Pendekar Kerajaan Tayli ~ Jilid 28

Mendengar pemuda itu berdoa agar dirinya menikah dengan sang piauko, Giok-yan sangat senang, ia menjadi tidak tega pula menyaksikan pemuda baik hati itu akan dibunuh orang, maka dengan sedih ia berkata, “Toan-kongcu, budi pertolonganmu, aku Ong Giok-yan takkan lupa untuk selamanya.”

Sebaliknya Toan Ki memang sudah nekat, ia pikir daripada nanti menyaksikan engkau dipersunting piaukomu, lebih baik sekarang juga aku mati di hadapanmu saja. Maka perlahan ia mulai melangkah ke bawah loteng, sebelum itu ia masih sempat menoleh sekejap dan tersenyum kepada Giok-yan.

Diam-diam gadis itu merasa heran, sebentar lagi jiwanya akan melayang, tapi pemuda itu masih bisa tertawa.

Setelah berada di lantai bawah, Toan Ki melotot kepada Li Yan-cong dan menegur, “Nah, aku sudah turun sekarang. Li-ciangkun, katanya engkau sudah pasti akan membunuh aku, silakan turun tangan. Lekas!”

Sambil berkata ia terus melangkah maju pula, langkahnya itu bukan lain adalah “Leng-po-wi-poh”.

Tanpa bicara lagi segera Li Yan-cong putar goloknya dan membacok tiga kali beruntun-runtun. Setiap kali tidak sama ilmu goloknya. Tapi langkah Toan Ki itu benar-benar ajaib dan aneh sekali perubahannya, beberapa kali Li Yan-cong hendak mengurungnya dengan tipu ilmu goloknya yang berganti-ganti itu, tapi entah mengapa pemuda itu dapat lolos keluar.

Melihat sekali ini Toan Ki dapat bertahan dengan baik, diam-diam Giok-yan merasa lega, ia harap pemuda itu mendadak dapat mengeluarkan serangan aneh untuk merobohkan lawannya.

Diam-diam Toan Ki juga sedang berusaha mengerahkan tenaga dalam dengan maksud menyalurkan ke ujung jari, tapi hawa murni itu selalu mogok di tengah jalan, kalau sampai tangan entah mengapa lantas menyurut kembali. Maklum, ia memang tidak pernah belajar silat sehingga tidak mudah melancarkan hawa murni.

Untunglah “Leng-po-wi-poh” cukup hebat, pula sudah sangat hafal, betapa pun cepat Li Yan-cong menyerang, selalu luput mengenai sasarannya.

Tadi Li Yan-cong sendiri sudah menyaksikan cara Toan Ki membinasakan jago-jago Se He, kini melihat pemuda itu bertuding-tuding pula entah sedang main sulap apa, diam-diam ia merinding jangan-jangan pemuda itu mahir ilmu sihir. Segera ia ambil keputusan harus berusaha membunuhnya lebih dulu sebelum pemuda itu sempat mengeluarkan ilmu sihirnya. Tapi apa daya, serangan selalu mengenai tempat kosong.

Dasar pikiran Li Yan-cong memang cerdas, dengan cepat ia mendapat akal, mendadak ia membalik tangan dan menghantam roda air hingga sayap roda sempal, segera ia sambar sempalan kayu terus dilemparkan ke kaki Toan Ki.

Tapi langkah pemuda itu cepat sekali, sudah tentu timpukan itu tidak kena. Namun Li Yan-cong terus menghantam dan memukul serabutan hingga segala alat perabot di dalam ruangan seperti tenggok, tampah, dan sebagainya berjungkir balik tersampuk ke tepi kaki Toan Ki.

Ruangan itu memang sudah penuh menggeletak belasan mayat, ditambah lagi alat-alat perabot itu, sudah tentu tiada tempat luang lagi bagi kaki Toan Ki, setiap tindakannya tentu tersenggol atau kesandung sesuatu benda di lantai itu.

Namun Toan Ki tahu keadaan sangat berbahaya, bila lambat sedikit saja langkahnya pasti jiwa bisa melayang. Maka ia menjadi nekat, ia tidak memandang ke lantai dan tetap menurutkan ilmu langkah ajaib itu, tetap mengisar kian kemari dengan cepat walaupun terkadang mesti naik-turun karena kakinya menginjak sesuatu, entah mayat, entah bakul, dan entah apa lagi, semuanya tak dipedulikannya.

Rupanya Giok-yan juga tahu gelagat jelek, segera ia berseru, “Toan-kongcu, lekas lari keluar pintu dan menyelamatkan diri sendiri saja, kalau melawan lebih lama lagi tentu jiwamu berbahaya.”

“Biarlah, kecuali dia dapat membunuh aku, kalau tidak, asal aku masih bisa bernapas, pasti akan kubela keselamatan nona,” sahut Toan Ki.

“Hm, kau tidak becus ilmu silat, tapi ternyata seorang sok baik hati dan berbudi, begitu mendalam kasih sayangmu kepada nona Ong, ha?” ejek Li Yan-cong.

“Bukan, bukan!” demikian Toan Ki menirukan lagu Pau-samsiansing. “Nona Ong adalah manusia dewata, sebaliknya aku cuma seorang biasa saja, mana aku berani bicara tentang kasih dan budi? Soalnya Nona Ong mau menghargai aku dan sudi ikut aku keluar untuk mencari piaukonya, dengan sendirinya aku harus membalas penghargaannya kepadaku ini.”

“O, jadi dia ikut kau keluar dengan tujuan ingin mencari piaukonya si Buyung-kongcu, jika begitu, hakikatnya dalam hatinya tidak pernah terlintas orang macammu ini, tapi kau sendiri yang melamun seperti katak buduk mengimpikan bidadari! Haha, hahaha! Sungguh menggelikan!”

Tapi Toan Ki tidak gusar, sebaliknya menjawab dengan sungguh-sungguh, “Perumpamaan itu memang sangat tepat. Ong-kohnio memang benar laksana bidadari. Cuma katak buduk seperti aku ini juga lain daripada yang lain, asal dapat memandang beberapa kejap kepada sang bidadari rasanya sudah puas dan tiada pikiran lain lagi.”

Mendengar pemuda itu mengaku dirinya seperti katak buduk yang lain daripada yang lain, Li Yan-cong bertambah geli hingga tertawa terbahak-bahak. Anehnya, biarpun begitu keras ia tertawa, tapi kulit daging air mukanya itu tetap kaku tanpa perasaan.

Toan Ki sudah pernah melihat orang aneh seperti Yan-king Taycu, tanpa gerak bibir, tapi bisa bicara. Maka air muka Li Yan-cong yang aneh itu tidak membuatnya heran. Katanya malah, “Kalau bicara tentang air muka kaku tanpa perasaan, kau masih selisih jauh kalau dibandingkan Yan-king Taycu, untuk menjadi muridnya mungkin juga belum sesuai.”

“Siapa itu Yan-king Taycu? Tidak pernah kudengar,” tanya Li Yan-cong.

“Dia adalah tokoh terkemuka negeri Tayli, ilmu silatmu jauh di bawahnya,” sahut Toan Ki.

Padahal mengenai tinggi-rendahnya ilmu silat orang lain, hakikatnya sama sekali Toan Ki tak dapat membedakan, tapi ia sengaja mengucapkan kata-kata yang menilai rendah lawannya, ia pikir daripada mati konyol, paling tidak aku sudah balas mengolok-olok lebih dulu.

Maka Li Yan-cong menjengek, “Hm, betapa tinggi atau rendah ilmu silatku, masakah bocah seperti dirimu mampu menjajaki?”

Sembari berkata, ia putar goloknya semakin kencang.

Sudah tentu sejak semula Toan Ki tidak tahu betapa tinggi kepandaian lawan itu. Tapi bagi Giok-yan, semakin dilihat semakin khawatir. Pikir gadis itu, “Kepintaran orang ini boleh dikatakan sangat luas dan hampir memadai kepintaranku, apalagi lwekangnya sangat tinggi pula, sungguh tidak nyana di negeri Se He terdapat seorang tokoh pilihan seperti ini dan aku justru kepergok di sini, sedangkan Piauko tiada di sini hingga tidak ada yang mampu melindungi keselamatanku, hanya seorang pelajar tolol yang terus main kucing-kucingan dengan dia. Ai, nasibku benar-benar teramat buruk.”

Pada saat lain, ketika dilihatnya Toan Ki agak sempoyongan, keadaan cukup berbahaya, tanpa terasa timbul juga rasa kasih sayangnya, segera ia berseru, “Toan-kongcu, lekas lari keluar pintu, bertempur di luar sana juga boleh.”

“Tidak,” sahut Toan Ki, “engkau tak dapat bergerak, kalau tinggal sendirian di sini, betapa pun aku merasa khawatir. Apalagi, mayat berserakan sekian banyak di sini, tentu engkau akan merasa seram, maka lebih baik aku tinggal di sini untuk mengawanimu saja.”

Diam-diam Giok-yan tidak habis gegetun akan ketolol-tololan pemuda pelajar itu, mana jiwa sendiri terancam maut masih dapat pusingkan orang lain takut pada mayat segala.

Dalam pada itu beberapa kali Toan Ki kesandung dan keserimpet, golok musuh terkadang menyambar lewat di atas kepalanya, cuma selisih satu-dua senti jauhnya, keruan pemuda itu ketakutan setengah mati, berulang timbul pikiran, “Wah, celaka, kalau buah kepalaku ini tertebas separuh, tentu aku tak bisa hidup lagi. Seorang laki-laki harus bisa mulur-mengkeret, berani menang dan berani kalah, demi nona Ong, biarlah aku berlutut dan minta ampun padanya saja.”

Namun demikian pikirnya, toh tetap enggan diucapkannya.

“Hm, kulihat engkau pasti ketakutan setengah mati dan ingin lari terbirit-birit,” demikian Li Yan-cong mengejek.

“Mati adalah urusan mahapenting setiap orang, siapa yang tidak takut mati?” sahut Toan Ki. “Tentang lari sih memang ada maksudku, namun aku tak dapat melarikan diri.”

“Sebab apa?” tanya Yan-cong.

“Sudahlah, tidak perlu banyak omong,” ujar Toan Ki. “Akan kuhitung satu sampai sepuluh, bila engkau tak dapat membunuh aku, terpaksa aku tak mau mengiringimu lagi.”

Dan tanpa menunggu jawaban apakah Li Yan-cong setuju atau tidak, terus saja ia mulai menghitung, “Satu, dua, tiga ….”

“Apa kau sudah gila?” ujar Li Yan-cong.

Tapi Toan Ki masih terus menghitung, “Empat, lima, enam ….”

“Hahaha, masakah di dunia ini ada orang tolol semacam kau, sungguh bikin malu kaum persilatan saja,” seru Li Yan-cong dengan terbahak-bahak. Berbareng goloknya susul-menyusul membabat ke kanan dan menebas ke kiri.

Namun dengan cepat Toan Ki menggeser kian kemari sambil mulut menghitung makin cepat mengikuti gaya serangan lawan, “Tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, sebelas, tiga belas … sudah, sudah, sudah lebih dari sepuluh kali dan kau tetap tidak mampu membunuh aku, huh, engkau sungguh tidak kenal malu, masakah tidak mau mengaku kalah, ha?”

Sungguh geli dan mendongkol Li Yan-cong melihat kelakuan Toan Ki itu. Dikatakan tolol, toh pemuda itu tidak tolol, bilang dia pintar, nyatanya juga tidak pintar, benar-benar seorang aneh yang tidak pernah diketemukannya. Kalau sampai terlibat lebih lama, entah bagaimana akhirnya nanti, jangan-jangan sedikit lengah awak sendiri akan terjungkal malah di bawah ilmu sihirnya, demikian pikiran Yan-cong.

Dasar dia memang seorang yang sangat cerdik, ia tahu Toan Ki sangat memerhatikan keselamatan Giok-yan, tiba-tiba ia mendapat akal, ia mendongak ke atas loteng dan berteriak, “Hah, bagus, boleh kalian bunuh dulu nona itu, lalu turun kemari dan membantu padaku!”

Keruan Toan Ki kaget, disangkanya benar-benar ada musuh naik ke atas loteng dan jiwa Giok-yan sedang terancam. tanpa pikir lagi ia terus menengadah ke loteng. Dan karena sedikit meleng itulah, kesempatan itu digunakan Li Yan-cong untuk mengayun kakinya, sekali tendang ia bikin Toan Ki terjungkal, menyusul goloknya lantas mengancam leher pemuda itu sambil sebelah kaki menginjak pada dadanya.

Toan Ki masih bermaksud angkat jarinya untuk menutuk, tapi sedikit Li Yan-cong tahan goloknya, segera mata golok melekuk beberapa mili ke leher Toan Ki.

“Jangan bergerak, sekali bergerak, segera kupotong kepalamu!” ancam Yan-cong.

Dalam pada itu Toan Ki telah melihat jelas bahwa di atas loteng sebenarnya tiada musuh. Hatinya menjadi lega, katanya dengan tertawa, “Ah, kiranya engkau cuma menggertak saja!”

Menyusul ia menyambung pula dengan gegetun, “Ai, sayang, sungguh sayang!”

“Sayang apa?” tanya Li Yan-cong.

“Jika aku mati di tangan jago silat kelas satu seperti dirimu, sebenarnya masih cukup berharga bagiku,” sahut Toan Ki. “Siapa nyana engkau tidak mampu menangkan aku dengan ilmu silat, lalu main licik dan menipu, perbuatan rendah dan memalukan ini sungguh membikin aku mati penasaran.”

“Jika kau merasa penasaran, nanti boleh kau mengadu pada Giam-lo-ong (raja akhirat) saja,” ujar Yan-cong.

“Tahan dulu, Li-ciangkun,” tiba-tiba Giok-yan berseru.

“Ada apa?” tanya Li Yan-cong.

“Jika engkau membunuh dia, kecuali aku dibunuh pula, kalau tidak, pada suatu hari aku pasti akan membunuhmu juga untuk membalas sakit hati Toan-kongcu,” kata Giok-yan.

Li Yan-cong melengak. “Bukankah engkau telah mengatakan piaukomu yang akan membunuh aku?” tanyanya.

“Ilmu silat piaukoku belum tentu bisa menangkan engkau, sebaliknya aku pasti dapat,” sahut Giok-yan.

“Hm, apa dasar perhitunganmu?” jengek Yan-cong.

“Sudah sekian banyak tipu seranganmu, tapi ternyata juga cuma sekian saja, terang apa yang kau ketahui dan pelajari belum ada separuhnya dari apa yang kuketahui,” demikian sahut si gadis. “Buktinya caramu menyerang Toan-kongcu sudah banyak lubang kelemahannya, menurut perhitunganku, dengan mudah mestinya Toan-kongcu dapat kau bunuh, tapi ilmu golok yang kau keluarkan selalu salah. Padahal ada juga ilmu golok dari kalangan To-kau (agama Tao) yang dapat kau gunakan. Tapi nyatanya engkau tidak tahu atau mungkin sama sekali asing dalam hal ilmu silat golongan To-kau.”

“Huh, sombong benar kau,” sahut Li Yan-cong dengan ragu. “Engkau bersedia membalaskan sakit hati Toan-kongcu, apakah karena cintamu kepadanya sudah terlalu mendalam?”

Muka Giok-yan menjadi merah, sahutnya, “Mendalam apa? Hakikatnya tiada istilah cinta antara diriku dengan dia. Soalnya karena dia mati untukku, dengan sendirinya aku harus membalaskan sakit hatinya.”

Ternyata Li Yan-cong tidak menjawabnya lagi, tapi hanya tertawa dingin, tiba-tiba ia merogoh keluar sebuah botol porselen kecil dan dilemparkan ke atas badan Toan Ki, lalu ia simpan kembali goloknya, sekali lompat, cepat ia melompat keluar pintu. Maka terdengarlah suara kuda meringkik, menyusul kuda dilarikan, makin lama makin jauh.

Segera Toan Ki merangkak bangun, ia meraba lehernya yang masih kesakitan bekas diancam golok musuh tadi, ia merasa seperti habis sadar dari mimpi buruk saja. Begitu pula Giok-yan juga tidak menduga akan kejadian itu, untuk sejenak mereka hanya saling pandang dengan bingung dan bergirang pula.

“He, dia sudah pergi,” kata Toan Ki selang sekian lama dan dibalas Giok-yan dengan mengangguk.

“Bagus, bagus! Ternyata aku tidak jadi dibunuh olehnya!” seru Toan Ki pula. “Nona Ong, nyata pengetahuan ilmu silatmu jauh di atasnya, makanya dia jeri padamu.”

“Bukan begitu soalnya, kalau tadi dia membunuhmu, lalu aku pun dibunuhnya pula, bukankah segala urusan sudah beres?” ujar Giok-yan.

“Ehm, benar juga,” kata Toan Ki sambil garuk-garuk kepala dengan bingung. “Tapi, tapi … mungkin dia kesengsem kepada kecantikanmu bagai bidadari, makanya tidak berani membunuh engkau.”

Diam-Diam Giok-yan geli karena pelajar tolol itu memandangnya seakan-akan bidadari dari kahyangan, tapi senang juga hatinya oleh pujian itu.

Melihat gadis itu tidak bersuara, air mukanya merah jengah, keruan Toan Ki kegirangan dan melangkah maju. Tiba-tiba terdengar suara nyaring jatuhnya sesuatu benda, kiranya botol porselen yang ditinggalkan Li Yan-cong tadi.

Cepat Toan Ki pungut botol itu, ia lihat di atas botol itu tertulis keterangan: “Bila terkena kabut wangi bunga merah, ciumlah botol ini dan segera punah.”

Sungguh girang Toan Ki tidak kepalang, serunya segera, “He, inilah obat penawarnya, inilah obat penawar!”

Dan segera ia membuka tutup botol itu dan menciumnya, tapi seketika kepalanya pusing dan mata berkunang-kunang, hampir saja ia jatuh kelengar oleh bau bacin isi botol itu. Cepat ia tutup kembali botol itu dan berteriak-teriak, “Wah, tertipu! Baunya tidak kepalang!”

“Coba kulihat, boleh jadi racun menyerang racun akan membawa khasiat di luar dugaan,” ujar Giok-yan.

Segera Toan Ki mengangsurkan botol itu dan berkata, “Tapi baunya terlalu bacin, apakah engkau tahan?”

“Biarlah kucoba dulu,” ujar si gadis.

Toan Ki mengiakan dan membuka tutup botol itu serta diangkat ke depan hidung si nona. Ketika Giok-yan mencium sekali isi botol itu, seketika berteriak, “Ai, benar-benar sangat bacin.”

“Nah, kau percaya sekarang?” ujar Toan Ki. “Boleh coba mengendus sekali lagi jika engkau masih tidak percaya.”

Namun Giok-yan rupanya sudah kapok, ia melengos sambil pencet hidung dan berkata, “Ai, bacinnya tidak hilang-hilang, biar bagaimanapun aku tidak mau lagi mencium barang bau begini, ha … tanganku … tanganku sudah dapat bergerak!”

Demikian teriaknya ketika tanpa terasa ia dapat mengangkat tangannya untuk memegang hidung sendiri. Padahal sebesar itu, untuk membetulkan baju saja rasanya tidak kuat.

Saking girangnya terus saja ia rebut botol itu dari tangan Toan Ki dan menciumnya berulang-ulang dengan keras-keras, sekarang ia tidak takut bau bacin lagi, ia tahu semakin busuk bau obat itu, semakin manjur pula khasiatnya.

Maka sebentar saja badan yang tadinya lemas lunglai telah pulih kembali. Lalu katanya kepada Toan Ki, “Turunlah kau, aku hendak ganti pakaian.”

Toan Ki mengiakan dan cepat melangkah turun ke bawah loteng. Ketika dilihatnya mayat bergelimpangan memenuhi ruangan, tanpa terasa timbul rasa menyesalnya. Dengan kesima ia berdiri terpaku di situ.

Setelah salin baju, perlahan Giok-yan turun juga ke bawah. Ia heran melihat Toan Ki berdiri termangu-mangu di situ, segera tegurnya, “He, apa yang sedang kau pikirkan?”

“Aku merasa menyesal dan terharu karena telah membunuh orang sebanyak ini,” sahut Toan Ki.

“Toan-kongcu, menurut pendapatmu, sebab apa jago Se He she Li itu memberikan obat penawar ini kepadaku?” tanya Giok-yan tiba-tiba.

“Tentang ini … ini aku tidak tahu … ah, tahulah aku, sebab … sebab … ehm, entahlah ….” sebenarnya Toan Ki hendak berkata, “sebab dia suka padamu”, tapi urung diucapkannya.

“Toan-kongcu,” kata Giok-yan pula, “tempat ini masih berbahaya, kita harus lekas pergi dari sini. Tapi kita harus pergi ke mana?”

Meski nona itu serbatahu mengenai segala aliran ilmu silat, tapi pengalamannya di luar rumah sedikit pun tidak punya. Sebenarnya ia sangat ingin pergi mencari sang piauko, cuma tidak enak untuk berkata terus terang.

Sebaliknya Toan Ki meski seorang Su-tay-cu (pelajar tolol), tapi ia cukup paham apa yang dipikirkan si gadis. Maka sengaja balas tanya, “Habis kau ingin pergi ke mana?”

“Aku … aku ….” sahut Giok-yan dengan muka merah sambil memainkan botol porselen yang masih dipegangnya itu, dan sejenak kemudian baru ia menyambung, “Kukira para pahlawan dan kesatria Kay-pang juga terkena racun ‘Ang-hoa-hiang-hu’ (kabut wangi bunga merah), kalau piaukoku berada di sini, dia tentu dapat membantu membawakan obat penawar ini kepada mereka. Pula A Cu dan A Pik mungkin juga tertawan musuh, maka … maka ….”

Sebenarnya ia hendak mengajak Toan Ki mencari piauko dulu, kemudian mencari akal untuk menolong mereka.

Siapa duga Toan Ki terus berjingkrak sambil berseru, “Hai, benar, nona A Cu dan A Pik ada kesulitan, kita harus lekas-lekas menolong mereka!”

Walaupun agak kecewa karena bukan itu yang dipikirkan, namun terpaksa Giok-yan mengiakan.

“Dan bagaimana dengan mayat sebanyak ini, apakah tidak perlu aku mengubur mereka dahulu?” tanya Toan Ki.

“Kenapa mesti susah-susah, nyalakan api dan bakar saja rumah ini, kan beres segalanya?” ujar si gadis.

“Tapi … tapi ….” sebenarnya Toan Ki tidak tega, apalagi mesti mengorbankan rumah gilingan penduduk itu. Namun jalan lain memang tiada lagi, terpaksa ia membuat lelatu api dan menyalakan rumput jerami yang ada di situ.

Sambil menyalakan api, Toan Ki berkomat-kamit memanjatkan doa agar arwah para korban itu lekas naik ke surga. Habis itu ia mencemplak kudanya dua dilarikan pergi bersama Giok-yan. Sayup-sayup dari jauh terdengar suara gembreng bertalu-talu dan riuh ramai berisik suara orang-orang. Mungkin petani di sekitar rumah gilingan itu beramai-ramai sedang berusaha memadamkan kebakaran.

“Sungguh aku menyesal harus membakar rumah gilingan orang,” kata Toan Ki sambil melarikan kudanya.

“Kau ini memang suka omong bertele-tele,” ujar Giok-yan. “Seorang laki-laki seperti dirimu masakah kalah daripada wanita seperti ibuku yang setiap tindak tanduknya selalu tegas dan cepat.”

Diam-diam Toan Ki tidak dapat menerima perbandingan itu, ia pikir ibumu sedikit-sedikit suka membunuh orang, daging manusia dijadikan rabuk, mana aku sudi dipersamakan dengan dia. Tapi ia lantas menjawab, “Karena baru pertama kali ini aku membunuh orang dan membakar rumah, dengan sendirinya hatiku tidak tenteram.”

“Benar juga alasanmu,” ujar Giok-yan. “Kelak kalau sudah biasa, tentu kau takkan merasakannya lagi.”

“He, mana boleh, mana boleh!” seru Toan Ki berulang-ulang sambil goyang-goyang kedua tangannya. “Berbuat sekali saja berdosa, mana boleh diulangi lagi? Tentang membunuh orang dan membakar rumah, sebaiknya jangan dibicarakan pula.”

Giok-yan berpaling dengan rasa heran ke arah pemuda di sebelahnya itu, katanya pula, “Bagi orang Kangouw, membunuh dan dibunuh adalah soal biasa. Jika engkau takut, mengapa engkau tidak cuci tangan dan jangan berkecimpung lagi di dunia Kangouw?

“Ai, urusan ini memang susah dikatakan,” ujar Toan Ki. “Ayah dan paman memaksa aku belajar silat dan aku tetap tidak mau. Siapa duga dalam keadaan terpaksa, akhirnya aku kebentur pada kenyataan begini. Sungguh aku tidak tahu bagaimana baiknya?”

“Apakah cita-citamu adalah giat belajar sastra untuk kelak akan menjadi pembesar atau menteri, bukan?” tanya Giok-yan dengan tersenyum.

“Bukan, menjadi pembesar juga tiada artinya bagiku,” sahut si pemuda.

“Habis, apa cita-citamu?” tanya si gadis. “Masakah engkau juga seperti piaukoku yang setiap hari mengimpikan menjadi Hongte (kaisar)?”

“Ha, Buyung-kongcu ingin menjadi Hongte?” tanya Toan Ki dengan heran.

Muka si gadis menjadi merah karena tanpa sengaja telah membocorkan rahasia sang piauko. Cepat ia menjawab, “Ah, aku cuma bergurau saja, tapi sekali-kali engkau jangan katakan kepada orang lain, lebih-lebih jangan membicarakan hal ini di depan piaukoku, sebab aku pasti akan didamprat habis-habisan olehnya.”

Kembali hati Toan Ki tertusuk oleh sikap si gadis yang begitu kesengsem kepada sang piauko itu. Tapi terpaksa ia menjawab, “Baiklah, tidak nanti aku ikut campur urusan tetek bengek piaukomu itu. Apakah dia menjadi Hongte atau akan menjadi pengemis, semuanya aku tidak peduli.”

Lagi maka Giok-yan marah jengah, ia dengar nada ucapan Toan Ki itu agak kurang senang, segera ia tanya dengan suara lembut, “Toan-kongcu, apakah engkau marah padaku?”

Selama berkenalan dengan gadis itu, yang selalu dipikir dan dikatakan melulu Buyung-kongcu seorang, tapi sekali ini dia bicara secara halus dan mesra padanya, keruan Toan Ki kegirangan, saking senangnya, hampir ia terperosot dari pelana kuda. Lekas ia betulkan duduknya dan menjawab dengan tertawa, “O, tidak, tidak, kenapa aku mesti marah? Nona Ong, selama hidup ini aku pasti takkan marah padamu.”

Antero cinta-kasih Giok-yan memang cuma tercurahkan kepada Buyung-kongcu seorang, meski tanpa menghiraukan jiwa sendiri Toan Ki telah menolongnya, tapi tidak pernah terlintas dalam benaknya bahwa perbuatan pemuda itu disebabkan jatuh cinta padanya, ia sangka pemuda itu terlalu jujur dan tulus, berhati bajik, dan berjiwa kesatria, maka menolongnya seperti halnya Toan Ki juga akan menolong orang lain.

Tapi kini demi mendengar pernyataan yang serius dan penuh ikhlas bagai bersumpah itu, barulah Giok-yan sadar, “He, jangan-jangan dia … dia mencintai diriku?”

Berpikir demikian, ia menjadi malu dan menunduk.

Dalam senangnya Toan Ki menjadi bingung apa yang harus dikatakan lagi. Pikirnya, “Aku adalah putra pangeran kerajaan Tayli, paman baginda tidak punya putra, akhirnya pasti aku yang akan menggantikan takhtanya. Tapi takhta kerajaan saja aku tidak kepingin, masakah mencita-citakan menjadi menteri apa segala seperti sangkanya tadi?”

Segera agak lama, dapatlah ia membuka suara pula, “Aku tidak mempunyai cita-cita apa-apa. Yang kuharap, bila selamanya bisa seperti saat ini maka puaslah hatiku.”

Apa yang dia maksudkan “seperti saat ini” adalah agar senantiasa dapat berdampingan dengan si nona.

Sudah tentu Giok-yan paham maksud itu, tapi ia tidak suka pemuda itu mengemukakan hal itu lagi, dengan air muka rada masam ia menjawab dengan sungguh-sungguh, “Toan-kongcu, budi pertolonganmu ini, betapa pun Giok-yan takkan melupakannya. Tetapi hatiku sudah … sudah lama terisi orang lain, maka kuharap ucapanmu hendaklah pakai aturan, agar kelak kita masih dapat bertemu secara baik-baik.”

Jawaban itu benar-benar merupakan kemplangan keras bagi Toan Ki hingga mata pemuda itu seakan-akan berkunang-kunang dan hampir-hampir jatuh kelengar.

Apa yang dikatakan Giok-yan itu cukup terang dan gamblang, secara tegas gadis itu telah menyatakan hatinya sudah diisi oleh Buyung-kongcu, maka Toan Ki dilarang mengutarakan perasaan cintanya, kalau tidak, si gadis tidak ingin berkawan lagi dengan dia.

Sudah tentu pernyataan Giok-yan itu sebenarnya tidak berlebihan, tapi bagi pendengaran Toan Ki sungguh sangat menusuk.

Ia coba melirik wajah si gadis, ia lihat sikap Giok-yan sangat prihatin dan agung, mirip benar dengan patung dewi yang pernah disembahnya dalam gua di dasar sungai itu. Tanpa terasa timbal semacam firasat seakan-akan dirinya bakal tertimpa bencana besar. Katanya di dalam hati, “Wahai Toan Ki, engkau justru jatuh cinta kepada seorang nona yang hatinya lebih dulu telah diisi orang lain, hidupmu ini agaknya sudah suratan nasib akan merana.”

Begitulah kedua orang melanjutkan perjalanan dengan sama-sama bungkam, siapa pun tidak membuka suara lagi.

Dalam hati Giok-yan berpikir, “Tentu dia sangat gusar di dalam hati. Tapi lebih baik aku pura-pura tidak tahu saja. Bila sekali ini aku minta maaf padanya, selanjutnya tentu dia akan lebih berani dan bicara yang tidak-tidak padaku, jika hal ini sampai diketahui Piauko, tentu Piauko akan merasa tidak senang.”

Sebaliknya Toan Ki juga sedang membatin, “Jika aku bicara lagi tentang rasa cintaku padanya, itu berarti martabatku terlalu rendah dan tidak menghormati dia. Maka sejak kini biarpun mati juga aku tidak akan bicara tentang itu lagi.”

Dan Giok-yan sedang berpikir pula, “Dia diam saja, tentu dia mengetahui tempat yang harus didatangi untuk menolong A Cu dan A Pik.”

Begitu pula Toan Ki juga sedang berpikir sama seperti si gadis. Maka sesudah setengah jam kemudian, ketika sampai di suatu jalan simpang tiga, tanpa berjanji kedua orang sama-sama menanya, “Belok ke kiri atau ke kanan?”

Dan sesudah saling mengunjuk rasa ragu-ragu, kembali sama-sama saling menanya lagi, “Eh, jadi kau tidak kenal jalan? Ai, kusangka kau sudah tahu.”

Dasar kedua orang adalah anak muda, dengan terjadinya saling tanya serupa itu, seketika terbahak-bahaklah mereka, awan mendung yang meliputi perasaan mereka tadi seketika tersapu bersih.

Tapi mereka berdua memang masih hijau mengenai urusan Kangouw, biarpun sudah saling runding sampai lama juga tidak tahu harus menuju ke mana untuk menolong A Cu dan A Pik. Akhirnya Toan Ki yang berkata, “Musuh telah menawan anggota Kay-pang sebanyak itu, untuk mencari jejak mereka tentu tidak terlalu susah, maka bolehlah kita kembali ke tengah rimba itu untuk melihat-lihat dulu.”

“Kembali ke rimba sana?” Giok-yan menegas. “Dan bila kawanan orang Se He itu masih di situ, bukankah kita seperti ular mencari gebuk?”

“Setelah hujan lebat tadi, kukira mereka tentu sudah berangkat pergi,” ujar Toan Ki. “Boleh begini saja, engkau menunggu saja di luar rimba, biar aku yang masuk ke sana untuk mengintai, bila benar musuh masih berada di sana, segera kita melarikan diri.”

“Tidak, tidak boleh selalu engkau sendiri yang menyerempet bahaya,” ujar Giok-yan. “Jika kita berangkat berdua ke sana, bila ada bahaya, biarlah kita tanggung bersama.”

Mendengar si gadis bersedia “enteng sama dijinjing, berat sama dipikul” dalam menyerempet bahaya nanti, keruan Toan Ki sangat girang. Katanya, “Untuk berkelahi terang aku tidak sanggup, tapi untuk lari masakah tidak bisa?”

Segera mereka berunding cara bagaimana nanti harus menolong si A Cu dan A Pik. Maka diambil keputusan Toan Ki akan mengeluarkan “Leng-po-wi-poh” untuk mendekati kedua dayang itu dan mengenduskan obat bacin itu kepada mereka, sesudah racun punah, baru berdaya pula untuk membebaskan mereka.

Begitulah mereka lantas melarikan kuda ke arah Heng-cu-lim atau hutan pohon jeruk itu. Sesudah dekat, mereka turun dan menambat kuda di pohon, Toan Ki siapkan obat di tangan, lalu mereka lari ke tengah hutan dengan berjinjit-jinjit, mereka saling pandang sekejap dengan geli melihat kelakuan masing-masing.

Tanah di tengah hutan itu basah dan becek, semak rumput penuh butiran air. Setiba di tengah hutan, ternyata keadaan sunyi senyap dan kosong melompong, tiada seorang pun terlihat.

“Benar juga mereka sudah pergi, marilah kita mencari kabar mereka ke kota Bu-sik, saja,” ajak Giok-yan.

Tanpa pikir, Toan Ki mengiakan. Mengingat akan dapat jalan berendeng lagi dengan si cantik, saking senangnya tanpa terasa wajah Toan Ki berseri-seri.

“Adakah aku salah omong?” tanya Giok-yan heran.

“Tidak, tidak!” sahut Toan Ki cepat. “Marilah sekarang juga kita berangkat.”

“Habis, mengapa engkau tersenyum?” desak Giok-yan.

“O, aku … aku memang terkadang suka … suka angin-anginan, tak perlu engkau pusingkan aku,” sahut Toan Ki dengan gelagapan.

Jawaban itu membuat Giok-yan merasa geli juga, ia tertawa mengikik. Karena itu Toan Ki ikut tertawa mengakak.

Mereka meneruskan perjalanan ke Bu-sik. Beberapa li lagi, tiba-tiba tertampak di dahan pohon, di tepi jalan tergantung sesosok mayat busu bangsa Se He. Mereka terheran-heran sebab tidak tahu perbuatan siapakah itu?

Beberapa puluh meter pula, kembali di tepi jalan ada dua mayat orang Se He, bahkan darah pada lukanya masih belum kering, suatu tanda matinya belum seberapa lama.

“Orang-orang Se He itu telah ketemu musuh, menurut pendapatmu, siapakah yang membunuh mereka, nona Ong?” tanya Toan Ki.

“Ilmu silat pembunuh itu sangat tinggi, cara membunuh jago-jago Se He ini dilakukan dengan sangat mudah, sungguh hebat kepandaiannya!” demikian puji Giok-yan. “Eh, siapakah yang datang itu?”

Ternyata dari arah sana tertampak dua penunggang kuda sedang mendatangi dengan cepat, penunggangnya masing-masing berbaju merah dan hijau. Kiranya mereka adalah A Cu dan A Pik.

“Hai, A Cu, A Pik! Kalian berhasil lolos dari bahaya?” seru Giok-yan dengan girang.

Sudah tentu keempat orang sama-sama bergirang karena dapat berkumpul kembali.

Segera A Cu berkata, “Ong-kohnio, Toan-kongcu, mengapa kalian kembali ke sini lagi? Kami justru ingin mencari kalian.”

“Cara bagaimana kalian meloloskan diri? Apakah kalian mencium botol berbau busuk itu?” tanya Giok-yan.

“Ya, benar, sungguh bacin sekali baunya,” sahut A Cu tertawa, “Apakah engkau juga sudah mengendusnya, nona? Juga Kiau-pangcu yang menolong kalian, bukan?”

“Kiau-pangcu apa maksudmu?” tanya Giok-yan. “Jadi lolosnya kalian adalah berkat pertolongan Kiau-pangcu?”

“Ya,” sahut A Cu. “Tatkala itu kami dalam keadaan tak berkutik karena keracunan, bersama orang Kay-pang kami diringkus oleh orang-orang Se He dan dinaikkan ke atas kuda. Di tengah jalan tiba-tiba turun hujan hingga rombongan terpencar ada yang ke timur dan ada yang ke barat, masing-masing mencari tempat berteduh sendiri-sendiri. Aku dan A Pik dibawa meneduh ke suatu gardu oleh beberapa busu dan baru berangkat lagi sesudah hujan berhenti.

“Pada saat kami hendak digiring pergi pula itulah tiba-tiba dari belakang menyusul datang seorang penunggang kuda, itulah dia Kiau-pangcu. Melihat kami berdua ditawan orang Se He, beliau tampak terheran-heran dan belum lagi beliau tanya segera A Pik berseru minta tolong padanya.

“Mendengar ‘Kiau-pangcu’, seketika beberapa jago Se He itu gugup, berbareng mereka lolos senjata dan menyerbu Kiau-pangcu. Hasilnya orang-orang Se He itu ada yang terjungkir ke selokan di tepi jalan, ada yang mencelat hingga terkatung-katung di atas pohon, dan semuanya terbinasa.”

“Hal itu baru saja terjadi, bukan?” tanya Giok-yan dengan tertawa.

“Benar,” sahut A Cu. “Aku berkata kepada Kiau-pangcu, ‘Kami berdua tak dapat berkutik karena keracunan, harap Kiau-pangcu sudi mencarikan obat penawar racun di tubuh musuh yang terbinasa itu.’ – Segera Kiau-pangcu menggeledah mayat seorang Se He yang berpangkat cukup tinggi tampaknya, ia mendapatkan sebuah botol kecil, tentang isi botol itu berbau wangi atau bacin rasanya tidak perlu hamba tuturkan lagi.”

“Dan di manakah Kiau-pangcu sekarang?” tanya Giok-yan pula.

“Ketika mendengar orang-orang Kay-pang juga keracunan dan tertawan, beliau sangat khawatir dan mengatakan hendak pergi menolong mereka, lalu beliau berangkat dengan tergesa-gesa,” tutur A Cu. “Beliau juga menanyakan Toan-kongcu dan memerhatikan keselamatan Siocia pula.”

“Ai, gihengku itu sungguh seorang yang sangat berbudi,” ujar Toan Ki dengan gegetun.

“Memang,” kata A Cu. “Padahal orang-orang Kay-pang itu sangat keterlaluan, seorang pangcu baik-baik mereka usir begitu saja dan kini mereka harus menerima hasil perbuatan mereka sendiri, biarkan mereka tahu rasa. Kalau aku menjadi Kiau-pangcu tentu aku takkan menolong mereka, biarkan mereka lebih banyak tersiksa supaya kelak tidak sembarangan mengusir orang secara semena-mena.”

“Tapi gihengku adalah orang yang berbudi luhur, orang boleh mengkhianati dia, tidak nanti ia mengingkar orang,” ujar Toan Ki.

“Dan sekarang kita harus pergi ke mana, nona?” tanya A Pik.

“Semula aku dan Toan-kongcu bermaksud menolong kalian, tapi kini kita berempat sudah dalam keadaan selamat, maka kita pun tidak perlu ikut campur urusan Kay-pang yang tiada sangkut paut dengan kita itu. Marilah kita pergi ke Siau-lim-si saja untuk mencari Kongcu kalian,” demikian sahut Giok-yan.

Memang kedua dara A Cu dan A Pik itu sangat mengkhawatirkan kongcu mereka, yaitu Buyung-kongcu, maka demi mendengar usul Giok-yan itu, serentak mereka menyatakan setuju.

Sudah tentu yang paling kecut rasanya adalah hati Toan Ki. Tapi terpaksa ia pun menyatakan, “Baiklah, Kongcu kalian itu memang juga sangat kukagumi dan ingin kubelajar kenal dengan dia. Aku tidak mempunyai pekerjaan apa-apa, biarlah aku ikut kalian ke Siau-lim-si.”

Segera mereka putar kuda dan berangkat menuju jurusan utara. Di tengah jalan Giok-yan ceritakan kepada A Cu dan A Pik tentang pengalamannya di rumah gilingan itu, di mana Toan Ki telah banyak membunuh musuh dan akhirnya Li Yan-cong juga dienyahkan serta mendapatkan obat penawar racun. A Cu dan A Pik terlongong-longong mendengar pengalaman yang aneh itu.

Bila mereka geli pada suatu bagian dari cerita itu, ketiga gadis itu tertawa cekikikan sambil memandang Toan Ki, sudah tentu mereka tidak berani tertawa lepas, tapi menutup mulut mereka dengan lengan baju.

Sebodoh-bodohnya Toan Ki juga tahu bahwa ketiga gadis itu sedang membicarakan kelakuannya yang ketolol-tololan itu. Tapi bila mengingat awak sendiri meski ketolol-tololan, paling tidak akhirnya toh dapat melindungi Giok-yan tanpa kurang suatu apa pun, maka biarpun agak malu-malu juga ia merasa bangga.

Namun bila melihat asyiknya ketiga anak dara itu berbicara hingga dirinya seakan-akan terlupakan, apalagi nanti kalau sudah berkumpul dengan Buyung-kongcu, mungkin dirinya lebih tidak diberi tempat lagi, terpikir demikian, hati Toan Ki menjadi hampa.

Setelah beberapa li pula dan menyusur sebuah hutan arbei, tiba-tiba mereka mendengar suara tangisan dua pemuda yang sangat memilukan. Cepat mereka melarikan kuda ke depan untuk melihat apa yang terjadi. Ternyata pemuda-pemuda itu adalah dua hwesio cilik belasan tahun, baju padri mereka berlepotan darah, satu di antaranya malah terluka jidatnya.

“Siausuhu, kenapa kalian menangis? Siapa yang menganiaya kalian?” tanya A Pik yang berhati welas asih.

Sambil menangis, hwesio cilik yang jidat terluka itu menjawab, “Kuil kami telah kedatangan segerombolan orang asing yang jahat, guru kami terbunuh dan kami didepak keluar.”

Mendengar kata-kata “orang asing jahat” itu, Giok-yan berempat saling pandang sekejap dan sama-sama berpikir, “Apakah mereka itu orang Se He?”

Segera A Cu tanya, “Di manakah letak kuil kalian? Orang asing jahat macam apakah mereka itu?”

“Kuil kami bernama Thian-leng-si, itu, di sebelah sana ….” sahut si hwesio cilik sambil menuding ke arah timur laut, lalu menyambung, “Orang-orang asing itu membawa tawanan kira-kira seratusan orang pengemis dan berteduh ke kuil kami karena hujan. Mereka minta arak dan minta daging, minta disembelihkan ayam dan suruh memotong kerbau segala. Sudah tentu Suhu keberatan kuil kami dibikin kotor, dan mereka lantas membunuh Suhu beserta belasan orang suheng kami. Huk-huk … huk-huk-huk … huk!”

“Sudahlah, jangan menangis,” kata A Cu. “Dan sekarang orang-orang jahat itu sudah pergi belum?”

“Belum,” sahut padri kecil itu sambil menuding kepulan asap di balik hutan sana. “Itu, mereka lagi sibuk memasak daging kerbau, benar-benar berdosa, Buddha Mahaasih, biarlah mereka kelak dimasukkan neraka.”

“Kalian lekas lari saja, jangan-jangan sebentar kalian akan ditangkap kawanan penjahat itu dan disembelih sekalian untuk dimakan,” ujar A Cu.

Keruan kedua padri kecil itu ketakutan, segera mereka angkat kaki dan berlari pergi.

“Ai, mereka sedang bingung, mengapa Enci A Cu malah menakuti mereka?” ujar Toan Ki kurang senang.

“Aku tidak menakuti mereka, tapi aku berkata sungguh-sungguh,” sahut A Cu tertawa.

“Wah, orang-orang Kay-pang katanya terkurung di dalam Thian-leng-si situ, jika demikian, tentu Kiau-pangcu akan menubruk tempat kosong bila mencari ke kota Bu-sik,” ujar A Pik tiba-tiba.

Mendadak A Cu memperoleh suatu akal aneh, katanya, “Ong-kohnio, aku ingin menyamar sebagai Kiau-pangcu dan menyelundup ke dalam kuil itu untuk mengenduskan bau botol yang bacin itu kepada kawanan pengemis. Setelah mereka terlolos dari bahaya, tentu mereka akan sangat berterima kasih kepada Kiau-pangcu.”

Giok-yan tersenyum, sahutnya, “Tapi perawakan Kiau-pangcu tinggi besar, dia adalah seorang laki-laki tegap, masakah kau dapat menyaru sebagai dia?”

“Semakin sulit menyamar, semakin kelihatan kepandaian A Cu, boleh lihat nanti,” ujar A Cu dengan bangga.

“Walaupun kau dapat menyaru dengan persis, tapi tidak dapat memalsukan ilmu saktinya yang tiada bandingannya itu,” ujar Giok-yan. “Padahal di dalam Thian-leng-si itu penuh jago pilihan It-bin-tong dan negeri Se He, mana dapat kau masuk-keluar dengan bebas? Maka kurasa lebih baik engkau menyamar sebagai seorang tukang api atau seorang nenek desa penjual sayur, mungkin akan lebih mudah untuk menyusup ke dalam kuil.”

“Kalau mesti menyamar sebagai nenek-nenek penjual sayur, rasanya kurang menarik, aku tak mau menyusup ke dalam kuil.”

Giok-yan memandang sekejap ke arah Toan Ki, bibirnya bergerak, tapi urung bicara.

“Apakah yang hendak nona katakan?” tanya Toan Ki.

“Sebenarnya aku ingin engkau juga menyaru seseorang dan ikut pergi ke Thian-leng-si bersama A Cu, tapi setelah kupikir pula, agaknya kurang sempurna,” ujar Giok-yan.

“Ingin aku menyamar sebagai siapa?” tanya Toan Ki.

“Sebab para tokoh Kay-pang itu punya penyakit mencurigai orang dan menuduh piaukoku bersekongkol dengan Kiau-pangcu untuk membunuh Be-hupangcu mereka, maka … maka bila Piauko dan Kiau-pangcu pergi bersama ke sana untuk membebaskan mereka dari bahaya, tentu mereka takkan … takkan sembarangan mencurigai orang lain.”

“Jadi maksudmu ingin aku menyamar sebagai piaukomu?” tanya Toan Ki dengan rasa cemburu.

Wajah Giok-yan berubah merah, sahutnya, “Tapi musuh di Thian-leng-si itu terlalu kuat, jika kalian berdua pergi ke sana, mungkin sangat berbahaya, mungkin lebih baik jangan pergi saja.”

Tiba-tiba Toan Ki memikir, “Bila aku menyamar sebagai piaukonya, boleh jadi sikapnya kepadaku akan berbeda daripada biasanya. Walaupun cuma sebentar saja aku menikmati rasa bahagia juga lumayan.”

Berpikir demikian, seketika semangatnya menyala-nyala, segera katanya, “Masakan khawatir bahaya apa segala? Paling-paling angkat kaki melarikan diri, dan cara itu justru adalah kepandaianku yang utama.”

“Tapi kurasa tidak baik, sebab selamanya piaukoku membunuh musuh semudah membalik tangan sendiri, tidak pernah dia melarikan diri,” ujar Giok-yan.

“Nyes”, seketika Toan Ki seperti digebyur air es demi mendengar kata-kata itu, pikirnya, “Ya, ya, memangnya piaukomu adalah seorang kesatria, seorang pahlawan perkasa, memangnya aku tidak sesuai untuk menyamar sebagai dia. Kalau memalsukan dia hingga memalukan di depan orang banyak, bukankah akan menodai nama kebesarannya?”

Melihat pemuda itu termenung-menung kurang senang, cepat A Pik menghiburnya, “Toan-kongcu, kita menghadapi musuh lebih banyak jumlahnya, kalau sementara kita mengalah juga tidak mengapa. Toh tujuan kita hanya untuk menolong orang dan bukan bertanding kepandaian dengan mereka.”

Dalam pada itu A Cu lagi mengamat-amati Toan Ki dari atas ke bawah dan dari bawah kembali ke atas, lalu ia mengangguk-angguk dan berkata, “Toan-kongcu, untuk menyamar sebagai Kongcu kami sebenarnya tidak mudah, untung orang-orang Kay-pang tiada yang kenal Kongcu kami, maka tentang wajah dan suara beliau asal dapat mendekati saja sudah cukup mengelabui mereka.”

“Buyung-kongcu adalah manusia pilihan di antara manusia, orang lain mana dapat sembarangan menyamar sebagai dia?” ujar Toan Ki. “Tapi kukira ada baiknya juga samaranku nanti tidak terlalu mirip beliau, dengan begitu, jika nanti mesti angkat langkah seribu melarikan diri, sedikitnya nama baik Buyung-kongcu tidak sampai ternoda.”

Muka Giok-yan menjadi merah, dengan perlahan ia tanya, “Tadi aku telah salah omong, apakah Toan-kongcu marah padaku?”

“Ah, tidak, tidak, mana aku berani marah?” sahut Toan Ki cepat.

Maka tersenyumlah Giok-yan. Tanyanya kemudian, “Lantas di manakah kalian hendak menyamar?”

“Kita harus mendatangi kota kecil di sana barulah dapat membeli alat-alat keperluan menyamar,” sahut A Cu.

Segera mereka berempat melarikan kuda ke barat, kira-kira beberapa li jauhnya, tibalah mereka di suatu kota kecil bernama Ma-long-kio. Kota itu terlampau kecil dan tiada rumah penginapan segala, hanya di tepi kota ada sebuah sungai kecil.

Setelah membeli pakaian dan alat-alat menyamar lain yang diperlukan, mereka menyewa sebuah perahu dan berdandan di dalam kendaraan air itu. Lebih dulu A Cu mendandani Toan Ki, memberinya sebuah kipas lempit, pakaiannya berwarna hijau mulus, pada jari kiri memakai sebentuk cincin.

“Kongcu kami suka memakai cincin bermata batu kemala, tapi susah dicari di sini, maka bolehlah memakai batu akik sebagai ganti sekadarnya,” ujar A Cu.

Toan Ki hanya tersenyum getir saja, pikirnya, “Memangnya Buyung-kongcu ibarat batu kemala yang berharga dan aku cuma batu akik yang tak bernilai. Memang begitulah harga diriku dalam pandangan ketiga gadis ini.”

Selesai A Cu mendandani Toan Ki, lalu katanya kepada Giok-yan, “Siocia, adakah sesuatu tempat yang kurang mirip?”

Tapi Giok-yan tidak menjawab, ia sedang memandang Toan Ki dengan termangu-mangu, dengan sorot mata penuh arti seakan-akan lagi berhadapan dengan Buyung Hok.

Perasaan Toan Ki ikut terguncang ketika sinar matanya kebentrok dengan sorot mata si gadis. Tapi segera terpikir olehnya, “Ah, terang yang terbayang olehnya adalah Buyung Hok dan bukan aku si Toan Ki.”

Begitulah perasaan Toan Ki, sebentar suka dan sebentar lagi duka. Kedua muda-mudi itu pandang-memandang dengan perasaan yang berbeda-beda sehingga kepergian A Cu dan A Pik ke buritan perahu untuk ganti pakaian terlupakan oleh mereka.

Selang agak lama, tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki sedang menegur, “Ai, kiranya Toan-hiante berada di sini, sudah lama kucari engkau.”

Toan Ki terkejut dan cepat mendongak. Ia lihat pembicara itu tak-lain-tak-bukan adalah Kiau Hong. Keruan ia kegirangan dan cepat menyahut, “Hai, kiranya Toako! Memangnya kami sedang bermaksud menyamar sebagai Toako untuk menolong kawan-kawan Kay-pang, sekarang engkau sendiri sudah datang, maka Enci A Cu tidak perlu menyamar lagi.”

“Orang-orang Kay-pang telah pecat aku dari keanggotaan mereka, biarkan mereka mati atau hidup tak kupeduli lagi,” sahut Kiau Hong. “Adik yang baik, marilah kita pergi ke kota saja untuk mengadu minum, paling sedikit kita harus menghabiskan 50 mangkuk setiap orang.”

“Toako,” kata Toan Ki, “para saudara Kay-pang adalah laki-laki yang berjiwa patriot, harap engkau sudi pergi menolong mereka.”

“Engkau adalah pelajar yang masih hijau, apa yang kau ketahui,” sahut Kiau Hong dengan marah. “Ayolah, tak perlu urus mereka, marilah pergi minum arak paling perlu.”

Habis berkata, terus saja ia pegang tangan Toan Ki dan hendak menyeretnya pergi.

Terpaksa Toan Ki berkata, “Baiklah, sesudah kita minum arak, engkau harus pergi menolong mereka.”

Di luar dugaan, mendadak “Kiau Hong” terkikik-kikik, suaranya nyaring genit, tidak mungkin seorang laki-laki kekar sebagai Kiau Hong dapat mengeluarkan suara tertawa yang mirip anak dara.

Keruan Toan Ki tercengang. Tapi segera ia pun paham duduknya perkara, terus saja ia memberi hormat sambil berkata, “Ai, Enci A Cu, kepandaianmu menyamar sesungguhnya teramat tinggi, sampai suara Toakoku yang kasar itu pun dapat engkau tiru sedemikian miripnya.”

Memang tidak salah “Kiau Hong” itu adalah samaran si A Cu, begitu persis hingga Toan Ki tidak dapat mengenalnya lagi.

Maka dengan nada suara Kiau Hong yang kasar, A Cu lantas berkata pula, “Toan-hiante, marilah sekarang juga kita berangkat, bawalah botol yang berbau busuk itu.”

Lalu ia pun berkata kepada Giok-yan dan A Pik, “Harap kedua nona suka menanti sementara di sini.”

Habis berkata, ia tarik tangan Toan Ki terus diajak mendarat. Entah tangannya dilumuri barang apa, tangan yang halus sebagaimana lazimnya tangan anak dara itu kini telah berubah menjadi kasap dan kehitam-hitaman, meski tidak sebesar tangan Kiau Hong tapi seketika juga susah diketahui orang lain.

Begitulah dengan meninggalkan Giok-yan yang masih termenung-menung mengenangkan sang piauko itu, A Cu dan Toan Ki telah menunggang kuda menuju ke Thian-leng-si. Sesudah dekat dengan kuil itu, khawatir kalau suara kuda mereka didengar musuh, mereka lantas tambat kuda-kuda itu di kandang sapi seorang petani di tepi jalan, lalu berjalan menuju ke kuil itu.

“Saudara Buyung,” demikian kata si “Kiau Hong” tiruan alias A Cu, “setiba di dalam kuil nanti, aku lantas buka mulut besar dan membual setinggi langit, kesempatan itu harus engkau gunakan dengan cepat untuk mengenduskan obat penawar di dalam botol itu kepada orang-orang Kay-pang.”

Dengan menahan perasaan geli, Toan Ki telah mengiakan. Dan mereka pun lantas mendekati pintu kuil yang dijaga oleh belasan busu bangsa Se He yang bersenjata lengkap.

Melihat keadaan itu, hati Toan Ki dan A Cu mulai kebat-kebit dan tanpa terasa menjadi jeri.

“Toan-kongcu, sebentar harap engkau menyeret aku lari keluar. Kalau tidak, bila aku ditantang bertanding silat dengan mereka, tentu aku bisa celaka,” kata A Cu.

“Baiklah,” sahut Toan Ki dengan suara agak gemetar, nyata ia pun ketakutan.

Begitulah selagi mereka berunding sambil melongak-longok, hal itu segera dapat dilihat oleh seorang busu penjaga itu, terdengar bentakannya, “Hai, kalian lagi berbuat apa? Mata-mata musuh, tentu!”

Berbondong-bondong keempat busu lantas mendekati Toan Ki berdua sambil membentak-bentak.

Terpaksa A Cu membusungkan dada dan memapak maju, katanya dengan suara keras, “Hai, lekas beri tahukan kepada Ciangkun kalian, katakan bahwa Kiau Hong dari Kay-pang dan Buyung Hok dari Kanglam ingin bertemu dengan Helian-tayciangkun dari Se He.”

Rupanya nama Buyung Hok tidak dikenal oleh orang-orang Se He, tapi nama Kiau Hong telah mereka kenal sebagai pangcu dari Kay-pang. Maka mereka agak terkejut demi mendengar teguran A Cu itu, cepat busu yang menjadi kepala jaga itu memberi hormat dan menyapa, “O, kiranya Kiau-pangcu berkunjung kemari. Maaf, silakan menunggu sebentar, segera kulaporkan kepada Ciangkun.”

Habis berkata, ia terus putar tubuh berlari ke dalam kuil dengan cepat.

Tidak lama kemudian, tiba-tiba terdengar suara trompet berbunyi, pintu kuil terbuka lebar, pemimpin It-bin-tong dari Se He, Helian Tiat-si tampak menyambut keluar bersama Nurhai dan jago-jago lainnya, di antaranya terdapat Yap Ji-nio, Lam-hay-gok-sin dan In Tiong-ho.

Hati Toan Ki agak kebat-kebit, sedapat mungkin ia melengos ke arah lain dan tidak berani saling pandang dengan kenalan-kenalan lama itu.

Maka terdengarlah Helian Tiat-si mulai berkata, “Sudah lama kami mendengar nama besar ‘Koh-soh Buyung’ yang terkenal dengan filsafatnya ‘Ih-pi-ci-to, hoan-si-pi-sin’. Untung hari ini dapatlah berjumpa, sungguh kami merasa sangat bahagia.”

Sembari berkata ia terus merangkap tangannya untuk memberi hormat kepada Toan Ki.

Lekas-lekas Toan Ki membalas hormat dan menjawab, “Nama kebesaran Helian-ciangkun sudah lama kami kagumi, terutama para kesatria yang terhimpun di dalam It-bin-tong di negeri Se He. Jikalau kedatangan kami ini agak gegabah, harap sukalah dimaafkan.”

Dasarnya Toan Ki memang seorang pelajar yang lemah lembut, maka cara bicaranya pun menjadi ramah tamah, sedikit pun tidak mencurigakan.

“Orang Bu-lim suka berkata ‘Pak Kiau Hong, Lam Buyung’ (di utara ada Kiau Hong dan di selatan ada Buyung), katanya kesatria Tionggoan kalian berdua inilah yang tiada bandingannya, maka sungguh berbahagia sekali hari ini kalian sudi berkunjung ke sini. Silakan masuk, silakan!”

Dengan tabahkan hati A Cu dan Toan Ki ikut Helian Tiat-si ke dalam kuil itu. Diam-diam Toan Ki berpikir, “Dari sikap dan kata-kata jenderal Se He ini, agaknya ia lebih segan terhadap Buyung-kongcu daripada Kiau-toako. Apakah disebabkan pribadi dan ilmu silat Buyung Hok itu memang benar lebih hebat daripada Kiau-toako? Tapi kukira belum tentu.”

Selagi Toan Ki tenggelam dalam lamunannya, tiba-tiba terdengar suara seruan orang yang melengking tajam, “Haha, belum tentu, belum tentu!”

Toan Ki terkejut, ia menoleh dan melihat yang bersuara itu adalah Lam-hay-gok-sin. Si jahat ketiga itu sedang mengincar ke arahnya dengan matanya yang kecil bagai kacang itu sambil goyang-goyang kepala.

“Wah, celaka, jangan-jangan dia mengenali diriku?” demikian diam-diam Toan Ki berdebar-debar.

Terdengar Lam-hay-gok-sin sedang berkata pula, “Melihat potongannya ini, bobotnya paling banyak 50 kati, masakah tahan sekali genjot? Eh, aku ingin tanya padamu. Orang bilang engkau suka ‘Ih-pi-ci-to, hoan-si-pi-sin’, tapi aku Gak-loji justru tidak percaya. Aku pun tidak perlu engkau bergerak tangan, cukup asal dapat kau katakan kepandaian khas apa yang menjadi andalan Gak-loji ini? Dengan ilmu apa kau mampu menggunakan cara Locu untuk digunakan atas diri Locu ini?”

Sambil bicara, Lam-hay-gok-sin pakai bertolak pinggang segala, sikapnya sombong dan kasar. Sebenarnya Helian Tiat-si hendak mencegahnya, tapi demi dipikir bahwa nama Buyung Hok sangat tersohor, apakah kepandaiannya sesuai dengan namanya, mengapa tidak membiarkan Lam-hay-gok-sin yang angin-anginan itu coba mengujinya. Sebab itulah ia diam saja dan tidak merintangi.

Tengah bicara, sementara itu mereka sudah berada di ruangan besar. Helian Tiat-si menyilakan Toan Ki duduk di tempat utama, tapi pemuda itu malah mengalah kepada A Cu.

Dalam pada itu Lam-hay-gok-sin sudah tidak sabar lagi, segera ia berteriak, “Hai, Buyung-siaucu, coba katakan sekarang, kepandaian apa yang menjadi kemahiranku?”

Toan Ki tersenyum, pikirnya, “Kalau orang lain yang tanya demikian padaku tentu aku akan melongo dan tak dapat menjawab, tapi sekarang engkau yang tanya, itulah sangat kebetulan sekali.”

Maka dengan tenang buka kipas dan mengebas perlahan sambil menjawab, “Lam-hay-gok-sin Gak-losam, julukanmu pakai ‘buaya’, dan kelakuanmu memang mirip buaya. Boleh jadi kedudukanmu dalam urut-urutan Su-ok segera akan merosot menjadi Losi (si keempat). Tentang kepandaianmu yang masih hijau itu, masakah perlu tanya padaku? Mungkin anak kemarin juga tahu. Semua orang tahu kau telah menyembah pada Toan-kongcu dari Tayli sebagai guru dan sedikit pun kau belum mendapat ajaran ilmu sakti apa-apa dari dia. Kepandaianmu cetek, yang sok kau agulkan sekarang tidak lain cuma Gok-bwe-pian dan Gok-cui-cian (ruyung ekor buaya dan gunting congor buaya) saja.”

Sekaligus Toan Ki dapat menyebutkan senjata andalan orang, yaitu Gok-bwe-pian dan Gok-cui-cian, bukan saja Lam-hay-gok-sin melengak tidak habis kejutnya, bahkan Yap Ji-nio dan In Tiong-ho juga tidak terkatakan herannya.

Maklum, kedua macam senjata itu baru saja berhasil diyakinkan Lam-hay-gok-sin dan selama ini belum pernah dipertunjukkan di depan umum. Hanya tempo hari waktu bergebrak dengan In Tiong-ho di Tayli pernah digunakannya satu kali, tatkala mana kecuali Bok Wan-jing boleh dikatakan tiada orang luar lagi yang melihatnya. Siapa duga kemudian Bok Wan-jing telah menceritakan kejadian itu kepada Toan Ki, sedangkan Buyung Hok yang ada di depannya sekarang justru adalah samaran Toan Ki.

Begitulah Lam-hay-gok-sin coba mengamat-amati Toan Ki dengan kepala miring ke kanan dan ke kiri. Biarpun wataknya sangat jahat, tapi dia juga punya perasaan kagum kepada kaum kesatria yang gagah perkasa. Lewat sejenak, tanpa ragu lagi ia acungkan jempolnya dan memuji, “Bagus! Memang hebat kau!”

“Terima kasih,” sahut Toan Ki dengan tertawa.

Tapi segera Lam-hay-gok-sin mendapatkan akal lain, tiba-tiba ia berkata pula, “Buyung-kongcu, tidaklah mengherankan jika engkau dapat memainkan ilmu silatku. Tapi kalau guruku berada di sini, tentu engkau tidak paham ilmu kepandaiannya.”

“Kutahu kau adalah murid capcai, gurumu tidak cuma seorang saja, coba katakan gurumu yang mana dan ilmu kepandaian apa yang dia miliki?” sahut Toan Ki dengan senyum ejek.

Lam-hay-gok-sin tidak marah atas olok-olok itu, sebaliknya ia menyahut dengan berseri-seri, “Guruku yang pertama sudah lama meninggal, maka tidak perlu dibicarakan. Namun guruku yang baru saja kuangkat, ilmu kepandaiannya sungguh luar biar, melulu semacam ilmu langkahnya yang disebut ‘Leng-po-wi-poh’ saja kuyakin tiada seorang pun yang paham, termasuk pula engkau.”

Toan Ki pura-pura termenung sejenak, lalu berkata, “Maksudmu ‘Leng-po-wi-poh’? Ehm, itu memang ilmu silat yang luar biasa. Dengan kepandaiannya yang sakti itu Toan-kongcu sudi menerima dirimu sebagai murid, sungguh hal ini sangat meragukan aku.”

“Buat apa aku bohong padamu?” kata Lam-hay-gok-sin cepat. “Banyak hadirin yang berada di sini dapat menjadi saksi, beliau sendiri memanggil aku sebagai murid.”

Diam-diam Toan Ki tertawa geli. Kalau semula si jahat ini ngotot tidak mau menyembah dan mengaku guru padanya, sekarang si jahat ini inilah khawatir dirinya tidak mau mengakui dia sebagai murid. Maka katanya kemudian, “Jika begitu, tentu kau sudah berhasil meyakinkan ilmu khas gurumu itu, bukan?”

Lam-hay-gok-sin menggeleng kepalanya bagaikan kelontong goyang cepatnya, sahutnya, “Tidak, tidak! Jangankan meyakinkan, belajar saja belum pernah. Tapi bila engkau mengaku paham segala macam ilmu silat di dunia ini, asal engkau mahir berjalan tiga langkah ‘Leng-po-wi-poh’ saja, aku Gak-loji lantas menyerah padamu.”

“Leng-po-wi-poh meski sulit, namun pernah juga kupelajari beberapa langkah di antaranya,” sahut Toan Ki. “Nah, Gak-losam, boleh coba-coba menangkap diriku.”

Sembari berkata terus saja ia terbangkit dan berdiri di tengah ruangan.

Para jago Se He itu tiada seorang pun yang pernah melihat ilmu silat macam apakah “Leng-po-wi-poh” itu. Tapi karena Lam-hay-gok-sin memuji ilmu sakti itu setinggi langit, maka mereka pun ingin melihatnya untuk menambah pengalaman. Segera mereka menyingkir ke pinggir ruangan dan membiarkan Toan Ki mempertunjukkan kepandaiannya itu.

Tanpa bicara lagi Lam-hay-gok-sin terus menubruk maju sambil mengerang, tangan kiri menjulur ke depan, mendadak tangan kanan mencengkeram dari bawah tangan kiri. Namun cepat sekali Toan Ki menggeser ke samping dua langkah dan mundur satu tindak, dengan enteng sebagai daun teratai tertiup angin, dengan gaya yang indah ia dapat menghindarkan serangan lawan itu.

“Crat”, karena tidak sempat menahan serangannya, kelima kuku jari kanan Lam-hay-gok-sin menancap di atas pilar kayu di tengah ruangan itu.

Melihat begitu hebat tenaga si jahat ketiga itu, seketika semua orang terkesiap. Seharusnya mereka bersorak memuji, tapi saking kejutnya sampai mereka lupa bersorak.

Sekali menyerang tidak kena, suara erangan Lam-hay-gok-sin semakin keras. Mendadak ia meloncat ke atas, bagaikan elang menyambar anak ayam, ia menubruk ke bawah.

Namun Toan Ki sama sekali tidak ambil pusing akan tingkah musuh, biarpun orang berjungkir balik juga ia tidak peduli, ia tetap jalan berlenggang kian kemari menurut ilmu langkah yang telah dipelajarinya dengan baik itu.

Semakin serang Lam-hay-gok-sin semakin kalap, suara erangannya juga bertambah keras laksana binatang buas.

Melihat wajah orang yang memang jelek ditambah beringas seperti sekarang, Toan Ki mulai jeri, ia tidak berani memandang muka orang, bahkan ia terus keluarkan saputangan untuk menutupi matanya dan berkata, “Biarpun kedua mataku tertutup juga tidak nanti kau mampu menangkap diriku.”

Benar juga, biar bagaimanapun cara Lam-hay-gok-sin menubruk dan menyeruduk, selalu ia menubruk tempat kosong dan menangkap angin. Terkadang tangannya cuma selisih beberapa senti saja dari tubuh Toan Ki, namun toh tetap susah untuk menjamah pemuda itu.

Kalau penonton sampai berdebar-debar dan menahan napas, adalah sebaliknya Toan Ki malah enak-enak dan tetap berjalan dengan berlenggang kangkung. Dan tatkala Lam-hay-gok-sin semakin kalap dan menubruk serabutan, terpaksa Toan Ki harus mempercepat juga langkahnya, ia tidak dapat berlenggang lagi, tapi terpaksa main serampang 12 dengan irama cepat.

Mau tak mau A Cu ikut berdebar-debar menyaksikan permainan kucing-kucingan di tengah ruangan itu, ia khawatir jangan-jangan pada suatu saat Toan Ki akan meleng hingga kena ditangkap Lam-hay-gok-sin, hal ini berarti akan bikin runyam mereka. Maka cepat ia keraskan suaranya dan membentak, “Lam-hay-gok-sin, apakah kau belum kapok dan hendak menguber Buyung-kongcu? Bagaimana Leng-po-wi-poh itu dibandingkan dengan gurumu?”

Lam-hay-gok-sin melengak, ia tertegun di tempatnya bagai balon gembos, mau tak mau ia memuji, “Bagus, bagus! Memang hebat! Mungkin guruku juga tidak mampu melangkah seperti engkau dengan mata tertutup. Baik, memang Koh-soh Buyung tidak bernama kosong, aku Lam-hay-gok-sin mengaku kalah padamu.”

Kesempatan itu segera digunakan Toan Ki untuk menanggalkan tutup matanya serta kembali ke tempat duduknya. Maka bergemuruhlah sorak-sorai orang banyak.

Kemudian Helian Tiat-si menyilakan kedua tamunya minum, katanya, “Atas kunjungan kedua kesatria besar, entah ada keperluan apakah?”

“Karena beberapa saudara kami entah sebab apa berbuat salah kepada Ciangkun, maka Ciangkun telah mengirim jago pilihan dan menangkap mereka ke sini, sebab itulah dengan memberanikan diri ingin kumohon Ciangkun suka membebaskan mereka,” sahut A Cu.

Sudah tentu ucapan A Cu itu sengaja dipakai untuk menyindir orang Se He yang telah menangkap orang dengan cara rendah dan memalukan.

Namun Helian Tiat-si tidak risi sedikit pun, dengan tersenyum ia berkata, “Memang benar. Tapi setelah menyaksikan demonstrasi Buyung-kongcu yang hebat barusan, nyata memang bukan nama kosong belaka. Kiau-pangcu mempunyai nama kebesaran sejajar dengan Buyung-kongcu, hendaklah juga suka unjuk sejurus-dua supaya kami bisa kagum benar-benar, dengan begitu pula agar ada alasan untuk membebaskan para kesatria dari pang kalian.”

Keruan A Cu agak gugup, pikirnya, “Untuk menyaru sebagai Kiau-pangcu dan menirukan lagak lagunya tidak susah bagiku. Tapi bila aku disuruh menirukan ilmu silatnya yang hebat itu, bukankah segera rahasia penyamaranku ini akan terbongkar?”

Selagi dia hendak mencari alasan untuk menutupi rasa serbasusahnya itu, tiba-tiba terasa tangan dan kaki lemas linu, bahkan gerak jari pun tak bisa. Keadaan demikian persis seperti terkena kabut berbisa semalam.

Keruan ia khawatir, keluhnya dalam hati, “Wah, celaka, sungguh tidak nyana bahwa jahanam orang Se He ini akan menggunakan akal licik pula, bagaimana baiknya sekarang?”

Di lain pihak Toan Ki yang kebal terhadap segala macam racun sedikit pun tidak merasa terjadi hal-hal yang ganjil itu. Cuma tiba-tiba dilihatnya A Cu lemas lunglai di tempat duduknya, segera ia tahu gadis itu tentu terkena kabut racun lagi, maka cepat ia mengeluarkan botol berbau busuk itu, ia buka sumbat botol dan disodorkan ke ujung hidung A Cu.

Segera A Cu menyedotnya beberapa kali, karena keracunan belum lama, segera ia dapat bergerak kembali. Ia pegang botol yang diangsurkan Toan Ki itu dan mencium pula dengan rasa heran mengapa musuh tidak turun tangan untuk menangkapnya?

Waktu ia perhatikan orang-orang Se He itu, ia lihat mereka pun menggeletak semua di atas kursi tanpa berkutik, hanya biji mata mereka yang tertampak terbelalak lebar seperti terheran-heran.

“Aneh, mengapa orang-orang ini keracunan sendiri, benar-benar senjata makan tuan,” demikian ujar Toan Ki.

Segera A Cu mendekati Helian Tiat-si, ia coba dorong-dorong panglima Se He itu, tapi Helian Tiat-si benar-benar lemas lunglai, tidak salah lagi memang keracunan. Tapi badan lemas kan mulut masih dapat bicara, segera ia membentak, “Hai, siapakah yang mengeluarkan kabut wangi ini? Lekas ambilkan obat penawar, cepat!”

Meski sudah beberapa kali ia membentak, tapi anak buahnya tetap diam saja dengan lemas, semuanya berkata, “Lapor Ciangkun, hamba sekalian juga tak dapat berkutik.”

“Pasti ada pengkhianat, kalau tidak, masakah lawan tahu cara penggunaan kabut wangi kita yang rumit itu,” kata Nurhai.

“Siapa pengkhianatnya, siapa? Lekas cari dan cencang dia hingga hancur lebur,” teriak Helian Tiat-si dengan murka.

“Ya, paling penting sekarang harus mendapatkan obat penawar kita,” sahut Nurhai. Ia melirik dan melihat A Cu memegang sebuah botol kecil, segera katanya, “Kiau-pangcu, sudilah engkau enduskan obat penawar itu kepada kami, nanti Ciangkun kami pasti akan membalas jasamu ini.”

“Aku harus menolong saudara-saudara pang kami, siapa ingin kepada balas jasa apa segala dari Ciangkun kalian?” sahut A Cu dengan tertawa.

Terpaksa Nurhai berkata kepada Toan Ki, “Buyung-kongcu, di bajuku juga ada sebuah botol, tolonglah keluarkan untuk dicium kami.”

Toan Ki tidak menolak, ia merogoh baju Nurhai dan benar juga dikeluarkannya sebuah botol kecil. Katanya kemudian dengan tertawa, “Obat penawar memang perlu, tapi takkan kuberikan kepadamu.”

Habis berkata, ia terus menuju ke ruangan belakang bersama A Cu. Maka tertampaklah di serambi timur sana penuh berjubel orang, semuanya adalah anggota Kay-pang yang tertawan. Dan begitu A Cu masuk ke situ, segera Go-tianglo berseru, “Aha, kiranya engkau yang datang, Kiau-pangcu, lekas tolong kami!”

Segera A Cu mengenduskan obat penawar itu kepada Go-tianglo dan berkata, “Ini adalah obat penawar, boleh dienduskan kepada para saudara untuk memunahkan racun mereka.”

Go-tianglo sangat girang, setelah kaki-tangannya dapat bergerak, segera ia bergantian memunahkan racun Song-tianglo. Di sebelah sana Toan Ki juga telah menyembuhkan racun Ci-tianglo dan begitu seterusnya.

“Kawan-kawan kita terlalu banyak, kalau satu per satu dipunahkan racunnya seperti tentu akan maka waktu terlalu lama,” ujar A Cu. “Go-tianglo, cobalah geledah orang-orang Se He itu, carilah obat penawar serupa ini.”

Go-tianglo mengiakan dan segera berlari ke ruangan depan untuk menggeledah obat. Maka terdengarlah suara makian dan teriakan disertai suara “plak-plok” berulang-ulang.

Nyata sembari menggeledah obat, Go-tianglo tidak lupa memberi persen gamparan kepada orang-orang Se He itu untuk melampiaskan rasa dongkolnya.

Tidak lama kemudian, kembalilah Go-tianglo dengan membawa lima-enam buah botol porselen kecil, katanya dengan tertawa, “Yang kupilih adalah musuh yang berpakaian perlente, kedudukan mereka tentu lebih tinggi dan benar juga mereka membawa obat penawar seperti ini. Hahaha, baru sekarang mereka tahu rasa!”

“Tahu rasa apa?” tanya Toan Ki heran.

“Setiap orang mereka telah kupersen dua kali tamparan, yang memiliki obat penawar sengaja kugampar lebih keras,” tutur Go-tianglo dengan tertawa. Dan tiba-tiba ia merasa belum pernah kenal Toan Ki dalam samaran itu, segera ia tanya, “Siapakah nama terhormat saudara ini? Terima kasih banyak atas budi pertolonganmu.”

“Cayhe she Buyung,” sahut Toan Ki. “Maafkan kedatangan kami agak terlambat sehingga kalian tersiksa sekian lamanya.”

Mendengar orang mengaku she “Buyung”, maka tahulah orang-orang Kay-pang tentu pemuda inilah “Koh-soh Buyung” yang terkenal itu.

“Ai, kita benar-benar sudah buta semua sehingga sembarangan mendakwa Buyung-kongcu telah membunuh Be-hupangcu, hari ini kalau bukan Buyung-kongcu dan Kiau-pangcu yang menolong kita, tentu kita akan celaka di tangan anjing-anjing Se He yang jahat itu,” demikian seru Song-tianglo.

“Ya, orang tua tentu suka mengampuni kesalahan kaum hamba, Kiau-pangcu, mohon engkau sudi kembali menjadi pangcu kita saja,” segera Go-tianglo ikut berkata.

“Huh, Kiau-ya dan Buyung-kongcu ternyata benar bersahabat baik,” tiba-tiba Coan Koan-jing menjengek dengan dingin. Ia belum mengendus obat penawar, maka tubuhnya masih belum bisa berkutik.

Ia sebut Kiau Hong sebagai “Kiau-ya” (tuan Kiau) dan tidak menyebutnya sebagai “Kiau-pangcu”, itu berarti ia tidak mengakui dia lagi sebagai pangcu. Sebaliknya ia bilang Kiau Hong ternyata bersahabat dengan Buyung-kongcu, kata-kata itu pun sangat licin.

Sebab, hendaklah diketahui bahwa orang-orang Kay-pang sama mencurigai Kiau Hong sebagai pembunuh Be Tay-goan secara tidak langsung, yaitu dengan meminjam tangan Buyung Hok. Padahal Kiau Hong selalu menyangkal kenal Buyung Hok. Sebaliknya sekarang kedua orang ini sama-sama datang ke Thian-leng-si, dilihat dari sikap mereka berdua yang akrab itu pastilah mereka bukan kenalan baru saja.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: