna, hanya sekali-dua gebrak saja sudah lantas mampus, sama sekali bukan jago kelas pilihan, jangan-jangan berita yang diterima itu tidak benar? Dan mungkin pula musuh sengaja mengatur perangkap itu untuk menjebak kami. Tapi sebelum kami sempat bertukar pikiran, tiba-tiba terdengar suara berdetaknya kuda pula, dari arah yang sama tampak muncul lagi dua penunggang kuda.

“Sekali ini kami tidak bersembunyi lagi, tapi terus memapak maju. Ternyata penunggang kuda itu adalah sepasang laki perempuan. Yang lelaki bertubuh tinggi besar, gagah berwibawa, dandanannya juga jauh lebih mentereng daripada ke-18 orang tadi. Yang wanita adalah seorang nyonya muda dan membopong seorang bayi. Sambil keprak kuda mereka asyik bicara dengan sangat mesra tampaknya, terang mereka itu adalah pasangan suami-istri.

“Ketika melihat rombongan kami, mereka merasa heran, demi kemudian melihat pula mayat ke-18 orang tadi, lelaki itu seketika berubah beringas terus membentak-bentak menanyai kami. Sudah tentu kami tidak tahu apa yang dikatakannya dalam bahasa Cidan itu. Kawan Put Tay-hiong dari Soasay yang berjuluk Thi-tha (si Pagoda Besi), yaitu karena perawakannya tinggi besar dan kuat, segera membentak, ‘Anjing asing, serahkan nyawamu!’ – berbareng senjatanya yang berwujud toya lantas mengemplang lelaki itu. Namun Toako Pemimpin kami merasa ragu, cepat bentaknya, ‘Jangan sembrono, Pui-hiati, jangan membinasakan dia, tangkap saja untuk ditanyai.’

“Tapi belum lenyap suara Toako Pemimpin, tahu-tahu laki-laki Cidan itu telah ulur tangan kanan hingga toya Pui Tay-hiong kena ditangkapnya, berbareng ia tarik ke samping terus dipuntir, ‘krek’, tanpa ampun tulang lengan Pui Tay-hiong dipatahkan.

“Karena kami tidak sempat lagi penolongnya, maka segera ada beberapa kawan menghamburkan am-gi ke arah musuh. Tapi sekali orang Cidan itu kebas lengan bajunya, serangkum angin keras menyampuk senjata gelap ke samping. Tampaknya sekali dia menghantam lagi pasti jiwa Pui Tay-hiong akan melayang. Tak tersangka dia cuma sedikit angkat toya yang masih dipegangnya itu hingga tubuh Pui Tay-hiong ikut terangkat ke atas lalu toya bersama pemiliknya dilemparnya jauh-jauh ke tepi jalan, kemudian ia mengoceh entah apa lagi yang tidak kami ketahui maksudnya.

“Ilmu kepandaian yang ditunjukkan orang Cidan itu keruan membuat kami tertegun semua, betapa lihai ilmu silatnya itu bahkan di Tiongkok sendiri jarang terdapat, nyata berita yang kami terima tentang jago-jago Cidan yang akan menyerbu Siau-lim-si itu bukanlah omong kosong, mungkin jago Cidan yang belum muncul bahkan akan lebih lihai. Kami pikir mumpung menang jumlah orang, biarlah bunuh dulu mereka. Maka sekaligus ada beberapa kawan menerjang ke arah laki-laki itu, sebagian kawan yang lain lantas menyerang si wanita.

“Tak terduga wanita itu sama sekali tidak mahir ilmu silat, sekali seorang kawan menebas dengan pedangnya, kontan sebelah lengan wanita itu terkutung dan karena itu bayi yang dia gendong itu jatuh ke tanah, menyusul golok kawan lain membacok pula hingga separuh kepala wanita itu terpenggal.

“Meski ilmu silat laki-laki Cidan itu sangat tinggi, tapi di bawah keroyokan 6-7 orang, betapa pun sukar melepaskan diri untuk menolong anak-istrinya. Semula ia hanya melawan dengan gerak tipu yang hebat untuk merampas senjata para kawan dan tidak melukainya, tapi demi melihat istrinya terbunuh, matanya menjadi merah membara, air mukanya beringas menyeramkan. Tanpa terasa aku merasa jeri tatkala melihat sinar matanya yang menakutkan itu.”

“Ya, itu pun tak bisa menyalahkanmu, tak dapat menyalahkanmu!” tiba-tiba Tio-ci-sun menimbrung dengan suara yang penuh penyesalan dan berduka, jauh berbeda dengan ucapannya yang angin-anginan tadi.

“Pertarungan sengit itu sudah lampau 30 tahun lamanya,” demikian Ti-kong menyambung, “tapi selama 30 tahun ini entah sudah berpuluh kali, bahkan beratus kali dalam mimpiku seakan-akan kembali pada adegan waktu itu. Sungguh pertarungan yang mahasengit itu terlalu mendalam berkesan dalam benakku. Entah dengan cara apa, sekali tangan laki-laki Cidan itu bergerak, tahu-tahu senjata kedua orang kawanku sudah terampas, menyusul sekali bacok dan sekali tebas, seketika kedua kawan itu binasa. Terkadang orang itu menubruk turun dari kudanya, lain saat ia cemplak pula ke atas kudanya, dan hanya dengan pergi-datang begitu secepat hantu iblis, dalam sekejap saja sudah sembilan orang kawan kami terbinasa di tangannya.

“Karena itu kami menjadi kalap juga, Toako Pemimpin, Ong-pangcu dan lain-lain sama menyerbu maju dengan mati-matian. Namun ilmu silat lawan itu benar-benar aneh luar biasa. Setiap serangan, setiap gerakannya selalu sukar diduga, di tengah deru angin keras di luar Gan-bun-koan itu tercampur jerit ngeri para pahlawan waktu menemui ajalnya, seketika berjatuhan buah kepala dan anggota badan bertebaran, dalam keadaan begitu, betapa pun tinggi ilmu silatmu paling-paling juga cuma dapat menjaga diri saja dan tidak mampu menolong kawan yang lain.

“Menyaksikan pertarungan sengit itu, hatiku sesungguhnya sangat ketakutan, tapi demi tampak para kawan satu per satu terbinasa dengan mengenaskan, mau tak mau darahku mendidih juga, dengan penuh semangat aku menerjang ke arah musuh. Kuangkat golok dan membacok sekuat tenaga ke kepala lawan. Aku sadar bila seranganku luput, maka jiwakulah yang bakal melayang. Tampaknya golokku tinggal belasan senti jaraknya di atas kepalanya, mendadak kulihat tangan orang itu memegang seorang tawanan dan dengan buah kepala tawanan itu ia papak bacokanku itu.

“Sekilas kulihat kepala orang itu adalah orang kedua Tho-si-sam-hiong dari Kangsay, keruan aku terkejut, bila bacokanku itu kena, tentu kepalanya akan berpisah dengan tuannya. Maka sebisanya kutarik balik golokku, namun menurunnya yang terlalu keras itu tak dapat kutahan lagi, kepala kuda tungganganku sendiri yang terbacok. Binatang itu meringkik sekali terus berjingkrak. Dan pada saat itulah orang Cidan itu juga menggaplok ke arahku dengan tangannya. Untung pada saat yang sama kudaku menegak hingga mewakilkan aku menahan serangannya itu. Kalau tidak, tentu tulangku yang akan remuk dan jiwa melayang.

“Tenaga gaplokan orang itu ternyata kuat sekali, seketika aku bersama kudaku mencelat ke belakang, bahkan aku terpental dan jatuhnya persis kecantol di atas dahan pohon besar. Dalam keadaan ketakutan dan merasa entah mati atau hidup, dari atas aku masih sempat menyaksikan kawanku satu per satu disapu roboh oleh orang Cidan itu dan akhirnya tinggal 5-6 orang saja yang masih bertahan sekuatnya. Kulihat saudara ini pun tergeliat roboh bermandikan darah, waktu itu aku menyangka dia sudah mati.”

“Kejadian memalukan itu kalau dibicarakan juga tetap memalukan,” tukas Tio-ci-sun, “tapi aku juga tidak perlu berdusta, biar kukatakan terus terang. Waktu itu sebenarnya aku tidak terluka, tapi aku jatuh pingsan ketakutan. Kulihat kedua kaki Tho-jiko kena dipegang tangan musuh sekali pentang dan sekali beset, tahu-tahu tubuh Tho-jiko dirobek menjadi dua, perutnya berhamburan. Melihat itu, mendadak jantungku serasa berhenti berdenyut, mataku menjadi gelap dan segala apa selanjutnya tidak tahu lagi. Ya, memang aku pengecut, melihat pembunuhan itu, saking ketakutan aku jatuh pingsan.”

“Siapa pun bila menyaksikan cara orang Cidan itu membunuh seganas iblis, mustahil jika bilang tidak takut,” kata Ti-kong. “Di bawah sinar bulan remang-remang seperti sekarang ini, kulihat kawan-kawan yang masih menempur orang Cidan itu tinggal empat orang saja. Toako Pemimpin insaf takkan lolos dari elmaut, maka berulang-ulang ia membentak, ‘Siapa kau? Siapa kau?’

“Tapi orang itu tidak menjawab, hanya dua jurus pula, kembali dua orang kawan terbunuh lagi. Mendadak kakinya mendepak hingga hiat-to di punggung Ong-pangcu tertendang, secara berantai menyusul kakinya yang lain menendang pula hingga hiat-to bawah iga Toako Pemimpin kena didepak.

“Tentang ilmu tiam-hiat sudah pernah kulihat macam-macam caranya, tapi orang itu ternyata dapat menggunakan ujung kaki untuk menutuk hiat-to, baik jitunya maupun cepatnya tendangan musuh sukar dibayangkan. Bila waktu itu aku tidak ingat jiwa sendiri juga terancam elmaut dan kedua korban tendangan itu adalah orang yang paling kuhormati, mungkin saat itu juga aku bisa bersorak memuji.

“Sesudah semua lawan dirobohkan, orang Cidan itu terus lari ke samping mayat si wanita, ia menangis meraung-raung memeluk jenazah itu, tangisnya sangat memilukan, sampai aku sendiri hampir-hampir ikut meneteskan air mata. Kupikir orang Cidan yang ganas seperti binatang dan iblis ini kiranya juga mempunyai rasa kemanusiaan, betapa rasa dukanya ternyata tidak kalah rendah daripada bangsa Han kita.”

“Memangnya bangsa Cidan juga manusia, sama-sama manusia mengapa bisa lebih rendah dari bangsa Han? Bedanya mereka adalah kaum penjajah, dan kaum penjajah harus diganyang!” sela Tio-ci-sun tiba-tiba.

“Setelah menangis sebentar, kemudian orang Cidan itu mengangkat pula mayat anaknya, ia pandang sejenak, lalu taruh mayat bayi itu di pangkuan ibundanya. Lalu ia mendekati Toako Pemimpin, ia membentak-bentak dan mencaci maki. Namun sedikit pun Toako tidak menyerah, sebaliknya menjawabnya dengan mata mendelik. Celakanya karena tertutuk, maka ia tidak dapat bicara. Sekonyong-konyong orang Cidan itu menengadah sambil bersuit panjang, tiba-tiba ia gunakan jarinya untuk menulis di atas dinding batu, tatkala itu hari sudah gelap, jarakku dengan dia agak jauh pula, maka aku tidak tahu jelas apa yang ditulisnya itu.”

“Dia menulis dalam bahasa Cidan, biarpun dekat juga kau tidak paham,” ujar Tio-ci-sun.

“Benar, biarpun dapat membaca dari dekat juga tidak mengerti maksudnya,” kata Ti-kong. “Sesudah menulis, kemudian orang itu mengangkat jenazah istri dan anaknya berjalan ke tepi jurang lalu terjun bertiga. Perbuatannya ini benar-benar di luar dugaanku. Semula aku pikir orang yang berilmu silat setinggi ini tentu mempunyai kedudukan terhormat di negeri Cidan, serangan mereka pada Siau-lim-si sekali ini seumpama dia bukan pemimpinnya, paling tidak juga salah seorang tokoh terpenting.

“Setelah Toako Pemimpin dan Ong-pangcu ditawan olehnya, sisanya terbunuh pula, boleh dikata dia telah memperoleh kemenangan terakhir, siapa tahu dia justru membunuh diri dengan terjun ke jurang. Padahal jurang itu penuh dilapis kabut tebal hingga dalamnya sukar dijajaki, betapa pun tinggi ilmu silatnya, sekali sudah terjun ke situ pasti hancur lebur badannya. Begitulah karena kaget, aku sampai menjerit.

“Siapa duga di dalam kejadian aneh masih ada yang lebih aneh, justru pada saat aku menjerit, tiba-tiba terdengar suara menguak tangis bayi yang berkumandang dari dalam jurang. Menyusul sepotong benda melayang naik dari dalam jurang, ‘bluk’, benda itu tepat jatuh di atas badan Ong-pangcu. Kudengar suara tangis bayi yang tiada berhenti-henti, kiranya benda yang jatuh di atas badan Ong-pangcu itu adalah si orok. Waktu itu rasa takutku sudah lenyap, cepat kulompat turun dari atas pohon dan berlari ke dekat Ong-pangcu, kulihat anak Cidan itu telentang di atas perut beliau dan masih menangis. Aku terheran-heran. Sesudah berpikir, akhirnya kutahulah duduknya perkara.

Kiranya setelah wanita Cidan itu terbunuh bayinya jatuh ke tanah dan untuk sementara berhenti pernapasannya, tapi sebenarnya belum mati. Waktu laki-laki Cidan itu merasa napas si orok sudah berhenti, ia sangka anak-istrinya sudah tewas semua, maka ia terjun ke jurang bersama kedua sosok mayat. Di luar dugaan, karena mengalami guncangan, mendadak bayi itu siuman kembali terus menangis.

“Laki-laki Cidan itu sesungguhnya sangat hebat, ia tidak ingin anaknya terkubur hidup-hidup di dasar jurang, maka begitu mengetahui anaknya belum mati, cepat ia melemparkan anaknya ke atas. Ia ingat tempat dan jaraknya, dan dengan persis bayi itu dilemparkan ke atas tubuh Ong-pangcu hingga si orok tidak mengalami cedera apa-apa.

“Kulihat para kawan hampir seluruhnya binasa dengan mengenaskan, saking duka, bayi itu kupegang dan hendak kubanting mampus. Tapi baru saja kuangkat, tiba-tiba terdengar tangisnya yang lebih keras, aku memandang sekejap mukanya, kulihat mulutnya yang kecil mungil itu terpentang lebar, air mukanya merah padam, kedua matanya yang hitam cemerlang juga sedang menatap padaku. Bila aku tidak memandanginya dan terus membanting mampus dia, mungkin segala urusan menjadi beres. Tapi demi kulihat mukanya yang menyenangkan, betapa pun aku tidak tega turun tangan kejam lagi. Diam-diam aku memaki diriku sendiri, ‘Hm, membunuh seorang orok yang berumur beberapa bulan, terhitung laki-laki gagah macam apa’?”

“Ti-kong Taysu,” tiba-tiba ada orang Kay-pang berteriak, “bangsa Han kita tak terhitung banyaknya telah menjadi korban keganasan penjajah Cidan. Dengan mata kepala sendiri juga pernah kusaksikan pasukan anjing Cidan menyunduk anak bayi bangsa kita dengan ujung tombak sebagai satai, bahkan anggap perbuatan itu sebagai suatu kesenangan. Coba katakan, kalau mereka boleh membunuh, mengapa kita tidak?”

“Walaupun benar ucapanmu, tapi manusia tetap manusia, dan setiap manusia tentu mempunyai rasa perikemanusiaan sendiri-sendiri,” ujar Ti-kong. “Aku sudah menyaksikan kematian orang begitu banyak, sungguh aku tidak tega membunuh pula seorang bayi yang tak berdosa. Biarlah, kalian boleh anggap aku keliru, boleh juga katakan aku pengecut, pendek kata aku tetap memberi kesempatan hidup kepada bayi itu.

“Kemudian aku berusaha hendak membuka hiat-to Toako Pemimpin dan Ong-pangcu yang tertutuk itu. Tapi sayang, pertama karena kepandaianku terlalu rendah, kedua, ilmu menendang hiat-to orang Cidan itu terlalu aneh, biarpun aku sudah berusaha macam-macam jalan tetap Toako dan Ong-pangcu tak dapat bergerak dan tak bisa bicara.

“Karena tak berdaya,” demikian Ti-kong melanjutkan, “terpaksa aku mendapatkan tiga ekor kuda dan mengangkut Toako Pemimpin dan Ong-pangcu ke atas kuda, cepat-cepat kami tinggalkan tempat itu. Aku sendiri membopong bayi Cidan itu sambil menuntun kedua ekor kuda yang lain, malam itu juga kami kembali ke Gan-bun-koan untuk mencari tabib pandai, tapi tutukan Toako dan Ong-pangcu itu tetap sukar ditolong. Sampai besok malamnya, setelah genap sehari-semalam, barulah hiat-to itu terbuka sendiri.”

“Karena masih khawatir tentang rencana penyerbuan jago Cidan kepada Siau-lim-si, maka begitu hiat-to mereka terbuka, Toako Pemimpin dan Ong-pangcu lantas menuju ke luar Gan-bun-koan untuk memeriksa keadaan. Tertampak mayat bergelimpangan di tempat kemarin, waktu kulongok ke dalam jurang, namun aku tidak melihat apa-apa, yang ada cuma kabut belaka. Segera kami bertiga mengubur mereka yang gugur itu. Tapi ketika kami menghitung jumlahnya, ternyata tinggal 17 sosok mayat saja. Jumlah kami semula adalah 21 orang, tinggal kami bertiga, seharusnya yang gugur itu berjumlah 18 orang, mengapa kurang satu?”

Berkata sampai di sini, sorot matanya lantas menatap ke arah Tio-ci-sun.

“Ya, sebab salah satu sosok mayat di antaranya telah hidup kembali dan tinggal pergi, sampai sekarang masih tetap gentayangan kian kemari, ialah diriku si ‘Tio-ci-sun-li-ciu-go-the-ong-tan ini’,” kata Tio-ci-sun dengan senyum pahit.

“Tapi waktu itu kami pun tidak curiga apa-apa, kami pikir boleh jadi dalam pertarungan sengit itu saudara ini telah terjerumus dalam jurang, maka tidak mengusutnya lebih jauh. Tiba-tiba Toako pimpinan berkata kepada Ong-pangcu, ‘Kiam-yan, jika orang Cidan itu mau membunuh kita sebenarnya terlalu mudah, tapi mengapa dia cuma menutuk hiat-to kita dan membiarkan kita terus hidup?’ – ‘Hal ini pun membingungkan aku. Padahal kita berdua terhitung tokoh pimpinan dan telah membunuh anak-istrinya, pantasnya dia pasti akan membunuh mati kita,’ demikian jawab Ong-pangcu.”

“Tapi kami bertiga tetap tidak mengerti, akhirnya Toako Pemimpin berkata, ‘Tulisan yang dia gores di dinding batu itu boleh jadi mengandung arti yang mendalam.’ – Celakanya kami bertiga tidak paham tulisan Cidan. Toako Pemimpin mencari sedikit air sungai untuk mencairkan darah yang sudah membeku di tanah itu, dengan air darah itu lalu dipoles di atas dinding batu lalu baju sendiri yang putih itu ia robek untuk mencetak tulisan di atas dinding.”

“Huruf-huruf Cidan yang ditulis dengan tangan di dinding itu ternyata satu senti dalamnya, melulu tenaga jari ini saja kuyakin di dunia ini pasti tiada yang mampu menandinginya. Diam-diam kami merasa ngeri membayangkan pertarungan sengit kemarin malam itu.”

“Setiba kembali di Gan-bun-koan, Ong-pangcu mendapatkan seorang saudagar peternakan yang sering membeli kuda dari negeri Cidan, ia perlihatkan huruf darah itu dan minta saudagar itu menyalinnya ke dalam bahasa Han di atas kertas.” – berkata sampai di sini, tiba-tiba ia mendongak memandang ke langit sambil menghela napas panjang, lalu sambungnya, “Sehabis membaca terjemahan dalam bahasa Han itu, kami bertiga cuma saling pandang belaka, sungguh kami tidak dapat memercayai apa yang dimaksudkan itu. Dengan rasa tidak puas kami mencari seorang lain lagi yang mahir tulisan Cidan dan secara bagian-bagian kami minta dia menerjemahkan artinya. Tapi ternyata maksudnya serupa. Ai, jika duduk perkaranya memang benar-benar begitu, maka bukan saja kematian ke-17 saudara itu sangat penasaran, bahkan orang-orang Cidan itu telah menjadi korban tanpa berdosa, dan terhadap sepasang suami-istri bangsa Cidan itu kami benar-benar merasa berdosa.”

Karena ingin lekas mengetahui apa arti tulisan di atas dinding batu itu, sebaliknya Ti-kong belum lagi menerangkan, maka yang tidak sabar lantas berteriak, “Apa yang dikatakan tulisan itu?” – “Ya, mengapa merasa berdosa kepada mereka?”

“Para saudara,” sahut Ti-kong, “bukan aku sengaja merahasiakannya dan tidak mau membeberkan arti tulisan Cidan itu. Tapi hendaklah diketahui bila apa yang dikatakan tulisan itu memang benar, maka Toako Pemimpin, Ong-pangcu dan aku boleh dikata telah berbuat kesalahan yang mahabesar dan malu untuk hidup di dunia ini. Bagiku, yang cuma seorang ‘Bu-beng-siau-cut’ (prajurit tak bernama, keroco) dalam Bu-lim, kesalahan begitu boleh dikatakan tidak mengapa, tapi bagi Toako Pemimpin dan Ong-pangcu yang mempunyai kedudukan begitu penting, mana boleh sembarangan kukatakan? Apalagi Ong-pangcu sudah wafat, lebih-lebih aku tidak boleh menodai nama mereka berdua. Maka maafkanlah bila sementara ini aku tidak dapat menerangkan.”

Mendengar hal itu menyangkut nama baik mendiang Ong-pangcu, betapa pun orang-orang Kay-pang, tidak berani tanya lagi.

Melihat semua orang sudah diam, kemudian Ti-kong menyambung pula, “Setelah berunding dan tukar pikiran, sungguh kami bertiga sukar memercayai apa yang dikatakan dalam tulisan Cidan itu, tapi mau tak mau harus percaya. Maka kami ambil keputusan untuk memberi hidup pada bayi Cidan itu, lebih dulu kami menuju Siau-lim-si untuk melihat gelagat, bila jago-jago Cidan benar menyerbu dan bila kami tak dapat melawan barulah bayi Cidan itu akan kami bunuh pula. Maka siang-malam kami menuju ke Siau-lim-si, kami lihat tidak sedikit kaum kesatria dan pahlawan dari berbagai daerah telah datang membantu, maklum urusan ini menyangkut nasib dan kehormatan berjuta rakyat bangsa kita, maka setiap orang yang mendapat berita bahaya itu semuanya ingin datang membantu.”

Sinar mata Ti-kong menyorot dari kiri ke kanan, ke arah pendengarnya, katanya pula, “Pertemuan di Siau-lim-si waktu itu mungkin ada di antara hadirin yang berusia sedikit lanjut juga ikut serta. Maka tidaklah perlu kuuraikan lebih lanjut. Waktu itu semua orang cuma siap siaga dan penuh waspada untuk menantikan datangnya musuh. Tapi sejak bulan sembilan hingga akhir tahun, selama tiga bulan itu ternyata tiada kabar sedikit pun tentang gerak-gerik musuh.

“Ketika orang yang menyampaikan berita semula hendak ditanya, tapi orangnya sudah menghilang. Kami baru menduga berita itu pasti tidak benar dan semua orang telah dibodohi. Korban yang jatuh dalam pertempuran Gan-bun-koan dikatakan terlalu penasaran. Cuma tidak lama kemudian, pasukan Cidan benar-benar menyerbu wilayah Hopak, para pahlawan banyak yang ikut dalam perjuangan melawan penjajah itu, tentang jago Cidan akan menyatroni Siau-lim-si atau tidak sudah tak terpikir lagi oleh mereka, pendek kata orang Cidan adalah musuh kita bersama.

“Tapi Toako Pemimpin, Ong-pangcu dan aku bertiga karena merasa berdosa dalam peristiwa Gan-bun-koan itu, maka kecuali memberitahukan pengalaman itu kepada pihak Siau-lim-si, kami menyampaikan berita duka itu pula kepada keluarga saudara-saudara yang gugur, lebih dari itu kami tidak beri tahukan kepada siapa-siapa pula. Sedangkan anak Cidan itu pun kami titipkan pada suatu keluarga petani di kaki gunung Siau-sit-san (di sini letak Siau-lim-si). Semula kami dihadapkan pada kesulitan cara bagaimana mengatur diri bocah itu.

“Kami sudah berdosa kepada ayah-bundanya dengan sendirinya tidak dapat membunuhnya pula. Tapi bicara tentang membesarkan anak itu, padahal bangsa Cidan adalah musuh nasional kita, betapa pun kami bertiga merasa ragu apa takkan terjadi ‘piara harimau mendatangkan bencana’? Syukur kemudian Toako Pemimpin mengeluarkan seratus tahil perak kepada petani itu dan minta dia suka merawat anak itu disertai syarat suami-istri petani itu harus mengakui bocah Cidan itu sebagai anak sendiri, bila anak sudah besar, sekali-kali jangan diberi tahu tentang asal-usulnya.

“Memangnya petani itu tidak punya anak, ia terima dengan kegirangan. Betapa tidak girang, sudah diberi anak, dapat uang pula. Sudah tentu dia tidak tahu anak itu adalah bangsa Cidan, sebab sebelumnya kami sudah mengganti baju anak itu dengan pakaian bangsa Han. Maklum, setiap bangsa kita terlalu benci pada bangsa Cidan, bila tahu anak itu keturunan Cidan, tentu dibunuhnya ….”

Mendengar sampai di sini, dalam hati Kiau Hong sudah dapat menerka siapa anak yang dimaksudkan Ti-kong itu, dengan suara gemetar ia tanya, “Ti-kong Taysu, siapakah nama petani … petani di kaki gunung Siau-sit-san itu?”

“Jika engkau sudah menerkanya, maka aku pun tidak perlu menutupi lagi,” sahut Ti-kong. “Petani itu she Kiau dan bernama Sam-hoay.”

“Tidak! Ti … tidak!” seru Kiau Hong dengan suara terputus-putus. “Engkau sengaja mengarang cerita yang tidak benar untuk memfitnah diriku. Terang gamblang aku bangsa Han, mana mungkin aku orang Cidan? Kau be … berani ngaco-belo? …. Kiau Sam-hoay itu adalah ayahku yang sebenarnya, kau … kau berani sembarangan mengoceh?”

Habis berkata, mendadak ia melompat maju, sekali pegang, dada Ti-kong kena dijambretnya.

“Jangan!” teriak Ci-tianglo dan Tan Cing berbareng sambil melompat maju hendak menolong Ti-kong.

Tapi Kiau Hong teramat cepat, sekali mengegos, tahu-tahu ia sudah menggeser ke samping sambil menyeret tubuh Ti-kong.

Tan Tiong-san, Tan Siok-san dan Tan Ki-san, ketiga putra Tan Cing, serentak menubruk ke belakang Kiau Hong. Dalam keadaan gusar dan dongkol, Kiau Hong mengamuk, sekali pegang, Tan Siok-san kena dilempar pergi, menyusul Tan Tiong-san didepak pula hingga terguling, ketiga kalinya Tan Ki-san kena dibanting ke tanah, menyusul kakinya menginjak di atas kepala jago Thay-san itu.

Kelima jago Thay-san itu sangat disegani di sekitar Soatang, sudah lama nama kelima saudara keluarga Tan itu tersohor dan bukan lagi bocah yang masih hijau. Tapi sambil menjambret dada Ti-kong, hanya beberapa kali gerakan saja mereka dirobohkan Kiau Hong tanpa bisa melawan sedikit pun, keruan semua orang sampai terkesima.

Sudah tentu Tan Cing, Tan Pek-san dan Tan Siak-san bermaksud menolong anak dan saudara mereka, tapi demi tampak kepala Tan Ki-san terinjak kaki Kiau Hong, asal sedikit Kiau Hong gunakan tenaga, seketika kepala Tan Ki-san bisa pecah. Karena itulah mereka menjadi takut dan tidak berani sembarangan bertindak.

“Kiau-pangcu, ada persoalan apa, harap bicara secara baik-baik, janganlah pakai kekerasan, keluarga Tan kami juga tiada permusuhan apa-apa denganmu, lepaskanlah putraku,” demikian seru Tan Cing dengan nada memohon.

Ci-tianglo juga berkata, “Kiau-pangcu, Ti-kong Taysu adalah tokoh yang sangat dihormati setiap orang Kangouw, jangan kau bikin susah padanya.”

“Benar, aku Kiau Hong memang tiada permusuhan apa-apa dengan keluarga Tan kalian, selamanya aku pun sangat mengindahkan kepribadian Ti-kong Taysu, jika kalian hendak memecat aku sebagai pangcu, aku rela mengundurkan diri, tapi mengapa kalian mengarang dongeng palsu seperti itu untuk menista diriku. Sebenarnya perbuatan jahat apakah yang pernah kulakukan hingga kalian tega memperlakukan diriku sekeji ini?”

Mendengar suara Kiau Hong itu agak serak, mau tak mau timbul rasa terharu semua orang. Tapi demi terdengar tulang tubuh Ti-kong Taysu bekertakan, semua orang pun sadar jiwa padri itu sudah di tepi jurang, mati atau hidupnya hanya bergantung di tangan Kiau Hong.

Suasana waktu itu menjadi sunyi senyap. Tiada seorang pun berani buka suara. Sampai agak lama tiba-tiba Tio-ci-sun tertawa dingin beberapa kali, katanya, “Hehe, benar-benar menggelikan! Bangsa Han toh tidak lebih terhormat dari bangsa lain, bangsa Cidan juga belum tentu lebih rendah daripada binatang! Sudah terang orang Cidan, tapi berkeras mengaku sebagai bangsa Han, memangnya apa sih yang menarik? Sampai ayah-bunda sendiri juga tidak sudi diakui, masakah masih dapat disebut seorang laki-laki sejati, seorang kesatria?”

“Jadi engkau juga mengatakan aku orang Cidan?” tanya Kiau Hong dengan melotot.

“Aku tidak tahu,” sahut Tio-ci-sun. “Cuma dalam pertempuran di Gan-bun-koan itu, dengan jelas kulihat jago Cidan itu baik air mukanya maupun perawakannya memang sangat mirip engkau. Pertempuran itu boleh dikatakan telah membuat nyaliku pecah, maka air muka orang itu biarpun lewat seabad lagi juga tetap kuingat.”

Perlahan Kiau Hong melepaskan Ti-kong, ia tarik kembali kakinya pula dan sekali mencukit, tubuh Tan Ki-san didepaknya pergi dengan enteng. Dan begitu jatuh ke tanah, cepat Tan Ki-san meloncat bangun tanpa terluka sedikit pun.

Waktu Kiau Hong pandang Ti-kong, ia lihat padri itu bersikap tenang saja, sedikit pun tiada tanda palsu dan licik. Maka tanyanya, “Kemudian bagaimana?”

“Kemudian engkau sendiri pun sudah tahu,” sahut Ti-kong. “Ketika engkau berusia tujuh tahun, waktu memetik buah-buahan di pegunungan Siau-sit-san, engkau diserang serigala, untung engkau ditolong padri Siau-lim-si. Selanjutnya tiap-tiap hari padri itu datang padamu dan memberi pelajaran ilmu silat, benar tidak?”

“Ya, kiranya kau pun tahu urusan ini,” sahut Kiau Hong.

Maklum, pada waktu padri Siau-lim-si itu mengajarkan ilmu silat padanya, lebih dulu ia telah berjanji takkan memberitahukan kepada orang lain. Maka orang Kangouw cuma tahu dia adalah ahli waris Ong-pangcu dari Kay-pang dan tiada yang tahu bahwa dia ada hubungan dengan Siau-lim-si.

Maka Ti-kong melanjutkan lagi, “Tindakan padri Siau-lim-si itu sebenarnya juga atas permintaan Toako Pemimpin kita untuk memberi ajaran padamu agar engkau tidak sampai sesat jalan. Bahkan berhubung dengan itu, aku, Toako Pemimpin dan Ong-pangcu pernah saling berdebat. Aku berpendapat engkau lebih baik bertani saja dan tidak belajar silat hingga terlibat pula dalam suka-duka orang Kangouw. Tapi Toako Pemimpin justru mengatakan kami telah berdosa kepada ayah-bundamu, maka ingin mendidik dirimu hingga menjadi seorang kesatria sejati.”

“Sebenarnya do … dosa apa kalian itu?” kata Kiau Hong. “Toh dalam pertempuran antara dua pihak, kalau tidak membunuh tentu akan dibunuh?”

“Tentang itu kelak boleh kau baca sendiri ukiran tulisan di dinding batu di luar Gan-bun-koan itu,” sahut Ti-kong. “Akhirnya, waktu engkau berusia 14 tahun, engkau lantas diterima menjadi murid Ong-pangcu. Dan bagaimana kejadian selanjutnya, meski semuanya memang berkat rezekimu sendiri yang besar serta bakatmu yang baik hingga banyak mendapat kemajuan yang luar biasa, namun kalau tiada perhatian Toako Pemimpin dan Ong-pangcu yang setiap saat mengawasi dirimu, mungkin tidaklah mudah bagimu untuk mencapai tingkatan seperti sekarang ini.”

Diam-diam Kiau Hong merenungkan masa silam, banyak sudah bahaya yang pernah dialaminya, tapi segala kesulitan itu selalu dapat dipecahkannya dengan mudah tanpa mengalami kerugian yang berarti. Bahkan banyak kesempatan baik selalu datang sendiri seakan-akan sengaja diantarkan kepadanya tanpa diminta.

Dahulu ia sangka hal itu adalah berkat rezeki sendiri yang teramat besar, maka selalu beruntung. Tapi kini demi mendengar cerita Ti-kong itu, ia menjadi ragu apakah mungkin ada seorang pahlawan besar yang diam-diam telah membantunya di luar tahunya? Ia merasa bingung oleh cerita Ti-kong itu. Bila benar seperti apa yang dikatakan maka dirinya adalah bangsa Cidan dan bukan orang Han, begitu pula Ong-pangcu juga bukan lagi gurunya yang berbudi, sebaliknya adalah musuh yang membunuh ayah-bundanya.

Juga pahlawan yang diam-diam membantunya itu bukan lagi sengaja hendak membantunya, tapi karena orang merasa berdosa, maka berusaha menebus kesalahannya itu. “Tidak, tidak! Bangsa Cidan terkenal sangat buas dan kejam serta menjadi musuh bebuyutan bangsa Han kita, mana boleh aku menjadi bangsa Cidan?” demikian pikirnya.

Sementara itu Ti-kong telah menyambung, “Semula Ong-pangcu masih waswas padamu, tapi kemudian demi melihat pelajaran silatmu maju sangat pesat, tingkah lakumu juga sangat mencocoki hatinya, terhadap dia kau pun sangat menghormat dan mengindahkan, maka lambat laun ia pun sayang padamu, lebih jauh sesudah engkau banyak berjasa, namamu tambah disegani baik di dalam maupun di luar Kay-pang, maka setiap orang tahu bahwa jabatan ketua Kay-pang selanjutnya pasti akan diserahkan padamu.

“Namun Ong-pangcu sendiri masih ragu, yaitu disebabkan engkau adalah keturunan Cidan. Beliau telah menguji tiga soal padamu dan semuanya dapat kau laksanakan dengan baik, habis itu dia mengharuskan pula padamu melakukan tujuh tugas besar yang lain, kemudian barulah dia menurunkan Pak-kau-pang-hoat (ilmu pentung penggebuk anjing) padamu.

“Pada tahun diadakan Thay-san-tay-hwe, engkau seorang diri telah mengalahkan delapan musuh Kay-pang yang paling tangguh hingga nama Kay-pang menjagoi dunia persilatan, maka tanpa ragu lagi akhirnya beliau mengangkat dirimu sebagai pengganti pangcu. Dan setahuku, selama beratus tahun ini, tiada seorang pangcu yang mendapatkan jabatannya dengan perjuangan sulit seperti engkau ini.”

“Aku hanya mengira Insu (guru berbudi) Ong-pangcu sengaja menggembleng diriku, setelah menghadapi berbagai kesulitan tentu aku akan lebih masak dalam menghadapi tugasku kelak, tapi ternyata ….” sampai di sini, sudah delapan bagian Kiau Hong percaya apa yang dikatakan Ti-kong tadi.

“Dan hanya sekian saja yang kutahu,” kata Ti-kong. “Setelah engkau menjabat pangcu, dari kabar yang kuperoleh di Kangouw, semua orang mengatakan engkau banyak melakukan amal kebaikan bagi rakyat dan negara, Kay-pang juga bertambah maju di bawah pimpinanmu, sudah tentu diam-diam aku bergirang bagimu.

“Apalagi kudengar beberapa kali engkau telah menggagalkan muslihat musuh dan membunuh beberapa jago Cidan, maka kekhawatiran kami semula tentang ‘memiara harimau mendatangkan bencana’ itu menjadi tiada beralasan lagi. Sebenarnya urusan dirimu ini tidak perlu diungkat lagi, tapi entah siapa yang telah menyiarkannya, hal ini rasanya takkan mendatangkan manfaat baik bagi Kiau-pangcu sendiri maupun bagi Kay-pang.”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: