Pendekar Kerajaan Tayli ~ Jilid 26

“Banyak terima kasih atas uraian Ti-kong Taysu sehingga kita semua dapat mengikuti duduknya perkara dari awal,” kata Ci-tianglo. Lalu ia unjuk surat yang dipegangnya tadi, “Dan surat ini adalah kiriman pendekar Toako Pemimpin itu kepada Ong-pangcu, isinya berusaha mencegah Ong-pangcu agar jangan mengangkat engkau sebagai gantinya. Nah, silakan baca sendiri, Kiau-pangcu.”

“Coba kulihat dulu, apakah surat itu asli atau bukan,” kata Ti-kong tiba-tiba sambil menerima surat itu dari tangan Ci-tianglo. Setelah membaca, katanya pula, “Ya, memang betul adalah tulisan tangan Toako Pemimpin.”

Sembari berkata, diam-diam ia gunakan jari tangan kiri untuk robek bagian yang ada tanda tangan penulis surat itu, lalu dimasukkan ke mulut terus ditelan.

Tatkala itu hari sudah gelap, di tengah hutan hanya remang-remang oleh cahaya bintang yang berkedip, waktu Ti-kong merobek surat itu ia pura-pura kurang jelas membacanya, maka surat itu diangkat ke atas, pada saat itulah ia robek ujung surat dan ditelan.

Sudah tentu Kiau Hong tidak menduga padri saleh itu bisa berbuat selicik itu, sambil membentak terus saja sebelah tangan menabok ke depan, dari jauh ia tepuk hiat-to padri itu, berbareng tangan lain hendak merebut surat itu. Namun tetap terlambat, sobekan kertas surat itu sudah masuk ke perut Ti-kong.

“Kau … kau berbuat apa?” bentak Kiau Hong dengan gusar, menyusul ia menabok pula untuk membuka hiat-to orang.

Ti-kong tersenyum, sahutnya, “Kiau-pangcu, jika engkau sudah mengetahui asal usul dirimu sendiri, tentu engkau akan membalas sakit hati ayah-bundamu. Karena Ong-pangcu sudah meninggal, dia tidak perlu dibicarakan lagi, tapi siapa Toako Pemimpin justru tidak boleh diketahui olehmu. Dahulu pernah kuikut serta menyerang kedua orang tuamu itu, maka segala dosa dan kesalahan biar aku menanggungnya, hendak kau bunuh atau digantung terserahlah padamu untuk melakukannya sekarang.”

Melihat sikap padri yang sungguh-sungguh itu, wajah tersenyum welas asih, meski berduka dan penasaran, mau tak mau Kiau Hong menaruh hormat juga padanya, maka katanya, “Hal ini benar atau tidak, saat ini aku sendiri belum yakin. Hendak membunuhmu juga tidak perlu terburu-buru pada saat demikian.”

Habis berkata, ia melirik sekejap pada Tio-ci-sun.

“Benar, termasuk juga aku,” kata Tio-ci-sun sambil mengangkat pundak seakan-akan menghadapi urusan sepele saja, “utang itu aku pun mempunyai bagian, kapan-kapan saja engkau suka, setiap saat engkau boleh turun tangan.”

“Kiau-pangcu,” seru Tam-poh tiba-tiba, “setiap tindakan harus dipikirkan masak-masak sebelumnya. Bila sampai menimbulkan persengketaan antarbangsa, maka setiap pahlawan di Tionggoan pasti akan memusuhimu.”

Kiau Hong hanya tertawa dingin, perasaannya sangat kusut, ia tidak tahu cara bagaimana harus menjawabnya.

Ia coba membaca surat, isinya sebagai berikut:

Saudaraku Kiam-yan.
Setelah pembicaraan selama beberapa hari, maksud mewariskan kedudukanmu ternyata tidak berubah. Setelah beberapa hari kupikirkan, aku pun tetap tidak menyetujui maksudmu itu. Kepandaian pemuda she Kiau itu memang lain daripada yang lain, jasanya juga sangat besar, berjiwa kesatria dan patriotik, bukan saja menjadi tokoh kebanggaan Kay-pang, bahkan setiap kawan persilatan sebangsa juga merasa kagum padanya. Dengan tokoh sehebat itu untuk menggantikan kedudukanmu, perkembangan Kay-pang kelak sudah dapat diduga pasti akan membubung ….

Membaca sampai di sini, Kiau Hong merasa cianpwe ini sangat menghargai dirinya, ia merasa sangat berterima kasih, ia membaca lagi:

Namun pertarungan sengit di luar Gan-bun-koan dahulu itu betapa menggetarkan sukma keadaan waktu itu, sampai kini sehari pun tidak pernah kulupakan. Anak itu bukan bangsa kita, ayah bundanya terbinasa di tangan kita. Takkan menjadi soal bila anak ini tidak tahu asal usul sendiri, tetapi bila kelak ia tahu, bukan saja Kay-pang akan musnah di tangannya, bahkan dunia persilatan di Tionggoan juga akan mengalami malapetaka. Orang yang berkepandaian setinggi anak ini pada zaman ini sesungguhnya dapat dihitung dengan jari.
Sebenarnya sebagai orang luar tidaklah pantas aku ikut campur urusan Kay-pang kalian, tapi hubungan kita lain daripada yang lain, urusan ini sangat luas pula akibatnya. Maka sebelum ambil keputusan, haraplah dipikirkan lebih masak lagi.

Tanda tangan penulis surat itu sudah tidak terbaca lagi karena telah dirobek oleh Ti-kong tadi.

Melihat Kiau Hong termangu-mangu setelah membaca surat itu, segera Ci-tianglo mengangsurkan sehelai surat yang lain, katanya, “Dan ini adalah tulisan Ong-pangcu, engkau tentu kenal tulisan tangannya.”

Setelah menerima surat itu, Kiau Hong melihat isinya adalah:

Kepada Be-hupangcu, Thoan-kong Tianglo, Cit-hoat Tianglo dan para tianglo yang lain untuk dilaksanakan.
Apabila Kiau Hong bertindak mengkhianati bangsa dan berhubungan dengan musuh, harus segera membunuhnya dan jangan ayal. Cara bagaimana pelaksanaannya terserah kepada kalian menurut keadaan, siapa yang melaksanakan tugas ini dia berjasa dan tidak bersalah.
Tertanda Ong Kiam-thong.

Surat wasiat itu tertanggal tujuh bulan lima tahun keenam Goan Hong. Kiau Hong coba menghitung, ternyata hari itu persis adalah hari dirinya diangkat menjadi Pangcu Kay-pang.

Kiau Hong kenal baik tulisan tangan gurunya yang berbudi itu, maka tentang asal usul dirinya kini tidak perlu disangsikan lagi. Terkenang dahulu betapa Insu mencintai diriku bagai putra sendiri, siapa tahu pada hari aku menjadi pangcu itu diam-diam beliau menulis juga secarik surat wasiat ini. Saking pilunya air mata lantas bercucuran dan menetes di atas surat wasiat tinggalan Ong-pangcu itu hingga basah seketika.

Dalam pada itu Ci-tianglo berkata pula, “Harap Pangcu jangan marah kepada kekurangajaran kami. Adapun surat wasiat Ong-pangcu ini sebenarnya cuma diketahui oleh Be-hupangcu seorang dan selama ini disimpannya dengan rapi, tidak pernah ia katakan kepada siapa pun. Selama beberapa tahun ini tindak tanduk Pangcu cukup bijaksana dan terpuji, sekali-kali tidak mungkin bersekongkol dengan musuh untuk menindas bangsa Han.

“Tentang pesan tinggalan Ong-pangcu ini sudah tentu tidak perlu dijalankan. Ketika Be-hupangcu mendadak tewas barulah surat wasiat ini diketemukan Be-hujin. Sebenarnya semua orang bercuriga Be-hupangcu dibunuh oleh Buyung-kongcu dari Koh-soh, bila Pangcu dapat membalaskan sakit hati Tay-goan, tentang asal usul Pangcu mestinya tidak perlu diumumkan pula, demi untuk kepentingan umum, kupikir surat wasiat Ong-pangcu ini sebaiknya dibakar saja. Tapi … tapi ….”

Sampai di sini ia berpaling ke arah Be-hujin, lalu melanjutkan, “Pertama Be-hujin tidak mungkin mengesampingkan sakit hati terbunuhnya Tay-goan tanpa membalas. Kedua, Kiau-pangcu sengaja melindungi bangsa lain, tindak tanduknya membahayakan kesatuan Kay-pang kita ….”

“Aku membela orang asing? Dari mana bisa dikatakan demikian?” tanya Kiau Hong bingung.

“Perkataan ‘Buyung’ adalah nama keluarga ‘asing’,” sahut Ci-tianglo. “Buyung-si adalah keturunan bangsa Sianbi, seperti bangsa Cidan, sama-sama merupakan bangsa asing di luar perbatasan.”

“O, kiranya begitu, aku benar-benar tidak tahu,” kata Kiau Hong.

“Dan ketiga, tentang Pangcu adalah keturunan Cidan, anggota kita sudah banyak yang tahu sekarang, kekacauan sudah terjadi, untuk menutupi juga tiada faedahnya,” kata Ci-tianglo akhirnya.

Tiba-tiba Kiau Hong menengadah sambil menarik napas panjang, tanda tanya yang sejak tadi mencekam hatinya baru sekarang terjawab semua. Lalu katanya kepada Coan Koan-jing, “Coan-thocu, jadi kau tahu aku ini keturunan Cidan, makanya memberontak, begitu bukan?”

“Benar,” jawab Koan-jing tegas.

“Dan sebabnya Song, Ge, Tan, dan Go berempat tianglo bersepakat melawan aku, apa juga disebabkan hal ini?” tanya Kiau Hong pula.

“Benar,” sahut Koan-jing. “Cuma mereka masih ragu dan belum berani bertindak, bahkan setiba waktunya, mereka ketakutan malah.”

“Tentang asal usul diriku, dari mana kau mendapat tahu?” desak Kiau Hong.

“Urusan ini menyangkut orang lain lagi, maafkan tak dapat kuberi tahu,” sahut Koan-jing. “Maklum, kertas tak dapat membungkus api, betapa pun engkau merahasiakannya, akhirnya pasti juga akan ketahuan.”

Sesaat itu pikiran Kiau Hong bergolak hebat, sebentar ia berpendapat, “Tentu mereka iri pada kedudukanku, maka sengaja mengarang berbagai dongengan untuk memfitnah diriku. Sekalipun aku seorang diri juga harus melawan sampai detik penghabisan, tidak boleh menyerah.”

Tapi lain saat terpikir pula, “Namun tulisan tangan Insu itu tidak mungkin dipalsukan. Ti-kong Taysu juga seorang padri berilmu, selamanya tiada dendam permusuhan apa-apa denganku, guna apa dia ikut mengatur tipu muslihat ini? Sedang Ci-tianglo adalah tokoh yang paling tua, mana mungkin dia merencanakan pengacauan pada pang sendiri. Begitu pula Tiat-bin-poan-koan Tan Cing, suami-istri Tam-si dan lain-lain adalah tokoh-tokoh Bu-lim yang terhormat, Tio-ci-sun ini meski angin-anginan, tapi juga bukan sembarangan orang, bila mereka pun bersatu pendapat, masakah hal ini perlu disangsikan pula?”

Di lain pihak, demi mendengar ucapan Ci-tianglo tadi, para anggota Kay-pang juga merasa bingung. Biasanya Kiau Hong sangat berbudi kepada bawahannya, baik ilmu silatnya maupun tindak tanduknya sangat dikagumi mereka. Siapa duga sang pangcu justru adalah keturunan Cidan.

Padahal permusuhan kerajaan Song dengan Cidan semakin hebat, selama bertahun-tahun anggota Kay-pang yang menjadi korban keganasan musuh itu entah berapa jumlahnya, kini Kay-pang dikepalai seorang keturunan musuh, hal ini benar-benar tak dapat dipercaya oleh siapa pun dan dengan sendirinya tidak boleh terjadi.

Tapi bicara memecat Kiau Hong keluar Kay-pang secara terang-terangan, ternyata tiada seorang pun yang sanggup buka suara.

Seketika itu suasana di tengah hutan menjadi hening, yang terdengar cuma suara napas orang yang tertekan.

Tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan yang nyaring menggema, “Para paman dan hadirin sekalian, sungguh malang suamiku telah tewas, sebenarnya siapakah pembunuhnya, sampai saat ini masih sukar dikatakan. Tapi mengingat masa hidupnya tindak tanduk suamiku cukup jujur dan prihatin, rasanya tidak pernah bermusuhan dengan siapa-siapa, maka sesungguhnya aku tidak mengerti siapakah gerangan yang begitu tega mengambil jiwanya. Aku khawatir jangan-jangan pada diri suamiku terdapat sesuatu yang mahapenting dan ingin diperoleh orang lain. Bukan mustahil orang lain khawatir suamiku akan membongkar rahasianya dengan bukti yang berada padanya itu, maka suamiku harus dibunuh olehnya untuk menghilangkan saksi hidup.”

Yang bicara ini ternyata Be-hujin adanya, nyonya janda Be Tay-goan.

Ucapannya cukup jelas, secara langsung ia telah menuduh Kiau Hong adalah pembunuh Be Tay-goan dan tujuan pembunuhan itu adalah untuk menghilangkan bukti-bukti tentang Kiau Hong adalah keturunan Cidan.

Perlahan Kiau Hong berpaling, ia menatap tajam wanita yang berperawakan kecil dan lemah gemulai dengan pakaian berkabung itu, katanya, “Jadi engkau mencurigai aku sebagai pembunuh Be-hupangcu?”

Be-hujin sejak tadi berdiri mungkur dengan menunduk, kini mendadak mengangkat kepalanya dan memandang Kiau Hong. Tertampak biji matanya yang bening bersinar bagai batu permata berkelip di malam gelap. Hati Kiau Hong tergetar.

“Aku hanya seorang perempuan yang tidak tahu apa-apa,” demikian Be-hujin berkata pula, “sebenarnya tidak pantas tampil di depan umum seperti ini, apalagi kalau secara serampangan menuduh kesalahan orang. Cuma kematian suamiku sesungguhnya terlalu penasaran, maka dengan sangat kumohon bantuan para paman sudilah mengingat sesama saudara sendiri, sukalah menyelidiki duduk perkara yang sebenarnya untuk membalas sakit hati suamiku itu.”

Sembari berkata, terus saja ia berlutut dan ternyata Kiau Hong yang disembah olehnya.

Selama hidup Kiau Hong suka mengalah kepada kehalusan dan pantang mundur terhadap kekerasan. Maka terhadap tindakan Be-hujin itu, ia menjadi tak berdaya.

Nyonya janda itu tidak mengucapkan sesuatu kalimat yang mengatakan Kiau Hong adalah pembunuhnya, tapi setiap kalimat ditujukan kepadanya. Kini nyonya muda itu menyembah pula kepadanya, biarpun gusar di dalam hati, namun tidak dapat ia umbar lagi. Terpaksa ia balas hormat dan berkata, “Harap Enso suka bangunlah!”

“Be-hujin,” tiba-tiba suara seorang wanita lain berseru di pojok kiri sana, “ada suatu soal yang kusangsikan, apakah boleh kutanya?”

Waktu semua orang memandang ke arah suara itu, kiranya pembicara adalah seorang gadis jelita berbaju hijau pupus, itulah Ong Giok-yan adanya.

“Soal apakah yang hendak nona tanyakan padaku?” sahut Be-hujin.

“Tadi kudengar Hujin bilang surat wasiat Be-cianpwe itu masih tertutup rapat dengan segel, begitu pula waktu surat itu dibuka Ci-tianglo segalanya juga masih baik-baik. Jika begitu, pada sebelum Ci-tianglo membuka surat itu, seharusnya tiada seorang pun yang pernah membaca surat itu, bukan?” demikian tanya Giok-yan.

“Ya, benar,” sahut Be-hujin.

“Jika begitu, surat wasiat Ong-pangcu dan surat pendekar pemimpin itu kecuali Be-cianpwe sendiri, orang lain kan tiada yang tahu. Maka tuduhan Hujin tadi bahwa ada orang ingin membunuh suamimu untuk menghilangkan bukti, terang tidak masuk di akal,” ujar Giok-yan.

“Siapakah nona? Mengapa ikut campur urusan dalam Kay-pang kami?” tanya Be-hujin dengan aseran.

“Urusan dalam Kay-pang kalian dengan sendirinya tidak boleh kuikut campur,” sahut Giok-yan. “Tapi kalian hendak memfitnah Piaukoku, hal ini tidak boleh jadi.”

“Siapakah Piauko nona? Apakah Kiau-pangcu?” tanya Be-hujin.

“Bukan,” sahut Giok-yan dengan tersenyum sambil menggeleng kepala, “tapi Buyung-kongcu.”

“O, kiranya begitu,” kata Be-hujin, dan ia pun tidak urus Giok-yan lagi melainkan terus berpaling kepada Cit-hoat Tianglo dan berkata, “Pek-tianglo, menurut undang-undang pang kita, bila umpamanya tianglo melanggar peraturan organisasi, bagaimana kiranya harus ditindak?”

“Tahu aturan tapi melanggarnya sendiri, hukumannya ditambah sekali lebih berat,” sahut Cit-hoat Tianglo tegas.

“Tapi bila kedudukan pelanggar itu lebih tinggi daripada tianglo, lantas bagaimana?” desak Be-hujin.

Pek Si-kia tahu ke mana kata-kata itu hendak ditujukan, maka tanpa terasa ia memandang sekejap ke arah Kiau Hong, lalu jawabnya, “Undang-undang pang kita ditetapkan sejak leluhur kita dan tidak memedulikan tinggi-rendahnya kedudukan si pelanggar, barang siapa berdosa dia harus dihukum, sama berjasa, sama hukuman, selamanya tidak pandang bulu.”

“Baiklah jika begitu,” ujar Be-hujin. “Tentang kecurigaan nona itu memang beralasan, semula aku pun berpikir begitu. Tapi sehari sebelum kuterima berita kematian suamiku, tiba-tiba rumahku digerayangi orang pada malam harinya.”

Semua orang terkejut oleh cerita itu, tanya mereka beramai-ramai, “Digerayangi orang? Adakah sesuatu yang dicuri? Melukai orang atau tidak?”

“Tiada seorang pun yang dilukai,” sahut Be-hujin. “Maling itu telah memakai dupa penidur untuk membius diriku bersama dua orang pelayanku. Lalu isi rumahku diubrak-abrik dan kecurian belasan tahil perak. Esok paginya lantas kuterima berita duka tentang tewasnya suamiku, dengan sendirinya aku tiada waktu untuk mengurusi peristiwa pencurian itu. Untunglah sebelumnya suamiku telah menyimpan surat wasiat itu di tempat yang sangat dirahasiakan sehingga tidak sampai diketemukan dan dimusnahkan si pencuri.”

Jelas sekali uraian Be-hujin ini hendak menuduh Kiau Hong sendiri atau paling tidak telah mengirim orang ke rumah Be Tay-goan untuk mencuri dokumen penting itu. Dan kalau berani mengincar surat wasiat itu dengan sendirinya sebelumnya tentu sudah tahu isi surat itu. Maka tuduhannya tentang membunuh orang untuk menghilangkan bukti boleh dikatakan cukup beralasan.

Tujuan Giok-yan adalah membela nama baik Buyung Hok dan tidak ingin Kiau Hong tersangkut di dalamnya, maka segera ia menyela pula, “Kalau kemalingan sedikit barang atau uang juga kejadian yang biasa saja, cuma secara kebetulan terjadi berbarengan dengan soal lain, kenapa mesti diributkan?”

“Perkataan nona memang benar, semula aku pun berpikir demikian,” sahut Be-hujin. “Tapi kemudian di bawah jendela tempat maling itu masuk-keluar telah kutemukan sesuatu benda, rupanya tinggalan maling itu dalam keadaan tergesa-gesa. Dan begitu melihat benda itu, aku kaget dan tahu urusannya tidaklah sembarangan urusan.”

“Barang apakah itu? Mengapa bukan sembarangan urusan?” tanya Song-tianglo.

Perlahan Be-hujin mengeluarkan sesuatu benda dari dalam bungkusan, benda itu sepanjang belasan senti, ia serahkan kepada Ci-tianglo dan berkata, “Mohon para paman suka memberi keadilan!”

Habis menyerahkan benda itu kepada Ci-tianglo ia mendeprok ke tanah dan menangis dengan sedih.

Waktu semua orang memandang ke arah Ci-tianglo, orang tua itu sedang membuka benda itu dengan perlahan, kiranya adalah sebuah kipas lempit. Dengan suara tertahan Ci-tianglo lantas membacakan syair di atas kipas yang penuh semangat pahlawan itu.

Sungguh kejut Kiau Hong tidak kepalang demi mendengar syair itu. Waktu ia perhatikan, ia lihat di balik kipas itu terlukis gambar seorang pahlawan sedang menyerbu keluar perbatasan untuk membunuh musuh. Terang kipas itu adalah miliknya sendiri, syair itu ditulis oleh gurunya yang berbudi, Ong Kiam-thong, dan lukisan itu adalah buah tangan Ci-tianglo malah. Kipas itu biasanya sangat disayangnya dan disimpannya dengan baik-baik, mengapa kini bisa jatuh di rumah Be Tay-goan?

Ketika Ci-tianglo membalik kipas itu dan melihat lukisan karya sendiri, ia menghela napas panjang dan bergumam, “Bukan bangsa sendiri, tentu pikirannya berbeda. Wahai, Ong-pangcu, engkau benar-benar salah besar dalam urusan ini!”

Mendadak mengetahui asal usul sendiri adalah keturunan Cidan, hati Kiau Hong menjadi cemas tak keruan. Padahal selama belasan tahun ini setiap hari yang dipikir olehnya hanya cara bagaimana agar dapat membasmi musuh dan lebih banyak membunuh kaum penjajah, sekalipun biasanya ia sangat tenang, mau tak mau ia menjadi bingung juga.

Tapi sesudah kipas lempit itu dikeluarkan dan Be-hujin menuduh dirinya adalah pembunuh Be Tay-goan, hal ini malah membuat hati Kiau Hong lebih tenang, sesaat itu terkilas sesuatu pikiran bahwa ada orang telah mencuri kipas lempitnya itu untuk memfitnah dirinya, hal ini betapa pun takkan berhasil. Maka tanpa ditanya segera ia berkata, “Ci-tianglo, kipas ini adalah milikku!”

Orang Kay-pang yang berkedudukan sedikit tinggi sama tahu bahwa kipas itu adalah milik sang pangcu, hanya sebagian anak buah Kay-pang rendahan yang tidak mengetahui hal itu, maka mereka sama terkesiap demi mendengar pengakuan Kiau Hong itu.

Perasaan Ci-tianglo sendiri pun sangat terguncang, ia bergumam, “Dalam segala urusan Ong-pangcu selalu menganggap aku sebagai orang kepercayaannya, tapi urusan ini ternyata tidak diberitahukan padaku.”

“Ci-tianglo, sebabnya Ong-pangcu tidak memberitahukan padamu adalah demi kebaikanmu sendiri,” tiba-tiba Be-hujin berkata.

“Apa? Demi kebaikanku?” Ci-tianglo menegas.

“Ya, buktinya Tay-goan, hanya dia yang tahu urusan ini dan dia pun tertimpa bencana, maka … maka bila engkau juga tahu, pasti juga takkan terhindar dari malapetaka,” ujar Be-hujin dengan sedih.

“Sekarang apa lagi yang akan kalian katakan?” tiba-tiba Kiau Hong berseru dengan lantang, sinar matanya menatap tajam dimulai dari Be-hujin terus Ci-tianglo, Pek Si-kia, Thoan-kong Tianglo dan lain-lain. Tapi tiada seorang pun berani buka suara lagi, semuanya diam.

Setelah menunggu sampai sekian lama tetap tiada jawaban seorang pun, Kiau Hong lantas berkata pula, “Tentang asal usulku sungguh harus disesalkan karena aku sendiri pun belum tahu dengan pasti. Tapi karena sekian banyak kaum cianpwe berani menjadi saksi, betapa pun aku tidak berani sembarangan menyangkal. Maka jabatanku sebagai Pangcu Kay-pang ini sepantasnya aku harus mengundurkan diri.”

Sembari berkata ia mengeluarkan sebatang pentung bambu hijau mengilat. Itulah Pak-kau-pang atau pentung penggebuk anjing, tanda pengenal pangcu yang sangat diagungkan anggota Kay-pang.

Kedua tangan Kiau Hong angkat tinggi-tinggi pentung bambu itu dan berseru, “Pentung ini kuterima dari Ong-pangcu, selama ini meski aku tiada berjasa apa-apa bagi Kay-pang, namun syukur juga tidak pernah berbuat sesuatu kesalahan besar. Hari ini aku meletakkan jabatan, siapakah di antara para saudara yang bijaksana mau menerima tanggung jawab jabatanku ini, silakan maju menerima pentung ini.”

Menurut peraturan Kay-pang, tatkala pangcu baru menerima jabatan harus dilakukan upacara penyerahan Pak-kau-pang dari pangcu lama. Upacara ini tidak dilakukan kalau pangcu lama meninggal dunia.

Padahal Kiau Hong sekarang masih muda, ilmu silatnya dapat dibanggakan, betapa pun tiada orang kedua di dalam Kay-pang yang dapat memadainya. Sejak dia menjadi pangcu, biarpun ada juga oknum-oknum yang memusuhinya, tapi tiada seorang pun berani mengincar jabatan pangcu. Apalagi sekarang Kiau Hong berdiri gagah perkasa di situ, siapa yang berani maju mencalonkan diri untuk menerima pentung bambu itu?

Setelah tanya tiga kali dan tetap tiada seorang pun yang menyahut, lalu Kiau Hong berkata lagi, “Karena asal usulku masih belum terang, maka jabatan pangcu ini betapa pun tidak berani kupegang lagi. Ci-tianglo, Thoan-kong dan Cit-hoat Tianglo, Pak-kau-pang yang merupakan pusaka utama Kay-pang kita ini silakan kalian bertiga menjaganya bersama. Kelak bila pangcu baru sudah ditetapkan, bolehlah kalian menyerahkan pentung ini kepadanya.”

“Benar juga ucapanmu,” sahut Ci-tianglo terus hendak menerima pentung bambu keramat itu.

“Nanti dulu!” mendadak Song-tianglo membentak.

Ci-tianglo tertegun dan urung menerima pentung itu, tanyanya, “Apa yang hendak Song-hiante katakan?”

“Menurut penglihatanku, Kiau-pangcu bukan bangsa Cidan,” ujar Song-tianglo.

“Dari mana kau tahu?” tanya Ci-tianglo.

“Kulihat dia tidak mirip,” sahut Song-tianglo.

“Mengapa tidak mirip,” desak Ci-tianglo.

“Umumnya bangsa Cidan sangat kejam dan ganas, sebaliknya Kiau-pangcu seorang kesatria yang berbudi luhur,” sahut Song-tianglo. “Tadi kami telah memberontak padanya, tapi ia rela mengorbankan dirinya demi keselamatan kami dan mengampuni dosa kami. Kalau bangsa Cidan, tidak mungkin mau berbuat demikian.”

“Sejak kecil ia telah mendapat didikan Ong-pangcu, dengan sendirinya watak aslinya sebagai bangsa Cidan yang jahat telah berubah,” ujar Ci-tianglo.

“Jika wataknya sudah berubah, itu berarti bukan orang jahat lagi, kalau dia menjadi pangcu kita, masa kurang pantas?” debat Song-tianglo. “Menurut pendapatku tiada seorang pun di antara kita yang dapat memadai kejantanan dan kebesaran jiwanya. Kalau ada orang lain ingin menjadi pangcu, akulah orang she Song yang pertama-tama akan membangkang.”

Sebenarnya banyak juga di antara anggota Kay-pang yang mempunyai pikiran sama dengan Song-tianglo. Karena itu, segera terdengarlah suara ramai yang menyokong pendapat Song-tianglo itu. Beramai-ramai mereka berseru, “Bukan mustahil ada orang hendak memfitnah Kiau-pangcu, kita jangan mudah memercayai omongan orang!”

“Ya, urusan yang sudah terjadi puluhan tahun yang lalu, siapa yang mau percaya?”

“Jabatan pangcu yang penting ini tidak boleh sembarangan diganti!”

“Aku sudah bertekad bulat berdiri di belakang Kiau-pangcu, orang lain yang menjadi pangcu, aku tidak mau terima.”

“Ayo, siapa yang ingin ikut Kiau-pangcu, silakan berdiri di sisiku sini,” seru Ge-tianglo tiba-tiba. Dengan tangan kiri ia tarik Song-tianglo dan tangan kanan menyeret Ge-tianglo serentak mereka menyisih ke sebelah timur.

Menyusul Tay-jin-hun-tho dan Tay-gi-hun-tho, ketiga thocu itu pun menyusul ke sisi timur. Dan karena ketiga thocu itu sudah memberi contoh, dengan sendirinya anak buah ketiga Tho itu pun ikut berdiri ke sisi timur.

Sebaliknya Coan Koan-jing, Tan-tianglo, Thoan-kong Tianglo dan para Thocu Tay-ti dan Tay-sin-hun-tho masih tetap berdiri di tempat semula.

Dengan demikian anggota Kay-pang sekarang jadi terpecah belah dan terbagi menjadi dua pihak, yang berdiri di sisi timur kira-kira ada separuh, sebaliknya yang tetap berdiri di tempat semula ada tiga bagian, sisanya masih ragu entah mesti ikut pihak mana? Cit-hoat Tianglo biasanya sangat tegas dalam tindak tanduknya, tapi menghadapi persoalan pelik mau tak mau ia jadi ragu juga.

“Para saudara,” demikian Coan Koan-jing buka suara, “memang benar Kiau-pangcu adalah seorang kesatria, seorang pintar dan perkasa, siapa pun tentu kagum padanya. Namun kita adalah rakyat kerajaan Song, mana boleh tunduk di bawah perintah seorang Cidan? Justru semakin besar kepandaian Kiau Hong, semakin berbahaya pula bagi kita.”

“Kentut, kentut makmu!” segera Ge-tianglo memaki. “Kulihat tampangmu justru lebih mirip orang Cidan!”

Namun Coan Koan-jing tidak menggubrisnya, serunya pula, “Kita semua adalah pahlawan berjiwa patriot, masakah terima diperbudak oleh bangsa asing!”

Perkataan Coan Koan-jing ini ternyata sangat besar pengaruhnya, seketika ada belasan orang yang tadinya ikut berdiri ke sisi timur segera kembali ke sisi barat.

Karena itu anggota Kay-pang di sisi timur itu menjadi geger, ada yang memaki dan ada yang main tarik, keadaan menjadi kacau, seketika terjadilah pertarungan serabutan di antara berpuluh orang itu.

Para tianglo cepat membentak hendak menguasai keadaan, tapi masing-masing tetap membela anak buah sendiri-sendiri. Go-tianglo dan Tan-tianglo juga saling memaki dan tampaknya akan terjadi juga pertarungan sengit.

Syukur pada saat genting itulah Kiau Hong berseru keras-keras, “Harap berhenti, saudara-saudara, dengarkan perkataanku!”

Suaranya keras dan berwibawa membuat para anggota Kay-pang sama melengak, mereka berhenti serentak dan menoleh memandang Kiau Hong.

“Tentang jabatan pangcu ini, sudah pasti akan kutinggalkan ….”

Belum selesai ucapan Kiau Hong itu, mendadak Song-tianglo menyela, “Pangcu, engkau jangan putus asa ….”

“Aku tidak putus asa,” sahut Kiau Hong sambil menggeleng. “Urusan lain mungkin aku bisa difitnah, tapi bukti-bukti tulisan tangan guruku Ong-pangcu yang berbudi itu tidak mungkin dapat dipalsukan orang lain.”

Lalu ia perkeras suaranya dan menyambung, “Kay-pang adalah pang terbesar di kalangan Kangouw, namanya berkumandang ke segenap pelosok jagat ini, siapa orang Bu-lim yang tidak merasa kagum padanya? Bila sekarang terjadi saling membunuh, apakah takkan dibuat tertawaan orang? Maka sebelum aku pergi, ada sesuatu yang ingin kukatakan pada kalian, barang siapa saling berhantam di antara sesama saudara pang kita, maka dia itulah yang berdosa terbesar kepada pang kita.”

Dasar persaudaraan anggota Kay-pang memang paling mengutamakan keluhuran budi antarkawan. Maka mereka menjadi malu sendiri demi mendengar ucapan Kiau Hong itu.

“Dan bagaimana kalau ada yang membunuh saudara sesama pang kita?” tiba-tiba suara seorang wanita bertanya. Ia bukan lain adalah Be-hujin.

“Membunuh orang harus ganti nyawa, lebih-lebih membunuh sesama saudara pang, ia harus dikutuk habis-habisan,” sahut Kiau Hong tanpa ragu.

“Baiklah jika begitu,” ujar Be-hujin.

“Orang she Kiau ini selamanya suka blakblakan, selama hidup tidak pernah ada sesuatu rahasia bagi orang lain,” seru Kiau Hong pula. “Tentang tewasnya Be-hupangcu sebenarnya siapakah pembunuhnya, dan siapakah yang telah mencuri kipasku untuk memfitnah diriku, pada akhirnya kelak pasti akan kubikin terang urusan ini. Be-hujin, dengan kepandaianku orang she Kiau ini, kalau ingin mengambil sesuatu benda ke tempat tinggalmu, rasanya tidak sampai kembali dengan tangan hampa, lebih-lebih tidak mungkin kehilangan sesuatu barang sendiri. Jangankan kediamanmu cuma tinggal dua-tiga orang kaum wanita, sekalipun di tengah istana keraton atau di markas besar panglima jenderal, kalau orang she Kiau ini ingin mengincar sesuatu barang, rasanya dengan mudah juga akan dapat diperoleh.”

Ucapan Kiau Hong ini sangat perkasa dan bangga, namun para anggota Kay-pang cukup kenal betapa tinggi kepandaiannya, mereka merasa apa yang dikatakan itu memang beralasan dan bukan bualan belaka. Begitu pula Be-hujin lantas menunduk juga dan tidak berani buka suara lagi.

Lalu Kiau Hong memberi hormat kepada semua orang sekeliling, katanya pula, “Gunung tetap menghijau, sungai tetap mengalir, para saudara-saudara, selamat tinggal, sampai berjumpa pula kelak. Baiklah apakah aku orang she Kiau ini bangsa Han maupun bangsa Cidan, pendek kata selama hidupku ini pasti tidak akan mencelakai jiwa seorang pun bangsa Han, apabila melanggar sumpah ini, biarlah seperti golok ini.”

Habis berkata, mendadak tangan kirinya menjulur cepat ke arah Tan Cing. Seketika Tan Cing merasa tangannya bergetar, golok yang terpegang di tangannya tak tertahan lagi, sedikit kendur cekalannya, golok itu tahu-tahu sudah berpindah ke tangan Kiau Hong.

Ketika jari Kiau Hong menjelentik sekali ke batang golok itu, “trang”, kontan golok itu patah menjadi dua, bagian ujung golok terpental beberapa meter jauhnya, sedangkan tangkai golok masih terpegang di tangan Kiau Hong.

“Maaf!” katanya kepada Tan Cing sambil membuang tangkai golok itu dan bertindak pergi dengan cepat.

Di tengah rasa kaget para anggota Kay-pang yang sedang saling pandang dengan bingung itu, menyusul lantas ada orang berseru, “He, jangan pergi, Pangcu!” – “Kembalilah Pangcu, Kay-pang kita masih membutuhkan pimpinanmu!”

Tiba-tiba terdengar suara mendesir keras, dari udara tampak jatuh sebatang pentung bambu, itulah Pak-kau-pang yang ditimpukkan kembali oleh Kiau Hong dari jauh.

Cepat Ci-tianglo ulur tangan hendak menangkap pentung itu, tapi baru saja tangan menyentuh pentung bambu sekonyong-konyong terasa lengan hingga bahu dan seluruh tubuh tergetar seakan-akan kena aliran listrik. Lekas-lekas ia lepas tangan, begitu keras sambaran pentung itu hingga menancap tegak di tanah.

Para pengemis itu berseru kaget, seketika pikiran mereka pun bimbang demi melihat pentung simbol pangcu mereka itu.

“Toako, tunggu, aku ikut!” seru Toan Ki mendadak. Mestinya ia bermaksud menyusul Kiau Hong, tapi baru dua-tiga langkah, betapa pun ia merasa berat meninggalkan Ong Giok-yan, tanpa merasa, ia menoleh.

Dan sekali pandang itulah tidak dapat lagi ia tinggal pergi. Otomatis timbul semacam rasa ikatan yang erat, segera ia putar kembali ke hadapan Giok-yan dan berkata, “Nona Ong, sekarang kalian hendak ke mana?”

“Piauko telah difitnah orang, boleh jadi ia sendiri masih belum tahu, maka aku harus pergi memberitahukan kepadanya,” sahut si gadis.

Kecut rasa hati Toan Ki oleh jawaban itu, namun katanya juga, “Tapi kalian bertiga adalah nona muda belia, di tengah perjalanan tentu kurang bebas, biarlah aku mengantar kalian ke sana.”

Dan segera ia menambahkan lagi sebagai penjelasan, “Aku pun sudah sering mendengar nama kebesaran Buyung-kongcu, sesungguhnya aku memang ingin sekali berkenalan dengan dia.”

Dalam pada itu terdengar Ci-tianglo telah berkata kepada para pengemis, “Cara bagaimana kita harus menuntut balas bagi Be-hupangcu, biarlah kita nanti rundingkan secara saksama. Sekarang pang kita tidak boleh tanpa pimpinan, sesudah Kiau … Kiau Hong pergi, pengganti jabatan pangcu ini adalah urusan mahapenting yang tidak boleh ditunda. Mumpung kita telah berkumpul semua di sini, marilah kita lantas merundingkannya segera.”

Segera Song-tianglo menanggapi, “Menurut pendapatku, marilah kita mencari kembali Kiau-pangcu dan mohon dia suka berpikir panjang dan membatalkan maksudnya mengundurkan diri ….”

Belum habis ucapannya, kontan di sebelah sana ada yang menyela, “Kiau Hong adalah bangsa Cidan, mana boleh dia menjadi pemimpin kita? Hari ini kita mengingat baik hubungan selama ini, lain kali kalau bertemu lagi berarti ia musuh kita, harus kita adu jiwa dengan dia.”

“Hm, masa kau ada harganya buat mengadu jiwa dengan Kiau-pangcu?” jengek Song-tianglo.

“Aku sendiri tentu tak mampu melawannya,” sahut orang itu dengan gusar, “tapi apakah kita cuma satu orang, kita dapat maju sepuluh orang sekaligus, sepuluh orang tidak cukup, maju serentak seratus orang. Kay-pang kita selamanya siap berjuang bagi nusa dan bangsa, masakah jeri kepada seorang musuh?”

Karena ucapan yang gagah bersemangat ini, seketika banyak anggota Kay-pang bersorak memuji.

Belum lenyap suara sorakan itu, tiba-tiba terdengar suara seorang yang seram tajam berkata di arah barat-laut sana, “Kay-pang telah berjanji dengan orang untuk bertemu di Hui-san, tapi ingkar janji, tahu-tahu main sembunyi di sini seperti kura-kura! Hehe, sungguh menggelikan!”

Suara itu tajam menusuk telinga, tapi lafal kata-katanya tidak tepat, seperti suara orang pilek atau bindeng hingga kedengarannya tidak menyedapkan.

Mendengar teguran suara itu, seketika berserulah Cio-thocu dari Tay-gi-hun-tho dan Pui-thocu dari Tay-yong-hun-tho, “Haya, Ci-tianglo, memang kita telah ingkar janji dengan orang, maka sekarang musuh telah mencari kemari:”

Segera Toan Ki teringat juga waktu bertemu dengan Kiau Hong siang tadi, mendengar anak buah Kay-pang melapor kepada sang toako bahwa mereka telah berjanji untuk bertemu dengan orang di atas Hui-san tengah malam ini. Kini rembulan telah mendoyong ke barat, terang sudah jauh lewat tengah malam.

Anggota Kay-pang sendiri sebagian besar tidak tahu adanya perjanjian itu, andaikan tahu juga mereka lebih mementingkan peristiwa penting dalam pang sendiri dan menyampingkan urusan perjanjian dengan orang itu. Kini demi mendengar olok-olok pihak lawan baru mendadak mereka sadar telah ingkar janji.

Segera Ci-tianglo bertanya, “Janji pertemuan apa? Siapakah lawan?”

Ia sendiri memang sudah lama tidak ikut campur urusan organisasi, maka sama sekali tidak mengetahui apa-apa.

“Apakah Kiau-pangcu yang berjanji akan bertemu dengan orang?” Cit-hoat Tianglo coba tanya Cio-thocu dengan suara tertahan.

“Ya, cuma tadi Kiau-pangcu sudah mengirim utusan ke Hui-san untuk minta kepada pihak lawan agar menunda perjanjian ini sampai tujuh hari lagi,” tutur Cio-thocu.

Rupanya orang yang bersuara melengking tadi pun sangat tajam telinganya, meski ucapan Cio-thocu itu sangat perlahan, namun dapat didengarnya juga, segera berkata pula, “Sekali sudah berjanji, masakah pakai tunda segala? Biarpun tunda satu jam juga tidak boleh.”

“Hm, Kay-pang adalah organisasi terkemuka, masakah takut kepada bangsa asing Se He seperti kalian ini?” sahut Pek Si-kia dengan gusar. “Soalnya kami sendiri urusan penting di dalam pang hingga tiada tempo untuk menggubris pada kaum keroco seperti kalian ini. Tentang menunda perjanjian adalah urusan biasa, kenapa mesti diributkan?”

“Bluk”, mendadak dari balik pohon sana melayang keluar seorang dan terbanting di tanah tanpa berkutik. Waktu Pek Si-kia memerhatikan, ia lihat muka orang sudah hancur tak keruan, leher sudah putus tergorok, nyata sudah mati agak lama, segera ia pun dapat mengenali korban itu adalah wakil Thocu Tay-sin-hun-tho.

Keruan Cio-thocu terkejut dan gusar, serunya, “Cia-hengte inilah yang diutus oleh Kiau-pangcu untuk menyampaikan berita penundaan pertemuan dengan musuh itu.”

“Ci-tianglo,” kata Cit-hoat Tianglo Pek Si-kia, “Pangcu tidak ada, harap engkau suka bertindak sementara sebagai pimpinan.”

Ia tidak ingin musuh mengetahui Kay-pang sedang menghadapi krisis, agar tidak diremehkan oleh musuh.

Ci-tianglo dapat memahami maksud Pek Si-kia itu, ia pikir kalau dirinya tidak tampil ke muka, memang tiada orang kedua lagi yang cocok untuk memegang pimpinan. Maka dengan suara lantang ia berseru, “Menurut kelaziman pertengkaran di antara kedua negara, tidak boleh membunuh utusan pihak lawan. Mengapa pihak kalian membunuh utusan yang menyampaikan berita penundaan perjanjian ini?

“Sikap orangmu ini terlalu angkuh, kata-katanya tidak sopan, di hadapan Ciangkun kami juga tidak mau berlutut, kalau tidak dibunuh, mau diapakan?” sahut suara seram melengking itu.

Kata-kata ini seketika menimbulkan rasa gusar anggota Kay-pang, beramai-ramai mereka lantas mencaci maki keganasan musuh.

Ci-tianglo masih belum tahu macam apakah musuh, tadi didengarnya Pek Si-kia bilang musuh itu bangsa Se He, sedang orang itu mengatakan “ciangkun” (jenderal) segala, hal ini semakin membingungkannya. Maka ia berkata pula, “Mengapa kau main sembunyi-sembunyi, kenapa tidak terang-terangan unjuk diri saja? Hm, ngaco-belo, jangan coba omong besar di sini!”

Tiba-tiba orang itu terbahak-bahak, laku berkata, “Ciangkun, sekarang silakan keluarlah!”

Sekonyong-konyong terdengar suara trompet berbunyi di tempat jauh, menyusul lamat-lamat terdengar suara tindakan orang banyak dari tempat beberapa li jauhnya.

“Mereka itu orang macam apakah? Mengenai urusan apa mereka memusuhi kita?” demikian Ci-tianglo tanya Si-kia dengan bisik-bisik.

“Mereka itu bangsa Se He,” sahut Pek Si-kia dengan perlahan, “di negeri mereka telah didirikan suatu lembaga persilatan yang disebut ‘It-bin-tong’ (ruang kelas satu), konon pendirinya adalah maharaja mereka untuk mengundang jago-jago silat dari segenap pelosok, mereka yang memenuhi undangan akan diberi gaji besar dan mendapat kedudukan terhormat, kewajiban mereka hanya mengajar ilmu silat kepada perwira negeri Se He.”

“Ehm, negeri Se He selama ini memupuk kekuatan dan pergiat latihan silat, tujuannya bukankah akan mengganggu kerajaan Song kita?” ujar Ci-tianglo.

“Memang begitulah tujuan mereka,” sahut Pek Si-kia mengangguk. “Setiap orang yang dapat memasuki ‘It-bin-tong’ itu, katanya ilmu silatnya pasti golongan kelas satu. Ketua It-bin-tong itu konon seorang ongya (pangeran) dengan pangkat Ceng-tang-tay-ciangkun (jenderal besar penggempur ke timur), namanya Helian Tiat-si. Paling akhir ini dia pimpin jago-jagonya itu dan diutus ke kota raja kita untuk menemui Hongsiang dan ibu suri. Padahal maksud yang sesungguhnya adalah untuk memata-matai kekuatan negeri kita.

“Di kota raja, Helian Tiat-si telah pamer kekuatan dan bersikap sombong, ia menantang agar perwira kerajaan Song kita coba-coba bertanding dengan jago-jago yang dia bawa. Kita tahu tiada seorang jago kelas tinggi di antara perwira pasukan kita itu, dengan sendirinya tidak mungkin diajukan sebagai jago aduan. Untunglah So Tong-po, So-haksu telah mengusulkan suatu akal kepada ibu suri agar tantangan orang Se He yang kurang ajar itu dilakukan pada tahun depan di kota raja kita.”

“Ehm, akal ulur tempo yang bagus,” ujar Ci-tianglo perlahan, “selama setahun ini kita dapat mengundang jago-jago silat dari seluruh negeri untuk menghadapi musuh pada tahun depan.”

“Malahan sebelum menginjak negeri kita, orang-orang Se He ini sudah cukup mengetahui situasi dunia persilatan kita,” tutur Pek Si-kia, “Mereka tahu pang kita adalah salah satu saka guru dunia persilatan Tionggoan, maka bermaksud sekaligus menghancurkan kita dahulu untuk memupuk nama baik, dan tahun depan mereka yakin akan mendapat kemenangan total pula.

“Bila rakyat kita sudah jeri dan ketakutan kepada kepandaian bangsa Se He mereka, lalu mereka akan mengerahkan pasukan tentaranya untuk menyerbu dan dengan mudah akan dapat merebut negeri kita.”

Diam-diam Ci-tianglo terperanjat oleh rencana keji musuh, bisiknya perlahan, “Ehm, tipu muslihat mereka ini benar-benar sangat keji.”

“Dan begitu Helian Tiat-si meninggalkan kota raja segera mereka mendatangi markas besar kita di Lokyang,” tutur Pek Si-kia lebih jauh. “Kebetulan waktu itu Kiau-pangcu bersama kami sekaligus telah menuju Kanglam sini hendak menuntut balas bagi Be-hupangcu, maka orang Se He telah menubruk tempat kosong. Dan mereka benar-benar terlalu kurang ajar, mereka menyusul ke Kanglam sini dan akhirnya mengadakan perjanjian dengan Kiau-pangcu untuk bertemu malam ini di Hui-san.”

Ci-tianglo berpikir sejenak, lalu katanya dengan berbisik, “Perhitungan mereka sungguh seenaknya, pertama Kay-pang kita akan dihancurkan, boleh jadi mereka akan maju setindak pula untuk menggempur Siau-lim-si, lalu membasmi Hoa-san-pay dan aliran persilatan lain di Tionggoan hingga kocar-kacir, dengan demikian tahun depan kemenangan pasti di tangan mereka.”

Dalam pada itu suara derapan kuda yang ramai tadi sudah mendekat, mendadak terdengar trompet berbunyi tiga kali, delapan ekor kuda tampak muncul dengan terbagi menjadi dua barisan. Penunggang kuda itu semuanya bertombak panjang, di atas tombak masing-masing berkibar panji kecil. Ujung tombak bersinar mengilap, lamat-lamat kelihatan keempat panji kecil di sisi barat tersulam dua huruf “Se He”, sedangkan empat panji kecil di sebelah lain tersulam dua huruf “Helian.”

Menyusul mana muncul delapan ekor kuda yang lain dan berlari cepat ke tengah hutan. Empat penunggangnya segera meniup trompet yang dibawa dan empat orang lainnya menabuh genderang.

Diam-diam para pengemis berkerut kening, pikir mereka, “Ini kan pasukan tentara di medan perang terbuka, masa dipakai dalam pertemuan dengan kaum persilatan?”

Setelah bunyi trompet dan genderang tadi, segera muncul pula delapan busu (jago silat) negeri Se He.

Di antara kedelapan orang itu, Ci-tianglo melihat enam orang di antaranya adalah kakek-kakek yang rambut dan jenggotnya sudah ubanan semua, badan mereka pun kurus kering dan reyot.

Diam-diam Ci-tianglo membatin, “Agaknya inilah tokoh-tokoh dari apa yang disebut It-bin-tong itu?

Segera kedelapan busu itu membagi diri ke sisi kanan dan kiri, lalu seorang penunggang kuda masuk ke tengah hutan situ dengan perlahan.

Penunggang kuda ini berjubah merah, berusia antara 34-35 tahun, hidungnya besar membetet, tampaknya sangat tangkas dan cerdik. Di belakangnya mengikut seorang laki-laki bertubuh sangat tinggi dan berhidung besar.

Begitu masuk ke tengah hutan, segera laki-laki hidung besar itu berseru, “Ceng-tang-tay-ciangkun dari Se He tiba, silakan Pangcu dari Kay-pang maju menyambut.”

Dari suaranya yang melengking seram ini, jelas dia inilah yang bicara tadi.

“Pangcu kami tidak berada di sini, sementara ini aku yang mewakilkan jabatannya,” sahut Ci-tianglo. “Para saudara dalam Kay-pang adalah orang Kangouw yang kasar dan rendah, jika Ciangkun dari negeri Se He hendak bertemu dengan kami secara terhormat, rasanya kami tidak berani terima, lebih baik silakan Ciangkun pergi bertemu dengan kaum ningrat kerajaan Song kita saja dan tidak perlu menemui kaum jembel yang kerjanya cuma minta-minta ini. Sebaliknya kalau ingin bertemu secara orang Bu-lim, Ciangkun datang dari jauh, dengan sendirinya adalah tamu, maka silakan turun untuk bicara.”

Ucapan Ci-tianglo ini sangat tegas, tidak merendah juga tidak kaku, cukup menjaga harga diri pula. Maka diam-diam para pengemis merasa kagum terhadap orang tua itu.

“Jika Pangcu kalian tidak di sini, Ciangkun kami tidak dapat bicara dengan kalian,” sahut laki-laki hidung besar itu.

Tiba-tiba ia melihat Pak-kau-pang yang menancap di tanah itu sangat menarik, segera ia berkata, “Eh, pentung bambu hijau kemilau ini sangat bagus, biarlah kuambil untuk dijadikan tangkai sapu!”

Dan begitu tangannya bergerak, segera ia ayun cambuknya hendak membelit pentung bambu itu.

Keruan para pengemis menjadi gusar, beramai-ramai mereka memaki, “Keparat!” – “Anjing buduk!” – “Enyahlah kau, bangsat!”

Namun ujung cambuk orang itu tampaknya sudah hampir melilit di batang pentung bambu itu, sekonyong-konyong bayangan orang melesat maju secepat kilat, tiba-tiba ia ulur tangan ke depan pentung bambu hingga ujung cambuk kena melilit di tangannya. Dan sekali ia tekuk lengannya, laki-laki hidung besar itu tidak kuat lagi bertahan di atas kudanya, ia terseret turun dari kudanya dan berdiri di tanah. Berbareng kedua orang sama menarik pula sekuatnya, “prak”, cambuk itu putus bagian tengah.

Menyusul orang itu lantas mencabut pentung bambu itu dan mengundurkan diri tanpa berkata. Waktu semua orang memerhatikan, orang itu rada bungkuk, itulah Thoan-kong Tianglo. Ia pendiam, tapi ilmu silatnya sangat tinggi, bila Kay-pang menghadapi kesulitan, tanpa bicara ia lantas turun tangan. Dan sekali gebrak tadi ia berhasil menyeret laki-laki hidung besar itu turun dari kudanya, pecutnya terbetot putus pula, hal ini boleh dikatakan Thoan-kong Tianglo sudah menang satu babak.

Ternyata laki-laki hidung besar itu sangat sabar, biarpun kecundang, sedikit pun ia tidak unjuk sikap lesu, bahkan ia berseru, “Hah, kaum pengemis memang pelit, cuma sebatang bambu juga tidak boleh diambil orang.”

“Sebenarnya ada urusan apakah para tokoh dan pahlawan Se He mengadakan janji pertemuan dengan Kay-pang kami?” tanya Ci-tianglo kemudian.

“Sebab Ciangkun kami mendengar bahwa Kay-pang mempunyai dua macam kepandaian istimewa, yang semacam katanya bernama Pak-niau-pang-hoat dan yang lain Hang-coa-cap-pek-ciang, sebab itulah kami ingin coba-coba belajar kenal,” demikian sahut laki-laki hidung besar.

Mendengar ejekan itu, seketika gusarlah para pengemis. Kurang ajar benar pikir mereka, masakah Pak-kau-pang-hoat (ilmu pentung penggebuk anjing) sengaja dikatakan sebagai Pak-niau-pang-hoat (ilmu pentung penghajar kucing) dan Hang-liong-sip-pat-ciang (18 jurus ilmu pukulan penakluk naga) diubah menjadi Hang-coa-cap-pek-ciang (18 jurus ilmu pukulan penakluk ular), terang sengaja menghina, maka pertemuan sekarang ini sudah pasti akan diakhiri dengan suatu pertarungan yang menentukan mati dan hidup.

Di tengah caci maki para pengemis itu, sebaliknya diam-diam Ci-tianglo, Thoan-kong Tianglo, Cit-hoat Tianglo dan lain-lain merasa khawatir pula, pikir mereka, “Pak-kau-pang-hoat dan Hang-liong-sip-pat-ciang ini selamanya cuma pangcu yang mahir menggunakannya, jika lawan sudah kenal kedua macam ilmu ini dan masih berani menantang secara terang-terangan, rasanya mereka pasti bukan sembarangan jago silat dan boleh jadi akan susah dilawan.”

Maka Ci-tianglo lantas menjawab, “Kalian ingin belajar kenal dengan Pak-niau-pang-hoat dan Hang-coa-cap-pek-ciang kami, hal ini tidak sulit. Asal ada kucing buduk dan ular belang kesasar ke sini, sudah pasti kaum pengemis mampu menghajarnya. Dan saudara apakah ingin belajar menjadi kucing atau ular, silakan pilih!”

“Hahaha, kalau dia ingin menjadi ular, itulah kebetulan, kaum pengemis paling suka tangkap ular, tanggung cek-gemol, datang satu tangkap satu, datang sepuluh bekuk sepuluh, tidak terbukti, uang kembali!” demikian Go-tianglo ikut menjawab dengan terbahak-bahak.

Adu kepandaian kalah sebabak, adu mulut, mati kutu pula, keruan laki-laki hidung besar itu menjadi runyam. Dan selagi ia pikir apa yang hendak dikatakan pula, sekonyong-konyong di belakangnya seorang berteriak dengan suaranya yang kasar dan keras, “Biar ular maupun kucing, ayolah, siapa yang berani maju bertempur dulu denganku?”

Sembari berkata orang itu terus menyelinap keluar dari rombongannya dan berdiri tegak di tengah kalangan dengan bertolak pinggang. Muka orang ini sangat jelek dan menakutkan.

Semua orang terkesiap dan ragu menghadapi orang yang bengis dan galak dengan mukanya yang jelek ini, sebaliknya tiba-tiba terdengar Toan Ki lantas berseru, “Hei, muridku, kiranya kau juga datang ke sini? Ayo, ketemu Suhu mengapa tidak lekas menjura?”

Kiranya laki-laki muka jelek ini tak-lain-tak-bukan adalah Lam-hay-gok-sin Gak-losam, si jahat ketiga dari “Su-ok”.

Mendadak tampak Toan Ki juga berada di situ, Gak-losam terkejut, ia merasa kikuk dan serbasalah, sahutnya dengan gelagapan, “Engkau ….”

“Murid baik,” segera Toan Ki menyela, “Pangcu Kay-pang adalah saudara-angkatku, orang-orang ini adalah Supek dan Susiokmu pula, maka jangan kurang ajar, lekas pulang saja.”

Mendadak Lam-hay-gok-sin mengerang keras hingga pohon sama tergetar, ia memaki, “Keparat, jahanam, haram jadah!”

“Kau memaki siapa haram jadah?” tegur Toan Ki.

Seperti diketahui, Lam-hay-gok-sin ini meski kejam dan ganas, tapi apa yang pernah ia ucapkan selamanya pasti ditepati dan tidak dijilat kembali. Ia pernah menyembah kepada Toan Ki dan mengaku guru padanya, hal ini tidak pernah disangkalnya. Maka ia lantas menjawab, “Aku suka memaki, peduli apa denganmu? Aku kan tidak memaki engkau.”

“Ehm, dan mengapa ketemu Suhu tidak menjura dan menyampaikan salam? Di manakah letak aturanmu, hah?” tegur Toan Ki pula.

Dengan menahan gusar terpaksa Lam-hay-gok-sin melangkah maju dan berlutut memberi hormat sambil berkata, “Suhu, baik-baikkah engkau?”

Dan saking mengkalnya, begitu berdiri kembali terus saja ia berlari pergi dengan cepat sambil mengerang dengan suaranya yang keras dan mendengung-dengung.

Begitu keras suaranya bagaikan air bah yang surut dengan cepat. Hanya dari suaranya ini saja setiap orang akan tahu betapa tinggi lwekangnya, di antara tokoh-tokoh Kay-pang hanya Ci-tianglo, Thoan-kong Tianglo dan beberapa tertua lain yang mampu menandinginya. Tapi seorang pelajar yang lemah sebagai Toan Ki itu ternyata adalah gurunya, hal ini benar-benar membikin mereka tidak habis heran.

Tertampak dari rombongan jago Se He melompat pula seorang yang bertubuh tinggi bagai galah bambu, gaya lompatnya ternyata cepat luar biasa, kedua tangan masing-masing memegang sebatang senjata yang berbentuk aneh, panjangnya kira-kira satu meter, ujungnya berbentuk lima jari buatan baja. Cakar baja itu mengilat tersorot sinar rembulan.

Segera Toan Ki mengenali orang ini adalah In Tiong-ho yang bergilir Kiong-hiong-kek-ok (terlalu ganas dan mahajahat), yaitu orang keempat Thian-he-su-ok (empat mahadurjana dunia). Diam-diam ia heran mengapa keempat tokoh itu telah mengabdikan diri kepada kerajaan Se He?

Waktu Toan Ki memandang pula ke arah rombongan jago-jago Se He, benar juga lantas dilihatnya “Bu-ok-put-cok” (tiada kejahatan yang tak dilakukan) Yap Ji-nio sedang berdiri di situ dengan tersenyum simpul membopong seorang bayi. Hanya si jahat pertama “Ok-koan-boan-eng” (kejahatan sudah melebihi takaran) Yan-king Taycu yang tidak kelihatan.

Diam-diam Toan Ki bersyukur si jahat utama itu tidak berada di situ, kalau cuma Ji-ok (si jahat kedua) dan Si-ok (si jahat keempat) saja, tentu jago-jago Kay-pang masih mampu melawannya.

Kiranya sesudah “Thian-he-su-ok” itu meninggalkan negeri Tayli, dalam perjalanan mereka ke utara, mereka bertemu dengan utusan It-bin-tong dari negeri Se He yang ditugaskan mencari jago-jago kosen.

Dasar Su-ok itu memang terlalu iseng, terus saja mereka menggabungkan diri ke dalam It-bin-tong. Betapa tinggi ilmu silat mereka, dengan sendirinya hanya sedikit demonstrasi saja mereka sudah lantas diterima sebagai jago pilihan oleh Helian Tiat-si. Dalam perjalanan ke Tionggoan kali ini Helian Tiat-si telah membawa serta keempat durjana itu dan menganggap mereka sebagai tangan kanan-kirinya.

Begitulah sesudah In Tiong-ho melompat maju ke tengah, segera ia berseru, “Ciangkun kami ingin belajar kenal dengan kedua macam kungfu Kay-pang. Sebenarnya pengemis seperti kalian ini mempunyai kepandaian sejati atau cuma bualan belaka, ayolah, silakan maju untuk coba-coba dengan aku!”

“Biarkan aku yang maju dulu,” tiba-tiba Ge-tianglo berkata.

“Baiklah!” sahut Ci-tianglo. “Tapi ginkang orang ini sangat hebat, Ge-heng harus hati-hati.”

Ge-tianglo mengiakan dan maju ke tengah kalangan sambil menyeret tongkat bajanya yang panjang itu, katanya, “Ilmu silat Kay-pang kami hanya digunakan menurut keperluan saja, terhadap Bu-beng-siau-cut (kaum keroco) macammu ini masakah perlu pakai Pak-kau-pang-hoat segala? Ini, rasakan dulu toyaku ini!”

Segera tongkatnya mengemplang ke atas kepala lawan.

Badan Ge-tianglo itu gemuk buntak, jadi terbalik daripada tubuh In Tiong-ho yang jangkung lencir. Tapi tongkatnya yang sangat panjang itu masih dapat digunakan menghantam dari atas ke bawah.

Dahulu guru Ge-tianglo waktu mengajarkan permainan senjata panjang ini kepadanya, maksud tujuannya memang guna menambal perawakan yang pendek itu, agar dengan tongkat panjang itu dapat dipakai melawan musuh yang lebih tinggi.

Begitulah maka cepat In Tiong-ho berkelit ke samping, “blang”, tongkat baja Ge-tianglo menghantam tanah hingga debu pasir bertebaran, ujung tongkat sampai ambles belasan senti ke dalam tanah. Betapa hebat tenaganya sungguh mengejutkan.

In Tiong-ho insaf tenaganya jauh di bawah lawan, maka ia tidak berani menangkis dari depan, tapi terus melompat ke sini dan melesat ke sana, dengan ginkang yang tinggi ia tempur Ge-tianglo dengan main kucing-kucingan.

Ge-tianglo putar tongkatnya sedemikian kencang hingga berwujud segulung kabut putih, tapi tetap tidak dapat menyenggol badan In Tiong-ho.

Selagi Toan Ki terpesona menyaksikan pertarungan itu, tiba-tiba suara seorang yang merdu berkata di tepi telinganya, “Toan-toako, sebaiknya kita membantu siapa?”

Waktu Toan Ki berpaling, ia lihat yang bicara itu adalah Giok-yan, seketika hatinya terguncang, sahutnya, “Membantu apa maksudmu?”

“Bukankah si jangkung itu adalah kawan muridmu? Dan si pengemis pendek gemuk ini adalah anak buah saudara angkatmu, pertarungan mereka makin lama makin sengit, apakah kita mesti membantu atau menjadi juru pisah saja?” sahut Giok-yan.

“Muridku adalah seorang jahat, si jangkung ini lebih-lebih ganas, maka tidak perlu membantu dia,” sahut Toan Ki.

“O!” kata Giok-yan berpikir sejenak. “Tapi para pengemis itu telah mengusir Gihengmu dan tidak sudi mengaku dia sebagai pangcu lagi, malahan sembarangan menuduh Piaukoku, maka aku tidak suka kepada mereka.”

Menurut jalan pikiran gadis itu, siapa yang tidak baik kepada piaukonya, maka orang itu dianggapnya sebagai orang paling jahat di dunia ini. Lalu ia menyambung pula, “Si pengemis buntak ini memainkan Hok-mo-theng dari aliran Ngo-tay-san, tapi karena badannya pendek, maka jurus ‘Cin-ong-pian-ciok’ (Raja Cin mencambuk batu) yang dimainkan itu kurang tepat. Asal si jangkung menyerang bagian kakinya, pasti dia akan kewalahan. Cuma si kurus itu tidak tahu, ia sangka si pendek tentu sangat kuat kuda-kudanya, padahal tidak demikian.”

Meski suara Giok-yan ini sangat perlahan, tapi kebanyakan jago yang hadir di situ adalah ahli lwekang terkemuka, mereka dapat mendengar juga ucapan Giok-yan itu. Walaupun banyak juga di antaranya kenal asal usul ilmu silat Ge-tianglo, tapi sekali pandang hendak mengetahui di mana letak kelemahan tokoh Kay-pang itu sebenarnya sedikit yang mampu. Dan memang benar juga, demi mereka memerhatikan jurus serangan Ge-tianglo yang disebut Giok-yan tadi yang kelihatannya sangat hebat, namun kuda-kuda kakinya memang kurang kuat.

Dengan sendirinya In Tiong-ho juga mendengar komentar Giok-yan itu, ia melirik gadis itu dan memuji, “Wah, cantik amat anak dara ini, lebih-lebih pandangannya yang tajam, kalau mau ikut aku dan menjadi istriku masih boleh juga.”

Sambil berkata, senjata cakar bajanya tidak pernah kendur, ia turut petunjuk Giok-yan tadi dan beruntun tiga kali menyerang bagian bawah Ge-tianglo.

Karena hal itu memang benar merupakan kelemahan Ge-tianglo, maka jurus ketiga tak dapat ditangkisnya, “cret”, pahanya tergurat cukup parah oleh cakar baja musuh hingga darah bercucuran.

Dasar sifat Giok-yan memang masih kekanak-kanakan dan hijau, mendengar pujian In Tiong-ho akan kecantikannya, ia merasa senang hingga kata-kata yang bernada rendah itu tidak terpikir olehnya. Dengan tersenyum ia malah menjawab, “Huh, tidak kenal malu. Apamu yang dapat dipilih, aku tidak mau menjadi istrimu.”

“Mengapa tidak mau?” tanya In Tiong-ho. “Ehm, tentu kau sudah punya pacar bukan? Biarlah kubunuh dulu buah hatimu itu, masakah kau takkan menjadi istriku nanti?”

Perkataan terakhir ini benar-benar telah menusuk perasaan Giok-yan, maka dengan muka merengut ia tidak gubris orang lagi.

Selagi In Tiong-ho hendak menggoda dengan kata-kata pula, tiba-tiba dari rombongan Kay-pang telah melompat keluar seorang kakek lain, itulah Go-tianglo dengan senjatanya yang berupa kui-thau-to, golok yang ujungnya berbentuk kepala setan. Tanpa bicara lagi Go-tianglo terus membabat ke kanan empat kali dan menebas ke kiri empat kali, memotong ke atas empat kali dan membacok ke bawah empat kali, 4 kali 4 sama dengan 16 kali, daya serangannya sangat hebat.

Karena tidak kenal ilmu permainan golok lawan itu, In Tiong-ho cuma dapat berkelit ke sini dan menghindar ke sana dengan kelabakan.

Segera Giok-yan mengemukakan komentarnya lagi, “Su-siang-liok-hap-to-hoat yang dimainkan Go-tianglo ini di dalamnya membawa perubahan menurut perhitungan pat-kwa, pastilah si jangkung itu tak kenal ilmu goloknya ini. Entah apakah dia paham tidak permainan ‘Ho-coa-pat-tah’ (delapan kali menghantam ular dan bangau), kalau dapat, dengan mudah pasti Go-tianglo akan dikalahkan pula.”

Mendengar gadis itu memberi petunjuk pula kepada In Tiong-ho, para pengemis menjadi gusar dan sama melotot padanya.

Dalam pada itu In Tiong-ho sudah mengubah serangannya, kakinya yang panjang itu melangkah lebar, cakar bajanya menyapu dari samping hingga mirip seekor bangau sedang pentang sayap.

“Hihi, si jangkung itu telah tertipu olehku, boleh jadi tangan kirinya akan segera tertebas kutung,” bisik Giok-yan pada Toan Ki dengan tertawa perlahan.

“Apa betul?” sahut Toan Ki dengan heran.

Dan belum lagi Giok-yan menjawab, tertampak serangan golok Go-tianglo sudah mulai kacau, gayanya semakin lambat, tapi mendadak ia menyerang tiga kali dengan cepat, di mana sinar golok berkelebat, sekonyong-konyong In Tiong-ho menjerit kaget, punggung tangan kirinya telah keserempet oleh golok Go-tianglo hingga cakar bajanya jatuh ke tanah. Masih untung juga baginya karena ginkangnya sangat lihai, dengan cepat ia sempat melompat mundur hingga dapat menghindarkan serangan-serangan susulan Go-tianglo yang hebat.

Setelah mengalahkan musuh, segera Go-tianglo mendekati Giok-yan, ia mengucap terima kasih kepada nona itu.

Giok-yan tersenyum, katanya, “Sungguh ‘Ki-bun-sam-cay-to’ yang hebat!”

Go-tianglo terkejut, tak tersangka olehnya bahwa gadis itu ternyata kenal ilmu goloknya yang sebenarnya.

Kiranya sejak tadi Giok-yan sudah kenal ilmu golok Go-tianglo itu adalah “Ki-bun-sam-cay-to,” tapi ia sengaja bilang “Su-siang-liok-hap-to” untuk menyesatkan In Tiong-ho, bahkan ia dapat melihat In Tiong-ho pasti mahir menggunakan serangan “Ho-coa-pat-tah”, dengan demikian ia sengaja pancing durjana itu masuk perangkap hingga dicecar oleh serangan Go-tianglo, sampai tangan kirinya hampir tertebas kutung.

Itu orang yang berdiri di samping Helian Tiat-si dan suaranya melengking seram tadi namanya Nurhai. Walaupun mukanya tidak menarik, tapi orangnya sangat cerdik dan banyak tipu akalnya, pengetahuannya juga sangat luas.

Demi melihat mula-mula Giok-yan membantu In Tiong-ho mengalahkan Ge-tianglo, kemudian gadis itu bersuara pula dan membikin In Tiong-ho dilukai Go-tianglo, maka ia lantas berkata kepada Helian Tiat-si, “Ciangkun, nona cilik bangsa Han ini sangat aneh, kalau kita dapat menawannya ke It-bin-tong dan suruh dia mengatakan segala apa yang dia ketahui, pasti akan sangat besar manfaatnya bagi kita.”

“Ehm, bagus, bolehlah kau tawan dia,” sahut Helian Tiat-si.

Nurhai garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal, pikirnya, “Sifat Ciangkun benar-benar membikin runyam, setiap kali aku mengusulkan sesuatu akal padanya, selalu ia menjawab, ‘Ehm, bagus, kerjakanlah!’ Padahal untuk melaksanakan sesuatu tugas tidaklah mudah, apalagi nona cilik ini tampaknya berilmu silat sangat tinggi dan sukar dijajaki, jangan-jangan aku sendiri akan terjungkal dari dibikin malu di depan orang banyak. Urusan hari ini sudah jelas harus membasmi habis kaum pengemis ini, maka lebih baik aku mendahului turun tangan saja.”

Sesudah ambil keputusan demikian, segera ia melangkah maju, katanya, “Ci-tianglo, Ciangkun kami cuma ingin belajar kenal Pak-kau-pang-hoat dan Hang-liong-sip-pat-ciang, jika kalian mahir, lekas unjukkan, bila tidak becus, kami tiada tempo buat banyak urusan, maka sekarang juga kami mohon diri saja.”

“Hm, jago-jago It-bin-tong negeri kalian itu ternyata juga cuma begini saja kualitasnya, untuk bisa belajar kenal dengan Pak-kau-pang-hoat dan Hang-liong-sip-pat-ciang rasanya belum sesuai kalau hanya keroco-keroco seperti ini saja,” sahut Ci-tianglo.

“Habis, cara bagaimana untuk bisa sesuai,” tanya Nurhai.

“Lebih dulu harus dapat mengalahkan semua pengemis-pengemis tak becus seperti kami ini, habis itu barulah pimpinan Kay-pang sudi maju sendiri ….” belum habis ucapannya, sekonyong-konyong ia terbatuk-batuk hebat, menyusul matanya terasa sakit pedas dan tak dapat dibuka, air mata pun bercucuran tak tertahankan. Dalam kagetnya, tanpa pikir lagi ia terus melompat ke atas.

Sebagai seorang Kangouw yang ulung, begitu merasa matanya tidak beres, segera Ci-tianglo tahu musuh telah main gila, dan begitu badannya terapung di udara, kedua tangan siap menjaga diri sambil menahan napas, sedang kaki kanan beruntun-runtun menerjang tiga kali.

Sama sekali Nurhai tidak menduga bahwa seorang kakek-kakek yang sudah ubanan itu begitu tangkas dan cepat, untung dirinya masih sempat berkelit, namun hanya tempat-tempat berbahaya saja dapat dihindarkan, sebaliknya pundaknya juga kena terdepak sekali oleh Ci-tianglo hingga ia sempoyongan dan cepat-cepat melompat mundur.

Dalam pada itu para anggota Kay-pang sudah lantas berteriak-teriak, “Celaka! Musuh main gila!” – “Hei, mataku kena apa ini?” – “Wah, mataku tak dapat dibuka!” – Begitulah semuanya merasa mata sakit pedas dan mengucurkan air mata.

Giok-yan, A Cu, dan A Pik juga mengalami kejadian yang sama, mata mereka terasa panas dan susah dibuka. Kiranya ini adalah semacam kabut beracun yang tanpa warna dan tiada bau apa-apa yang disebarkan orang-orang Se He. Racun kabut itu adalah buatan dari kabut beracun yang terdapat di pegunungan Se He, mereka isi di dalam botol, waktu menggunakan, lebih dulu mereka minum obat penawarnya, lalu sumbat botol dibuka dan kabut berbisa itu menguar keluar perlahan-lahan. Dengan begitu biarpun orang yang paling cerdik juga takkan merasa, bila matanya sudah mulai sakit pedas dan mengucurkan air mata, saat itu racun sudah masuk kepala.

Maka terdengarlah suara gedebak-gedebuk dan jeritan kaget yang riuh, para pengemis beruntun-runtun terguling semua.

Di antara semua orang itu hanya Toan Ki yang tidak roboh. Ia pernah makan Bong-koh-cu-hap, katak merah yang bisa menguak seperti kerbau, binatang itu antisegala racun, maka kabut berbisa itu pun tidak mempan baginya.

Ia menjadi bingung ketika melihat para pengemis, Giok-yan dan kedua dayangnya roboh semua dengan keadaan mengenaskan. Ia lihat Ci-tianglo dengan mata merem masih menghantam dan menendang untuk menjaga diri, tapi untuk kedua kalinya ketika melompat lagi ke atas, mendadak tangan-kaki terasa kaku linu, tanpa kuasa lagi orang tua itu terbanting jatuh.

Sambil membentak Nurhai segera pimpin jago-jago Se He meringkus para pengemis. Ia sendiri lantas mendekati Giok-yan dan hendak menarik tangan gadis itu.

“Apa yang hendak kau lakukan?” bentak Toan Ki mendadak. Dalam gugupnya jari telunjuk kanan terus menuding hingga satu arus hawa murni terpancar kuat ke depan, itulah “Lak-meh-sin-kiam” yang sakti dari keluarga Toan di Tayli.

Nurhai tidak kenal betapa lihainya ilmu pedang tanpa wujud itu, sama sekali ia tidak gubris dan masih ulur tangan hendak memegang Giok-yan, sekonyong-konyong “krek” sekali, tahu-tahu tulang tangan kanannya patah dan menggantung ke bawah dengan lemas.

Saking kagetnya Nurhai menjerit dan berhenti. Kesempatan itu segera digunakan Toan Ki untuk merangkul pinggang Giok-yan terus dibawa lari dengan ilmu langkah “Leng-po-wi-poh” yang aneh, ia mengisar ke sini dan menyusur ke sana, dengan mudah saja ia tinggal pergi.

Sekali Yap Ji-nio menyambitkan sebatang jarum berbisa ke punggung Toan Ki, sambitan itu sangat pesat menyambarnya dan sangat jitu pula, sebenarnya tidak mungkin Toan Ki sanggup menghindarnya.

Tapi karena ilmu langkahnya yang aneh itu, tiba-tiba Toan Ki mengisar ke kanan dan tahu-tahu membelok ke kiri, terkadang mundur pula, maka ketika jarum berbisa Yap Ji-nio menyambar tiba, tahu-tahu Toan Ki sudah berada beberapa meter jauhnya di samping sana.

Ada tiga busu pilihan dari Se He segera melompat turun dari kuda mereka terus mengudak. Tapi tahu-tahu Toan Ki mengisar mundur malah ke samping kuda yang ditinggalkan mereka itu, lebih dulu ia taruh Giok-yan di atas kuda dengan melintang, lalu ia sendiri mencemplak dan dilarikan secepatnya ke tempat yang sepi.

Sekitar hutan itu sudah dijaga oleh jago-jago Se He, ketika melihat Toan Ki melarikan diri dengan menunggang kuda, segera mereka menghujani pemuda itu dengan panah. Tapi hutan itu sangat lebat, di mana-mana hanya pohon belaka, maka anak panah itu menancap semua di batang pohon tanpa mengenai sasarannya.

Dalam kegelapan Toan Ki terus melarikan kudanya, ia tepuk-tepuk kuda itu dan berkata, “Kuda baik, kuda manis, ayolah cepat, nanti kuberi minum arak!”

Sudah beberapa lama kuda itu mencongklang, sementara itu musuh sudah ketinggalan jauh.

“Nona Ong, bagaimanakah keadaanmu?” tanya Toan Ki.

“Aku keracunan, tenagaku hilang sama sekali,” sahut Giok-yan.

Toan Ki kaget mendengar nona itu keracunan, cepat ia tanya pula, “Wah, berbahaya tidak? Cara bagaimana agar bisa memperoleh obat penawarnya?”

“Entahlah, aku tidak tahu, lekas larikan kudamu lebih cepat, carilah suatu tempat yang aman dan kita bisa berunding nanti,” ujar Giok-yan.

“Ke mana menurut pendapatmu akan lebih aman?” tanya Toan Ki.

“Ke Thay-oh saja!” sahut si gadis.

Toan Ki coba membedakan arah, agaknya Thay-oh (telaga besar) itu berada di jurusan barat-laut, segera ia larikan kuda ke sana.

Tiada satu jam kemudian, kuda yang dibebani dua orang itu sudah terlalu lelah, menyusul turun hujan pula rintik-rintik.

Selang tak lama, Toan Ki coba tanya, “Nona Ong, bagaimana keadaanmu?”

Dapat menunggang kuda bersama gadis cantik, sudah tentu rasa Toan Ki sangat senang, tapi ia khawatir pula kalau racun yang mengenai Giok-yan itu teramat jahat hingga membahayakan jiwanya. Maka sebentar ia tersenyum dan lain saat khawatir.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: