Category Archives: Pedang Hati Suci

Pedang Hati Suci (Jilid ke-16) Tamat

Tik Hun sendiri masih asjik memitas tuma jang diketemukannja dari badjunja, tapi perhatiannja tidak pernah meninggalkan orang2 Bu-lim jang datang kesitu itu.

Continue reading

Advertisements

Pedang Hati Suci (Jilid ke-15)

Maka Ban Tjin-san telah tersenjum, katanja: “Ja, benar, memang tidak boleh lupa daratan saking senangnja. Nah, Ka-dji, djerih-pajah ajahmu ini achirnja tidaklah sia2, rahasia besar ini achirnja dapat kita ketemukan djuga!”

Continue reading


Pedang Hati Suci (Jilid ke-14)

Melihat sikap ibunja agak aneh, si dara tjilik Khong-sim-jay menjadi takut, ber-ulang2 ia memanggil: “Mak, mak, ken…kenapakah kau?”

Continue reading


Pedang Hati Suci (Jilid ke-13)

Lalu Gian Tat-peng menutup kembali botolnja dan menjimpannja kedalam badju, katanja dengan tertawa: “Nah, selamat djalan, aku tidak menghantar, ja!”

Continue reading


Pedang Hati Suci (Jilid ke-12)

Setelah Tjui Sing bitjara tadi, keadaan didalam gua mendjadi sepi, agaknja orang2 itu sedang saling pandang dengan bingung.

Continue reading


Pedang Hati Suci (Jilid ke-11)

Namun iapun tidak mau banjak pikir lagi, segera ia melompat bangun, tapi baru ia berdiri, mendadak kakinja kesakitan, ia mendjerit sekali dan djatuh lagi. Njata ia lupa bahwa sebelah kakinja sudah patah.

Continue reading


Pedang Hati Suci (Jilid ke-10)

Tjui Sing terkedjut dan tjepat2 melompat mundur. Kemudian ia djemput sebatang kaju jang lain dan madju pula hendak melabrak Tik Hun.

Continue reading


Pedang Hati Suci (Jilid ke-9)

Begitulah suara ketiga orang itu berkumandang datang dari tiga djurusan pula, suara mereka ada jang keras melantang, ada jang njaring melengking, tapi semuanja bertenaga dalam jang sangat kuat.

Continue reading


Pedang Hati Suci (Jilid ke-8)

Maka sekuatnja ia tahan tangan Tik Hun kebawah hingga kuali itu tertaruh ketempat semula, ia membentak: “Lepaskan tanganmu!”

Continue reading


Pedang Hati Suci (Jilid ke-7)

“Nah, bagaimana? Aku hanja djago kelas dua, lantas kau kelas berapa?” demikian Kheng Thian-pa mengedjek dengan tertawa dingin.

Continue reading


Pedang Hati Suci (Jilid ke-6)

Ting Tian tak menggubrisnja lagi dan tetap meneruskan: “Dan jang ketiga memakai sendjata pedang, gerak-geriknja sangat gesit, itulah Tiat-so-heng-kang Djik Tiang-hoat.”

Continue reading


Pedang Hati Suci (Jilid ke-5)

Dan selagi laki2 itu hendak menerobos keluar melalui lubang rudji besi jang telah melengkung itu, se-konjong2 sesosok bajangan berkelebat, seorang telah mengadang ditempat lubang itu. Itulah dia Ting Tian adanja.

Continue reading


Pedang Hati Suci (Jilid ke-4)

Selama setahun itu, orang gila itu kalau tidak tertawa keras, tentu mentjatji-maki orang, tapi selamanja tidak pernah mendengar dia menghela napas, apalagi diantara helaan napasnja itu kedengaran membawa rasa sedih dan lemah-lembut pula.

Continue reading


Pedang Hati Suci (Jilid ke-3)

Ia menuang penuh dua tjawan arak, ia sendiri meneguk habis dulu setjawan, lalu katanja pula, “Nah, Suhengmu ini sudah mengeringkan tjawan lebih dulu, engkau harus memberi muka padaku.”

Continue reading


Pedang Hati Suci (Jilid ke-2)

Sebaliknja Ban Ka mendapat hati malah, disangkanja Tik Hun mulai kewalahan, ia mentjetjar semakin tjepat dengan serangan2 bagus dan lihay.

Continue reading


Pedang Hati Suci (Jilid ke-1)

Pedang Hati Suci

by Jin Yong

ok …. Tak-tok… tok trok tok … taaak!

Begitulah bunji serentetan beradunja dua batang kaju, terkadang berhenti agak lama, menjusul lantas berbunji pula dengan tjepat.

Continue reading