Pendekar Kerajaan Tayli ~ Jilid 27

Untung waktu itu adalah malam dan di tempat sepi hingga tiada orang yang melihat sikapnya yang aneh itu, kalau tidak, tentu orang akan menyangka dia sudah gila.

Hujan itu semakin deras, Toan Ki menanggalkan jubahnya untuk menutup badan Giok-yan. Tapi hanya sebentar saja baju kedua orang telah sama-sama basah kuyup lagi.

“Bagaimana keadaanmu, nona Ong?” kembali Toan Ki menanya.

“Ai, basah dan dingin, sebaiknya cari suatu tempat untuk berteduh,” sahut Giok-yan.

Segala apa yang dikatakan Giok-yan itu bagi pendengaran Toan Ki adalah serupa titah sang ratu. Sekarang gadis itu minta dicarikan tempat meneduh, meski pemuda itu tahu keadaan masih berbahaya, setiap waktu dapat disusul musuh, tapi mau tak mau ia terus mengia. Tiba-tiba timbul pula semacam pikirannya yang ketolol-tololan, “Orang yang selalu terbayang-bayang dalam benak nona Ong hanya Buyung-kongcu seorang, maka terang tiada harapan selama hidupku untuk mempersunting si cantik. Hari ini aku sama-sama menghadapi bahaya dengan dia, biarlah aku berusaha sepenuh tenaga untuk melindunginya, bila akhirnya aku mati baginya, mungkin di kemudian hari pada masa tuanya secara kebetulan tentu dia akan terkenang juga kepada aku si Toan Ki. Kelak setelah dia menikah dengan Buyung Hok tentu akan punya putra-putri, dan bila mereka sedang bicara di antara anak-cucu sendiri atas kejadian-kejadian di masa lalu, mungkin juga ia akan teringat kepada kejadian hari ini. Tatkala mana ia sudah nenek-nenek yang ubanan, ketika bicara tentang ‘Toan-kongcu’, air matanya lantas bercucuran ….” – begitulah dalam melamunnya itu tanpa merasa matanya menjadi memberambang sendiri.

Melihat pemuda itu termangu-mangu sambil menengadah dan tidak lantas mencari tempat meneduh seperti permintaannya tadi, segera Giok-yan menanya, “Hei, kenapakah kau? Apakah susah diperoleh suatu tempat berteduh?”

“Tatkala itu engkau tentu akan berkata pada anakmu ….”

“Anakku apa katamu?” tegur Giok-yan dengan heran sebelum lanjut perkataan pemuda itu.

Keruan Toan Ki kaget dan sadar kembali dari lamunannya, cepat ia menyahut dengan tertawa ewa, “Ah, maaf, aku lagi melamun sendiri.”

Segera ia celingukan kian kemari untuk mencari sesuatu tempat bernaung, tiba-tiba dilihatnya di arah timur laut sana ada sebuah rumah gilingan, air sungai kecil di samping rumah gilingan itu mengalir cepat hingga roda gilingan itu berputar terdorong oleh arus air, nyata gilingan itu sedang bekerja.

“Di sanalah kita dapat berteduh,” ujar Toan Ki. Segera ia keprak kudanya ke arah sana, tidak lama, sampailah di depan rumah gilingan itu.

Segera Toan Ki melompat turun dari kuda, demi dilihatnya wajah Giok-yan pucat pasi, sungguh betapa rasa kasih sayangnya pemuda itu. Dengan khawatir ia menanya pula, “Nona Ong, apakah perutmu sakit? Atau barangkali kepalamu pusing? Badanmu panas?”

“Tidak, tidak apa-apa,” sahut Giok-yan sambil menggeleng.

“Ai, entah racun apa yang digunakan orang Se He itu, kalau aku dapat memperoleh obat penawarnya, tentu segalanya akan beres,” ujar Toan Ki.

“Eh, mengapa engkau tidak memayang aku turun, hujan begini derasnya?” tegur si gadis.

Dan baru Toan Ki ingat akan hal itu, dengan gugup ia menjawab, “Eh, ya, ya, aku menjadi linglung ini.”

Giok-yan tersenyum, ia geli melihat kelakuan si pemuda yang memang mirip orang linglung itu.

Melihat senyuman manis si gadis yang menggiurkan itu, semangat Toan Ki seakan-akan kabur ke awang-awang, hampir ia lupa apa yang harus dilakukannya. Segera ia membukakan dulu pintu rumah gilingan itu, habis itu, ia putar balik hendak menurunkan Giok-yan dari atas kuda. Tapi karena matanya tidak pernah meninggalkan wajah si gadis yang ayu itu, ia menjadi lupa daratan dan tidak ingat bahwa di depan titian rumah gilingan itu ada sebuah selokan. Begitu ia melangkah kembali, sebelah kakinya tepat kejeblos ke dalam selokan.

“Hei, awas!” cepat Giok-yan memperingatkan.

Namun sudah telat, Toan Ki sudah kehilangan imbangan badan, disertai jeritan kagetnya, terus saja ia ngusrup jatuh ke dalam pecomberan. Cepat ia merangkak bangun pula, namun mukanya, tangannya, dadanya, antero tubuhnya sudah basah kuyup dan kotor oleh tanah lumpur, bahkan ada beberapa tetes air kotor itu menciprat ke dalam mulutnya.

Keruan Toan Ki kelabakan dan meludah-ludah tiada habis-habis, katanya kemudian, “Ah, maaf, kau … kau tak apa-apa, bukan?”

“Ai, akulah harus menanya engkau tidak apa-apa, bukan? Mengapa malah aku yang ditanya?” sahut Giok-yan. “Sakit tidak kau? Apa terluka?”

Mendengar si gadis sudi memerhatikan keselamatan dirinya, girang Toan Ki melebihi orang yang dapat “buntut”. Cepat ia menjawab, “O, tidak, tidak apa-apa. Sekalipun terbanting patah kakiku juga tidak apa-apa.”

Habis itu segera ia ulur tangan hendak memayang Giok-yan turun dari kudanya, tapi demi tampak tangan sendiri penuh lumpur, cepat ia tarik kembali lagi dan berkata, “Nanti dulu, biar kucuci tangan dulu supaya tidak bikin kotor padamu.”

“Ai, engkau ini benar-benar suka bertele-tele,” ujar Giok-yan. “Sedangkan seluruh badanku juga sudah basah kuyup, kenapa mesti takut pada sedikit lumpur kotor itu?”

Tapi Toan Ki toh masih mencuci dulu tangannya di dalam air selokan itu, kemudian barulah menurunkan Giok-yan.

Setelah mereka melangkah masuk ke rumah gilingan itu, tertampaklah sebuah alu batu yang digerakkan roda air sedang naik-turun menumbuk padi di dalam lumpang. Tapi tidak tampak seorang pun yang menjaga di situ.

“Adakah orang di sini?” segera Toan Ki berseru.

Karena itu, mendadak terdengarlah seruan kaget dua orang di onggok jerami di pojok rumah sana, menyusul berdirilah seorang pemuda dan satu dara. Semuanya baru berusia belasan tahun. Baju kedua muda-mudi itu tampak kumal tak teratur, rambut mereka kusut dan muka merah jengah, sikapnya sangat kikuk.

Kiranya kedua muda-mudi itu adalah sepasang kekasih yang sedang bercumbu-cumbuan di situ. Si gadis itu sebenarnya lagi menunggui lumpang padi, kesempatan itu tidak disia-siakan oleh si pemuda, apalagi hari hujan pula, mereka yakin takkan ada orang datang ke situ, maka dengan bebas mereka sedang main patgulipat. E-eh, siapa sangka mendadak datang Toan Ki dan Giok-yan hingga mengganggu kesenangan mereka.

Maka Toan Ki lantas memberi kiongchiu sambil menyapa, “Ah, maaf, maaf, banyak mengganggu. Kalian sedang kerja apa, silakan terus, tidak usah mengurus kami.”

“Kembali pelajar tolol seperti kau ini mengaco-belo lagi,” omel Giok-yan. “Di hadapan kita masakah mereka bisa bebas bermesra-mesraan?” – Sebagai seorang gadis, demi tampak kelakuan kedua muda-mudi itu, seketika muka Giok-yan sudah lantas merah dan tidak berani memandang mereka lagi.

Sebaliknya antero perhatian Toan Ki hanya tercurahkan atas diri Giok-yan, maka sama sekali ia tidak perhatikan apakah sebenarnya yang sedang dilakukan kedua muda-mudi itu tadi.

Begitulah segera ia memayang Giok-yan berduduk ke atas bangku yang berada di situ dan menanya, “Badanmu basah kuyup semua. Bagaimana baiknya sekarang?”

Tiba-Tiba pikiran Giok-yan tergerak, ia cabut sebuah tusuk kondenya yang berhias dua butir mutiara dan berkata kepada gadis petani tadi, “Cici, ini kuberi sebuah tusuk konde emas kepadamu, harap engkau suka meminjamkan seperangkat pakaian padaku.”

Sudah tentu gadis petani itu tidak kenal betapa berharganya kedua butir mutiara besar itu, yang dia ketahui hanya tusuk konde emas itu memang bernilai, maka ia menjadi ragu-ragu akan tawaran Giok-yan itu, sahutnya kemudian, “Biarlah aku mengambilkan pakaian untukmu, tentang tusuk … tusuk konde itu aku tidak mau.” – Habis berkata ia terus naik ke atas loteng rumah gilingan itu dengan sebuah tangga kayu di pinggir situ.

“Cici, harap engkau kemari dulu,” pinta Giok-yan.

Gadis petani itu sebenarnya sudah naik lima-enam tingkat ke atas tangga itu, tapi ia menurut dan kembali ke hadapan Giok-yan.

Segera Giok-yan serahkan tusuk konde emas itu ke dalam tangan si gadis petani dan berkata, “Tusuk konde ini paling sedikit bernilai seratus tahil perak, aku benar-benar menghadiahkan kepadamu. Permintaanku ialah sudilah Cici membawa aku untuk mengganti pakaian.”

Hati gadis petani itu sangat baik, dilihatnya pula Giok-yan sangat cantik menyenangkan, apalagi mendapat persen sebuah tusuk konde berharga pula, keruan ia sangat girang. Segera ia membawa Giok-yan ke atas loteng untuk menukar pakaian.

Di atas loteng penuh tertaruh alat-alat pertanian serta timbunan padi, banyak pula terdapat tampah, tenggok, ayakan bambu dan sebagainya.

Sebenarnya gadis itu sedang tambal sulam pakaian sambil menunggu lumpang padi, tapi kemudian datang si pemuda kekasihnya itu, maka pekerjaan tangan itu ditinggalkannya. Dan kini kebetulan pakaiannya dapat diberikan kepada Giok-yan.

Dalam pada itu si pemuda desa tadi sedang memandang Toan Ki dengan sikap canggung dan tidak berani bersuara. Maka dengan tertawa Toan Ki lantas menyapa, “Toako, she apakah engkau?”

“O, aku … aku she Kim,” sahut pemuda desa itu.

“Ehm, Kim-toako kiranya,” kata Toan Ki. Dan belum lagi lenyap suaranya, tiba-tiba terdengar suara derap kuda yang dilarikan dengan sangat cepat sedang mendatangi, dari suaranya itu dapat diduga ada belasan orang banyaknya.

Toan Ki terkejut dan khawatir, cepat ia berbangkit dan berseru, “He, nona Ong, musuh mengejar kemari!”

Dibantu oleh gadis petani tadi, saat itu Giok-yan baru melepaskan baju dan diperas hingga kering serta sedang mengelap badannya yang basah, ia pun sudah mendengar derap kuda dan sedang khawatir. Tapi karena dalam keadaan kepalang tanggung, maka ia tidak dapat berbuat apa-apa.

Dalam pada itu datangnya kuda-kuda itu ternyata sangat cepat, tahu-tahu sudah sampai di depan rumah, segera terdengar suara orang berseru, “He, itulah kuda kita, kedua bocah itu tentu sembunyi di sini.”

Toan Ki dan Giok-yan menjadi khawatir, mereka masing-masing berada di bawah dan atas loteng, diam-diam mereka menyesal tadi kuda itu tidak dibawa masuk sekalian ke dalam rumah.

Sejenak kemudian, terdengarlah suara gedubrakan keras, daun pintu terpentang didobrak orang, menyusul tiga-empat orang busu bangsa Se He lantas menerobos masuk.

Yang dipikir Toan Ki hanya keselamatan Giok-yan, tanpa pikir lagi ia terus berlari ke atas loteng. Waktu itu Giok-yan masih belum sempat pakai baju, terpaksa ia gunakan pakaian yang basah itu untuk menutupi dadanya.

Keruan Toan Ki kaget demi mengetahui keadaan gadis itu, cepat ia berkata, “Ah, maaf, maaf, aku tidak tahu!”

“Wah, bagaimana baiknya ini?” tanya Giok-yan dengan gugup.

Dalam pada itu terdengar salah seorang busu di bawah loteng sedang tanya Kim A-toa, yaitu si pemuda desa, “Apakah anak dara itu berada di atas?”

“Buat apa engkau tanya anak gadis orang?” sahut Kim A-toa dengan kaku.

“Blang,” tanpa bicara lagi busu itu hantam Kim A-toa hingga pemuda desa itu terguling. Namun watak pemuda itu ternyata sangat keras, segera ia mencaci maki.

“Kim-toako, jangan bertengkar dengan orang!” demikian si gadis tani tadi berseru kepada kekasihnya dengan khawatir, segera ia turun ke bawah loteng untuk mencegahnya,

Siapa duga busu tadi lantas ayun golok hingga buah kepala Kim A-toa terbelah menjadi dua. Saking kagetnya sampai gadis tani itu pun jatuh terjungkal dari atas tangga.

Segera busu yang lain membangunkannya dan dipeluk sambil menggoda, “Ini dia si manis datang sendiri padaku!”

“Bret”, segera baju gadis itu dirobeknya.

Di luar dugaan, mendadak gadis itu mencakar muka busu itu hingga seketika berwujud lima jalur luka dengan darah bercucuran. Keruan busu itu menjadi murka, ia menghantam sekuatnya dada si gadis hingga tulang iganya remuk dan binasa seketika.

Ketika mendengar jeritan ngeri di bawah loteng, Toan Ki menoleh dan melihat kedua muda-mudi itu sudah terbinasa dengan mengenaskan, ia menjadi pedih dan menyesal, “Gara-garaku hingga kalian ikut menjadi korban!”

Dalam pada itu dilihatnya busu pertama tadi sedang memanjat ke atas loteng. Cepat Toan Ki mendorong tangga kayu itu ke depan. Karena tangga itu cuma melekat di papan loteng, sekali didorong lantas roboh ke sana.

Namun busu itu keburu melompat turun, ia pegang tangga yang mendoyong itu dan dipasang kembali ke atas loteng.

Dan baru Toan Ki hendak mendorong tangga pula, tiba-tiba busu yang lain menyerangnya dengan sebatang panah. Karena tidak pandai berkelit, “crat”, panah itu menancap di pundak kirinya. Ketika Toan Ki kesakitan dan memegang bahunya, kesempatan itu digunakan oleh busu yang lain untuk memperbaiki tangga terus melompat ke atas.

Giok-yan sedang duduk di atas onggok padi di samping Toan Ki, ia menyaksikan cara bagaimana busu itu menghantam mati si gadis tani dan kini melompat ke atas loteng, maka cepat katanya kepada Toan Ki, “Lekas gunakan jari telunjukmu untuk menutuk ‘He-wan-hiat’ bagian perutnya.”

Waktu Toan Ki mempelajari It-yang-sin-kang, dan Lak-meh-sin-kiam di Tayli, dalam hal hiat-to di tubuh manusia telah dihafalkannya dengan baik. Kini demi mendengar petunjuk Giok-yan itu, sementara itu sebelah kaki busu itu sudah melangkah ke atas loteng, tanpa pikir lagi ia menudingkan jari telunjuknya ke depan, ia tutuk arah “He-wan-hiat” di perut orang.

Dalam keadaan melompat ke atas, dengan sendirinya perut busu itu tidak terlindung, maka terdengarlah jeritan sekali, busu itu terjungkal ke bawah dan terbanting mati.

Toan Ki sama sekali tidak menduga bahu tenaga jarinya itu ternyata begitu sakti, ia sampai melenggong sendiri.

Dalam pada itu tertampak seorang busu berewok telah menyerbu ke atas loteng sambil putar senjatanya yang berupa golok besar.

“Tutuk mana, tutuk mana?” tanya Toan Ki dengan khawatir.

“Ai, celaka!” tiba-tiba Giok-yan mengeluh.

“Celaka apa?” tanya Toan Ki gugup.

“Dia putar golok untuk melindungi tubuhnya, jika kau gunakan jari untuk menutuk ‘Tan-tiong-hiat’ di dadanya, sebelum jarimu mengenai sasarannya tentu tanganmu sudah tertebas lebih dulu oleh goloknya,” ujar Giok-yan.

Namun keadaan sudah mendesak, baru selesai Giok-yan berkata, sementara busu itu sudah melangkah sampai di ujung tangga. Oleh karena yang terpikir hanya keselamatan Giok-yan, maka Toan Ki tidak pikir apakah tangannya bakal terkutung oleh golok lawan atau tidak, begitu jari telunjuk menuding, ia kerahkan tenaga murni, ia tonjok “Tan-tiong-hiat” di dada musuh.

Waktu itu si busu sedang angkat golok hendak membacok, mendadak ia menjerit lalu terjungkal ke belakang dan terguling ke bawah loteng dengan dada berlubang kecil, darah menyembur keluar bagai air mancur.

Sungguh girang dan kejut pula Toan Ki dan Giok-yan, sama sekali tak terduga oleh mereka bahwa tenaga tutukan itu bisa begitu lihai.

Harus diketahui bahwa lwekang yang dimiliki Toan Ki sekarang boleh dikatakan tiada bandingannya lagi, sedangkan “Lak-meh-sin-kiam” keturunan Toan-si di Tayli merupakan kungfu kelas utama di Bu-lim, yang masih kurang bagi Toan Ki hanya mengenai cara menggunakannya, tapi dengan petunjuk Giok-yan, daya serang yang dilontarkan itu bahkan lebih hebat daripada jago kelas satu seperti Koh-eng Taysu, Ciumoti, Yan-king Taycu dan lain-lain.

Begitulah hanya sekejap saja dua orang sudah binasa oleh tutukannya, busu yang lain menjadi jeri tidak berani naik ke atas loteng lagi, mereka berkumpul di bawah untuk berunding.

“Toan-kongcu, panah yang menancap di pundakmu itu harus dicabut keluar,” kata Giok-yan.

Sungguh girang Toan Ki tak terkatakan karena mendapat perhatian si cantik, segera ia cabut keluar panah itu.

Padahal panah itu menancap beberapa senti dalamnya, dengan mencabut begitu saja sebenarnya sangat sakit, tapi saking senangnya ia menjadi lupa sakit. Kemudian katanya, “Nona Ong, kembali mereka akan menyerang lagi, cara bagaimana harus kulayani mereka?”

Sembari berkata ia terus menoleh, tapi sekonyong-konyong dilihatnya pakaian Giok-yan belum lagi teratur, lekas ia berpaling kembali sambil minta maaf.

Muka Giok-yan merah jengah, celakanya untuk berpakaian juga tidak kuat, sungguh ia kehilangan akal. Tiba-tiba pikirannya tergerak, ia menyusup ke tengah onggok padi, ia tarik ikatan padi hingga menutup sebatas pundaknya, hanya kepalanya yang menongol keluar tumpukan padi itu, lalu katanya dengan tertawa, “Sudahlah sekarang, boleh kau berpaling ke sini.”

Tapi Toan Ki masih khawatir, perlahan ia menggeser kepalanya, ia bersiap-siap bila pakaian si nona masih belum rapi, secepatnya ia akan berpaling pula.

Tak terduga baru saja ia menoleh separuh, sekilas dilihatnya di luar jendela loteng sana ada seorang busu bangsa Se He berdiri di atas pelana kuda dan sedang melongok dan hendak melompat ke loteng. Cepat Toan Ki berseru, “He, di situ ada musuh!”

“Coba kau sambit dia dengan panah tadi,” kata Giok-yan.

Toan Ki menurut, segera ia timpuk panah yang dia cabut dari bahu sendiri itu. Sudah tentu ia bukan ahli menyambit panah, maka panah yang melayang keluar itu paling sedikit selisih satu meter jauhnya daripada sasarannya,

Busu itu sebenarnya tidak perlu berkelit. Tapi karena tenaga sambitan Toan Ki sangat hebat hingga panah itu bersuara mendenging. Busu itu terkejut dan cepat mendekam di atas kudanya untuk menghindar.

Hanya sedikit gerakan busu itu sudah dapat dilihat jelas oleh Giok-yan, segera katanya kepada Toan Ki, “Dia adalah jago gulat dari Se He, tak perlu kau takut, biarkan dia menyikap dirimu, lalu kau tabok batok kepalanya, sekali tabok tentu akan menang.”

“O, gampang kalau begitu,” kata Toan Ki, perlahan ia lantas mendekati jendela.

Dalam pada itu si busu sudah menjebol jendela dan menyerbu ke atas loteng.

“Mau apa naik sini?” bentak Toan Ki.

Busu itu tidak paham bahasa Han, maka ia hanya melotot saja, begitu tangan terjulur, segera dada Toan Ki kena dijambret. Gerakan busu itu amat cepat, sekali dapat menjambret lawan, segera ia angkat badan Toan Ki ke atas dengan maksud hendak membanting pemuda itu.

Di luar dugaan, baru saja Toan Ki terangkat ke udara, mendadak tangan pemuda itu menggaplok ke bawah dan tepat mengenai batok kepalanya hingga pecah berantakan.

Selama hidup Toan Ki tidak pernah melukai orang, apalagi membunuh, tapi kini demi untuk membela Giok-yan, hanya sebentar saja sudah tiga nyawa melayang di tangannya.

Keruan ia mengirik, semakin dipikir semakin takut, cepat ia berteriak, “Aku tidak ingin membunuh orang lagi, suruh aku membunuh lagi terang aku tidak tega, ayolah lekas kalian enyah dari sini!”

Habis berkata, ia terus dorong mayat jago gulat Se He itu ke bawah.

Jago-jago Se He yang mengejar kemari itu seluruhnya ada 15 orang, kini telah mati tiga, sisanya masih 12 orang. Di antara ke-12 orang ini ada empat adalah jago pilihan It-bin-tong, sedang kedelapan orang lainnya hanya jago tempur biasa saja.

Keempat jago It-bin-tong itu dua antaranya adalah bangsa Han, seorang bangsa Se-ek (asing barat) dan seorang lagi bangsa Se He.

Keempat jago It-bin-tong itu merasa heran dan bingung juga oleh kepandaian Toan Ki yang sebentar lihai dan sebentar lagi lucu hingga sukar dijajaki. Mereka menjadi tidak berani sembarangan menyerang lagi, segera mereka berunding cara bagaimana baiknya.

Sebaliknya kedelapan busu biasa itu mempunyai pendapat lain, mereka terus mengumpulkan jerami di rumah gilingan itu dengan maksud akan membakarnya.

“Wah, celaka, mereka hendak menyalakan api!” kata Giok-yan dengan khawatir.

“Ya, bagaimana baiknya kini?” sahut Toan Ki kelabakan.

Ia lihat roda air raksasa rumah gilingan itu masih terus berputar terdorong oleh arus air sungai, serupa pikirannya yang juga berputar terus tanpa berdaya.

Dalam pada itu terdengar salah seorang jago bangsa Han tadi sedang berseru, “Menurut perintah Ciangkun, nona cilik itu sangat pintar, harus ditawannya hidup-hidup dan jiwanya tidak boleh diganggu, maka kalian jangan membakar dulu ….”

Lalu ia berteriak pula, “Hai, anak jadah dan nona cilik itu, lekas kalian turun kemari dan menyerahkan diri, kalau tidak, terpaksa kami menyalakan api biar kalian berdua terbakar hidup-hidup bagai babi panggang.”

Berulang ia berteriak tiga kali, tapi Toan Ki dan Giok-yan tetap tidak menggubris, segera orang itu menyalakan api, ia menyulut segebung jerami dan diangkat tinggi ke atas, lalu mengancam pula, “Kalian mau menyerah atau tidak? Jika tidak, terpaksa aku mulai membakar.”

Sembari berkata, ia ayun obornya dengan gaya hendak melempar ke onggok jerami.

Melihat keadaan sudah gawat, segera Toan Ki berbisik kepada Giok-yan, “Biar kuturun untuk melabrak mereka.”

Segera ia melangkah ke atas roda air yang sedang berputar itu.

Roda air itu terbuat dari kayu, besarnya tidak kepalang, bulat tengahnya paling sedikit ada tiga meter. Begitu Toan Ki melangkah ke ujung gigi roda air itu, tangannya lantas memegang ruji roda dan mengikuti putaran roda untuk turun ke bawah.

Jago Se He berbangsa Han tadi masih berteriak-teriak menyuruh Toan Ki dan Giok-yan menyerahkan diri saja, tak terduga diam-diam Toan Ki sudah turun dari loteng sebelah sana, tanpa berkata lagi pemuda itu lantas tudingkan jarinya dan menutuk punggung orang itu.

Yang digunakan Toan Ki adalah gaya ilmu pedang Siau-yang-kiam dari Lak-meh-sin-kiam yang lihai, maksudnya sekaligus merobohkan musuh. Siapa tahu serangan ini dilakukan secara membokong, lebih dulu ia sendiri sudah kebat-kebit, tenaga kurang dan semangat tak ada, tenaga dalam dan hawa murni tak dapat dikerahkan.

Hal ini disebabkan dia tidak paham dasar ilmu silat, maka permainan Lak-meh-sin-kiam itu selalu tergantung keadaan secara kebetulan saja. Sebaliknya sekarang ia sengaja hendak menyerang, tapi justru tenaga murni susah dikerahkan. Meski dia ulangi tutukannya beberapa kali, namun hasilnya tetap nihil.

Ketika mendadak merasa punggungnya seperti disenggol sesuatu dengan perlahan, dengan kaget orang Han itu menoleh, maka dilihatnya Toan Ki yang disangkanya masih di atas loteng itu kini sudah di belakangnya sambil menuding ke arahnya.

Karena sudah menyaksikan cara Toan Ki membinasakan ketiga orang tadi, ia sangka pemuda itu tentu sedang main ilmu sihir apa lagi untuk menyerang dirinya, maka dengan cepat ia melompat ke samping.

Dalam pada itu Toan Ki coba-coba menutuk pula sekali, tapi tetap tiada sesuatu suara dan tenaga, sebaliknya orang itu sudah lantas membentak, “Anak kurang ajar, tanganmu tuding-tuding apa?”

Berbareng tangan kanannya terus mencengkeram kepala Toan Ki.

Cepat Toan Ki mengkeret mundur sambil memegangi ruji roda air, maka ia terangkat ke atas oleh roda itu hingga cengkeraman orang salah hantam di atas gigi roda, “crat” remukan kayu bertebaran, satu sayap gigi roda itu rompal kena cengkeramannya yang kuat itu.

“Jika kau tempur dia lagi, asal mengisar ke belakangnya dan menyerang ‘Ci-yang-hiat’ di bagian punggungnya, tentu dia akan celaka,” demikian Giok-yan memberi petunjuk lagi. “Orang ini adalah murid Hou-jiau-bun (silat cakar harimau) di Cinlam, kepandaiannya masih belum cukup masak untuk melindungi Ci-yang-hiat.”

“Bagus jika begitu!” seru Toan Ki dengan girang. Segera ia membonceng putaran roda air dan turun pula ke ruangan rumah gilingan itu.

Tapi sekali ini mereka sudah berjaga lebih dulu, belum lagi Toan Ki menginjak tanah, segera ada tiga orang mendahului menyerbu maju hendak menangkapnya.

“He, he, jangan, jangan! Cayhe hanya sendirian, dengan sendirinya tak dapat melawan orang banyak, aku cuma ingin menempur dia seorang saja,” seru Toan Ki sambil goyang-goyang kedua tangannya. Berbareng ia mengegos ke samping dengan langkah “Leng-po-wi-poh” yang lincah, hanya beberapa kali menyelinap saja ia sudah memutar sampai di belakang laki-laki tadi, segera ia membentak, “Kena!”

Dan sekali ia menutuk, “crit”, cepat Ci-yang-hiat orang itu tertutuk, tanpa bersuara orang itu terus roboh dan tak berkutik lagi.

Habis membunuh seorang, maksud Toan Ki hendak membonceng roda air untuk naik ke atas loteng lagi, namun sudah terlambat, tahu-tahu jalan mundurnya telah dicegat oleh seorang jago Se He, bahkan goloknya terus membacok ke arah Toan Ki.

“Ai, celaka!” seru Toan Ki. “Musuh telah memotong jalan mundurku, kini aku terkepung di tengah, tamatlah riwayatku!”

Berbareng ia terus melangkah ke kiri hingga bacokan musuh mengenai tempat kosong.

Pada lain saat, ke-11 orang di dalam rumah gilingan itu sudah mengepung rapat di sekeliling Toan Ki, senjata mereka terus bekerja berbareng, lebih-lebih ketiga tokoh It-bin-tong yang lihai itu, asal terkena pukulan atau tendangannya, betapa pun jiwa Toan Ki pasti akan melayang.

Keruan pemuda itu berkelit kian kemari dengan kelabakan sambil berteriak-teriak, “Wah, celaka nona Ong, sampai berjumpa pada jelmaan yang akan datang! Aku sendiri tentu akan terbinasa, biarlah aku menantikan engkau di pintu gerbang akhirat saja!”

Walaupun mulutnya berteriak-teriak, tapi langkahnya tidak pernah kendur, jalannya sangat cepat dan gayanya indah hingga Giok-yan yang mengikuti ilmu langkahnya itu sampai termangu-mangu kesima.

“Hei, Toan-kongcu, apakah caramu melangkah itu adalah ‘Leng-po-wi-poh’? Aku hanya pernah mendengar namanya, tapi tidak tahu caranya,” seru Giok-yan tiba-tiba.

“Ya, ya, benar, inilah Leng-po-wi-poh!” sahut Toan Ki dengan girang. “Jika nona ingin lihat, biarlah kumulai lagi dari awal. Tapi apakah dapat berlangsung hingga selesai atau tidak, hal ini tergantung nasib buah kepalaku ini.”

Habis itu, terus saja ia mulai dengan langkah pertama dari ilmu langkah yang pernah dipelajarinya dari cermin perunggu di dalam gua di dasar sungai itu. Dan meski ke-11 orang itu masih terus menghujani dia dengan pukulan, tendangan, dan serangan-serangan senjata, toh tetap tiada mampu menyenggol ujung bajunya sekalipun.

Oleh karena sampai sekian saat masih belum dapat membekuk Toan Ki, ke-11 orang itu menjadi kelabakan sendiri dan berkaok-kaok di antara mereka sendiri, “Hai, kau cegat sebelah sana!” – “Awas, kau jaga sebelah timur, jangan memberi ampun padanya!” – Dan lain saat lantas terdengar teriakan seorang, “Wah, celaka, lolos lagi!”

Begitulah selangkah demi selangkah Toan Ki terus berputar-putar di samping roda air dan lumpang padi. Dan biarpun Giok-yan seorang gadis pintar, tetap ia tidak dapat memahami ilmu langkah itu, serunya kemudian, “Sudahlah, lebih penting kau hindarkan serangan musuh, tak usah mempertunjukkan kepadaku lagi.”

“Tapi kalau sekarang aku tidak pertunjukkan, bila jiwaku melayang, tentu engkau takkan dapat melihatnya lagi,” sahut Toan Ki. Dan tanpa menghiraukan mati-hidup sendiri ia terus melanjutkan Leng-po-wi-poh itu hingga langkah terakhir.

Di luar perhitungannya, justru karena ketolol-tololannya itulah malah menyelamatkan jiwanya. Kalau Toan Ki umpamanya berkelit dengan sengaja ketika diserang, pertama ia tidak paham ilmu silat, kedua, jumlah musuh ada 11 orang, ia tentu tidak dapat mengelakkan diri. Tapi kini ia tidak gubris dari mana datangnya serangan, ia melainkan terus melangkah menurutkan iramanya sendiri, dengan demikian menjadi seperti ke-11 orang itu sedang menguber untuk menyerang bersama. Dan “Leng-po-wi-poh” itu justru sangat aneh, setiap langkahnya selalu menuju ke arah yang sama sekali tak terduga oleh orang, tampaknya ia melangkah ke kiri, tapi tahu-tahu di sebelah lain. Semakin cepat ke-11 orang itu menyerang, namun sebagian besar serangan mereka mengenai kawan sendiri malah dan sebagian lain selalu mengenai tempat kosong.

Setelah mengikuti sejenak, segera Giok-yan tahu akan sebab musababnya, serunya, “Toan-kongcu, langkahmu itu sangat bagus dan ruwet pula, seketika aku masih belum jelas, paling baik kalau habis itu engkau suka mengulangi sekali lagi.”

“Baiklah, apa yang kau inginkan, pasti kuturuti,” sahut Toan Ki. Dan habis menjalankan 8 kali 8 sama dengan 64 langkah itu, benar juga ia lantas memulai kembali.

Diam-diam Giok-yan pikir sendiri, “Sementara ini jiwa Toan-kongcu takkan berhalangan, tapi cara bagaimana supaya kami bisa lolos dari sini? Aku belum lagi memakai baju, mana aku dapat keluar begini saja? Setelah keracunan, tenagaku sedikit pun tidak ada, untuk memegang baju saja lemas rasanya, jalan satu-satunya adalah memberi petunjuk kepada Toan-kongcu untuk membinasakan ke-11 musuh itu.”

Sebab itulah ia tidak memerhatikan langkah Toan Ki lagi, tapi menyelami kepandaian ke-11 orang musuh. Ia lihat kedelapan busu Se He itu ilmu silatnya terbagi dua aliran, semuanya berasal dari ilmu silat Tionggoan, sedang kepandaian asli jago bangsa Han itu pun dapat diketahuinya, hanya orang Se-ek itulah tampaknya kaku gerak-geriknya, tapi mendadak bisa lincah dan gesit hingga sukar diketahui sumber asli kepandaiannya.

Dan selagi Giok-yan memerhatikan gerakan orang Se-ek itu dengan harapan dapat mengetahui sumber ilmu silatnya, sekonyong-konyong terdengar suara “keletak” sekali, ada orang sedang pasang tangga kayu tadi dan hendak naik ke atas loteng.

Kiranya sesudah sekian lama Toan Ki masih susah dibekuk, segera jago Se He yang merupakan pimpinan rombongan itu memberi perintah kepada salah seorang bawahannya agar menangkap dulu si gadis. Keruan Giok-yan menjerit kaget.

Waktu Toan Ki mendongak, ia lihat busu bangsa Se He itu sudah mulai naik ke atas tangga. Cepat ia tanya, “Serang tempat mana, nona Ong?”

“Paling baik cengkeram bagian ‘Ci-sit-hiat’!” sahut Giok-yan.

Toan Ki menurut, dengan langkah lebar ia mendekati busu yang naik tangga itu, sekali cengkeram “Ci-sit-hiat” bagian punggung, kontan orang itu kena dipegangnya, tapi karena tidak tahu harus diapakan tubuh orang, segera ia lemparkannya ke samping sekenanya. Dan sungguh sangat kebetulan, lemparan itu dengan tepat menjebloskan kepala busu itu ke dalam lumpang batu.

Rumah gilingan itu terdiri dari sebuah lumpang batu yang besar dengan alu batu pula yang digerakkan oleh roda air, sejak tadi lumpang itu ditumbuk oleh alu dan butiran padi di dalam lumpang sebenarnya sudah menjadi bubuk, tapi karena tiada yang mengurus, antan batu itu masih terus menumbuk tiada hentinya. Kebetulan tubuh busu itu dilemparkan Toan Ki ke dalam lumpang, ketika antan batu menumbuk pula ke bawah, “prak”, tanpa ampun lagi kepala busu itu tertumbuk hancur luluh bagai pepesan.

Di lain pihak tanpa peduli nasib kawannya itu, jago Se He tadi kembali mendesak anak buahnya lagi hingga ada tiga orang menyusul naik ke tangga.

“Bereskan dengan cara yang sama!” seru Giok-yan khawatir.

Benar juga, sekali cengkeram, kembali Toan Ki dapat memegang “Ci-sit-hiat” salah seorang terus dilemparkan pula ke dalam lumpang. Tapi sekali ini dengan sengaja hingga lemparannya itu malah kurang jitu, badan kaki busu itu yang terjeblos ke tengah lumpang, dan ketika antan batu menumbuk, terdengarlah jeritan ngeri busu itu, kakinya remuk, tapi tidak lantas mati,

Dan pada saat Toan Ki melengak oleh kejadian itu, sementara itu dua busu yang lain sudah mulai melangkah ke atas loteng.

“E-eh, tidak boleh, lekas turun!” seru Toan Ki dan jari terus menuding dan menutuk serabutan. Tak terduga, karena gugupnya, hawa murni dalam tubuh ikut bergolak, daya Lak-meh-sin-kiam lantas bekerja lagi, “crit-crit” dua kali, dengan tepat punggung kedua busu itu, kena tertusuk dan kontan terjungkal ke bawah.

Melihat Toan Ki hanya tuding-tuding dari jauh lantas dapat membunuh orang, kepandaian demikian dengar pun tidak pernah, keruan jago-jago Se He itu ketakutan. Tapi suruh mereka melarikan diri, mereka pun penasaran, manakah jago It-bin-tong seperti mereka mengeroyok seorang pemuda ingusan saja tidak mampu menang, hal ini kalau diketahui orang, ke mana muka mereka akan ditaruh?

Dalam pada itu Giok-yan tetap mengikuti pertarungan di bawah loteng dengan jelas, ia lihat musuh tinggal tujuh orang, tapi tiga di antaranya sangat lihai, lebih-lebih jago Se He yang membentak-bentak dan memberi perintah itu agaknya merupakan pimpinan rombongan, segera serunya, “Toan-kongcu, lebih dulu bunuh orang berbaju kuning dan bertopi kulit itu, carilah jalan untuk menghantam ‘Giok-cim’ dan ‘Thian-cu-hiat’ di belakang kepalanya.”

“Baik,” sahut Toan Ki terus menerjang ke arah jago Se He itu.

Diam-diam orang Se He itu terperanjat, ia heran dari mana nona cilik itu tahu kedua hiat-to yang memang menjadi ciri kematiannya itu? Sementara itu dilihatnya Toan Ki telah menerjang tiba, cepat ia tebas dulu dengan goloknya agar pemuda itu tidak berani mendekat.

Beberapa kali Toan Ki menggeser tempat dan menerjang maju, tapi selalu teralang, bahkan hampir terluka oleh senjata lawan. Segera ia berteriak, “Nona Ong, orang ini sangat lihai, aku tidak dapat mencapai belakangnya.”

Tapi Giok-yan lantas memberi petunjuk lagi, “Dan tempat kelemahan orang yang berbaju kelabu itu, adalah ‘Jin-ging-hiat’ di tenggorokannya. Adapun si orang berbaju hijau itu aku belum dapat menyelami sumber kepandaiannya, boleh coba-coba kau tutuk dadanya.”

“Baik,” sahut Toan Ki. Dan benar juga ia terus menuding ke dada orang.

Meski gaya tutukannya itu tepat, namun sedikit pun tidak bertenaga dalam, dan sudah tentu hal ini tak diketahui orang Se-ek yang berbaju hijau itu, cepat ia mendak untuk menghindarkan tiga kali tutukan Toan Ki.

Ketika pemuda itu menutuk pula untuk keempat kalinya, mendadak ia meloncat tinggi ke atas, habis itu bagai elang menyambar anak ayam ia terus menukik ke bawah, dengan tenaga hantaman yang hebat, antero tubuh Toan Ki terkurung di bawah pukulan mautnya.

Seketika Toan Ki merasa napasnya sesak dan kepala pening, saking ngeri membayangkan nasibnya jika kena serangan musuh, Toan Ki pejamkan mata dengan tangan menutuk serabutan ke atas, maka terdengarlah suara “cit-cit” berulang, Lak-meh-sin-kiam yang terdiri dari Siau-siang-kiam, Siang-yang-kiam, Tiong-ciong-kiam, Koan-ciong-kiam, Siau-ciong-kiam, dan Siau-tik-kiam, sekaligus telah dilontarkan seluruhnya.

Dalam keadaan kepepet dan khawatir, tenaga dalam Toan Ki sekali ini benar-benar bekerja dengan hebat.

Maka tidak ampun lagi badan orang Se-ek itu terluka enam lubang, dan karena hantamannya ke bawah itu tak dapat ditahan, “plak”, pundak Toan Ki juga kena digebuk sekali. Tatkala itu hawa murni dalam tubuh pemuda itu lagi bergolak dengan hebat, biarpun hantaman itu sangat keras namun daya tolak badan Toan Ki telah mematahkan serangan itu hingga tidak terluka apa-apa.

Sudah tentu Giok-yan tidak tahu apakah pemuda itu terluka atau tidak, maka dengan khawatir ia tanya, “Toan-kongcu, bagaimana, terluka tidak?”

Waktu Toan Ki membuka mata, ia lihat jago Se-ek itu sudah menggeletak, enam lubang kecil di dada dan perutnya memancurkan darah, mukanya beringas, matanya mendelik, napasnya masih kempas-kempis belum lagi mati. Hati Toan Ki berdebar saking ketakutan, serunya, “Bukan maksudku hendak membunuhmu, tapi engkau sendiri yang menyerang diriku.”

Sembari berkata, langkahnya tidak pernah berhenti, ia masih terus berlari ke sini dan menyusup ke sana sambil kedua tangan berulang memberi salam kepada sisa ketujuh orang itu, “Para saudara yang gagah, sejak dulu aku tidak bermusuhan dengan kalian, kelak juga tidak akan dendam, maka haraplah kalian bermurah hati, pergilah sekarang juga. Aku … aku … sungguh tidak berani membunuh orang lagi. Sudah … sudah sekian banyak orang mati, hati … hatiku sangat sedih. Ai, benar-benar terlalu kejam. Sudahlah lekas kalian pergi saja, aku Toan Ki mengaku kalah, harap kalian bermurah hati.”

Ketika mendadak ia berputar ke sana, tiba-tiba dilihatnya di samping pintu telah berdiri mula seorang jago Se He yang entah kapan sudah masuk ke situ. Perawakan orang ini sedang, pakaiannya serupa jago Se He yang lain, anehnya parasnya ternyata kuning pucat, sedikit pun tidak berperasaan hingga mirip wajah mayat.

Hati Toan Ki terkesiap, pikirnya, “Manusia atau setankah dia? Jangan-jangan dia adalah … adalah arwah jago Se He yang kubinasakan tadi dan kini gentayangan kemari?”

Berpikir demikian, ia mengirik, dengan suara gemetar ia tanya, “Siapa … siapakah kau? Mau apa datang ke … ke sini?!”

Namun jago Se He itu hanya berdiri tegak saja tanpa menjawab dan tidak bergerak.

Sambil menghindarkan serangan seorang lawan, segera Toan Ki pegang “Ci-sit-hiat” seorang busu terus dilemparkan ke arah orang aneh itu. Namun sedikit mengegos, “blang”, kepala busu yang dilemparkan itu tertumbuk pada dinding hingga pecah berantakan.

Melihat orang itu dapat bergerak, Toan Ki menarik napas lega, katanya, “Ehm, engkau adalah manusia dan bukan setan.”

Melihat kawannya makin lama makin sedikit, ketiga busu bangsa Se He mulai mengkeret nyalinya, segera mereka bermaksud melarikan diri, seorang di antaranya lantas mendekati pintu hendak mendorong daun pintu.

“Mau apa kau?” bentak jago Se He pilihan It-bin-tong tadi. Berbareng ia serang tiga kali kepada Toan Ki.

Toan Ki sendiri sudah tiada nafsu berkelahi lagi, ketika sinar golok musuh berkilauan di depan matanya dan setiap saat mungkin akan berkenalan dengan tubuhnya, ia menjadi ketakutan dan berteriak-teriak, “Hai, hai, mengapa engkau begini kejam, awas kalau sebentar kuhantam Giok-cim-hiat dan Thian-cu-hiat di badanmu, tentu kau akan celaka, ayolah lekas berhenti dan pergi saja demi kebaikan bersama!”

Tapi bukannya menurut, sebaliknya orang itu semakin nekat, serangannya semakin bertubi-tubi dan selalu mengancam tempat berbahaya di tubuh Toan Ki. Untung kaki pemuda itu pun cukup cepat menggeser hingga setiap serangan dapat dihindarkan.

Jago bangsa Han itu paling licin, tadi waktu keadaan terdesak, ia selalu berada di belakang. Kini demi mendengar Toan Ki berulang memohon damai, kecuali menghindar belaka, untuk balas menyerang sudah tidak mampu.

Maka timbul segera akal licik jago bangsa Han itu, ia mendekati lumpang batu dan meraup dua genggam bubuk beras yang sudah tertumbuk halus terus dihamburkan ke muka Toan Ki.

Berkat langkah Toan Ki yang cepat dan aneh itu, dengan sendirinya taburan itu tidak kena sasarannya. Tapi menyusul orang Han itu menghamburkan dua genggam lagi, bahkan ia tambahi pula dua genggam lain hingga seketika ruangan penuh debu bubuk beras bagai kabut tebal.

“Wah, celaka, celaka! Mataku tidak dapat memandang lagi!” demikian Toan Ki berteriak-teriak.

Giok-yan juga tahu keadaan berbahaya. Hal ini dapat dimengerti, jika Toan Ki diserang oleh jago-jago silat kelas tinggi, ia justru dapat menghindarkan diri dengan Leng-po-wi-poh yang aneh. Tapi kini ruangan itu penuh debu beras, jika terjadi serangan serabutan dari musuh-musuh itu tentu Toan Ki akan celaka malah.

Padahal sejak tadi kalau musuh menyerang dengan mata tertutup umpamanya, boleh jadi hanya beberapa kali gebrak saja Toan Ki sudah dirobohkan.

Begitulah karena pandangan Toan Ki kabur, tanpa pikir lagi ia melompat ke tepi roda air, ia pegang ruji roda dan membonceng putaran ke atas.

Maka terdengarlah suara jeritan ngeri dua kali, dua busu bangsa Se He tadi telah salah terbunuh oleh kawan sendiri. Menyusul terdengar pula “trang-tring” dua kali, lantas ada orang berseru, “Hai, ini akulah!”

Menyusul yang lain pun berteriak, “Awas, kawan sendiri.”

Kiranya senjata antara jago-jago bangsa Han dan Se He itu telah saling beradu, untung mereka masih sempat mengerem. Tapi menyusul lantas terdengar lagi jeritan ngeri yang panjang, busu terakhir entah kena tendangan siapa hingga mencelat keluar jendela, jeritan ngeri sebelum ajalnya itu membuat Toan Ki bergidik hingga gemetar. Dengan suara terputus-putus ia berseru pula, “Hei … hei, kalian hanya tinggal dua orang, buat apa mesti berkelahi lagi? Orang kalah paling-paling minta ampun, biarlah aku menyembah padamu dan minta ampun, harap kalian pergi saja.”

Dengan mengincar tempat datangnya suara Toan Ki itu, segera jago bangsa Han menimpukkan sebatang piau, namun Toan Ki sudah turun pula terbawa oleh roda air. Karena itu sasaran piau jadi meleset, “plok”, hanya ujung lengan baju Toan Ki yang terpantek pada rangka roda kayu itu.

Toan Ki terkejut, ia pikir bisa celaka kalau musuh terus menghujani dirinya dengan am-gi, ia pasti tak sanggup berkelit. Dan karena rasa jerinya itu, ia menjadi lemas, tubuh yang masih menggelantung di rangka roda itu lantas terperosot ke bawah, lengan baju yang terpantek piau itu sobek dan ia pun terbanting ke lantai.

Di antara kabut tebal itu samar-samar orang Han itu dapat melihat apa yang terjadi, maka cepat ia menubruk maju untuk menangkap Toan Ki.

Toan Ki masih ingat petunjuk Giok-yan tadi agar menutuk “Jin-ging-hiat” orang. Tapi pertama karena dalam keadaan gugup, kedua, walaupun tempat-tempat hiat-to sudah pernah dihafalkannya namun tidak pernah dilatihnya dengan baik, dalam keadaan bingung tutukannya menjadi kurang jitu, agak ke kiri dan jauh menceng ke bawah pula, maka yang tertutuk adalah “Khi-koh-hiat” di bagian pinggang.

“Khi-koh-hiat” itu adalah hiat-to yang membikin orang tertawa, maka begitu tertutuk, tak tertahan lagi orang Han itu terus terbahak-bahak. Namun pedangnya berturut-turut masih menyerang pula walaupun mulutnya tiada hentinya tertawa.

“Yong-heng, apa yang kau tertawakan?” segera jago Se He itu menegur.

Sudah tentu orang Han itu tak dapat menjawab, sebaliknya tertawa lebih keras.

Karena tidak tahu duduknya perkara, orang Se He itu menjadi gusar, dampratnya, “Di hadapan musuh, kau main gila apa?”

“Hahaha … aku … hahaha … ini … hahahaha ….” begitulah orang Han itu masih terus tertawa, berbareng pedangnya menusuk pula.

Lekas Toan Ki mengisar ke kiri untuk menghindar. Di luar dugaan, karena kabut yang tebal itu, jago Se He itu pun tidak dapat memandang dengan terang, kebetulan ia pun sedang menubruk ke arah sini, maka terjadilah tabrakan di antara mereka berdua.

Jago Se He itu adalah ahli kim-na-jiu, mahir ilmu menangkap. Maka begitu menubruk badan Toan Ki, reaksinya sangat cepat, sekali tangannya bergerak, segera dada Toan Ki kena dijambret olehnya. Ia tahu kepandaian Toan Ki yang diandalkan adalah langkah kakinya, sekali ia dapat memegangnya, kesempatan ini tidak disia-siakan lagi, segera ia membuang senjatanya dan tangan lain hendak dipakai mencengkeram lengan Toan Ki sekuat-kuatnya.

Keruan Toan Ki mengeluh dan meringis kesakitan. Ia coba meronta, namun cengkeraman orang itu bagaikan tanggam kuatnya, semakin ia meronta, semakin kencang pegangan orang Se He itu.

Melihat kesempatan baik, terus saja jago bangsa Han tadi angkat pedangnya menusuk ke punggung Toan Ki sambil tetap tertawa.

Diam-Diam orang Se He itu berpikir jangan-jangan kawannya itu bermaksud tidak baik, kalau tusukannya menembus badan Toan Ki dan didorong terus, bukankah badan sendiri yang merapat pemuda itu juga akan ikut terluka? Karena itu cepat ia seret Toan Ki mundur selangkah.

Sambil masih terbahak-bahak orang Han itu mendesak maju dan hendak menusuk pula, tapi mendadak terdengar suara “plok” sekali, sayap roda air itu tepat menghantam belakang kepalanya hingga ia jatuh kelengar. Bahkan waktu robohnya, kembali dadanya tertumbuk sekali lagi oleh gigi roda hingga terbinasa seketika.

Sementara itu orang Se He itu masih terus menyikap kencang-kencang badan Toan Ki. Ia pikir kalau pemuda ini digencet hingga sesak napasnya, tentu sebentar akan menyerah tanpa berkutik. Sebaliknya tangan Toan Ki yang masih bisa bergerak itu terus menuding dan menutuk serabutan, tapi semuanya mengenai tempat kosong.

Giok-yan menjadi khawatir melihat Toan Ki tak dapat meloloskan diri dari pegangan lawan. Ada maksudnya hendak maju membantu, tapi setelah keracunan, anggota badannya sudah tidak mau menurut perintah lagi, bahkan tangannya pun susah diangkat, jangankan lagi hendak menolong orang. Lagi pula di samping pintu masih berdiri seorang jago Se He dengan wajahnya yang menyeramkan itu, asal dia turun tangan sekali pasti jiwa Toan Ki akan melayang segera.

Karena tak berdaya, akhirnya Giok-yan berteriak-teriak, “Sudahlah, jangan kalian bikin susah Toan-kongcu, aku … aku menyerah dan akan ikut pergi bersama kalian.”

Waktu itu Toan Ki sendiri sangat ketakutan, tangannya menuding dan menutuk tak keruan, padahal kalau dia bisa berlaku tenang dan mengendurkan badannya, tentu Cu-hap-sin-kang yang mengeram di dalam badannya pasti akan menyedot tenaga jago Se He itu, dan tanpa dia mencapekkan diri, tentu musuh akan lemas sendiri. Tapi karena ketakutan hingga tenaga dalamnya telah terhimpun di antara jari-jarinya, sedangkan tutukannya selalu mengenai tempat kosong.

Begitulah dalam keadaan bahaya dan napasnya terasa semakin sesak, sekonyong-konyong terdengar suara “crit-crit” beberapa kali, tiba-tiba jago Se He itu menjerit perlahan, tangannya lantas mengendur dan akhirnya melambai ke bawah, badannya menjadi lemas juga dan bersandar di dinding dengan kepala terkulai.

Keruan Toan Ki sangat heran, ia coba periksa keadaan orang, ia lihat tepat di “Giok-cim-hiat” di belakang kepalanya ada sebuah lubang kecil dan dari situ memancurkan darah segar. Lukanya itu terang adalah akibat kena serangan Lak-meh-sin-kiamnya.

Toan Ki menjadi bingung, ia tidak tahu bahwa di saat gawat tadi, ketika jarinya menuding ke atas, hingga tenaga murninya yang bergolak itu telah menerjang dinding terus membalik dan secara kebetulan mengenai belakang kepala lawan, sebab Giok-cim-hiat di belakang kepala itu memang merupakan tempat paling lemah bagi jago Se He itu, walaupun cuma tenaga membalik juga telah membikin jiwanya melayang. Giok-cim-hiat di belakang kepala memang merupakan tempat lemah bagi Se He itu, walaupun cuma tenaga membalik juga telah membikin jiwanya melayang.

Dengan heran dan girang segera Toan Ki berteriak, “Aha, nona Ong, semua musuh sudah terbinasa!”

Nyata ia lupa bahwa di samping pintu sana masih berdiri seorang musuh.

Maka tiba-tiba ia dengar suara dingin menyahut, “Hm, belum tentu telah mati semua!”

Dalam kagetnya segera Toan Ki menoleh, ia lihat pembicara itu adalah jago Se He yang mukanya membeku tanpa perasaan itu. Ia pikir kalau orang berani maju, tentu juga akan terbinasa percuma, maka dengan tertawa ia berkata, “Sudahlah, lekas kau pulang saja, aku takkan membunuhmu.”

“Hm, apakah engkau mempunyai kepandaian yang cukup untuk membunuh aku?” sahut orang itu dengan angkuh.

Sesungguhnya Toan Ki memang tidak ingin membunuh lagi, maka sahutnya dengan rendah hati, “Ya, mungkin aku bukan tandinganmu, maka sudilah engkau bermurah hati, ampunilah aku ini.”

“Ucapanmu ini sedikit pun tidak ada maksud minta ampun dengan sungguh-sungguh,” ujar orang itu. “Padahal It-yang-ci dan Lak-meh-sin-kiam keluarga Toan di Tayli tersohor di seluruh jagat, ditambah lagi petunjuk-petunjuk nona ini, bukankah engkau sudah terhitung jago nomor satu di dunia ini? Biarlah paku belajar kenal juga dengan kepandaianmu.”

Namun watak Toan Ki memang tidak suka ilmu silat, kalau ada sekian banyak orang terbunuh olehnya, soalnya adalah karena terpaksa, kalau bicara tentang berkelahi sungguh-sungguh, sedapat mungkin ia ingin menghindari, apalagi ia dengar kata-kata orang ini agak lain daripada yang lain, tentu bukan sembarangan jago silat, sebaiknya jangan lagi bertempur dengan dia.

Maka cepat ia menjawab dengan sungguh-sungguh sambil memberi hormat, “Teguran saudara memang benar, maksud permintaan ampunku kurang hormat dan tidak jujur, biarlah di sini aku minta diberi maaf. Selamanya aku tidak pernah belajar silat, tadi dapat kurobohkan lawan, sesungguhnya hanya secara kebetulan saja, mana aku berani menantang padamu pula.”

“Hehe, engkau mengaku tidak pernah belajar silat, tapi mampu membinasakan empat jago It-bin-tong negeri Se He dan membunuh pula 11 orang busu kami,” demikian jengek orang aneh itu. “Dan bila engkau belajar ilmu silat, bukankah tiada seorang jago silat lagi di kolong langit ini mampu menandingimu?”

Melihat di sekitarnya bergelimpangan mayat, semuanya berlumuran darah, hati Toan Ki menjadi pedih, katanya sambil tersendat, “Ai, mengapa aku mem … membunuh sebanyak ini? Padahal sebenarnya aku tidak … tidak ingin membunuh orang, bagaimana baiknya ini?”

Orang aneh itu hanya tertawa dingin saja sambil melirik hina kepada Toan Ki untuk menjajaki apakah ucapan pemuda itu benar-benar timbul dari hati nuraninya?

Toan Ki lantas berkata pula sambil mencucurkan air mata, “Ai, di rumah orang-orang ini tentu punya anak-istri, tadinya mereka semua sehat dan kuat, tapi sekarang kubinasakan, bagaimana aku harus … harus bertanggung jawab kepada keluarga mereka?”

Berkata sampai di sini, bukan saja ia menangis tersedu-sedu, bahkan sambil memukul dada sendiri dan menyambung pula dengan terguguk-guguk, “Belum tentu mereka bermaksud membunuh diriku, mereka cuma menurut perintah atasan tutuk menangkapku, selamanya aku pun tidak kenal mereka, mengapa aku turun tangan keji?”

“Hm, jangan pura-pura seperti kucing menangisi tikus, apakah dosamu akan terhapus begini saja?” jengek jago Se He itu pula.

“Ya, memang benar,” kata Toan Ki sambil mengusap air mata, “orangnya kan sudah terbunuh, dosaku juga sudah terang, apa gunanya menangis pula? Aku harus mengubur secara baik-baik jenazah mereka ini.”

Mendengar pemuda itu hendak mengubur belasan jenazah itu, Giok-yan menjadi tidak sabar menunggu, segera ia berseru, “Toan-kongcu, mungkin musuh akan memburu kemari lagi, sebaiknya kita berusaha meninggalkan tempat ini selekasnya.”

“Ya, benar,” sahut Toan Ki terus putar tubuh hendak naik tangga.

“Kau belum lagi membunuh aku, mengapa akan pergi begini saja,” tanya orang aneh itu tiba-tiba.

“Tidak, aku tak boleh membunuhmu, lagi pula aku pun bukan tandinganmu,” sahut Toan Ki sambil menggeleng kepala.

“Kita kan belum lagi bergebrak, dari mana kau tahu bukan tandinganku?” ujar orang itu. “Nona Ong telah mengajarkan ‘Leng-po-wi-poh’ padamu, hehe, langkah itu memang sangat hebat.”

Sebenarnya Toan Ki hendak menerangkan bahwa Leng-po-wi-poh itu bukan ajaran Giok-yan, tapi segera terpikir olehnya tidak perlu beri tahukan hal itu pada orang luar, maka jawabnya, “Ya, aku tidak mengerti ilmu silat apa segala, tapi berkat petunjuk nona Ong, maka aku bisa menyelamatkan diri.”

“Dan bila kau hendak membunuh aku, terpaksa aku yang akan membunuhmu,” kata orang itu sambil menjemput sebatang golok dari lantai, sekonyong-konyong ruangan situ penuh gulungan sinar, dalam lingkaran seluas dua-tiga meter melulu sinar golok belaka. Baru saja Toan Ki mulai melangkah, tahu-tahu pundak kena diketuk punggung golok orang hingga ia menjerit kesakitan sambil sempoyongan.

Dan selagi kacau langkahnya, kesempatan itu segera digunakan jago Se He untuk memburu maju, ia ancam kuduk Toan Ki dengan golok, tapi sebagai gantinya sebelah kaki lantas mendepak hingga Toan Ki terjungkal ke depan, batok kepala menumbuk sebuah tong kayu, seketika jidatnya bocor.

“Lekas naik kemari, Toan-kongcu,” seru Giok-yan.

Toan Ki mengiakan terus merayap ke atas melalui tangga. Waktu ia menoleh ke bawah, ia lihat orang aneh itu sudah duduk di lantai sambil memegangi goloknya, mukanya masih tetap kaku tanpa perasaan. Nyata sekali ia sengaja membiarkan Toan Ki naik ke atas loteng dan tidak memburu untuk menyerangnya dari belakang.

“Wah, nona Ong, aku tak dapat menandingi dia, marilah kita lekas mencari akal untuk melarikan diri,” demikian desis Toan Ki sesudah berada di atas loteng.

“Dia menunggu di bawah, kita tidak dapat melarikan diri,” sahut Giok-yan. “Eh, ambilkan dulu baju itu.”

Toan Ki mengiakan, segera ia ambilkan baju yang ditinggalkan si gadis tani tadi.

“Tutup matamu dan berjalan kemari,” pinta Giok-yan. “Nah, baiklah, berhenti. Sampirkan baju itu ke atas badanku, tidak boleh membuka mata!”

Semua perintah itu dituruti dengan baik oleh Toan Ki. Ia adalah seorang pemuda jujur dan polos, ia pandang Giok-yan seakan-akan malaikat dewata pula, dengan sendirinya tidak berani membangkang. Tapi bila teringat gadis itu dalam keadaan tak berbaju, tanpa terasa hatinya berdebur keras.

Habis pemuda itu mengenakan baju baginya, kemudian Giok-yan berkata pula, “Sudahlah sekarang, bangunkanlah diriku!”

Oleh karena tidak mendengar perintah agar buka mata, maka Toan Ki masih terus pejamkan kedua matanya, sedikit pun ia tidak berani mengintip. Ketika dengar si gadis bilang “bangunkanlah diriku” terus saja ia ulur tangan ke depan.

Di luar dugaan mendadak muka Giok-yan terpegang olehnya, karena merasa tangan menyentuh sesuatu yang halus licin, Toan Ki terperanjat dan berseru gugup, “O, maaf, maafkan!”

Sejak tadi muka Giok-yan sudah merah jengah ketika minta pemuda itu mengenakan baju untuknya, kiri mukanya teraba pula oleh tangan Toan Ki, keruan ia tambah malu, cepat ia berkata, “Hei, aku minta engkau membangunkan aku!”

“Ya, ya!” sahut Toan Ki, tapi tetap dalam keadaan mata terpejam, karena itu ia menjadi bingung dan serbasalah, sebab tidak tahu ke mana tangannya harus meraba, ia khawatir jangan-jangan salah menyenggol badan si gadis pula hingga makin menambah dosanya.

Dengan rasa tegang Giok-yan menantikan Toan Ki membangunkannya dari onggok padi itu. Tapi sampai sekian saat pemuda itu masih mematung di tempatnya, akhirnya barulah ia ingat kedua mata Toan Ki harus disuruh buka dulu, maka segera katanya, “Eh, mengapa engkau tidak membuka matamu?”

Dalam pada itu jago Se He di bawah loteng sedang tertawa dingin mengejek mereka, “Hehehe, aku suruh kau belajar ilmu silat dulu kepada gurumu untuk kemudian buat membunuh aku. Kan tidak kuminta kalian naik pantas dengan lakon gandrung di situ. Huh, sungguh memuakkan.”

Dan waktu Toan Ki membuka matanya, ia lihat wajah Giok-yan bersemu merah dan kemalu-maluan, seketika ia terkesima dan memandang gadis itu dengan terpesona hingga apa yang dikatakan orang Se He itu sama sekali tak masuk telinganya.

“Lekas bangunkan aku!” pinta si gadis pula.

“Ya, ya!” sahut Toan Ki, dengan gugup ia memayang bangun si gadis untuk duduk di atas sebuah bangku butut.

Setelah membetulkan baju sendiri dengan sebisanya, lalu Giok-yan menunduk sambil berpikir. Selang agak lama barulah ia membuka suara, “Ia sengaja tidak mau mengunjukkan ilmu silatnya yang asli, maka aku tidak … tidak tahu cara bagaimana agar dapat mengalahkan dia.”

“Dia terlalu lihai, bukan!” tanya Toan Ki.

“Ya, ketika dia bergebrak tadi, sekaligus ia telah mengeluarkan 17 macam gerakan ilmu silat dari aliran yang berbeda-beda,” sahut Giok-yan.

“Ha? Apa? Hanya sekejapan itu, sekaligus ia mengeluarkan 17 macam gerakan yang tidak sama?” Toan Ki menegas dengan terheran-heran.

“Ya, macam-macam kepandaian yang dia mainkan, mula-mula ia keluarkan ilmu golok dari Siau-lim-pay, lalu ada pula ilmu golok Lay-lo-han di Kwisay, serta aliran-aliran lain,” ujar Giok-yan. “Kemudian waktu ia putar punggung goloknya untuk mengetok pundakmu, gayanya adalah ‘Cu-pi-to’ ciptaan Sim-koan Hwesio di Lengpo Thian-tong-si, ilmu golok itu cuma untuk membikin musuh tak berkutik dan tidak digunakan untuk membunuh. Lalu ia ancam lehermu dengan goloknya, itu adalah tipu gerakan ilmu golok ciptaan Nyo-jinkong yang terkenal. Dan paling akhir ketika ia mendepak engkau hingga terguling, gaya itu mengambil cara bergulat orang Se He.”

Ternyata setiap gerak tipu serangan orang Se He itu telah dapat diuraikan satu per satu secara jelas oleh Giok-yan. Sebaliknya bagi Toan Ki sudah tentu penjelasan itu tiada artinya, sebab memang dia tidak paham ilmu silat.

Setelah Giok-yan memikir pula agak lama, akhirnya ia berkata, “Sudah terang engkau tak dapat melawannya, sudahlah, engkau mengaku kalah saja.”

“Memangnya sejak tadi aku sudah mengaku kalah,” sahut Toan Ki. Maka segera ia berseru kepada orang Se He itu, “Hai, betapa pun aku tidak dapat melawan kau lagi, engkau mau berdamai tidak?”

“Untuk mengampuni jiwamu juga tidak sulit, asal engkau menurut sesuatu syaratku,” sahut jago Se He itu dengan tertawa dingin.

“Apakah syaratmu itu?” tanya Toan Ki.

“Sejak kini, apabila engkau ketemu aku, harus segera merangkak di tanah dan menyembah padaku sambil meminta ‘ampun tuan’,” kata orang itu.

Sungguh gusar Toan Ki tidak kepalang, sahutnya, “Seorang laki-laki lebih baik terbunuh daripada dihina, engkau ingin aku menyembah dan minta ampun padamu, hm, jangan harap. Jika mau bunuh, silakan sekarang bunuhlah!”

“Kau benar-benar tidak takut mati?” tanya orang itu.

“Takut sih memang takut,” sahut Toan Ki, “tetapi kalau setiap kali bertemu mesti berlutut dan minta ampun padamu, lebih baik aku pilih mati saja.”

“Hm, berlutut dan minta ampun padaku, apakah hal ini merendahkan derajatmu?” jengek orang itu. “Bila suatu ketika aku menjadi raja di Tionggoan, dan kau ketemu aku, kau akan berlutut dan menyembah tidak?”

“Ketemu raja dan menyembah, hal ini adalah soal lain,” sahut Toan Ki. “Cara itu namanya memberi hormat dan bukan minta ampun.”

Mendengar jago Se He itu bicara tentang “bila suatu ketika aku menjadi raja Tionggoan” segala, hati Giok-yan terkesiap, ia heran, “Mengapa ia bicara serupa angan-angan Piaukoku?”

Dalam pada itu terdengar orang Se He itu berkata pula, “Jika begitu, jadi syaratku tak dapat kau terima?”

Toan Ki menggeleng kepala, sahutnya tegas, “Maaf, aku tak dapat menurut.”

“Baiklah, sekarang boleh kau turun, biar sekali tebas kubunuhmu,” ujar orang itu.

Toan Ki memandang sekejap pada Giok-yan dengan perasaan cemas, katanya kemudian, “Jika engkau bertekad ingin membunuh diriku, ya, apa boleh buat! Cuma ada suatu permintaanku padamu.”

“Tentang apa?” tanya orang itu.

“Nona ini keracunan aneh, badannya lemas dan tak ada tenaga hingga tidak dapat berjalan, maka harap engkau suka mengantarkannya pulang ke Man-to-san-ceng di tepi Thay-oh sana,” pinta Toan Ki.

“Haha, guna apa aku mesti berbuat begitu?” seru orang itu dengan tertawa. “Telah ada perintah dari Ciangkun kami, barang siapa dapat menangkap si gadis cendekia ini akan diberi hadiah emas murni seribu tahil dan diberi pangkat menteri.”

“Jika engkau kemaruk harta dan pangkat, baiklah begini saja, aku akan menulis sepucuk surat, sesudah kau antar pulang nona ini, engkau boleh membawa suratku ke negeri Tayli untuk menerima lima ribu tahil emas, tentang pangkat menteri juga tetap diberikan padamu,” ujar Toan Ki.

“Hahaha, apa kau anggap aku anak umur tiga, ya?” sahut orang itu dengan terbahak. “Kau ini kutu macam apa hingga melulu sepucuk suratmu lantas aku dapat menerima ribu tahil emas dan diberi pangkat?”

Toan Ki tahu orang tidak percaya omongannya, seketika ia menjadi tidak berdaya lagi, katanya, “Habis, apa yang dapat kulakukan? Kematianku tidak perlu dibuat sayang, tapi kalau Siocia telantar di sini dan jatuh di bawah cengkeraman musuh, bukankah dosaku tak terampunkan?”

Giok-yan terharu mendengar kata-kata Toan Ki yang tulus itu, segera ia berseru pada jago Se He itu, “Hai, jika kau berani kurang ajar padaku, tentu Piaukoku akan membalaskan sakit hatiku, negeri Se He kalian pasti akan diubrak-abrik habis-habisan olehnya.”

“Siapakah gerangan Piaukomu?” tanya orang itu.

“Piaukoku adalah Buyung-kongcu yang namanya mengguncangkan dunia persilatan Tionggoan, nama ‘Koh-soh Buyung-si’ tentu pernah kau dengar juga,” demikian sahut Giok-yan. “Dan bila engkau tidak suka ‘Ih-pi-ci-to, hoan-si-pi-sin’ baiknya engkau jangan mengganggu aku, kalau engkau berbuat sesuatu yang tidak baik padaku, Piaukoku tentu akan membalas engkau dengan sepuluh kali lebih jahat.”

“Hm, Buyung-kongcu dari Koh-soh hanya seorang bocah ingusan yang masih berbau pupuk, namanya cuma nama kosong belaka, kepandaian sejati apa yang dia miliki?” ejek orang itu. “Andaikan dia tidak datang mencariku, memang sudah lama juga aku ingin mencarinya untuk menjajalnya.”

“Engkau sekali-kali bukan tandingan Piaukoku, maka aku nasihatkan padamu lebih baik pulang kandang ke negerimu saja,” ujar Giok-yan. “Pula, bila jiwa Toan-kongcu ini diganggu olehmu, pasti aku akan minta Piauko menuntut balas padamu. Sebab Toan-kongcu sendiri sebenarnya dapat meloloskan diri, tapi demi untuk melindungi aku, maka ia ikut terkurung di sini. Eh, tuan besar, siapakah namamu yang mulia? Beranikah kau beri tahukan padaku?”

“Kenapa tidak berani? Li Yan-cong, inilah namaku,” sahut orang itu.

“O, jadi engkau she Li, itu kan nama keluarga kerajaan Se He?” Giok-yan menegas.

“Ya, tidak hanya nama keluarga kerajaan, bahkan setia membela negara dan siap berbakti bagi tanah air. Negara Song akan kami hancurkan, Liau akan kami caplok, ke barat membasmi Turfan, ke selatan meratakan Tayli,” kata orang yang bernama Li Yan-cong itu.

“Haha, cita-citamu ternyata setinggi bintang di langit,” seru Toan Ki. “Wahai Li Yan-cong, biarlah kukatakan terus terang padamu, bahwasanya engkau mahir berbagai macam ilmu silat dari setiap aliran, kalau hendak menjadikan ilmu silatmu nomor satu di jagat ini mungkin tidak sulit, tapi kalau engkau bercita-cita menyatakan dunia di bawah kekuasaanmu, hal ini rasanya takkan terjadi bila melulu mengandalkan ilmu silat nomor satu di dunia ini.”

“Hendak menjadikan ilmu silatmu nomor satu di dunia juga engkau tidak mungkin mampu,” tukas Giok-yan.

“Apa yang menjadi dasar pendapatmu? Coba memberi penjelasan,” tanya Li Yan-cong.

“Pada zaman ini, kalau menurut penglihatanku, paling sedikit sudah ada dua orang yang berilmu lebih tinggi daripadamu,” sahut Giok-yan,

“Siapa kedua orang itu? tanya Li Yan-cong sambil melangkah maju setindak dan menengadah.

“Pertama, ialah Kiau Hong, Kiau-pangcu dari Kay-pang,” kata Giok-yan.

“Hm, meski terkenal namanya, belum tentu sesuai dengan kenyataannya,” jengek Li Yan-cong. “Dan siapa lagi yang kedua itu?”

“Orang kedua adalah Piaukoku. Buyung Hok, Buyung-kongcu dari Koh-soh,” sahut si gadis.

“Huh, juga belum tentu benar,” kata Li Yan-cong sambil geleng kepala. “Kau sengaja menyebut nama Kiau Hong di depan Buyung Hok, hal ini demi kepentingan pribadimu atau demi kepentingan umum?”

“Kepentingan umum dan pribadi apa maksudmu? tanya Giok-yan.

“Jika demi kepentingan umum, tentu dasarnya karena kau anggap ilmu silat Kiau Hong memang berada di atas Buyung Hok,” sahut Li Yan-cong. “Dan bila demi kepentingan pribadi, tentu disebabkan Buyung Hok itu ada hubungan famili denganmu, maka kau biarkan nama orang luar di depan nama orang sendiri.”

Untuk sejenak Giok-yan berpikir, lalu jawabnya, “Demi kepentingan umum atau pribadi kan sama saja. Sudah tentu kuharap ilmu silat Piaukoku bisa lebih tinggi daripada Kiau-pangcu, tapi pada saat ini belum dapat.”

“Sekarang belum dapat? Hm, jadi maksudmu bila ilmu silat Piaukomu setiap hari dapat maju dengan pesat, kelak pasti akan menjadi jago nomor satu di dunia ini?” jengek Li Yan-cong.

“Ai, itu pun belum pasti,” sahut Giok-yan sambil menghela napas. “Sampai akhirnya kelak, mungkin jago silat nomor satu di dunia ini tak-lain-tak-bukan adalah Toan-kongcu inilah.”

“Hahaha, benar-benar pandai berkelakar,” seru Li Yan-cong sambil tertawa. “Pelajar tolol ini hanya mendapat petunjukmu hingga dapat memainkan ‘Leng-po-wi-poh’ sehingga jiwanya untuk sementara dapat selamat, tapi dengan kepandaian angkat langkah seribu dan lari terbirit-birit itu masakah dapat disebut sebagai jago silat nomor satu di dunia?”

Sebenarnya Giok-yan bermaksud menjelaskan bahwa Leng-po-wi-poh itu bukan dia yang mengajarkan, hanya lwekang Toan Ki memang hebat luar biasa. Tapi demi dipikir pula bahwa musuh mungkin berjiwa sempit, bila mengetahui rahasia itu, bukan mustahil Toan Ki akan dibunuhnya. Maka segera ia berkata, “Jika dia mau menurut petunjukku dan belajar tiga tahun, sesudah itu untuk menjadi jago nomor satu di dunia ini mungkin belum cukup, namun untuk mengalahkanmu dapat dipastikan semudah membalik telapak tangan sendiri.”

“Jika begitu, baiklah, aku percaya omonganmu, dan daripada menanam bibit bencana, lebih baik sekarang kubasmi dulu. Nah, Toan-kongcu, silakan turun, aku akan membunuhmu saja,” demikian kata Li Yan-cong.

Keruan Giok-yan kaget, sungguh di luar dugaan bahwa bandingannya justru membikin urusan menjadi runyam malah, terpaksa ia berkata pula dengan tertawa dingin, “Huh, kiranya engkau sudah jeri lebih dulu, sebab khawatir tiga tahun lagi engkau tak mampu menangkan dia.”

“Hehe, kau sengaja mengumpak aku dengan kata-kata pancingan, masakah orang she Li ini mudah tertipu?” jengek Li Yan-cong. “Sudahlah, pendek kata, ingin minta aku mengampuni jiwanya juga boleh, asal seperti kataku tadi, setiap kali bertemu dengan aku dia harus berlutut dan minta ampun, dengan demikian pasti aku tidak akan membunuhmu.”

Giok-yan tidak bersuara lagi, ia pandang Toan Ki, ia pikir tidak mungkin pemuda itu sudi berlutut dan minta ampun. Jalan paling baik sekarang biar coba melawan dengan mati-matian. Maka segera ia berbisik, “Toan-kongcu, kiam-gi (hawa pedang) pada jarimu itu mengapa adakalanya manjur, tapi terkadang macet, apa sebabnya?”

“Entahlah, aku sendiri pun tidak tahu,” sahut Toan Ki.

“Paling baik kau coba sekali lagi sekuat tenaga,” ujar si nona. “Engkau boleh menusuk pergelangan tangan orang she Li itu dengan hawa pedang, lebih dulu rampas senjatanya, kemudian dekap dia sekencang-kencangnya untuk mengadu jiwa dengan dia. Tempo hari waktu di Man-to-san-ceng, secara mudah Peng-mama dapat kau taklukkan, sekarang bolehlah kau gunakan cara yang sama.”

Kiranya Giok-yan tahu tidak mungkin dalam waktu sesingkat Toan Ki dapat diberi petunjuk cara mengalahkan Li Yan-cong yang lihai itu. Tapi ia ingat cara Toan Ki menaklukkan Peng-mama tempo hari, yaitu dengan semacam tenaga sakti yang dapat menyedot hawa murni lawan, asal pemuda itu dapat menyikap Li Yan-cong, tentu ilmu sakti itu dapat dipakai menyedot tenaga lawan.

Begitulah Toan Ki lantas mengangguk tanda setuju, memang kecuali cara itu ia pun tidak berdaya lain, biarpun risiko celaka lebih besar daripada selamatnya, namun terpaksa ia harus mencobanya juga.

Maka sesudah membetulkan baju sendiri, segera Toan Ki berkata dengan tertawa, “Nona Ong, sungguh aku harus malu karena tak becus melindungi nona. Bila nanti nona dapat lolos dengan selamat dan kelak menikah dengan Piaukomu, harap jangan lupa menyiram beberapa tetes arak pada tangkai bunga kamelia yang kutanam di Man-to-san-ceng itu dan anggaplah aku yang telak minum arak bahagiamu.”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: