Pendekar Kerajaan Tayli ~ Jilid 31

Mendadak timbul pula semangat kesatrianya yang tak gentar pada apa pun juga, ia jadi nekat untuk menghadapi segala kemungkinan, katanya pula, “A Cu, besok akan kucarikan seorang tabib sakti untuk mengobati lukamu, sekarang boleh kau tidur dengan tenang.”

Melihat sikap bekas pangcu yang gagah perkasa dan angkuh tak gentar itu, A Cu merasa kagum, hormat, dan takut pula. Ia merasa tokoh di hadapannya itu sama sekali berbeda daripada Buyung-kongcu, tapi banyak persamaannya pula. Keduanya sama-sama tidak gentar pada langit dan tidak takut pada bumi, sama-sama angkuh dan berwibawa. Tapi Kiau Hong mirip seekor singa jantan dan Buyung Hok seperti burung hong, yang satu kasar dan yang lain halus.

Begitulah demi sudah ambil kebulatan tekad itu, Kiau Hong dapat tidur nyenyak, walaupun hanya duduk di atas kursi.

Di bawah sinar pelita yang remang-remang A Cu dapat melihat muka Kiau Hong. Selang tak lama, ia dengar Kiau Hong mulai mendengkur perlahan, ia lihat daging muka laki-laki gagah itu berkerut-kerut sedikit sambil mengertak gigi, tulang pipi yang lebar itu agak menonjol. Tiba-tiba timbul semacam rasa kasihan dalam hati A Cu, ia merasa batin laki-laki gagah di depan itu pasti sangat tertekan, sangat menderita, jauh lebih malang daripada nasibnya sendiri.

Esok paginya Kiau Hong menyalurkan tenaga murninya pula untuk menyegarkan A Cu, lalu mengeluarkan uang dan suruh pelayan hotel menyewakan sebuah kereta keledai. Ia payang A Cu ke atas kereta lalu datang ke kamar Pau Jian-leng, dan luar ia berseru, “Pau-heng, Siaute Kiau Hong memberi salam hormat!”

Waktu itu Pau Jian-leng, Hiang Bong-thian, dan Ki Liok bertiga belum lagi bangun, mereka kaget demi mendengar seruan Kiau Hong itu. Cepat mereka melompat bangun dan menyambar senjata dengan kelabakan. Tapi mereka menjadi terperanjat demi tampak di atas senjata masing-masing tertempel secarik kertas kecil yang tertulis: “Salam dari Kiau Hong”.

Mereka saling pandang dengan melongo, mereka sadar bahwa semalam tanpa terasa Kiau Hong telah kerjai mereka, jika mau, jiwa mereka dengan gampang sudah ditamatkan oleh Kiau Hong. Di antara mereka Pau Jian-leng yang merasa paling malu, dia berjuluk “Bo-pun-ci” atau tanpa modal, artinya pekerjaannya ialah maling, mencuri tanpa memakai modal, dan sebagai pencuri, sudah tentu kepandaian menggerayangi rumah orang merupakan kemahirannya yang paling diandalkan, tapi kini ia sendiri telah digerayangi Kiau Hong dan baru sekarang ketahuan.

Segera Pau Jian-leng mengikat senjatanya yang berupa ruyung lemas itu di pinggang, lalu ia ke luar kamar, ia tahu bila Kiau Hong bermaksud membunuhnya tentu sudah dilakukannya semalam, maka tanpa takut-takut lagi ia berkata, “Buah kepala Pau Jian-leng ini setiap saat silakan Kiau-heng mengambilnya bila engkau suka, selamanya orang she Pau ini bekerja tanpa modal, kalau kini aku mesti bangkrut di tangan Kiau-heng rasanya juga masih berharga. Sedang ayah-bunda dan gurumu sendiri juga kau tega membunuhnya, apalagi terhadap orang she Pau yang tiada artinya ini, mengapa engkau bermurah hati segala?”

Namun Kiau Hong tidak pusingkan olok-olok itu, sebaliknya ia menjawab secara biasa saja, “Selamat bertemu, Pau-heng, sejak perpisahan di Tong-ting-oh dahulu, ternyata Pau-heng semakin gagah dan kuat.”

“Haha, untunglah jiwaku ini belum lagi amblas, maka sampai sekarang masih sehat walafiat,” sahut Pau Jian-leng dengan terbahak.

“Kabarnya ‘Giam-ong-tek’ Sih-sin-ih telah menyebarkan kartu undangan, maka aku tertarik untuk hadir ke sana, bagaimana kalau kupergi ke sana bersama kalian bertiga?” kata Kiau Hong pula.

Diam-diam Jian-leng sangat heran, pikirnya, “Bukankah maksud tujuan Sih-sin-ih menyebarkan kartu undangan justru hendak menghadapimu. Apa barangkali kau sudah bosan hidup, maka berani datang ke sana seorang diri? Tapi biasanya Kiau-pangcu terkenal pemberani dan cerdik pula, baik ketangkasan maupun kecerdasan serbakomplet, jika dia tidak punya pegangan apa-apa, tidak nanti dia masuk jaring sendiri, maka aku tidak boleh tertipu olehnya.”

Melihat Pau Jian-leng hanya diam saja tanpa menjawab, segera Kiau Hong berkata pula, “Aku ada urusan penting perlu minta tolong pada Sih-sin-ih, kuharap Pau-heng suka memberitahukan tempatnya, untuk mana aku takkan melupakan pada kebaikanmu.”

Kebetulan pikir Pau Jian-leng, jika kau berani hadir pada pertemuan besar para kesatria itu, sekali dikerubut, biarpun kau punya tiga kepala dan enam tangan juga takkan mampu lolos.

Dengan keputusan itu, segera ia menjawab, “Tentang tempat pertemuan itu adalah di Cip-hian-ceng yang terletak kurang lebih 70 li di timur laut sana. Jika Kiau-heng sudi hadir ke sana, itulah paling baik. Cuma ingin kukatakan di muka, pertemuan ini tidak mungkin pertemuan yang baik, kehadiran Kiau-heng ke sana nanti banyak celakanya daripada selamatnya, untuk mana janganlah menyalahkan aku tidak memperingatkanmu sebelumnya.”

“Terima kasih atas kebaikan Pau-heng,” sahut Kiau Hong dengan tersenyum tawar. “Jika enghiong-yan itu diadakan di Cip-hian-ceng, jadi tuan rumahnya adalah Yu-si-siang-hiong, bukan? Jika demikian, jalan ke sana sudah kukenal, maka kalian boleh silakan berangkat dulu, mungkin sejam lagi baru dapat kuberangkat, dengan demikian agar mereka dapat bersiap-siap pula lebih dulu.”

Pau Jian-leng menoleh dan saling pandang sekejap dengan Ki Liok dan Hiang Bong-thian. Kedua kawan itu tampak mengangguk perlahan. Lalu Pau Jian-leng berkata, “Jika demikian, Cayhe akan menunggu kehadiran Kiau-heng di Cip-hian-ceng.”

Begitulah dengan tergesa-gesa mereka bertiga lantas membereskan rekening hotel dan berangkat ke Cip-hian-ceng dengan menunggang kuda. Sepanjang jalan mereka melarikan kuda secepatnya, berulang-ulang mereka menoleh, khawatir kalau-kalau Kiau Hong mendadak menyusul dari belakang dan mendahului mereka.

Sekalipun Pau Jian-leng adalah seorang cerdik pandai, Ki Liok dan Hiang Bong-thian juga jago Kangouw yang berpengalaman luas, sepanjang jalan mereka menerka ini dan menebak itu, namun tetap tidak dapat meraba apa maksud tujuan Kiau Hong sengaja hadir dalam enghiong-yan itu.

“Pau-toako,” tiba-tiba Ki Liok berkata, “apakah engkau melihat kereta yang disewa Kiau Hong itu. Mungkin di dalam kereta itu ada apa-apanya?”

“Jangan-jangan di dalam kereta itu terdapat jago-jago lihai begundalnya?” ujar Hiang Bong-thian.

“Andaikan kereta itu tumplak penuh dengan begundalnya, paling-paling cuma muat beberapa orang, katakanlah seluruhnya ada sepuluh orang bersama Kiau Hong, tapi dalam pertemuan besar nanti, paling-paling mereka cuma mirip sebuah sampan yang terombang-ambing di tengah samudra raya, apa yang dapat mereka perbuat?” kata Pau Jian-leng.

Tengah bicara, sepanjang jalan sudah banyak bertemu dengan jago-jago persilatan yang juga hendak hadir pada enghiong-yan di Cip-hian-ceng.

Karena pertemuan itu diadakan secara mendadak dan mendesak, maka setiap orang yang menerima kartu undangan segera berangkat siang dan malam sambil menghampiri sesama kawan bu-lim, maka hanya dalam waktu sehari semalam saja kartu undangan yang disebarkan Giam-ong-tek itu sudah hampir merata. Cuma waktunya terlalu mendesak, maka yang sudah tiba di Cip-hian-ceng itu baru tokoh-tokoh yang bertempat tinggal ratusan li di sekitar Siau-lim-si di Provinsi Holam.

Sebenarnya Siau-lim-si sendiri sudah menyebarkan kartu undangan kepada para kesatria untuk berunding cara menghadapi Buyung Hok. Tapi waktu yang ditentukan itu masih ada 20 hari lebih, sebagian besar kesatria yang diundang itu masih dalam perjalanan, seperti ayah Toan Ki, yaitu Tin-lam-ong dari negeri Tayli, Toan Cing-sun, dan jago-jago silat yang dipimpinnya saat itu juga belum tiba di Siau-lim-si. Namun begitu sudah banyak juga kaum kesatria yang berada di daerah Holam untuk pesiar atau menyambangi sobat-andai. Mereka inilah yang telah menerima kartu undangan Yu-si-siang-hiong dan “Giam-ong-tek” Sih-sin-ih.

Kalau undangan melulu datang dari Yu-si-siang-hiong saja mungkin tidak diperhatikan oleh para kesatria itu. Tapi nama Giam-ong-tek juga tercantum sebagai pengundang, keruan mereka merasa mendapat kehormatan besar dan buru-buru hadir.

Maklum, nama Si Tabib Sakti she Sih dan Musuh Raja Akhirat itu terlalu tenar, setiap orang persilatan sangat mengharapkan bisa berkenalan atau bersahabat dengan dia. Sebab, sebagai orang persilatan, bukan mustahil setiap saat bisa terluka parah atau terbinasa, tapi kalau kenal dan bersahabat dengan Giam-ong-tek, maka boleh dikatakan jiwa mereka telah diasuransikan kepada tabib sakti itu.

Begitulah, ketika Pau Jian-leng bertiga sampai di Cip-hian-ceng, mereka telah disambut sendiri oleh Yu-si-siang-hiong.

Sesudah berada di dalam rumah, ternyata, tetamu sudah memenuhi ruangan luar dan dalam. Banyak yang dikenal Pau Jian-leng, banyak pula yang tidak kenal. Yang kenal segera saling menyapa, sedapatnya Pau Jian-leng membalas hormati kepada setiap kenalan secara merata. Ia khawatir kalau ada yang terlupa dan kelompatan balas menghormat, bukan mustahil akan menimbulkan rasa dendam hingga berakibat permusuhan di belakang hari.

Setelah Yu Ki, yaitu orang kedua dari Yu-si-siang-hiong (Dua Jago she Yu) mengajak mereka ke meja tuan rumah, di situ sudah menunggu Si Tabib Sakti she Sih, ia sambut kedatangan tamunya sambil memberi hormat, “Atas kesudian hadirnya Pau-heng bertiga, sungguh aku merasa terima kasih tak terhingga.”

“Haha, masakah undangan Sih-loyacu berani kutolak, biarpun aku sedang sakit tak bisa berjalan juga aku akan datang kemari meski harus digotong,” sahut Pau Jian-leng dengan terbahak.

“Tentu saja,” sela Yu Ek, si tua dari kedua saudara Yu itu. “Jika kau sakit payah, tanpa diundang juga kau akan cari Sih-loyacu.”

Mendengar percakapan itu, banyak tetamu lain ikut bergelak tertawa.

“Kalian bertiga baru tiba, tentu sangat lelah, silakan ke belakang dulu untuk dahar sekadarnya,” ujar Yu Ki.

“Lelah sih tidak, lapar pun belum, sebaliknya kubawa suatu berita penting yang perlu kukatakan dengan segera,” sahut Pau Jian-leng. “Numpang tanya dulu, kartu undangan yang Sih-loyacu dan kedua saudara Yu sebarkan itu apakah di antaranya terdapat undangan kepada Kiau Hong?”

Mendengar nama Kiau Hong disebut, wajah Sih-sin-ih agak berubah. Sebaliknya Yu Ek lantas tanya, “Apa maksud Pau-heng sebenarnya, kenapa menyinggung tentang Kiau Hong? Apakah disebabkan Pau-heng bersahabat karib dengan orang she Kiau itu?”

“Harap Yu-heng jangan salah paham,” cepat Pau Jian-leng menjelaskan. “Sebaliknya aku justru hendak menyampaikan berita penting ini, Kiau Hong menyatakan akan hadir dalam pertemuan besar kaum kesatria ini.”

Seketika gemparlah suasana ruangan tamu itu, sejenak kemudian keadaan menjadi hening, semuanya diam ingin mendengarkan berita itu lebih lanjut. Yang terdengar hanya suara obrolan dan tertawa tamu-tamu di ruangan belakang dan samping karena mereka tidak tahu suasana di ruangan depan itu.

“Dari mana Pau-heng tahu Kiau Hong akan datang ke sini?” tanya Si Tabib Sakti.

“Cayhe bersama Ki-heng dan Hiang-heng mendengar dengan telinga sendiri,” sahut Jian-leng. “Sungguh memalukan kalau diceritakan, kami bertiga semalam telah terjungkal habis-habisan.”

Berulang Hiang Bong-thian mengedipi kawan itu agar jangan menguraikan kejadian semalam yang memalukan itu. Tapi Pau Jian-leng cerdik orangnya, ia pikir bila sedikit ia dusta hingga menimbulkan rasa curiga Si Tabib Sakti dan tokoh-tokoh lain, kelak pasti akan mendatangkan banyak kesukaran.

Maka ia tidak peduli isyarat Hiang Bong-thian itu, sebaliknya perlahan ia lepaskan ruyungnya dari pinggang dan diperlihatkan kepada Sih-sin-ih tulisan di atas kertas yang masih menempel pada senjatanya itu, katanya, “Kiau Hong suruh kami bertiga menyampaikan pesannya, katanya dalam waktu singkat ia akan datang ke Cip-hian-ceng ini.”

Lalu ia ceritakan pengalamannya tanpa dusta sedikit pun. Sudah tentu yang runyam adalah Hiang Bong-thian, ia merasa malu dan membanting-banting kaki.

Namun tanpa tedeng aling-aling Pau Jian-leng menghabiskan ceritanya itu, akhirnya ia berkata, “Kiau Hong itu adalah keturunan anjing bangsa Cidan, andaikan dia cukup baik dan berbudi juga kita mesti membasminya, apalagi sekarang ia sudah umbar kebuasannya, mara bahaya di kemudian hari tentu tak terkirakan, sebenarnya untuk menangkapnya tidaklah mudah, syukur sekarang ia masuk jeratan sendiri, rupanya ajalnya sudah tiba saatnya.”

Yu Ki berkerut kening mendengar laporan itu, ia pikir sejenak, lalu berkata, “Konon Kiau Hong itu seorang yang serbapintar dan tangkas, sekali-kali bulan seorang laki-laki kasar dan sembarang bertindak, masakah ia benar-benar berani hadir dalam pertemuan ini?”

“Mungkin ada tipu muslihat di balik kehadirannya nanti, untuk mana kita harus waspada,” ujar Pau Jian-leng. “Marilah kita berunding cara bagaimana harus menghadapinya nanti.”

Tengah bicara, dari luar sudah masuk lagi banyak kesatria lain, di antaranya “Tiat-bin-poan-koan” Tan Cing dan kelima putranya. Tam-kong dan Tam-poh serta Tio-ci-sun, Kim Tay-peng dan Oh-pek-kiam Su An, Nau-kang-ong Cin Goan-cun, dan lain-lain. Tidak lama kemudian, tiba pula Hian-lan dan Hian-cit berdua padri saleh dari Siau-lim-si.

Meski ada juga di antara mereka tidak menerima kartu undangan, tapi karena merasa diri mereka cukup memenuhi syarat untuk disebut sebagai kesatria, maka tanpa diundang juga mereka hadir sendiri.

Dengan hormat Yu-si-siang-hiong dan Giam-ong-tek menyambut kedatangan tamu-tamu itu. Ketika bicara tentang kejahatan yang diperbuat Kiau Hong, semua orang merasa gusar dan bertekad akan membasmi durjana yang kejam itu.

Tiba-tiba pelayan penyambut tamu masuk memberi lapor bahwa Ci-tianglo dari Kay-pang bersama Cit-hoat dan Thoan-kong Tianglo serta keempat tianglo lain juga tiba. Tamu-tamu yang sudah berada di situ sama terkesiap. Ujar Hiang Bong-thian, “Orang Kay-pang datang ke sini secara berbondong-bondong, jelas mereka hendak memberi bantuan kepada Kiau Hong.”

“Tidak mungkin,” kata Tan Cing. “Kiau Hong sudah dipecat dari keanggotaan Kay-pang dan bukan pangcu mereka lagi, kejadian itu kami ikut menyaksikan sendiri, malahan di antara mereka sudah saling bermusuhan.”

“Tapi hubungan lama belum tentu dilupakan begitu saja,” kata Hiang Bong-thian.

“Kukira para tianglo dari Kay-pang adalah kesatria sejati dan patriot tulen, kalau mereka membantu Kiau Hong, bukankah berarti mereka pun pengkhianat bangsa dan penjual negara?” ujar Yu Ek.

“Ya, manusia yang paling rendah sekalipun tidak sudi menjadi pengkhianat bangsa dan penjual negara,” demikian dukung tetamu yang lain.

Maka Yu-si-siang-hiong bersama Sih-sin-ih lantas menyambut keluar. Mereka merasa lega ketika melihat orang Kay-pang yang hadir itu cuma belasan tianglo saja, andaikan mereka hendak membela Kiau Hong juga takkan dapat melawan kesatria lain yang lebih banyak jumlahnya.

Tapi Yu-loji, Yu Ki, orangnya cukup hati-hati, diam-diam ia kirim anak buahnya pasang mata di sekitar pedusunan untuk melihat apakah orang Kay-pang menyembunyikan bala bantuan atau tidak. Setelah itu barulah ia menyilakan Ci-tianglo dan rombongan masuk ke dalam. Wajah para tokoh Kay-pang tampak masam, nyata mereka sedang menanggung sesuatu urusan yang memusingkan.

Sesudah tuan rumah dan para tamu mengambil tempat duduk, segera Ci-tianglo membuka suara lebih dulu, “Sih-heng, dan kedua saudara Yu, hari ini para kesatria kalian undang ke sini, apakah maksudnya hendak menghadapi bibit bencana bu-lim yang ditimbulkan Kiau Hong itu?”

Mendengar tokoh Kay-pang itu menyebut Kiau Hong sebagai bibit bencana bu-lim, semua orang saling pandang sekejap dengan hati lega. Segera Yu Ek menjawab, “Memang demikianlah halnya. Maka atas kunjungan Ci-tianglo sekalian kami merasa sangat beruntung, sebab untuk membasmi pengganas itu, perlu sekali kami mendapat bantuan dan izin para Tianglo, kalau tidak, jangan-jangan akan timbul salah paham hingga terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan.”

Ci-tianglo menghela napas panjang, sahutnya, “Orang itu sudah tidak punya hati nurani lagi, tindak tanduknya kejam. Sepantasnya, karena ia pernah banyak berjasa bagi pang kami, paling akhir juga telah menolong saudara-saudara kami dari jebakan musuh. Akan tetapi seorang laki-laki harus dapat memandang jauh, segala apa mesti berpikir pada kepentingan orang banyak, urusan pribadi harus dikesampingkan dulu. Kini Kiau Hong adalah musuh besar bangsa Song kita, meski para tianglo dari pang kami pernah mendapatkan kebaikannya, tapi tidak nanti kami mengutamakan kepentingan pribadi dan melalaikan kepentingan umum. Apalagi sekarang ia sudah bukan orang kami.”

Ucapan Ci-tianglo segera mendapat pujian orang banyak. Menyusul Yu Ek lantas beri tahu tentang Kiau Hong telah menyatakan akan hadir dalam pertemuan ini. Berita ini membuat para Tianglo Kay-pang terperanjat dan heran. Sebagai bekas anak buah Kiau Hong, mereka cukup kenal pribadi bekas pangcu mereka yang tangkas lagi cerdik itu, kalau dikatakan Kiau Hong akan datang ke Cip-hian-ceng seorang diri, hal ini benar-benar sangat mengherankan mereka.

Tiba-tiba Hiang Bong-thian berseru, “Kukira pernyataan Kiau Hong itu hanya tipu muslihat belaka, ia sengaja membikin kita menunggu percuma di sini, sebaliknya ia angkat langkah seribu entah kabur ke mana, itu namanya ‘tonggeret melepaskan kulit’!”

“Melepas kulit makmu!” mendadak Go-tianglo memaki sambil menggebrak meja. “Tokoh macam apakah Kiau Hong itu, apa yang telah dikatakannya masakah kau kira cuma omong kosong?”

Muka Hiang Bong-thian menjadi merah padam oleh makian itu, segera ia menyahut, “Kau mau bela Kiau Hong, bukan? Hm, aku orang she Hiang inilah orang pertama yang penasaran, marilah, boleh kita coba-coba dulu.”

Selama hidup Go-tianglo paling kagum kepada Kiau Hong, ia memang lagi mendongkol sepanjang jalan ketika mendengar berita tentang bekas pangcu itu membunuh kedua orang tua serta gurunya.

Oleh karena seorang saudara Go-tianglo juga telah menjadi korban keganasan bangsa Cidan, selama hidupnya ia sangat benci pada orang Cidan. Kini mendadak diketahuinya Kiau-pangcu yang dihormati dan dicintainya itu ternyata adalah orang Cidan, keruan kesal dan sesalnya tak terlukiskan.

Dalam keadaan sedih itulah tiba-tiba Hiang Bong-thian berani menantang padanya, keruan tanpa tawar lagi ia tandangi tantangan itu. Sekali lompat ia melesat ke tengah pelataran dan berseru, “Apakah Kiau Hong itu keturunan anjing Cidan atau bukan, saat ini masih belum dapat dipastikan oleh siapa pun juga. Tapi bila dia benar-benar bangsa Cidan, aku orang she Go inilah yang pertama-tama akan mengadu jiwa padanya. Dan untuk membunuh Kiau Hong, biarpun nomor urut keseribu juga belum sampai pada giliranmu. Hm, kau ini kutu busuk macam apa hingga berani mengoceh di sini? Ayolah maju, biar kuhajar adat dulu padamu.”

Sudah tentu Hiang Bong-thian jadi murka juga, “sret”, segera ia lolos goloknya dan hendak tandangi Go-tianglo. Tapi begitu golok terlolos, segera kertas yang ditempel Kiau Hong di atas senjatanya itu lantas terbaca. Seketika ia tertegun.

“Sudahlah, kalian sama-sama tetamu kami, harap suka memandang muka kami, janganlah ribut dulu,” demikian Yu Ek berusaha memisah.

“Ya, Go-hiati, janganlah kita bertindak sembrono, betapa pun nama baik pang kita harus dijaga,” ujar Ci-tianglo.

“Huh, Kay-pang mempunyai seorang tokoh besar macam Kiau Hong, nama baiknya sangat tersohor, memang kudu dijaga sebaik-baiknya,” demikian tiba-tiba suara seorang aneh dingin dan lirih menanggapi ucapan Ci-tianglo itu.

Keruan para tokoh Kay-pang yang hadir di situ menjadi gusar, beramai-ramai mereka membentak, “Siapa itu yang bicara?” – “Ayolah, kalau berani tampil ke muka sini!” – “Huh, pengecut, bicara secara sembunyi-sembunyi! Haram jadah!”

Namun pembicara itu diam saja sesudah mengucapkan kata-kata tadi hingga tiada seorang pun tahu siapa gerangannya.

Sungguh dongkol tokoh-tokoh Kay-pang itu tidak kepalang karena disindir tanpa mengetahui siapa orangnya, tentu saja mereka mati kutu. Tapi beberapa di antaranya yang berwatak berangasan dan kasar, tanpa pikir lagi terus balas mencaci maki hingga kakek-moyang ke-18 keturunan pembicara itu pun dimaki habis-habisan.

Sih-sin-ih berkerut kening oleh caci maki yang kotor itu, segera katanya, “Harap para Tianglo suka sabar, dengarkan kataku ini.”

Maka perlahan para pengemis itu tenang kembali.

Di luar dugaan, kembali suara orang tadi bergema pula di tengah orang banyak sana, “Bagus, bagus! Kiau Hong sengaja mengirim mata-mata sebanyak ini, sebentar tentu ada permainan sandiwara yang menarik.”

Mendengar ucapan itu, Go-tianglo semakin murka, segera terdengar suara gemerencing senjata dilolos, para tokoh pengemis itu siapkan senjata mereka yang gemerlapan. Tamu lain mengira kawanan pengemis itu akan turun tangan, beramai mereka pun lolos senjata hingga keadaan menjadi kacau-balau.

Cepat Sih-sin-ih dan Yu-si-siang-hiong berusaha menenangkan suasana ribut itu, tapi suara mereka ternyata tidak cukup untuk bikin tenteram suasana yang panas itu.

Pada saat kacau itulah, tiba-tiba seorang penjaga berlari masuk dan membisiki telinga Yu Ek. Air muka Yu Ek tampak berubah hebat, ia tanya sesuatu pada pelayan itu dan hamba itu tampak menuding ke luar pintu dengan rasa takut.

Segera tampak Yu Ek bisik-bisik juga pada Sih-sin-ih dan air muka tabib sakti itu pun kelihatan gelisah. Waktu Yu Ki mendekati saudaranya dan menanyakan apa yang terjadi, sesudah Yu Ek berbisik perlahan, mendadak air muka Yu Ki juga berubah kaget. Lalu Yu Ki membisiki kawannya yang lain.

Begitulah seorang demi seorang meneruskan bisik-bisik itu hingga akhirnya merata dan semua orang mengetahui apa yang terjadi. Seketika suasana gaduh menjadi sunyi, sebab setiap orang yang hadir di situ sama mendapat bisikan, “Kiau Hong sudah datang!”

Setelah saling pandang sekejap antara Sih-sin-ih dan kedua saudara Yu, mereka memandang pula pada Hian-lan dan Hian-cit berdua, akhirnya Sih-sin-ih berkata, “Silakan dia masuk!”

Segera pelayan tadi keluar. Sedangkan hati semua kesatria sama berdebar dengan hebat. Walaupun jelas jumlah orang pihak sini jauh lebih banyak, sekali Kiau Hong bertindak, seketika semua orang mengerubut maju, tentu bekas Pangcu Kay-pang itu akan dapat dicacah menjadi perkedel. Tapi nama Kiau Hong itu terlalu disegani, kalau dia sudah berani hadir seorang diri, terang dia sudah punya sesuatu pegangan, siapa pun tidak dapat menerka tipu muslihat apa yang telah diatur olehnya.

Di tengah suasana yang hening itu, tiba-tiba terdengar suara keledai lari berdetak-detak diselingi suara kelotakan roda kereta yang menggelinding di atas batu. Sebuah kereta terdengar sudah sampai di depan pintu. Malahan kereta itu tidak berhenti di situ, bahkan terus melintasi gerbang pintu dan langsung masuk ke dalam pekarangan. Kereta keledai itu tampak dikusiri seorang laki-laki tegap dengan cambuk di tangan, kerai kereta tertutup hingga tidak jelas apa isi kendaraan itu.

Seketika perhatian semua orang terarah kepada laki-laki tegap yang mengemudi kereta itu. Tertampak badannya tinggi besar, dada lebar dan lengan kasar, mukanya kereng, siapa lagi dia kalau bukan bekas Pangcu Kay-pang, Kiau Hong adanya.

Setelah taruh cambuknya di atas kereta, segera Kiau Hong melompat turun dan berkata, “Kudengar Sih-sin-ih dan Yu-si-hengte sedang mengadakan pertemuan besar dengan para kesatria di Cip-hian-ceng ini, Kiau Hong sudah merasa dibenci oleh para kesatria Tionggoan, masakah aku berani ikut hadir ke sini tanpa kenal malu? Cuma hari aku ada urusan penting yang mesti minta tolong kepada Sih-sin-ih, maka kedatanganku secara sembrono ini hendaklah dimaafkan.”

Habis berkata, ia membungkuk dengan laku sangat hormat.

Tapi semakin Kiau Hong berlaku sopan, semakin Sih-sin-ih dan lain-lain curiga mungkin di balik kehalusan ini ada sesuatu tipu keji. Maka diam-diam Yu Ek memberi tanda kepada anak buahnya agar meronda keluar untuk berjaga segala kemungkinan di samping untuk merintangi larinya Kiau Hong bila bekas pangcu itu hendak kabur.

Lalu Sih-sin-ih membalas hormat dan berkata, “Ada urusan penting apa yang Kiau-heng ingin minta tolong padaku?”

Kiau Hong tidak lantas menyahut, tapi ia melangkah mundur ke samping kereta, ia singkap tirai kereta keledai itu dan memayang A Cu turun ke bawah. Lalu katanya, “Disebabkan aku suka bertindak gegabah, maka nona cilik ini ikut menjadi korban tenaga pukulan orang hingga terluka parah. Di zaman ini selain Sih-sin-ih tiada orang lain lagi yang mampu menyembuhkannya, maka secara sembrono kudatang kemari untuk mohon Sih-sin-ih agar suka menolong jiwanya.”

Waktu melihat kereta keledai itu tadi sebenarnya semua orang sangat curiga, sebab tidak tahu apa isi kereta yang dibawa datang Kiau Hong. Kini demi tampak dari dalam kereta diturunkan seorang nona cilik berumur 16-17 tahun, kembali mereka heran lagi, lebih-lebih setelah mendengar Kiau Hong menyatakan kedatangannya itu hendak mohon pengobatan kepada Si Tabib Sakti.

Sih-sin-ih sendiri juga sama sekali tidak menduga akan hal itu. Sudah biasa baginya menerima tamu dari jauh yang ingin minta tolong padanya, tapi kini mereka sedang berunding cara bagaimana menawan dan membunuh Kiau Hong, siapa tahu “durjana” yang dipandang mahajahat itu justru datang sendiri, sungguh hal ini sukar untuk dipercaya oleh siapa pun.

Ia coba mengamat-amati A Cu dari atas ke bawah dan sebaliknya, ia lihat anak dara itu cukup cantik, tapi tidak luar biasa, apalagi usianya masih muda, tidak mungkin Kiau Hong tergoda oleh kecantikan seorang dara ingusan. Tapi ia lantas berpikir, “Jangan-jangan anak dara ini adalah adik perempuannya? Tapi, hal ini tidak mungkin terjadi, sedangkan orang tua dan gurunya saja dibunuhnya, masakah dia sudi mengambil risiko sebesar ini demi untuk adik perempuan. Jika demikian, apakah putrinya? Tapi toh tidak pernah kudengar Kiau Hong pernah menikah?”

Sebagai seorang tabib sakti, dengan sendirinya Sih-sin-ih pandai membedakan ciri-ciri setiap orang. Ia lihat Kiau Hong sangat kekar, sebaliknya A Cu kecil mungil, tiada sesuatu persamaan di antara mereka, maka dapat dipastikan tiada hubungan darah apa-apa. Setelah berpikir sejenak, akhirnya ia tanya, “Siapakah nona ini, dia pernah apa dengan kau?”

Kiau Hong melengak oleh pertanyaan itu, sejak kenal A Cu, yang diketahui cuma panggilan anak dara itu adalah “A Cu”, apakah dia she Cu atau bukan tidaklah diketahui. Maka ia coba tanya gadis itu, “A Cu, apakah kau memang she Cu?”

“Bukan,” sahut A Cu dengan tersenyum. “Aku she Wi dan bernama Si. Cuma aku cuka pakai baju merah, maka Kongcu memanggilku A Cu (Si Merah).”

“O, jadi dia she Wi, Sih-sin-ih, aku pun baru tahu sekarang,” ujar Kiau Hong.

Keruan Si Tabib Sakti semakin heran, tanyanya pula, “Jika begitu, jadi engkau tiada persahabatan apa-apa dengan dia?”

“Dia adalah dayang seorang sobatku, sedikit banyak ada sangkut pautnya,” ujar Kiau Hong.

“Siapakah sobatmu itu, tentu hubungan kalian sebaik saudara sekandung, bukan?” tanya Sih-sin-ih.

“Tidak, sobatku itu juga cuma kukenal namanya saja, selamanya belum pernah bertemu,” sahut Kiau Hong.

Keruan jawabannya membikin gempar pula. Sebagian besar orang tidak percaya pada pengakuannya itu, mereka menyangka itu cuma suatu tipu muslihat Kiau Hong saja. Tapi banyak pula yang kenal watak Kiau Hong tidak pernah berdusta, biarpun segala kejahatan mungkin dapat dilakukannya, tapi untuk menjaga harga diri, tidak nanti ia bohong untuk menipu orang.

Sih-sin-ih tidak tanya lagi, tiba-tiba ia melangkah maju, ia pegang nadi pergelangan tangan A Cu, ia merasa denyut nadi sangat lemah, tenaga murni dalam tubuh bergolak hebat, keduanya itu satu sama lain tidak seimbang. Waktu ia periksa nadi lain pula, maka dapatlah ia menentukan penyakitnya. Katanya, “Jika Kiau-heng tidak menyambung jiwanya dengan tenaga dalam, mungkin nona ini sudah lama terbinasa di bawah pukulan Kim-kong-ciang Hian-cu Taysu.”

Sudah tentu ucapan Si Tabib Sakti ini sekali lagi membikin gempar para kesatria, lebih-lebih Hian-lan dan Hian-cit, mereka merasa aneh bilakah suheng mereka pernah memukul seorang nona cilik dengan Kim-kong-ciang? Jika dara cilik ini benar-benar diserang Kim-kong-ciang yang mahahebat itu, tidak mungkin jiwanya bisa dipertahankan sampai sekarang.

Maka Hian-lan lantas berkata, “Sih-kisu, Hongtiang Suheng kami selama beberapa tahun tidak pernah keluar dari biara, selamanya Siau-lim-si tidak pernah dimasuki kaum wanita, mungkin pukulan Kim-kong-ciang itu bukan dilakukan oleh suheng kami.”

“Habis, di dunia ini siapa lagi yang mampu menggunakan Kim-kong-ciang dari kalangan Buddha ini?” ujar Sih-sin-ih.

Hian-lan dan Hian-cit menjadi bungkam dan saling pandang. Mereka berdua belajar bersama dengan Hian-cu dari satu guru, mereka giat berlatih, tapi karena terbatas oleh bakat mereka, maka Tay-pan-yak-kim-kong-ciang itu tak berhasil diyakinkan mereka. Hal ini pun tidak membuat menyesal mereka, sebab mereka maklum orang Siau-lim-pay mereka jarang yang berhasil meyakinkan ilmu silat golongannya sendiri walaupun inti rahasia setiap ilmu pusaka mereka selalu dapat diturunkan dengan baik oleh padri-padri sakti angkatan yang lebih tua. Tapi untuk bisa melatihnya dengan sempurna terkadang sampai ratusan tahun baru terdapat seorang genius di antara padri yang berjumlah ratusan itu.

Sebenarnya Hian-cit ingin tanya apakah benar nona itu terkena “Tay-pan-yak-kim-kong-ciang”, tapi urung diucapkannya, sebab bila ia tanya begitu, itu berarti ia ragukan kepandaian Sih-sin-ih, hal ini akan dianggap kurang hormat.

Hian-lan lantas berkata, “Di balik kejadian ini tentu ada sesuatu yang ganjil. Suhengku adalah padri yang alim, sebagai seorang ketua suatu mazhab persilatan terkemuka, tidak mungkin ia menyerang seorang nona cilik? Sekalipun nona ini berbuat sesuatu yang salah juga Hongtiang Suheng kami takkan bertindak seganas ini padanya.”

Semua orang menyatakan benar ucapan itu, mereka pun sependapat bahwa di balik urusan ini pasti ada sesuatu muslihat tertentu.

Karena itu banyak di antara mereka sama melototi Kiau Hong, maksud mereka sudah terang yaitu bila ada orang yang main gila dalam peristiwa itu, terang dia pastilah Kiau Hong.

Namun Kiau Hong anggap kebetulan malah jika kedua padri Siau-lim-si itu tidak mengakui A Cu dilukai ketua mereka, sebab kalau mereka mengakui hal itu, mungkin Sih-sin-ih akan tidak enak malah untuk mengobati luka A Cu.

Supaya menurut arah angin, segera ia berkata, “Ya, Hian-cu Hongtiang adalah padri welas kasih, tidak mungkin beliau sembarangan menyerang seorang gadis cilik. Besar kemungkinan ada orang sengaja memalsukan padri saleh untuk merusak nama baik Siau-lim-pay.”

Hian-lan dan Hian-cit saling pandang, mereka anggap ucapan Kiau Hong yang durhaka itu beralasan juga.

Sebaliknya diam-diam A Cu merasa geli, memang benar juga ada orang memalsukan padri Siau-lim-si, tapi bukan memalsukan Hian-cu Hongtiang, melainkan Ti-jing Hwesio. Dan sudah tentu Hian-lan dan Hian-cit tidak mengetahui maksud ganda kata-kata Kiau Hong itu.

Mendengar apa yang dikemukakan Hian-lan dan Hian-cit tadi, Sih-sin-ih yakin diagnosis yang dikatakannya tadi tidak salah lagi, maka katanya pula, “Jika begitu halnya, ternyata di dunia ini ada orang lain lagi yang mahir Tay-pan-yak-kim-kong-ciang dari Siau-lim-si. Cuma waktu orang ini menyerang, entah teralang apa, maka daya pukulannya telah terhapus 7-8 badan hingga Nona Wi ini tidak terbinasa. Tapi betapa hebat tenaga pukulan orang itu mungkin tidak lebih lemah daripada Hian-cu Hongtiang, di jagat ini terang tiada orang ketiga lagi yang dapat menandingi mereka.”

Alangkah kagumnya Kiau Hong, pikirnya diam-diam, “Sungguh mahasakti kepandaian Sih-sin-ih ini. Dia hanya memegang nadi A Cu sebentar, segera ia dapat menguraikan apa yang terjadi pada pertarungan itu dengan tepat. Tampaknya dia pasti dapat juga menyembuhkan A Cu.”

Maka dengan rasa girang segera ia berkata, “Jika nona ini terbinasa di bawah pukulan Tay-pan-yak-kim-kong-ciang, tentu Siau-lim-pay akan ikut tersangkut, maka sudilah Sih-sin-ih menaruh belas kasihan dan suka mengobatinya.”

Sembari berkata, kembali ia memberi hormat.

Tapi belum lagi Si Tabib Sakti menjawab, tiba-tiba Hian-cit tanya A Cu, “Siapakah orang yang melukai Nona? Di manakah kau diserang olehnya dan sekarang penyerang itu berada di mana?”

Karena urusan menyangkut nama baik Siau-lim-pay mereka, pula tidak disangka bahwa di dunia ini ternyata masih ada golongan lain yang mahir Tay-pan-yak-kim-kong-ciang, maka betapa pun ia ingin mengusut urusan ini hingga terang.

Sebaliknya sifat A Cu memang nakal dan jahil, tiba-tiba tergerak pikirannya, “Kawanan hwesio ini gentar kepada kongcu kami, biarlah aku sengaja menakuti-nakuti mereka.

Maka ia lantas menjawab, “Penyerang itu adalah seorang pemuda cendekia, wajahnya cakap dan potongannya ganteng. Waktu itu aku sedang minum dengan Kiau-toaya di suatu kedai arak sambil mempercakapkan kepandaian Sih-sin-ih yang mahasakti dan tiada bandingannya sepanjang sejarah ….”

Manusia mana yang tidak suka dipuji dan diumpak? Begitu pula dengan Sih-sin-ih. Apalagi kata-kata itu diucapkan oleh seorang dara jelita, maka tanpa terasa tabib sakti itu sangat senang, ia mengelus jenggotnya dengan tersenyum sambil mendengarkan pujian-pujian setinggi langit itu.

Sebaliknya Kiau Hong berkerut kening, sebab apa yang dikatakan A Cu itu sudah terang omong kosong belaka.

Terdengar A Cu mencerocos lagi, “Waktu itu aku berkata, ‘Adanya Sih-sin-ih itu di dunia, sebenarnya orang lain tidak perlu belajar silat lagi.’ Maka Kiau-toaya tanya padaku apa sebabnya? Aku menjawab, ‘Jika setiap orang yang dipukul mati toh akan dihidupkan kembali oleh Sih-sin-ih, lalu apa gunanya orang belajar ilmu silat segala, bukankah sia-sia? Bila kau bunuh seorang, beliau sanggup hidupkan dua orang, kau bunuh dua orang, beliau malahan hidupkan empat orang. Nah, kan sia-sia orang belajar silat?'”

Dasar A Cu memang pandai bicara dan pintar mengarang, lagu suaranya enak didengar pula tidak membosankan pendengarnya. Saking tertariknya bahkan ada yang bergelak tertawa.

Namun A Cu sendiri sedikit pun tidak tertawa, ia sambung lagi, “Di luar dugaan di meja sebelah waktu itu pun duduk seorang kongcuya, rupanya percakapan kami dapat didengarnya, tiba-tiba ia mendengus dan berkata, ‘Hah, segala pukulan di dunia ini pada umumnya enteng tak bertenaga, karena itulah tabib she Sih bisa mendapatkan nama kosong. Coba kalau tenaga pukulanku ini, apakah dia mampu menyembuhkan?'”

Habis berucap begitu dari tempat duduknya ia terus menghantam ke arahku dari jauh. Tadinya kukira dia hanya bergurau saja, maka tidak kuambil pusing, Tapi Kiau-toaya inilah yang terkejut ….”

“Apakah dia yang menangkiskan pukulan itu?” tanya Hian-cit.

“Bukan,” sahut A Cu dengan menggeleng kepala. “Jika Kiau-toaya menangkis pukulan itu, tentu aku takkan terluka. Justru karena jarak Kiau-toaya dengan aku agak jauh, maka tanpa pikir ia angkat sebuah kursi dan ditimpukkan dari samping. Syukurlah pertolongan Kiau-toaya itu tepat datangnya hingga kursi itu hancur kena tenaga pukulan kongcu muda itu, aku sendiri merasa sekujur badan enteng bagai terbang ke awang-awang, sedikit pun tidak bertenaga lagi. Lalu kongcuya itu berkata padaku, ‘Nah, sekarang boleh kau pergi pada Sih-sin-ih, suruh dia latihan dulu atas lukamu ini, supaya kelak dia takkan repot jika mesti mengobati Hian-cu Taysu.’.”

“Apa maksud perkataannya itu?” tanya Hian-lan dengan kening bekernyit.

“Agaknya ia maksudkan kelak akan menggunakan Tay-pan-yak-kim-kong-ciang untuk melukai Hian-cu Taysu,” sahut A Cu.

Seketika para kesatria dibikin gempar pula, banyak di antaranya berseru, “He, Ih-pi-ci-to hoan-si-pi-sin, ternyata betul, itulah dia Koh-soh Buyung!”

Mereka pakai kalimat “ternyata betul”, maksudnya mereka sudah menduga sebelumnya akan keterangan A Cu itu.

Begitulah oleh karena A Cu sudah tahu Buyung Hok bakal cari setori pada orang Siau-lim-pay, maka sekarang ia sengaja membual untuk menggertak lawan dulu, sekalian untuk mengangkat derajat dan meninggikan perbawa Buyung-kongcu.

“He, bukankah Kiau Hong tadi bilang ada orang memalsukan padri Siau-lim-si, mengapa nona ini sekarang mengatakan penyerangnya itu adalah seorang muda, sebenarnya manakah yang betul?” tiba-tiba Yu Ek menegas.

“Orang yang memalsukan padri Siau-lim-si memang bukan karangan, aku sendiri menyaksikan dua hwesio yang mengaku dari Siau-lim-si, tapi diam-diam mencuri anjing orang untuk disembelih,” sahut A Cu. Ia sadar bualannya tadi agak tidak cocok dengan keterangan Kiau Hong, maka ia sengaja omong yang tidak-tidak untuk membelokkan pokok pertanyaan mereka.

Dengan sendirinya Sih-sin-ih lantas tahu juga apa yang diceritakan A Cu itu agak ganjil, seketika ia menjadi ragu apakah mesti mengobati luka gadis ini atau tidak. Ia coba pandang Hian-lan dan Hian-cit berdua, lalu memandang Yu-si-siang-hiong dan memandang pula Kiau Hong dan A Cu.

“Hari ini jika Sih-siansing sudi menolong Nona Wi, budi kebaikan ini pasti takkan kulupakan di kemudian hari,” ujar Kiau Hong.

“Hehe, takkan melupakan kebaikanku di kemudian hari? Memangnya kau kira kau dapat keluar dari sini dengan hidup?” jengek Sih-sin-ih.

“Keluar dari sini dengan hidup atau akan mati di sini, hal ini tak dapat kupikirkan lagi,” kata Kiau Hong. “Yang terang, luka nona ini betapa pun harus kau obati.”

“Untuk apa aku harus mengobati dia?” sahut Sih-sin-ih dengan ketus.

“Kota Buddha, menolong jiwa seorang melebihi membangun tujuh tingkat candi,” ujar Kiau Hong. “Sebagai seorang bu-lim yang wajib berlaku bajik, rasanya tidak mungkin Sih-siansing tega menyaksikan nona ini mati begitu saja tanpa berdosa.”

“Sebenarnya siapa pun yang membawa nona ini kemari, pasti akan kusembuhkan dia,” sahut Sih-sin-ih. “Tapi, hm, karena kau yang membawanya kemari, maka aku tidak mau menolong dia.”

Air muka Kiau Hong berubah mendadak, katanya dengan dingin, “Kalian berkumpul di Cip-hian-ceng tujuan kalian memang hendak menghadapi orang she Kiau, masakah aku tidak tahu?”

“Ai, Kiau-toaya, jika begitu, tidak seharusnya engkau menempuh bahaya dan membawa aku ke sini,” sela A Cu mendadak.

Namun Kiau Hong menyambung lagi, “Tapi kupikir kalian adalah kaum kesatria sejati, tentu dapat membedakan yang benar dan yang salah, yang ingin kalian bunuh juga cuma aku seorang dan tiada sangkut paut apa-apa dengan nona cilik ini. Sekarang rasa benci Sih-siansing kepadaku ikut merembet atas diri Nona Wi ini, bukankah itu tidak patut?”

Sih-sin-ih menjadi bungkam. Sejenak barulah ia menjawab, “Apakah aku akan mengobati seseorang atau tidak bergantung kepada keputusanku, hal ini tak dapat dimohon oleh siapa pun dan tak bisa dipaksakan padaku. Kiau Hong, dosamu, sudah kelewat takaran, kami justru lagi berunding hendak membekuk batang lehermu untuk mencencangmu guna sesajen ayah-bunda dan gurumu yang telah menjadi korban keganasanmu itu. Jika sekarang kau sendiri sudah datang kemari, itulah paling bagus. Nah, boleh kau bereskan nyawamu sendiri saja.”

Habis berkata, sekali ia memberi tanda, serentak para kesatria berteriak sekali sambil melolos senjata masing-masing, seluruh ruangan itu penuh sinar kemilau dari berbagai jenis senjata. Menyusul di tempat tinggi juga terdengar suara seruan, di atap rumah, emper, dan pagar tembok sudah penuh berdiri jago-jago silat dengan senjata siap di tangan.

Meski sudah banyak pertempuran besar yang dialami Kiau Hong, tapi biasanya anggota Kay-pang yang dipimpinnya itu selalu berjumlah lebih banyak daripada pihak musuh, tidak pernah seorang diri terkepung di tengah musuh banyak seperti sekarang ini, bahkan ia masih harus melindungi seorang nona cilik yang terluka parah, sungguh ia menjadi bingung juga cara bagaimana mesti meloloskan diri dari kepungan musuh yang ketat ini.

Yang paling khawatir adalah A Cu. “Kiau-toaya, lekas engkau melarikan diri saja dan tidak perlu urus diriku! Mereka tiada permusuhan apa-apa denganku, tentu aku takkan dibikin susah oleh mereka,” demikian seru A Cu sambil menangis.

Tergerak pikiran Kiau Hong, ia pikir para kesatria tentu takkan bikin susah seorang gadis tak berdosa, biarlah lekas kutinggalkan tempat ini saja. Tapi segera terpikir pula, “Seorang laki-laki sejati sekali menolong orang harus menolong sampai akhirnya, sedangkan Sih-sin-ih belum lagi menyanggupi akan mengobati lukanya, sebelum tahu pasti bagaimana nasib nona cilik ini, mana boleh aku tamak hidup dan takut mati, lalu tinggal pergi begini saja?”

Ia coba pandang sekitar ruangan tamu itu, ia lihat banyak tokoh terkemuka di antara hadirin itu adalah kenalan lama.

Melihat jago-jago terkemuka sebanyak itu, sekonyong-konyong semangat jantannya berkobar-kobar, rasa jeri tersapu bersih semua. Katanya di dalam hati, “Andaikan darahku akan membasahi Cip-hian-ceng ini dan badanku akan dicencang mereka, apa artinya lagi bagiku? Seorang laki-laki kenapa mesti girang hidup dan takut mati?”

Berpikir begitu, segera ia terbahak dan berkata, “Sih-sin-ih, kalian menuduh aku adalah orang Cidan dan ingin membunuhku. Hehehe, apakah aku sebenarnya orang Cidan atau orang Han, sampai saat ini aku sendiri pun tidak pasti ….”

“Benar, memang kau anak keturunan capcai, dengan sendirinya kau tidak tahu keturunan jenis apa!” tiba-tiba suara orang yang dingin aneh tadi bergema lagi di antara orang banyak. Sejak tadi semua orang ingin tahu siapakah gerangan pembicara itu, tapi meski sudah dicari dan diperhatikan arah datangnya suara itu, tetap tak diketahui bibir siapa yang bergerak dan bicara itu. Jika perawakan orang itu sangat pendek, toh di antara hadirin itu tiada seorang pun yang berperawakan katai.

Semula Kiau Hong juga celingukan mencari si pembicara itu, tapi sesudah memerhatikan sejenak kemudian ia manggut-manggut, ia tidak gubris orang dan melanjutkan perkataannya kepada Sih-sin-ih, “Dan bila aku ternyata bangsa Han adanya, hari ini engkau telah menghinaku secara terbuka begini, tidak nanti aku tinggal diam atas perbuatanmu ini. Sebaliknya kalau aku adalah bangsa Cidan dan bertekad akan memusuhi para kesatria Tionggoan, maka orang pertama yang akan kubunuh adalah dirimu, dengan demikian supaya setiap kesatria Tionggoan yang kulukai akan binasa dan tak dapat tertolong lagi olehmu.”

“Memang, betapa pun kau pasti akan membunuhku,” sahut Sih-sin-ih.

“Tapi aku mohon sukalah engkau menolong nona ini, satu jiwa kubayar kembali dengan satu jiwa, selamanya aku takkan mengganggu seujung rambutmu,” ujar Kiau Hong.

“Hehehe,” Sih-sin-ih tertawa dingin, “selama hidupku bila mengobati orang hanya kalau dimohon, tapi tidak pernah dipaksa atau diancam.”

“Kan kutukar jiwamu dengan satu jiwa secara adil, tak dapat dikatakan aku mengancam atau memaksa,” sahut Kiau Hong.

Tiba-tiba suara dingin dan aneh tadi berkata pula, “Huh, apakah kau tidak malu? Padahal sekejap lagi kau sendiri akan dicencang mereka menjadi perkedel, tapi kau masih bicara tentang mengampuni jiwa orang segala? Kau ….”

Belum selesai ia berkata, mendadak Kiau Hong membentak, “Gelinding keluar!”

Begitu hebat bentakannya hingga atap rumah seakan-akan terguncang, debu kotoran pun bertebaran dari atas, telinga setiap orang seakan-akan pekak dan jantung berdebar.

Pada saat lain tertampaklah di antara orang banyak ada seorang laki-laki terhuyung-huyung menumbuk kian-kemari pada orang-orang di sekitarnya. Hanya sekejap saja di situ lantas berwujud suatu tempat luang, orang-orang lain sama menyingkir dan laki-laki itu tampak sempoyongan bagai orang mabuk.

Para kesatria lantas dapat melihat jelas laki-laki itu berjubah hijau, muka pucat kaku, perawakannya sangat kekar dan tegap, tapi tiada yang kenal siapakah dia.

“Ah, tahulah aku, dia ini Tui-hun-tiang Tam-ceng. Ya, dia inilah murid Yan-king Taycu,” demikian tiba-tiba Oh-pek-kiam Su An berseru.

Tui-hun-tiang Tam-ceng, Si Tongkat Pencabut Nyawa, mukanya waktu itu tampak berkerut-kerut, terang sedang menderita kesakitan yang luar biasa sambil kedua tangan tiada berhenti-henti memukul dan mencakar dada sendiri. Dari dalam badannya terdengar suara perkataan, “Aku … aku tiada permusuhan apa-apa dengan … denganmu, mengapa kau musnahkan ilmuku?”

Suaranya tetap lirih, dingin dan aneh, tapi kini terdengar lemah dan terputus-putus, sedang bibirnya sedikit pun tidak bergerak.

Keruan banyak di antara hadirin terkejut dan heran. Hanya beberapa di antaranya yang mengetahui bahwa ilmu kemahiran Tam-ceng itu disebut “Hok-lwe-gi” (ilmu bicara dengan perut), dengan ilmu mukjizat itu ditambah lwekang yang tinggi, sering pihak lawan bisa dipermainkan hingga semangat kabur dan sukma hilang, akhirnya terbinasa.

Rupanya Tam-ceng sudah memperoleh kepandaian gurunya, yaitu, Yan-king Taycu dan telah menjadi seorang pembicara dengan perut yang ulung.

Tapi sial baginya, ia ketanggor sekali ini, karena lwekang Kiau Hong jauh lebih tinggi daripadanya, maka ilmu sihirnya itu tidak mempan, sebaliknya ia kena digertak Kiau Hong dan ia celaka sendiri.

Maka dengan gusar Sih-sin-ih lantas mendamprat Tam-ceng, “Jadi kau inilah murid ‘Ok-koan-boan-eng’ Toan Yan-king? Pertemuan besar kaum kesatria yang kuadakan ini hanya disediakan untuk para pahlawan. Manusia rendah dan sampah masyarakat macammu ini juga berani menyelundup ke sini?”

“Huh, pertemuan kesatria apa segala, kulihat lebih tepat dikatakan pertemuan antara kawanan babi celeng!” tiba-tiba dari tempat tinggi di kejauhan berkumandang suara seorang. Dan begitu selesai ucapannya, tahu-tahu sesosok bayangan orang melayang turun dari atas pagar tembok yang tinggi.

Perawakan orang ini tampak lencir dan tinggi sekali dengan gerak-geriknya yang sangat cepat. Banyak di antara penjaga di atas rumah telah berusaha merintanginya, tapi semuanya terlambat sedikit hingga orang jangkung ini sempat menerobos lewat.

Segera banyak juga di antara hadirin mengenal si jangkung ini tak-lain-tak-bukan adalah “Kiong-hiong-kek-ok” In Tiong-ho alias Si Ganas dan Mahajahat.

Dan begitu In Tiong-ho melayang turun ke tengah ruangan, dengan cepat ia jambret Tam-ceng terus menerjang ke arah Sih-sin-ih malah.

Karena khawatir tabib sakti itu diserang, dengan sendirinya tokoh-tokoh di sekitarnya serentak berusaha melindunginya. Tak tersangka tindakan In Tiong-ho itu melulu tipu belaka, pura-pura maju tapi sebenarnya akan mundur. Begitu lawan mengerubut maju, cepat sekali ia melompat mundur dan melompat ke atas pagar tembok lagi.

Sebenarnya tidak sedikit di antara kesatria yang hadir itu berilmu silat lebih tinggi daripada In Tiong-ho, tapi karena didahului oleh durjana itu, ditambah lagi ginkang Tiong-ho memang lain daripada yang lain, sekali dia sudah naik ke pagar tembok, sukarlah untuk disusul oleh siapa pun.

Segera banyak di antara jago-jago itu bermaksud menyerang dengan senjata rahasia, penjaga di atas atap rumah juga membentak dan hendak mencegat, tapi Kiau Hong sudah mendahului bertindak, mendadak ia membentak, “Tinggal sajalah di sini!”

Berbareng sebelah tangan terus memukul dari jauh, kontan suatu arus tenaga mahadahsyat bagaikan senjata tanpa wujud mengenai punggung In Tiong-ho.

Tanpa ampun lagi mahadurjana itu bersuara tertahan sekali, lalu terbanting jatuh ke belakang. Begitu terjungkal ke bawah, terus saja mulutnya menyemburkan darah segar bagai air mancur.

Sebaliknya Tam-ceng yang ikut terjungkal kembali itu masih dapat merangkak bangun, namun tetap terhuyung-huyung ke sana dan kemari sambil mulutnya menggumam seperti orang gila, keadaannya sangat lucu. Namun tiada seorang pun di antara hadirin geli oleh kelakuan Tam-ceng itu, sebaliknya mereka merasa keadaan di depan mata itu sangat seram.

Sih-sin-ih tahu luka In Tiong-ho sangat parah, tapi masih dapat ditolong, sebaliknya semangat Tam-ceng sudah runtuh, pikiran sehatnya sudah hilang, tiada obat mukjizat di dunia ini yang dapat menolong jiwanya. Terbayang olehnya Kiau Hong hanya sekali menggertak dan sekali menghantam dari jauh saja sudah memiliki daya selihai itu, bila bekas pangcu itu mau ambil jiwanya, rasanya tiada yang mampu merintanginya.

Tengah Sih-sin-ih termenung itu, tertampak Tam-ceng tidak bergerak lagi, tapi berdiri terpatung di tempatnya tanpa bersuara lagi. Kedua matanya mendelik, napasnya sudah putus.

Tadi Tam-ceng telah menghina Kay-pang, sebenarnya anggota-anggota Kay-pang sangat murka, tapi waktu itu tiada diketemukan siapa pembicaranya, maka mereka cuma gusar tanpa ada sasarannya. Kini, sekali Kiau Hong datang ke situ, segera orang itu dapat dimampuskan, tentu saja mereka merasa sangat senang dan puas. Kesatria-kesatria yang jujur tulus sebagai Go-tianglo dan Song-tianglo sampai hampir-hampir bersorak memuji, cuma teringat oleh mereka bahwa Kiau Hong sekarang bukan pangcu mereka lagi, pula dituduh sebagai keturunan Cidan, maka mereka urung bersorak. Tapi lapat-lapat dalam hati kecil mereka toh merasa menyesal bila Kiau Hong tidak menjadi pangcu mereka, maka kejayaan Kay-pang yang telah lalu tentu susah dibangun kembali.

“Kedua Yu-heng,” demikian Kiau Hong berkata. “Hari ini Cayhe dapat bersua dengan kenalan-kenalan lama di sini, tapi untuk selanjutnya kita akan menjadi lawan dan bukan kawan lagi, sungguh aku merasa sangat menyesal, maka aku ingin mohon beberapa mangkuk arak padamu.”

Semua orang menjadi heran menyaksikan ketenangan Kiau Hong ini, di bawah kepungan lawan sebanyak ini toh dia masih sempat minta minum arak apa segala. Diam-diam Yu Ek pikir, “Biarlah kita lihat cara bagaimana ia akan bertingkah?”

Maka ia lantas perintahkan centeng menyediakan arak yang diminta.

Cip-hian-ceng sedang mengadakan pertemuan, dengan sendirinya arak dan daharan sudah tersedia lebih dari cukup. Hanya sekejap pelayan sudah sediakan poci dan cawan arak seperlunya.

Tapi Kiau Hong berkata pula, “Cawan sekecil ini mana dapat memuaskan, harap ambilkan mangkuk yang besar.”

Segera dua centeng membawakan beberapa buah mangkuk besar dan satu guci arak simpanan, mereka menaruh semua itu di atas meja di depan Kiau Hong dan menuangkan satu mangkuk penuh.

“Harap setiap mangkuk diisi semua,” pinta Kiau Hong, dan sesudah hal itu dipenuhi kedua pelayan, lalu Kiau Hong angkat mangkuk dan berkata, “Para enghiong-hohan dari segenap penjuru yang hadir di sini sebagian besar adalah kawan lama Kiau Hong, tapi sekarang karena aku dicurigai kalian, marilah, silakan, kita habiskan semangkuk arak ini sekadar tanda putusnya persaudaraan. Siapa yang ingin membunuh diriku harap minum dulu semangkuk. Selanjutnya putuslah hubungan baik kita, apakah aku akan terbunuh oleh kalian atau kalian akan kubinasakan, masing-masing tidak perlu sungkan-sungkan. Nah, silakan siapa yang akan maju lebih dulu.”

Seketika ruangan tamu itu menjadi sunyi senyap, semuanya berpikir dengan khawatir, “Jika aku maju dulu, jangan-jangan akan tertipu olehnya. Pukulan sakti dari jauh seperti tadi mana aku sanggup menangkisnya?”

Dalam keadaan hening itulah, tiba-tiba tampil ke muka seorang perempuan berpakaian putih berkabung. Itulah janda Be Tay-goan.

Be-hujin mengangkat mangkuk arak dan berkata dengan dingin, “Suamiku dibinasakan olehmu, di antara kita tiada soal persaudaraan lagi!”

Lalu ia tempelkan mangkuk arak ke bibir, ia cicip sedikit dan berkata pula, “Aku tidak sanggup minum habis arak ini, tapi sakit hati kematian suami yang harus kubalas adalah mirip arak ini.”

Habis berkata, ia siram sisa arak ke lantai.

Waktu Kiau Hong perhatikan janda muda itu, ia lihat Be-hujin itu cantik molek. Tempo hari waktu bertemu di tengah hutan, karena cuaca sudah gelap, maka wajahnya tidak jelas kelihatan, sungguh tak tersangka wanita yang lihai itu ternyata mempunyai wujud secantik ini. Tanpa bicara ia pun angkat mangkuknya, sekali tenggak ia habiskan isi mangkuk. Ia memberi tanda agar pelayan memenuhi mangkuknya lagi.

Sesudah Be-hujin undurkan diri, lalu maju Ci-tianglo, ia pun tanpa bicara mengeringkan semangkuk arak diiringi Kiau Hong.

Dan setelah Thoan-kong Tianglo, lalu majulah Cit-hoat Tianglo. Selagi tokoh Kay-pang itu angkat mangkuknya hendak ditenggak, mendadak Kiau Hong berkata, “Nanti dulu!”

“Kiau-heng ada pesan apa?” tanya Cit-hoat Tianglo. Biasanya ia sangat hormat kepada Kiau Hong, maka nada suaranya sekarang tetap merendah seperti biasanya, bedanya cuma tidak memanggil “pangcu” lagi.

Maka berkatalah Kiau Hong, “Kita adalah saudara selama sepuluh tahun, sungguh tidak nyana hari ini mesti menjadi musuh.”

Air mata Cit-hoat Tianglo berlinang-linang di kelopak matanya, sahutnya, “Jika tidak menyangkut kepentingan nusa dan bangsa, Pek Si-kia lebih suka mati daripada bermusuhan dengan Kiau-heng.”

“Aku paham hal ini,” kata Kiau Hong sambil mengangguk, “Sebentar lagi kita akan menjadi lawan, rasanya tak terhindar daripada suatu pertarungan sengit. Maka Kiau Hong ingin minta tolong sesuatu urusan.”

“Asal tidak menyangkut pengkhianatan pada negara, pasti akan kuterima,” sahut Pek Si-kia.

Kiau Hong tersenyum, katanya sambil menunjuk A Cu, “Apabila saudara dalam Kay-pang masih ingat pada sedikit jasaku yang pernah kuberikan kepada pang, harap suka jaga keselamatan nona cilik ini.”

Mendengar pesan itu tahulah semua orang bahwa Kiau Hong sudah bertekad akan menempur para kesatria sampai titik darah penghabisan. Dikeroyok oleh lawan sebanyak biarpun dia mampu membinasakan beberapa puluh orang, namun akhirnya Kiau Hong sendiri tentu juga akan terbinasa. Maka mau tak mau para kesatria terharu juga oleh semangat jantan dan jiwa kesatria Kiau Hong itu.

Sebagai seorang tokoh terkemuka serta kedudukan yang tinggi selaku Cit-hoat Tianglo dalam Kay-pang, dengan sendirinya Pek Si-kia adalah seorang kesatria yang berjiwa besar, apalagi hubungannya dengan Kiau Hong biasanya sangat karib. Maka pesan terakhir bekas pangcu itu segera dijawabnya, “Harap Kiau-heng jangan khawatir, Pek Si-kia pasti akan mohon Sih-sin-ih suka menyembuhkan nona itu, bila terjadi apa-apa atas diri Nona Wi, Pek Si-kia rela akan membunuh diri untuk mempertanggungjawabkan pesan Kiau-heng ini.”

Janji Cit-hoat Tianglo ini cukup tegas, apakah nanti Sih-sin-ih akan mengobati A Cu atau tidak, yang pasti ia akan berusaha sekuat tenaga. Seorang tokoh bu-lim selamanya berani berkata berani berbuat, apalagi ia telah berjanji di depan orang banyak, maka janji pasti akan ditepati olehnya.

Kiau Hong percaya sepenuhnya, katanya, “Banyak terima kasih atas kebaikan Tianglo ini.”

“Dan dalam pertarungan nanti Kiau-heng tidak perlu berlaku sungkan-sungkan, bila aku mesti mati di tanganmu, tentu kawan-kawan Kay-pang yang lain akan menggantikan aku menjaga Nona Wi.”

Habis bicara, ia angkat mangkuk arak dan menenggaknya hingga habis. Begitu pula Kiau Hong lantas mengiringi dengan minum semangkuk.

Lalu giliran maju Song-tianglo, Go-tianglo dan tokoh Kay-pang yang lain. Kemudian majulah jago-jago bu-lim dari berbagai mazhab yang hadir di situ, satu per satu mengadu mangkuk dengan Kiau Hong. Tampaknya dalam waktu singkat Kiau Hong sendiri sudah menghabiskan 40-50 mangkuk arak, satu guci penuh tadi sudah habis terminum, malahan centeng sudah mengeluarkan pula satu guci, tapi keadaan Kiau Hong masih segar bugar, bahkan wajahnya sedikit pun tidak merah, hanya perutnya tampak sedikit gembung, tiada sesuatu tanda lain yang luar biasa.

Keruan semua orang ternganga heran, pikir mereka, “Jika minum terus cara begini, jangankan mesti bergebrak segala, mungkin sekali mabuk takkan sanggup bangun lagi.”

Sudah tentu mereka tidak tahu bahwa semakin banyak minum arak semangat Kiau Hong semakin tambah. Apalagi selama beberapa hari ini Kiau Hong selalu menghadapi kejadian yang mengesalkan dan membuatnya penasaran. Kini ia telah kesampingkan semua itu dan sengaja hendak melabrak mereka sepuasnya.

Setelah lebih 60 mangkuk arak masuk perut Kiau Hong, Pau Jian-leng dan Ki Liok juga mengadu mangkuk dengan dia, tiba-tiba majulah Hiang Bong-thian, ia angkat sebuah mangkuk dan berkata, “Orang she Kiau, biarlah aku pun minum semangkuk denganmu!”

Mendengar ucapan orang yang kurang hormat itu, Kiau Hong menjadi panas telinganya, ia melirik hina pada Hiang Bong-thian dan menyahut, “Orang she Kiau minum arak putus hubungan ini dengan para kesatria bu-lim, maksudnya menghapuskan segala kebaikan persaudaraan masa lalu. Tapi kau ini kutu busuk macam apa? Macam dirimu juga tidak ada harganya untuk bicara tentang persaudaraan denganku dan mengajak minum ‘coat-kay-ciu’ (arak putus hubungan) padaku?”

Bicara sampai di sini, tanpa memberi kesempatan pada Hiang Bong-thian untuk bicara lagi, ia melangkah maju setindak, sekali tangan kanan terjulur, tahu-tahu dada baju Hiang Bong-thian kena dijambretnya, menyusul sekali ia angkat dan ayun ke depan, Hiang Bong-thian yang besar itu terlempar keluar ruangan, “bluk,” dengan keras badan Hiang Bong-thian tertumbuk dinding dan seketika menggeletak kelengar.

Suasana menjadi kacau dan tegang. Segera Kiau Hong melompat ke pekarangan, bentaknya, “Ayolah, siapa yang berani maju dulu untuk menempur aku!”

Melihat betapa gagah dan tangkasnya Kiau Hong, seketika nyali para tokoh bu-lim itu menjadi ciut hingga tiada seorang pun berani maju.

“Kalian tidak berani maju, biarlah aku yang mulai dulu!” bentak Kiau Hong. Dan tanpa ampun lagi ia terus menghantam dua kali dari jauh, kontan dua orang terkapar di tanah oleh angin pukulan jarak jauh itu.

Bahkan Kiau Hong terus menerjang maju, di mana kepalan dan sikutnya tiba, di mana kakinya melayang dan telapak tangan menghantam, dalam sekejap saja kembali beberapa orang dirobohkan pula.

“Lekas mundur mepet dinding, jangan sembarangan menyerang!” teriak Yu Ek cepat.

Seruan Yu Wk memang tepat. Jumlah orang yang berada di ruangan ada dua-tiga ratus, kalau mengerubut maju begitu saja, betapa pun tinggi ilmu silat Kiau Hong juga tak mampu melawan. Tapi tempatnya kecil dan orangnya banyak, dengan cara berjubel begitu, yang benar dapat mendekati Kiau Hong paling-paling juga cuma lima-enam orang saja, dan di bawah hujan pukulan dan tendangan pasti lebih banyak kawan sendiri yang akan terluka oleh orang sendiri. Maka sesudah seruan Yu Ek itu, seketika terluanglah di bagian tengah hingga cukup luas.

“Marilah, biar kubelajar kenal dulu kepandaian Yu-si-siang-hiong dari Cip-hian-ceng,” seru Kiau Hong pula. Dan sekali tangan kiri bergerak, tahu-tahu guci arak di atas meja tadi terbang melayang ke arah Yu Ek.

Cepat Yu Ek dorong kedua tangannya ke depan, maksudnya hendak tahan guci itu ke lantai. Di luar dugaan, Kiau Hong telah susulkan sekali hantaman dengan tangan kanan, “prak”, guci hancur dan beratus beling pecahan guci bertebaran.

Beling dari remukan guci itu sudah tentu sangat tajam, ditambah lagi terdorong oleh tenaga pukulan Kiau Hong yang dahsyat, keruan beling guci menjadi mirip beratus senjata rahasia seperti piau, hui-to (pisau terbang), dan lain-lain.

Seketika muka Yu Ek terkena tiga potong beling hingga darah bercucuran, belasan orang di sampingnya juga ikut terluka. Maka paniklah gelanggang pertarungan itu, suara caci maki bercampur dengan suara jerit riuh.

Dalam pada itu sebelah kaki Kiau Hong menendang pula hingga guci arak yang lain didepak mencelat, selagi dia hendak menambahi sekali hantaman pula, sekonyong-konyong dari belakang terasa menyambar tiba serangkum angin pukulan yang bertenaga halus, tapi sebenarnya mengandung tenaga dalam yang sangat kuat.

Kiau Hong tahu pukulan itu dilontarkan oleh seorang jago kelas wahid, ia tidak berani ayal, cepat ia menangkis ke belakang. Maka bertemulah dua arus tenaga dalam yang kuat.

Waktu Kiau Hong memerhatikan penyerang itu, ternyata orangnya bermuka jelek dan lucu, itulah dia si “badut” yang tak punya nama, tapi mengaku sebagai “Tio-ci-sun” itu.

Diam-diam Kiau Hong tidak berani memandang enteng tokoh yang hebat lwekangnya ini. Sekali ia tarik napas panjang-panjang, pukulan kedua segera dilancarkan bagaikan gugur gunung dahsyatnya.

Rupanya Tio-ci-sun juga tahu melulu dengan sebelah tangannya takkan mampu menahan serangan Kiau Hong itu, maka dengan dorong kedua tangan sekaligus ia berusaha menangkis.

“Apakah kau cari mampus!” mendadak suara seorang wanita di sampingnya membentak. Berbareng Tio-ci-sun merasa pundaknya ditarik orang ke samping hingga serangan Kiau Hong itu terhindarkan.

Namun begitu toh tenaga pukulan Kiau Hong itu masih terus menerjang ke depan. Maka celakalah tiga orang di belakang Tio-ci-sun, mereka yang tertimpa malang. Terdengarlah suara gedebukan tiga kali, ketiga orang itu mencelat dan menumbuk dinding dengan keras, begitu hebat tumbukan itu hingga kapur pasir dinding rontok bertebaran.

Waktu Tio-ci-sun menoleh, ia lihat orang yang menariknya tadi adalah Tam-poh, ia menjadi girang, katanya, “Terima kasih atas pertolonganmu!”

“Kau serang bagian kiri dan aku akan menyerang dari kanan,” kata Tam-poh.

Dan baru Tio-ci-sun mengiakan, tahu-tahu sesosok bayangan orang yang kurus kecil sudah mendahului menerjang ke arah Kiau Hong. Ternyata orang itu adalah Tam-kong, si kakek Tam.

Jangan sangka perawakan Tam-kong itu kurus kecil, tenaga dalamnya ternyata sangat kuat, begitu tangan kiri menghantam ke depan, menyusul serangan tangan kanan dilontarkan lagi. Dan sedikit tangan kiri ditarik kembali, segera ia tambahkan tenaga pukulannya pada tangan kanan.

Serangan tiga kali secara berantai ini menjadi mirip damparan ombak yang susul-menyusul, dibandingkan pukulan Tio-ci-sun tadi, terang tiga kali pukulan Tam-kong ini beberapa kali lipat lebih kuat.

“Pukulan ‘Tiang-kang-sam-tiap-long’ (Ombak Mendebur Tiga Susun di Sungai Tiangkang) yang hebat!” puji Kiau Hong sambil memapak dengan tangan kiri.

Benturan kedua arus tenaga dalam yang hebat itu memaksa orang lain terdesak mundur ke pinggir. Dan pada saat itulah Tam-poh dan Tio-ci-sun pun mengerubut maju, menyusul Ci-tianglo, Thoan-kong Tianglo, Tan-tianglo dan lain-lain juga ikut terjun ke kalangan pertarungan sengit itu.

“Kiau-hengte, Cidan tidak dapat hidup berdampingan dengan kerajaan Song raya kita, demi kepentingan umum terpaksa kita mesti kesampingkan hubungan pribadi, maafkan bila aku akan berlaku kasar padamu!” demikian Thoan-kong Tianglo berseru.

“Sedangkan coat-kay-ciu juga sudah kita minum, buat apa bicara tentang persaudaraan lagi? Awas serangan!” demikian sahut Kiau Hong sambil mendepak ke arah tokoh Kay-pang itu.

Namun begitu omongnya, toh terhadap tokoh Kay-pang mau tak mau ia berlaku sungkan juga, bukan saja tiada niat mencelakai jiwa mereka, bahkan membikin malu mereka di depan orang banyak juga tidak. Maka depakan itu sampai di tengah jalan mendadak ganti arah, “bluk”, tahu-tahu Goay-to Ki Liok yang menjadi sasarannya hingga tertendang mencelat.

Rupanya Ki Liok, Si Golok Kilat itu sama sekali tidak menyangka akan tindakan itu, keruan ia menjerit kaget ketika mendadak pantatnya terasa terdepak dan badannya mencelat ke atas. Goloknya sebenarnya sedang dibacokkan ke kepala Kiau Hong, tapi karena badannya mumbul ke udara, dan goloknya tetap dibacokkan, maka terdengarlah “crat”, golok itu tepat kena membacok belandar utama ruangan besar itu.

Gedung utama Cip-hian-ceng yang dibangun Yu-si-siang-hiong itu sangat megah dan kukuh, lebih-lebih belandar itu adalah sejenis kayu pilihan yang sangat kuat. Maka sekali kena bacok dengan kuat, golok Ki Liok itu lantas ambles belasan senti dalamnya hingga senjata itu tergigit dengan kencang dalam belandar.

Golok Ki Liok itu adalah senjata andalan yang membuatnya terkenal, kini harus menghadapi musuh tangguh, mana dia mau kehilangan senjata itu? Maka sekuatnya ia memegangi golok itu dengan tangan kanan. Dengan demikian, tubuhnya menjadi terkatung-katung di udara, keadaannya menjadi lucu dan aneh. Tapi setiap orang di tengah ruangan itu sedang menghadapi detik antara mati dan hidup, dengan sendirinya tiada seorang pun sempat menertawainya.

Kiau Hong sendiri meski sudah banyak menghadapi pertempuran seru dan selamanya tidak pernah kalah, tapi kini harus bertempur dengan jago sebanyak dan selihai ini, hal ini pun selama hidupnya tidak pernah dialami. Namun sama sekali ia tidak gentar sebaliknya semangatnya semakin berkobar, ia mainkan kedua tangannya naik-turun hingga lawan-lawan tangguh sukar mendekatinya.

Sih-sin-ih memang sakti dalam ilmu pengobatan, tapi ilmu silatnya belum tergolong kelas wahid. Dalam ilmu pertabiban memang dia mempunyai bakat pembawaan dan pengalaman yang mendalam. Dalam hal ilmu silat ia pun sangat luas pengetahuannya, tapi luas pengetahuan tidak berarti pandai pula menggunakannya. Oleh karena terlalu luas dan terlalu banyak yang dia pelajari, maka tiada sejurus pun ilmu silat itu benar-benar dilatihnya hingga sempurna. Jadi hanya sepintas lalu saja ia mempelajari berbagai jurus ilmu silat yang diperolehnya dari tokoh-tokoh yang pernah diobati olehnya.

Sebelumnya ia suka bergirang dan puas akan pengetahuan sendiri yang luas dalam hal ilmu silat, tapi kini demi menyaksikan pertarungan sengit antara Kiau Hong melawan orang banyak itu, betapa hebat dan lihainya bekas Pangcu Kay-pang ini benar-benar membuatnya terpesona, sungguh mimpi pun tak terpikir olehnya ada ilmu silat begini lihai. Saking takjubnya hingga ia terkesima di tempatnya, jangankan lagi hendak maju bertempur.

Begitulah ia berdiri mepet tembok dengan rasa takut, cuma untuk merat secara diam-diam betapa pun ia merasa enggan, sebagai pengundang masakah ia sendiri malah kabur lebih dulu? Sekilas tiba-tiba dilihatnya Hian-lan berdiri di sebelahnya, tergerak hatinya, maka katanya perlahan, “Ucapanku tadi sesungguhnya kurang sopan, harap Taysu suka memaafkan.”

Sebenarnya Hian-lan asyik mengikuti pertarungan sengit di tengah ruangan itu, ia terkesiap oleh perkataan Sih-sin-ih itu, segera ia tanya, “Ucapan apa maksudmu?”

“Tadi aku menyatakan heran mengapa Kiau Hong mampu keluar-masuk Siau-lim-si seorang diri dengan bebas tanpa terluka apa-apa, dan sesudah menyaksikan sekarang, nyata dia memang cukup mampu untuk berbuat begitu,” kata Sih-sin-ih.

Keruan Hian-lan kurang senang mendengar demikian, sahutnya dengan mendengus, “Hm, Sih-sin-ih ingin menguji ilmu silat Siau-lim-pay, bukan?”

Belum lagi Sih-sin-ih menjawab, terus saja ia melangkah maju, sekali lengan bajunya yang komprang itu mengebas, mendadak dari bawah lengan baju timbul suara menderu yang keras, angin pukulan yang dahsyat lantas menyambar ke arah Kiau Hong.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: