Petualang Asmara (Jilid ke-17)

“Ha-ha-ha, kalau memang kalah kuat, mengapa takut? Kami sanggup menyedia-kan senjata-senjata api dan melatih pa-sukan kalian. Dengan senjata api, kiranya kita akan jauh lebih kuat. Kami memba-wa meriam-meriam di kapal, kalau perlu dapat kami datangkan lagi dari barat.”

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring, “Pemberontak-pemberontak hina!” Dan tampak sesosok bayangan yang gerakannya cepat sekali melayang masuk ke dalam kamar itu.

Kun Liong dan Keng Hong terkejut sekali melihat bahwa yang meloncat masuk itu adalah seorang gadis muda yang cantik. Begitu masuk, gadis itu sudah mencabut pedangnya dan menye-rang Tung-taijin sambil memaki, “Pembe-sar terkutuk! Pengkhianat bangsa! Orang macam engkau harus mati!”

“Trang-trang…!” Bhong-ciangkun yang duduk dekat Tung-taijin sudah mencabut goloknya dan menangkis tusukan pedang ini. Seorang tosu dari Pek-lian-kauw yang duduknya dekat, cepat menubruk maju untuk menangkap gadis itu. Agaknya dia terlalu memandang rendah kepada dara yang muda usia itu, maka dia hendak menangkapnya begitu saja.

“Tosu pemberontak, robohlah!” Gadis itu tiba-tiba membalikkan tubuh, tangan kirinya memukul dengan kecepatan yang luar biasa.

“Dukkk!” Tosu Pek-lian-kauw yang sama sekali tidak menduga akan serangan ini, kena dihantam dadanya dan dia roboh terjengkang, meringis menahan nyeri, akan tetapi tetap saja dia muntahkan darah segar tanda bahwa pukulan itu telah mendatangkan luka di dalam dada-nya.

“Cringgg…! Aihhh…!” Dara itu menjerit kaget ketika sebuah golok besar menghantam pedangnya dan… pedang itu terlepas dari pegangannya. Kiranya Hek–bin Thian-sin sudah turun tangan dan sekali pukul saja pedang di tangan dara itu telah terlepas. Si Muka Hitam ini tertawa bergelak melihat hasil golok besarnya yang lihai.

Maklum bahwa pihak lawan amat lihai, dara itu sudah meloncat secepat burung walet terbang ke arah jendela yang terbuka dari mana tadi dia meloncat masuk, dengan niat untuk melarikan diri setelah pedangnya terlempar.

“Uiii…, hendak lari ke manakah, No-na?” Kakek asing berkepala botak ber-tanya, suaranya nyaring disusul suara “tar-tar-tar!” dan tampaklah sinar putih seperti ular menyambar ke arah jendela. Ujung pecut yang berwarna putih itu telah melibat kedua kaki dara itu yang menierit kaget dan sekali tarik, tubuh dara itu terbanting ke atas lantai di depan kakek asing itu! Si Kakek memberi aba-aba dalam bahasa asing kepada pemuda asing yang terdiri yang berdiri memandang. Pemuda itu menubruk ke depan, sambil tersenyum tangannya berge-rak menyambar.

“Plakkkk!” tengkuk belakang telinga kiri dara itu ditampar dan dara itu ping-san, tak dapat bergerak lagi!

“Ha-ha-ha, beginikah yang kaumaksud-kan orang-orang lihai yang membantu pemerintah, Tong-taijin?” Legaspi Selado berkata sambil tertawa. “Kalau hanya begini saja, biar ada sepuluh orang masih dapat dihadapi oleh anakku Hendrik ini!”

Hendrik, atau lengkapnya Hendrik Selado, tertawa dan menatap tubuh dara yang telentang di atas lantai itu dengan penuh gairah. Dara itu memang cantik dan bentuk tubuhnya padat langsing me-narik hati.

Sementara itu, Keng Hong berbisik, “Tunggu aku kacaukan mereka. Kalau mereka mengejarku, kautolong dara itu, bawa lari lebih dulu ke luar kota. Tung-gu aku di luar kota sebelah barat.”

Kun Liong mengangguk dan sekali berkelebat, supeknya itu sudah lenyap. Kun Liong memandang ke dalam ruangan itu dengan jantung berdebar tegang, ti-dak tahu apa yang akan dilakukan supek-nya, namun dia sudah siap untuk meno-long dara cantik itu.

Tak lama kemudian, tampak sinar berkelebat ke beberapa penjuru di dalam ruangan itu dan disusul suara nyaring. Ruangan itu menjadi remang-remang karena kaca lilin telah pecah, lilinnya padam! Semua ini terjadi amat cepatnya dan mereka yang berada di dalam ruangan menjadi panik ketika tampak bayang-an dua orang melayang ke dalam ruangan itu.

“Tar-tar-tar!”

“Wuuuutttt…!”

Pecut di tangan Legaspi dan golok besar di tangan Hek-bin Thian-sin berge-rak menyambut bayangan dua orang itu. Dua orang itu memekik ngeri dan roboh, tewas seketika! Akan tetapi dapat diba-yangkan betapa marahnya kedua orang sakti ini ketika melihat bahwa yang menjadi korban senjata mereka itu ada-lah dua orang penjaga yang menjadi pe-ngawal Tung-taijin!

Kembali ada dua orang melayang masuk. Sekali ini dua orang sakti itu tidak mau sembrono turun tangan, akan tetapi dua orang itu terbanting ke atas lantai dalam keadaan sudah pingsan.

“Keparat, siapa berani main gila di rumahku?” Hek-bin Thian-sin sudah me-layang ke luar melalui jendela kiri dari mana tadi para penjaga itu melayang masuk, disusul oleh Legaspi dan puteranya yang bernama Hendrik itu. Bhong-ciangkun sudah mengawal Tung-taijin untuk mundur dan masuk ke dalam melalui pintu, sedangkan dua orang tosu Pek–lian-pai menjaga di situ agar dara yang tertawan itu tidak melarikan diri.

Di luar terdengar suara melengking tinggi yang menggetarkan seluruh tempat itu bahkan rumah itu seperti ikut terge-tar! Mendengar ini Kun Liong menduga bahwa inilah suara supeknya yang me-nantang dan memancing keluar orang-orang yang lihai dari dalam ruangan.

Maka dia lalu melayang masuk melalui jendela. Dua orang tosu terkejut. Keada-an remang-remang maka mereka tidak berani lancang turun tangan, khawatir kalau-kalau salah tangan seperti yang terjadi tadi. Akan tetapi betapa kaget dan marahnya ketika bayangan yang me-layang masuk itu langsung menyambar tubuh dara yang menjadi tawanan. Me-reka hendak mengejar, akan tetapi dua kali tangan kiri Kun Liong mendorong disertai sin-kangnya sedangkan tangan kanan dipakai memanggul tubuh dara itu, dan… dua orang tosu itu terpental dan terjengkang. Mereka tidak terluka karena Kun Liong memang tidak mau melukai mereka, akan tetapi mereka terkejut setengah mati karena dorongan hawa mujijat yang dapat merobohkan mercka tadi saja sudah membuktikan bahwa “hwesio” yang menyelamatkan dara itu adalah lawan yang terlalu tangguh untuk mereka. Betapapun juga, merasa bahwa hal itu menjadi kewajiban mereka, me-reka meloncat lalu mengejar sambil ber-teriak. “Tahan penjahat yang melarikan tawanan!”

Mereka semua berkumpul di atas gen-teng, bingung karena mereka kehilangan “penjahat” yang mengacau tadi!

“Eh, ke mana perginya setan itu tadi?” Legaspi bertanya penuh penasaran. Dia mendengar juga lengking yang luar biasa itu dan tahulah dia bahwa yang menge-luarkan suara itu memiliki khi-kang yang amat hebat, yang membuat dia merasa seram juga. Akan tetapi karena dia bu-kan seorang penakut, maka dia telah mengejar ke tempat itu, dibayangi oleh Hek-bin Thian-sin yang memiliki gerakan tidak kalah cepatnya. Akan tetapi me-reka hanya melihat bayangan orang ber-kelebat dan lenyap!

“Celaka, tawanan dilarikan orang…!”

Teriakan dua orang tosu Pek-lian–pai ini makin mengejutkan mereka. “Sia-pa yang melarikan?” bentak Hek-bin Thian-sin penasaran.

“Kami tidak mengenal karena cuaca agak gelap, akan tetapi dia seorang hwe-sio gundul. Dia lihai sekali, merobohkan kami hanya dengan hawa dorongan ta-ngannya.”

Dengan marah sekali Bhong-ciangkun lalu mengumpulkan pengawalnya dan pengawal Tung-taiiin, memaki-maki me-reka kemudian memerintahkan untuk melakukan pengejaran dan pencarian di seluruh kota!

Dengan waiah murung mereka kembali ke ruangan tadi dan menyuruh orang menyingkirkan dua orang pengawal yang tewas dan dua orang lagi yang pingsan.

“Apa yang kukatakan tadi!” Bhong-ciangkun berkata, suaranya gemetar ka-rena dia merasa tidak enak sekali. “Gadis itu memang tidak seberapa, akan tetapi baru muncul dua orang itu saja sudah kacau kita!”

Legaspi Selado juga masih terkejut sekali. “Hemmm… kepandaian orang yang mengeluarkan suara melengking itu memang hebat, kurasa belum tentu ada keduanya di negeri ini…”

“HARAP Saudara Legaspi jangan ber-pendapat demikian,” Hek-bin Thian–sin membantah. “Memang kepandaiannya tadi hebat, akan tetapi di negeri ini ba-nyak sekali terdapat orang sakti yang me-lebihi dia tadi! Kalau mau disebut nama Pendekar Sakti Cia Keng Hong, Ketua Cin-ling-pai, sudah hebat bukan main. Dia memiliki Ilmu Thi-khi-i-beng yang tidak dapat dilawan oleh ilmu yang ma-napun juga. Masih ada lagi yang hebat–hebat, seperti para pengawal Panglima Besar The Hoo, yang bernama Tio Hok Gwan berjuluk Ban-kin-kwi dan yang lain-lain. Itu semua masih belum sebera-pa hebat kalau dibandingkan dengan ke-saktian Panglima Besar The Hoo sendiri, dan pembantunya yang bernama Ma Huan…”

“Hemmm… kalau tadi aku membawa senjata api, agaknya dia tidak akan mudah saja melarikan diri!” kata Hendrik dengan nada suara gemas dan kecewa. Tadi dia sudah membayangkan betapa kalau gadis tawanan itu diserahkan dia, hemmm… tentu akan asyik dan menyenangkan sekali malam ini baginya.

Peristiwa malam itu di rumah Hek-bin Thian-sin membikin kecut hati kedua orang pembesar itu dan mereka segera berpamit pulang. Agak berkurang gairah semangat mereka untuk menjadikan persekutuan pemberontak yang dipelopori oleh Pek-lian-pai dan orang-orang asing itu.

Kun Liong kagum bukan main karena baru saja dia tiba di luar kota sebelah barat, baru saja dia meloncat turun dari atas tembok kota karena dia tidak mau melewati penjagaan di pintu gerbang, sesosok bayangan berkelebat dan tahu-tahu di situ telah berdiri supeknya! Baru sekarang dia mendapat bukti akan kesaktian supeknya yang berhasil mengacaukan rumah Hek-bin Thian-sin Si Datuk Kaum Sesat, padahal di situ terdapat orang lihai seperti kakek asing bemama Legaspi Selado, orang-orang Pek-lian-pai dan lain-lain itu.

“Supek!” katanya kagum.

Melihat dara itu masih pingsan, Keng Hong menjamah lehernya. “Tidak terluka, hanya terkena guncangan oleh tamparan yang lihai tadi. Agaknya itulah cara mereka membikin pingsan lawan. Kun Liong, kita harus berpisah di sini. Ada perkara hebat timbul seperti yang kau telah dengar tadi. Kaularikan dara ini, sebaiknya ke barat memasuki hutan agar jangan sampai dapat dikejar mereka. Ke-mudian kalau dia siuman, tanya siapa dia dan di mana tinggalnya. Kalau perlu antarkan dia pulang sampai selamat dan pesan padanya agar jangan lancang lagi menyerbu gua harimau. Aku sendiri harus pergi ke kota raja, menghadap Panglima Besar The Hoo untuk melaporkan bahwa ada bahaya pemberontakan di Ceng-to agar jangan sampai berlarut-larut. Kemu-dian, kalau ada waktu pergilah ke Cin–ling-san di mana kita dapat bicara lebih lanjut.”

Kun Liong tak dapat membantah biarpun dia masih ingin melakukan perja-lanan bersama supeknya yang sakti itu. “Baiklah, Supek.” Dia tidak mau bilang bahwa dia akan melanjutkan penyelidikan-penyelidikannya sendirian saja, karena takut kalau supeknya tidak setuju dan melarangnya.

Mereka berpisah dari tempat itu. Kun Liong masih memanggul tubuh dara itu lari ke barat sedangkan Keng Hong se-gera menuju ke utara, ke kota raja. Karena maklum bahwa besar kemungkinan pihak Hek-bin Thian-sin akan melaku-kan pengejaran, maka Kun Liong berjalan terus tidak mau berhenti sampai dia me-masuki hutan yang besar. Dia memilih tempat yang baik, lalu merebahkan tubuh dara itu di bawah sebatang pohon besar. Dara itu masih pingsan dan dia lalu membuat api unggun. Karena hawa dingin sekali, biarpun di situ ada api unggun, dia tetap membuka jubahnya dan menye-limutkan jubahnya itu ke atas tubuh Si Dara. Kemudian dia duduk termenung, memandang wajah yang telentang itu.

Wajah yang cantik. Kulit muka itu halus sekali, dan kedua pipinya kemerah-an, apalagi bibirnya yang setengah terbuka itu! Cahaya api unggun bermain–main di atas wajah cantik, menimbulkan penglihatan yang luar biasa indahnya. Setelah puas menjelajahi wajah itu de-ngan pandang matanya, akhirnya pandang mata itu terhenti pada mulut yang se-tengah terbuka itu, terpesona! Teringat dia akan Giok Keng, teringat dia akan mulut Giok Keng ketika diadu dengan mulutnya sendiri untuk ditiup dan jan-tungnya berdebar aneh. Mulut ini tidak kalah manisnya dengan mulut Giok Keng! Bibirnya begitu segar nampaknya, bagai-kan buah angco merah yang masak, men-datangkan gairah kepadanya untuk menggigitnya!

“Plakk!” Kepala gundul itu ditamparnya sendiri. “Gila kau!” Dia memaki ketika mengenal pikirannya sendiri tadi. Beginikah yang dikatakan orang timbulnya nafsu seorang yang mata keranjang? Mata keranjangkah dia? Salahkah dia kalau dia terpesona dan tertarik, kalau dia suka sekali melihat wajah seorang gadis ayu, terutama melihat mulutnya? Dia bukan tertarik karena dibuat-buat atau disengaja! Dia memang benar-benar tertarik, seperti orang tertarik melihat setangkai bunga yang indah! Dia ingin menciumnya, seperti orang ingin mencium setangkai mawar yang harum. Salahkah itu?

Bibir setengah terbuka itu seolah-olah memiliki daya tarik yang luar biasa sehingga tanpa terasa lagi olehnya sendiri, kepala Kun Liong menunduk mendekati muka gadis yang pingsan itu. Ingin dia menciumnya. Dia tidak tahu dan tidak pernah ada yang memberi tahu bagaimana harus mencium seorang gadis. Akan tetapi pengalamannya ketika dia mengadu mulut dengan Giok Keng ketika dia menolong gadis itu, mendatangkan kenangan yang mesra dan nikmat luar biasa. Ketika bibirnya hampir menyentuh bibir dara itu, tiba-tiba dia tersadar dan menarik kembali kepalanya.

“Plakkk!” Kembali kepala gundulnya menjadi korban tamparannya, agak keras sampai muncul bintang-bintang menari di depan matanya. Tidak boleh! Demikian teriak pikirannya. Ini namanya mencuri! Aku memang ingin menciumnya, akan tetapi hal itu harus terjadi secara terang-terangan. Jika yang punya bibir memperbolehkan dicium, baru dia mau mencium. Memaksa, dia tidak sudi, karena itu merupakan perkosaan yang kotor. Mencuri juga kotor! Dahulu dengan Giok Keng lain lagi. Bukan mencium namanya karena dia menolong dan pada saat itu pun dia tidak merasa apa-apa. Baru setelah menjadi kenangan menimbulkan kemesraan nikmat. Akan tetapi, kalau terang-terangan mungkinkah Giok Keng mau? Mungkinkah dara ini mau? Mengadu mulut, mengadu bibir merupakan hal yang aneh, tentu dara-dara itu juga merasa aneh. Dia hanya tahu bahwa mencium adalah penyentuhan pipi yang di-cium dengan hidung! Demikianlah kalau ibunya dahulu menciumnya. Pikiran ini mengingatkan dia akan ibunya dan ayah-nya, dan dia menjadi berduka, lalu me-rebahkan diri di dekat api unggun dan tertidur!

Malam telah terganti pagi. Kun Liong menggeliat dan menelungkup. Tiba-tiba dia terbangun, akan tetapi tidak berani bergerak karena jalan darahnya di teng-kuk telah diancam oleh orang. Jalan darah di tengkuk adalah jalan darah ke-matian, dan kini ada dua buah jari ta-ngan yang sudah menempel di tengkuknya dan terdengar bentakan, “Jangan bergerak kalau masih ingin hidup!”

Mengendur kembali urat syaraf Kun Liong mendengar bentakan yang halus merdu ini. Kiranya dara itu yang menodongnya! Tadinya dia hendak bergerak menangkap tangan lawan yang berbahaya itu sambil menggunakan sin-kangnya menutup jalan darah di tengkuk. Akan teta-pi begitu mendengar suara dara itu, dia membatalkan niatnya.

“Eh, eh, kau mau apa?” tanyanya tanpa menoleh, mukanya masih tersem-bunyi di antara kedua lengannya.

“Hayo katakan, engkau hwesio dari mana dan bagaimana aku bisa berada di sini? Engkau tentu kawan pemberontak- pemberontak itu, ya?”

“Hi-hi-hik!” Kun Liong tertawa geli.

“Eh, pendeta ceriwis! Mengapa engkau malah tertawa? Hayo jawab, atau engkau lebih ingin mampus?”

“Mampus ya mampus, mau bunuh ya boleh saja, tapi dengar dulu kata-kata-ku, Nona galak! Aku tertawa karena engkau telah tiga kali keliru!”

Gadis itu marah sekali, jari tangannya yang menempel di tengkuk itu gemetar sedikit sehingga diam-diam Kun Liong sudah siap dengan sin-kangnya. Kalau perlu, untuk menyelamatkan nyawanya, dia akan menggunakan Thi-khi-i-beng! Akan tetapi agaknya dara itu curiga mendengar ucapan orang yang dianggap-nya hwesio itu maka dia mendesak, “Ja-ngan kurang ajar! Kekeliruan apa yang kulakukan?”

“Pertama, aku bukan anggauta atau kawan para pemberontak itu, ke dua, akulah yang melarikanmu ketika engkau pingsan di dalam ruangan rumah Hek-bin Thian-sin dan bahwa ancamanmu di tengkuk ini pun sia-sia belaka, kemudian yang terakhir, kekeliruan mutlak yang tak boleh diampunkan lagi, aku bukan seorang hwesio!”

“Tapi kau gundul… aihhh… engkaukah ini?” Dara itu membalikkan tubuh Kun Liong sehingga pemuda itu telentang dan… kini dia pun teringat ketika melihat sepasang mata itu.

“Engkau…? Aku… aku seperti pernah mengenalmu, tapi siapa… ya?” Dia merasa yakin sudah mengenal dara ini, akan tetapi benar-benar tidak ingat lagi siapa dia.

Dara itu tertawa. Bukan main manisnya. Bibir merah itu merekah dan tampak giginya yang kecil dan putih teratur, dan ujung lidah yang merah meruncing tampak sekilas. “Hik-hik, kau… kau… pemuda gundul itu. Mana aku bisa melupakan kepalamu? Aku Lim Hwi Sian.”

Kun Liong meloncat berdiri dan bertolak pinggang, pura-pura marah. “Jadi engkau ini, ya? Kesalahanmu makin bertumpuk-tumpuk! Dahulu engkau menghinaku karena kepalaku, sekarang kau ulangi lagi! Benar-benar tidak mau bertobat kau ini!”

Dara itu menahan ketawanya dan berkata dengan suara sungguh-sungguh. “Maafkan aku. Aku tadi salah sangka… ah, sungguh aku tidak mengenal budi. Engkau malah yang kembali menolongku dari bahaya maut. Sudah dua kali kau menyelamatkan aku, dan dua kali aku menghinamu tanpa kusengaja. Maafkan aku, Tai-hiap (Pendekar Besar)…!”

Kun Liong sengaja hendak menggoda, akan tetapi juga karena dia gemas mendengar sebutan itu, dia membanting kakinya dan melotot sehingga matanya yang memang lebar itu membulat. “Kau ini mengangkat atau memembanting! Minta maaf malah menambah penghinaan!”

“Eihhh? Apa salahku?”

“Kau menyebut aku tai-hiap segala macam. Kau mengejek, ya?”

Dara itu menggeleng-geleng kepalanya, alisnya berkerut. Manis sekali! “Tidak! Tidak! Aku tahu bahwa engkau adalah seorang pendekar yang berilmu tinggi biarpun kau pura-pura… eh, bodoh dan kepalamu kaucukur gundul. Dahulu pun aku sudah menduga. Kalau kau tidak berilmu tinggi, mana bisa menolongku kali ini dari rumah seorang datuk sesat seperti Hek-bin Thian-sin?”

Kun Liong merasa terdesak. “Ya sudahlah, tapi jangan menyebut aku tai-hiap. Sekali lagi, aku benar-benar akan marah!”

Dara itu tersenyum dikulum, tahulah dia bahwa pemuda gundul ini hanya pura-pura marah tadi. Maka timbul juga kenakalannya. “Habis, aku harus menyebut situ apa?”

“Kok situ? Situ mana?”

Hwi Sian menggigit bibir bawahnya. Manis sekali! “Jangan main-main lagi! Tentu saja yang kumaksudkan situ adalah engkau.”

“Hemm, omongan model mana ini? Namaku Yap Kun Liong. Aku menyebutmu Hwi Sian begitu saja, kaupun menyebut namaku, tak usah pakai pendekar-pendekar, ya?”

“Hi-hik. Kau lucu!” Hwi Sian merasa geli dan tertawa, akan tetapi mengguna-kan tubuh telunjuknya untuk menutupi bibir. Manis sekali!

“Hwi Sian, ingatkah engkau lima tahun yang lalu kita mula-mula bertemu? Kau masih seorang perempuan yang manis, sekarang…”

“Sekarang apa?”

“Sekarang kau telah menjadi seorang gadis dewasa yang cantik jelita.”

Dara itu mengerutkan alisnya. “Yap Kun Liong, kalau aku tidak yakin bahwa engkau memang seorang pemuda yang lucu dan aneh tapi baik budi, tentu kau kuanggap ceriwis dengan ucapanmu itu.”

“Terserah penilaianmu. Mungkin aku memang ceriwis. Akan tetapi aku tidak akan pernah mclupakan betapa engkau telah mencium kepala gundulku yang kaubenci ini sampai tiga kali!”

Seketika wajah Hwi Sian menjadi merah sekali. “Kun Liong, mengapa engkau berkata begitu? Aku tidak benci kepala-mu dan soal itu… ah, itu soal lalu, ka-rena aku merasa menyesal telah menya-kitkan hatimu padahal engkau dahulu itu telah menyelamatkan aku.”

“Hemm, kalau sekarang? Aku pun telah mati-matian menolongmu, akan tetapi apa upahnya? Engkau menodongku, hampir membunuhku, dan masih mengnina lagi!”

“Kun Liong, maafkan aku… sungguh mati aku tidak tahu… eh, mengapa kau memandangku seperti itu?”

“Tidak cukup dengan maaf! Kalau dulu kau menyatakan penyesalan dengan mencium kepalaku, sekarang aku akan menghukummu dengan ciuman pula. Akan tetapi aku yang akan menciummu, bukan kau yang menciumku.”

Sepasang mata yang bening itu terbelalak, kedua pipinya bertambah merah. “Apa… apa maksudmu…? Kau…? Kau… kau mau kurang ajar kepadaku?”

“Terserah kau mau menganggap bagai-mana. Pokoknya, kau tadi minta maaf, kan? Dan aku hanya mau memberi maaf kalau kau suka kucium. Dengar baik–baik, aku sudah sejak semalam ingin menciummu, akan tetapi hal itu tidak kulakukan biarpun kau sedang pingsan ka-rena aku tidak sudi melakukan hal kepada orang yang tidak tahu atau tidak suka. Nah, aku hanya akan memaafkanmu de-ngan menciummu, akan tetapi kalau kau suka, bukan paksaan!”

Muka yang cantik itu sebentar pucat sebentar merah, agaknya bingung bukan main. “Kalau… kalau aku tidak mau?”

“Kalau tidak mau ya sudah, aku tidak akan memaksamu. Akan tetapi terus terang saja, aku pun tidak mau memaaf-kanmu dan akan selalu mengaggap kau seorang gadis tak tahu membalas budi!”

“Kun Liong…” Suara itu seperti ber-mohon agar pemuda itu tidak mengang-gapnya demikian. “Kau tahu betapa besar rasa syukur dan terima kasihku kepada-mu. Akan tetapi permintaanmu… sungguh aneh… bagaimana aku dapat melakukan-nya?”

“Bukan kau yang melakukan, melain-kan aku.”

“Maksudku… eh, kau membikin bi-ngung aku. Aku… aku…”

“Dengar, Nona yang baik! Kalau kau merasa jijik kepadaku, kalau kau merasa benci kepadaku karena kepalaku gundul, kalau kau merasa jijik kucium, katakan saja kau tidak mau. Habis perkara.”

“Kau mendesak, seperti memaksa.”

“Sama sekali tidak. Kau harus jujur. Kalau kau tidak suka, katakan tidak mau dan kita berpisah takkan bertemu lagi. Habis perkara, kan?”

“Kun Liong, aku… aku tidak benci kepadamu, akan tetapi… soal itu… eihhh, aku malu, ah!”

“Malu kepada siapa? Di sini tidak ada orang!”

“Kalau di sini tidak ada orang, maka aku adalah siluman hutan dan kau se-tan…”

“… gundul!” Kun Liong menyambung.

Keduanya tertawa gembira dan sejenak lenyaplah ketegangan di antara mereka karena permintaan Kun Liong yang luar biasa itu.

“Nah, bagaimana?” Kun Liong teringat lagi dan bertanya.

“Bagaimana, ya? Dahulu aku mencium kepalamu tiga kali…”

“Sekarang pun aku akan menciummu tiga kali!” Kun Liong memotong cepat.

“Tiga kali?” Sepasang mata itu terbe-lalak, tangannya meraba-raba rambutnya. “Bagaimana kalau rambutku bau tidak enak? Sudah beberapa hari aku tidak ke-ramas.”

“Siapa mau mencium rambutmu?”

Sepasang mata itu terbelalak, mulut-nya ternganga. Kun Liong terpaksa me-mejamkan matanya. Manis sekali wajah itu!

“Tidak mencium… kepalaku? Habis… ihhh, Kun Liong, jangan main gila kau, ya?”

Kun Liong membuka matanya, tersenyum. “Siapa main gila. Aku main sung-guhan! Tidak perlu banyak berbantahan, Hwi Sian. Hanya tinggal menjawab, mau atau tidak kau kucium?”

“Mau sih… mau, akan tetapi…”

“Kalau sudah mau masih ada tetapi-nya, namanya bukan mau…”

“Kau sih aneh! Dahulu aku mencium kepalamu, sekarang engkau hendak men-cium… apa?”

“Hwi Sian, memang agak sukar mem-beri pengakuan. Pendeknya aku baru suka memaafkan engkau kalau engkau suka kucium tiga kali, kucium di mana saja, terserah aku! Kalau engkau mau, aku akan menciumnya dan tak perlu ku-katakan mana yang akan kucium. Pokok-nya engkau mau dan kalau mau berarti tidak pilih-pilih di bagian mana… ahh, aku jadi bingung sendiri. Mau atau ti-dak?”

Sepasang mata itu masih terbelalak menatap wajah yang tampan dan lucu karena gundul itu. Sepasang pipi dara itu menjadi merah sekali, dan sejenak sepa-sang mata itu menyipit, hampir terpejam dan bibir yang merah membasah itu ter-senyum aneh! Lalu Hwi Sian mengang-gukkan kepala dan menunduk, matanya mengerling tajam, sikapnya menanti dengan takut-takut dan malu-malu, agaknya ingin sekali dara itu melihat bagian tu-buh yang mana yang akan dicium pemuda aneh ini!

Kun Liong menjadi girang sekali.

“Kau benar-benar mau?”

Hwi Sian mengangguk.

“Dengan suka rela? Dengan senang hati? Tidak terpaksa?”

Kembali Hwi Sian mengangguk dan jantung dara ini berdebar tidak karuan, mukanya terasa panas. Dia tidak tahu betapa seluruh mukanya menjadi merah jambon, luar biasa manisnya!

Kun Liong mendekatkan mukanya, kedua tangannya memegang pundak dara itu, mendekatkan mulut. Sepasang mata gadis itu terbelalak seperti kelinci ke-takutan akan diterkam harimau. Kun Liong menjadi malu sendiri!

“Hwi Sian, kau benar-benar mau?”

Hwi Sian tidak berani menjawav karena jantungnya yang berdebar itu tentu akan membuat suaranya tidak karuan.

Suara Kun Liong ketika bertanya terakhir ini pun sudah tidak karuan, gemetar dan nadanya sumbang! Maka dia hanya meng-angguk, kini dia benar-benar ingin di-cium, ingin melihat bagaimana kalau dicium dan apanya yang akan dicium!

“Kalau mau…” Suara Kun Liong ma-kin gemetar seperti orang sakit demam. “Kalau mau, kaupejamkan matamu…”

Mata itu malah terbelalak, ageknya heran, kemudian sepasang mata yang in-dah itu tertutup rapat. Hilang rasa malu di hati Kun Liong, bahkan dia menjadi lega dan kembali dia mendekatkan mu-lutnya sampai bibirnya menyentuh bibir yang setengah terbuka itu. Sentuhan ini mendatangkan getaran hebat sehingga tanpa dapat ditahannya lagi, mulutnya mencium dan mengecup. Hwi Sian kaget setengah mati, hendak berteriak akan tetapi mulutnya yang baru terbuka se-dikit sudah tertutup dan diterkam bibir Kun Liong.

Kun Liong melepaskan bibirnya dan napasnya terengah, kedua lengannya kini tanpa disadarinya telah memeluk pinggang Hwi Sian. “Satu kali…” bisiknya dan kembali dia merapatkan mulut.

Hwi Sian tidak memejamkan mata lagi, sudah terbelalak lebar saking heran dan kagetnya. Ketika, melihat muka Kun Liong mendekat lagi, ia menjadi ngeri dan cepat memejamkan matanya. Kembali teriakannya gagal karena mulut yang baru terbuka sedikit sudah disumbat oleh sepasang bibir Kun Liong. Sekali ini, setelah melepaskan bibirnya, Kun Liong tak mau menghitung lagi dan ketika dia mencium untuk ketiga kalinya, Kun Liong memejamkan matanya, tidak merasa lagi betapa kedua lengan Hwi Sian sudah merangkul lehernya!

Ciuman yang ketiga kalinya ini amat lama, seolah-olah keduanya tidak mau melepaskannya lagi. Ketika Kun Liong melepaskannya karena tidak kuat mena-han napas, mereka terengah-engah dan baru Kun Liong tahu betapa kedua le-ngan yang halus itu seperti dua ekor ular membelit lehernya. Dia terheran, dan lebih-lebih lagi herannya ketika Hwi Sian terisak menangis dengan muka merapat di dadanya.

“Eh… eh… kok menangis? Ada apa ini…?”

Pertanyaan itu membuat Hwi Slan makin sesenggukan.

“Wah, jangan begitu, Hwi Sian! Kau membikin aku merasa bersalah besar saja. Bukankah kau tadi sudah menyatakan mau dan tidak terpaksa? Kenapa sekarang menangis dan… ehhh…” Kun Liong menghentikan kata-katanya dan terbelalak memandang wajah yang kini diangkat itu. Gadis itu sesenggukan akan tetapi matanya bersinar-sinar, wajahnya berseri dan mulutnya tersenyum! Mulut yang setengah terbuka, begitu segar seolah-olah setangkai bunga yang baru saja mendapat siraman air!

“Eh… apa pula ini? Kau ini menangis atau tertawa? Kau marah atau tidak. Senang atau susah?”

“Kun Liong… hemmm… Kun Liong, aku, aku juga cinta kepadamu!”

Kun Liong terkejut seperti mendengar guntur di tengah hari. “Apa ini? Mengapa kau mengatakan begitu?”

“Artinya, aku juga cinta kepadamu seperti kau cinta kepadaku…”

Kun Liong melepaskan pelukannya dan melangkah mundur setelah melompat ber-diri. Dia memandang dengan alis berke-rut dan sikap sungguh-sungguh, “Hwi Sian, siapa bilang… eh, bagaimana eng-kau tahu bahwa aku cinta kepadamu?”

Kini gadis ini pun meloncat berdiri, matanya memandang tajam dan alisnya berkerut. “Tentu saja! Setelah apa yang kaulakukan tadi… tentu engkau cinta padaku… ahhh, tidakkah begitu?”

Kun Liong menunduk, berpikir, kemudian menggeleng kepala. “Aku tidak tahu apakah aku cinta padamu, Hwi Sian.”

“Kun Liong! Apa artinya ucapanmu itu? Setelah kau… kau menciumku seper-ti itu…”

“Hemmm… tidak kusangkal, aku senang sekali menciummu, Hwi Sian, dan kalau engkau mau, agaknya aku tidak akan bosan-bosan menciummu. Akan te-tapi, hal itu bukan sudah berarti bahwa aku cinta kepadamu atau kau cinta kepa-daku!”

Pucat wajah gadis itu dan matanya memandang dengan sinar penuh kemarah-an.

“Yap Kun Liong! Jadi kau… kau ha-nya mau mempermainkan aku?”

Kun Liong menarik napas panjang, memandang dara itu dan menggelengkan kepalanya yang gundul. “Kau tahu benar bahwa aku tidak mempermainkan siapa- pun juga. Sebelum aku menciummu, bu-kankah aku sudah mengatakan bahwa aku mau melakukannya kalau memang kau mau dan rela? Apa hubungannya itu dengan cinta? Kalau kita berdua saling pandang, saling menyentuh tangan, saling bicara, apakah itu sudah menjadi bukti bahwa kita saling mencinta?”

“Tapi… tapi… itu beda lagi! Semua itu biasa saja, akan tetapi ciuman… dan seperti yang kaulakukan tadi…”

“Apa bedanya kalau kita melakukan-nya dengan dasar sama suka dan rela?”

“Kun Liong, jangan kau main gila! Ciuman, apalagi seperti yang kaulakukan tadi, hanya patut dilakukan oleh sepasang suami isteri!”

“Ehh! Siapa bilang begitu? Kita tadi pun telah melakukannya walaupun kita bukan suami isteri, dan tidak ada yang memaksa kau atau aku, bukan? Hwi Sian, apa sih bedanya bersentuhan tangan de-ngan bersentuhan bibir dan mulut? Apa benar bedanya? Asal saja hal itu dilaku-kan dengan kerelaan kedua pihak…”

“Tapi aku cinta kepadamu! Kalau kau tidak cinta kepadaku, aku tidak akan sudi melakukannya, dengan siapapun juga. Lebih baik aku mati!”

Kun Liong terkejut, memandang dan menggaruk kepalanya yang gundul. “Kau aneh sekali…”

“Kau yang aneh, kau yang gila! Kau telah menciumku seperti itu, kalau kau tidak mencintaku, berarti kau menghina-ku!”

“Mungkin aku gila, akan tetapi aku tidak menghinamu, dan aku juga tidak mencintamu biarpun aku suka sekali kepadamu dan suka sekali menciummu. Ehhh…”

Kun Liong cepat mengelak karena Hwi Sian sudah menyerangnya kalang–kabut! Dia berusaha menyabarkan, akan tetapi gadis itu sambil menangis terus menerjangnya dengan pukulan-pukulan maut, membuat Kun Liong repot meng-elak dan menangkis.

“Nanti dulu… ehhh… heiiittt… luput! Wah, nanti dulu, Hwi Sian. Apakah eng-kau sudah gila?”

“Aku memang gila karena sakit hati, dan aku akan membunuhmu, Yap Kun Liong!” Hwi Sian terus menyerang dengan air mata bercucuran.

“Waaahhh… celaka! Nah, kaulihat. Cinta hanya membikin orang menjadi gila! Mengapa kau mau mengorbankan dirimu kepada cinta? Heiiittt…!” Kun Liong terpaksa melempar diri ke bela-kang dan bergulingan, kemudian melom-pat bangun dan melihat Hwi Sian benar–benar menyerangnya mati-matian, dia lalu melompat jauh dan melarikan diri!

“Yap Kun Liong laki-laki keparat! Kau hendak lari ke mana?” Hwi Sian mengejar.

“Waah, aku hanya suka berciuman denganmu, Hwi Sian, akan tetapi tidak suka kalau harus berkelahi denganmu. Sampai jumpa pula dalam suasana yang lebih aman!” Dia mengerahkan gin-kang-nya dan dengan beberapa kali lompatan saja dia sudah lenyap meninggalkan Hwi Sian yang masih menangis sambil menge-pal tinjunya. Setelah berlari ke sana-sini mengejar tanpa hasil, akhirnya gadis itu menjatuhkan diri ke atas tanah dan menutupi mukanya dengan kedua tangan, menangis sesenggukan.

Gadis itu tidak tahu bahwa ada orang mendekatinya dari belakang. Tahu-tahu sebuah tangan dengan halus menyentuh pundaknya dan suara yang sama halusnya berkata, “Hwi Sian, jangan menangis. Kaumaafkan aku kalau memang kau ang-gap aku bersalah.”

Mendengar suara ini, tanpa menengok tahulah Hwi Sian bahwa pemuda gundul itu sudah datang lagi! Dia menjadi makin berduka oleh perasaan girang yang aneh sekali menyelinap di hatinya melihat orang yang akan dibunuhnya tadi datang kembali, dan tangisnya makin menjadi-jadi!

Kun Liong duduk di atas rumput di dekat gadis itu. Berulang-ulang dia me-narik napas panjang, lalu berkata, “Hwi Sian, aku bersumpah bahwa aku tidak berniat menggodamu, tidak berniat meng-hinamu. Semua yang kulakukan kuanggap begitu wajar, sama sekali tidak kusangka bahwa kau akan merasa terhina. Akan tetapi, kalau aku harus mengaku cinta begitu saja, berarti aku membohong, dan kurasa engkau tentu tidak ingin kubo-hongi, bukan?”

Hwi Sian menghapus air matanya. Dia memandang pemuda itu dengan mata merah dan pipi basah. Kun Liong menge-luarkan saputangannya dan menggunakan saputangan itu menghapus pipi yang ba-sah. Tanpa disengajanya sama sekali, maksud baik Kun Liong ini seperti me-remas hati Hwi Sian sehingga kembali gadis itu menangis dan merebahkan kepa-lanya di atas pundak Kun Liong!

“Sudahlah Hwi Sian,” Kun Liong mengelus kepala gadis itu, “Mengapa engkau bersedih sampai begini macam?”

“Kun Liong… kau yang begini baik kepadaku… kau yang suka menciumku seperti tadi… mengapa kau tidak bisa mencintaku? Mengapa?”

“Hwi Sian, duduklah baik-baik, mari kita bicara tentang itu.”

Gadis itu kembali mengusap air matanya dan duduk di atas tanah berhadapan dengan pemuda itu. Kini kemarahannya agak mereda karena dia tahu bahwa sebetulnya pemuda ini tidak berniat bu-ruk dan sama sekali tidak menghinanya sungguhpun apa yang dilakukannya amat aneh. Kalau memang pemuda ini berniat menghinanya, tentu tidak akan datang kembali!

“Nah, sekarang kita bicara sungguh-sungguh, Hwi Sian. Aku tidak suka ber-bohong apalagi kepadamu, biarpun aku suka bergurau denganmu. Yang mengganggu hatimu adalah soal cinta. Coba katakan, cinta itu apakah?”

Hwi Sian memandang bingung. “Aku sendiri juga tidak pernah mendengar tentang itu, dan tidak pernah memikirkannya. Hanya ketika aku… tadi… aku merasa bahwa kau mencintaku dan aku…”

“Hemm, jadi menurut perasaanmu, cinta adalah kecondongan hati seseorang yang merasa suka kepada orang lain. Begitukah?”

“Ya, ya, begitulah. Memang sejak dahulu aku suka kepadamu, karena kau… lucu dan… eh, baik hati. Aku suka kepa-damu dan tadi aku merasa sesuatu yang aneh, aku akan merasa bahagia kalau kau selalu dapat berdekatan dengan aku. Agaknya, itulah cinta!”

“Hemmm, jadi menurut pendapatmu, cinta adalah perasaan suka kepada se-seorang dan mendapat balasan dari orang itu? Buktinya, ketika aku menyatakan tidak cinta kepadamu, kau marah-marah dan cintamu berubah benci, malah kau hendak membunuhku…”

“Maafkan aku, Kun Liong. Aku tahu bahwa aku takkan menang bertanding denganmu dan tadi aku menyerang dan memakimu hanya untuk melampiaskan kekecewaan dan kemarahanku saja.”

“Jadi kalau begitu cinta bukanlah benci, cinta tidak akan mendatangkan benci! Cinta bukan pula suka akan sesuatu, karena biasanya suka akan sesuatu itu akan berakhir dengan kebosanan. Cin-ta bukan benci, bukan marah, bukan suka atau gairah nafsu. Cinta tentu pantasnya lebih luhur lagi, lebih bersih, tiada awal tiada akhir.”

“Ihhh! Kalau begitu, apa cinta itu?”

“Entahlah, aku sendiri pun tidak tahu. Agaknya hatiku dan pikiranku masib ter-lalu kotor sehingga belum mengenal cinta itu, Hwi Sian.”

“Tapi, engkau suka kepadaku, bukan?”

“Aku suka kepadamu, aku suka menciummu, seperti aku suka melihat se-tangkai bunga yang cantik jelita, seperti aku suka mencium bunga yang harum. Akan tetapi itu bukan cinta, dan kalau kita menganggapnya cinta, kita akan menyesal dan kecewa. Nah, mau-kah kau melupakan semua itu dan tinggal bersahabat denganku? Percayalah, aku masih suka memandangmu, suka bergurau denganmu, bahkan aku masih suka sekali untuk… menciummu, tentu saja kalau kau juga rela dan mau!”

Hwi Sian menunduk dan terjadi perang di dalam hatinya. Semenjak kecil dia telah mendengar banyak tentang kesopanan, tentang kesusilaan, tentang hukum-hukum kesopanan yang sama se-kali tidak boleh dilanggar, terutama oleh wanita! Banyak dia mendengar nasihat tentang bahayanya menurutkan nafsu, terutama nafsu berahi. Adakah tadi nafsu berahi yang mendorong sehingga dia me-rasakan nikmat dalam pelukan dan mene-rima ciuman Kun Liong?

Tiba-tiba Kun Liong memegang ta-ngannya. “Eh, ada banyak orang datang berkuda!”

Mereka bangkit berdiri dan menoleh ke belakang. Benar saja, tak lama kemudian muncullah serombongan orang ber-kuda. Kun Liong terkejut ketika melihat bahwa rombongan itu adalah sepasukan tentara yang berjumlah tidak kurang dari lima puluh orang, dipimpin oleh panglima yang dilihatnya semalam di rumah Hek–bin Thian-sin dan di samping panglima itu terdapat pula seorang pemuda asing yang juga dilihatnya di rumah Hek-bin Thian-sin! Pemuda asing yang tampan dan gagah, yang bernama Hendrik Selado, putera dari Legaspi Selado si kakek asing botak yang amat lihai.

“Aihhh… pemberontak-pemberontak itu…!” Hwi Sian berseru marah dan juga kaget.

“Hwi Sian, mari kita lari!” Kun Liong berbisik.

“Tidak sudi! Aku harus membasmi mereka! Aku dan kedua orang suhengku memang bertugas menyelidiki mereka, dan karena kami berpencar, maka aku yang kebetulan dapat membongkar raha-sia mereka. Aku harus lawan mereka!” Tanpa menanti jawaban Kun Liong, dara yang gagah perkasa itu sudah lari me-nyambut rombongan itu, dan langsung dia meloncat dan menyerang panglima yang menunggang kuda terdepan bersama Hen-drik pemuda asing.

“Pemberontak hina!” Hwi Sian mem-bentak marah.

Diserang secara tiba-tiba dengan dah-syat, panglima yang sudah berpengalaman itu maklum bahwa dara itu tidak boleh dipandang ringan. Maka dia lalu menjatuhkan diri dari atas kuda, berguling-an lalu meloncat bangun.

“Ha-ha-ha, bagus sekali! Memang kami sedang mencarimu, Nona!” katanya sambil mencabut sebatang pedang.

“Tangkap dia!” Panglima itu memben-tak dan dua orang perajurit lalu meng-gunakan pedang mereka menubruk. Hwi Sian menghadapi dua orang ini dengan tenang. Biarpun dia bertangan kosong dia sama sekali tidak merasa gentar. Ketika dua orang itu menubruk, secepat kilat dia mendahului, menggeser ke kanan, kakinya menyambar dan tangannya me-raih. Seorang perajurit berteriak, tubuh-nya terjengkang dan pedangnya terampas dan di lain saat, disusul teriakan keras oleh temannya yang juga tersungkur ja-tuh dengan pundak terluka oleh pedang rampasan di tangan Hwi Sian!

Segera dara itu dikeroyok oleh para tentara! Namun dara itu mengamuk de-ngan pedang rampasannya dan dalam be-berapa gebrakan saja dia telah berhasil merobohkan empat orang lawan lagi.

“Mundurlah kalian, biarlah aku menangkap kuda betina liar ini!” Hendrik Selado berteriak dengan suaranya yang nyaring dan kaku. Tubuhnya sudah me-langkah maju dengan langkah seperti seekor harimau kelaparan.

“Tak tahu malu! Mengeroyok seorang gadis!” Tiba-tiba tampak bayangan ber-kelebat dan Kun Liong sudah berdiri di depan pemuda asing itu. Kun Liong sejak tadi sudah melihat dan siap untuk mem-bantu Hwi Sian. Melihat betapa Hwi Sian dapat merampas pedang dan dapat melayani pengeroyokan para perajurit, dia berdiam diri saja. Akan tetapi meli-hat gerakan pemuda asing yang maju, tahulah dia bahwa pemuda ini adalah sebangsa Yuan de Gama yang cukup tangguh, maka dia sudah mendahului pe-muda itu, menghadangnya dan mencela-nya.

Kini mereka saling berhadapan. Seorang pemuda tampan, gundul dan seorang pemuda tampan bermata biru berkulit putih. Hendrik memandang tajam karena dia tidak mengenal pemuda gundul ini, akan tetapi dia sudah dapat menduga bahwa tentu “pendeta” muda inilah yang semalam telah menolong gadis tawanan itu. Maka dia lalu membungkuk dan sam-bil tersenyum berkata,

“Bapak Pendeta, datang dari kuil ma-nakah, dan apakah hubungan Bapak Pen-deta dengan gadis pemberontak itu?”

Kun Liong tersenyum masam. Bangsa-nya sendiri saja, juga seorang gadis se-perti Hwi Sian bisa salah menduga bahwa dia seorang hwesio, apalagi seorang asing seperti yang dihadapinya ini! Dia tidak mau berbantah tentang kepala gundulnya yang menimbulkan salah kira, maka dia menjawab,

“Aku tidak datang dari kuil manapun juga, akan tetapi yang jelas, aku adalah seorang yang mengetahui betul siapa pemberontak siapa bukan! Nona ini bukan pemberontak, maka tidak perlu kau orang asing ini menjadi maling berteriak maling!”

Tentu saja Hendrik menjadi kaget sekali mendengar ini, karena ucapan itu berarti bahwa pemuda gundul ini tahu akan rahasia pemberontakan di Ceng-to dan berarti pula bahwa tentu pendeta muda inilah yang semalam telah meno-long gadis tawanan.

“Pendeta muda sombong, engkaulah pemberontak!” Hendrik sudah meneriang maju dengan gerakan yang dahsyat. Pe-muda asing itu ternyata menguasai ilmu silat yang aneh dan memiliki tenaga yang dahsyat, kedua tangannya bergerak bergantian dan bertubi-tubi mengirim serangan-serangan berbahaya diseling tendangan kedua kakinya bergantian pula.

“Hemm… kau ganas…!” Kun Liong mempergunakan kelincahan tubuhnya untuk mengelak dan menangkis dan untuk mengimbangi kecepatan gerak lawannya, dia segera mainkan ilmu silat Pat-hong–sin-kun yang ia pelajari dari Bun Hwat Tosu. Ilmu Silat Pat-hong-sin-kun (Ilmu Silat Sakti Delapan Penjuru Angin) ini memang mengandalkan kecepatan dan bayangan Kun Liong seolah-olah berubah menjadi delapan dan bayangan ini menge-royok Hendrik dari delapan penjuru!

“Kau pendeta sombong hebat juga!” Hendrik berkata kemudian memaki dalam bahasa asing dan tangannya telah mencabut keluar sebatang pedang tipis yang kecil dan lemas sekali. Pedang itu amat runcing dan tajam ringan dan begitu digerakkan, tampak sinar bergulung dan suaranya bercuitan mengerikan hati!

Kun Liong cepat menghindarken diri, meloncat ke sana-sini dan dia mulai marah. Tadinya dia tidak ingin memukul lawan, hanya membela diri saja. Akan tetapi dengan pedang kecil panjang itu di tangan lawannya merupakan bahaya baginya. Pada saat itu, dia mendengar teriakan Hwi Slan. Dia menoleh dan me-lihat betapa gadis itu dikeroyok oleh banyak orang, di antaranya yang paling hebat adalah panglima yang menggunakan pedang. Agaknya dara itu terancam ba-haya maut dan teriakan tadi menandakan bahwa Hwi Sian telah terkena senjata lawan.

“Cuit-cuit-cuit-singg…!” Kun Liong cepat melompat ke belakang, hampir saja dia menjadi korban pedang lawan ketika

dia menoleh ke arah Hwi Sian tadi ka-rena saat itu telah dipergunakan oleh Hendrik untuk mengirim serangan kilat secara bertubi-tubi. Karena khawatir akan keadaan Hwi Sian, Kun Liong me-ngeluarkan teriakan nyaring, kedua ta-ngannya mendorong dan tampak uap pu-tih keluar dari kedua telapak tangannya, menyambar ke arah Hendrik.

“Ougghh…!” Pemuda asing itu terjengkang dan cepat membanting diri ke belakang terus bergulingan, cara yang tepat untuk menghindarkan diri. Kesem-patan ini dipergunakan oleh Kun Liong untuk melompat ke arah Hwi Sian.

Ternyata Hwi Sian telah terluka di paha dan pundak, dan dara itu telah roboh miring, agaknya pingsan, akan tetapi di dekatnya tampak seorang laki–laki yang mengamuk dengan pedangnya melindungi tubuh dara yang sudah ping-san itu. Kun Liong mengenal orang itu yang bukan lain adalah Tan Swi Bu, laki–laki tinggi besar yang menjadi ji-suheng (kakak seperguruan ke dua) dari Hwi Sian. Maka cepat dia meloncat mendekat dan kedua kakinya merobohkan dua orang pengeroyok. Tendangannya tepat mengenai tulang kering kaki kedua orang itu yang berteriak-teriak dan mengaduh-aduh sambil berloncatan dan memegangi kaki yang tulang keringnya rusak!

Tan Swi Bu menoleh dan berkata, “Harap siauw-suhu (Pendeta Muda) sudi menolong sumoiku dan menyelamatkannya pergi dari sini lebih dulu!”

Kun Liong kembali tersenyum pahit. Kepalanya yang sial kembali memperoleh korban! Tan Swi Bu tidak mengenalnya dan menyangkanya seorang hwesio. Akan tetapi dia tidak peduli menghampiri Hwi Sian yang pingsan, memondongnya dan dia meloncat ke kiri, mendorong roboh seorang perajurit yang menunggang kuda, kemudian dia meloncat ke atas kuda sambil memondong tubuh Hwi Sian.

“Tan-enghiong, lekas lari!” Dia berseru.

Melihat betapa “hwesio” itu telah berhasil melarikan sumoinya, Tan Swi Bu lalu memutar pedangnya, kemudian menyerang seorang penunggang kuda lain yang berada di luar lingkungan para pengeroyok, merobohkannya dan ia pun meloncat ke atas kuda itu lalu membalapkan kudanya menyusul Kun Liong.

“Kejar…! Siapkan kuda…!” Terdengar panglima itu berteriak.

Pasukan itu segera melakukan pengejaran dan tidak kurang dari tiga puluh orang perajurit dipimpin oleh Bhong-ciangkun Si Panglima dan Hendrik Si Pemuda Asing, melakukan pengejaran.

Setelah membalapkan kudanya keluar dari hutan dan pegunungan itu, dan melihat betapa Hwi Sian masih belum sadar dari pingsannya dan para pengejar tidak jauh, Kun Liong merasa khawatir sekali. Dia memberi isyarat kepada Tan Swi Bu yang membalapkan kuda sehingga sejajar dengan Kun Liong, dan berkata, “Tan-enghiong harap bawa Nona Hwi Sian pergi lebih dulu. Biarlah saya yang mencegah mereka melakukan pengejaran!”

“Akan tetapi…” Tan Swi Bu membantah ragu-ragu.

“Harap jangan ragu lagi, cepat terimalah dia!” Dengan tangan kirinya Kun Liong melemparkan tubuh Hwi Sian yang pingsan ke kiri, ke arah Tan Swi Bu yang tentu saja menjadi terkejut dan cepat menerima tubuh sumoinya. Dari lontaran itu saja tahulah dia bahwa pemuda gundul itu amat lihai, dan kini setelah melibat wajahnya, dia pun teringat kembali kepada pemuda gundul yang dulu pernah dilihatnya.

“Jadi engkau… Siauw-hiap…”

“Pergilah cepat!” Kun Liong meraih ke depan dan menepuk pinggul kuda yang ditunggangi Tan Swi Bu. Kuda itu terkejut, membalap dan sebentar saja pemuda dan sumoinya itu sudah jauh mendahului Kun Liong. Ketika melihat suheng Hwi Sian itu memasuki sebuah hutan di depan, Kun Liong lalu menahan kudanya, membalikkan kuda, meloncat turun dan menggunakan kedua lengannya mendorong roboh dua batang pohon besar. Dua batang pohon itu malang melintang di tengah jalan sehingga ketika para pengejar tiba di situ, mereka menahan kuda. Melihat bahwa pemuda gundul lihai itu yang menghadang mereka, Hendrik dan Bhong-ciangkun berteriak keras dan meloncat turun dari kuda, memimpin anak buah mereka untuk mengurung dan mengeroyok Kun Liong!

“Tuan Muda Hendrik, jangan biarkan dia lolos. Aku akan mengejar gadis itu!” Bhong-ciangkun berseru setelah Kun Liong terkurung dan dia lalu mengajak belasan orang anak buah untuk mengejar ke depan.

Akan tetapi tiba-tiba tubuh Kun Liong yang terkurung tadi berkelebat, dua orang pengeroyok roboh dan hanya Hendrik seorang yang dapat melihat betapa pemuda gundul yang lihai itu sudah melompat melampaui kepala pengeroyok di belakangnya sambil mendorong roboh dua orang, dan langsung menerjang Bhong-ciangkun yang baru saja meloncat ke atas kuda. Serangannya dahsyat sekali, karena Kun Liong menggunakan Im-yang-sin-kun dari Tiang Pek Hosiang. Biarpun panglima itu menggunakan pedangnya membabat ketika tubuh pemuda itu menerjang dari atas namun ujung kaki Kun Liong dengan tepat menendang pergelangan tangan yang memegang pedang dan jari tangannya menghantam leher!

Bhong-ciangkun berteriak, pedangnya terlempar dan dia cepat secara terpaksa melempar diri dari atas kuda untuk menghindarkan totokan pada lehernya. Biarpun dia berhasil menyelamatkan diri, akan tetapi dia pun gagal melakukan pengejaran dan memang inilah yang dikehendaki oleh Kun Liong ketika menyerangnya. Kemudian Kun Liong dikurung dan pemuda ini sengaja berlompatan ke sana ke mari sehingga pasukan itu tidak dapat memusatkan pengeroyokan dan keadaan menjadi kacau-balau dan tidak ada kesempatan bagi Bhong-ciangkun dan Hendrik untuk melakukan pengejaran. Hal ini membuat mereka marah sekali dan dua orang itu kini memusatkan semua kekuatan untuk mengeroyok dan membunuh Kun Liong!

Kun Liong melayani mereka hanya untuk memberi kesempatan kepada Tan Swi Bu untuk dapat lari jauh membawa sumoinya. Sebetulnya tidak ada gairah sedikit pun di dalam hatinya untuk ber-kelahi, maka dia hanya mengelak dan menangkis, dan kalau terpaksa sekali ba-ru dia merobohkan dua tiga orang penge-royok tanpa melukai berat. Biarpun dia dikeroyok puluhan orang, tetap saja Kun Liong masih memegang pendiriannya bahwa dia tidak akan menggunakan ilmu silat untuk memukul orang, kecuali hanya untuk membela dan mempertahankan diri!

Kini mulailah Kun Liong melarikan diri, akan tetapi bukan lari untuk meninggalkan pertandingan, melainkan lari untuk memancing mereka menjauhi tem-pat itu dan membawa mereka ke arah yang berlawanan dengan larinya Tan Swi Bu. Dia lari beberapa ratus meter jauh-nya, lalu sengaja membiarkan mereka menyusulnya dan dia dikeroyok lagi. Ku-rang lebih satu jam dia main kucing-kucingan seperti ini kemudian dia me-loncat ke belakang dan berkata, “Aku sudah lelah, lain kali saja kita main–main lagi!” Kun Liong lalu melarikan diri. Hendrik dan Bhong-ciangkon marah sekali, berusaha mengejar, akan tetapi sebentar saja bayangan pemuda gundul itu sudah lenyap. Mereka merasa marah sekali dan merasa dipermainkan. Pemuda gundul itu memang lihai, akan tetapi mereka berdua, terutama Hendrik, belum mendapat kesempatan untuk mengadu kepandaian sampai mati-matian karena pemuda gundul selalu lari ke sana ke mari, seperti seekor kucing yang mem-permainkan pengeroyokan segerombolan tikus!

Hutan di dekat telaga itu amat lebat dan liar, tidak nampak seorang pun ma-nusia kecuali dia sendiri. Celakanya, malam tiba dan sebelum dia memperoleh tempat untuk melewatkan malam itu, hujan turun dari langit seperti dituang-kan. Bukan hanya hujan yang mengamuk, akan tetapi juga angin yang membuat air hujan menampar muka seperti jarum–jarum runcing dan membuat pohon-pohon bergerak menggila sambil mengeluarkan suara yang menyeramkan.

Kun Liong memicingkan mata untuk melindungi mata dari hantaman air hujan dan untuk menembus kegelapan malam. Dia telah terjebak ke dalam hutan yang tidak dikenalnya. Ketika sore tadi dia memasuki hutan ini, dari seorang petani dia mendapat keterangan babwa telaga yang dicarinya itu berada di seberang hutan ini. Maka dia berani memasuki hutan karena petani itu mengatakan bahwa hutan ini tidak terlalu besar. Akan tetapi agaknya dia salah jalan, tersesat dan tidak menyeberangi hutan, melainkan memasuki hutan dan berjalan sepanjang hutan itu yang agaknya tiada habisnya sampai malam tiba dan sampai hujan badai datang menyerang hutan itu. Dia tersaruk-saruk terhuyung dan mencari jalan dengan kedua tangan, kaki dan pandang matanya yang tidak dapat melihat jelas karena diserang terus-menerus oleh air hujan. Pohon-pohon kecil bergerak menggila, ranting-ranting seperti berubah menjadi tangan-tangan setan yang menjangkau, menyergap dan mencekik! Pohon-pohon besar yang kadang-kadang hanya tampak kalau ada kilat menyambar, seolah-olah iblis-iblis raksasa yang berlumba untuk menerkamnya. Suara air hujan bercampur desis angin melanda daun-daun pohon menimbulkan pendengaran yang mengerikan, seolah-olah semua iblis dari neraka bangkit memasuki hutan itu.

“Desss!!” Sebuah ranting yang agak besar melecut tengkuknya.

“Aduhhh…!” Kun Liong meraba tengkuknya. Sungguh celaka. Dalam keadaan seperti itu, semua ilmu kepandaian yang dilatihnya selama ini tiada gunanya sama sekali. Betapapun pandainya manusia menghadapi kekuatan dan kebesaran alam benar-benar tak ada artinya. Mana mung-kin ketajaman pendengarannya dapat dipergunakan kalau suara air hujan dan angin mengamuk seperti itu? Mana mungkin dia dapat menangkap angin pu-kulan ranting tadi yang melecut tengkuk-nya kalau badai mengamuk dan meng-hembuskan angin yang bergulung-gulung menenggelamkan dirinya seperti itu?

Akhirnya dia menjatuhkan diri duduk di bawah pohon besar. Setidaknya di tempat ini, air hujan tidak begitu buas menyerangnya, terlindung oleh daun-daun yang amat lebat dari pohon itu, juga tetumbuhan di bawah pohon raksasa itu tidak begitu lebat, biarpun tanahnya tertutup rumpul tipis yang basah semua sehingga tanah basah itu berlumpur mengotori semua pakaiannya.

Kun Liong menggunakan kedua tangan mengusap air yang membasahi kepala dan mukanya. Bajunya basah kuyup dan hawa dingin membuatnya menggigil. Cepat dia duduk bersila dan menggunakan tenaga dalam untuk melawan dingin. Tenaga yang dia terima dari Pendekar Sakti Cia Keng Hong benar-benar telah membuat sin-kang yang dikumpulkannya berkat latihan dari Bun Hwat Tosu dan Tiang Pek Hosiang menjadi amat kuat dan sebentar saja tubuhnya terasa hangat.

Hujan tidak selebat tadi turunnya, akan tetapi angin badai masih mengamuk biarpun kini tempatnya bermain agak di atas, membuat pohon-pohon besar masih menari-nari seperti gila. Hanya pohon-pohon kecil yang rendah sudah tidak terlalu keras bergoyang lagi, berdiri miring dan kelelahan, cabang, ranting dan daunnya layu dan kehabisan tenaga.

Suara angin yang mempermainkan daun-daun pohon di atas benar-benar amat berisik dan menyeramkan. Kun Liong merasa seram dan bulu tengkuknya bangun satu-satu karena dia teringat akan dongeng-dongeng tentang hantu. Kalau dia memandang ke atas, di antara sinar kilat seperti tampak olehnya iblis-iblis yang menakutkan, wajah-wajah yang seperti dalam dongeng berada di atasnya dan menyeringai kepadanya dengan bermacam-macam lagak, seolah-olah iblis-iblis itu hanya menanti saatnya saja untuk menerkam dan memperebutkannya.

Kun Liong tersenyum sendiri. Mengapa dia harus takut, pikirnya? Benar-benar adakah hantu seperti yang didengar-nya dan dibacanya dari dongeng? Selama hidupnya dia belum pernah melihat hantu dengan matanya sendiri. Dan andaikata malam ini dia melihatnya, apakah yang ditihatnya itu benar-benar hantu dan iblis? Bukankah yang dilihatnya itu, kalau benar dia dapat melihatnya tak lain ha-nya bayangan pikirannya sendiri yang telah membentuk wajah iblis dari dongeng-dongeng yang didengar dan dibaca-nya? Andaikata sejak kecil dia tidak pernah mendengar cerita orang, tidak pernah membaca kitab tentang setan dan hantu sehingga dia sama sekali tidak mengenal sebutan iblis dan hantu, apakah dia akan dapat melihat bayangan hantu dan mungkinkah dia akan takut kepada hantu? Tak mungkin! Karena dia tidak akan dapat mengenal dan mengetahui apakah yang dilihatnya itu bahkan mung-kin sekali dalam keadaan tidak pernah mengenal sebutan iblis sama sekali se-perti itu, kalau dia kebetulan bertemu sungguh-sungguh dengan iblis, dia akan tertarik sekali seperti orang-orang terta-rik melihat sebuah tanaman atau seekor mahluk yang selama hidupnya belum pernah didengar dan dilihat sebelumnya! Hanya karena dia pernah mendengar dongeng tentang iblis, mendengar bahwa iblis itu jahat pengganggu manusia, dan lain-lain dongeng menyeramkan tentang iblis lagi, maka timbullah rasa takut dan timbul pula bayangan-bayangan iblis di antara kegelapan yang samar-samar!

Tolol kalau aku takut! Takut timbul karena tidak mengerti! Takut timbul karena ikatan masa lalu tentang sesuatu yang ditakutkan, atau ikatan pengalaman yang tidak menyenangkan sehingga pikir-an merenungkan semua itu dan memba-yangkan kalau-kalau akan timbul lagi hal-hal itu di masa datang!

“Tidak! Aku tidak takut iblis dan setan! Hai… semua hantu dan iblis yang berada di hutan. Keluarlah bertemu dengan Yap Kun Liong. Mari kita beramah-tamah dan mengobrol!” Pemuda itu ber-teriak-teriak, akan tetapi suaranya ha-nyut dalam desau angin dan desau daun–daun pohon.

Badai mereda. Air yang menitik turun bukan air hujan lagi, melainkan air yang jatuh dari daun-daun yang basah kuyup.

Setiap ada angin halus menghembus, bu-tiran-butiran air di ujung daun-daun itu rontok semua ke bawah. Kun Liong berjalan perlahan, kedua tangannya meraba–raba di antara pohon-pohon menuju ke arah suara yang didengarnya tadi. Suara yang mendorongnya untuk meninggalkan tempat berteduh itu biarpun malam ma-sih gelap pekat. Suara itu, arah suara itu, yang menjadi petunjuk jalannya, maka dia melangkah dengan hati-hati, menggunakan tangan untuk meraba ke depan agar dia tidak sampai terjatuh, presis seperti laku seorang buta melang-kah melalui jalan yang tidak dikenalnya. Ketika dia duduk tadi, dia mendengar suara orang bernyanyi! Kalau saja dia belum menyadari sepenuhnya tentang hantu dan rasa takut akan hantu, tentu suara itu akan menimbulkan rasa seram dan takut. Bayangkan saja! Di dalam hutan, sehabis hujan badai seperti itu, ada suara orang bernyanyi!

Suara itu tadinya hanya lapat-lapat, sayup sampai kadang-kadang timbul dan seringkali tenggelam dan lenyap kemba-li. Akan tetapi kini mulai terdengar je-las, dan Kun Liong menghentikan lang-kahnya untuk dapat menangkap kata-kata yang dinyanyikan dengan suara pa-rau itu.

“Berani hidup mengapa takut mati?

siapa bilang hidup senang

dan mati sengsara?

Lihat mereka semua hidup dan mati!

si bangsawan, si hartawan

si rakyat, si miskin

yang kuat, yang lemah,

yang mulia, yang hina.

Mereka semua telah mati,

sedang mati

dan akan mati,

dalam kematian tiada bedanya

menjadi bangkai kotor membusuk!

Yang hidup, yang mati,

yang lahir silih berganti,

tetapi “aku” tetap berkuasa!

di antara mati dan hidup

aku tetap mempermainkan manusia,

ha-ha-ha-ha!”

Kun Liong melangkah mendekat. Ka-lau dia belum mengerti akan timbulnya rasa takut terhadap hantu, mungkin dia saat itu akan ketakutan dan menduga bahwa itulah hantu yang dia hadapi se-karang. Bukankah ada dongeng mengata-kan bahwa hantu dapat mengambil ben-tuk seorang kakek-kakek, atau bahkan seorang dara cantik sekalipun?

Dia itu seorang kakek tua, usianya sukar ditaksir berapa, akan tetapi tentu lebih dari enam puluh tahun, pakaiannya bersahaja seperti pakaian orang terlantar rambutnya yang berwama dua itu tidak terpelihara, demikian pula dengan kumis dan jenggotnya yang masih basah dan berjuntai ke bawah. Akan tetapi gambar-an kakek ini berkurang kelayuannya ka-rena di depannya bernyala api unggun. Hal ini mengherankan hati Kun Liong. Betapa mungkin orang membuat api ung-gun di hutan yang baru saja diamuk hu-jan dan badai?

Kakek itu menengok. Mereka berpan-dangan sebentar, kakek tua yang duduk dan pemuda gundul yang berdiri.

“Maaf, Kek, kalau aku mengganggu-mu.” Kun Liong berkata sambil tersenyum ramah.

“Kau mau apa?”

“Aku dingin, api unggunmu dan nya-nyianmu menarik hatiku sehingga aku datang ke sini.”

“Kau hwesio?”

“Bukan, Kek, sungguhpun kepalaku gundul. Aku bukan pendeta.”

“Hem, kalau begitu duduklah. Kalau engkau pendeta, tentu engkau sudah mati begitu engkau mengucapkan pengakuanmu. Aku benci hwesio!”

Kun Liong duduk dekat api unggun dan baru dia tahu bahwa kakek itu me-nyalakan api unggun dengan bantuan minyak. Hal ini dapat dia cium baunya. Hangat dan nyaman sekali duduk di de-kat api unggun pada waktu malam se-dingin itu. Kun Liong menghela napas penuh nikmat sambil memeras ujung bajunya yang basah.

“Mengapa kau membenci hwesio, Kek?”

“Mereka itu munafik.”

“Mengapa kau mengatakan begitu, Kek?”

“Mereka itu pura-pura menjadi orang baik, akan tetapi semua itu hanya untuk menutupi kebobrokan watak mereka!”

“Ah, tidak semua begitu, Kek! Me-mang dunia ini penuh dengan keganjilan dan kekecualian. Ada orang berkedudukan tinggi yang batinnya rendah, ada pula orang berkedudukan rendah yang batinnya tinggi. Ada orang kaya yang hatinya miskin, dan ada orang miskin yang hati-nya kaya. Ada pendeta yang batinnya kotor, dan ada penjahat yang batinnya bersih. Apa anehnya itu?”

“Akan tetapi pendeta yang paling kotor karena dia berpura-pura! Orang bertubuh kotor berpakaian kotor, apa anehnya? Akan tetapi pendeta adalah seorang bertubuh kotor berpakaian ber-sih!”

“Tidak semua, Kek. Dan mereka telah berusaha menjadi orang baik.”

“Phuah! Berusaha menjadi orang baik adalah usaha yang buruk!”

“Aku tidak mengerti, Kek.”

“Tidak mengerti ya sudah. Kau tadi bilang api unggunku menarik perhatianmu, hal itu lumrah karena kau membutuhkannya. Akan tetapi benarkah nyanyi-anku menarik perhatianmu?”

“Benar, karena nyanyianmu amat indah!”

“Kau suka mendengarnya?”

“Sama sekali tidak!”

Kakek itu mendengus, matanya yang sipit itu melirik ke arah wajah Kun Liong, lalu dia mendengus lagi. “Mengapa tidak suka?”

“Karena dalam nyanyianmu terdapat tertalu banyak soal kematian!”

Tiba-tiba kakek itu tertawa dan Kun Liong terkejut bukan main. Suara ketawa itu melengking dan membuat dia terge-tar, tanda bahwa suara itu mengandung khi-kang yang amat kuat! Tiba-tiba ka-kek itu menghentikan suara ketawanya dan dia kini menoleh ke arah Kun Liong, menatap wajah itu dengan penuh perhati-an. Agaknya kakek itu pun walau tidak kentara, melihat pemuda gundul itu tidak terjungkal oleh suara ketawanya. Padahal ketawanya itu diser-tai pengerahan khi-kang dan menjadi semacam ilmu untuk menyerang lawan. Ilmu Sai-cu Ho-kang (Auman Singa) yang mampu merobohkan orang yang memiliki sin-kang lumayan sekalipun!

“Orang muda,memang nyanyianku itu dibuat oleh orang yang hampir mati, bercerita tentang kematian, dan dibuat untuk orang mati seperti engkau, karena engkau pun akan mati!”

Tiba-tiba kakek itu menggerakkan tangannya menampar ke arah kepala Kun Liong. Tamparan yang amat hebat, cepat sekali dan mengandung tenaga sin-kang yang amat kuat!

Kun Liong terkejut bukan main karena dia tidak menyangka akan diserang oleh kakek aneh itu. Maka terpaksa dia lalu mengangkat lengan kirinya, menangkis sambil mengerahkan sin-kangnya.

“Dessss…! Haiiiih!!”

Kedua orang itu terlempar sampai beberapa meter ke belakang. Kakek itu terkejut bukan main. Tangkisan pemuda gundul itu sedemikian kuatnya sehingga dia sampai terlempar! Hal ini tidaklah aneh karena memang Kun Liong telah mengerahkan sin-kang gabungan yang dia latih dari kedua orang gurunya yang sakti ditambah gemblengan Pendekar Sakti Cia Keng Hong! Sebetuinya, ketika mengadu tenaga sin-kang tadi, dapat saja kalau dia hendak menggunakan Thi-khi–i-beng, akan tetapi hal ini tidak dilaku-kannya karena memang dia tidak bermu-suh dengan kakek itu. Akibatnya, karena dia kalah latihan, pertemuan dua tenaga sin-kang itu membuat tubuhnya juga ter-lempar sampai jauh.

Kun Liong mengerti bahwa kakek itu benar-benar seorang yang berilmu tinggi, maka dia tidak ingin terlibat dalam permusuhan dengan kakek yang agaknya miring otaknya itu, maka dia segera mcloncat dan cepat sekali dia menyelinap ke dalam hutan yang gelap yang tak dapat dijangkau oleh sinar api unggun.

“He, pemuda gundul aneh! Ke mana kau…??” Kakek itu melompat pula dan melakukan pengejaran.

Kun Liong menyelinap di balik sebatang pohon besar. Karena tempat itu gelap sekali kakek itu tidak mampu mencarinya. Setelah berputar-putar tanpa hasil, kakek itu kembali ke tempat tadi dan mengomel panjang pendek. Barulah Kun Liong berani keluar dari tempat sembunyinya dan berindap-indap menjauhi tempat itu sampai akhirnya secara kebetulan sekali dia berada di luar hutan! Dia lalu duduk di bawah pohon, tidak berani tertidur karena kakek gila itu masih berada di hutan, dan menanti datangnya fajar.

SETELAH sinar matahari pagi mene-rangi tempat itu, tampak oleh Kun Liong bekas amukan badai semalam. Baru sekarang tampak olehnya betapa banyak pohon tumbang dan roboh malang melin-tang dilanda badai, terutarna pohon-pohon yang tumbuh di pinggir hutan. Karena di luar hutan tidak ada pohon besar dan tidak tampak bekas amukan badai, maka melihat ke arah hutan itu tampak seolah-olah ada iblis-ibils mengamuk semalam, mengamuk di dalam hutan itu. Atau seperti telah terjadi perkelahian antara raksasa di dalam hutan menggunakan batang pohon-pohon besar untuk saling menghantam.

Kun Liong bangkit berdiri dan memandang ke arah telaga yang sudah tampak dari tempat yang agak tinggi itu. Di sanalah telaga yang dicarinya. Telaga Kwi-ouw, Telaga Setan. Dan tampak pula pulau-pulau kecil kehijauan, di tengah telaga. Sebuah di antara pulau-pulau itu adalah tempat perkumpulan Kwi-eng–pang yang dicarinya. Ya, dia harus menemui Ketua Kwi-eng-pang dan secara jujur menanyakan tentang perbuatan anak buah Kwi-eng-pang yang telah menyerbu kuil Siauw-lim-si. Dia masih menaruh harapan besar bahwa Kwi-eng-pang, se-bagai sebuah perkumpulan besar yang terkenal, akan memandang Siauw-lim–pai dan akan suka mengembalikan dua buah pusaka yang dahulu dicuri oleh anak buah Kwi-eng-pang. Dia akan mengemu-kakan kebenaran dan akan membujuk Kwi-eng-pangcu agar tidak menanam permusuhan dengan sebuah perkumpulan besar seperti Siauw-lim-pai hanya karena urusan dua buah pusaka saja! Biarpun dia mendengar dari Pendekar Sakti Cia Keng Hong bahwa amat berbahaya menjumpai seorang di antara datuk-datuk kaum se-sat seperti Kwi-eng Niocu Ang Hwi Nio Ketua Kwi-eng-pang itu, akan tetapi dia tidak takut. Dia datang bukan untuk mencari permusuhan! Dia datang untuk menuntut hak Siauw-lim-pai mendapatkan kembali pusaka-pusakanya yang tercuri. Dan dia melaksanakan tugas yang diperintahkan oleh mendiang gurunya, Tiang Pek Hosiang!

Setelah tiba di tepi telaga, tempat itu sunyi sekali. Diam-diam dia merasa heran, mengapa tempat itu demikian sunyi? Mengapa tidak tampak nelayan-nelayan dan pelancong seperti pada telaga-telaga besar yang lain? Dari tepi telaga kini tampak olehnya pulau besar di tengah telaga dan kelihatan pula dari situ tembok dan genteng bangunan tertutup oleh batu-batu karang dan pohon-pohon. Agak jauh di belakang pulau besar itu tampak pula sebuah pulau lain di tengah telaga, pulau yang agak kecil.

Tiada angin di pagi itu. Air telaga tenang tak bergoyang sedikit pun, seperti permadani beludru biru yang amat lebar dibentang dari darat ke pulau itu. Caha-ya matahari pagi mulai menyapu per-mukaan telaga dan agaknya cahaya ini menggugah air telaga yang sedang tidur. Mulai tampak perubahan pada air telaga. Mulai ada kehidupan pada warna biru yang kini sebagian kejatuhan warna kuning emas kemerahan dari sinar matahari. Agaknya bukan hanya mahluk darat dan mahluk udara saja yang memulai kesibukan hidup pada saat matahari muncul, akan tetapi juga mahluk air penghuni telaga. Ikan-ikan mulai tampak bergurau, menjenguk dari permukaan air, dan yang nakal malah meloncat ke atas permukaan air, seperti tingkah anak-anak yang meloncat ke air untuk mandi! Tiap kali ada moncong ikan menjenguk ke permukaan air, apalagi jika ada yang meloncat ke atas, air bergerak dan terbentuklah lingkaran-lingkaran yang makin melebar, lengkungan bundar yang amat sempuma, tak mungkin dibuat oleh tangan manusia.

Kun Liong terpesona menyaksikan semua ini. Dia lupa diri, bahkan dirinya sudah tidak ada lagi. Yang ada hanya penglihatan yang serba indah itu dan dia yang melihat sudah tidak ada lagi, tenggelam dalam keasyikan yang amat dalam.

Kalau saja dia tidak membutuhkan penyeberangan, agaknya perahu kecil yang tampak bergerak didayung oleh seseorang itu akan menjadi penambah keindahan pemandangan di pagi hari yang cerah itu. Akan tetapi kebutuhannya mengingatkan dia dan menyeretnya kepada dunia yang penuh dengan kebutuhan si aku. Lenyaplah semua keindahan karena perhatiannya tercurah penuh kepada perahu itu, dan harapannya timbul untuk dapat segera pergi ke pulau, ke pusat Kwi-eng-pang! Dan perahu itu, tepat seperti yang dikehendakinya, didayung ke arah daratan.

Akan tetapi setelah dekat, dia merasa heran dan juga ragu-ragu. Pendayungnya ternyata adalah seorang wanita! Dan bukan wanita nelayan atau wanita dusun yang sederhana. Sama sekali bukan! Jelas tampak dari dandanan rambut dan pakaiannya, dari gayanya, bahwa yang mendayung perahu itu, wanita berusia tiga puluhan tahun yang berwajah cantik dan bertubuh ramping itu, tentulah wanita kota, atau setidaknya, paling sedikit tentu pelayan orang bangsawan! Hanya anehnya, wanita yang segalanya kelihatan halus itu mengapa sampai mendayung perahu sendiri? Betapapun juga, kesempatan ini tidak boleh dia sia-siakan. Tidak ada perahu lain tampak di daratan yang begitu sunyi, maka ia cepat menghampiri wanita dalam perahu yang sudah mendekati pantai.

“Kouwnio, bolehkah saya menumpang perahumu?” Dia bertanya sambil tersenyum ramah, senyum orang yang minta tolong!

Wanita itu mengangkat mukanya memandang sejenak memandang kepada pemuda itu, kemudian pakaiannya. Agak-nya wanita itu teliti juga maka melihat pakaian Kun Liong, dia dapat menduga bahwa pemuda tampan itu bukan hwesio, melainkan seorang yang entah mengapa sengaja menggunduli kepalanya. Akan te-tapi kepala gundul itu tidak buruk. Memang lucu, akan tetapi tidak buruk. Se-baiknya malah, mempunyai daya tarik yang aneh dan kepala itu begitu bersih, begitu… telanjang sehingga wanita itu memandang dengan kedua pipi menjadi merah!

“Siapakah engkau dan mengapa kau minta menumpang di perahuku?” Dengan kerling genit wanita itu membalas bertanya.

Kun Liong yang merasa bahwa dia menghadapi urusan besar dengan Ketua Kwi-eng-pang, merasa tidak baik kalau dia memperkenalkan diri kepada semua orang, maka dia menjawab, “Saya datang dari jauh sekali dan hendak pergi menghadap Kwi-eng-pangcu. Maka, saya harap Kouwnio (Nona) yang baik suka menolong saya. Saya mau ikut dengan perahu Kouwnio pergi ke pulau itu.”

Senyum dan kerling genit itu tiba-tiba lenyap dari wajah yang pukup cantik itu, dan pandang matanya penuh curiga ketika dia bertanya, “Apakah engkau sahabat dari Kwi-eng-pangcu?”

Kun Liong tidak biasa membohong, maka dia menggeleng kepala. “Bukan!”

“Habis, apa maksudmu hendak bertemu dengan pangcu?”

“Aku mempunyai sedikit urusan yang hendak kubicarakan dengan Kwi-eng-pangcu. Urusan penting yang akan kusampaikan kepadanya sendiri. Kouwnio, harap suka membawaku, Kouwnio yang baik. Biarlah aku yang akan mendayung perahunya.”

Melihat pemuda gundul itu menyebutnya “kouwnio yang baik” beberapa kali dan tersenyum-senyum, wanita itu berkata, “Sebetulnya aku mempunyai kepentingan berbelanja, akan tetapi karena engkau seorang tamu, biarlah kau kuantar ke pulau. Aku adalah pelayan dari Ang-pangcu.”

Kun Liong terkejut, akan tetapi juga girang. Kiranya Kwi-eng-pang tidak se-perti yang disohorkan orang. Kata orang, Kwi-eng-pang adalah perkumpulan iblis yang berbahaya, sarang dari golongan hitam. Buktinya sekarang sama sekali tidak demikian. Baru pelayannya saja begini cantik dan halus budi, peramah dan ma-nis!

Kun Liong menjura dan berkata girang, “Banyak terima kasih, Kouwnio yang baik.”

Perahu menepi dan Kun Liong lalu melangkah memasuki perahu. Perahu kecil agak bergoyang-goyang, akan tetapi wanita itu dapat berdiri dengan tegak, tanda bahwa wanita itu biarpun kelihatan lemah dan hanya seorang pelayan, akan tetapi tentu “berisi”!

“Biarlah saya yang mendayungnya, Kouwnio.”

Wanita itu menyerahkan dayung kepada Kun Liong dan duduk berhadapan dengan pemuda itu yang mulai mendayung perahu. Kun Liong bersikap sabar, biarpun hatinya tegang dan ingin dia cepat-cepat tiba di pulau. Dia mendayung biasa saja, tidak mengerahkan sin-kangnya, padahal kalau dia menggunakan tenaga saktinya, tentu perahu akan dapat meluncur jauh lebih cepat.

Wanita itu menatap wajah Kun Liong dan terang-terangan kelihatan rasa kagumnya terhadap ketampanan wajah Kun Liong. Beberapa kali Kun Liong memandangnya dan pandang mata mereka bertemu. Kun Liong merasa malu sendiri sampai mukanya menjadi merah!

“Itu teman-temanku sudah menanti dan melihat kita.” Wanita itu menuding.

Kun Liong melihat beberapa orang wanita berdiri di pantai pulau.

“Mereka tentu terheran-heran mengapa aku tidak pulang membawa barang belanjaan, tetapi membawa seorang tamu.” Wanita itu terkekeh genit. “Kita sudah dekat, biar aku yang mendayung karena daerah dekat pulau terdapat banyak rahasia yang dapat membuat perahu terbalik.”

Kun Liong terkejut mendengar ini dan cepat menyerahkan dayung. Ketika menerima dayung, tiba-tiba jari tangan wanita itu bergerak menotok jalan darah di bawah pangkal lengan Kun Liong. Pemuda ini kaget akan tetapi pura-pura tidak tahu.

Wanita itu hampir menjerit ketika ujung jari tangannya bertemu dengan ketiak yang berbulu dan totokannya tepat sekali, tetapi pemuda gundul itu tidak apa-apa! Dayung sudah diambil dan tiba-tiba dia membalikkan dayung, gagangnya dipergunakan untuk menghantam kepala yang gundul itu. Kun Liong mengangkat lengan ke atas, menangkis.

“Krakkk!” Ujung dayung itu patah!

“Ihhhh…!!” Wanita itu berseru kaget lalu tiba-tiba dia meloncat ke air membawa dayungnya.

“Eihhh. Toanio, kau mengapa…?” Kun Liong berseru kaget. Akan tetapi tiba-tiba perahu itu terbalik dan tentu saja tubuhnya juga ikut terlempar ke dalam air. Dia masih dapat melihat betapa tiga orang wanita di pantai itu mendayung sebuah perahu yang meluncur cepat sekali.

“Byuurrr…!” Kun Liong gelagapan, menahan napas dan cepat menggerakkan kaki tangan untuk berenang. Dia bukan seorang ahli, akan tetapi kalau hanya berenang sekedar mencegah tubuhnya tenggelam saja, dia bisa. Akan tetapi tiba-tiba kakinya dipegang orang, dan tubuhnya diseret ke bawah.

“Ahhhauuupppp!” Dia lupa dan hendak berteriak, tentu saja air telaga membanjiri mulutnya dan terus mengalir ke perutnya! Dia menggerakkan kakinya dan berhasil membebaskan kakinya yang terpegang dari bawah. Tubuhnya meluncur ke atas setelah dia menjejak dasar telaga. Baru saja kepalanya yang gundul tersembul di atas permukaan air dan dia mengambil napas, tiba-tiba kedua kakinya terlibat sesuatu dan dia ditarik lagi ke bawah!

Biarpun dia meronta-ronta, tetap saja kedua kakinya tidak dapat terlepas dari libatan sehelai tali yang kuat. Kun Liong menjadi panik. Dia menahan napas, akan tetapi lama-lama dia terpaksa harus minum air juga den ketika tubuhnya terasa lemas, dadanya seperti hendak meledak dan kepalanya pening, dia merasa betapa ada banyak tangan memeganginya, dan betapa kedua tangannya juga diikat kuat-kuat, kemudian tubuhnya diseret.

Dengan perut kembung penuh air dan setengah pingsan, napas terengah-engah hampir putus, Kun Liong masih dapat melihat dirinya diseret keluar dari telaga dan ke daratan pulau. Yang mesiyeretnya adalah seorang wanita yang cantik juga, dan di belakangnya masih ada tiga orang wanita lagi, yang seorang adalah wanita yang membawanya tadi, kini berdiri di atas perahu memegang dayung yang sudah patah gagangnya, sedang yang dua orang wanita lagi tadinya berenang den kini sudah mendarat sambil tertawa-tawa dan bersendau-gurau.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: