Pendekar Kerajaan Tayli ~ Jilid 30

Mendengar suara itu, padri di ujung kiri tadi terkejut, cepat ia membuka mata sambil melompat bangun, sekilas ia lihat kawan yang duduk di sebelahnya juga sudah ditendang roboh oleh Ti-jing. Keruan ia terperanjat dan berteriak, “Hai, Ti-jing, apa yang kau lakukan?”

“Lihatlah, siapa yang datang itu?” tiba-tiba Ti-jing menuding keluar. Selagi padri kawannya itu menoleh, tanpa ayal lagi kaki Ti-jing bekerja pula ke punggung orang.

Tendangan itu sangat cepat dan seharusnya tepat pula mengenai sasarannya. Tapi tempat mereka itu tepat menghadapi cermin perunggu yang besar itu hingga apa yang terjadi dapat dilihat yang bersangkutan dengan jelas. Segera padri pertama tadi berkelit sambil balas menghantam sekali.

“Ti-jing, apa kau sudah gila?” bentaknya gusar.

Tapi Ti-jing tidak memberi kesempatan pada lawannya, ia menyerang secara bertubi-tubi. Sampai jurus kedelapan, perut padri itu kena dihantamnya sekali, menyusul kena didepak sekali lagi.

Kiau Hong bertambah heran menyaksikan itu. Cara Ti-jing menyerang itu adalah jurus silat yang ganas tanpa kenal ampun yang tidak layak digunakan terhadap sesama saudara perguruan sendiri.

Rupanya padri pertama tadi juga tahu gelagat tidak beres, segera ia berteriak-teriak, “Ada mata-mata musuh, ada….”

Tapi sebelum ia berseru lebih lanjut, dadanya sudah kena digenjot sekali lagi oleh Ti-jing, kontan padri itu jatuh pingsan.

Setelah merobohkan kelima padri itu, cepat Ti-jing berlari ke depan cermin perunggu besar itu. Dengan jari telunjuk kanan segera ia pencet beberapa kali pada huruf “sin”, yaitu huruf pertama dari 20 huruf kata-kata Buddha yang terpancang di samping cermin itu.

Dari bayangan cermin Kiau Hong dapat melihat wajah Ti-jing menampilkan rasa girang. Menyusul dilihatnya hwesio itu memijat lagi huruf ketujuh, yaitu huruf “ju”.

“Tadi hwesio itu mengatakan ‘sin-ju-hud-tim’ apa segala, jika demikian, menyusul huruf yang akan dipijat Ti-jing tentu adalah ‘hud’ dan ‘tim’,” demikian Kiau Hong membatin.

Dan memang benar, habis itu Ti-jing berturut-turut telah pencet huruf tersebut. Lalu terdengar suara keriang-keriut, perlahan cermin perunggu itu dapat membalik sendiri.

Dalam saat begitu kalau Kiau Hong melarikan diri boleh dikatakan sangat mudah dan pasti takkan diketahui oleh siapa pun juga. Tapi karena ia tertarik oleh kejadian ini, ia ingin tahu apa sebenarnya maksud tujuan Ti-jing, mengapa hwesio itu merobohkan kawan sendiri dan barang apa pula yang terdapat di balik cermin itu. Bisa jadi apa yang akan dilihatnya ada sangkut pautnya dengan kematian Hian-koh Taysu.

Begitulah karena suara teriakan si padri pertama tadi, maka dari jauh hwesio-hwesio yang sedang ronda segera ribut mencari dari mana tempat datangnya suara teriakan itu. Segera terdengar di sana-sini ramai dengan suara orang berlari.

“Jika hwesio yang ronda itu datang kemari, jangan-jangan jejakku akan ketahuan nanti?” diam-diam Kiau Hong menjadi ragu.

Tapi demi teringat kedatangan hwesio-hwesio itu nanti perhatiannya tentu akan terpusat pada Ti-jing seorang, kesempatan untuk dirinya lolos masih sangat besar, biarlah sementara ini aku tunggu dulu.

Dalam pada itu ia lihat Ti-jing sedang sibuk sendirian, tangan hwesio itu lagi merogoh ke belakang cermin perunggu itu seperti sedang mencari sesuatu, tapi tiada sesuatu yang diperolehnya.

Dan pada saat itulah suara tindakan orang banyak terdengar mendekati pintu Po-te-ih itu.

Wajah Ti-jing tampak mengunjuk rasa kecewa, segera ia bermaksud meninggalkan tempat itu. Tapi tiba-tiba teringat sesuatu olehnya, ia mendak dan melongok ke balik cermin, menyusul terdengar ia berseru tertahan, “Hah, ini dia!”

Habis itu, tangannya merogoh ke belakang cermin dan mengeluarkan sebuah bungkusan kecil. Cepat ia masukkan bungkusan itu ke dalam baju, lalu bermaksud melarikan diri. Namun sudah terlambat sedikit, para padri yang ronda sudah berkerumun tiba, segala jalan keluar sudah ditutup.

Ti-jing tampak bingung dan celingukan kian-kemari. Mendadak berlari ke pintu depan.

“Cara demikian ia keluar ke sana, tidak bisa tidak pasti dia akan tertangkap,” demikian Kiau Hong membatin.

Dan pada saat itu juga sekonyong-konyong terasa sambaran angin, ada orang menubruk ke tempat sembunyinya. Dengan ilmu “Thing-hong-pian-gi” atau mendengarkan angin membedakan benda, tanpa berpaling tangan kirinya terus menangkap hingga tepat urat nadi pergelangan penyergap itu kena dicengkeramnya. Menyusul tangan kanan menahan ke atas, tepat “leng-tay-hiat” di punggung orang itu kena disodok, tanpa ampun lagi orang itu kaku linu serta tak dapat berkutik.

Setelah musuh tertangkap, barulah Kiau Hong hendak memeriksa wajah orang. Saat itu di ruangan situ cuma terpasang beberapa pelita minyak, sinarnya agak guram, namun begitu dengan sinar mata Kiau Hong yang tajam dapat dikenali tawanan itu tak-lain-tak-bukan adalah… Ti-jing.

Untuk sejenak Kiau Hong melengak, tapi ia pun paham duduknya perkara, “Ya, tahulah aku. Seperti aku, orang ini juga bermaksud bersembunyi ke belakang arca Buddha ini. Kebetulan ia pun menjatuhkan pilihan pada arca ketiga yang terbangun lebih besar dan gemuk ini. Tapi mengapa ia berlari ke pintu depan dulu, lalu masuk kembali dari pintu belakang secara diam-diam? Ehm, tentu ini adalah akalnya. Ia tahu di dalam ruangan masih menggeletak lima padri, sebentar kalau ada orang datang dan tanya mereka, tentu mereka akan mengatakan Ti-jing telah lari melalui pintu depan, dengan demikian ruangan Po-te-ih tentu takkan digeledah lagi. Ai, orang ini benar-benar licin dan banyak tipu akalnya.”

Sembari berpikir, Kiau Hong tetap pegang Ti-jing dengan kencang. Ia coba tempelkan mulutnya ke telinga padri itu dan membisikinya, “Jika kau berani bersuara, sekali hantam tentu kumampuskan kau!”

Ti-jing tidak bersuara, ia hanya mengangguk saja.

Dan pada saat itulah dari pintu depan telah menerobos masuk 7-8 orang hwesio. Tiga di antaranya membawa obor pula hingga seluruh ruangan pendopo itu menjadi terang benderang.

Melihat ada lima orang kawanan mereka menggeletak di situ, seketika gemparlah kawanan hwesio itu, segera ada yang berteriak, “Hai, kembali bangsat Kiau Hong itu mengganas lagi!” – “Eh, kiranya Ti-kong, Ti-yan Suheng dan lain-lain!” – “Wah, celaka! Kenapa cermin perunggu ini terjungkat? Kiau Hong telah mencuri kitab di dalam Po-te-ih ini!” – “Hayo, lekas lapor kepada Hongtiang!”

Begitulah Kiau Hong mendengar suara ribut-ribut kawanan padri Siau-lim-si itu, ia hanya dapat tersenyum getir saja dan membatin, “Kembali dosa ini dicatat atas utangku lagi.”

Sebentar kemudian, hwesio-hwesio yang berkerumun di Po-te-ih bertambah banyak. Kiau Hong merasa Ti-jing meronta-ronta beberapa kali, mungkin bermaksud melarikan diri. Segera ia paham maksud orang, “Ya, saat ini para hwesio berkumpul di sini, penjagaan di luar tentu agak kendur, pula Ti-kong, Ti-yan, dan lain-lain belum sadar, kesempatan ini memang sangat baik untuk melarikan diri bagi Ti-jing ini, biarpun dia berjalan terang-terangan di dalam ruangan ini juga tiada orang mencurigai dia, sebab setiap orang telah menyangka akulah pengganasnya.”

Segera pikirannya tergerak pula, “Tampaknya Ti-jing ini juga tidak cukup cerdik, mengapa tadi ia bersembunyi ke sini? Kalau dia berjalan keluar ke sana, masakah ada orang akan menegurnya?”

Dalam pada itu suasana mendadak menjadi sepi, tiada seorang pun yang berani membuka suara. Kiranya Hian-cu Hongtiang dan hwesio-hwesio pimpinan dari berbagai ruangan telah datang semua.

Lebih dulu Hian-cit Taysu, kepala ruang Liong-si-ih, membuka jalan darah Ti-kong berlima untuk menyadarkan mereka, lalu ditanya, “Apakah kalian dirobohkan Kiau Hong? Dari mana dia mendapat tahu rahasia di dalam cermin perunggu ini?”

“Bukan Kiau Hong, tapi adalah… adalah….” demikian sahut Ti-kong, dan belum lagi menyebut nama Ti-jing, sekonyong-konyong ia menubruk ke arah seorang padri di samping Hian-cu Hongtiang, ia jambret dada padri itu sambil mendamprat, “Bagus, bagus! Mengapa kau mendadak membokong kami?”

Sebenarnya Kiau Hong ingin sekali mengintip siapakah gerangan yang dituduh Ti-kong itu, tapi ia pun khawatir kalau-kalau dipergoki hwesio-hwesio yang banyak berkumpul di situ, maka ia tidak berani sembarangan melongok ke luar.

Maka terdengarlah seorang berseru dengan terkejut, “Apa? Ti-kong Suheng, ada apa engkau menarik diriku?”

“Engkau telah menendang roboh kami berlima dan mencuri kitab pusaka, sungguh besar sekali nyalimu!” seru Ti-kong pula. “Lapor Hongtiang, pengkhianat Ti-jing inilah yang menyerang kami dan membuka cermin rahasia itu serta mencuri kitab pusaka.”

“Apa? Ap… apa?” teriak yang didakwa itu dengan kaget. “Sejak tadi aku selalu mendampingi Hongtiang, cara bagaimana aku dapat datang ke sini untuk mencuri kitab segala?”

“Tutup dulu cermin perunggu itu, tentang kejadian tadi, coba ceritakan dengan jelas,” sela Hian-cit tiba-tiba dengan kereng.

Segera Ti-yan membenarkan cermin perunggu itu ke tempatnya semula. Dengan demikian, keadaan di ruangan itu kembali dapat dilihat oleh Kiau Hong melalui cermin itu. Ia lihat seorang hwesio sedang mencak-mencak dengan penasaran oleh karena tanpa berdosa telah dituduh menyerang kawan sendiri.

Waktu Kiau Hong memerhatikan mukanya, ia menjadi terkejut. Kiranya hwesio itu tak-lain-tak-bukan memang Ti-jing adanya.

Dalam herannya, dengan sendirinya Kiau Hong memandang juga kepada Ti-jing yang tertawan olehnya itu. Ia lihat air muka kedua orang itu memang mirip benar, kalau diperhatikan mungkin ada sedikit berlainan, tapi kalau dipandang sepintas lalu, tidak mungkin orang dapat membedakan mereka.

Diam-diam Kiau Hong berpikir, “Di dunia ini, sedikit sekali orang yang berwajah semirip begini satu sama lain. Ya, ya, tentu mereka adalah saudara kembar. Tipu mereka ini sangat bagus, yang satu menjadi hwesio di Siau-lim-si, yang lain menunggu di luar, begitu ada kesempatan bagus, segera yang satu itu pun menyamar sebagai hwesio untuk mencuri kitab ke dalam biara. Sedangkan Ti-jing itu selalu berdampingan dengan Hongtiang, sudah tentu tiada orang yang berani mencurigai dia.”

Dalam pada itu terdengar Ti-kong sedang menguraikan apa yang terjadi tadi, ia ceritakan tentang bagaimana Ti-jing memancing rahasia cermin perunggu itu serta tanpa sadar dia telah mengatakan empat huruf kunci rahasia itu, lalu Ti-jing pura-pura hendak pergi ke kamar kecil dan mendadak membokong mereka dari belakang serta saling gebrak dengan dia, tapi akhirnya ia sendiri dirobohkan. Semuanya ia tuturkan dengan jelas.

Pada waktu Ti-kong melaporkan apa yang terjadi itu, Ti-yan berempat juga tiada hentinya membenarkan apa yang dikatakan kawannya itu untuk memberi kesaksian bahwa cerita itu bukanlah karangan.

Sebaliknya Hian-cu Hongtiang yang menerima laporan itu, wajahnya tampak mengunjuk rasa tidak membenarkan. Ia tunggu sehabis Ti-kong menutur, kemudian barulah ia menanya dengan perlahan, “Apa yang kau ceritakan itu, apakah engkau sudah melihatnya dengan jelas? Benar-benar engkau yakin adalah perbuatan Ti-jing?”

“Lapor Hongtiang, apa yang terjadi itu telah kami lihat dengan jelas,” sahut Ti-kong dan Ti-yan beramai-ramai. “Selamanya kami tiada dendam apa-apa dengan Ti-jing, mengapa kami mesti mengarang cerita yang tak benar untuk memfitnahnya?”

“Ai, urusan ini tentu ada apa-apa yang tidak beres. Sebab selama dua jam ini, Ti-jing selalu berada di sampingku, sejengkal pun ia tidak pernah meninggalkan aku,” ujar Hian-cu kemudian dengan menghela napas.

Ucapan sang hongtiang ini benar-benar membikin semua padri yang hadir di situ tercengang, mereka saling pandang dengan bungkam. Begitu pula Ti-kong dan lain-lain juga tidak berani membuka suara lagi. Maklum, apa yang dikatakan sang ketua ini masakah mungkin omong kosong?

“Ya, memang aku pun menyaksikan sendiri selama itu Ti-jing selalu berada di samping Hongtiang Suheng, masakah ia dapat datang ke Po-te-ih sini untuk mencuri kitab?” demikian kata Hian-lan, salah satu tokoh tertinggi dari anak murid Siau-lim-si angkatan “Hian”, yaitu setingkat dengan Hian-cu.

“Ti-kong,” Hian-cit ikut bertanya, “waktu Ti-jing itu bergebrak dengan kau, apakah di antara permainan silatnya itu ada sesuatu yang mencurigakan?”

“Ai, memang benar! Mengapa aku melupakan hal itu?” seru Ti-kong. “Tadi waktu aku bergebrak dengan dia, terang sekali tipu-tipu serangan yang dia gunakan itu bukanlah ilmu silat dari golongan kita.”

“Habis, ilmu silat dari golongan atau aliran mana? Dapatkah engkau melihatnya?” Hian-cit menegas.

Tapi Ti-kong tampak bingung, ia tidak mampu menjawab.

“Apakah dia menggunakan pukulan Tiang-kun? Atau kim-na-jiu? Te-tong-kun? Liok-hap-kun atau Theng-pi-kun?” demikian Hian-cit menanya pula dengan serentetan nama ilmu silat dari golongan lain.

Tapi Ti-kong menggeleng, sahutnya, “Bu…. bukan. Ilmu silatnya itu sangat keji, beberapa kali Tecu tanpa sadar kena serangannya.”

Maka Hian-cit, Hian-lan dan beberapa padri agung lainnya tidak tanya lebih jauh, mereka saling memberi isyarat mata dengan Hongtiang. Mereka tahu hari ini biara mereka telah kedatangan seorang musuh yang berkepandaian sangat tinggi dan telah mempermainkan mereka dengan akal-akal licik. Jalan satu-satunya sekarang adalah melakukan penggeledahan dan penggerebekan secara serentak di samping harus berlaku tenang, supaya suasana dalam biara tidak menjadi kacau.

Kemudian berkatalah Hian-cu sambil merangkap tangan, “Kitab yang tersimpan dalam Po-te-ih ini adalah buah tangan padri saleh angkatan tua biara kita, jika kitab-kitab itu diperoleh anak murid Buddha, kalau dapat membaca dan memperdalam ajaran dalam kitab itu, dengan sendirinya besar manfaatnya. Tapi kalau orang luar yang memperolehnya tanpa memberi penghargaan sebagaimana mestinya, itu berarti suatu dosa. Para Sute dan para Sutit, sekarang silakan kembali ke tempatnya masing-masing.”

Mendengar perintah sang ketua itu, para padri lantas bubar dan pergi. Hanya Ti-kong, Ti-yan dan lain-lain masih penasaran dan masih mengomeli Ti-jing. Tapi ketika Hian-cit mendelik, Ti-kong dan lain-lain terkejut, seketika mereka bungkam dan cepat pergi bersama Ti-jing.

Sesudah padri lain pergi semua, kini di ruangan situ hanya tertinggal Hian-cu, Hian-lan dan Hian-cit bertiga. Ketiga saudara seperguruan itu duduk di atas tikar di depan arca Buddha. Mendadak Hian-cu berseru, “Omitohud! Dosa, dosa!”

Begitu selesai ucapannya, sekonyong-konyong ketiga padri itu melompat ke atas, tahu-tahu mereka mengitar ke belakang arca Buddha dan berbareng menghantam ke arah Kiau Hong dari tiga jurusan yang berlainan.

Sungguh Kiau Hong sana sekali tidak menduga bahwa jejaknya telah diketahui oleh ketiga padri itu. Lebih-lebih tidak menyangka bahwa ketiga padri yang tampaknya sudah tua dan reyot itu, tahu-tahu lantas menyerang, serangannya juga begitu cepat dan lihai.

Dalam sekejap itu Kiau Hong merata napasnya sesak, dada tertekan tiga arus tenaga yang mahadahsyat. Nyata serangan berbareng ketiga hwesio Siau-lim-si itu bukan main hebatnya. Ia merasa tenaga serangan lawan sudah mengurungnya dari atas, bawah, belakang dan kanan-kiri, lima jurusan sudah tertutup oleh tenaga pukulan ketiga padri, kalau mesti melawannya, itu berarti harus keras lawan, kalau lawan tidak roboh, dirinya sendiri yang pasti celaka.

Namun keadaan sudah tidak memungkinkan dia berpikir lagi, terpaksa ia hantamkan telapak tangan ke depan, “prak, bruk”, arca Buddha yang dipakai aling-aling tadi kena dihantam hingga roboh.

Kiau Hong tidak berani ayal, sekalian ia jinjing tubuh “Ti-jing” terus melompat ke depan sana. Pada saat itu pula ia merasa punggung disambar oleh tenaga pukulan yang dahsyat, terang orang telah menyerangnya dengan Kim-kong-ciang (pukulan tenaga raksasa) yang merupakan kungfu khas Siau-lim-pay. Bila terkena pukulan itu, bukan mustahil badan akan hancur dan perut akan lebur.

Tapi sedapat mungkin Kiau Hong tidak mau mengadu pukulan dengan padri Siau-lim-si. Dalam keadaan melayang ke depan, cepat tangan terjulur untuk memegang cermin perunggu yang sangat besar itu.

Begitu hebat tenaga sakti Kiau Hong, sekali pegang, kontan cermin perunggu itu kena diangkatnya, dan sekali ia putar, bagaikan perisai saja cermin perunggu itu dipakainya untuk menahan ke belakang.

Maka terdengarlah “brang” yang sangat keras, pukulan dahsyat yang dilontarkan oleh Hian-lan tepat kena di atas cermin perunggu, begitu hebat tenaga hantaman itu hingga lengan Kiau Hong seakan-akan patah oleh getaran tenaga itu. Tapi dengan meminjam getaran tenaga pukulan Hian-lan itu, berbareng Kiau Hong dapat melompat beberapa meter lebih jauh ke depan.

Tiba-tiba ia dengar di belakang ada suara orang menarik napas panjang. Suara pernapasan itu jauh berbeda daripada orang biasa. Dari pengalamannya yang luas serta pengetahuannya yang tinggi, segera Kiau Hong tahu pernapasan aneh itu dilakukan oleh seorang jago Siau-lim-pay yang sakti dan segera akan melancarkan serangan sebangsa “Bik-khong-sin-kun” (pukulan sakti dari jauh).

Meski dirinya tidak gentar terhadap pukulan apa pun, tapi juga tiada berguna melawannya keras sama keras. Maka cepat ia menggunakan cermin perunggu sebagai tameng pula, sekaligus tenaganya ia pusatkan di tangan kanan itu.

Dan pada saat yang sama itulah ia merasakan angin pukulan orang sudah menyambar tiba. Tapi aneh, arah yang dituju agak janggal. Kiau Hong terkesiap, tapi segera ia pun sadar apa yang terjadi. Pukulan padri itu bukan ditujukan ke punggungnya, tapi yang diincar adalah punggung “Ti-jing” yang dibawanya itu.

Sebenarnya Kiau Hong tidak kenal “Ti-jing”, dengan sendirinya bukan tujuannya hendak menolong dia. Tapi sekali ia sudah jinjing orang, otomatis timbul rasa kewajibannya untuk melindunginya. Tanpa pikir lagi ia sorong cermin perunggu ke depan. “Brak”, suara cermin itu tidak nyaring lagi, tapi suaranya berubah parau, cermin itu dihantam hancur oleh padri tua itu.

Tadi waktu ia putar cermin ke belakang untuk menahan serangan, berbareng Kiau Hong terus melompat ke atas rumah sambil menjinjing Ti-jing. Ia merasa tubuh Ti-jing itu sangat enteng, sama sekali tidak sepadan dengan perawakannya yang kekar dan tegap itu. Dan selagi dia merasa syukur dapat menyelamatkan diri, ketika terdengar suara cermin pecah, tahu-tahu berdirinya di atas emper rumah terasa kurang kuat, sekali kaki terasa lemas, kembali ia terbanting ke bawah.

Keruan kejutnya bukan buatan. Sejak ia malang melintang di Kangouw, belum pernah ia ketemu lawan setangguh itu. Cepat ia melompat bangun dan berdiri tegak dengan siap siaga, dengan tenang ia menghadap ke punggung tiga lawan itu.

“Omitohud!” demikian kata Hian-cu pula. “Kiau-sicu, sesudah kau datang ke Siau-lim-si tanpa permisi dan membunuh orang, kembali kau rusak arca Buddha pula. Nah, rasakan dulu pukulanku ini.”

Sehabis mengucapkan kata-kata itu dengan kalem, lalu kedua tangannya terpentang dan memutar hingga berwujud sebuah lingkaran, kemudian didorongkan ke depan dengan perlahan. Belum lagi pukulan Hian-cu itu dilontarkan, lebih dulu Kiau Hong sudah merasa napas sesak, dalam sekejap saja tenaga pukulan Hian-cu sudah membanjir tiba bagai gelombang ombak mendampar.

Kiau Hong tidak berani ayal, cepat ia buang cermin perunggu yang sudah bobrok itu sedangkan tangan kanan balas menghantam dengan gerak tipu “Hang-liong-yu-hwe”, yaitu salah satu pukulan sakti “Hang-liong-sip-pat-ciang”, delapan belas jurus ilmu pukulan penakluk naga, ilmu pukulan mahasakti andalan Kay-pang.

Maka terdengarlah suara mencicit benturan kedua arus tenaga yang tak kelihatan. Meski suara itu sangat lirih, tapi Hian-cu dan Kiau Hong sama-sama terentak mundur tiga tindak.

Sesaat Kiau Hong merasa antero tubuh menjadi lemas seakan-akan tak bertenaga pula, terpaksa ia lepaskan Ti-jing dari pegangannya. Namun dasar lwekangnya memang sangat tinggi, sekali ia kerahkan tenaga murni pula, cepat sekali tenaga pulih kembali. Belum lagi pukulan kedua dari Hian-cu tiba, segera ia berseru, “Maaf, aku tak dapat mengawani kalian lagi!”

Berbareng ia angkat Ti-jing dan melompat ke atas rumah.

Sayup-sayup Kiau Hong masih mendengar suara heran Hian-lan dan Hian-cit oleh karena melihat ketangkasannya itu.

Maklum, pukulan Hian-cu tadi telah menggunakan segenap tenaga dalam yang terpupuk selama hidupnya ini. Gerak serangan itu disebut “It-bik-liang-san” atau sekali tabok, dua kali buyar. Yang dimaksudkan buyar ialah, bila tubuh manusia terkena pukulan itu, seketika jiwa melayang dan badan hancur lebur.

Ilmu pukulan itu memang melulu terdiri satu jurus itu saja, soalnya karena memakai tenaga dalam yang mahasakti, tatkala menyerang musuh hakikatnya tidak perlu digunakan untuk kedua kalinya, sebab sekali saja musuh pasti akan terbinasa.

Siapa duga, sesudah Kiau Hong menerima pukulan “It-bik-liang-san” itu, bukan saja ia tidak mati, sebaliknya dalam waktu singkat sudah dapat memulihkan tenaganya serta melarikan diri pula sambil menggondol seorang lagi. Sudah tentu Hian-lan dan Hian-cit terheran-heran sekali.

“Ilmu silat orang sekali-kali tidak di bawah kita, bila dia membikin rusuh di dunia Kangouw, sejak kini celakalah kaum bu-lim,” demikian kata Hian-cu dengan gegetun.

“Makanya harus lekas dibasmi, supaya tidak menimbulkan bahaya di kemudian hari,” ujar Hian-cit.

Hian-lan mengangguk-angguk tanda setuju, tapi Hian-cu Hongtiang diam saja, ia hanya termangu-mangu memandang jauh ke arah perginya Kiau Hong tadi.

Pada waktu lari tadi Kiau Hong masih sempat menoleh ke arah padri-padri itu, ia melihat cermin perunggu tadi sudah pecah berkeping-keping kena hantaman Hian-cit, dari setiap kepingan cermin itu tertampak bayangan belakangnya. Tanpa sebab hati Kiau Hong kembali tergetar. Ia tidak habis heran, “Mengapa setiap kali aku melihat bayanganku sendiri selalu aku merasa tidak enak? Apa sebabnya?”

Tapi waktu itu ia terburu-buru berusaha meninggalkan Siau-lim-si, perasaan sangsi yang timbul itu segera lenyap terbawa oleh larinya yang cepat itu.

Jalan di lereng Siau-sit-san itu sangat hafal bagi Kiau Hong, boleh dikatakan mata tertutup juga takkan kesasar. Maka sesudah menyusur ke balik gunung itu, selalu ia pilih jalan yang terjal, yang sulit ditempuh.

Sesudah beberapa li jauhnya, ia tidak mendengar suara kejaran hwesio Siau-lim-si lagi, legalah hatinya. Ia taruh Ti-jing ke tanah dan membentaknya, “Boleh kau jalan sendiri! Tapi jangan coba melarikan diri!”

Tak terduga, begitu kaki Ti-jing menyentuh tanah, seketika badan lemas lunglai dan terkulai ke tanah seakan-akan cacing mati.

Kiau Hong terkesiap. Ia coba periksa napasnya, ia merasa napas orang sangat lemas, seperti ada seperti hilang. Waktu pegang urat nadinya pula, denyutnya juga sangat lambat seolah-olah orang sudah dekat ajalnya.

Pikir Kiau Hong, “Banyak persoalan yang belum terjawab bagiku, aku justru hendak menanyai dia, mana boleh dia mati secara begini mudah? Sekali kau jatuh di tanganku, pasti tipu muslihatmu akan terbongkar. Tapi, ya, mungkin khawatir rahasianya ketahuan, maka dia lantas telan racun untuk membunuh diri.”

Ia coba meraba dada orang untuk memeriksa denyut jantungnya. Tapi Kiau Hong menjadi kaget ketika merasa tempat yang teraba tangannya itu lunak empuk, nyata itu bukan dada seorang laki-laki, hwesio itu ternyata seorang perempuan.

Maka cepat Kiau Hong menarik kembali tangannya, ia semakin heran, “Jadi dia… dia samaran seorang wanita?”

Segera ia keluarkan ketikan api untuk menerangi muka Ti-jing, ia lihat pada dagu hwesio itu penuh tutul-tutul hitam, yaitu akar jenggot, tenggorokan juga terdapat biji leher, terang itu tanda kelakian yang tak dapat dipalsukan.

Hal ini benar-benar membuat Kiau Hong semakin bingung. Ia coba meraba kepala gundul orang, jelas halus kelimis, sedikit pun tidak palsu. Apakah dia banci? Demikian pikirnya.

Kiau Hong adalah seorang yang berjiwa terbuka dan bebas, tidak pikirkan adat istiadat kolot segala, lain daripada Toan Ki yang masih kukuh kepada tata krama yang kolot. Muka segera ia seret Ti-jing serta membentaknya lagi, “Sebenarnya kau laki-laki atau perempuan? Lekas mengaku sebelum aku membelejeti bajumu untuk diperiksa!”

Bibir Ti-jing tampak bergerak-gerak seperti ingin bicara, tapi tiada sesuatu suara yang keluar, nyata jiwanya sudah tergantung di ujung rambut saja, keadaannya sudah sangat payah.

Kiau Hong pikir tidak peduli orang ini laki-laki atau perempuan, yang pasti tidak boleh dia mati begitu saja. Maka cepat ia gunakan tangan kanan untuk menahan punggung Ti-jing. Ia kerahkan tenaga dalamnya, melalui tangannya ia salurkan hawa murni ke dalam tubuh Ti-jing.

Sebab apakah mendadak keadaan Ti-jing menjadi begitu payah?

Kiranya tadi waktu Kiau Hong mengadu pukulan dengan Hian-cu, tenaga pukulan “It-bik-liang-san” dari Hian-cu itu sungguh tidak kepalang hebatnya, tatkala itu sebelah tangan Kiau Hong mengangkat Ti-jing sehingga getaran tenaga pukulan lawan menembus ke badan Ti-jing dan melukainya.

Begitulah Kiau Hong telah salurkan hawa murninya ke dalam tubuh Ti-jing, semula ia berharap untuk sementara dapat mempertahankannya. Di luar dugaan tenaga dalamnya yang mahahebat itu justru tepat merupakan obat mujarab bagi luka Ti-jing itu. Berangsur-angsur hawa murninya mengalir masuk ke tubuhnya, keadaan Ti-jing menjadi berubah, bagaikan pelita minyak diberi tambah minyak, denyut nadinya mulai kuat dan ucapannya mulai lancar.

Melihat jiwa orang tidak berbahaya lagi, Kiau Hong merasa lega. Ia pikir tidak boleh tinggal lama di tempat yang berdekatan dengan Siau-lim-si ini. Segera ia pondong Ti-jing dengan kedua tangannya, dengan langkah lebar berjalan menuju ke barat laut.

Tapi segera ia rasakan sesuatu kejanggalan lagi, terasa bobot badan Ti-jing itu sangat enteng tidak seimbang dengan perawakannya yang kekar. Ia pikir, “Untuk membuka bajumu memang kurang sopan, tapi kalau membuka sepatu dan kaus kakimu masakan tidak boleh?”

Segera ia copot sepatu padri orang sebelah kanan, lalu meremas telapak kakinya, terasa apa yang tergenggam di tangannya itu sangat keras, terang bukan anggota badan manusia hidup. Ia coba menarik sedikit keras, di luar dugaan, sepotong benda kena dibetotnya. Waktu ia perhatikan kiranya sebuah kaki palsu buatan dari kayu.

Ketika raba kaki Ti-jing pula, baru sekarang ia merasakan itulah kaki manusia yang sungguh-sungguh, kaki itu halus lemas dan kecil mungil.

“Hm, memang benar seorang perempuan,” jengek Kiau Hong diam-diam.

Segera ia keluarkan ginkangnya yang tinggi, ia berlari dengan cepat. Satu jam kemudian, ia taksir sudah lebih 50 li meninggalkan Siau-lim-si, ufuk timur pun mulai terang, fajar sudah menyingsing.

Dengan membawa Ti-jing sampailah Kiau Hong di suatu hutan kecil, ia melihat sebuah sungai kecil dengan air gunungnya yang jernih. Ia mendekati sungai itu dan meraup sedikit air untuk menyiram muka Ti-jing, lalu menggunakan lengan baju orang untuk mengusap mukanya.

Tiba-tiba ia melihat sesuatu perubahan aneh. Kulit daging pada muka “Ti-jing” itu mulai rontok sekeping demi sekeping. Keruan Kiau Hong kaget mengapa kulit daging orang bisa membusuk sedemikian rupa?

Tapi demi diperhatikan pula, ia lihat di bawah kulit muka yang busuk itu tertampaklah kulit daging lapisan bawah yang putih halus bagai kaca.

Waktu dibawa lari oleh Kiau Hong tadi, sebenarnya Ti-jing dalam keadaan tak sadar. Tapi kini karena mukanya disiram air, segera ia siuman, ketika membuka mata dan melihat Kiau Hong, ia bersenyum dan menyapa dengan perlahan, “Kiau-pangcu!”

Saking lemahnya, sesudah bersuara, kembali ia pejamkan mata pula.

Melihat muka orang masih belang-bonteng dan lekak-lekuk belum bersih hingga tidak jelas bagaimana wajah aslinya, segera Kiau Hong mencelup lengan baju Ti-jing ke dalam air sungai, lalu dipakai mengusap muka orang dengan agak keras. Maka tertampaklah bubuk tepung rontok berhamburan hingga berwujudlah sebuah wajah anak dara yang jelita.

“Hai, engkau Nona A Cu!” seru Kiau Hong tercengang.

Kiranya yang menyaru sebagai Ti-jing dan menyelundup ke Siau-lim-si itu bukan lain daripada A Cu, si dayang pribadi Buyung Hok.

Dasar ilmu menyamar A Cu memang sangat pandai, ia gunakan kaki palsu pula untuk meninggikan perawakannya, memakai kapas untuk menambah kemontokan perutnya, mukanya ditambal dengan adukan tepung terigu dan telur, begitu mirip samarannya hingga siapa pun tidak mengenalnya lagi.

Dalam keadaan sadar-tak-sadar A Cu mendengar seruan Kiau Hong yang menyebut namanya sebenarnya ia ingin menyahut, pula ingin memberi penjelasan mengapa dia menyelundup ke Siau-lim-si. Namun sayang tenaganya sangat lemah, sampai mulut pun tak menurut perintah lagi, sepatah kata pun tak sanggup bicara. Dalam gugupnya ia jatuh pingsan lagi.

Pada waktu membawa lari “Ti-jing” tadi, sebenarnya Kiau Hong anggap orang pasti manusia yang mahakeji dan licik, tentu besar sangkut pautnya dengan terbunuhnya ayah-bunda dan Suhu, maka dengan mati-matian ia berusaha menyelamatkan jiwa hwesio itu dengan harapan dapat mengetahui duduk perkara yang sebenarnya, bahkan ia sudah ambil keputusan, bila hwesio ini tidak mau mengaku, ia tidak segan-segan memberi siksaan yang setimpal untuk mengorek pengakuannya.

Tapi apa yang terjadi kemudian benar-benar mimpi pun tak tersangka olehnya. Tawanannya itu bukan lagi Ti-jing melainkan si nona A Cu yang kecil mungil dan cantik manis itu.

Biarpun Kiau Hong sudah beberapa kali bertemu dengan A Cu dan A Pik, tapi ia tidak tahu bahwa A Cu pandai menyamar dan A Pik mahir seni suara. Coba kalau Toan Ki, tentu sudah dapat menerkanya sejak tadi.

Ia lihat A Cu dalam keadaan pingsan pula, cepat ia menyalurkan tenaga murninya untuk merawat lukanya lagi. Kini ia sudah tahu gadis itu bukan keracunan, tapi disebabkan terluka tenaga pukulan.

Sedikit pikir saja Kiau Hong lantas tahu duduknya perkara. Diam-diam ia menyesal, “Sebabnya dia terluka oleh tenaga pukulan Hian-cu itu adalah disebabkan dia terpegang di tanganku. Coba, bila aku tidak ikut campur urusannya dan membiarkan dia pergi-datang sesukanya, tentu sejak tadi ia lolos dan tidak nanti terluka separah ini.”

Oleh karena dalam hati Kiau Hong sudah sangat menghargai Buyung Hok, otomatis terhadap dayangnya juga timbul rasa sayangnya. Karena gadis itu terluka akibat dirinya, maka ia ambil keputusan harus menyembuhkannya. Segera katanya pula, “Nona A Cu, terpaksa harus kupondongmu ke kota untuk mencari tabib, harap engkau jangan marah.”

Habis berkata, kembali ia pondong anak dara itu dan berjalan cepat ke utara.

Tidak lama kemudian hari sudah terang benderang, agar tidak menimbulkan curiga orang, ia gunakan lengan baju si A Cu untuk menutupi muka gadis itu.

Setelah belasan li lagi, akhirnya tibalah mereka di suatu kota cukup besar dan ramai. Waktu Kiau Hong tanya orang di pinggir jalan, diketahui kota itu bernama Kho-keh-cip, suatu kota makmur dengan macam-macam hasil palawijanya. Ia mendapatkan sebuah hotel terbesar di kota itu, ia minta dua kamar kelas satu dan merebahkan A Cu di atas ranjang.

Pelayan hotel agak curiga juga melihat keadaan Kiau Hong dan A Cu yang tidak mirip suami-istri dan tidak memper kakak-beradik pula. Tapi karena melihat sikap Kiau Hong yang gagah berwibawa, pelayan itu tidak berani bertanya.

Kiau Hong lantas dihadapkan pada kesulitan pula karena tidak membawa sangu, ia berkerut kening dengan sedih.

“Di… di dalam bajuku ada sebuah… sebuah bandul kalung emas….” demikian A Cu berkata dengan suara lemah.

“Baiklah, boleh kau keluarkan, nanti kujual,” ujar Kiau Hong.

A Cu ingin menurut, tapi ia terlalu lemah untuk bisa bergerak. Terpaksa Kiau Hong tidak pikirkan adat istiadat lagi, segera ia keluarkan benda yang dimaksudkan itu. Ia lihat mainan kalung itu terbuat sangat indah, sebuah bandul kalung dengan untiran emas yang halus. Di atas mainan itu terdapat pula ukiran tulisan yang berbunyi: “Anak Si genap 10 tahun, semakin besar semakin nakal.”

Kiau Hong tersenyum, ia pikir mainan itu tentu pemberian orang tua si A Cu ketika anak dara itu berulang tahun kesepuluh, kalau mesti dijual sesungguhnya terlalu sayang. Maka ia taruh mainan kalung itu ke bawah bantal A Cu, hanya rantai emas itu saja yang dibawanya pergi untuk dijual. Ia mendapatkan 18 tahil perak, lalu mengundang seorang tabib untuk memeriksa luka A Cu.

Sesudah tabib itu memegang nadi A Cu, dia menggeleng kepala tiada hentinya. Setelah berpikir sejenak, membuka resep obat pun tidak tabib itu lantas berbangkit sambil berkata, “Sayang, sayang! Maaf, maaf!”

Lalu permisi dan angkat kaki tanpa minta honorarium lagi.

Kiranya tabib itu merasa denyut nadi A Cu sangat lemah dan menaksir sekejap lagi pasti akan putus nyawanya. Ia khawatir kalau tidak lekas tinggal pergi mungkin akan tersangkut dalam utusan jiwa itu.

Sudah tentu Kiau Hong ikut khawatir, kembali ia mengundang seorang tabib lain. Sekali ini si tabib berani membuka resep dan menyatakan penyakit si nona susah disembuhkan lagi, resep obat itu hanya sekadar sebagai suatu kewajiban saja.

Kiau Hong melihat resep obat yang dibuka itu berisi obat sebangsa kamcho (kayu manis), menthol, jeruk purut, dan sebagainya. Ramuan obat ini dipakai untuk menyembuhkan sakit perut saja belum tentu manjur.

Dalam dongkolnya Kiau Hong tidak beli obat itu, segera ia kerahkan tenaga murni sendiri dan disalurkan ke tubuh A Cu. Hanya sebentar saja air muka A Cu yang pucat telah berubah merah bercahaya.

“Kiau-pangcu,” dapatlah gadis itu membuka suara, “syukurlah engkau telah menyelamatkan aku. Jika tertangkap oleh tawanan keledai gundul itu, tentu melayang jiwaku.”

Mendengar suara orang penuh tenaga, Kiau Hong sangat girang, sahutnya, “Nona A Cu, sungguh aku sangat khawatir penyakitmu ini tak dapat disembuhkan, tapi kini engkau sudah baik.”

“Jangan panggil aku nona apa segala, langsung panggil namaku saja,” ujar A Cu. “Kiau-pangcu, untuk apakah engkau datang ke Siau-lim-si sana?”

“Sudah lama aku bukan pangcu lagi, selanjutnya jangan kau panggil aku sebagai pangcu,” kata Kiau Hong.

“Ah, maaf, untuk selanjutnya akan kupanggil Kiau-toaya saja,” ujar A Cu.

“Sekarang aku ingin tanya lebih dulu,” kata Kiau Hong pula. “Apa maksud tujuanmu datang ke Siau-lim-si?”

“Ai, kalau kukatakan, janganlah aku ditertawai,” ujar A Cu. “Oleh karena kudengar Kongcu kami telah pergi ke Siau-lim-si, maka aku ingin mencarinya untuk menceritakan urusan nona Ong. Siapa duga waktu aku permisi hendak masuk ke biara itu, hwesio penjaganya dengan bengis melarang aku masuk, alasannya karena aku adalah kaum wanita. Aku berdebat padanya, tapi malah didamprat olehnya. Aku justru hendak masuk ke sana, ingin kulihat apakah dia mampu melarang aku.”

“Pantas, Si-ji genap 10 tahun, makin besar makin nakal.” kata Kiau Hong dengan tersenyum. “Siapakah yang mengukir kalimat itu di atas bandul mainan kalungmu?”

“Ayahku,” sahut A Cu. Menyebut ayahnya, air muka si gadis tampak berduka.

Kiau Hong taksir mungkin ayahnya sudah meninggal dunia, maka ia pun tidak tanya lebih jauh, tapi katanya pula, “Sesudah menyelundup ke Siau-lim-si, padri-padri di situ tentu saja sangat gusar, tapi tak bisa berbuat apa-apa padamu, terutama bila engkau lantas perlihatkan dirimu yang sebenarnya, tentu mereka akan runyam.”

“Ya, memang,” sahut A Cu sambil tertawa dan bangun berduduk. “Sesudah kesehatanku pulih, aku akan menyamar sebagai laki-laki untuk masuk ke biara itu, lalu keluar pula dengan dandanan sebagai wanita, biar hwesio-hwesio itu meledak perutnya saking gusar. Hahaha, sungguh permainan yang menyenangkan, haha….”

Mendadak suara tertawanya putus, badan lantas terkulai di atas ranjang dengan lemas dan tak bergerak lagi.

Kiau Hong terkejut, ia coba periksa napas si gadis, ia merasa pernapasannya seperti sudah terhenti sama sekali. Dalam khawatirnya cepat Kiau Hong tempelkan telapak tangannya ke “leng-tay-hiat” di punggung A Cu, ia salurkan hawa murni sendiri ke dalam badan si gadis.

Tidak lama kemudian, perlahan dapatlah A Cu mengangkat tubuhnya, katanya dengan penuh menyesal, “Ai, tadi kita sedang bicara, mengapa aku lantas tertidur? Maafkan, Kiau-toaya.”

Kiau Hong tahu keadaan gadis itu agak payah, jawabnya, “Badanmu masih kurang kuat, silakan tidur saja untuk memulihkan semangat.”

“Aku tidak letih, sebaliknya telah bikin susah Kiau-toaya semalaman, engkau yang perlu mengaso sebentar,” sahut A Cu.

“Baiklah, sebentar lagi akan kujenguk kau lagi,” kata Kiau Hong.

Lalu ia keluar ke ruangan makan, ia pesan lima kati arak dan dua kati daging masak, ia makan dan minum sendiri. Sebenarnya dalam hal minum arak Kiau Hong boleh dikata tanpa takaran dan tiada bandingan, tapi kini dalam keadaan masygul, habis lima kati arak itu, ia merasa agak sedikit pening kepala. Ia beli pula dua biji bakpao dan dibawa ke kamar untuk A Cu.

Ia menjadi kaget ketika A Cu dipanggil-panggil tidak menyahut. Waktu ia periksa, ia lihat gadis itu merebah dengan mata terpejam, muka pucat dan pipi melekuk sebagai mayat. Ketika ia meraba jidatnya, syukurlah masih terasa hangat. Cepat ia menolongnya dengan hawa murni sendiri dan perlahan barulah A Cu sadar. Dengan gembira ria kemudian gadis itu makan kedua biji bakpao.

Dengan demikian maka tahulah Kiau Hong bahwa saat itu A Cu hanya bisa hidup jikalau ada saluran tenaga murninya sebagai penyambung nyawa, tapi bila tanpa saluran hawa murni itu, tiada sejam kemudian tentu gadis itu akan mati lemas. Ia menjadi sedih tanpa berdaya.

Melihat Kiau Hong termenung-menung dengan air muka sedih, sebagai seorang gadis cerdik, segera A Cu dapat menduga sebab musababnya. Segera ia tanya, “Kiau-toaya, lukaku sangat parah dan tabib bilang susah disembuhkan, bukan?”

“O, ti… tidak! Tidak apa-apa, mengasolah beberapa hari lagi tentu engkau akan sembuh kembali,” sahut Kiau Hong. “Asal kau mengaso dengan tenang, tentu aku dapat menyembuhkan penyakitmu.”

Dari nada perkataan orang, A Cu tahu luka sendiri sesungguhnya sangat parah, mau tak mau ia menjadi khawatir, dan sekali tangan gemetar, setengah potong bakpao yang belum habis termakan itu lantas jatuh ke lantai. Menyangka tenaga si gadis kembali lemas, segera Kiau Hong mengulur tangan untuk menahan leng-tay-hiat lagi di punggung A Cu.

Tapi sekali ini pikiran A Cu masih jernih, maka dapat dirasakannya satu arus hawa hangat telah menyalur dari tangan Kiau Hong ke dalam tubuh sendiri dan rasa badannya menjadi enak dan segar. Setelah memikir sejenak, segera A Cu mengerti keadaan sendiri sebenarnya sangat berbahaya, tapi berkat hawa murni yang dikorbankan oleh Kiau Hong itulah jiwanya dapat direnggut dari tangan elmaut. Sungguh terima kasihnya tak terhingga dan berkhawatir pula.

Meski A Cu adalah seorang gadis cerdik, tapi apa pun juga ia masih terlalu muda, tiba-tiba air matanya berlinang-linang, katanya, “Kiau-toaya, aku tidak mau mati, jangan engkau meninggalkan aku di sini tanpa urus lagi.”

Mendengar ucapan yang harus dikasihani itu, segera Kiau Hong menghiburnya, “Tidak, pasti tidak, aku Kiau Hong tidak nanti meninggalkan seorang kawan yang tertimpa malang tanpa menolongnya!”

“Aku akan mati tidak, Kiau-toaya?” tanya A Cu dengan berduka. “Engkau adalah kesatria terpuja di bu-lim, orang menyatakan ‘Pak Kiau Hong dan Lam Buyung’, jadi engkau mempunyai nama besar sejajar dengan kongcu kami, tentu selama hidupmu tidak pernah omong kosong, bukan? Engkau mengatakan lukaku tidak berat, engkau tidak mendustai aku, bukan?”

Demi kebaikan gadis itu, terpaksa Kiau Hong menjawab, “Aku tidak mendustai kau. Dahulu waktu masih kanak-kanak aku suka bohong, tapi sesudah besar dan berkelana di Kangouw, aku tidak pernah mendustai orang lagi.”

“Jika begitu, dapatlah aku merasa lega,” kata A Cu. “Kiau-toaya, aku ingin memohon sesuatu padamu.”

“Tentang apa?” tanya Kiau Hong.

“Malam ini harap kau sudi mendampingi aku di sini, janganlah meninggalkan aku,” pinta si gadis. Ia menduga bila ditinggal pergi Kiau Hong, mungkin jiwanya takkan tahan sampai besok pagi.

“Tentu saja,” sahut Kiau Hong dengan tertawa. “Biarpun kau tak omong juga aku akan mengawani kau di sini. Sudahlah, jangan bicara lagi, tidurlah yang tenang.”

A Cu lantas pejamkan mata, tapi selang sejenak, kembali ia membuka mata dan berkata, “Kiau-toaya, aku tak bisa tidur. Aku ingin mohon sesuatu padamu, bolehkah?”

“Boleh saja, tentang apa?”

“Dahulu waktu aku masih kecil, selalu ibuku meninabobokan aku di tepi ranjang. Asal beliau menyanyi dua-tiga lagu, aku lantas terpulas.”

“Dan berada di sini, ke mana dapat mencari ibumu? Susah tentunya.”

“Ibuku sudah lama meninggal dunia,” kata A Cu. “Kiau-toaya, sudilah engkau menyanyikan beberapa lagu untukku?”

Keruan Kiau Hong serbarunyam, laki-laki setua dia masakah disuruh menyanyi apa segala, kan lucu? Maka jawabnya, “Aku tidak pintar menyanyi.”

“Ya, apa boleh buat, engkau tidak sudi menyanyi,” kata si gadis.

“Bukan aku tidak sudi menyanyi, sesungguhnya aku tidak bisa,” sahut Kiau Hong.

“Eh, ya, ada sesuatu lagi, sekali ini hendaklah engkau jangan menolak lagi,” tiba-tiba A Cu berseru girang.

Diam-diam Kiau Hong merasa kewalahan terhadap dara cilik yang kekanak-kanakan dan serbaaneh pikirannya ini, entah permintaan apa lagi yang hendak dikemukakan anak dara itu. Terpaksa ia menjawab, “Cobalah katakan, asal bisa tentu akan kulakukan.”

“Bisa, pasti engkau bisa,” ujar A Cu tertawa. “Begini, boleh engkau mendongeng, baik dongengan tentang si kelinci maupun cerita tentang si kucing. Setelah mendengar dongengan itu tentu aku akan dapat tidur.”

Sungguh Kiau Hong serbasusah. Belum lama berselang ia adalah seorang tokoh Kangouw terkemuka, seorang pangcu yang terpuja, tapi dalam waktu singkat saja kedudukannya sudah hilang dan dipecat dari keanggotaan Kay-pang, bahkan tiga orang yang dicintainya di dalam dunia ini, yaitu kedua orang tua dan seorang gurunya telah tewas semua dalam waktu sehari saja, malahan mengenai asal usul sendiri sebenarnya keturunan bangsa asing atau bangsa Han asli juga belum diketahui, sebaliknya malah menanggung dosa pendurhakaan kepada orang tua sebagaimana orang mendakwanya.

Belum lagi pukulan-pukulan batin itu terhibur, kini ia mesti mendampingi seorang nona kecil yang merengek-rengek minta dia menyanyi dan mendongeng apa segala. Sebagai seorang kesatria, seorang pahlawan sejati, sudah tentu hal-hal tetek bengek itu tidak menarik baginya. Tapi sekilas dilihatnya sorot mata A Cu itu memancarkan sinar yang memohon dengan sangat, air mukanya tampak pucat dan lesu pula, ia menjadi tidak tega, akhirnya ia berkata, “Baiklah, aku akan mendongeng suatu cerita padamu, tapi entah menarik tidak bagimu?”

“Tentu sangat menarik, silakan mulai, lekas,” seru A Cu kegirangan.

Walaupun sudah menyanggupi, tapi dasar Kiau Hong memang bukan seorang pendongeng, dengan sendirinya susah baginya untuk mulai.

Setelah pikir sebentar, kemudian katanya, “Baiklah, aku akan bercerita tentang seekor serigala. Dahulu ada seorang kakek, waktu dia mencari kayu di gunung, tiba-tiba dilihatnya seekor serigala terjebak di dalam perangkap pemburu. Serigala itu mohon dengan sangat agar si kakek suka menolongnya. Maka kakak itu lantas berdaya upaya mengeluarkan serigala itu dari perangkap. Tapi….”

“Tapi sesudah serigala ditolong si kakek, serigala itu berbalik hendak menerkam si kakek, bukan?” sela A Cu.

“Ai, cerita ini ternyata sudah pernah kau dengar,” ujar Kiau Hong.

“Ya, itulah cerita tentang serigala gunung yang pernah kubaca,” kata A Cu. “Aku tidak suka dongengan dalam buku, tapi aku minta engkau bercerita tentang kisah nyata di kampung.”

“Kisah nyata di kampung?” Kiau Hong bergumam sendiri. Dan setelah berpikir, katanya kemudian, “Baiklah, aku akan bercerita tentang pengalaman satu anak desa.”

Lalu ia pun mulai, “Dahulu di suatu pegunungan tinggal satu keluarga miskin. Kecuali ayah, ibu dan anak itu, mereka tiada anggota keluarga lain lagi. Ketika anak itu berumur tujuh tahun, perawakannya sudah sangat besar dan dapat membantu sang ayah mencari kayu di pegunungan. Suatu hari, ayah jatuh sakit, karena keluarga mereka terlalu miskin, mereka tidak mampu mengundang tabib dan membeli obat. Namun penyakit ayah makin hari makin berat, terpaksa ibu membawa kekayaan yang ada, yaitu berupa empat ekor ayam dan satu bakul telur ayam untuk dijual di kota.

“Dengan uang penjualan ayam dan telur sebanyak delapan gobang itu ibu pergi mengundang tabib. Tapi tabib menolak, katanya jalan pegunungan terlalu jauh dan susah ditempuh, meski ibu memohon dengan sangat, tetap tabib itu menolak. Ibu menyembah dan memohon dengan menangis, tetap tabib itu tidak mau, bahkan menghina, katanya kaum miskin berbau apak. Waktu ibu memohon lagi sambil menarik ujung baju tabib itu hingga robek. Dalam gusarnya tabib itu dorong ibu hingga terjungkal, bahkan mendepaknya pula serta minta ganti kerugian, katanya baju itu baru saja dibuatnya, harganya tiga tahil perak.”

“Tabib itu benar-benar keterlaluan,” kata A Cu perlahan.

Kiau Hong diam sejenak, ia lihat cuaca di luar sudah remang-remang, lalu sambungnya, “Waktu itu si anak juga berada di samping ibunya, melihat sang ibu dianiaya orang segera ia menerjang maju untuk menggeluti si tabib. Tapi ia cuma seorang anak kecil, dengan mudah saja tabib itu mengangkatnya dan melemparkannya keluar pintu. Oleh karena khawatir akan terjadi apa-apa atas diri anaknya, sang ibu berlari keluar pintu untuk memeriksa keadaan bocah itu. Dan kesempatan itu lantas digunakan oleh si tabib untuk menutup pintu.

“Jidat bocah itu terluka lecet dan mengeluarkan darah. Sebagai kaum wanita yang lemah, sang ibu tidak berani bikin ribut lagi pada si tabib, segera ia membawa anaknya pulang ke rumah sambil menangis. Waktu lewat sebuah toko besi, si bocah melihat di dasaran toko itu tertaruh banyak pisau jagal yang lancip lagi tajam. Penjualnya sedang sibuk melayani pembeli di dalam toko, kesempatan itu digunakan oleh si bocah untuk mencuri sebuah pisau jagal itu. Ibunya tidak tahu perbuatan anaknya itu.

“Setiba di rumah, ibu tidak berani menceritakan pengalamannya kepada ayah, sebab khawatir ayah akan gusar dan sedih hingga menambah berat penyakitnya. Waktu ibu hendak mengeluarkan uang hasil penjualan ayam dan telurnya itu, ia menjadi kaget ketika merasa uang itu sudah hilang. Dengan terkejut dan heran ibu keluar untuk tanya si anak, ia lihat bocah itu sedang mengasah sebilah pisau baru pada batu asah, segera ibunya tanya dari mana mendapatkan pisau lancip itu. Si anak tidak berani bilang mencuri, maka membohong pemberian orang. Dengan sendirinya ibunya tidak percaya, pisau jagal itu di pasar sedikitnya berharga empat-lima gobang, mana mungkin ada orang sembarangan memberi pisau mahal pada seorang bocah?

“Waktu ditanya siapa yang memberi, sudah tentu si anak tak dapat menjelaskan. Maka berkatalah ibunya dengan menghela napas, ‘Nak, ayah dan ibu sangat miskin, biasanya tidak dapat membelikan mainan apa pun untukmu, jika sekarang kau ingin mainan pisau, sebagai anak laki-laki dengan sendirinya boleh saja. Cuma uang kelebihan itu hendaklah kau kembalikan pada ibu, ayah sedang sakit, biarlah kita membeli satu-dua tahil daging untuk dibuatkan kaldu bagi ayahmu!’

“Anak itu merasa bingung, dengan mata terbelalak ia menjawab, ‘Uang kelebihan apa maksud ibu?’ – ‘Yaitu kedelapan gobang hasil penjualan telur dan ayam itu, telah kau gunakan membeli pisau itu, bukan?’

“Bocah itu menjadi gugup dan menyangkal, ‘Tidak, aku tidak ambil uang itu, aku tidak ambil uang itu!’ – Kedua orang tua itu selamanya tidak pernah menghajar anaknya, biarpun bocah itu baru berusia beberapa tahun, tapi mereka pandang si anak seperti tamu di rumahnya….”

Bercerita sampai di sini, diam-diam Kiau Hong sendiri merasa heran mengapa kedua orang tua itu sedemikian baik dan ramah tamahnya kepada si anak, tidak lazim ayah-ibu begitu menghargai anaknya biar bagaimanapun kasih sayangnya. Karena pikiran itu, tanpa terasa ia bergumam sendiri, “Ya, aneh, mengapa bisa begitu?”

“Aneh tentang apa?” tanya A Cu tiba-tiba.

Habis mengucapkan kalimat itu, napas anak dara itu sudah sangat lemah. Kiau Hong tahu tenaga murni dalam tubuh si gadis telah habis lagi, cepat ia tempelkan tangannya lagi ke punggung A Cu dan menyalurkan tenaga murni.

Lambat laun semangat A Cu pulih kembali, katanya dengan gegetun, “Ai, Kiau-toaya, setiap kali kau salurkan tenagamu kepadaku, setiap kali tenagamu sendiri lantas berkurang, padahal tenaga murni bagi seorang tokoh persilatan adalah mahapenting. Engkau sedemikian baik kepadaku, sungguh entah cara bagaimana aku… aku harus membalasmu?”

“Untuk mana cukup aku bersemadi satu-dua jam saja tentu tenaga murniku akan pulih, masakah berkata tentang belas budi segala?” sahut Kiau Hong tertawa. “Biarpun aku tidak kenal majikanmu Buyung-kongcu tapi dalam hatiku dia sudah kuanggap sebagai sahabat. Kau adalah orangnya, mengapa sungkan padaku?”

“Tapi setiap sejam-dua jam tenagaku lantas habis, masakah engkau harus membantuku dengan cara demikian?” ujar A Cu dengan muram.

“Kau jangan khawatir, kita pasti akan mendapatkan seorang tabib pandai untuk menyembuhkanmu,” hibur Kiau Hong.

“Hihi, mungkin tabib itu juga akan menolak karena aku adalah kaum miskin yang berbau apak,” ucap A Cu dengan tersenyum. “Eh, Kiau-toaya, ceritamu tadi belum lagi habis, tadi engkau bilang aneh tentang apa?”

“O, tiada apa-apa, aku melantur tak keruan,” sahut Kiau Hong. Lalu ia menyambung ceritanya, “Melihat anaknya tidak mengaku, maka sang ibu juga tidak mendesak lebih jauh dan tinggal masuk ke rumah. Selang tak lama, selesai mengasah pisaunya, anak itu pun masuk ke rumah, sayup-sayup ia mendengar ayah dan ibunya sedang mempercakapkan dia mencuri uang untuk membeli pisau, tapi tidak mau mengaku. Namun sang ayah menyatakan kerelaannya agar bocah itu jangan ditegur lagi karena selama ini kepada anak itu tidak pernah diberi mainan apa-apa.

“Dan ketika melihat anak itu masuk ke rumah, percakapan kedua orang tua itu lantas berhenti, malahan dengan ramah ayahnya berkata kepada si anak sambil meraba jidatnya yang terluka itu, ‘Anak yang baik, selanjutnya jangan berlari-lari, ya, supaya tidak jatuh lagi!’

“Ternyata orang tua itu sama sekali tidak menyinggung tentang kehilangan uang dan tentang pembelian pisau itu. Bahkan nada suaranya sama sekali tidak mengunjuk rasa kurang senang sedikit pun.

“Meski umur bocah itu baru tujuh tahun, tapi ia sudah pintar, diam-diam ia pikir, ‘Aku dicurigai ibu mencuri uang untuk membeli pisau, bila mereka menghajar aku atau mendamprat habis-habisan, betapa pun aku rela. Tapi mereka justru sedemikian baik padaku, sedikit pun tidak mengusut lebih jauh.’

“Namun disebabkan hatinya tidak tenteram, segera ia berkata kepada sang ayah, ‘Ayah, aku tidak mencuri uang, pisau ini pun bukannya kubeli’.

“Segera ayahnya menyela, ‘Sudahlah, sudahlah! Ibumu memang suka geger, cuma kehilangan sedikit uang, kenapa mesti diributkan? Dasar orang perempuan suka urus tetek bengek. Anak baik, jidatmu masih sakit tidak?’

“Terpaksa bocah itu menjawab, ‘Tidak sakit, tidak apa-apa!’ – Sebenarnya ia ingin membela diri dari sangkaan jelek itu, tapi terpaksa tidak jadi. Dengan kesal bocah itu lantas pergi tidur tanpa makan malam lagi.

“Namun bocah itu tergulang-guling di atas pembaringan tanpa bisa pulas. Ia dengar pula suara keluh-kesah dan tangisan perlahan sang ibu, mungkin sedih karena penyakit sang suami dan penasaran oleh hinaan dan penganiayaan siang hari itu.

“Perasaan anak itu bergolak, diam-diam ia bangun, ia merayap keluar melalui jendela, malam itu juga ia masuk ke kota lagi dan mendatangi rumah tabib itu. Tapi gedung kediaman tabib itu tertutup rapat, betapa pun bocah itu tidak mampu masuk ke sana.

“Namun ia tidak kurang akal, badannya masih kecil dan cukup menerobos masuk melalui lubang anjing di pojok pagar tembok. Ia melihat kamar tabib itu masih terang, suatu tanda tabib itu belum tidur dan sedang memasak obat. Perlahan-lahan anak itu mendorong pintu kamar, dan rupanya suara keriutan pintu dapat didengar si tabib yang segera menegur siapa yang datang?

“Tapi bocah itu tidak bersuara, cepat ia mendekati tabib yang lagi asyik memasak obat, sekali belatinya dicabut, kontan ia tikam perut tabib itu. Tabib itu hanya merintih beberapa kali, lalu menggeletak tak bernyawa lagi.”

“Hah, sekali tikam bocah itu membunuh tabib itu?” seru A Cu terkejut.

“Ya,” sahut Kiau Hong sambil mengangguk. “Kemudian bocah itu merayap keluar lagi melalui lubang anjing dan pulang ke rumah. Seorang bocah cilik dalam waktu singkat dan di tengah malam buta mesti menempuh perjalanan tergesa-gesa sejauh puluhan li, sudah tentu bocah itu kepayahan. Dan esok paginya, keluarga si tabib mendapatkan majikan mereka sudah mati dengan perut sobek dan usus keluar, tapi pintu rumah tetap tertutup rapat hingga tiada tanda-tanda keluar-masuknya pembunuh.

“Maka orang sama mencurigai jangan-jangan pembunuhan itu dilakukan oleh orang dalam sendiri. Guna pengusutan itu, istri dan saudara tabib itu ditangkap pembesar negeri, mereka ditahan dan diusut hingga bertahun-tahun lamanya, maka keluarga tabib itu menjadi berantakan sejak itu. Dan peristiwa pembunuhan itu sampai sekarang masih tetap merupakan teka-teki bagi penduduk Kho-keh-cip.”

“Kau bilang Kho-keh-cip? Jadi kota inilah tempat kediaman tabib yang terbunuh itu?” A Cu menegas.

“Benar,” sahut Kiau Hong. “Tabib itu she Ting. Sebenarnya adalah tabib paling terkenal dan terpandai di kota ini. Rumah tinggalnya di barat kota sana, tapi gedungnya sekarang sudah tak terawat dan bobrok.”

“Tabib itu suka menghina kaum miskin dan anggap jiwa orang miskin sama sekali tak berharga, pribadinya itu benar-benar tercela, tapi dosanya itu juga tidak mesti dibunuh,” demikian kata A Cu dengan menyesal. “Dan anak itu sesungguhnya juga terlalu kejam, sungguh aku tidak percaya bahwa seorang anak umur tujuh tahun berani membunuh orang. Kiau-toaya, ceritamu ini hanya dongengan belaka atau benar-benar kisah nyata?”

“Benar-benar kisah nyata,” sahut Kiau Hong.

A Cu menghela napas gegetun, katanya, “Ai, anak kejam begitu mirip benar dengan kaum pengganas orang Cidan!”

“Kau… kau bilang apa?” tanya Kiau Hong mendadak sambil melonjak bangun dengan badan gemetar.

Melihat perubahan air muka orang yang hebat itu, A Cu terkesiap, mendadak ia paham duduknya perkara, katanya kemudian, “O, maaf, Kiau… Kiau-toaya, aku tidak… tidak sengaja menyinggung perasaanmu.”

Kiau Hong berdiri termangu-mangu sejenak, lalu duduk dengan lesu, katanya, “Jadi… jadi engkau sudah dapat menerkanya?”

A Cu mengangguk, diam-diam ia dapat menebak si bocah dalam cerita Kiau Hong itu tak-lain-tak-bukan adalah Kiau Hong sendiri.

“Ucapan yang tidak disengaja terkadang malah kena dengan jitu,” kata Kiau Hong. “Dan sebabnya aku turun tangan secara tak kenal ampun itu apakah lantaran aku keturunan Cidan?”

“Kiau-toaya, A Cu sembarangan omong, harap engkau jangan pikirkan lagi,” hibur A Cu dengan suara lembut. “Adapun engkau membunuh tabib jahat itu adalah karena jiwa kesatriaanmu yang ingin membalas sakit hati ibumu.”

“Sebenarnya tidak melulu sakit hati ibuku, tapi disebabkan pula aku dituduh tanpa berdosa,” kata Kiau Hong sambil pegang kepala sendiri dengan kedua tangannya yang lebar. “Padahal kedelapan gobang uang ibu itu tentu tercecer waktu si tabib mengiprat dan mendorongnya, tapi aku… aku yang disangka mencuri uang itu, selama hidupku paling tidak tahan bila dituduh tanpa berdosa.”

Namun demikian dalam waktu satu hari ini ia susah menanggung tiga peristiwa aneh. Tentang dia orang Cidan atau bukan, belum dapat dipastikan sekarang, tapi kematian Kiau Sam-hoay suami-istri dan Hian-koh Taysu sudah jelas bukan perbuatannya, namun ketiga dosa besar itu justru ditimpakan atas namanya. Padahal siapakah gerangan pembunuh yang sebenarnya? Siapa pula gerangan yang sengaja memfitnahnya itu?

Pada saat itulah tiba-tiba Kiau Hong teringat sesuatu lagi, “Mengapa ayah dan ibu selalu mengatakan mereka tidak pernah memberikan apa-apa yang bagus padaku? Jika aku adalah putra mereka yang sebenarnya, dengan sendirinya sang putra mesti ikut hidup miskin dengan orang tua yang miskin, mengapa perlu perlakuan yang baik segala? Jika demikian, terang aku memang bukan anak kandung mereka, tapi adalah anak titipan orang lain. Mungkin orang yang menitipkan aku itu sangat dihormati dan disegani oleh ayah dan ibuku. Lantas siapakah gerangan orang yang menitipkan aku kepada ayah dan ibu itu? Besar kemungkinan adalah Ong-pangcu.”

Berpikir begitu, ia bandingkan pula sifat sendiri yang jauh berbeda daripada kedua orang tua yang welas asih itu, ia menjadi lebih yakin lagi bahwa dirinya pasti keturunan orang Cidan.

Rupanya A Cu dapat meraba perasaan Kiau Hong itu, maka ia coba menghiburnya, “Kiau-toaya, mereka mengatakan engkau adalah keturunan Cidan, kukira mereka sengaja hendak memfitnah engkau. Jangankan engkau berbudi luhur dan berjiwa kesatria, hal ini tersohor di segenap penjuru dan pelosok, bahkan terhadap seorang budak rendahan seperti aku ini juga engkau sedemikian baiknya. Sebaliknya orang Cidan umumnya sebuas binatang, bedanya dengan engkau seperti langit dan bumi, mana dapat engkau dipersamakan dengan mereka.”

“A Cu, jika aku benar-benar orang Cidan, apakah engkau masih sudi menerima perawatanku ini?” tanya Kiau Hong.

A Cu serbasusah untuk menjawab. Maklum, waktu itu bangsa Han teramat benci kepada bangsa Cidan dan memandangnya sebuas binatang dan sekejam ular berbisa, dianggapnya tiada orang Cidan yang mempunyai rasa perikemanusiaan, semuanya kejam.

Sesudah tertegun sejenak, kemudian jawabnya, “Sudahlah, jangan kau pikir yang tidak-tidak, betapa pun tidak mungkin engkau adalah orang Cidan. Jika di antara orang Cidan ada yang baik budi seperti engkau, tentu kita pun tidak akan membenci mereka.”

Kiau Hong termenung diam, ia pikir kalau benar dirinya adalah keturunan orang Cidan, sampai seorang budak kecil seperti A Cu juga tidak sudi gubris padanya lagi. Sesaat ia merasa dunia seakan-akan sempit baginya, pikirannya bergolak hebat, darah seolah-olah mendidih di dalam rongga dadanya.

Ia tahu tenaga dalam sendiri telah banyak terbuang karena beberapa kali mesti menolong A Cu untuk melancarkan tenaga dan mengatur napas. A Cu juga pejamkan mata untuk mengaso.

Selang tak lama, selesailah Kiau Hong melatih diri. Ia khawatir keadaan A Cu payah lagi, ia hendak memeriksa nadi gadis itu. Tiba-tiba didengarnya di tempat tinggi sebelah barat sana ada suara kletek perlahan dua kali.

Sebagai seorang Kangouw ulung segera Kiau Hong tahu itu adalah suara loncatan orang bu-lim dari atap rumah ke atap rumah yang lain. Menyusul di arah timur sana juga ada suara serupa dua kali, bahkan suara yang belakangan ini lebih lirih, suatu tanda ginkang pendatang itu lebih tinggi daripada yang duluan.

Sekaligus dari beberapa jurusan datang orang Kangouw, Kiau Hong menduga besar kemungkinan dirinya yang sedang dicari. Segera ia bisiki A Cu, “Aku akan keluar sebentar dan segera kembali lagi, jangan takut.”

A Cu mengangguk. Lalu Kiau Hong menyelinap keluar dari pintu yang setengah tertutup itu. Dengan enteng ia putar ke belakang rumah dan berdiri mepet dinding luar.

Baru dia berdiri di situ, tiba-tiba dari kamar hotel sebelah timur sana ada suara seorang sedang berkata, “Apakah Hiang-patya di situ? Silakan turun saja!”

Lalu terdengar pendatang sebelah barat tadi tertawa dan menjawab, “Ki-loliok dari Kwansay juga datang!”

“Bagus, bagus! Silakan masuk semua!” ujar orang di dalam kamar itu.

Maka berturut-turut kedua orang di atas atap rumah tadi melompat turun dan masuk ke dalam kamar.

Kiau Hong kenal Ki-loliok dari Kwansay itu berjuluk “Goay-to Ki Liok”, Si Golok Kilat, seorang jagoan terkenal di daerah Kwansay (di luar tembok besar bagian barat). Sedang Hiang-patya yang disebut tadi diduganya pasti Hiang Bong-thian dari Siantang, konon orang berbudi dan dermawan, ilmu silatnya juga sangat hebat.

Kedua orang itu bukan manusia jahat, kedatangan mereka tentu tiada sangkut pautnya denganku, kenapa aku mesti curiga? Demikian pikir Kiau Hong.

Dan selagi dia hendak kembali ke kamar, tiba-tiba terdengar Hiang Bong-thian tadi berkata, “Mendadak ‘Giam-ong-tek’ Sih-sin-ih menyebar enghiong-tiap (kartu undangan kesatria dan mengundang para kesatria Kangouw), apakah Pau-toako tahu sebab musababnya?”

Mendengar nama “Giam-ong-tek” Sih-sin-ih disebut, Kiau Hong terkejut dan bergirang, pikirnya, “Mengapa Sih-sin-ih berada di sekitar sini? Jika demikian, si budak A Cu dapatlah tertolong.”

Kiranya Sih-sin-ih atau Si Tabib Sakti she Sih itu adalah tabib nomor satu pada zaman itu, oleh karena sebutan “sin-ih” (tabib sakti) sangat terkenal sehingga nama asalnya dilupakan orang.

Menurut cerita orang Kangouw yang mungkin berlebih-lebihan, katanya orang mati pun dapat dia hidupkan kembali dengan obatnya. Maka bila orang hidup, betapa parah penyakit atau luka yang diderita pasti akan dapat disembuhkan olehnya.

Oleh karena pengobatannya yang tidak pernah gagal itu hingga tiada orang sakit yang mati di bawah perawatannya, maka orang anggap dia seakan-akan bermusuhan dengan Giam-lo-ong (raja akhirat) sehingga dia julukan “Giam-ong-tek” atau musuh raja akhirat.

Sih-sin-ih itu tidak melulu lihai pengobatannya, bahkan ilmu silatnya juga sangat hebat. Ia suka bergaul dengan kawan Kangouw, setiap kali dia mengobati orang, sering ia minta belajar sejurus-dua dari pasiennya itu. Oleh karena merasa utang budi, yang diminta dengan sendirinya memberi petunjuk dengan sungguh-sungguh dan yang diajarkan selalu adalah ilmu silat kebanggaan si pasien.

Begitulah kemudian terdengar Goay-to Ki Liok juga menegur, “Pau-lopan (Juragan Pau), selama ini ada terjadi jual-beli apa?”

Diam-diam Kiau Hong mengangguk, “Pantas, suara orang di dalam kamar itu seperti sudah kukenal, kiranya dia ‘Bo-pun-ci’ Pau Jian-leng. Orang ini suka mencuri dari si kaya untuk membantu kaum miskin, namanya cukup harum. Dahulu waktu aku diangkat menjadi pangcu, dia juga datang hadir pada upacara itu.”

Setelah mengetahui orang di dalam kamar itu adalah “Bo-pun-ci” (Tanpa Modal) Pau Jian-leng, seorang maling yang terkenal budiman, maka Kiau Hong tidak ingin mendengarkan lagi pembicaraan mereka. Ia pikir biar besok saja akan kutanya Pau Jian-leng di mana beradanya Sih-sin-ih.

Tapi belum lagi ia putar langkah, sekonyong-konyong terdengar Pau Jian-leng menghela napas dan berkata, “Ai, selama beberapa hari ini perasaanku lagi kesal, tiada semangat buat jual-beli apa-apa. Malahan hari ini kudengar dia membunuh ayah-ibu sendiri dan membinasakan gurunya pula, sungguh rasa hatiku sangat pedih.”

Habis berkata, terdengar ia menghantam meja dengan keras.

Mendengar itu, tahulah Kiau Hong bahwa dirinya yang sedang dipercakapkan. Benar juga, terdengar Hiang Bong-thian menanggapi, “Nama keparat Kiau Hong itu sangat disegani, ia pura-pura berbudi dan baik hati sehingga selama ini banyak yang tertipu, siapa duga dia akan berbuat durhaka seperti itu?”

“Dahulu waktu dia diangkat menjadi Pangcu Kay-pang aku pun hadir pada upacara itu dan kenal baik padanya,” demikian Pau Jian-leng berkata pula. “Maka waktu mula-mula aku diberi tahu orang bahwa Kiau Hong adalah keturunan Cidan dengan tegas kudamprat ocehan yang sembrono itu, bahkan karena itu aku bertengkar dengan Tio-losam hingga hampir-hampir baku jotos. Ai, orang Cidan memang mirip binatang, untuk sementara ia dapat menutupi sifat aslinya, akhirnya wataknya yang buas lantas kelihatan.”

“Lebih-lebih tak tersangka kalau dia keluaran Siau-lim-pay, Hian-koh Taysu ternyata adalah gurunya,” kata Ki Liok, Si Golok Kilat.

“Urusan itu sangat dirahasiakan rupanya, sebab ketua Siau-lim-si sendiri juga tidak tahu,” ujar Pau Jian-leng. “Coba kalau Kiau Hong sendiri tidak omong dan disiarkan orang Kay-pang sendiri, mungkin tiada seorang pun yang tahu. Setelah membunuh kedua orang tua dan gurunya, orang she Kiau itu mengira dapatlah menutupi asal-usul dirinya, dengan demikian ia dapat menyangkal mati-matian tanpa saksi. Tak terduga kejadiannya malah berbalik tidak menguntungkan dia, dosanya juga makin bertambah.”

Kiau Hong cukup kenal jiwa kesatria “Bo-pun-ci” Pau Jian-leng, persahabatan mereka pun cukup akrab. Jika sekarang maling agung itu pun mencerca dirinya, maka dapatlah dibayangkan bagaimana orang lain akan memaki dan mengutuknya.

Teringat demikian, hati Kiau Hong menjadi hampa dan putus asa. Tanpa dosa telah tertimpa tuduhan yang susah membela diri, apakah akhirnya ia mampu mencuci bersih fitnahan itu? Tidakkah lebih baik mengasingkan diri saja, setelah bertahun-tahun, tentu orang Kangouw akan melupakan manusia seperti aku. Demikian pikirnya dengan hampa.

Dalam pada itu terdengar Hiang Bong-thian sedang berkata pula, “Menurut dugaanku, sebabnya Giam-ong-tek menyebar enghiong-tiap, maksudnya apakah untuk menghadapi Kiau Hong. Selama hidup Giam-ong-tek paling benci pada kejahatan, asal dia mendengar ada kejadian tidak adil di kalangan Kangouw, tanpa disuruh dia pasti ikut campur urusan itu. Apalagi persahabatannya dengan Hian-lan dan Hian-cit Taysu dari Siau-lim-si itu sangat kekal, sudah tentu dia tidak dapat tinggal diam urusan yang menyangkut Siau-lim-pay itu.”

“Kukira betul dugaanmu itu, memang paling akhir ini di kalangan Kangouw juga tiada terjadi geger apa-apa selain perbuatan orang she Kiau itu,” kata Pau Jian-leng. “Hiang-heng, Ki-heng, marilah kita habiskan 20 kati arak ini, malam ini kita bicara sepuas-puasnya.”

Kiau Hong pikir apa yang akan dibicarakan mereka itu sampai semalam suntuk juga dirinya yang akan dicaci maki habis-habisan dengan dibumbu-bumbui. Maka ia tidak ingin mendengarkan lagi, segera ia pulang ke kamar A Cu.

Melihat air muka Kiau Hong muram durja dan pucat, dengan khawatir A Cu tanya, “Kiau-toaya, apakah engkau ketemukan musuh?”

Namun Kiau Hong hanya menggeleng kepala saja.

A Cu masih khawatir, tanyanya pula, “Engkau tidak terluka apa-apa, bukan? Kiau-toaya?”

Padahal sejak Kiau Hong berkecimpung di dunia Kangouw, selalu ia dihormati kawan dan disegani lawan, belum pernah ia dihina dan dimaki secara rendah oleh orang seperti beberapa hari ini. Kini demi mendengar pertanyaan A Cu itu, mendadak sifat angkuhnya berkobar-kobar, sahutnya keras-keras, “Tidak, aku tidak apa-apa. Memang tidak sulit manusia rendah itu hendak menghina dan memfitnah diriku, tapi untuk melukai orang she Kiau, huh, tidaklah gampang.”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: