Pendekar Kerajaan Tayli ~ Jilid 32

Ilmu silat yang dikeluarkan ini adalah satu diantara 72 macam ilmu silat pusaka Siau-lim-si, namanya “Siu-li-kian-gun” (menyekap jagat dalam lengan baju), sekali ia kebas lengan jubahnya, seketika tenaga pukulannya menyambar keluar dari dalam jubah. Jadi lengan jubah itu hanya sebagai tameng pukulan saja agar musuh tidak dapat membedakan arah datangnya serangan, tapi tahu-tahu diserang hingga kelabakan.

Namun Kiau Hong sudah lebih dulu melihat kedua lengan baju Hian-lan itu melembung bagai goni penuh angin, segera ia tahu serangan apa yang akan dilakukan padri sakti itu, bentaknya cepat, “Siu-li-kian-gun, nyata memang hebat !”

Berbareng itu sebelah tangannya segera dipukulkan ke arah lengan baju lawan dengan kuat. Tenaga yang terhimpun dalam lengan baju Hian-lan itu menggembung, sebaliknya tenaga pukulan yang dilontarkan itu terpusat keras, maka terdengarlah suara “bret-bret” beberapa kali, ditengah goncangan arus tenaga yang maha dahsyat itu, sekonyong-koyong ditengah ruangan itu bertebaran beberapa puluh ekor “kupu-kupu”.

Keruan semua orang terperanjat, waktu mereka perhatikan, ternyata “kupu-kupu” itu bukan lain adalah robekan kain lengan baju Hian-lan. Waktu perhatian mereka beralih atas diri padri itu, tertampaklah kedua lengannya sudah telanjang hingga kelihatan jelas tulang lengannya yang kurus kering.

Rupanya di bawah tekanan dua arus tenaga dalam yang maha kuat, maka lengan baju padri yang gondrong itu tidak tahan dan seketika tergilas hancur. Dengan demikian, tanpa lengan baju Hian-lan menjadi mati kutu dan tidak bisa menggunakan Siu-li-kian-gun lagi.

Saking gusarnya sampai muka Hian-lan merah padam, cara Kiau Hong mematahkan serangannya itu dirasakan jauh lebih menderita daripada membunuhnya. Tanpa omong lagi kedua lengannya yang telanjang itu susul menyusul menghantam serabutan dengan dahsyat luar biasa.

Waktu semua orang memperhatikan, ternyata yang dimainkan Hian-lan sekarang adalah ilmu pukulan yang tersebar luas di dunia kangouw, yaitu “Thio-co-tiang-tin” atau ilmu pukulan ciptaan Song-thai-co.

Song-thai-co Tio Kong-in, cikal bakal dinasti Song, sangat terkenal dengan kepandaiannya dalam dua jenis ilmu silat, yaitu “Thai-co-tiang-kun” dan “Thai-co-pang”, ilmu pukulan dan ilmu permainan toya dari Song-thai-co.

Saking populernya kedua jenis ilmu silat itu hingga pada jaman itu setiap orang Bu-lim hampir setiap orang bisa, paling tidak juga pernah melihatnya.

Maka semua orang menjadi heran demi nampak padri sakti Siau-lim-si yang terkenal itu ternyata memainkan ilmu silat yang umum itu.

Tapi sesudah Hian-lan menyerang tiga kali, mau tak mau timbul juga perasaan kagum mereka, “Pantas saja Siau-lim-si memperoleh nama harum. Sama-sama sejurus Hoa-san-tio-ki (main catur diatas Hoa-san), tapi di bawah permainannya ternyata mempunyai daya serang selihat ini.”

Dan karena rasa kagum mereka kepada ketangkasan Hian-lan, mereka jadi lupa pada wujud si padri yang sebenarnya tak keruan dan lucu itu.

Tadi sebenarnya ada berpuluh orang yang mengerubut Kiau Hong, tapi kini demi Hian-lan sudah turun tangan, yang lain merasa akan mengganggu malah jika ikut mengeroyok, maka satu persatu mereka mengundurkan diri, semuanya hanya menonton saja sambil merubung rapat di pinggir untuk berjaga kalau Kiau Hong kewalahan dan ingin kabur.

Melihat pengeroyok lain sudah mundur, hati Kiau Hong tergerak, mendadak ia menghantam ke depan dengan tipu “Ciong-hong-cam-ciang” atau menyerbu maju membunuh panglima musuh, tipu ini pun termasuk salah satu pukulan “Thai-co-tiang-kun”.

Tipu ini sebenarnya sangat umum, tapi di bawah pukulan Kiau Hong ternyata membawa tenaga maha dahsyat dengan gaya yang indah.

Setiap hadirin ini boleh dikatakan adalah jago silat pilihan semua, dengan sendirinya mereka kenal di mana letak kebagusan setiap ilmu silat. Maka demi nampak serangan Kiau Hong yang indah itu, tanpa terasa mereka sama bersorak memuji.

Dan sesudah sorakan mereka tercetus barulah mereka merasa salah. Bukankah Kiau Hong adalah musuh yang harus mereka bunuh, tapi mengapa malah bersorak untuk menambah semangat musuh?

Namun sudah terlanjur, suara sorakan mereka sudah lalu. Bahkan serangan kedua Kiau Hong dalam tipu “Ho-siok-lip-wi” (memperlihatkan pengaruh di Ho-siok) tampaknya lebih bagus lagi daripada jurus pertama, maka tidak sedikit di antara para hadirin itu masih bersorak, urung ketika sadar kelakuan mereka yang keliru. Namun hal mana jelas mengunjuk betapa rasa kagum dan gegetun mereka atas kepandaian Kiau Hong itu.

Begitulah, jika tadi malam keadaan dikeroyok Kiau Hong tidak dapat memperlihatkan ketangkasannya, adalah sekarang sesuah Kiau Hong bertempur satu lawan satu dan para pengeroyok tadi menjadi penonton, barulah semua orang menyadari di mana kelebihan ilmu silat Kiau Hong daripada orang lain.

Maka sesudah beberapa jurus lagi, jelas kelihatan siapa lebih unggul dan siapa asor.

Ilmu pukulan yang dimainkan kedua orang sama-sama kungfu yang sangat umum, tapi setiap serangan Kiau Hong selalu lebih lambat sedikit dan membiarkan Hian-lan melancarkan serangan lebih dulu. Dan sekali serangan Hian-lan dilontarkan, menyusul Kiau Hong lantas menyerang juga.

Ilmu pukulan ciptaan Song-thai-to itu seluruhnya meliputi 72 jurus. Tapi setiap jurus merupakan lawan daripada jurus lain. Maka Kiau Hong sengaja incar baik-baik tipu serangan lawan. Lalu ia keluarkan tipu serangan yang tepat untuk mengatasinya.

Dengan demikian, tentu saja Hian-lan dibikin kewalahan. Teori itu sebenarnya diketahui oleh setiap penonton, yang susah adalah kepandaian “serang belakang tapi tiba lebih dulu” itulah yang tidak mungkin dimiliki sembarang orang.

Melihat kawannya kewalahan, terang sudah kalah, segera Hian-cit berseru, “Huh, kamu anjing Cidan ini, caramu sesungguhnya terlalu rendah !”

“Apa yang kumainkan adalah ilmu pukulan Thai-co dinasti kita, mengapa aku dituduh rendah ?” sahut Kiau Hong tertawa.

Mendengar demikian, seketika pahamlah semua orang maksud Kiau Hong memainkan “Thai-co-tiang-kun” itu.

Jika Kiau Hong menggunakan ilmu silat jenis lain untuk menangkan “Thai-co-tiang-kun” yang dimainkan Hian-lan tentu orang lain takkan mengatakan dia lebih kuat dan ulet, sebaliknya akan menyalahkan dia dengaja menghina ilmu silat ciptaan cikal bakal dinasti Song yang jaya itu. Dan hal ini tentu akan menambah sentimen kebangsaan orang banyak itu. Tapi sekarang kedua pihak sama menggunakan “Thai-co-tiang-kun”, dalam pertandingan ini hanya mengadu ilmu silat belakan, Kiau Hong takbisa lagi dituduh kurang ajar atau tuduhan lain.

Begitulah maka Hian-cit tak dapat tinggal diam lagi melihat Hian-lan dalam sekejap lagi akan terancam bahaya. Tanpa bicara ia terus menuding ke “Soan-ki-hiat” di dada Kiau Hong. Ilmu yang dia pakai adalah “Thian-tiok-hud-ci” atau jari Budha dari Thian-tiok, semacam ilmu tiam-hiat yang hebat dari Siau-lim-si.

Mendengar tutukan orang itu membawa suara mencicit perlahan, segera Kiau Hong berkata, “Sudah lama kudengar betapa hebat Thian-tiok-hud-ci, ternyata memang bukan omong kosong belaka. Tapi bila kau gunakan ilmu silat bangsa asing Thian-tiok itu untuk mengalahkan ilmu pukulan cikal bakal dinasti kita bukankah engkau akan dituduh menghianat dan menghina dinasti kita sendiri ?”

Hian-cit terkesiap sebab ilmu silat Siau-lim-si memang berasal dari Budhi Dharma yang aslinya orang asing dari Thian-tiok (kini India).

Sebabnya Kiau Hong sekarang dikeroyok adalah disebabkan bekas Pangcu itu dituduh keturunan Cidan. Tapi karena sejarah Siau-lim-si sudah terlalu tua, ilmu silatnya sudah tersebar luas dikalangan Bu-lim hingga berbagai aliran dan mazhab sedikit banyak ada tersangkut hubungan hingga semua orang sama melupakan asal usul Siau-lim-si yang ada sangkut pautnya dengan bangsa asing itu.

Kini demi mendengar teguran Kiau Hong itu, segera banyak di antara hadirin yang berpandangan jauh dan berjiwa terbuka itu berpikir, “Terhadap Budhi Dharma kita memuja sebagai malaikat dewata, sebaliknya mengapa membenci orang Cidan sampai ke tulang sumsumnya? Bukankah mereka sama-sama bangsa asing? Ya, sudah tentu diantara kedua bangsa itu ada bedanya, bangsa Thian-tiok tidak pernah menjajah dan membunuh bangsa Han kita, sebaliknya bangsa Cidan adalah penjajah yang ganas dan kejam. Jadi antara bangsa asing pada hakikatnya juga ada perbedaannya dan tidak boleh disamaratakan, harus dibedakan antara yang baik dan yang jahat, antara kawan dan lawan, antara penjajah dan dijajah. Dan apakah orang Cidan itu semua jahat? Apakah tidak ada yang baik ?”

Begitulah di tengah pertarungan sengit itu banyak di antara pengeroyok terdapat kaum pikiran sempit, berjiwa dangkal dan dengan sendirinya takkan berpikir tentang perbedaan itu, tapi sebagian yang tergolong cendikia, dalam benak mereka lantas terlintas pikiran seperti itu, mereka merasa Kiau Hong belum tentu adalah manusia yang harus dibunuh, sebaliknya kita sendiri juga belum pasti di pihak yang benar.

Dalam pada itu, meski Hian-lan dan Hian-cit berdua melawan Kiau Hong seorang, mereka lebih banyak menagkis daripada menyerang.

Sementara itu karena ilmu pukulan pertama telah dipatahkan sama sekali oleh lawan, maka Hian-lan telah ganti ilmu silat “Lo-han-kun” yang lihai dari Siau-lim-pai.

“Huh, bukankah Lo-han-kun juga berasal dari ajaran bangsa asing dari Thian-tiok ?” demikian Kiau Hong mengejek. “Baiklah, akan kulihat apakah ilmu silat asal luar negeri itu lebih lihai ataukah ilmu silat dalam negeri Song sendiri lebih hebat ?”

Sembari bicara, “Thai-co-tiang-kun” terus dilancarkan susul menyusul.

Keruan semua orang merasa tersinggung oleh ucapan Kiau Hong itu. Mereka mengeroyok Kiau Hong, alasannya karena dia bangsa asing. Tapi sekarang ilmu silat yang dipakai pihak sendiri justru adalah ilmu silat “impor”, sebaliknya ilmu silat pukulan yang dimainkan Kiau Hong adalah “produksi dalam negeri” asli, yaitu ciptaan cikal bakal dinasti Song yang tersohor itu.

Begitulah selagi banyak di antara mereka merasa ragu-ragu dan rikuh, tiba-tiba terdengar Tio-cit-sun berseru, “Peduli kita memakai ilmu silat berasal dari mana, yang terang keparat ini telah membunuh ayah bundanya dan gurunya sendiri, kejahatannya jauh lebih pantas dihukum mati. Ayolah saudara, kerubut maju bersama !”

Sambil berseru, segera ia mendahului menerjang maju.

Menyusul Tam-kong, Tam-poh, para Tianglo dari Kay-pang. Tiat-bin poan-koan Tan Cing bersama putranya, semuanya berjumlah puluhan orang terus ikut menyerbu maju.

Ilmu silat para pengerubut ini semua pilihan, meski banyak jumlah mereka, tapi posisi mereka tidak kacau, yang satu maju, yang lain mundur, yang lain maju, yang satu mundur lagi.

Sambil berkata menghantam dan menangkis, Kiau Hong berkata pula, “Kalian mengatakan aku orang Cidan, jika betul, maka Kiau Sam-hoai Lokongkong dan Lopohpoh tentu bukan ayah ibuku. Jangankan kedua orang tua itu adalah orang yang paling kuhormati selama hidup dan tiada maksud mencelakainya sedikitpun, andaikan benar akulah yang membunuh mereka, toh tuduhan membunuh ayah bunda sendiri juga tidak dapat ditimpakan atas diriku? Sedangkan Hian-koh Taisu adalah guruku yang kupuja, jika Siau-lim-pai mengakui Hian-koh Taysu adalah guruku, maka aku orang she Kiau menjadi terhitung anak murid Siau-lim, lantas apa alasan kalian mengerubut seorang anak murid Siau-lim-pai cara begini ?”

“Hm, bicara seperti pokrol bambu, mau menang sendiri,” jengek Hian-cit dengan mendongkol.

“Habis, kalau kalian tidak anggap aku sebagai anak murid Siau-lim-pai, dengan sendirinya ‘tuduhan membunuh guru’ itu tak terbukti,” sahut Kiau Hong, “Memangnya kalau mau menyalahkan orang masakan kuatir kurang alasan? Tapi bila kalian ingin membunuhku, mestinya bicaralah terus terang dan bunuhlah kalau mampu, mengapa mesti cari alasan yang tidak dapat dibuktikan ?”

Biarpun mulutnya bicara mencerocos, namun serangannya tidak pernah berhenti, tinjunya menjotos Tan Siok-san, kakinya menendang Tio ci-sun sukutnya menyikut Cin Goan-cun, telapak tangan menghantam Pau Jian-leng. Hanya sekejap saja beruntun empat orang sudah dirobohkan olehnya.

Kiau Hong tahu bahwa lawan-lawannya itu bukan kaum penjahat, maka serangannya selalu seringan mungkin. Yang dirobohkan sampai saat itu sudah ada belasan orang, tapi tiada satu jiwa pun yang dicelakai olehnya. Namun pengeroyok itu terlalu banyak, belasan orang roboh, berpuluh orang segera menggantikannya.

Maka tidak lama kemudian, mau-tak-mau Kiau Hong mengeluh, “Jika pertepuran begini diteruskan, akhirnya aku pasti akan kepayahan, rasanya jalan paling baik adalah kabur saja.”

Maka sambil bertempur segera ia mencari jalan untuk meloloskan diri.

Tio ci-sun yang dirobohkan itu menggeletak di lantai dengan sebelah tangan patah. Tapi ia tahu maksud Kiau Hong akan melarikan diri, segera ia berseru, “Awas, kawan-kawan !  Kepung dia dengan rapat, anjing keparat ini hendak melarikan diri !”

Dalam pertarungan sengit itu memang Kiau Hong sudah agak terpengaruh oleh bekerjanya arak yang banyak diminumnya tadi, kini mendengar caci maki Tio ci-sun, keruan amarahnya tak tertahankan lagi, bentaknya dengan gusar, “Ya, anjing keparat ini akan pakai dirimu sebagai korban pembunuhan pertama ?”

Sambil berkata, sekuatnya ia memukul dari jauh.

“Celaka !” seru Hian-lian dan Hian-cit berbareng. Kedua tangan mereka sama memapak kedepan untuk menolong Tio ci-sun.

Di tengah gencetan arus tenaga yang hebat itu, sekonyong-konyong terdengar suara jeritan ngeri seorang, dada orang itu tersodok oleh tenaga pukulan Hian-lan dan Hian-cit, sebaliknya punggung kena dihantam oleh pukulan Kiau Hong dari jauh.

Di tengah gencetan tiga arus tenaga maha dahsyat itu, keruan tulang iga orang itu seketika patah dan remuk, isi perutnya hancur, darah menyembur keluar dari mulutnya, badan terkulai lemas bagai cacing di lantai.

Kejadian di luar dugaan ini tidak hanya mengejutkan Hian-lan dan Hian-cit, bahkan Kiau Hong juga terkesiap. Orang yang sial itu ternyata Goai-to Ki Liok adanya.

Sebagaimana diketahui Ki Liok tadi terkatung-katung di atas belandar dengan menggandul pada goloknya yang terjepit belandar itu. Oleh karena sudah sekian lamanya, setelah tergontai-gontai kian kemari, akhirnya golok yang terjepit belandar itu mulai mengendur dan akhirnya jatuh ke bawah.

Seungguh kebetulan juga, dengan tepat Ki Liok jatuh di tengah-tengah gelombang tenaga yang sedang dilontarkan oleh ketiga orang yang bertempur itu. Keruan Ki Liok mirip digencet di tengah peres yang maha kuat, seketika jiwanya melayang.

“Omitohud !  Siancai, Siancai !  Kiau Hong, dosamu bertambah besar lagi !” demikian kata Hian-lan menyebut Budha.

Kiau Hong menjadi gusar, sahutnya, “Orang ini tidak seluruhnya terbinasa di tanganku, kalian berdua juga mempunyai saham atas kematiannya, mengapa kau tumplek semua kesalahan atas namaku ?”

“Omitohud ! Kalau sebelumnya tiada gara-garamu, masakah terjadi pertempuran seperti sekarang ini ?” sahut Hian-lan.

Kiau Hong semakin murka, “Baiklah, semua boleh kau catat atas rekeningku, lantas mau apa ?”

Setelah mengalami pertarungan sengit itu, watak liar dalam darah Kiau Hong menjadi kumat, sekejap itu ia berubah beringas bagaikan seekor binatang buas. Sekali tangannya membalik, tepat seorang lawan kena cengkramannya, ternyata orang ini adalah Tan Tiong-san, putra kedua Tan Cing.

Menyusul Kiau Hong terus rampas golok Tan Tiong-san, ketika tangan kanan menggaplok, tanpa ampun lagi batok kepala Tan Tiong-san hancur dan mati seketika. Maka gegerlah para ksatria, mereka menjerit kaget, berteriak kuatir dan mencaci-maki dengan gusar.

Setelah membunuh orang, Kiau Hong bertambah kalap, golok rampasannya berputar dengan cepat, tangan kanan mendadak menjotos dan terkadang memukul dengan telapakan, sedang golok di tangan kiri membacok dan menebas, dahsyatnya tak tertahankan.

Hanya sekejap saja tertampaklah dinding di sekitar sudah penuh titik noda darah, di tengah kalangan sudah bergelimpangan belasan mayat, ada yang kepala berpisah dengan badannya, ada yang dada pecah dan pinggang putus.

Dalam mengamuk itu, Kiau Hong sudah tidak pandang bulu lagi, dengan mata merah membara ia membunuh setiap orang yang diketemukan, Thoan-kong Tianglo dan Ge-tianglo telah binasa semua di bawah goloknya.

Di antara ksatria yang hadir itu kebanyakan tentu pernah membunuh orang. Maklum, membunuh orang bagi orang persilatan boleh dikatakan terlalu jinak. Andaikan tidak pernah membunuh orang dengan tenaga sendiri, paling sedikit juga sudah biasa menyaksikan pembunuhan.

Tapi pertarungan sengit seperti sekarang sungguh tidak pernah dilihat mereka selama hidup. Lawan mereka hanya satu orang, tapi Kiau Hong justru bertempur seperti binatang buas dan hantu iblis yang mendadak berada disana, sekejap kemudian tahu-tahu sudah berada di sini, banyak jago terkemuka yang maju melabraknya berbalik terbunuh oleh cara Kiau Hong yang lebih cepat, lebih ganas dan lebih tangkas.

Sebenarnya para ksatria yang hadir itu bukanlah manusia pengecut, tapi di bawah terjangan Kiau Hong yang kalap bagai banteng ketaton itu, segera banyak di antaranya timbul rasa takut dan ingin melarikan diri, mereka berharap bisa lekas tinggalkan gelanggang pertempuran, apakah Kiau Hong berdosa atau tidak, mereka tidak mau ikut campur lagi.

Dalam pada itu Yu-si-siang-hong, kedua jago bersaudara she Yu, berbareng menerjang dari kanan dan kiri, tangan kiri mereka sama memegang tameng bundar, hanya tangan kanan yang berbeda persenjataannya, Yu Ek memakai tombak pendek, sebaliknya Yu Ki menggunakan golok.

Walaupun Kiau Hong melabrak para pengeroyok itu dengan kalap dan tak kenal ampun, tapi terhadap setiap gerak serangan lawan selalu diperhatikan dengan baik, pikirannya tetap dalam keadaan jernih, maka sejauh ini ia tidak terluka sedikit pun.

Ketika dilihatnya kedua saudara she Yu itu menerjang maju dengan senjata aneh, cepat ia mainkan goloknya ke kanan kiri, lebih dulu ia robohkan dua lawan di sampingnya, habis itu ia mendahului memapak ke arah Yu Ek dan menyerang.

Tapi bacokannya ditangkis oleh tameng Yu Ek, “trang”, golok Kiau Hong malah mendal keatas. Waktu diperiksa, ternyata mata goloknya melingkar dan tak bisa dipakai lagi.

Ternyata tameng kedua jago bersaudara itu adalah buatan dari baja murni, biarpun dibacok dengan pedang atau golok mestika juga tak mempan, apalagi golok yang dipakai Kiau Hong itu hanya golok biasa yang dirampasnya dari Tan Tiong-san.

Begitulah sekali perisainya menangkis, secepat kilat tombak pendek di tangan Yu Ek yang lain lantas menusuk dengan tipu “tok-coa-cut-tong” (ular berbisa keluar dari gua), tombak itu menyambar dari bawah perisai dan mengarah perut Kiau Hong.

Pada saat itu juga Kiau Hong melihat berkelebatnya senjata, perisai Yu Ki mendadak memotong pinggangnya. Mata Kiau Hong cukup awas, sekilas pandang ia sudah tahu pinggir tameng itu sangat tajam, bila kena pinggang bukan mustahil akan terpotong putus menjadi dua, sungguh lihainya tidak kepalang.

“Bagus !” bentak Kiau Hong sambil buang goloknya, menyusul tinju kiri terus menghantam sekuatnya, maka terdengarlah suara “blang” yang keras, bagian tengah tameng Yu Ki tepat kena digenjot, menyusul kepalan tanagan kanan Kiau Hong menghantam lagi, “blang”, tameng Yu Ek juga kena digempurnya dengan tepat.

Kontan Yu-si-siang-hiong merasa separuh tubuh mereka seakan-akan kaku dan lumpuh, pukulan-pukulan Kiau Hong yang maha dahsyat itu meski tidak langsung mengenai mereka, tapi sudah cukup membuat mata mereka berkunang-kunang dan kepala pusing tujuh keliling seketika tangan mereka menjadi lemas. Tameng, tombak dan golok tidak kuat dipegang lagi, terdengar suara gemerentang nyaring, senjata mereka semua jatuh ke lantai.

“Bagus, boleh berikan padaku saja senjata kalian itu !” seru Kiau Hong dengan tertawa. Cepat ia jemput perisai kedua saudara Yu itu, segera ia putar dengan kencang.

Kedua perisai baja yang bundar itu sungguh merupakan senjata serba guna yang ampuh, kemana senjata itu menyambar, disitu lantas terdengar jeritan ngeri. Hanya sekejap saja sudah empat orang menjadi korban perisai baja itu.

Wajah Yu-si-siang-hiong tampak pucat dan semangat lesu. Kata Yu Ek, “Jite, bukankah Suhu pernah mengatakankepada kita, perisai ada orang ada, perisai hilang orangnya gugur ?”

“Benar twako,” sahut Yu Ki dengan muram. “Hari ini kita telah kecundang sedemikian rupa, masakah kita masih ada muka untuk hidup lebih lama di dunia ini ?”

Segera mereka menjemput kembali senjata masing-masing, yaitu tombak dan golok, berbareng mereka tikam perut sendiri dengan senjata itu, maka binasalah mereka seketika.

Keruan banyak ksatria menjerit kaget. Tapi mereka sedang dicecar oleh Kiau Hong dengan hebat, maka tiada seorang pun sempat mencegah perbuatan nekat kedua saudara Yu itu.

Kiau Hong melengak juga. Sungguh tak terpikir olehnya bahwa sebagai tuan rumah kedua saudara Yu itu bisa ambil pikiran pendek begitu? Karena kejutnya itu pengaruh arak tadi menjadi hilang sebagian besar, hati pun agak menyesal.

“Yu-si-siang-hiong, guna apa ambil keputusan demikian ?” seru Kiau Hong dengan terharu, “Tentang kedua perisai ini, biarlah kukembalikan saja !”

Sambil berkata, dengan khidmat dan hormat ia taruh kedua perisai itu disamping jenazah Yu-si-siang-hiong. Tapi belum lagi ia tegak kembali dari berjongkok, tiba-tiba didengarnya jerita kuatir seorang gadis, “Awas !”

Kiau Hong cukup cerdas dan tangkas, sedikit menggeser ke samping, maka menyambar lewatlah sebilah pedang tajam. Jeritan itu ternyata berasal dari A Cu. Dan penyerang gelap itu adalah Tam-kong.  Sekali membokong tidak kena, segera jago tua itu menyingkir jauh.

Tam-poh menjadi gusar, serunya, “Bagus, kamu budak setan ini, kami tidak membunuhmu, tapi kamu malah bersuara membantu dia !”

Mendadak ia melompat ke sana, sekali gaplok, segera kepala A Cu hendak dipecahkannya.

Waktu Kiau Hong menempur para ksatria itu, sejak tadi A Cu meringkuk di sudut ruangan, tenaga murninya perlahan mulai lenyap, badan menjadi lemas. Ia melihat Kiau Hong dikeroyok orang banyak, walaupun tahu bakal banyak menghadapi bahaya toh bekas Pangcu itu bersedia mengantar dirinya untuk mencari tabib sakti, budi kebaikan ini biar tubuhnya hancur lebur juga susah dibalas.

Sebab itulah A Cu merasa sangat berterima kasih dan kuatir pula. Maka ketika mendadak Kiau Hong disergap Tam-kong tadi, segera ia bersuara memperingatkan.

Untung sebelum Tam-poh mencapai sasarannya, secepat kilat Kiau Hong menyusul tiba, dari belakang ia jambret punggung nenek itu dan ditarik sekuat tenaga serta dilemparkan ke samping. “Brak”, sebuah kursi tertabrak hancur oleh badan. Tam-poh yang gede mirip kuda teji itu.

Meski tidak kena serangan nenek itu, namun A Cu ketakutan hingga muka pucat dan badan lemas terkulai. Kiau Hong terkejut, pikirnya, “Hawa murninya sudah mulai kering, namun dalam keadaan begini mana dapat kutolong dia ?”

Sementara itu terdengar Sih-sin-ih berkata dengan nada dingin, “Tenaga nona itu sekejap lagi akan habis, akan kau tolong jiwnya tidak dengan tenaga dalammu? Jika napasnya putus, terpaksa aku tak dapat menolongnya lagi.”

Kiau Hong menjadi serba susah. Ia tahu perkataan Sih-sin-ih itu bukan omong kosong belaka tapi sekali awak sendiri menolong A Cu, segera dirinya akan dihujani pukulan dan senjata oleh lawan yang sudah merumbung di sekitarnya itu.

Sudah banyak jatuh korban di pihak kdatria itu, mana mau mereka menyudahi pertempuran ini? Lalu, apakah mesti menyaksikan A Cu mati begitu saja? Padahal dengan menyerempet bahaya ini ia membawa A Cu ke Cip-hian-ceng ini tujuannya adalah minta pengobatan pada Sih-sin-ih. Sesudah tiba di tempat dan berhadapan dengan tabib sakti, lalu membiarkan nona itu mati kehabisan tanaga, bukankah sangat sayang?

Tapi kalau sekarang ia salurkan hawa murni padanya, itu berarti ia mengantikan jiwa nona itu dengan jiwa sendiri. Padahal A Cu hanya seorang budak cilik yang baru dikenalnya di tengah jalan, pada hakikatnya tiada sesuatu hubungan bai apa-apa, soal menolong sesamanya adalah perbuatan biasa bagi seorang pendekar dan ksatria tapi kalau mesti menggunakan jiwa sendiri yang berharga untuk menggantikan nyawa nona cilik itu, betapapun juga tidak masuk diakal. Aku sudah berusaha sedapatnya membawanya ke tempat si tabib sakti, kewajibanku boleh dikatakan sudah jauh lebih dari cukup. Biarlah sekarang juga kutinggal pergi saja dan terserah Sih-sin-ih mau menolong jiwanya atau tidak.

Setelah ambil keputusan itu, segera Kiau Hong jemput kembali kedua perisai tadi, dengan gerakan “Tai-peng-tian-ih” atau garuda raksasa pentang sayap, mendadak ia putar perisai itu dengan kencang hingga berwujud dua bola, berbareng ia terus terjang keluar.

Karena orang di dalam ruangan itu terlalu sesak, pula gerakan Kiau Hong teramat lihai, seketika tiada seorangpun yang berani merintanginya.

Setiba di ambang pintu, baru Kiau Hong hendak angkat kaki seribu, sekonyong-konyong terdengar suara seorang yang parau, “Bunuh dulu budak itu, baru kita balas sakit hati pula !”

Pembicara ini ternyata Tiat-bin-poan-koan Tan Cing adanya.

Putranya yang tertua, Tan Pek-san segera mengiakan dan ayun goloknya membacok kepala A Cu.

Keruan Kiau Hong terkejut dan kuatir tidak jadi melangkah pergi, tanpa pikir, ia sambitkan sebelah perisainya. Bagaikan “piring terbang” perisai itu menyambar secepat kilat ke depan.

“Awas !” dengan kuatir beberapa orang memperingatkan. Dengan cepat Tan Pek-san juga angkat goloknya hendak menyampuk.

Namun betapa hebat tenaga Kiau Hong tepi perisai itu sangat tajam pula, “krak…cret”, tahu-tahu golok tertabas patah, bahkan Tan Pek-san sendiri terpotong putus sebatas pinggang. Malahan perisai itu masih terus menyambar ke depan hingga menancap di pilar.

Kematian Tan Pek-san itu benar-benar sangat mengenaskan, hal ini membuat semua orang ikut murka, bukan saja Tan Cing dan putranya, Tan Ki-san, menubruk berbareng ke arah A Cu, bahkan beberapa ksatria lain juga menghujani A Cu dengan senjata.

“Manusia pengecut !” maki Kiau Hong. Cepat ia bertindak, dari jauh ia memukul empat kali berturut-turut hingga semua orang itu dipaksa menyingkir, menyusul ia lari maju, ia angkat A Cu dan dikempit dengan tangan kiri, ia gunakan perisai yang masih ada untuk melindungi badan si gadis.

“Kiau-toaya, aku percuma, jangan kau pikirkan aku lagi, lekas engkau menyelamatkan diri saja !” seru A Cu dengan suara lemah.

Namun pertarungan sengit itu sudah mengobarkan semangat jantan Kiau Hong yang angkuh dan tinggi hati, serunya, “Urusan sudah terlanjur begini, sudah terang mereka takkan mengampuni jiwamu, biarlah kita mati bersama saja !”

Dan sekali tangan kanan bergerak, kembali ia berhasil merebut sebatang pedang, dengan senjata rampasan itu ia terus menerjang keluar.

Karena tangan kiri mengempit A Cu, gerak-geriknya menjadi kurang leluasa, perisai pun kurang rapat untuk melindungi badan si gadis. Namun Kiau Hong sudah tidak pikirkan mati hidup sendiri, ia putar pedang sedemikian kencangnya.

Tapi baru saja dia hendak menerobos keluar, sekonyong-konyong punggung terasa sakit, nyata telah kena dibacok sekali oleh orang.

Tanpa pikir lagi ia mendepak ke belakang, kontan penyerang itu kena ditendang dan binasa seketika. Dan pada saat hampir bersamaan itu pundak Kiau Hong kena hantam sekali pula oleh Hian-lan, menyusul dada kanan juga kena ditusuk pedang musuh.

Mendadak Kiau hong mengerang sekali, begitu keras suaranya hingga seperti bunyi halilintar, bentaknya, “Kiau Hong akan bereskan diri sendiri dan tidak mau mati di tangan kaum keroco dan bangsa pengecut !”

Namun para pengeroyok itu sudah kadung nekat, mereka tidak mau memberi kesempatan kepada Kiau Hong untuk membunuh diri lagi. Segera belasan orang menubruk maju.

Tapi dengan tangkasnya mendadak Kiau Hong mencengkram, kontan “tan-tiong-hiat” di dada Hian-cit kena dipegang olehnya terus diangkat tinggi ke atas. Dalam kagetnya semua orang sama menjerit dan beramai melompat mundur.

Karena “tan-tiong-hiat” terpegang, betapapun lihai Hian-cit juga tak berguna, sama sekali ia tak bisa berkutik, tampaknya pinggir perisai yang tajam itu tinggal belasan senti saja di depan tenggorokannya, asal sedikit Kiau Hong sodok senjata itu, seketika kepala Hian-cit bisa kuntung. Tak tertahankan lagi padri itu menghela napas panjang, ia pejamkan mata menunggu ajal.

Tapi Kiau Hong sendiri merasa luka di punggung, dada dan pundak sakitnya tidak kepalang, maka berkatalah dia, “Ilmu silatku ini asalnya juga dari Siau-lim-pai, minum air harus ingat pada sumbernya, mana boleh kubunuh padri saleh Siau-lim-pai? Hari ini aku sudah pasti akan mati, kalau membunuh seorang lagi apa manfaatnya ?”

Habis berkata, cekalannya menjadi kendur, ia lepaskan Hian-cit ke lantai dan berkata, “Silahkan kalian turun tangan !”

Di tantang begitu, semua orang menjadi tertegun dan saling pandang malah, mereka terpengaruh oleh perbawa Kiau Hong yang gagah berani itu, sebaliknya Tan Cing sudah terlalu sakit hati karena kedua putranya dibunuh oleh Kiau Hong, dengan kalap terus ia menerjang maju, golok lantas membacok dada Kiau Hong.

Kiau Hong tahu betapapun ia menerjang toh takkan mampu membobol kepungan orang banyak. Maka ia hanya berdiri tegak tanpa menangkis. Sesaat itu terkilas macam-macam pikiran dalam benaknya, “Sebenarnya aku orang Cidan atau bangsa Han? Siapakah gerangan yang membunuh ayah bunda dan guruku itu? Selama hidupku selalu berbuat bajik dan membela keadilan, mengapa hari ini tanpa sebab aku menewaskan pendekar sebanyak ini? Dengan nekat aku menolong jiwa A Cu hingga aku sendiri malah binasa ditangan para ksatria ini bukankah aku ini terlalu bodoh san akan ditertawai orang ?”

Dalam pada itu ia lihat wajah Tan Cing yang merah padam saking murka itu tampak berkerut-kerut, mata mendelik, goloknya sudah menyambar ke arah dadanya.

Tampaknya dalam sekejap lagi Kiau Hong pasti akan menggeletak tanpa bernyawa oleh serangan Tan Cing itu.

Go-tianglo, Cit-hoat-tianglo dan lain-lain sama pejamkan mata karena tidak tega menyaksikan kejadian tragis itu.

Sekonyong-konyong dari udara melayang turun seorang dengan cepat luar biasa dan tepat membentur golok Tan Cing. Karena tidak tahan oleh tenaga tumbukan itu, golok Tan Cing terpental ke samping.

Di tengah jerit kaget semua orang, mendadak dari udara melayang turun seorang lain. Sekali ini orang itu terjungkir, kepala di bawah dan kaki di atas, jadi lebih tepat di katakan terjun, “prak”, kepala orang itu tepat menumbuk kepala Tan Cing, keruan kepala kedua orang sama-sama hancur luluh seketika.

Dan baru saja sekarang semua orang dapat melihat jelas kedua orang yang melayang turun dari udara itu adalah penjaga di atas rumah, terang mereka dipegang orang dan dilemparkan ke bawah sebagai senjata rahasia.

Selagi keadaan kacau-balau, mendadak dari ujung wuwungan sana membuai turun seutas tambang yang panjang, dengan keras sekali tambang itu menyambar kepala orang banyak. Cepat para ksatria angkat senjata hendak menangkis, tapi ujung tambang itu tahu-tahu berganti arah terus melilit pinggang Kiau Hong, pada lain saat mendadak tambang itu sudah terangkat keatas.

Waktu itu darah sudah bercucuran dari luka Kiau hong, tangan kirinya yang mengempit A Cu itu sudah tak bertenaga, maka ketika ia dikerek keatas oleh tambang itu, A Cu lantas jatuh ke tanah.

Kemudian dapatlah semua orang melihat orang yang memegangi ujung tambang sebelah sana adalah seorang laki-laki berbaju hitam mulus, perawakannya tegap, tapi mukanya berkedok kain hitam, hanya kedua matanya yang kelihatan.

Setelah mengerek Kiau Hong ke atas, segera laki-laki itu mengempitnya dengan tangan kiri, menyusul tambang panjang itu diayunkan hingga tergubat pada tiang bendera di depan Cip-hian-ceng.

Pada saat para Ksatria berteriak dan membentak disertai hujan berbagai macam senjata rahasia ke arah Kiau Hong dan laki-laki baju hitam itu tarik kencang tambangnya, sekali melayang ke depan, tahu-tahu badannya terangkat ke atas dan hinggap di balkon di pucuk tiang bendera itu. Maka terdengarlah suara plak-plok yang riuh, berpuluh macam senjata rahasia itu sama menancap di balkon tiang bendera.

Sementara itu tambang lelaki baju hitam itu diayun ke depan lagi hingga ujungnya tepat mengubat pucuk pohon besar yang berada puluhan meter jauhnya, lalu orang itu mengempit Kiau Hong dan membuai keatas pohon di sebelah sana lagi dan begitu seterusnya, hanya sekejap saja laki-laki baju hitam itu sudah menghilang, yang terdengar kemudian hanya suara derap lari kuda yang berdetak-detak dan semakin jauh. Tertinggal para ksatria hanya saling pandang dengan bingung.

Meski Kiau Hong terluka parah, tapi pikiran jernihnya masih belum lenyap. Cara bagaimana lelaki baju hitam itu menolongnya, semuanya dapat diikuti dengan jelas. Sudah tahu ia sangat berterima kasih. Pikirnya, “Cara main tambang demikian aku pun bisa, tapi kepandaiannya sekaligus menyerang berpuluh lawan dengan tambang, lalu ganti arah untuk menolong diriku, inilah yang aku tidak mampu menirunya.”

Setelah menyelamatkan Kiau Hong, orang baju hitam itu lantas angkat Kiau Hong ke atas kuda, dua orang setunggangan mereka menuju ke utara. Di atas kuda juga orang itu mengeluarkan obat untuk dibubuhkan pada luka Kiau Hong.

Saking banyak mengeluarkan darah, beberapa kali Kiau Hong hampir pingsan, syukur setiap kali ia sempat mengerahkan tenaga dalam hingga kejernihan pikirannya masih dapat dipertahankan.

Laki-laki itu larikan kudanya melalui jalan yang berliku-liku, sampai akhirnya, kuda itu melulu naik turun di antara batu padas belaka. Lebih satu jam kemudian, kuda itu tidak meneruskan perjalanan lagi.

Laki-laki itu lantas menurunkan Kiau Hong dan memondongnya ke atas puncak, makin jauh makin tinggi. Badan Kiau Hong sebenarnya sangat berat, tapi orang itu sama sekali tidak merasakan apa-apa, bahkan dapat lari secepat terbang  di tebing karang yang terjal itu.

Suatu ketika, jalan di depan terhalang oleh selat jurang yang dalam, orang itu lantas menggunakan tambangnya lagi untuk menggubat pohon di seberang selat, lalu melayang ke seberang sana.

Diam-diam Kiau Hong terperanjat dan heran, “Cara menyebrangi jurang melintasi selat aku pun bisa jika bertangan kosong, tapi bila memondong seorang seperti dia, tak dapatlah aku.”

Setelah melalui tebing karang dan banyak selat jurang yang berbahaya, kemudian jalanan lantas menurun ke bawah, lalu masuk ke suatu lembah jurang yang dalam sekali hingga langit hampir tak kelihatan. Akhirnya berhentilah orang itu, dan taruh Kiau Hong di tanah.

Sesudah berdiri tegak, segera Kiau Hong berkata, “Sungguh terima kasih atas pertolongan In-heng (saudara berbudi) ini, dapatkah Kiau Hong mohon melihat wajah asli In-heng ?”

Sinar mata orang berbaju hitam itu berkilat-kilat membayang kian kemari di muka Kiau Hong, sejenak kemudian barulah dia membuka suara, “Di dalam goa situ terdapat rangsum yang cukup untuk setengah bulan, boleh kau rawat lukamu di sini, musuh pasti tidak dapat menyusul kemari.”

Kiau Hong mengiakan sekali, ia pikir, “Dari suaranya ini, agaknya dia bukan orang muda lagi.”

Orang itu juga sedang mengamat-amati Kiau Hong, pada saat lain mendadak tangan kanannya bergerak, “plak”, tahu-tahu Kiau Hong digamparnya sekali.

Keruan Kiau Hong kaget. Tempelengan itu dilakukan dengan cepat luar biasa, pula Kiau Hong sama sekali tidak menduga orang akan menghajarnya, ketiga, cara memukul itu pun sangat pintar, maka Kiau Hong tidak sempat menghindar.

Tapi ketika orang itu hendak menempelengnya untuk kedua kalinya, walau pun pukulan susulan ini cepat luar biasa, tapi Kiau Hong sudah sempat berjaga-jaga, tidak nanti ia kena digampar lagi. Cuma mengingat orang adalah tuan penolong kiwanya, ia tidak ingin mengadu telapak tangan dengan orang itu.

Tempat yang diarah jari Kiau Hong adalah “lau-kiong-hiat” di tengah telapak tangan laki-laki itu. Jika pukulannya diteruskan, itu berarti telapak tangannya sengaja diberikan kepada jari Kiau Hong.

Ilmu silat orang itu sangat tinggi, dengan sendirinya gerak geriknya juga sangat cekatan. Sebelum telapak tangan tertutuk, mendadak tangannya membalik, yang dibuat menggampar berubah menjadi punggung tangan orang itu.

Tapi Kiau Hong juga cepat sekali menggeser jarinya, ia incar arah datangnya punggung tangan lawan, jarinya tepat memapak “ji-kan-hiat” di punggung tangan orang itu.

Terdengarlah laki-laki itu tertawa panjang, ia tarik kembali tangannya yang sudah mendekati sasrannya itu, sebaliknya tangan kiri terus menabas. Tapi Kiau Hong mendadak juga julurkan jari tangan kiri, ujung jari tepat mengincar “au-ka-hiat” di tepi telapak tangan orang…

Begitulah dalam sekejap saja kedua tangan laki-laki berbaju hitam itu naik turun bagaikan orang menari dan sekaligus sudah belasan serangan dilancarkan, namun Kiau Hong juga tidak kalah tangkasnya, ia melulu bertahan saja tanpa balas menyerang. Selalu ia pasang jarinya untuk melancarkan hiat-to di telapak tangan orang yang hendak menyerangnya itu.

Kalau pertama kali tadi laki-laki itu dapat menghajar Kiau Hong adalah disebabkan bekas Pangcu itu tidak menduga sama sekali, tapi serangan selanjutnya tidak mungkin dapat mengenainya lagi. Maka serangan dan tangkisan itu berlangsung dengan cepat, ilmu silat yang mereka gunakan sama-sama kelas wahid yang jarang ada di dunia.

Setelah genap menyerang dua puluh kali, mesti Kiau Hong dalam keadaan terluka, namun gerak-gerik dan jitunya menangkis sedikitpun tidak menjadi kendur dan meleset. Mendadak laki-laki baju hitam itu menarik kembali tangannya dan melompat mundur. Katanya, “Kamu benar-benar seorang tolol, seharusnya aku tidak perlu menolongmu.”

“Dengan hormat aku bersedia menerima nasihat Inkong (tuan penolong),” kata Kiau Hong dengan rendah hati.

“Kamu ini sungguh keledai tolol,” omel laki-laki baju hitam itu. “Kau sendiri meyakinkan ilmu silat yang tiada bandingannya di dunia ini, tapi mengapa rela mengorbankan jiwa secara sia-sia bagi seorang anak dara yang kurus kecil begitu? Dia bukan sanak kandangmu, tiada budi tiada kasih, cantik tidak, manis tidak, masakah di dunia ini ada seorang tolol seperti dirimu dan bersedia berkorban jiwa baginya ?”

“Petuah Inkong memang benar,” sahut Kiau Hong dengan menghela napas. “Perbuatanku yang tidak mendatangkan manfaat ini memang tidak tepat. Soalnya karena terdorong oleh nafsu yang murka, lalu bertindak tanpa pikirkan akibatnya.”

Tiba-tiba laki-laki baju hitam menengadah sambil terbahak-bahak. Suara ketawanya terasa agak memilukan, Kiau Hong menjadi bingung. Mendadak orang itu melompat pergi hingga jauh, sekali melesat lagi, segera orangnya menghilang di balik batu karang sana.

“Inkong !  Inkong !” seru Kiau Hong.

Namun orang itu tidak menyahut juga tidak balik lagi. Maksud Kiau Hong hendak mengejarnya, tapi baru bertindak selangkah, segera ia terhuyung-huyung akan roboh. Cepat ia pegang dinding karang di sampingnya dan tenangkan diri.

Waktu ia menoleh, ia lihat di balik dinding karang itu ada sebuah gua, ia merembet dinding dan masuk gua itu dengan perlahan. Ia lihat dalam gua sudah banyak tersedia rangsum kering sebangsa ikan asin, dendeng, kacang, beras goreng dan sebagainya. Yang paling menarik adalah tersedia pula seguci arak.

Segera Kiau Hong membuka tutup guci arak itu, seketika bau arak yang semerbak menusuk hidung. Terus saja ia gunakan tangannya untuk meraup arak dan diminum, ternyata arak itu adalah arak pilihan yang sangat sedap. Sungguh terima kasihnya tak terhingga. Pikirnya, “Inkong itu benar-benar seorang yang pintar, ia tahu aku gemar minum arak, maka sengaja menyediakan minuman enak ini untukku.”

Obat luka yang dibubuhkan laki-laki baju hitam itu ternyata sangat mujarab, hanya beberapa jam saja darah sudah mampet. Ditambah Lwekang Kiau Hong sangat tinggi, walau pun lukanya cukup parah, namun sembuhnya ternyata sangat cepat. Baru 6-7 hari ia tinggal di dalam gua itu dan luka pun hampir sembuh seluruhnya. Selama beberapa hari itu yang selalu terpikir olehnya hanya dua soal, “Siapakah musuh yang memfitnah diriku itu? Dan siapakah Inkong yang menolong aku itu ?”

Ilmu silat kedua orang itu, baik musuh yang tak dikenal maupun Inkong, tuan penolongnya semuanya sangat tinggi dan agaknya tidak di bawah Kiau Hong sendiri. Padahal tokoh Bu-lim yang memiliki kepandaian setinggi itu sedikit sekali, boleh dikatakan dapat dihitung dengan jari. Tapi meski Kiau Hong coba berpikir dan mengingat-ingat toh tiada seorang tokoh Bu-lim yang menyerupai kedua orang itu.

Bahwa musuh itu susah diterka, itu memang masuk diakal. Tapi tuan penolong yang telah bergebrak 20 jurus dengan dirinya itu seharusnya dapat diduga gaya permainan silatnya itu dari aliran mana dan golongan apa, namun sedikitpun ia tetap tidak dapat menerkanya, sebab setiap jurus serangan yang dilontarkan tuan penolong tadi semuanya silat biasa saja, yaitu terdiri dari ilmu pukulan yang sangat umum, mirip seperti dirinya waktu melawan Hian-lan Taisu dengan ilmu pukulan “Thai-co-tiang-kun”, sedikitpun Inkong itu tidak memakai ilmu silat golongan sendiri hingga asal-usulnya susah diketahui.

Sebagai seorang ksatria, meski kedua soal penting itu tak bisa dipecahkan, namun segera di kesampingkannya dan tak dipikir lagi.

Seguci arak itu tidak cukup dua hari sudah habis diminum olehnya. Sedang lukanya setengah bulan kemudian juga hampir sembuh seluruhnya. Selama belasan hari tidak minum arak, ia menjadi ketagihan. Ia tidak tahan lagi. Ia menduga untuk melompati selat lebar dan jurang dalam sudah cukup kuat, maka ia lantas meninggalkan gua tempat istirahat itu dan berkecimpung di dunia kangouw lagi.

Pikirknya di tengah jalan, “Sesuah A Cu jatuh di bawah cengkraman mereka, kalau dibunuh tentu sudah mati, sebaliknya kalau masih hidup tentu tidak perlu aku mengurusnya lagi. Urusan paling penting sekarang adalah harus kuselidiki hingga jelas siapakah sebenarnya diriku ini? Tapi ayah ibu dan Suhu dalam waktu sehari saja telah dibunuh musuh, rahasia tentang asal-usulku ini menjadi lebih susah dipecahkan. Jalan satu-satunya sekarang harus kupergi keluar perbatasan Gan-bun-koan untuk membaca tulisan yang terukir di dinding batu sana.”

Setelah ambil keputusan demikian, segera ia menuju ke arah barat laut. Setiba di kota, terus saja ia minum arak sepuasnya. Tapi sekali minum sangu yang dibawanya telah dihabiskan.

Waktu itu ia berada di kota Liong-koan. Malamnya ia lantas menggerayangi kantor residen, ia ambil beberapa puluh tail perak dari kas negara. Dengan begitu ia dapat makan minum besar lagi sepanjang jalan dengan biaya negara.

Beberapa hari kemudian sampailah dia di Taiciu, Gan-bun-koan itu terletak antara 30 li di utara Taiciu. Dahulu waktu Kiau Hong mengembara juga pernah datang ke kota ini. Cuma tatkala itu dia ada urusan penting, maka hanya sepintas lalu saja kota itu dikenalnya.

Menjelang lohor ia sampai di Taiciu, maka lebih dulu ia makan minum sekenyangnya, lalu keluar kota dan menuju ke utara.

Dengan kecepatan larinya, jarak 30 li itu tiada setengah jam sudah dicapainya. Sesudah mendaki lereng bukit, ia lihat di kanan kiri jalan dinding karang berdiri tegak menyempit, jalan di tengah selat bukit itu berliku-liku. Memang benar tempat yang berbahaya dalam ilmu militer.

Sebabnya tempat itu diberi nama “Gan-bun-koan” atau pintu gerbang burung belibis, ialah untuk melukiskan betapa terjalnya dinding karang di situ, bahwasanya setelah musim dingin, burung belibis yang mengungsi ke selatan waktu kembali ke utara mesti melalui selat gunung yang terjal itu, tapi saking tingginya puncak pegunungan di situ terpaksa burung belibis harus terbang lewat melalui selat di tengah apitan dinding karang, sebab itu tempat ini diberi nama Gan-bun-koan.

Diam-diam Kiau Hong pikir, “Hari ini aku datang dari selatan. Bila tulisan dinding karang itu menyatakan aku Kiau Hong memang benar adalah keturunan Cidan, maka sekeluar dari Gan-bun-koan ini, selamanya aku akan menjadi orang utara Gan-bun-koan dan takkan pernah kembali ke selatan lagi. Dibandingkan burung belibis yang tiap tahun sekali mesti pulang pergi ke utara dan selatan, terang burung itu jauh lebih bebas dan merdeka daripada diriku.”

Berpikir demikian, mau-tak-mau ia jadi berduka dan pedih.

Gan-bun-koan itu terhitung salah satu benteng penting dalam pertahanan negara Song pada waktu itu, di antara lebih 40 koan (benteng atau pos penjagaan Ban-ti-tiang-sia atau Tembok Besar) di wilayah Soasai, Gan-bun-koan itu termasuk yang paling kuat dan megah. Beberapa puluh li di luar benteng pertahanan itu adalah batas negeri kerajaan Liau. Karena itulah di Gan-bun-koan ada pasukan penjaga yang kuat.

Kalau meneruskan perjalanan melalui pintu benteng penjagaan, tentu Kiau Hong akan ditanya penjaga di situ. Maka ia sengaja berputar ke arah barat, ia ambil jalan lereng bukit dan sampai di Coat-nia (bukit buntu).

Ia pandang sekeliling bukit itu. Ia lihat jauh  di timur sana Ngo-tai-san menjulang tinggi mencakar langit, arah lain juga penuh lereng bukit yang menghijau kebiruan tak berujung, suasana sunyi senyap.

Kiau Hong teringat pada masa dahulu pernah mendengar cerita tentang sejarah Gan-bun-koan yang merupakan benteng pertahanan dalam melawan serbuan bangsa Tartar, bangsa Hun dan lain-lain yang seringkali mengganggu wilayah Tiongkok. Apabila sekarang ternyata benar dirinya adalah keturunan bangsa asing Cidan, maka boleh dikatakan dirinya adalah keturunan bangsa yang suka menyerbu ke wilayah Tiongkok selama beratus tahun ini.

Ia memandang jauh ke utara dan berpikir, “Tatkala Ong-pangcu, Tio-ci-sun dan lain-lain menyergap musuh bangsa Cidan di luar Gan-bun-koan dulu, tentu mereka pilih suatu tempat yang paling baik di lereng bukit. Melihat keadaan sekitar tempat ini, rasanya tempat yang paling tepat adalah lereng sebelah barat laut ini. Ya, besar kemungkinan di situlah mereka menyergap musuh.”

Segera ia berlari ke bawah bukit dan sampai di sana. Tiba-tiba hatinya merasakan semacam tekanan batin yang memilukan. Ia lihat di situ terdapat sepotong batu karang raksasa. Menurut cerita Ti-kong Taisu, katanya dahulu para ksatria Tionggoan sana bersembunyi di balik sebuah batu karang, lalu menghamburkan senjata gelap berbisa ke arah musuh. Melihat gelagatnya, sekarang mungkin batu karang raksasa inilah yang dimaksudkan.

Kira-kira beberapa meter disisi jalan sana ada jurang yang sangat dalam, dipermukaan jurang tertutup kabut tebal hingga betapa dalamnya jurang itu sukar dijajaki.

Diam-diam Kiau Hong berpikir, “Bila cerita Ti-kong Taisu itu memang benar, maka sesudah ibuku dibunuh mereka, lalu ayahku membunuh diri dengan terjun ke jurang ini. Tapi begitu terjun ke bawah, beliau tidak tega aku ikut menjadi korban, maka aku telah dilemparkan ke atas dan tepat jatuh di atas tubuh Ong-pangcu. Dan……tulisan apakah yang ditulisnya di dinding batu yang dimaksudkan itu ?”

Ketika ia berpaling dan memandang dinding karang yang berada di sisi kanan, ia lihat dinding gunung di situ halus licin dan cukup lebar, tapi tepat di bagian tengah dinding itu tampak penuh bekas bacokan kapak. Terang ada seorang yang sengaja menghilangkan tulisan yang katanya terukir di dinding itu.

Kiau Hong berdiri termangu-mangu di depan dinding batu itu dengan perasaan bergolak, sungguh ia ingin putar senjata dan mengangkat kepalan untuk menghantam dan membunuh sepuas-puasnya. Tapi mendadak teringat sesuatu olehnya, “Waktu aku keluar dari Kay-pang, pernah aku bersumpah dengan mematahkan golok Tan-cing, aku menyatakan selama hidup ini takkan membunuh seorang pun bangsa Han, baik aku terbukti orang Cidan atau bukan. Akan tetapi, dengan pertarungan sengit di Cip-hian-ceng itu, sekaligus entah sudah berapa orang yang telah ku bunuh, dan sekarang timbul pula keinginanku hendak membunuh, bukankah perbuatanku ini telah melanggar sumpahku sendiri? Ai, urusan sudah terlanjur begini, biarpun aku tak mengganggu orang, toh orang yang akan mengusik diriku, jika aku diam-diam saja pasrah nasib untuk di bunuh orang, apakah sikap demikian cukup bijaksana sebagai seorang ksatria ?”

Padahal jauh-jauh ia datang keluar Gan-bun-koan ini, tujuannya adalah ingin membaca tulisan di dinding batu ini untuk menyelidiki asal-usul nya sendiri yang sebenarnya. Akan tetapi usaha nya sekarang ternyata sia-sia belaka. Perangainya makin lama semakin gopoh dan suka aseran, tiba-tiba ia berteriak-teriak, “Aku bukan orang Han, aku bukan orang Han !  Aku adalah orang Cidan !  Ya, aku orang Cidan !”

Dan tangannya terus menghantam susul menyusul kearah dinding batu itu.

Maka terdengarlah suara kumandang yang riuh gemuruh menirukan teriakan akibat hantaman Kiau Hong pada dinding batu itu. Karena tekanan batinnya yang tak terlampiaskan itu, maka pukulan Kiau Hong itu masih terus dilontarkan tanpa berhenti.

Kesehatannya memang sudah lama sembuh, ditambah tenaga dalamnya sangat kuat, maka setiap pukulannya semakin keras daripada pukulan yang lain, begitu hebat caranya mengamuk hingga seakan-akan segala duka derita yang dirasakannya selama ini hendak dilampiaskan atas dinding batu itu.

Tengah ia menggempur dinding batu itu, tiba-tiba dari belakang suara seorang wanita yang nyaring merdu berkata, “Kiau-toaya, jika engkau memukul terus, sebentar gunung ini tentu akan kau bikin gugur !”

Kiau Hong melengak oleh teguran itu. Waktu ia menoleh, ia lihat di balik batu sana, di bawah sebatang pohon berdiri seorang gadis jelita dengan mengulum senyum. Siapa lagi dia kalau bukan si A Cu.

Heran dan girang juga Kiau Hong, cepat ia mendekati dan menyapa dengan tertawa, “Hei, A Cu kamu selamat dan tidak apa-apa ?”

Tapi karena dia habis marah-marah, maka tertawanya itu dengan sendirinya rada dipaksakan dan kurang wajar.

“Kiau-toaya, engkau sendiri juga baik-baik, bukan ?” sahut A Cu. Ia pandang Kiau Hong sejenak, mendadak ia menubruk ke dalam pelukan bekas Pangcu itu sambil meratap, “O, Kiau-toaya, aku sudah……sudah menunggu lima hari lima malam di sini, kukuatir engkau takkan datang, tapi sekarang ter……ternyata datang juga. Dan syukurlah engkau ternyata selamat tak kurang suatu apa pun.”

Meski ucapan A Cu itu terputus-putus, tapi penuh rasa girang dan lega, dengan sendirinya Kiau Hong dapat merasakan betapa gadis itu memperhatikan keselamatannya, hatinya tergerak segera bertanya, “Mengapa kau tunggu aku di sini selama lima hari lima malam? Dan dari……dari mana kau tahu aku akan datang kemari ?”

Perlahan A Cu mendongak, tiba-tiba ia ingat dirinya berada di dalam pelukan seorang laki-laki, wajahnya menjadi merah, cepat ia melepaskan dari dan melangkah mundur, ia merasa malu dirinya tadi telah lupa daratan dan tanpa sadar menyusup dalam pelukan orang. Mendadak ia membalik tubuh dengan kepala menunduk.

“He, kenapakah A Cu ?” tanya Kiau Hong bingung.

Namun A Cu tidak menjawab, ia merasa hati berdebar-debar. Selang sejenak, ia berpaling sedikit sambil melirik, tapi lantas membalik ke sana lagi dengan malu-malu.

Melihat sikap si gadis yang aneh itu, Kiau Hong lantas tanya, “A Cu, adakah sesuatu yang akan kau katakan? Jika ada, katakanlah terus terang. Kita pernah sama-sama menghadapi kesukaran dan merupakan kawan sehidup semati, apa yang kau pantangkan lagi ?”

Muka A Cu merah jengah lagi, sahutnya lirih, “Ti…tidak !”

Perlahan Kiau Hong pegang pundak gadis itu dan diputar ke arah matahari, maka jelas terlihat wajah gadis itu meski masih pucat dan agak kurus, tapi air muka yang kepucat-pucatan itu bersemu merah pula dan bukan lagi muka pucat pasi waktu terluka parah tempo hari. Segera Kiau Hong pegang tangan A Cu untuk memeriksa nadinya.

Ketika pergelangan tangan A Cu tersentuh jari Kiau Hong, tanpa terasa badan gadis itu tergetar bagai kena aliran listrik.

Kiau Hong menjadi heran, ia tanya, “Kenapa? Apa badanmu kurang enak ?”

Kembali wajah A Cu merah dadu, sahutnya cepat, “O, ti…tidak, tak apa-apa !”

Sesudah Kiau Hong periksa nadi A Cu, ia merasa denyut nadi itu tenang dan kuat, sedikitpun tiada tanda luar biasa, maka katanya, “Kepandaian Sih-sin-ih benar-benar sakti, pengobatannya selalu ‘ces-pleng’, sungguh tidak bernama kosong.”

“Ya, beruntung sobatmu Pek Si-kia Tianglo telah mengancam tabib sakti itu dengan golok di dada, karena terpaksa, barulah ia mengobati aku.” tutur A Cu.

“Dan sesudah kau sembuh, ternyata mereka mau juga membebaskanmu.” ujar Kiau Hong.

“Huh, masakah mereka begitu baik ?” jengek A Cu dengan tertawa. “Justru mereka selalu merecoki aku, baru kesehatanku sedikit pulih, setiap hari paling sedikit ada belasan orang yang mengajukan macam-macam pertanyaan dan gertakan padaku. Meraka tanya Kiau-toaya pernah hubungan apa dengan aku? Ada yang tanya siapakah gerangan laki-laki berbaju hitam yang menolongmu itu? Dan ke manakah engkau digondol? Sudah tentu aku tidak tahu, maka aku menjawab dengan sejujurnya. Tapi mereka tidak percaya padaku dan mengancam takkan memberi makan, akan menyiksa padaku dan lain-lain gertakan lagi. Terpaksa aku mengarang pengakuan yang tidak betul, aku sengaja bilang laki-laki berbaju hitam itu datang dari Kun-lun-san, lain hari kukatakan dia datang dari pulau di Tanghai dan macam-macam dongengan lain yang lucu.”

Bercerita sampai di sini, ia jadi teringat pada para ksatria Tionggoan yang dibohongi dan dipermainkan olehnya itu, saking gelinya ia tertawa cekikikan.

“Dan mereka percaya tidak pada obrolanmu ?” tanya Kiau Hong ikut geli.

“Ada yang percaya, ada yang tidak, dan ada yang setengah percaya dan setengah tidak.” sahut A Cu. “Ku yakin di antara mereka tiada seorangpun yang kenal dengan tokoh berbaju hitam itu, maka aku sengaja mengarang cerita yang aneh dan khayal, biar mereka curiga dan ketakutan serta selalu kebat-kebit.”

“Padahal siapakah tuan penolong berbaju hitam itu, sampai kini aku sendiri pun tidak kenal,” ujar Kiau Hong. “Coba bila kudengar dongenganmu itu, mungkin aku pun percaya.”

“Eh, jadi engkau sendiri pun tidak kenal dia? Habis, mengapa beliau sudi menyerempet bahaya untuk menolongmu ?” tanya A Cu heran. “Tapi memang begitulah perbuatan seorang pendekar sejati, seorang ksatria yang suka menolong sesamanya.”

“Ai, entah cara bagaimana harus kubalas budi tuan penolong itu dan entah bagaimana pula harus kutuntut balas pada musuh yang belum kukenal,” kata Kiau Hong dengan penuh menyesal. “Apalagi aku pun belum tahu apakah aku bangsa Han atau Cidan, juga tidak tahu perbuatanku sendiri selama hidup ini betul atau salah? O, Kiau Hong wahai, Kiau Hong! Percumalah kau jadi manusia !”

Melihat Kiau Hong sangat sedih, tanpa terasa A Cu memegang tangan bekas Pangcu itu, hibur nya dengan suara lembut, “Kiau -toaya, buat apa mencari susah sendiri? Segala kejadian pada akhirnya tentu akan terang. Asal engkau merasa tidak berdosa, segala perbuatanmu dapat dipertanggung jawabkan kepada siapapun juga, maka engkau tidak perlu gentar lagi.”

“Benar, aku justru merasa berdosa, makanya sedih,” sahut Kiau Hong. “Tempo hari aku telah bersumpah takkan membunuh seorang pun bangsa Han, tetapi sekarang……”

“Engkau terpaksa membela diri, kalau tidak balas menyerang, tentu engkau sendiri sudah binasa dikeroyok mereka,” ujar A Cu.

Sebagai seorang laki-laki yang bisa berpikir panjang, cepat juga Kiau Hong kesampingkan tekanan batinnya itu. Katanya kemudian, “Menurut Ti-kong Taysu dan orang yang mengaku bernama Tio-ci-sun itu katanya pada dinding batu ini ada tulisannya, entah mengapa sekarang telah dihapus orang ?”

“Ya, memang sudah kuduga engkau pasti akan memeriksa tulisan di dinding ini, makanya aku menantimu di sini sesudah lolos dari bahaya,” kata A Cu.

“Cara bagaimana kau lolos dari bahaya, apakah ditolong pula oleh Pek Si-kia ?” tanya Kiau Hong.

“Bukan,” sahut A Cu dengan tersenyum, “Bukankah engkau masih ingat aku pernah menyamar sebagai hwesio untuk mengelabui padri Siau-lim-si ?”

“Ya, kepandaianmu yang nakal itu memang hebat, “sahut Kiau Hong.

“Dan setelah lukaku agak sembuh, menurut Sih-sin-ih, katanya tidak perlu diobati lagi, cukup tetirah beberapa hari lagi tentu akan sehat kembali. Dalam pada itu dongeng yang kukarang untuk menipu mereka itu makin lama makin banyak dan macam-macam hingga aku sendiri pun bosan, pula merasa kuatir atas dirimu, maka pada suatu malam, kembali aku menyaru sebagai seorang tokoh untuk meloloskan diri.”

“Kamu menyaru lagi? Menyaru siapa ?” tanya Kiau Hong.

“Aku menyaru sebagai Sih-sin-ih,” sahut A Cu.

“Menyaru sebagai Sih-sin-ih? Dapat menyaru dengan percis ?” Kiau Hong menegas dengan terheran-heran.

“Tentu saja dapat,” sahut A Cu. “Setiap hari aku bertemu dan paling sering pula bicara dengan dia, maka sikapnya dan gerak-geriknya sangat apal bagiku. Lagi pula hanya dia seorang yang paling sering berada bersamaku. Malam itu aku pura-pura pingsan, segera ia memeriksa nadiku, kesempatan itu kugunakan untuk pencet urat nadinya secara mendadak sehingga dia tidak berani berkutik dan mau-tak-mau pasrah nasib padaku.”

Diam-diam Kiau Hong geli di dalam hati, sungguh sial tabib sakti itu, yang dipikirkan oleh tabib itu hanya mengobati orang, sudah tentu tak diduganya bahwa budak setan ini bisa main gila padanya.

“Begitulah aku lantas tutuk jalan darahnya,” demikian A Cu menyambung. “Tapi ilmu tutukanku kurang pandai, kukuatir dalam waktu singkat dia akan bergerak lagi, maka kutambahi dia dengan ringkusan kain sobekan seprei, kaki tangan nya kuikat dan mulutnya kusumbat, lalu kugusur dia ke atas ranjang sesudah kucopot dulu baju dan sepatunya. Kututupi dia dengan selimut hingga kalau dipandang dari luar tentu orang akan menyangka aku yang tidur di situ tanpa curiga. Kemudian kupakai baju dan sepatu serta kopiahnya. Aku coret mukaku dengan garis-garis keriput hingga mirip tabib sakti itu, yang masih kurang hanya tinggal jenggotnya saja.”

“Kurang jenggot ?” Kiau Hong menegas. “Ehm, jenggotnya yang panjang dan sudah mulai ubanan itu agak sulit dipalsukan.”

“Tak bisa memalsu, terpaksa aku memakai yang asli,” ujar A Cu.

“Pakai yang asli ?” Kiau Hong menegas dengan heran.

“Ya, kupakai yang asli. Kuambil pisau dari peti obat dan mencukur jenggotnya, lalu kutempelkan jenggot pinjaman itu di mukaku, dengan demikian jenggot si tabib sakti itu kupindahkan tanpa memalsunya. Sudah tentu tabib itu keki setengah mati, tapi apa yang bisa dia perbuat? Ia mengobati aku karena terpaksa, aku mencukur jenggotnya juga tak dapat dikatakan membalas susu dengan air tuba. Apalagi sesudah kucukur jenggotnya, ia menjadi jauh lebih muda tampaknya dan lebih tampan dari biasanya.”

Bercerita sampai sini, tertawalah kedua orang dengan geli.

“Dan sesudah menyaru sebagai Sih-sin-ih, dengan lagak tuan besar aku lantas keluar dari Cip-hian-ceng dan dengan sendirinya tiada seorang pun berani menegur padaku. Malahan kuperintahkan orang-orang di situ menyediakan kuda dan sangu seperlunya, lalu kuangkat kaki,” demikian A Cu meneruskan. “Sesudah jauh dari Cip-hian-ceng, segera kububut bersih jenggot tempelan itu dan berubah menjadi laki-laki muda. Orang-orang di Cip-hian-ceng itu baru akan mengetahui lolosnya diriku pada esok paginya. Tapi sepanjang jalan aku menyamar orang lain lagi secara berganti-ganti hingga takkan dapat mereka temukan.”

“Bagus, sungguh bagus !” sorak Kiau Hong sambil bertepuk tangan. Tapi mendadak ia ingat pernah melihat bayangan belakang diri sendiri dalam cermin perunggu di ruang po-te-ih di Siau-lim-si tempo hari, tatkala itu ia terkesiap, lamat-lamat ia merasakan ada sesuatu yang kurang beres. Kini demi mendengar cerita A Cu tentang menyaru orang lain untuk menipu, kembali ia merasakan ketidak beresan seperti dulu itu, maka segera ia berkata, “A Cu, coba kau putar tubuhmu !”

Sudah tentu A Cu bingung akan maksud Kiau Hong, tapi ia menurut juga dan memutar tubuh.

Kiau Hong termenung sejenak memandangi belakang tubuh gadis itu. Tiba-tiba ia lepaskan baju luar sendiri dan dikenakan pada badan A Cu.

Dengan muka kemerah-merahan A Cu menoleh, ia pandang bekas pangcu itu dengan sorot mata yang lembut dan melekat, katanya lirih, “Aku tidak dingin.”

Tapi setelah memandangi bentuk tubuh A Cu dengan mengenakan bajunya itu, mendadak Kiau Hong menjadi terang seluk beluk ketidak beresan yang mencengkam perasaannya itu. Sekali tangannya bergerak, cepat ia pegang tangan si gadis sambil bertanya dengan suara bengis, “Hah, kiranya kau inilah! Kau lakukan atas suruhan siapa? Lekas mengaku terus terang!”

Keruan A Cu kaget, tanyanya dengan gelagapan, “Kiau…Kiau-toaya, ada…ada apa ?”

“Kau pernah menyaru sebagai diriku dan pernah memalsukan aku bukan ?” tanya Kiau Hong.

Baru sekarang ia ingat pada kejadian tempo hari waktu ia terburu-buru hendak pergi menolong kawan Kay-pang yang ditawan orang Sehe, di tengah jalan ia pernah melihat bayangan belakang seseorang. Tatkala itu ia tidak menaruh perhatian apa-apa, kemudian sesudah melihat bayangan belakang sendiri pada cermin perunggu di Siau-lim-si, barulah ia ingat bentuk tubuh belakang yang pernah dilihatnya itu mirip sekali dengan dirinya.

Padahal waktu dia tiba di tempat yang dituju lebih dulu orang-orang Kay-pang sudah bebas dari bahaya dan semua orang mengucapkan terima kasih atas pertolongannya yang pada hakikatnya bukan dia yang melakukannya. Tatkala itu ia pun merasa bingung dan menduga pasti ada seorang lain yang telah memalsukan dirinya.

Kini setelah melihat bangun tubuh A Cu sesudah mengenakan bajunya itu, sesudah dicek satu sama lain, mengertilah Kiau Hong akan duduknya perkara, terang gadis inilah yang telah memalsukan dirinya dan tidak mungkin orang lain.

A Cu ternyata tidak heran dan kuatir lagi, sebaliknya ia mengaku terus terang dengan tertawa, “Ya, baiklah, aku mengaku pernah menyamar sebagai engkau.”

Lalu ia pun ceritakan pengalamannya menyaru sebagai Kiau Hong untuk menolong anggota Kay-pang dengan obat penawar racun itu.

“Apa tujuanmu menyaru diriku untuk menolong orang Kay-pang ?” bentak Kiau Hong dengan bengis sambil melepaskan tangannya.

A Cu terkesiap, sahutnya cepat, “Aku tidak bermaksud apa-apa, hanya untuk kelakar saja. Kupikir mereka memperlakukan engkau kurang baik, sebaliknya engkau malah menolong mereka, tentu mereka akan merasa malu dan berterima kasih. Ai, siapa duga ketika di Cip-hian-ceng mereka tetap begitu kejam padamu, sama sekali tidak ingat budi kebaikanmu masa lalu.”

Air muka Kiau Hong makin kereng, mendadak ia tanya pula dengan menggertak gigi, “Habis, mengapa kau palsukan aku pula untuk membunuh ayah bundaku dan membinasakan Suhu ku di Siau-lim-si ?”

Seketika A Cu melonjak kaget, serunya, “Hah, mana bisa jadi? Siapa bilang aku memalsukan dirimu untuk membunuh ayah bunda dan gurumu ?”

“Suhuku kena serangan musuh hingga terluka dalam, begitu melihat diriku beliau lantas menuduh aku yang turun tangan keji itu, masakah bukan perbuatanmu ?” kata Kiau Hong. Sampai di sini sebelah tangannya perlahan diangkat dengan nafsu membunuh, asal jawaban A Cu kurang memuaskan, seketika gadis itu akan binasa di bawah gaplokannya.

Melihat sikap Kiau Hong yang kereng itu, A Cu merasa takut, tanpa terasa ia mundur dua tindak. Dan ia mundur lagi beberapa tindak, tentu gadis itu akan terjerumus ke dalam jurang di belakangnya itu.

“Jangan bergerak, berdiri di situ !” cepat Kiau Hong membentak.

Saking ketakutannya hingga air mata A Cu bercucuran, sahutnya dengan gemetar, “Aku…aku…tid…tidak membunuh ayah bundamu dan tidak…tidak membinasakan Suhumu. Masakah aku mampu membunuh…membunuh gurumu yang berkepandaian tinggi itu ?”

Ucapan terakhir itu ternyata sangat tepat hingga hati Kiau Hong terketuk. Gurunya, Hian-koh Taysu, tewas oleh semacam ilmu pukulan dahsyat dari Lwekang yang tinggi, hal ini mana tidak mungkin dapat dilakukan A Cu yang berkepandaian tak seberapa tinggi ini.

Segera ia sadar telah salah menuduh A Cu. Secepat kilat tangannya menyambar ke depan, ia tarik tangan gadis itu ke dekat dinding batu agar gadis itu tidak terpeleset ke bawah jurang. Lalu katanya, “Ya, benar, bukan kamu yang membunuh suhuku !”

Baru sekarang A Cu bisa tertawa, ia tepuk dada sendiri tanda lega, katanya, “Ai, hampir aku mati ketakutan. Mengapa engkau begini sembrono, jika aku mempunyai kepandaian membunuh gurumu, masakah aku tidak membantumu menghajar orang-orang di Cip-hian-ceng itu ?”

Melihat gadis itu Cuma mengomel sekadarnya saja, Kiau Hong merasa menyesal, katanya pula, “Akhir-akhir ini pikiranku memang sedang kusut dan suka sembarangan omong, harap nona jangan marah padaku.”

“Jika aku marah, sejak tadi aku tak sudi bicara padamu lagi,” sahut A Cu tertawa.

Untuk sejenak Kiau Hong termangu-mangu, tiba-tiba tanyanya pula, “A Cu, kepandaianmu menyamar itu dipelajari dari siapa? Apakah gurumu masih mempunyai murid lain lagi ?”

“Tiada yang mengajar padaku,” sahut A Cu. “Sejak kecil aku suka menirukan gerak-gerik orang lain, semakin meniru semakin pintar, mengapa harus belajar pada guru segala ?”

“Inilah aneh sekali, ternyata di dunia ini masih ada seorang lain lagi yang sangat mirip diriku hingga Suhu salah sangka sebagai diriku yang sebenarnya,” ujar Kiau hong dengan menyesal.

“Jika ada titik terang demikian, urusan menjadi mudah diselidiki,” kata A Cu. “Marilah kita pergi mencari orang itu untuk memaksanya mengaku duduknya perkara.”

“Benar,” sahut Kiau Hong. “Tapi, dunia seluas ini, ke mana dapat mencari orang itu ?”

Ia coba memperhatikan tulisan pada dinding yang sudah terhapus itu guna mencari sesuatu tanda yang mungkin berguna, tapi meski sudah dipandang dari sini dan diperiksa dari sana, tetap tiada sehuruf pun yang dikenalnya. Katanya kemudian, “A Cu untuk mengetahui apa yang ditulis di dinding ini, aku bermaksud mencari Ti-kong Taysu untuk minta keterangan padanya. Sebelum membikin terang urusan ini, sungguh aku tidak enak makan dan tidak nyenyak tidur.”

“Tapi mungkin dia tidak mau menerangkan padamu,” ujar A Cu.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: