Category Archives: Dewi Maut

Dewi Maut (Jilid ke-72) Tamat

Semua orang yang mendengarkan memandang dengan mata terbelalak karena baru satu kali ini mereka mendengar perdebatan yang aneh itu. Pendekar Sakti Cia Keng Hong memandang pucat, lalu berkata, “Eh… nanti dulu, locianpwe… saya menjadi agak bingung. Jadi menurut locianpwe, kita tidak harus bercita-cita, harus puas dengan keadaan yang sekarang ini saja? Tidak boleh mencari kemajuan? Berarti menjadi orang biasa saja tidak ada artinya?”

“Ha-ha-ha, lucu…! Lucu…! Kenapa pandangan kita pada umumnya begitu sama dan persis? Justeru demikian pula yang kukatakan kepada Bun Hwat Tosu ketika aku membantahnya!” Dia tertawa bergelak, kemudian berkata lagi, sikapnya kembali tenang.

Continue reading

Advertisements

Dewi Maut (Jilid ke-71)

Biarpun Bun Houw dan In Hong menjadi girang sekali mendengur bisikan dua orang sakti itu, namun tidaklah mudah bagi mereka untuk menyerang bagian lemah itu. Bagaimana dapat menyerang telapak kaki lawan? Telapak kaki selalu tertutup atau terlindung karena dipakai untuk menginjak tanah! Mana mungkin bisa diserang? Kelihatanpun tidak! Dua orang muda perkasa itu menjadi bingung.

Dengan ilmunya yang tinggi, lebih tinggi dari kepandaian In Hong, Bun Houw tentu saja dapat mengatasi Pek-hiat Mo-ko dengan baik. Pemuda ini sudah mewarisi ilmu-ilmu yang amat hebat dari ayahnya dan dari Kok Beng Lama, ilmu silatnya bermacam-macam dan kesemuanya merupakan ilmu-ilmu silat pilihan yang bertingkat tinggi. Kalau saja Pek-hiat Mo-ko tidak mengandalkan limu kekebalannya yang mujijat, tentu sudah sejak tadi dia roboh oleh pemuda perkasa ini. Akan tetapi, kekebalan yang amat hebat itu melindunginya sehingga biarpun dia sudah belasan kali terpelanting oleh pukulan yang amat hebat, pukulan yang akan menewaskan lawan-lawan yang bahkan lebih lihai sekalipun, namun tidak membuat Pek-hiat Mo-ko terluka dan kakek ini dapat meloncat bangun kembali sambil tertawa mengejek dan menyerang dengan dahsyatnya yang juga dapat dielakkan atau ditangkis oleh Bun Houw dengan mudahnya. Baik dalam hat ilmu silat maupun dalam hal tenaga sin-kang, pemuda ini lebih tinggi tingkatnya daripada lawannya. Akan tetapi kekebalan itu membuat dia tidak berdaya.

Continue reading


Dewi Maut (Jilid ke-70)

Juga Kun Liong dan Giok Keng terdesak hebat saking banyaknya fihak lawan yang mengeroyok. Bahkan Kun Liong sendiri yang sudah amat tinggi ilmunya, menjadi kewalahan menghadapi pengeroyokan banyak orang pandai dan pendekar ini makin khawatir menyaksikan keadaan yang berbahaya itu, apalagi setelah dia melihat bahwa di situ terdapat puterinys dan Lie Seng yang bagaimanapun juga harus dapat diselamatkan keluar dari tempat itu.

Tiba-tiba terdengar sorak-sorai yang gegap gempita dan muncullah pasukan yang langsung menyerbu tempat pertempuran dan menyerang anak buah Lembah Naga. Kiranya itu adalah pasukan pengawal dari kota raja, dipimpin oleh komandan pasukan pengawal Kim-i-wi (Pasukan Pengawal Berbaju Emas), yaitu Lee Cin, dan dibantu pula oleh seorang tokoh pengawal tua yang dahulu amat terkenal, yaitu Tio Hok Gwan ayah dari Tio Sun!

Continue reading


Dewi Maut (Jilid ke-69)

Mei Lan adalah seorang anak yang cerdas sekali. Melihat sikap sungguh-sungguh dari Tio Sun, dia dapat menduga bahwa tentu pesan itu amat penting. Apalagi dia mendengar nama Yap In Hong. Itulah nama bibinya, adik dari ayahnya! Bibinya itu tertawan di sini? Dia mengangguk dan cepat pergi dari situ, lari dengan cepat sekali ke arah yang diisyaratkan oleh kepala dan pandang mata Tio Sun, yaitu ke arah perkampungan Lembah Naga. Sedangkan Lie Seng melanjutkan usahanya untuk melepaskan belenggu dari kedua lengan Kwi Beng. Namun, tidak

mudah bagi pemuda cilik ini untuk melepaskan belenggu yang demikian kokoh kuatnya. Dan pada saat itu terdengar suara bentakan-bentakan dan muncullah belasan orang anak buah Lembah Naga Yang memang bertugas menjaga “umpan” itu agar jangan lolos dan juga agar kalau ada orang luar datang mereka dapat cepat melapor.

“Tangkap bocah itu!”

“Kejar yang perempuan! Dia lari ke dalam…!”

Continue reading


Dewi Maut (Jilid ke-68)

Can Pouw tidak berani masuk melihat gadis-gadis cantik itu telanjang bulat, maka dia terus menyelidiki ke belakang dan akhirnya di dalam sebuah kamar gudang dia melihat hwesio-hwesio aseli dari Ban-hok-tong dibelenggu menjadi satu dan disumbat mulut mereka!

Can Pouw cepat membebaskan belenggu Kai Sek Hwesio, kemudian bersama dengan ketua itu yang telah menceritakan semua perbuatan tosu-tosu Pek-lian-kauw yang menyergap mereka dan menguasai kuil, dia cepet pergi ke kamar yang terkurung dan membikin ribut, dengan mencuri cawan-cawan dan menggunakannya sebagai senjata-senjata rahasia.

Tentu saja Kim Hwa Cinjin dan anak buahnya terkejut bukan main. Melihat bahwa rahasia mereka telah terbuka, Kim Hwa Cinjin memberi isyarat dan semua hwesio palsu itu mencabut senjata dan menyerbu, menyerang Kun Liong, Giok Keng, dan Can Pouw dengan ganas karena tiga orang ini harus cepat dibunuh!

Continue reading


Dewi Maut (Jilid ke-67)

“Hemm… ceritamu amat menarik, terlalu menarik sehingga aku mana bisa percaya begitu saja? Bagaimana kalau kau membohong?”

Tiba-tiba maling tua itu membusungkan dadanya, kelihatan penasaran. “Lihiap, di dunia ini hanya ada seorang saja Jeng-ci Sin-touw dan saya tidak sembarangan saja membohong! Terhadap pendekar-pendekar sakti seperti lihiap, bagaimana saya berani membohong? Kalau saya orang pembohong rendah, mana mungkin seorang pendekar wanita seperti Yap-lihiap mau bersahabat dengan saya? Ahhh, sungguh kasihan sekali… sungguh menyedihkan sekali, mendengar sahabat baik itu mengalami bencana namun saya tidak mampu berbuat apa-apa untuk menolongnya.”

Giok Keng makin tertarik. “Apa maksudmu? Apakah terjadi sesuatu dengan Yap In Hong?”

Continue reading


Dewi Maut (Jilid ke-66)

“Heii, masa belum juga selesai?” teriaknya tanpa menoleh karena hatinya sudah kesal menanti.

“Sebentar lagi! Aihh, betapa tidak sabaran engkau!”

“Habis, lama benar sih! Memangnya engkau mau berendam di situ sampai sehari penuh?”

Mei Lan tidak menjawab, akan tetapi mempercepat mencuci rambutnya yang hitam panjang itu. Setelah selesai dan berpakaian, dia lalu naik ke atas, rambutnya masih terurai dan dikibas-kibaskannya agar kering. Wajahnya segar kemerahan karena digosok-gosoknya tadi, seperti sekuntum bunga yang sedang mulai mekar.

“Nah, ambillah olehmu seluruh air sungai itu!” katanya kepada Lie Seng yang cemberut.

Continue reading


Dewi Maut (Jilid ke-65)

“Eh, kenapa ucapanmu seperti nona Liong Si Kwi tadi? Dia juga mengatakan bahwa aku menjadi korban cinta. Apa maksudnya dan apa maksudmu?”

“Aku tidak tahu bagaimana kenyataannya, akan tetapi menurut dugaanku, melihat keadaan gadis itu, agaknya tidak salah lagi bahwa dia jatuh cinta kepada Cia-taihiap. Karena cintanya maka dia berkhidnat dan berusaha menolong Cia-taihiap akan tetapi dia ketahuan sehingga dia dibuntungi tangan kirinya. Sungguh kasihan dia.” Tio Sun menghentikan kata-katanya karena hatinya seperti ditusuk karena dia teringat akan keadaannya sendiri yang juga gagal dalam cintanya. Dia memandang kepada Kwi Beng dan diam-diam dia mengharapkan agar kegagalan yang menyedihkan itu jangan menimpa pemuda tampan ini yang dia tahu benar-benar cinta dan tergila-gila kepada Yap In Hong.

Continue reading


Dewi Maut (Jilid ke-64)

Tio Sun merasa khawatir kalau-kalau Kwi Beng akan diadukan. Dia tahu bahwa Kwi Beng sebagai putera pendekar wanita Souw Li Hwa tentu saja memiliki kepandaian yang tinggi juga dan sudah boleh diandalkan, akan tetapi Kwi Beng masih muda dan dia khawatir kalau-kalau pemuda itu akan membunuh lawannya sehingga menimbulkan suasana tidak enak terhadap Raja Sabutai. Maka cepat dia berkata, “Sri baginda, tidakkah cukup dengan semua pertandingan itu? Para tamu juga tentu menjadi bosan karenanya. Bagaimana kalau adik Souw ini memperlihatkan kepandaiannya mainkan hui-to (pisau terbang) dan senjata rahasianya yang amat hebat, yang dapat memuntahkan peluru baja sedemikian cepatnya sehingga tidak dapat terlihat oleh mata? Tentu saja untuk permainan ini, tidak diperlukan adu kepandaian yang merupakan lawan karena dapat membunuh orang.”

Sabutai mengangguk-angguk sambil tertawa. “Seorang ahli senjata rahasia, heh? Bagus, nah, aku sendiri yang akan mengujinya.”

Continue reading


Dewi Maut (Jilid ke-63)

Selain hidangan yang berlimpah-limpah dan tari-tarian serta nyanyian daerah yang diselenggerakan untuk menghibur para tamu, juga Sabutai mengadakan pertandingan silat dan gulat dengan hadiah-hadiah yang menarik. Hal ini dilakukan dengan harapan agar kelak puteranya menjadi seorang gagah perkasa, maka kelahirannya disambut dengan pertandingan-pertandingan ketangkasan, yaitu yang umum di antara mereka adalah silat terutama sekali gulat.

Banyak juga yang mendaftarkan diri untuk mengikuti pertandingan itu. Akan tetapi, Raja Sabutai kecewa melihat bahwa yang bertanding adalah orang-orang yang memiliki kepandaian biasa saja. Maka ketika menurut giliran maju seorang pegulat yang sudah cukup terkenal di antara para Suku Nomad, seorang pegulat yang tubuhnya seperti gajah, kokoh kuat dan kekar, berhadapan dengan seorang ahli silat bangsa Han di antara para tokoh perbatasan, Sabutai menjadi girang dan tertarik sekali.

Continue reading


Dewi Maut (Jilid ke-62)

Demikianlah, karena kebetulan sekali kamar yang ia dapat sebagai tamu Lembah Naga itu berdekatan dengan kamar tahanan, sore-sore dia telah menutup diri di dalam kamarnya, memberi alasan bahwa dia merasa tidak sehat, dan diam-diam dia telah menyelundupkan sebuah cangkul ke dalam kamarnya. Mulailah dia menggali lantai kamarnya, membuat terowongan di dalam tanah menuju ke kamar tahanan. Dia bekerja keras sampai kedua tangannya lecet-lecet berdarah, namun tidak pernah dia berhenti sebentarpun. Dengan penuh semangat dia terus menggali dan akhirnya, lewat tengah malam, dia dapat menembus kamar tahanan dan muncul di dalam kamar itu di waktu In Hong masih pingsan dan Bun Houw dalam keadaan setengah sadar karena saat itu pengaruh racaun perangsang sudah mencapai puncak kekuatannya yang hampir tak tertahan olehnya. Baiknya In Hong telah menggeletak pingsang, kalau tidak entah apa yang akan terjadi antara dia dan gadis itu!

Continue reading


Dewi Maut (Jilid ke-61)

“Kita harus mencari akal untuk dapat lolos dari kurungan ini, Houw-ko, kemudian kita serbu mereka, rampas kembali Siang-bhok-kiam dan…”

“Ssstt, jangan terburu nafsu, Hong-moi. Tidak akan mudah. Kita harus bersabar dulu.”

“Tapi kita akan celaka…”

“Kurasa tidak, Hong-moi. Sebetulnya, yang diinginkan oleh kakek dan nenek itu adalah ayahku dan para panglima bekes pembantu Panglima The Hoo, bukan kita. Kita ini hanya dijadikan umpan belaka. Kalau mereka hendak membunuh kita, tentu agaknya engkau sudah mereka bunuh, dan aku juga.”

Continue reading


Dewi Maut (Jilid ke-60)

Tentu saja Ang-bin Ciu-kwi dan Coa-tok Sian-li yang sudah tahu akan kelihaian pemuda itu, merasa jerih. Coa-tok Sian-li masih ngeri kalau mengingat betapa jarum-jarumnya yang ampuh itupun sama sekali tidak dapat melukai pemuda ini. Juga Hek I Siankouw sudah maklum betapa lihainya pemuda ini, maka diapun meragu untuk turun tangan. Akan tetapi dalam saat yang membingungkan bagi mereka itu, tiba-tiba saja semua kemarahan di antara mereka lenyap dan dengan pandang mata mereka itu saling melirik, maklumlah mereka bahwa mereka bertiga harus bekerja sama untuk menandingi pemuda Cin-ling-pai itu.

“Singggg…!” Tangan kanan Hek I Siankouw sudah mencabut pedang hitamnya, sedangkan tangan kiri merogoh kantong senjata rahasianya, yaitu Hek-tok-ting (Paku Hitam Beracun).

“Singggg…!” Coa-tok Sian-li juga sudah mencabut pedangnya, sebatang pedang yang berlika-liku seperti ular dan berwarna kehijauan, tangan kirinya juga mengambil segenggam jarum racun ular.

Continue reading


Dewi Maut (Jilid ke-59)

Pemuda itu tersenyum. “Jangan khawatir, nona. Belum terlambat si bedebah itu melanjutkan perbuatannya yang terkutuk.”

Si Kwi memandang pemuda itu, menatap wajah yang tampan den gagah itu dan mukanya menjadi makin merah. Dia telah terlihat oleh pemuda ini dalam keadaan setengah telanjang!

“Engkau mengusirnya?” tanyanya hampir tidak percaya bahkan pemuda tampan sederhana ini telah menyebabkan Ang-bin Ciu-kwi melarikan diri.

Pemuda itu mengangguk. “Aku lewat dan melihat perbuatannya yang terkutuk, maka aku menegurnya dan akhirnya dia lari.”

“Dan kau lalu mengobatiku?”

Kembali pemuda itu mengangguk. “Melihat sikapmu yang… eh, tidak wajar, aku tahu bahwa engkau terbius hawa beracun, maka aku lalu mengusir hawa beracun dari tubuhmu.”

Continue reading


Dewi Maut (Jilid ke-58)

Tiba-tiba mereka melihat Si Kwi yang berlari cepat mendatangi dari jauh dikejar oleh anak buah mereka. Dengan tenang saja kedua orang ini memandang, dan Ang-bin Ciu-kwi masih memangku dan merangkul pinggang Kiat Bwee ketika Si Kwi tiba di depan mereka, gadis itu memandang dengan alis berkerut. Suami isteri itu tentu lupa lagi kepadanya, dan biarpun dia pernah melihat suami isteri ini, akan tetapi hanya sebentar saja tanpa diperkenalkan, yaitu ketika suami isteri ini datang menghadap Hek-hiat Mo-li dan Pek-hiat Mo-ko di Lembah Naga. Setelah dia tadi menyaksiken kebuasan anak buah Padang Bangkai yang membunuh wanita-wanita itu, dan kini melihat Ang-bin Ciu-kwi memangku seorang wanita setengah telanjang pula dan mempermainkannya, hati Si Kwi menjadi muak dan panas sehingga sampai lama dia tidak mampu mengeluarkan kata-kata.

“Twako! Twako…! Dia telah menyerang kami! Ditanya nama tidak mengaku malah dia melemparkan dua teman kita ke rumput maut!” dari jauh si mata merah sudah berteriak-teriak.

Continue reading


Dewi Maut (Jilid ke-57)

Siapakah mereka ini yang begitu berani mati mendatangi tempat berbahaya ini? Mereka itu bukan lain adalah anggauta-anggauta Giok-hong-pang dan hal ini jelas dapat dilihat dari hiasan rambut wanita-wanita itu yang berbentuk burung Hong! Mereka adalah anak buah Yo Bi Kiok yang telah tewas. Seperti telah kita ketahui, Giok-hong-pang telah merampas Kwi-ouw (Telaga Setan) dan menjadikan tempat itu sebagai markas mereka dan menawan sebagian dari anak buah Ui-hong-pang yang dipimpin oleh Kiang Ti yang dibunuh oleh Yo Bi Kiok. Kemudian perkumpulan itu ditinggalkan oleh Yo Bi Kiok dan ketika Yo Bi Kiok membantu Sabutai, ketua ini membawa sebagian besar anak buahnya untuk membantu. Setelah Yo Bi Kiok tewas, anak buahnya itu tersebar tidak karuan, ada yang menjadi isteri para perwira Sabutai, ada pula yang tewas atau melarikan diri.

Akan tetapi, ada pula beberapa orang di antara mereka yang berhasil kembali ke Telaga Setan dan menceritakan kepada kawan-kawan mereka tentang kematian ketua mereka!

Continue reading


Dewi Maut (Jilid ke-56)

Pek-hiat Mo-ko tertawa. “Banyak sekali sebab-sebabnya mengapa kami belum membunuh dia, Siankouw. Coba kami ingin menguji kecerdikan Hek I Siankouw dan Bouw Thaisu, apakah kalian berdua mengerti dan dapat menebak apa sebab-sebab itu?”

“Karena dia telah menggagalkan kalian membunuh kaisar maka kalian hendak menyiksanya dulu sebelum membunuhnya!” jawab Hek I Siankouw.

“Ha-ha, itu hanya satu di antara sebab-sebab yang kecil saja,” kini Hek-hiat Mo-li yang berkata.

Bouw Thaisu berpikir sejenak, kemudian berkata dengan suaranya yang tenang, “Kalian hendak memancing datangnya para pembesar Beng-tiauw dengan umpan dara ini di sini.”

“Bagus! Memang benar sekali. Masih ada lain-lain lagi!” kata Pek-hiat Mo-ko.

Continue reading


Dewi Maut (Jilid ke-55)

“Menolak bagaimana maksudmu, Beng-te?”

“Aku minta agar ibu juga mengurus perjodohanku dengan nona Yap In Hong, akan tetapi ibu keberatan.”

“Mengapa?”

“Pertama, karena tadinya kami belum tahu siapa sebenarnya nona itu, hanya tahu sebagai penolongku yang bernama nona Hong. Dan kedua, karena ibu mendengar dari Eng-moi bahwa nona itu lebih tua kira-kira dua tahun dari aku. Akan tetapi, dalam hal cinta, apa artinya perbedaan usia? Ayah sendiri mengatakan bahwa hal itu sebenarnya bukan merupakan soal yang besar, hanya ayah setuju dengan ibu bahwa kami harus mengenal dulu siapa sebenarnya nona itu. Ketika kemarin, setelah mendengar darimu bahwa Yap In Hong adalah adik dari Yap Kun Liong, ibu lebih-lebih merasa tidak setuju lagi.”

“Hemm… mengapa pula?”

Continue reading


Dewi Maut (Jilid ke-54)

“Aku telah gila… aku telah gila…!” Dia berbisik dan menjambak rambutnya sendiri

Houw-koko…!” Keluh hatinya dan dia merasa betapa hidupnya sunyi dan sendiri, betapa dia merindukan kehadiran Bun Houw di sampingnya, di dekatnya, biarpun tidak usah berdekatan dan bersikap baik, asal ada nampak Bun Houw di situ dia tidak akan merasa tersiksa seperti sekarang ini. Dia merasa rindu sekali dan otomatis tangannya meraba pinggang. Dia terkejut, memandang ke arah pinggangnya dan baru teringat dia bahwa Hong-cu-kiam telah ditinggalkannya di Cin-ling-san! Dia mengeluh panjang dan merasa makin sunyi dan sepi, merasa kehilangan!

“Houw-ko…!” Kembali bibirnya mengeluh, jantungnya seperti diremas rasanya dan ingin dia menjerit-jerit memanggil nama pemuda yang dirindukannya itu.

Continue reading


Dewi Maut (Jilid ke-53)

Akan tetapi dengan wajah sungguh-sungguh dan sinar mata jujur Bun Houw menjawab, “Tentu saja aku menyangkalnya, Hong-moi. Aku tidak menerima ikatan jodoh dengan gadis manapun dan tentang gadis yang kaukatakan kurayu dan kutinggalkan dan lupakan…”

“Hemm, sungguh berani mati. Tidak perlu banyak berbantahan, kalau memang kau berani, mari bersamaku pergi ke Cin-ling-san.” In Hong menantang.

Bun Houw makin terheran dan terkejut. “Cin-ling-san?” Tentu saja dia terkejut. Cin-ling-san adalah tempat tinggalnya, mau apa gadis ini mengajak dia ke sana?

“Ya, ke Cin-ling-san. Ke Cin-ling-pai…”

Continue reading


Dewi Maut (Jilid ke-52)

Singgg… Wuuuttt! Murid durhaka!” Kembali pedang Lui-kong-kiam membabat ke arah In Hong yang meloncat mundur. “Bukk… aihhhh!” In Hong yang kurang cepat mengelak itu kena ditendang kaki kiri gurunya dan dia terguling. Sesungguhnya tidak akan semudah itu Yo Bi Kiok dapat menendang muridnya sampai terguling kalau saja In Hong berada dalam keadaan biasa. Namun gadis itu memang sedang tertekan hebat batinnya. Hanya dengan hati berat dan sakit dia terpaksa melemparkan pedangnya kepada kakak kandungnya tadi, dan dia menonton dengan wajah pucat, kedua kaki gemetar dan jantung berdebar penuh ketegangan, merasa seolah-olah dia sendiri yang menyerang gurunya, orang yang sejak kecil memelihara, mendidik, dan menyayangnya. Karena keadaan seperti itulah maka ketika diserang secera hebat oleh gurunya In Hong hanya dapat menghindarkan pedang, tidak menyangkanya akan ditendang oleh gurunya sampai terguling. Dan cepat bagaikan kilat, Yo Bi Kiok sudah menubruk dan menusukkan pedangnya ke arah tubuh muridnya!

Continue reading


Dewi Maut (Jilid ke-51)

Bun Houw memberi hormat dan menjawab, suaranya lantang. “Sri baginda, ketika Lima Bayangan Dewa menyerbu Cin-ling-pai dan mencuri pedang pusaka, mereka menggunakan siasat licik, menanti ketika ketua Cin-ling-pai dan isterinya yang sakti tidak berada di Cin-ling-san. Mereka adalah pengecut-pengecut yang setelah melakukan perbuatannya itu, melarikan diri dan bersembunyi di sini, menggunakan nama dan pengaruh paduka untuk bersembunyi karena mereka takut akan pembalasan Cin-ling-pai. Mereka adalah pengecut-pengecut, akan tetapi Cin-ling-pai tidak pernah melahirkan seorang pengecut. Oleh karena itu, sebagai wakil Cin-ling-pai, tentu saja saya akan menghadapi mereka, apapun kehendak mereka. Jangankan baru mereka berdua, andaikata yang tiga lagi di antara mereka bangkit dari neraka dan ikut pula mengeroyok, saya tidak akan mundur, sri baginda!”

Raja Sabutai tersenyum dan mengangguk-angguk. “Engkau benar-benar seorang gagah dan pantas menjadi murid dan wakil sebuah perkumpulan yang besar, Bun-sicu.” Lalu Raja Sabutai memandang Pat-pi Lo-sian dan berkata, “Nah, kalian sudah mendengar sendiri, majulah.”

Continue reading


Dewi Maut (Jilid ke-50)

“Pat-pi Lo-sian, engkau tahu bahwa aku tidak pernah memihak siapa-siapa, melainkan memihak diriku sendiri. Aku hanya mau bilang bahwa aku menghendaki pedang itu, siapapun yang keluar sebagai pemenang, harus menghadapi aku lebih dulu untuk dapat memperoleh pedang.”

Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok diam-diam merasa girang karena kini dia boleh merasa lega karena tak mungkin nyonya yang amat lihai itu akan membantu Bun Houw. Akan tetapi juga dia harus merelakan pedang Siang-bhok-kiam kalau tidak mau berurusan dengan wanita yang menyeramkan itu, maka dia lalu mendapatkan sebuah akal yang amat baik. Dia lalu menjura ke arah Raja Sabutai dan berkata. “Sri baginda, karena saya tidak ingin ada yang main curang dalam pibu ini, maka saya hendak menyerahkan Siang-bhok-kiam kepada paduka agar paduka yang menyimpannya dan menyerahkannya kepada pemenang setelah pibu selesai.”

Continue reading


Dewi Maut (Jilid ke-49)

Sementara itu, di dalam kamar itu, Cia Keng Hong menguras keterangan dari Ouw Kian, siapa saja yang memperalatnya. Dengan jujur Ouw Kian lalu membeberkan persekutuan yang mendukung Kaisar Cing Ti dan dicatat secara

diam-diam oleh Cia Keng Hong, kemudian setelah kakek itu mengakhiri pembongkaran rahasia persekutuan itu, Cia Keng Hong lalu berkata, “Ouw-pangcu, biarpun engkau telah melakukan suatu kedosaan yang besar sekali, melakukan usaha untuk membunuh kaisar, namun kesalahanmu ini adalah karena engkau diperalat orang dan kaulakukan di luar kesadaranmu. Oleh karena itu, sebagai imbalan semua keteranganmu, aku membebaskanmu. Pergilah!”

Kakek itu memandang Cia Keng Hong dengan muka pucat. “Cia-taihiap, keputusanmu ini jauh lebih berat bagiku daripada kalau engkau membunuhku sekarang juga.”

“Ouw-pangcu, pergilah.”

Continue reading


Dewi Maut (Jilid ke-48)

“Orang muda, benarkah engkau membunuh saudara mereka? Kalau benar, mengapa?”

“Maaf sri baginda. Mereka itu adalah orang-orang jahat yang tadinya berlima, menamakan diri Lima Bayangan Dewa yang dengan cara amat curang telah menyerbu Cin-ling-pai, di waktu ketuanya tidak ada, membunuh anak murid Cin-ling-pai dan mencuri pedang pusaka Siang-bhok-kiam dari Cin-ling-pai. Selain itu juga bersekutu dengan orang-orang jahat, dan kini bahkan menjadi kaki tangan pengkhianat ini!” Dengan berani Bun Houw menuding ke arah Wang Cin. “maka sudah sepatutnyalah kalau saya, sebagai orang yang menjunjung tinggi kegagahan, menentang mereka dan dalam pertandingan saya berhasil merobohkan saudare mereka termuda yang bernama Toat-beng-kauw Bu Sit ketika orang itu hendak melakukan pemerkosaan terhadap seorang gadis yang tidak berdosa.”

“Bohong kau!” Pat-pi Lo-sian membentak marah.

Continue reading